Sampai juga minna-tachi dalam chapter terakhir fic D I E!

curcol aja, saat Ameru mengerjakan ini, Ameru nyaris menangis ;_;)bb jari Ameru bergetar selagi ngetik, takut. Haduh, sebenarnya Ameru ga pandai bkin fic tragedy kea gini, namun demi mengurangi utang dan juga memuaskan para reader-sama sekalian, Ameru harus melakukannya!

Yosh! Ini diaa~~


Title : D I E

Genre : Romace/Tragedy

Rate : T...?

Pair : DxOC - 18OC - 27OC

Warning : Typo(s) , tragedy gagal, Chara Deaths! Ingat, sudah diingatkan!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

D I E

Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira

FanFiction © Ameru-Genjirou-Sawada

Kehilangan orang yang dicintai.

Kehilangan orang yang berharga.

Pukulan yang telak bagi Hikari.

"Aku—" Hikari tidak bisa menerima ini lagi. Pertama, karena kecerobohannya, Dino meninggal terlindas truk. Cukup untuk membuat Hikari depresi selama dua bulan. Kedua, karena keegoisannya dan kebenciannya, Hibari meninggal gantung diri. Orang yang sangat ia hormati dan cintai, meninggal.

Apa yang kurang?

"Aku tidak berguna…, aku hanya membuat mereka mati sia-sia. Mereka tidak salah, aku yang salah, kenapa bukan aku yang mati saja..?" Hikari masih bergumam tidak jelas. Hatinya sakit, batinnya sakit. Sudah cukup kehilangan sosok seorang kakak kelas yang hangat dan baik, sekarang ia harus kehilangan temannya yang ia hormati dan cintai.

Dan bodohnya, Hikari tidak menyadari perasaan mereka berdua padanya.

Dan saat ia menyadarinya, semuanya sudah terlambat.

Ia tidak bisa membalasnya lagi.

"Maaf…, maaf.." Rintih Hikari didalam kamarnya. Kamar yang gelap tak terkena cahaya matahari. Jendelanya ia tutup, lampu ia matikan. Ia tidak ingin dikunjungi orang lain. Bahkan orangtua Hikari harus bersusah payah membujuk Hikari untuk keluar kamar.

Apa yang kupikirkan? Hikari mendongakkan kepalanya. Ia tahu, tingkahnya ini telah merepotkan semua orang. Orangtuanya, teman-temannya, guru serta pihak sekolah, semuanya kerepotan. Semua karenanya.

"Tidak ada gunanya aku bersedih.." Gumam Hikari menatap langit-langit kamarnya yang redup.

"Aku sudah berjanji pada mereka berdua.."

"Bahwa aku tidak boleh sedih.." Hikari terdiam. Menikmati keheningan yang mencekam. Setelah yakin, ia beranjak dari kamarnya.

"Yosh! Aku tidak boleh sedih terus! Belajar! Aku harus meningkatkan nilaiku!" Ujar Hikari, menyemangati dirinya. Lalu ia menyalakan lampu kamarnya, lalu membuka bukunya, belajar.


Dua minggu sejak kematian Hibari, Hikari mulai membenahi diri. Ia mulai belajar menerima kenyataan. Hibari dan Dino sudah tiada, dan tidak ada gunanya ia bersedih. Mereka juga tidak mau melihat Hikari bersedih. Setelahnya, prestasi Hikari meningkat. Nilainya membaik, kemampuannya dalam bisa sastra juga meningkat. Ia jadi sering ikut lomba karya sastra setingkat SMA. Suatu kebanggaan tersendiri untuk Hikari.

"Ini semua…karena mereka.." Gumam Hikari pada Haru saat jam makan siang.

"Aku senang kau kembali kedirimu lagi, Hikari-chan.." Haru mengangguk senang. Hikari tersenyum bahagia. Sudah lama ia tidak merasa sebahagia ini dalam hidupnya.

"Hikari-san." Seru sebuah suara yang terdengar familiar ditelinga Hikari.

"Tsuna-kun!" Balas Hikari pada sosok itu, Tsuna.

"Sudah lama aku tidak melihat Hikari-san yang begini.." Tsuna tersenyum sumringah. Hikari tertawa canggung. Haru menyikut Hikari iseng.

"Hehehe, aku ingin berubah.., tidak ingin terpuruk terus.." Hikari menjelaskan. Tsuna mengangguk mengerti.

"Ah, kalau begitu, aku permisi dulu, Hikari-san, aku ingat aku harus menemui temanku.., jaa!" Tsuna melambaikan tangan pada Hikari dan Haru sebelum bayangannya menghilang.

"Hey, dia pacarmu?" Haru menyikut Hikari lagi. Hikari agak salting.

"Bu—bukan! Dia temanku.." Ujar Hikari agak salting. Haru terkekeh dan tersenyum penuh arti.

"Oh? Tapi dia imut juga.., kalau kalian jadian, pasti cocok.." Ujar Haru. Semburat merah diwajah Hikari makin menjadi.

