Fantome

Rated: T

Genre: Horror, