My Lovely Soo Hyung

.

Cast : Just KaiSoo Focus! And maybe the other Cameo and Couple

Genre : Romance. Drama. Fluff (mungkin)

Rated : Teen (T)

Lenght : Chaptered

.

.

Warning : Shounen ai, BL, Yaoi, OOC, Gaje, Kependekan, and Typo(s).

Disclaimer : Cerita ini 100% hasil pemikiran saya. Saya Cuma pinjem nama doang sama sooman.

.

.

WARNING! YAOI HERE!

.

.

NO BASH NO FLAME YAA~~~

.

Don't like don't read~

.

.

Dapet ide ini secara kebetulan dan jadilah saya buat menjadi sesuatu berupa tulisan nista(?). hohoho. Nggak banyak bacot! Check this!

.

.

.

Teleport Kim

Present

2014

.

.

"Ayolaaah. Masakkan sesuatu untukku ne?" Jongin mengedipkan matanya sok imut.

Kyungsoo secara refleks membuat ekspresi seperti orang muntah dan mendecih setelahnya. Kyungsoo meletakkan snacknya dan melipat kedua tangannya didepan dada sembari memandangi Jongin tajam.

"Hanya sekali sa—"

Belum sempat Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya, Jongin sudah menarik pergelangan tangannya dan menyeretnya untuk keluar dari kamar tersebut. Kyungsoo memutar bola matanya lucu karena tak habis pikir dengan tingkah Jongin. Namun Kyungsoo juga tersenyum melihat tingkah Jongin yang seperti ini. begitu pula dengan tautan tangan mereka, Kyungsoo sangat menyukainya.

Rasanya... Hangat...

.

.

.

.

.

O. o. O. o. O. o. O. O

.

"Ini... makanlah..." Kyungsoo meletakkan ramyun yang baru saja matang kehadapan Jongin yang sudah duduk manis dengan cengiran konyol diwajahnya.

Kyungsoo beralih untuk duduk dihadapan Jongin dengan ramyun miliknya sendiri. "Apa semua orang kaya hanya makan ramyun eoh?" Kyungsoo mendecih sembari mengaduk ramyun miliknya dengan raut wajah sedikit kesal.

Jongin hanya tertawa aneh dan menelan ramyunnya dengan cepat. "Tidak akan ada bahan masakan dirumah ini karena tidak pernah ada yang memakannya" Jongin berbicara cepat dan kembali melanjutkan makannya.

"Ya.. ya.. uang kalian pasti sangat banyak." Kyungsoo mengangguk acuh meremehkan Jongin tentunya.

"Tidak hyung." Jongin berhenti menyuapkan ramyun. "kau tidak tau seberapa inginnya aku memakan masakan buatan rumah seperti yang kau buatkan untukku" Jongin mendongak dan tersenyum lembut kearah Kyungsoo. jangan lupakan dengan mulutnya yang masih dipenuhi oleh ramyun.

Kyungsoo yang mendapati senyum lembut itu hanya membatu dan tidak tau harus bereaksi seperti apa. Entahlah.. Kyungsoo juga tidak tau mengapa senyuman tersebut memberi efek seperti saat ini. Kyungsoo pun hanya mengerjapkan matanya lucu. Sementara Jongin sudah beralih untuk menyuapkan ramyunnya lagi. Beriringan dengan hal itu, Kyungsoo pun dengan sedikit tergesa gesa mengaduk ramyunnya yang masih mengepulkan asap.

Detik berikutnya Kyungsoo menghentikan aktivitasnya dan memandangi Jongin yang sedang melahap ramyun buatannya saat ini. Ada sedikit rasa simpati yang menyusup kedadanya dan sedikit rasa menenangkan saat Kyungsoo memandangi Jongin. Tanpa sadar Kyungsoo pun menarik seulas senyum sebelum ia menarik sumpitnya dan menyuapkan ramyun tadi kemulutnya.

.

.

.

.

Kyungsoo memandangi Jongin dengan pandangan malas yang kentara. Bagaimana tidak? Jongin menyuruhnya untuk memasakkan ramyun hingga 4 kali. Dan sekarang Jongin akan segera menyelesaikan mangkuknya yang ke-4.

