Jaehwan benar-benar cemburu dan merasa kesal dengan pemandangan yang ia dapatkan begitu masuk ke kedai ice cream. Ia bahkan tidak menyadari keberadaan Hakyeon yang ternyata bekerja disini. Ia baru sadar kala Ravi memanggil namanya.
"Kenapa, Jaehwan? Kau tak suka tempat ini?"
"Bukan!" Sanggah Jaehwan. "Bukan karena itu. Aku hanya merasa kesal dengan pemandangan disana, Ravi. Tapi tidak masalah." Lanjutnya. Ravi ber-ooh-ria.
"Oh Hakyeon!" Sahut Jaehwan begitu menyadari Hakyeon adalah pelayan mereka pada jam itu. "Kamu tahu mereka berdua berkencan disana, huh?" Jaehwan bertanya sengit.
Hakyeon terkekeh melihat Jaehwan yang bisa sangat ekspresif saat cemburu. "Aku yang ajak mereka, kok. Aku juga nggak tahu kalau mereka akan berkencan seperti itu."
"Kamu nggak cemburu sama sekali, Yeon?!" Pekik Jaehwan bingung. Disambut oleh gelengan Hakyeon, "Nggak lah. Gak punya hak."
Jaehwan terdiam. Ia pun segera membuang muka dari Taekwoon dan Hyuk, kemudian bertanya pada Ravi. "Kamu mau pesan apa, Ravi?"
"Aku paling suka waffle ice creamnya."
"Hakyeon, kami pesan waffle ice cream satu dan panekuk susunya satu."
"Siap!"
Hakyeon segera menyiapkan pesanan sahabatnya itu. Sementara Jaehwan berjalan angkuh, sengaja ingin melewati Taekwoon dan segera duduk dibangku kosong belakang meja mereka.
Taekwoon memandangnya. "Oh, Hai Jaehwanie."
Jaehwan hanya menatap Taekwoon datar namun langsung membuang muka, dan berhadapan dengan Ravi.
Hati Jaehwan panas. Begini-gini.. ia masih punya rasa suka terhadap cowok dingin didepannya ini. Meskipun ia masih setengah rela mencomblangi Hakyeon dengan laki-laki pujaannya, setidaknya itu lebih baik daripada harus melihat Taekwoon bersama dengan Sanghyuk.
"Raut wajahmu berubah semenjak melihat laki-laki itu, Jaehwan."
Jaehwan menunduk. Ia bukan tipe yang bisa berbohong dengan ekspresi dan perkataannya. "Benar, Ravi. Aku minta maaf."
"Tidak masalah. Kutebak, kamu suka dengan salah satu yang ada disana?"
"Hm." Ujar Jaehwan seadanya.
"Yang mana? Laki-laki yang berambut hitam legam, atau yang kecoklatan?"
Jaehwan mengerucut. "Aku sedang tidak ingin membahasnya."
"Lantas kenapa kamu cemburu? Apa karena akhir-akhir ini banyak laki-laki yang biseksual? Mm.. Bisa saja mereka berteman, kan?"
Jaehwan memicingkan matanya lagi kearah Taekwoon dan Hyuk, dimana Taekwoon tersenyum sangat manis sementara Hyuk terlihat tersipu. "Masa bodoh. Aku sudah bilang tidak akan membahasnya."
Ravi terkikik. Tangannya terulur untuk menepuk pelan kepala Jaehwan dua kali. "Okay okay."
Tak lama, Hakyeon datang dengan nampan berisi pesanan mereka. Ditambah dua gelas float yang membuat Jaehwan maupun Ravi mengernyit. "Aku tidak pesan ini, Hakyeon."
"Itu traktir dariku!" Hakyeon mengedipkan matanya lucu kepada keduanya. "Ah, omong-omong, atasanku barusan bilang kalau akan ada souvenir gratis nanti. Kalian pulang agak telat ya? Aku mau memberikan souvenir itu! Soalnya, atasanku belanja souvenir itu bersamaku. Pasti kalian suka." Ujar Hakyeon panjang dan riang.
Jaehwan mengangguk mengiyakan, setelahnya menatap pada Ravi, seolah bertanya, 'Apa tidak apa-apa?'. Dan Ravi menjawabnya dengan senyum yang meyakinkan.