"Iiih, Haru-chan, kami hanya teman.." Kata Hikari setengah berteriak. Haru mengangguk mengerti, lalu tertawa kecil.


"Are? Tsuna-kun tidak masuk?" Tanya Hikari pada salah seorang teman sekelas Tsuna. Anak itu mengangguk singkat.

"Iya, Sawada sudah sebulan tidak masuk, kami sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.." Jelas anak itu. Hikari agak terkesiap. Sebulan yang lalu? Itu 'kan saat Hikari bertemu terakhir kali dengan Tsuna. Apa yang kira-kira terjadi?

"Ah, iya, terimakasih kalau begitu.." Ujar Hikari lalu meninggalkan kelas Tsuna.

'Apa yang terjadi, yaa..' Batin Hikari bingung.

Bel berbunyi, waktunya untuk pulang. Hikari berjalan sendiri melewati lapangan sekolah. Ia masih menerka-nerka apa yang membuat Tsuna tidak masuk sekolah selama sebulan. Apa pihak sekolah tidak menanyainya? Ah, itu sebenarnya bukan hak Hikari untuk tahu. Itu urusan sekolah, untuk apa Hikari tahu?

Sambil berjalan ia larut dalam pikirannya sendiri, hingga dering ponsel flip itu membuyarkan lamunannya.

"Ah, ada pesan dari—" Hikari terdiam saat membaca dari siapa pesan itu.

"—Tsuna-kun—" Hikari segera membuka pesan itu.

To : Hikari-san

From : Tsunayoshi

Subject : RS

Message :

Ah, Hikari-san! Kurasa kau pasti sudah pulang sekolah jam segini, begini…, bisakah kau temani aku? Aku sedang ada dirumah sakit.. . Aku sudah sebulan ini dirawat dan belum boleh keluar, masih belum sembuh^^" Tolong temani aku, ne?

Hikari terkejut. Tsuna sakit? Selama sebulan? Sakit apa sampai dia dirawat dirumah sakit selama sebulan?

"Tsu—Tsuna-kun.." Dengan bercampur rasa ragu, Hikari berlari menuju Rumah Sakit Namimori.


"Tsuna-kun..?" Hikari membuka pintu putih itu dengan sedikit takut. Bau steril dan obat-obatan langsung menyeruak masuk kedalam indera penciuman Hikari. Uh, ini yang Hikati tidak suka dari rumah sakit.

Seketika itu hati Hikari teriris kepedihan.

Diranjang itu. Temannya terbaring lemah. Ia bernapas dengan lemah dibantu alat bantu pernapasan. Di atas meja disamping ranjang itu, berbagai macam obat yang tak sedikit jumlahnya terletak, bersama dengan segelas air putih yang kelihatannya, hanya diminum setengah.

Hikari merasa pedih. Temannya ini…, sakit apa sampai ia harus menderita seperti ini? Tidak mungkin hanya flu atau demam, pasti lebih parah dari itu.

Sebelum Hikari hendak bersuara, mata itu terbuka perlahan. Hati Hikari semakin pedih. Iris yang dahulu ia lihat memancarkan kehangatan, sekarang gelap dan sayu. Seperti tidak ada yang hidup didalam iris itu.

"Hikari…san…" Suara itu parau, memanggilnya. Hikari rasanya ingin menangis. Ia menarik kursi didekatnya dan duduk didekat si surai coklat.

"Tsuna-kun! Demi Tuhan, apa yang terjadi—" Tanyanya setengah berteriak. Tsuna hanya tersenyum pilu, nafasnya nampak tidak teratur. Keringat mengucur dari pelipisnya. Keadaannya nampak miris.

"Aku…, tidak ingin Hikari-san khawatir.., namun pada akhirnya aku…harus menceritakannya.." Tsuna menatap nanar langit-langit kamarnya. Hikari menganga. Apa yang hendak temannya ini katakan?

Perasaan takut kembali muncul dalam jiwa Hikari. Perasaan yang sama, yang sudah ia pendam sejak lama. Ia pendam didasar benaknya, muncul kembali.

"Apa…?" Tanyanya lirih. Tsuna mendadak kehilangan senyumnya, nafasnya semakin memburu.

"Aku…sudah lama…" Ucapannya terputus-putus. Setitik air mata jatuh dipelupuk matanya. Isakan pilu mengudara diruangan yang remang itu.

"Hikari-san..waktuku tak banyak.." Lanjutnya lagi. Mata Hikari membulat, kaget. Apakah, Tsuna meminta sesuatu darinya?

"Apa—apa yang kau mau, Tsuna!? Katakan!" Kata Hikari—panik. Perasaan itu..nampak pasti dimatanya.

Tsuna akan meninggalkannya.

Senyuman tipis kembali terkembang diwajah pucat pasi itu. Inilah yang ia tunggu. Tsuna membuka alat bantu napasnya, sukses membuat Hikari terperanjat kaget. Tsuna lalu memposisikannya untuk duduk. Hikari tidak mengerti, apa yang Tsuna inginkan darinya?