Bukan Kyungsoo kesal karena harus memasak berkali kali. Hanya saja Kyungsoo tidak habis pikir dengan perut Jongin. Bagaimana bisa 4 bungkus ramyun dan 4 mangkuk nasi masuk kedalam perutnya yang bahkan tidak lebih besar dari perutnya saat ini.

"Slurp... Ah~~" Jongin bergumam setelah menyeruput kuah ramyun dimangkuk terakhirnya.

"Hei" Kyungsoo bergumam sembari meletakkan dagunya diatas tangannya yang berada dimeja makan. Membuat Kyungsoo harus sedikit mendongak dengan posisi saat ini untuk melihat Jongin yang berada disebrangnya.

"Apa kau alien eo?" Kyungsoo mengerjapkan matanya lucu.

Jongin sontak tertawa mendengar pertanyaan konyol dari Kyungsoo untuknya. Namun tidak bagi Kyungsoo. ia makin mengerutkan dahinya saat Jongin mentertawakan pertanyaannya saat ini. hei.. Kyungsoo tidak bermain main... bisa saja Jongin adalah seorang alien yang terjebak di bumi? Karena seatau Kyungsoo manusia normal tidak bisa memakan 4 mangkuk ramyun plus 4 mangkuk nasi dalam sekali makan.

"Entahlah…" Jongin menjawab setelah tertawa.

"Apa menjadi alien tidak akan kesepian? Jika tidak aku ingin menjadi alien kalau begitu" Jongin berkata tanpa memandangi Kyungsoo. Jongin hanya bergegas membereskan mangkuk mangkuk yang ia pakai tadi.

Kyungsoo sontak terdiam mendengar perkataan Jongin yang terakhir. Apa seorang Kim Jongin sangat kesepian? Oh entahlah dan Sial sekali… Kyungsoo malah mengkhawatirkan Jongin sekarang. Oh Tuhan apa yang salah dengan Kyungsoo sebenarnya?

.

.

.

.

.

O. o. O. o. O. o. O. O

.

"Aku harus pulang sekarang." Kyungsoo meraih tasnya yang tergeletak begitu saja di lantai kamar yang notabene menjadi muridnya mulai saat ini.

Jongin mengangguk patuh. Kyungsoo memandangi Jongin dengan tatapan curiga karena sama sekali tidak ada penolakan alias Jongin terlalu patuh menurut Kyungsoo. Kyungsoo sukses merutuki dirinya sendiri yang lagi lagi terlalu mengkhawatirkan Jongin. Oh Sial… mungkin Kyungsoo harus banyak banyak berlatih setelah ini.

Kyungsoo pun segera keluar dari kamar Jongin dan menuju pintu keluar rumah tersebut dengan sedikit tergesa gesa. Entahlah Kyungsoo hanya ingin ia cepat cepat menjauh dari seorang Kim Jongin. Bagi Kyungsoo Jongin sudah mulai menginfeksi otaknya. Dan Kyungsoo tidak ingin berakhir seperti di film film horror kebanyakan. Oh tidak… Kyungsoo benar benar benci horror.

Setelah Kyungsoo berhasil keluar dari rumah Jongin, dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju halte bus. Sesampainya disana ia merogoh tasnya untuk mencari ponselnya untuk melihat pukul berapakah saat ini, dan sudah berapa lama Kyungsoo terjebak dirumah Jongin.

Beberapa menit Kyungsoo mengacak acak isi ranselnya namun nihil. Oh sial… pantas saja Jongin tidak mencegahnya pergi atau yang lainnya. Jongin pasti sengaja untuk membuat Kyungsoo kembali lagi untuk mengambil ponselnya. Kyungsoo pun mendengus kesal dan melangkahkan kakinya besar besar untuk kembali kerumah Jongin.

.

.

.

.

.

Tepat seperti perkiraan Kyungsoo. Setelah ia sampai didepan rumah Jongin, ia mendapati Jongin sudah berdiri dengan senyum konyol dan lambaian anehnya. Kyungsoo menarik nafas dan menghela nafas sedikit kasar. Detik selanjutnya ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju Jongin yang masih saja tersenyum konyol kearahnya.

"Hyung! Kau kembali? Apa kau sudah merindukanku sehingga kau kembali?" Jongin menyambar Kyungsoo yang baru saja berada dihadapannya.

Kyungsoo memutar bola matanya malas "Apa kau mau aku bunuh Kim Jongin?"

"…. Eumm…." Jongin berfikir sejenak. "Kurasa tidak apa… setelah itu kita akan bertemu di neraka hyung!" Jongin bersorak.

"Kau saja yang pergi ke neraka" Kyungsoo tanpa sadar meladeni perkataan konyol Jongin.

"Kau yang membunuhku tentu saja kau juga ke neraka!" Jongin tidak mau kalah.

Kyungsoo memijat pelipisnya yang berdenyut. "Kembalikan" Kyungsoo menengadahkan tangannya kearah Jongin.

"Apa?" Jongin memandangi tangan Kyungsoo yang berada dihadapannya dengan tatapan polos. Entahlah polos yang alami atau buatan.

Kyungsoo menghela nafas sabar. "Ponselku Kim Jongin" Kyungsoo menggeram tertahan.

"AAAhhh! Ini?" Jongin mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya dan segera meletakkannya di tangan Kyungsoo yang masih setia menengadah. Kyungsoo pun segera berbalik dan pergi, menghiraukan teriakan teriakan aneh dari Jongin dibelakangnnya.

Aneh.

Satu kata itu yang muncul di benak Kyungsoo. Dan sekali lagi Kyungsoo merutuki pemikirannya yang begitu peduli dengan sikap Jongin yang lagi lagi membuatnya bingung. Tentu saja ada hal yang akan terjadi berikutnya. Bagaimana mungkin Jongin memberikan ponsel tersebut dengan mudah? Apa Jongin sedang merencanakan hal yang lain? Ataukah Jongin telah mengambil foto fotonya dan melakukan hal yang menyeramkan?

"Tidak… tidak…" Kyungsoo menggelengkan kepalanya seakan menentang pemikirannya sendiri.

"AAAhhh SIAL" Kyungsoo berteriak tiba tiba dan sontak membuat beberapa pejalan kaki meliriknya dengan tatapan meringis. Sedangkan Kyungsoo masih saja asik berkutat dengan pikiran anehnya dan tidak menyadari keadaan sekitarnya saat ini.

"Ya… Kurasa aku sudah gila" Kyungsoo akhirnya membuat kesimpulan singkat sebelum menaiki bus yang akan mengantarkannya pulang.

.

.

.

.

.

.

O. o. O. o. O. o. O. O

.

"Appa!" Jongin berseru saat melihat kedua orang tuanya pulang dan memasuki ruang tamu.

"hanya appa eum?"

"hehe.. Umma jugaa" Jongin memeluk ibunya manja.

"Ada apa? Tidak biasanya kau menyambut kami yang baru datang." Ayah Jongin menatap anaknya penuh curiga.

"aku ingin membuat sebuah perjanjian Appa." Jongin berkata dengan nada serius dan sontak membuat ibunya menaikkan sebelah alisnya bingung.

"Perjanjiannya nanti saja ya sayang… ayah dan ibumu ini pasti sangat lelah setelah pulang dari jepang" ibu Jongin mengelus surai hitam sang anak.

Jongin menggeleng dan melepas tangan ibunya halus. "aku akan melakukannya dengan cepat!"

"Apa itu? Apa kau mengacau lagi disekolah eoh?" Ayah Jongin mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu dan siap mendengarkan Jongin tentunya. Ibu Jongin pun ikut bergabung dan duduk tepat disebelah suaminya.

"Tidak… bukan itu" Jongin mendudukkan dirinya berhadapan dengan sang ayah.

"Lalu apa?" Ibu Jongin yang menyahut sekarang.

"Aku ingin menikah…."

.

.

.

.

.

.

O. o. O. o. O. o. O. O

.

Kyungsoo baru saja memposisikan dirinya untuk mulai belajar. Ya bagaimanapun Kyungsoo mahasiswa yang mengandalkan beasiswa. Tentu saja nilainya harus tetap terjaga agar Kyungsoo tetap terus menikmati makna 'beasiswa' tersebut.

5 menit kemudian Kyungsoo sukses mengutuk seseorang yang menelponnya dan membuat konsentrasinya pecah. Kyungsoo pun meraih ponsel tersebut dan dengan cepat menolak panggilan dengan nomor yang tidak ia kenal tersebut. Kyungsoo pun memasukkan ponselnya kedalam laci setelah mengubahnya kemode hening.

