Here's chapter 4, everyone. ^^
DISCLAIMER : Saya tidak memiliki Persona 3, karena itu milik ATLUS. Mungkin suatu saat saya bakal jadi direktur ATLUS. =)) Ngga lah, I don't have any talent in that section. Hehe…
Enjoy! ^^
--
Mitsuru's POV
Aku tidak bisa melihat dengan jelas, yang terlihat hanya bayangan beberapa orang. Setengahnya kurasa para dokter dan perawat. Sebagian lagi adalah teman-temanku.
Yukari, Junpei, dan Fuuka hanya menatapku khawatir. Sebenarnya Akihiko juga begitu, hanya saja—untungnya—aku bisa merasakan tangannya menggenggam tangan kiriku.
"Kalian tunggulah di sini." Seseorang berkata pada teman-temanku. Mereka berhenti di depan sebuah ruangan.
"Mitsuru…" Tempat tidurku didorong masuk ke dalam ruangan ini, dan sepertinya Akihiko tidak bisa ikut. Tanganku hampir lepas dari tangannya. Aku berusaha menggenggamnya erat, tapi justru Akihiko malah melepaskannya dengan lembut. "Semuanya akan baik-baik saja." Katanya sambil tersenyum.
Dan tangan kami terpisah.
Akihiko's POV
Percayalah, duduk diam di rumah sakit itu tidak enak. Begitu saja sudah tidak enak, apalagi kalau kau duduk diam menunggu sesuatu yang tidak pasti. Contohnya sekarang; menunggu temanmu yang berjuang bertahan hidup walaupun lemah di dalam sana sementara tak ada yang bisa kau lakukan selain berdoa sangatlah tidak menyenangkan.
"Senpai, aku akan pulang dulu untuk memeriksa keadaan rumah." Fuuka minta izin padaku.
"Ah, ya. Pulanglah, kau boleh kembali besok saja, ini sudah malam." Balasku.
Fuuka mengangguk dan pergi meninggalkanku dengan Yukari dan Junpei.
"Hei, kalian." Panggilku, dan mereka menoleh. "Kenapa ya tembok rumah sakit harus warna putih? Apa mereka tidak tahu aku bosan sekali melihat tembok ini dari… empat jam yang lalu?" Tanyaku.
Yukari mengangkat bahunya. "Entahlah. Memang bosan sih, sudah tahu yang namanya operasi itu lama, masih saja temboknya dicat putih membosankan begini ya." Jawab Yukari.
"Mungkin lebih lama daripada jarak dari sini ke dua kota lebih jauh." Ujar Junpei.
"Stupei, jangan bicarakan hal-hal yang tidak menyenangkan." Protes Yukari.
Aku tertawa kecil. "Sudahlah, tidak apa. Aku memintanya diam di sini justru untuk itu." Kataku. Aku memang sengaja meminta Yukari dan Junpei yang ada di sini, supaya paling tidak ruangan ini tidak terlalu sepi.
"Tapi apa tidak sebaiknya senpai kembali ke rumah saja dulu?" Usul Yukari yang kurespon dengan gelengan kepala. "Tapi sudah empat jam lebih." Katanya lagi.
"Justru karena sudah empat jam, berarti kan tinggal tersisa beberapa jam lagi." Balasku.
"Such a persistent…!"
"Hah?"
"Eh? Ada apa?" Tanya Yukari.
"Ngg… Tidak, cuma dengar suara aneh…" Jawabku.
"Jangan menakut-nakuti aku." Protes Yukari.
"Aku tidak bermaksud begitu." Balasku.
"Pasti bawaan Tartarus, itu kalimat yang sering sekali kudengar dari Mitsuru…" Pikirku.
Satu jam lagi telah berlalu, dan aku masih duduk dengan tenang tanpa melakukan apa pun. Tampaknya hal ini malah membuat Junpei bingung.
"Senpai, aku bingung bagaimana kau bisa setenang ini." Katanya.
"Tenang? Menurutmu aku tenang ya? Aku… sama sekali tidak merasa tenang…" Balasku.
"Yaa… keliatan dari luarnya sih begitu." Kata Junpei.
"Oh, tolonglah. Aku hanya bisa tenang kalau Mitsuru kembali tersenyum padaku…!"
"Hoahm… Sudah hampir jam satu, lumayan cepat juga ya…" Kata Yukari setelah menguap.
"Ya, bagaimana kalau kita tidur dulu, senpai—" Ucapan Junpei terhenti. "Ah, sudah tidur duluan…" Lanjutnya.
Yap, aku ketiduran dengan posisi tangan terlipat dan duduk di atas kursi rumah sakit. Rasanya sangat capek…
"Sudahlah, kita biarkan saja. Kita juga lebih baik istirahat dulu." Usul Yukari.
"Kalau begitu aku juga mau tidur dulu, biar saja deh kalau harus sambil duduk. Daripada tidak sama sekali." Balas Junpei.