"Aku ingin...Hikari-san menciumku…untuk pertama…dan terakhir kalinya.." Jawabnya. Iris itu membulat kembali.

"Terakhir..?"

Tsuna mengangguk. Air mata tak bisa dibendung lagi.

"Tidak Tsuna! Jangan—"

"Kumohon, Hikari-san.., kalau tidak, aku tidak akan tenang…" Tsuna memohon, suaranya lembut—nyaris berbisik. Air mata turun semakin deras dari pipi Hikari. Tidak, ia tidak suka keadaan ini.

"Tidak! Dulu Dino-senpai, Hibari, dan sekarang kau! Kenapa kalian semua meninggalkan aku?!" Teriak Hikari histeris. Tsuna menatapnya nanar, ia bisa melihat guratan ketakutan luar biasa dari sosok Hikari.

Namun ia tahu, itu tidak akan mengubah apapun.

"Itu tidak mengubah apapun, Hikari-san…, aku akan pergi.., takdir tak bisa diubah.." Tsuna menjawab pelan. Ia belai pipi yang basah terkena air mata itu. Hikari menengadah, menatap iris caramel yang sekarang hanya terbuka setengah itu.

"Kumohon…" Rintih Tsuna lagi. Air mata Hikari mengucur deras lagi. Ditengah isakannya, Hikari memanjatkan doa. Doa agar Tuhan mau menerima Tsuna disisi-Nya.

"Baik."

Hikari maju. Wajah mereka berdua sangat dekat, dan dengan perlahan diciumnya bibir mungil itu. Basah, hangat, dan pahit, pasti karena obat yang diminum Tsuna. Tsuna sendiri bisa merasakan asin yang ada dimulut Hikari—air matanya.

Cukup lama bibir mereka saling berpaut, sebelum akhirnya mereka sama-sama butuh napas. Dilepaskannya pagutan itu, Hikari menatap Tsuna.

"Terimakasih, Hikari-san…aku…bisa pergi sekarang.." Tsuna tersenyum lalu tertidur kembali diranjang. Hikari kaget. Ia makin kaget melihat Tsuna tersentak dan napasnya memburu.

"TSUNA!"

"Terimakasih, Hikari-san…, aku…kh…" Tsuna bangkit lagi, membisikkan kalimat—terakhrinya—ditelinga Hikari. Hanya 3 kata, namun sukses membuat Hikari hampir pingsan.

Setelah membisikkan kalimatnya, Tsuna jatuh ke pangkuan Hikari. Badannya mendingin, Hikari tak kuasa membendung lagi semuanya.

"TSUNA-KUN!" Jeritan pilu terdengar dari kamar 027 itu.


==SPECIAL CHAPTER==

YANG MAU BACA, SILAKAN!

Suasana diatap sekolah itu sepi. Angin bergerak pelan, menghembuskan dedaunan tua dan kering. Langit bersih, tak berawan. Matahari dengan kerennya memancarkan sinarnya dengan semangat. Seseorang berdiri diatap itu, memegang jeruji besi yang menjadi batasan disana. Tatapannya kosong, kelopak matanya bengkak. Sepertinya ia habis menangis.

Surai coklatnya melambai tertiup angin yang bertiup agak keras. Jeruji itu ia remas, berusaha menahan air mata dan juga kesedihannya.

"Dino-senpai.." Ujarnya lirih. Ia tatap langit kosong dengan nanar.

"Hibari…lalu Tsuna-kun…, mereka pergi karena aku.." Lanjutnya lagi, masih memandangi langit. Lalu tersenyum pahit, dan tertawa.

"Ahaha, aku memang tidak berguna. Mereka semua mati karena aku—" Ia tatap jeruji yang menghalanginya dengan dunia luar—lapangan sekolah.

"—Lebih baik aku tidak ada—"

"Hikari-chan, ternyata kau disini.." Suara Haru menginterupsi keheningan diatap itu. Namun panggilannya berubah menjadi jeritan tatkala melihat sosok didepannya melompat dari jeruji itu.

"HIKARI-CHAN!"


Aku tidak berguna lagi..

mereka sudah pergi..

Pertama,

dia pergi karena kecerobohanku

padahal ia tak bersalah...

Kedua,

dia pergi karena dendamku

padahal, aku tidak bermaksud...

Ketiga,

dia pergi karena penyakitnya..

Ibunya berkata kalau dia sudah dari lahir terkena kanker paru-paru ganas

Dan aku..

dan aku tidak tahu itu..

Payah,

teman macam apa aku ini..?

Dan kesalahan terbesarku adalah,

aku tidak bisa membalas perasaan mereka

tidak bisa, dan tidak akan pernah

Jadi,

untuk apa aku berada disini..?

Aku akan menyusul kalian..

Selamat tinggal semuanya,

maaf atas kebodohanku, kalian jadi sedih

Tapi,

ini jalan yang kuambil

_FIN_


Tidaaak! semua charanya mati! *elu yg ngerancang, woy!*

ya, itulah inti dari cerita gaje ini, hehe ._.

terimakasih yg udah membaca, dan mereview

RnR?