Disclaimer: Pokémon are created/allright reserved by Satoshi Tajiri.

The Monochrome Challenge!

Pokémon! Unova Brand-New Adventure!

Fic by Soaring Crow Ver2.0

Episode 4: Gary and Max! 2-on-2 Battle! Snivy?

Sepasang bola mata ebony itu terbuka dan menggerayangi langit-langit kamar dengan malas. Uh, tidurku enak sekali, pikirnya. Jam berapa sekarang, lanjutnya, seraya mencari letak jam pada dinding.

"Ash!"

Mm?

"Ash, hei bangun! Sudah jam 8, kau tahu?"

"Anabel?" "Pika-pika?" tidak Ash, tidak Pikachu. Keduanya kini membuka mata dengan lebar, dan ada saja niat untuk tidak mengindahkan imbauan si gadis berambut nila itu. Terus tidur seharian sampai siang nanti. Ash hanya ingin bermalas-malasan di atas springbed empuk khusus tamu yang sudah disediakan Aurea ini.

"Oh, Ash… Baiklah. Kalau kau tidak mau bangun, aku akan meninggalkanmu. Aku akan melangkah lebih dulu dan memulai petualanganku di Unova. 'Dah, Ash." Anabel melambaikan tangannya selagi melangkah dengan santai ke arah pintu kamar.

"Petualangan!" Anabel membalikkan tubuhnya, dan tersenyum dengan lebar. Hanya satu kata yang bisa membangkitkan semangat si pemuda: Petualangan. Tidak tahulah, mungkin isi kepala Ash itu memang 90% petualangan, ya? Tapi, Anabel juga tidak bisa menghilangkan ukiran pada bibirnya. Semangat Ash selalu saja bisa membangkitkan mood Anabel.

"Ya." jawab si gadis singkat.

"T-tunggu aku! Aku juga ikut!" gedubrak. Gedebruk. Ash, bersama dengan Pikachu masuk ke kamar mandi dan dari dalamnya Anabel segera mendengar bunyi pancuran air yang mengalir dari shower. Sekali lagi anabel tergelak.

-o0o-

"Yo, teman lama." sapa Gary dari meja makan.

"Ash, tidurmu nampaknya sangat nyenyak!" lanjut sorakan Max dari sebelah Gary. Mereka berdua bersama dengan Aurea dan Anabel telah duduk mengelilingi meja makan. Dan Ash kini ikut bersama mereka, duduk di tempatnya untuk mendapatkan sarapan.

Aurea Juniper tertawa ringan. Ia mengedip kepada Ash. "Bagaimana, Ash—sepertinya kamarmu terlalu nyaman, ya?" kedua pipi si pemuda memerah, dan ia menggaruk belakang kepalanya.

"Hahaha! Maaf semuanya. Aku kebablasan."

"Sepertinya Pikachu masuk ke kamarmu pagi buta tadi. Dan, lihat dia. Sepertinya sudah baik seperti sedia kala, Ash." lanjut Aurea.

"Pika-pika! Pikapi!" Pikachu memanjat bahu Ash, dan bertengger di sana sambil mengelus-elus pipi Ash dengan pipi lembutnya. Pikachu memberikan sengatan kecil di sana yang menandakan kalau ia sudah bisa memakai energi listrik lagi.

"Ahaha, yeah. Aku senang Pikachu. Syukurlah kau tidak apa-apa, sobat." jawab Ash, mengelus pipi Pikachu, merasa sungguh bersyukur.

Gary mendegumkan tenggorokannya. Ia kemudian berdiri dan meletakkan celemek miliknya di atas meja. "'Nah, Ash. Aku dan Max akan berangkat sebentar lagi; dan aku yakin kau juga. Aku tidak tahu kapan kita akan bertemu kembali, tapi bagaimana kalau kita sedikit menguji 'kekuatan' sekarang? Aku yakin Max juga tidak sabar untuk men-tes Pokémonnya melawan 'Ash' yang sungguh dikaguminya. Hm, teman lama?" si pemuda calon Pokémon master tersebut memberikan cengiran lebar pada Gary. Ia mengangguk.

"Ya! Aku terima tantangan kalian sekarang juga!" Ash ikut berdiri dan mulai berlari menjauh dari meja. OOPS, tapi tidak secepat itu. Anabel menarik jaket belakang Ash, dan kembali membuatnya terduduk di atas kursi.

"Itu bisa menunggu, Ash Ketchum." ujar Anabel, memejamkan matanya. "Sarapan tidak menghabiskan waktumu terlalu lama, 'kok."