Terlalu banyak hal yang tak terduga yang terjadi hari ini. Entah mengapa, suasana hatinya yang masih terasa panas membuat Jaehwan menikmati panekuk susunya sedikit berantakan. Matanya sama sekali tidak bisa diam dan terus-terus melirik Taekwoon yang masih betah mendengarkan Hyuk bercerita ini dan itu.
Namun karena itu pula, Ravi jadi tahu bagaimana cara melunakkan perempuan yang baru ia kenal sekitar tiga minggu itu. Remah panekuk yang menempel karena susu pada pipi Jaehwan menarik Ravi untuk membersihkannya. Jaehwan kaget, tentu saja. Pipinya memerah, malu. Disitulah ia melupakan eksistensi Taekwoon dan memilih untuk berbicara hangat dengan Ravi.
Berbeda Jaehwan, berbeda juga dengan Hakyeon yang entah mengapa jadi suka merenung sekarang ini. Bukan merenung— bahkan jatuhnya bengong. Hakyeon hanya tersenyum saat dan setelah melayani pengunjung kemudian melihat Jaehwan dan Ravi yang bercanda gurau. Namun senyuman itu tak berangsur lama ketika matanya jatuh kearah Taekwoon dan Hyuk.
Rasanya Hakyeon tidak rela. Dan entah mengapa ia merasa menyesal telah mengajak dan menraktir Hyuk. Ia kemudian merutuk. Lagian mengapa sih Taekwoon tadi malah meminta Sanghyuk untuk menemaninya?! Kedai ini tidak begitu ramai. Hakyeon seharusnya bisa menyempatkan diri untuk duduk dibangku yang sekarang ditempati oleh Hyuk.
Kesal. Marah. Cemburu.
Pemikiran itu lenyap seketika saat atasannya memanggil namanya seraya tersenyum lebar. Kotak souvenir yang semula dipeluk oleh atasannya berpindah ke tangan Hakyeon. Souvenir itu bermacam-macam jenisnya. Meskipun kebanyakan hanyalah gantungan kunci, tapi ada juga gelang-gelang, bando, jepit rambut dan mainan mobil-mobilan kecil untuk pengunjung yang masih kecil.
Hakyeon berkeliling ceria dari sudut kesudut, memberikan souvenir gantungan kunci kepada usia lanjut, gelang gelang kepada remaja SMA dan SMP, juga jepit rambut dan bando untuk anak-anak. Hakyeon tidak pernah sebahagia ini saat melihat anak kecil yang tersenyum senang seraya memeluk kakinya, "Terimakasih, unnie!"
Kemudian kakinya berpindah mendekati Jaehwan dan Ravi. Daripada memilihkan, Hakyeon justru meletakkan kotak souvenir itu didepan mereka. "Nih, pilih sendiri pilih sendiri~ kamu mau yang mana? Bebas kok." Ujar Hakyeon.
Jaehwan mengambil jepit rambut berwarna pink muda itu. "Aku yang ini yaa Hakyeonie?" Kata Jaehwan, berkedip-kedip imut.
Hakyeon terkekeh. "Iyaa Jaehwan, ambil aja. Kalau Ravi, mau yang mana?"
Pilihan Ravi jatuh kepada gantungan kunci yang berpasangan. "Aku mau rakus. Aku ambil yang isinya dua ya."
Hakyeon dan Jaehwan tertawa. "Hahaha. Bisa aja. Ya sudah, aku kesana dulu ya."
Langkah Hakyeon berhenti didepan meja Taekwoon dan Hyuk. Mati-matian ia membuat wajah senyum yang ceria— karena moodnya hari ini sedikit anjlok karena kedua orang ini. Mungkin ia sedang PMS. Makanya jadi mudah bete.
"Taekwoon dan Sanghyuk mau yang mana? Pilih sendiri gak apa-apa!"
Mata Hyuk berbinar melihat gelang hitam yang bagi laki-laki— adalah aksesori yang paling keren. "Hakyeon senior, saya ambil yang ini ya."
"Iya!" Hakyeon mengangguk. "Kamu, Taekwoon?"