"Hei, kalian…" Aku memanggil mereka.
"Oh, senpai…" Balas Yukari.
"Kalian pulanglah, biar aku saja yang di sini." Kataku.
"Eh? Tidak apa-apa?" Tanya Yukari.
"Ya." Jawabku singkat.
"Kenapa senpai juga tidak pulang saja dulu??" Tanya Junpei.
Aku hanya menggelengkan kepala. Mereka berdua terdiam sesaat, saling memandang satu sama lain, melontarkan pertanyaan dalam hati.
"Aku sudah berjanji." Kataku memulai pembicaraan lagi. "Aku sudah janji tidak akan pergi." Lanjutku.
Yukari tersenyum. "Ayo pergi, Junpei." Katanya.
"Ha? Oh… Yaa, baiklah…" Balas Junpei.
Saat mereka pergi menjauh, Yukari berbalik menghadapku. "Mitsuru-senpai sangat beruntung… Karena memiliki seseorang sepertimu, senpai." Katanya.
Aku hanya bisa tersenyum sambil meringis. "Beruntung? Menurutku dia kena semacam badluck, karena bertemu denganku." Pikirku.
"Aku bukanlah seseorang yang pantas untuknya… Aku tidak mampu melindunginya, dan aku melihatnya dilukai di depan mataku. Bukankah itu tindakan yang bodoh? Maafkan aku…"
"Mitsuru…"
Beberapa detik kemudian, aku memasuki dunia mimpiku. Atau haruskah kubilang… ini kenyataan?
--
"Akihiko…"
"Hey, bangunlah."
"Akihiko…!"
Perlahan-lahan, kubuka mataku karena mendengar suara yang kukenal. Seseorang yang telah kukenal bertahun-tahun, yang telah gagal kulindungi. Dan sekarang ia berdiri tepat di hadapanku. Aku masih duduk di lorong rumah sakit, dan ia pun masih mengenakan pakaian rumah sakit. Tak ada yang berbeda, kecuali kenyataan bahwa ia berdiri di hadapanku.
"Mitsuru?" Panggilku.
Mitsuru tersenyum kecil. "Kenapa tidur di sini?" Tanyanya tanpa beranjak selangkah pun.
"Aku… menunggumu… Aku sudah janji tidak akan pergi…" Jawabku ragu.
Senyumnya makin mengembang. "Terima kasih, aku sangat menghargainya!" Katanya.
"Kau sendiri… kenapa ada di sini? Sudah berapa lama aku tertidur?" Tanyaku bingung. Sekarang pikiranku agak-agak kacau. Aku tidak mengerti apa pun.
Mitsuru menggeleng, lalu menatapku lurus. "Akihiko, terima kasih." Katanya tiba-tiba.
"Terima kasih? Untuk apa? Aku telah gagal melindungimu sampai membuatmu terluka, aku—"
Kalimatku terpotong karena ia mendekat dan menyentuh pipiku lembut. Tapi rasanya sangat berbeda. Tangannya dingin, dan pucat seperti patung.
"Terima kasih, karena Akihiko selalu ada di sisiku." Katanya lagi. "Terima kasih, karena Akihiko mau menungguku." Lanjutnya. "Terima kasih, karena Akihiko menepati janji." Aku benar-benar tidak dapat mengatakan satu patah kata pun. "Terima kasih… karena Akihiko telah mencintaiku." Katanya sambil tersenyum. Tapi aku bisa melihat air mata hampir menetes dari kedua mata indahnya.
Lalu ia menarik nafas dan berjalan mundur beberapa langkah. "Terima kasih, untuk segalanya." Katanya. Lalu ia berbalik, dan sambil berlari, ia melambaikan tangannya. "Bye-bye!"
"Mitsuru?"
--
Aku terbangun dari mimpi buruk itu, dengan tangan terkepal, dan nafas yang terengah-engah, seperti habis mengejar Koromaru yang berlari ke sana kemari. Tapi ketika semuanya berhenti, aku tidak merasa lega karena aku telah mendapatkan Koromaru, tapi justru ada perasaan yang sangat tidak enak. Beberapa perawat keluar masuk ruangan, ada yang pergi meninggalkan lorong ini, ada yang sibuk membawa obat, dan masih banyak lagi.
Aku berdiri perlahan, dan melihat ke sekitar. Tidak ada siapa pun yang kukenal di sini. Maka aku berjalan ke arah ruangan Mitsuru yang terbuka.
"Tidak apa-apa… semuanya akan baik-baik saja…" Aku mencoba membesarkan hatiku sendiri.
Langkah kakiku terasa berat saat aku berbelok sambil menutup mata.
"Saat aku membuka mata, Mitsuru pasti akan segera tersenyum padaku lagi…" Aku berhenti di ambang pintu.