Aurea, Max dan Gary tertawa. "Wow, Ash. Sepertinya kau memiliki pengganti ibumu disini." ejek Oak muda itu.

"Berisik!" seru Ash, kembali dengan semburat merah.

Benar kata Anabel. Tidak terlalu lama hanya untuk sarapan saja. Ash dengan cepat melahap menu hidangan sarapan pagi buatan Aurea. Nikmat sekali. Benar-benar lezat. Selain masakan ibunya dan Brock, Ash sangsi ada hidangan orang lain yang bisa membuatnya begitu bergairah untuk menghabiskan bagiannya. Apa benar Aurea masih single. Ketika Ash bertanya, si professor membelah kepala Ash menjadi dua dengan chop super tangan kanannya. Tidak sopan, balasnya.

Kini, tanpa mengulur waktu lagi, Ash mengambil posisi di seberang dari Gary dan Max yang berdiri bersebelahan. "Hm? Lawan kalian berdua sekaligus? Baiklah!" ujar Ash, semakin bersemangat.

Gary menghela napas, mengangkat kedua bahunya dan menggeleng, selagi Max tertawa. "Ash," sahut Max. "Bagaimana kalau dua lawan dua; aku dengan Gary, dan Ash dengan Anabel." pemuda berumur 12 tahun itu nampak begitu yakin. Jangankan membuat gentar, itu malah seperti menyiram oli pada semangat Ash yang begitu membara akan pertarungan Pokémon.

"Eh, aku?" Anabel menunjukkan jarinya ke arah wajah. "Er, baiklah."

Si gadis berjalan dengan ragu ke arah Ash. Si pemuda memiringkan kepalanya sedikit, penasaran. Tapi kemudian dia tersenyum. Ia berbisik pada Anabel ketika si gadis telah sampai disebelahnya. "Aku tahu kau grogi. Tapi kau adalah mantan Salon Maiden; kau pasti bisa, Anabel."

"T-tapi, aku takut mengganggu strategimu, Ash—bagaimana kalau aku nanti-"

"Anabel," sergah si pemuda. "Tidak akan pernah ada yang bilang kalau kau akan mengganggu. Anabel, aku percaya padamu; kita akan menjadi tim terbaik yang pernah ada!" si gadis terdiam beberapa detik hanya untuk membalas tatapan mantap penuh akan kesiapan hati milik Ash. Anabel akhirnya kembali mengukir senyuman yang Ash berani bersumpah begitu hangat, dan kedua mata nilanya menatap balik si pemuda dengan yakin. Anabel mengangguk.

"Baiklah! Kami terima tantangan kalian!" seru Ash. "Pikachu, aku mengandalkanmu, ok?" "Pika-pika!" Pokémon tikus listrik itu dengan segera mengambil posisi di sisi field dari regu Ash dan Anabel.

Anabel mengeluarkan satu Pokéball dari balik pinggangnya, dan mengarahkannya ke wajah. Anabel mengecupnya dan berbisik. "Espeon, ini pertandingan pertama kita di tanah baru. Mohon bantuannya, sahabatku." maka Anabel melempar Pokéball tersebut dan dari dalamnya keluar sosok kucing berwarna merah muda dengan permata cobalt pada kening. "Espe!"

Gary terkekeh. Ia mengambil satu Pokéball dari sisi ikat pinggangnya dan melemparkannya ke udara. Gary lalu menangkapnya lagi untuk dilemparkan ke field. "Ayo, Umbreon!" "Umbreon!"

Kali ini giliran Max yang mengeluarkan Pokéballnya. "Ash, inilah Pokémonku! Maju, Leafeon!" kucing daun itu berdiri dan siap bertempur di sebelah si kucing hitam, Umbreon. Hm, Espeon, Umbreon dan Leafeon. Apa ini, pesta 'Eeveeolution'? Ash mengeluarkan Pokédexnya dan merekam data Leafeon milik Max.

Gary memainkan jarinya ke arah Ash. "Maju dari manapun kau mau, Ash." si pemuda membenarkan posisi topinya dan siap memulai.

"Baiklah," ujar Aurea dari sisi lapangan. "Pertandingan dua lawan dua. Kemenangan ditentukan apabila kedua Pokémon dari salah satu grup sudah tidak dapat berdiri kembali. Dan… Mulai!"

"Pikachu, Quick Attack!" seru Ash.