Detik berikutnya Kyungsoo kembali mengutuk… oh tidak kali ini ia bukannya mengutuk orang yang kembali menelponnya dan membuatnya bergetar didalam laci tersebut. Tetapi Kyungsoo mengutuk dirinya yang mengubah pengaturan ponselnya menjadi mode getar bukan hening. Kyungsoo akhirnya menyerah dan menjawab panggilan tersebut.

"Yobose—"

"HYYUUUUUUNNNGGG HUWEEEE"

Kyungsoo menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya dan memandangi kesal. Dengan seruan aneh tersebut Kyungsoo sudah bisa mengetahui siapa yang telah mengganggunya saat ini.

"wae?" Kyungsoo bertanya singkat.

"aaaaa hyuuung oottoookkhae? Huwaaaa"

"…" Kyungsoo memijat pelipisnya yang mulai berkedut.

"hyung hyung hyung!~~~"

"AAAA MWOYAAAA?" Kyungsoo menggerutu karena Jongin terus saja merengek tidak jelas diseberang sana.

"Hyungg…Aku akan pergi jauh…"terdengar Jongin menghela nafas. "aku… Aku tidak ingin pergi menjauh darimu hyung" suara Jongin semakin serak dan pelan.

Kyungsoo mengerutkan dahinya dan segera membawa ponsel itu tepat didepan hidungnya.

"TERSERAH KAU MAU PERGI KEMANA! JANGAN GANGU AKU LAGI KIM JONGIN!" Kyungsoo berteriak dan segera memutuskan panggilan tersebut.

Dengan ganasnya Kyungsoo membongkar ponselnya dan mengeluarkan baterainya. Detik berikutnya Kyungsoo mencoba mengembalikan konsentrasinya untuk kembali belajar.

1 menit…

5 menit…

7 menit…

"Aaaaggghhhhh IGE MYOYAAA?" Kyungsoo berteriak sembari menutup bukunya kasar bahkan ia mematahkan pensil yang ia pegang.

Kyungsoo pun segera beringsut menuju ranjang empuk miliknya. Sialnya Kyungsoo benar benar tidak bisa kembali focus untuk belajar. Dan sialnya otak Kyungsoo menghianatinya dengan mulai mengkhawatirkan seseorang yang telah mengganggu malamnya! Bahkan mengacaukan jadwal belajarnya mala mini.

"Persetan dengan Kim Jongin yang mau pergi! Terserah! Mau pergi ke galaxy pun aku tidak peduliiiii!" Kyungsoo meremas bantal tak bersalah yang berada tepat disebelahnya.

Detik beriktnya Kyungsoo menghela nafas keras. "Ya… kurasa aku memang sudah gila. Ya… aku pasti sudah gila…" Kyungsoo mengangguk anggukkan kepalanya tidak beraturan.

"AAAGGHHH SIAL!"

.

.

.

.

.

.

O. o. O. o. O. o. O. O

.

"KYUNGSOO-YA! WAJAHMU KENAPA?" Suara merdu nan menusuk telinga pun bergema dilorong saja kampus sudah sepi disaat Baekhyun berteriak dengat merdunya. Ah dan jangan lupakan bahwa Baekhyun berteriak tepat ditelinga Kyungsoo yang malang.

"kurasa gendang telingaku pecah sekarang" Kyungsoo berkata datar tanpa menatap kearah Baekhyun yang notabene adalah temannya.

"wajahmu kenapa kyung? Kau seperti zombie yang tidak berhasil memakan manusia dan mengalami kurang gizi" Baekhyun mulai berceloteh setelah melihat wajah Kyungsoo yang menyeramkan dengan lingkar hitam melingkar disekitar bola mata Kyungsoo.

Kyungsoo memandangi Baekhyun malas. Oh ayolah? Apa ada zombie mengalami kurang gizi? Oh sial Kyungsoo lupa bahwa otak Baekhyun sedikit lebih 'istimewa' daripada otak manusia pada umumnya.