Saat aku menghadap ke dalam ruangannya, aku membuka mataku lagi. Memang, aku melihat Mitsuru. Ia juga masih mengenakan pakaian rumah sakit yang kulihat tadi malam di mimpiku, tapi sekarang ditambah alat bantu pernafasan. Di dalam, aku melihat Fuuka. Dan ia menangis.
"Tidak… tidak mungkin kan? Itu semua hanya mimpi kan?" Aku berjalan mendekat dengan sangat pelan, tanpa melepaskan pandanganku dari wajahnya.
Mitsuru sama sekali tidak bereaksi, dan Fuuka masih berada di samping kiri tempat tidurnya, sambil sesekali menyeka air mata. Aku tahu ia tidak akan bisa berbicara apa pun.
"Tidak mungkin… Tidak mungkin kan? Katakan sesuatu, Mitsuru…!" Tanganku yang gemetar meraih tangan kanannya dan menggenggamnya erat.
"Mitsuru…!!" Aku tidak dapat menahan air mata yang sekarang telah jatuh ke atas punggung tangannya yang pucat.
Saat itulah aku merasakan tangan yang kugenggam erat itu juga sekarang menggenggam tanganku erat. Aku sungguh… shock… dan langsung mengangkat wajahku untuk melihat wajahnya.
Akhirnya, kulihat lagi senyum itu.
"Kenapa, Akihiko?" Katanya.
Aku sempat bengong selama beberapa detik, sampai Mitsuru memprotes karena aku sama sekali tidak merasakan ada air mata yang turun dari mataku.
"Hey, kenapa menangis??" Tanyanya. Suaranya sangat lemah, matanya setengah tertutup karena pengaruh obat, kulitnya pucat karena kehilangan darah, jarum infuse di mana-mana, tapi aku tetap bahagia melihatnya tersenyum padaku.
Aku segera mengusap air mataku dan tertawa kecil. "Bodoh, kau ini bisanya bikin khawatir saja…!" Balasku. Lalu aku menoleh pada Fuuka. "Kau juga, Yamagishi. Kenapa malah nangis? Kau pikir bagaimana perasaanku saat melihatmu menangis??" Protesku.
Fuuka juga mengusap air matanya dan tersenyum. "Maaf, aku tidak bilang apa-apa… Habis, aku senang sekali Mtsuru-senpai baik-baik saja, dan aku takut kalau aku bicara yang keluar hanya isakan yang ngga jelas." katanya sambil tertawa kecil.
Aku hanya bisa menghela nafas sambil tersenyum lega. "Sudahlah, itu tidak penting lagi." Balasku.
"Aku akan beritahu yang lain, senpai." Kata Fuuka sambil mengeluarkan handphone-nya dan pergi ke luar ruangan.
"Ah, handphone—"
"Sudah kubilang itu untukmu." Aku memotong kalimatnya.
Mitsuru menyerah untuk berargumentasi lagi, kurasa mungkin efek dari obat yang membuat dia mengantuk juga. Aku juga pernah merasakannya dulu, rasanya tidak enak.
"Uhm… Aku mau minta maaf…" Kataku memulai percakapan lagi. Tapi memang aku harus membuat dia tidak berbicara terlalu banyak.
"Untuk apa?" Tanyanya.
"Untuk gagal dalam melindungimu." Jawabku singkat.
"Kau bodoh." Balasnya tiba-tiba.
Aku yang semula menunduk langsung melihat wajahnya yang serius, tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Yang seperti itu kan bukan salahmu, untuk apa minta maaf?" Katanya.
"Uhh… Ya, karena aku merasa bersalah…" Balasku.
"Nonsense…"
Aku hanya terdiam, sampai Mitsuru melihat ke arah yang sama denganku.
"Aku hanya butuh kau untuk tetap bersamaku…" Katanya. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena ia menghadap ke arah lain.
(SFX : "Staaaay with me, anata wa watashi dake no ookina hikari…" XDDD)
Dan aku masih juga hanya bisa terdiam. Sampai beberapa saat kemudian tidak ada kata-kata di antara kami.
"Mitsuru…?" Panggilku. Tapi tidak ada jawaban. Maka aku berdiri dan berjalan ke sisi kiri tempat tidurnya, lalu tersenyum saat melihat ia tertidur.
"Beristirahatlah, aku tidak akan meninggalkanmu." Bisikku pelan supaya tidak membangunkannya. Lalu aku menarik pelan kursi di sebelahku dan menelungkupkan wajahku di atas tempat tidurnya, dengan tanganku menggenggam tangannya. "Selamat tidur, Mitsuru." Bisikku lagi.
--
Phew, maaf ya telat update, ini gara-gara FanFic Persona 3 + Rave nih… Akihiko x Mitsuru tentunya.. XD
Okay, author notes ga bakal panjang-panjang, thanks for reading, and review if you're willing. ^^ Thanks a lot! ^_^v