"Lihatkan, Max?—sesuai prediksiku!" seru Gary, sedikit congkak. "Umbreon, Reflect!" tubuh Pokémon kucing hitam itu mengeluarkan aura berwarna biru, dan ketika tubuh Pikachu menabraknya itu hanya memberikan dampak yang minimum. Max segera menganggguk. "Ok, Leafeon! Razor Leaf pada Pikachu!"

"Lea—FEON!" Pokémon kucing daun itu mengarahkan kepalanya ke atas dan dari helai daun raksasa di kepalanya itu keluar ratusan daun yang siap menyayat Pikachu. Anabel tidak membuang waktu, memberi perintah pada Espeon dan menghentikan serangan Leafeon.

"Tidak secepat itu, Max! Espeon Psybeam ke arah daun-daun itu!" Espeon menuruti perintah Anabel mengeluarkan gelombang psychic dan menghalangi laju dedaunan tersebut ke arah Pikachu. Dengan segera Pokémon Ash itu menjauh dan berlari ke sisi Espeon. "Pika-pika. Pikapi!" sahutnya. "Espe." si kucing psychic mengangguk. Ash menatap Anabel, begitupula sebaliknya; Anabel mengangguk.

"Pikachu, Thunderbolt!" sorak Ash. "Pika-" Pikachu mleompat ke udara dan menembakkan sambaran listrik dari sekujur tubuhnya. "CHUU—!"

"Umbreon, lindungi Leafeon! Mirror Coat!" perintah Gary. "Umbre!" kucing hitam itu berdiri di depan Leafeon dan membentuk pelindung berwarna kuning. Energi kuning itu melindungi kedua Pokémon tersebut berbarengan dengan Reflect yang sebelumnya sudah di-cast oleh Umbreon. Thunderbolt lenyap.

"Ngrhh…! pertahananmu mengesalkan, Gary…" umpat Ash. Ketimbang itu, semangatnya malah semakin meluap. Ia tidak akan kalah. Semangat untuk menang milik Ash terlalu tinggi.

Tanpa memberi kesempatan bernapas pada Pikachu, Max kini memberi perintah pada Leafeon. "Leafeon, serangan kejutan dari belakang Umbreon! Ayo, Leaf Blade!" "Lea—feoon!"

"Sayang sekali, Max! Pikachu yang sekarang tidak semuanya serba penyerangan! Pikachu, kita tunjukkan kekuatan kita yang sebenarnya! Hindari, Pikachu! Ayo maju, Double Team!" tubuh Pikachu bertambah banyak, dan bentuknya sangat menyerupai sosok aslinya. Serangan Leafeon masuk, tapi itu tidaklah lebih dari bayangan belaka.

"Kau terlalu naïf, Ash!" sorak Gary. "Umbreon, Odor Sleuth!" Umbreon menguatkan indera penciumannya, dan menemukan satu sosok asli Pikachu. "Disana! Maju, Umbreon, Night Slash!"

"Pika?" Pokémon tikus listrik tersebut terkejut dengan serangan tiba-tiba itu. "Pikachu!" sorak Ash.

'Sekarang, Espeon! Zap Cannon!'

"Espeee!" Bola listrik berwarna kuning kehitaman melayang kearah Umbreon yang tengah menerjang Pikachu. BLAAR! Bola tersebut meledak di udara ketika menabrak tubuh Umbreon. Pokémon kucing hitam itu terbaring di tanah, berusaha berdiri walau tengah tersengat tegang listrik. Umbreon paralyzed.

"Apa! Sejak kapan?" umpat Gary.

"Aku lupa. Anabel bisa berkomunikasi lewat batin dengan Pokémonnya, Gary." jelas Max. "Hah…?" jawab Gary, tidak ngudeng.

"Thank you, Anabel!" seru Ash. "Tadi sangat berbahaya, Gary! Pikachu, selesaikan! Iron Tail pada Umbreon!" "Pikachu!" si Pokémon tikus kuning menukik turun dari udara dan menyiapkan ekornya yang kini sudah berbalut akan mineral-mineral besi. BADUUM! Umbreon semakin terkapar, tak berdaya di tengah ledakan tanah yang berhamburan. Kedua matanya berputar-putar.

"Leafeon, Leaf Blade sekali lagi pada Pikachu!" perintah Max pada Pokémonnya. Tapi itu tidak cukup cepat. Espeon sudah menghalangi laju Leafeon kearah Pikachu. "Espe!" erang Pokémon kucing psychic tersebut; Leafeon terkejut, mengerem tiba-tiba.

"Espeon, gunakan Psychic pada Leafeon!" "Es—pe!" tubuh Leafeon terangkat ke tengah udara, dan dihujamkan ke tanah. Sama seperti Umbreon, kini kedua mata Leafeon pun berputar-putar tak sadarlkan diri.