"apa kau sakit? Atau kau sedang ada masalah kyung? Ceritalah padaku. Aku akan mendengarkanmu" Baekhyun menepuk pundak Kyungsoo yang sudah mendudukkan dirinya diatas kursi kantin saat ini.

Kyungsoo merasa otak Baekhyun sedang dalam keadaan baik untuk merespon. "Kurasa aku sudah gila Baek. Menurutmu bagaimana?" Kyungsoo memutuskan untuk bercerita.

"Eumm ya ya" Baekhyun mengangguk seakan mengerti. Sedangkan Kyungsoo menyesali keputusannya untuk bercerita kepada Baekhyun.

"Bukankah kau memang gila sejak dulu Kyung?"

Bingo! Kyungsoo benar benar mengutuk dirinya saat ini karena ia mempunyai teman yang memiliki otak yang terlalu 'istimewa'.

"dan sekarang kau membuatku semakin gila Baek" Kyungsoo mengendus kesal.

"oh ayolah Kyung! Kau itu memang sudah lama gila! Kau tidak pernahberpacaran, tidak pernah sekalipun absen, tidak pernah menangis, tidak pernah pergi menonton, tidak pernah mau bepergian, kau hanya selalu belajar dan berada diperpustakaan sepanjang hari! Kalau aku jadi dirimu aku pasti sudah gila Kyungsoo!" Baekhyun menaikkan nada suaranya agar mendramatisir perkataanya.

Kyungsoo hanya memandangi Baekhyun yang mulai anarkis dengan pandagan malas.

"Apa ini karena sesorang yang kau sukai?" Baekhyun tiba tiba mendekati Kyungsoo.

Kyungsoo sedikit kaget dan memundurkan tubuhnya. "entahlah."

Baekhyun pun memandangi Kyungsoo dengan tatapan menyeldik dan sukses membuat Kyungsoo kembali menghela nafas dan kembali terdiam dan lebih memilih mengutak atik ponselnya.

.

.

.

.

"Hyung…"

Kyungsoo mendongak mendengar sebuah sahutan dari arah kanannya. Namun setelah melihat orang tersebut Kyungsoo hanya terdiam dan malah beralih menatap Baekhyun yang masih duduk dihadapannya saat ini.

"Baek… Apa mungkin aku menyukai orang itu? Bahkan aku berhalusinasi sekarang. Atau aku benar benar gila?" Kyungsoo memiringkan kepalanya dan memandangi orang yang ada di sebelah kanannya.

"Siapa kau?" Kyungsoo bertanya pada sosok halusinasinya.

"Hyung… ini aku Kim Jongin."

"AAahhhh" Kyungsoo mengangguk dan kembali mengalihkan pandangannya kearag Baekhyun yang sama sekali tidak mengerti.

Butuh waktu 3 detik untuk Kyungsoo membelalakkan matanya setelah menyadari semuanya. "MWOO?"

"Hyung… kau bilang apa tadi?"

.

.

.

.

.

.

.

-To Be Continued-

Samlekooommm…

Ane balik hoooo I'm back I'm back!

Akhirnya saya bisa lanjutin ff ini… dan maaf jika yang nunggu kelamaan #emangada?

Dan maaf juga jika ceritanya makin gaje dan mengecewakan. Dan saya juga minta maaf kalo masih banyak typo yang betebaran diatas.

Hehehe'

ah dan mau promote dikit yaaa.. aku ada puvlish ff baru genrenya humor. humor pertama karena baru nyoba hehe yang minat baca yaaaa? judulnya "AVERDOSE" hhehehe

At least makasih banyaaaaaakkkk yaaaa

I'M OVERDOSEE HAHAHA #gaje #abaikan

Jangan lupa review lagi ne?

Big Thanks To :

loveHEENJABUJA. opikyung0113. rossadilla17. Guest. devil meet demon. yixingcom. kaysaiko. IkaIkaHun11. t.a. OhSooYeol. Jenny. ArraHyeri2. dokydo91. hdkL12. KaiSa. Ururubaek. Jung Rae Ra. sehunsky. byunpopof. jengsora. Jung Eunhee. 12Wolf. kim jongsoo. alexanderdkeynes. D. SooSweet. jessikwang. Hany Kwan. Phiii Channn. Dororoo. KaiSooLovers. hyemi nam. setyoningt. chanbaekxoxo. sellasellapartii.