Taekwoon tampak berfikir. "Kalau kamu suka yang mana, Hakyeon?"
"Aku suka semua. Kan aku yang beli bareng dengan atasanku!" Jelasnya riang. Taekwoon mengangguk paham lalu tangannya terulur untuk mengambil gantungan kunci yang sepasang— sama dengan punya Ravi. Tapi beda gambar dan bentuk. "Saya ambil yang ini."
"Okay. Aku ke pengunjung yang lain dulu ya!"
"Hakyeon, tunggu."
Hakyeon lantas tidak jadi beranjak dari tempatnya. "Kenapa, Taekwoon?"
"Hari ini, mau pulang bersama?"
"Lho, kamu nggak antar Sanghyuk?"
Hakyeon tidak perlu panik karena sebenarnya shift nya sudah selesai. Sudah ada pelayan pengganti setelahnya. Jadi berbicara dengan Jaehwan dan Taekwoon seperti ini tidak masalah.
Taekwoon mengangguk. "Saya antar Hyuk juga."
Hakyeon memiringkan kepalanya. Matanya melirik Hyuk yang masih mengagumi gelang hitamnya. Dengan ragu, Hakyeon mengangguk. "Okay. Aku siap-siap dulu."
"Tidak usah terburu-buru, kok."
Hakyeon terkekeh. "Jam kerjaku memang sudah selesai kok. Tunggu yaa."
Setelah menyelesaikan tugasnya membagikan souvenir, Hakyeon segera melipat celemeknya dan menyimpannya di laci kedai. Tak lupa ia membersihkan wajah dengan tissue basah, juga membenahi rambutnya. Kalau sudah malam, Hakyeon memang tidak begitu mementingkan penampilan wajahnya. Toh, ujung-ujungnya nanti ia akan mandi.
Setelah pamit kepada atasannya dan teman shiftnya, ia menghampiri Jaehwan dan Ravi yang juga sudah bersiap-siap pulang, sebelum menghampiri Taekwoon dan Hyuk.
"Jaehwan, Ravi, maaf ya jadi membuat kalian pulang malam. Lain kali jangan lupa mampir kesini lagi, okay?"
"Siap deh Hakyeonnie sayang~!" Kata Jaehwan sambil mencubit kedua pipi Hakyeon saking gemasnya. Ravi mengangguk mengiyakan, bahwa mereka akan mampir lagi kapan-kapan.
"Kau pulang dengan siapa, omong-omong?" Tanya Ravi kepada Hakyeon.
Hakyeon menunjuk Taekwoon dengan jarinya. "Dengan Taekwoon. Oh iya, Jaehwan sudah kukenalkan belum ya, dengan Sanghyuk? Adik kelas yang tahun lalu hampir pingsan?" Hakyeon berbicara seraya berjalan menghampiri Sanghyuk dan Taekwoon yang segera berdiri.
"Ah, laki-laki ini adalah Sanghyuk?"
"Yap benar!" Mata Hakyeon melengkung cantik. "Sanghyuk, ini temanku, Jaehwan dan Ravi."
Sanghyuk membungkuk sopan. "Selamat Sore, Jaehwan senior, Ravi senior."
Jaehwan hanya tersenyum seadanya sebagai jawaban. "Sore juga, Sanghyuk." Ujar Ravi, mewakili Jaehwan juga.
"Ah sudah. Waktunya kita pulang keburu kemaleman. Hati-hati dijalan ya semua!"
Jaehwan dan Ravi sudah meluncur dengan sepeda motor Ravi kearah rumah Jaehwan. Sementara Hakyeon masih asik memandangi lampu sorot motor Ravi hingga cahayanya benar-benar hilang.
Setelahnyapun ia masih canggung berdiri di luar mobil Taekwoon. Hakyeon biasanya duduk dibangku depan mobil, persis di sebelah Taekwoon yang mengemudi. Tapi tadi terjadi sesuatu yang membuat dirinya maupun Hyuk awkward.
Hakyeon tengah berjalan ingin menghampiri pintu mobil bagian depan. Namun tiba-tiba saja Hyuk melesat lebih cepat membuka pintu mobil tersebut dan hampir masuk kedalam apabila Hyuk tidak melihat ekspresi terkejut Hakyeon.