Aurea tersenyum lebar, dan mengumumkan pemenangnya. "Umbreon dan Leafeon tidak dapat melanjutkan pertandingan lagi! Pasangan Pikachu dan Espeon adalah pemenangnya!"

"Pikachu!" seru Pokémon kuning itu dengan riang kearah Espeon. "Espe-espe!" balas si kucing psychic, memicingkan kedua matanya tertawa bersama Pikachu.

Gary kembali mendengus. "Haruskah kubilang tim kalian sangat kompak, kalau kenyataannya memang begitu, Ash?" ia menarik kembali Umbreon kedalam Pokéballnya. "Kerja bagus, Umbreon."

Max juga menarik kembali Leafeon ke Pokéball. Max menggeram kesenangan, dan mengepalkan tinjunya. "Uuuh, Ash memang kuat! Anabel juga kuat! Pertarungan Pokémon memang sangat asyik!" Max kemudian menatap Ash dan Anabel. "Aku dan Leafeon masih harus banyak berjuang dan berlatih lagi Ash."

Ash mengarahkan kedua tangannya ke belakang kepala dan tersenyum lepas. "Max, kau sudah hebat, 'kok! Kapan-kapan kita sparring lagi, ya!" Anabel 'pun tersenyum.

"Nah, Max." Gary mengangguk pada pemuda yang lebih muda darinya itu. "Aku yakin kita punya janji dengan Fennel besok. Kita harus berangkat sekarang." Max mengangguk.

"Ash, Anabel. Kalau begitu, sampai jumpa lagi!" ujar Max riang. "Professor Aurea, terima kasih banyak. Kami berangkat sekarang."

Aurea tersenyum lepas, melambaikan tangannya juga. "Dah, Max. Hati-hati di jalan, ya. Main-main kesini lagi, ok?"

"Bocah Ash, sampai jumpa." ujar Gary. "Sukses dengan tantangan seluruh Gym Unova-mu."

"Tentu saja." jawab Ash pendek, tersenyum. "Trims, Gary."

-o0o-

Ash menyiapkan tas punggung di belakangnya, dan Pikachu, seperti biasa langsung bertengger di pundak Ash. Sekali lagi Ash menatap Anabel yang sudah siap. Anabel tersenyum padanya. "Prof, kami juga berangkat sekarang." ujar Ash.

"Aduh, lab jadi sepi 'deh sekarang. Walau kita baru bertemu, aku menyukai kalian, Ash dan Anabel." Aurea sedikit membungkuk dan meraih tangan Pikachu. "Pikachu juga." "Pika!" serunya ceria.

Kluk. Kluk. Kluk. Kluk.

"… Hm? Bunyi apa itu, professor? tanya Ash, berusaha menguatkan indera pendengarannya.

Semua mata tertuju ke meja kerja si professor. Satu Pokéball bergerak-gerak di atas sana. "Ini, 'kan… Pokéball Snivy. Ada apa?" Aurea menembakkan sinar putih berkelap-kelip ke lantai lab, dan Pokémon yang dimaksud keluar dari sana. "… Snivy."

Ash jongkok didepannya, dan memperhatikan Pokémon tersebut. "Ada apa, Snivy?" Pokémon ular rumput itu mendekat ke paha Ash, dan mengelus-elusnya. "Snivy… Snivy-snivy."

Anabel mengikuti posisi Ash. "… Sungguh, Snivy?" tanyanya. Si Pokémon mengangguk. "Ash, katanya ia ingin ikut denganmu."

"Eh?"

"Sungguh?" tanya Aurea. "Hm, Ash. Bagaimana kalau kau mengajak Snivy bersamamu?"

"Boleh, professor?" tanya Ash. Ia kembali menatap Pokémon grass tersebut, dan menyapu dagunya. "Baiklah. Mulai dari sekarang, mohon bantuannya, ya, Snivy." Pokémon tersebut tersenyum dan wajahnya merona merah padam. Ia 'pun mengangguk. Ash menerima Pokéball Snivy dari Aurea dan menembakkan sinar merah kearah si Pokémon.

"Professor," ujar Ash, berdiri di sebelah Anabel dan Pikachu yang masih bertengger di bahunya. "Terima kasih sudah menyambut kami."

Aurea memangkukan telapak di pipinya. "Haduuh, Ash. Aku jadi seperti melepas anakku sendiri saja. Hmm—sepinya, apa aku harus mencari suami sekarang, ya? Bagaimana kalau Ash saja yang menjadi suamiku?" mendengar itu si pemuda tercekik tiba-tiba; seperti ada tali tambang yang mengikat lehernya untuk sementara. Begitupula Anabel yang kedua matanya membesar penuh keterkejutan. Mereka berdua tertawa ti'is.

"Aku serius." Aurea memotong tawa kering kedua remaja itu. Pikachu melongo ke wajah absent Ash. "… Oh, ngomong-ngomong, karena kau akan bertualang juga, bagaimana kalau kau menggunakan ini: Pokédex!" Aurea mengedip sekali, dan memperlihatkan satu alat yang mirip dengan milik Cheren. Ash tersenyum.

"Terima kasih, professor." Aurea mengangguk.

"Akan makan cukup waktu lama untuk meng-upgrade Pokédex lamamu. Jadi, untuk menghemat waktu kau cukup melepas memory card yan gada di Pokédex-mu dan setelah itu kau pindahkan kesini. Simpel, 'kan?" Ash kembali mengangguk, mengerti. Ya, katanya. "Anabel, perlu Pokédex juga?" lanjut tanya si professor. Tapi si gadis menggeleng, rendah hati.

"Tidak perlu, professor. Tapi terima kasih." Aurea kembali menatap Ash.

"Ash, walau Cheren itu dingin, bagaimana kalau kau berteman dengannya. Dia anak yang baik, 'kok."

"Tentu saja, prof. Bahkan kau tidak perlu memintanya." jawab Ash. Aurea kembali menyentuh pipinya dengan jari.

"Hmm… sekarang tinggal Bianca untuk mengambil Oshawott. Kemana gadis itu kira-kira, ya?"

"Bianca?" tanya Anabel. Ash ikut memperhatikan.

"Dia teman Cheren sedari kecil. Tapi sangat berbeda dari Cheren, Bianca terkadang… emm, bagaimana mengatakannya, ya…? Bianca agak… 'kikuk'?" si professor 'pun malah jadi sedikit bertanya pada mereka berdua, saking bingungnya mengungkapkan gadis yang dimaksud.

"Baiklah, professor Aurea. Kalau begitu-"

"Hm. Hati-hati di jalan, kalian berdua. Sehat-sehat, ya. Jangan lupa mampir kesini lagi, ok?" Aurea melambaikan tangannya kearah Ash dan Anabel, yang dibalas hal serupa oleh kedua remaja tersebut.

Kini semuanya benar-benar dimulai. Bersama dengan Pikachu, Totodile dan Pokémon terbarunya, Snivy, Ash siap menyongsong semua tantangan yang Unova miliki untuknya. Sesuai petunjuk dari Aurea, tujuan pertama mereka adalah kota Accumula, kota pertama hingga sampai di kota Striaton untuk Gym Battle pertama Ash di Unova.

Petualangan macam apa yang akan dialami oleh Ash dan Anabel? Dan Pokémon-Pokémon apakah kira-kira yang akan mereka jinakkan nantinya?

Semuanya dimulai dari chapter berikutnya! – Tsuzuku!

|To be Continued|

Hai, Anabel disini. Akhirnya petualanganku bersama Ash sudah dimulai. Aku sudah berjanji dengan Scott dan teman-teman Brains lainnya untuk berubah. Hmm, aku penasaran, Pokémon unik apa yang akan aku jadikan 'sahabatku'. Ketika kami berhenti sesaat untuk beristirahat, Snivy menemukan sesuatu dari balik-balik rumput. Dan setibanya kami di kota Accumula, kenapa Pokémon-Pokémon di kota itu begitu sedih? Dan… siapa orang-orang aneh berpakaian seperti biarawan dan biarawati itu?

Berikutnya di Monochrome Challenge!: Attract! Accumula! Plasma?

A/N: Err… kata-kata terakhir itu cuma buat lucu-lucuan doank kok; gaya anime gitu deh. hahaha. Thx buat empat review yang masuk. Bersyukur ada yang mau baca fic ini. Insaallah ga bakalan mandet, karena saya selaku author lagi giat-giatnya mengkhayal tentang Pokémon. Tapi mungkin dua minggu ini bakalan ngadet dikit, lantaran segunung tugas-tugas kuliah yang harus diselesaikan dam udah mendekati ujian akhir semester. Jadi kalau kalian masih baca sampe sini, teruslah memberikan masukan dan review membangun. Kritik pedas nan positif juga snagat diharapkan agar terciptanya fic ideal untuk semua. Karena review kalian adalah nyawa dan napas dari fic ini. Ciao ciao, all!

- Crow, signed out.