Katakan, memang Hyuk sengaja melakukan itu. Karena ia sedikit cemburu kalau melihat kemanisan Taekwoon terhadap Hakyeon terang-terangan seperti yang terjadi di dalam kedai tadi. Huh rasanya Hyuk ingin merobek mulut Hakyeon yang berkata dengan sangat lembut tadi. Hah... Padahal Hakyeon memang selalu lembut jika berbicara dengan siapa saja. Bahkan dengan dirinya pun, Hakyeon super baik.
Siapa yang jahat disini?
"Sanghyuk." Panggil Hakyeon kemudian. "kamu nggak apa apa kok didepan. Kebetulan saya ngantuk berat. Saya mau tiduran di kursi tengah."
Hakyeon tanpa aba-aba lagi langsung memasuki mobil bagian tengah tatkala melihat gerik Taekwoon yang akan menyuruhnya duduk didepan, dan Hyuk dibelakang. Bukan apa-apa.. Hakyeon hanya merasa tidak enak hati, sehingga kata hatinya ia harus mengalah. Namun ia tidak sepenuhnya berbohong, kok. Toh memang Hyuk akan diantar duluan, kan? Jadi tidur lebih dulu seraya menunggu Hyuk sampai rumah adalah pilihan paling bijaksana.
Hakyeon terbangun secara mendadak dan menemukan dirinya masih berada didalam mobil Taekwoon. Ketika ia melihat keluar jendela, rupanya mobil Taekwoon telah sampai persis didepan gedung apartemennya.
Hakyeon terbelalak saat melihat jam diponselnya menunjukan pukul 21.43 yang artinya hampir jam 10 malam. Astaga.. niatnya tidur sebentar, malah kelamaan.
Hakyeon lebih terkejut lagi saat melihat Taekwoon tidur dengan tenang di kursi pengemudi itu. Jadi, mereka sudah sampai sejak tadi, tetapi Taekwoon tidak membanguninya?
Semburat merah menghiasi pipinya yang menghangat. Pelan-pelan, Hakyeon menyentuh pipi Taekwoon dengan punggung tangannya. "Taekwoon?"
Taekwoon melenguh, dan langsung membuka matanya. "Kamu sudah bangun, Hakyeon?"
"Masih mimpi!" Ketus Hakyeon gemas. "Kenapa kamu tidak membangunkanku?" Sahutnya.
"Kamu terlihat lelah. Saya tidak tega."
"Aku belum mengerjakan PR, tau!" Tukas Hakyeon lagi. Nadanya kesal, namun sebenarnya ia hanya menahan malu.
"Kalau gitu, boleh saya menginap? Supaya saya bisa bantu kamu kerjakan PR."
"APA?!" Pekik Hakyeon horror. Taekwoon ini habir terbentur apa, sih? Mendadak minta menginap. Mau di cap apa Hakyeon kalau sampai penghuni sebelahnya tahu! "Lupakan! Sudahlah aku masuk dulu!"
"Tunggu, Hakyeon."
Hakyeon bergeming didalam mobil Taekwoon. Suara berisik khas plastik pun terdengar. Hakyeon melirik apa yang dilakukan Taekwoon.
Ah. Gantungan kunci yang tadi.
"Ada sepasang." Taekwoon mengulurkan gantungan kunci bergambar bintang. "Kamu simpan yang bintang, dan saya pegang yang bulan. Okay?" Kata Taekwoon, sambil menunjukan gantungan kunci bergambar bulan sabit.
"Aku mau yang bulan."
"Nggak mau. Saya yang bulan."
Hakyeon mendengus. Entah mengapa ia merasa bete dan kesal sekali kepada cowok ini hari ini. Tanpa berniat melanjutkan acara merajuknya, Hakyeon segera menyambar gantungan kunci bintang itu. "Terserah. Aku masuk dulu."
"Baiklah. Sampai jumpa besok, Hakyeon."
Hakyeon mempercepat langkahnya usai menutup pintu mobil Taekwoon. Bahkan tidak berucap balasan apa-apa atas kalimat Taekwoon.
Setidak peka nya Taekwoon, kali ini ia menyadari ada yang salah dengan temannya itu. "Hakyeon kenapa?"
Sekarang jam menunjukkan pukul setengah sebelas, dan Taekwoon masih menelepon nomor Hakyeon tanpa henti. Bahkan ia nekat memblock kakaotalk Hyuk dulu supaya Hyuk tidak meneleponnya kala ia masih tidak tenang dengan keadaan Hakyeon.
Bukan tanpa alasan ia berani masih menelepon Hakyeon padahal sudah larut begini. Taekwoon tahu, Hakyeon memasang waktu mati otomatis pada ponselnya. Setiap pukul 10.15 pm, harusnya ponsel Hakyeon mati. Tapi sekarang sudah 10.32 pm dan ponsel Hakyeon masih aktif. Itu berarti, Hakyeon masih memegang ponselnya, bukan?
Panggilan ke 49 sekarang. Taekwoon menyerah. Kalau setelah ini tidak diangkat, maka ia akan menanyakannya langsung esok hari.
Namun keajaiban berpihak kepadanya. Setelah mengatakan niatnya untuk menanyakan esok hari, Hakyeon justru mengangkat panggilannya.
Taekwoon bingung, tidak tahu harus bicara apa sebab setelah dua menit Hakyeon menganggkat panggilannya, tidak ada salah satu dari mereka membuka suara. Taekwoon takut bicara duluan, takut salah.
"Ada apa sih?!"
Taekwoon terperanjat kaget mendengar suara Hakyeon yang ketus— bahkan setengah menjerit. Sepertinya mood Hakyeon sedang buruk malam ini.
"Kamu belum tidur?"
"Belum selesai."
"Apanya?"
"PR ku. Kenapa nelefon malam-malam? Ganggu."
Pertama kalinya Taekwoon mendengar nada bicara Hakyeon yang sepertinya sangat jengkel dari sana. Daripada kesal dianggap pengganggu, Taekwoon justru merasa bersalah.
"Maaf. Saya hanya mau memastikan kalau kamu baik-baik saja. Sudah makan?"
"Aku super baik sebelum kau menelefonku hampir 50 kali bahkan aku sama sekali tidak bisa melihat layar ponselku barang satu detik untuk melihat jawaban dari internet."
"Maaf. Saya terlalu khawatir. Saya hanya merasa kamu agak berbeda hari ini. Tidak biasanya kamu ketus dan berkata jengkel seperti ini." Ujar Taekwoon jujur. "Sepertinya saya belum melihat sisi jengkel mu ya? Tapi jadi lega, saya akhirnya tau kalau kamu jengkel itu seperti apa." Lanjutnya.
Hening. Hakyeon tak lagi membuka suara. Taekwoon melirik jam dinding dikamarnya menunjukan pukul 11. Apa Hakyeon ketiduran?
"Ha–"
"Aku sudah makan." Jawab Hakyeon setelahnya.
Taekwoon tersenyum. "Sekarang katakan pada saya, hari ini kamu kenapa? Maksud saya, sore ini."
"Lagi bete aja. Aku rasa ini bawaan bulan baru."
Oh. Taekwoon terkekeh. Namanya juga perempuan. Ia jadi ingat dahulu adik perempuannya bahkan sampai menangis tanpa sebab sambil berteriak bodoh, "Kak Taekwoon gak boleh pulang kerumah!"
Iya, sampai kayak gitu.
"Ooh. Saya mengerti. Jadi bagaimana dengan PR mu, sudah selesai?"
"Sedikit lagi."
"Saya temani."
"Tidak bisa. Kalau kamu telepon aku, internet ku tidak bisa nyala. Kalau mau kamu telepon aku lewat kakaotalk."
"Baiklah. Saya tutup dan telepon kamu lewat kakao."
"Tunggu- tapi ini sudah larut malam. Tidak apa-apa kalau kamu tidur kemalaman?"
"Tidak apa-apa, Hakyeon. Saya tutup ya."
Telepon ditutup oleh Taekwoon, kemudian ia langsung membuka aplikasi kakaotalk, dan segera menelepon Hakyeon. Hakyeon langsung menerimanya.
Taekwoon tersenyum kecil seraya menyamankan posisinya di kasur. "Emangnya PR apa, sih? Berapa banyak lagi?"
"Sepertinya nggak akan selesai malam ini, Taekwoon. Besok pagi akan aku lanjutkan, nyontek punya Hani. Masih ada sekitar empat nomor lagi."
"Kalau begitu sekarang kamu tidur saja."
"Iya tunggu. Aku selesaikan nomor sebelas dulu habis itu beres-beres buku."
"Kamu mau dengar lagu apa malam ini?" Tanya Taekwoon. Sudah lama ia tidak menyanyikan lagu untuk Hakyeon semenjak Sanghyuk memintanya untuk bertelepon setiap malam. Taekwoon juga tidak tahu mengapa Hyuk meminta demikian. Tapi ya sudahlah.
Omong-omong, ia sudah semalaman ini tidak chatting dengan Hyuk, apalagi teleponan. Dalam hati, Taekwoon agak khawatir, takut Hyuk marah. Namun, Hakyeon lebih penting untuk saat ini.
"Kamu tidak telepon Sanghyuk malam ini?" Hakyeon justru bertanya balik.
"Tidak. Kamu sih, bikin saya khawatir setengah mati. Saya sampai block kakaotalk Hyuk agar tidak ganggu saya saat nelepon kamu."
"Taekwoon bodoh. Pokoknya setelah ini kamu harus chat Sanghyuk ya."
"Emang kenapa?"
"Pokoknya lakukan saja. Minta maaf juga."
"Baiklah. Jadi kamu mau dengar lagu apa?"
"Apa saja. Lagu yang kamu suka juga tidak apa-apa."
"Okay. Saya mulai."
"Hey, Taekwoon."
"Kenapa, Hakyeon?" Baru saja Taekwoon mau mengambil nafas, Hakyeon mendadak memanggilnya.
"Kamu harus menjaga sikapmu. Tidak semua orang bisa diperlakukan dengan baik seperti kamu memperlakukan aku, Jaehwan, dan Hyuk, sebagai teman."
"..." Taekwoon tidak mengerti. Mengapa Hakyeon mendadak berbicara seperti itu? Memangnya ia memperlakukan temannya bagaimana? Sepertinya ia biasa saja.
Bukan marah. Taekwoon malah semakin merasa bersalah. Hanya saja ia harus mengerti, Hakyeon kan sedang PMS. Wajar saja kalau tiba-tiba melantur.
"Saya mulai."
Taekwoon menyanyikan lagu manis dari band Korea yang akhir-akhir ini booming. DAY6 namanya.
It was a really hard day today
My heart aches for you
The only thing I can do for you
Is to be next to you, I'm sorry
You're so pretty when you smile
So every time you lose that smile
Even if I have to give my all
I want to give it back to you
I want to cry for you
I want to hurt instead of you
I don't want any scars in your heart
Ever again
When you love someone
So much that it overflows
It's so amazing
Because this is how it is
I hope I can be a little helpful at least
I hope I can be your resting place
I'll try to make you feel at peace
Whenever you think of me during your busy days
Day6 - 그렇더라고요 (When you love someone)
"Hakyeon?"
Taekwoon tidak mendengar apapun dari seberang sana. Hakyeon pasti sudah tidur.
"Selamat malam, Hakyeon."
Telepon ditutup. Dan Taekwoon segera tidur.
#VIXX6thAnniversary #HappyVIXXDay
Tadinya mau dikasih hadiah double update, tapi enggak jadi. Mungkin aku akan menulis satu cerita pendek spesial buat Ulang Tahun VIXX. Coba kasih tau aku, kalian sejak kapan mengikuti VIXX? Apakah sudah 6 tahun semenjak mereka debut? Kalau iya, kalian keren sekali.
Aku sendiri baru kenal VIXX saat mereka promosi Voodoo Doll dan mendapatkan kemenangan pertama. :) Berarti ini adalah tahun kelimaku bersama VIXX!
Terima kasih buat yang sudah mereview dari chapter 0. Semoga kalian suka ceritanya sampai selesai. Oh ya, ini emang alurnya cepat dan nggak basa basi. Maaf kalau terasa ngebut banget.
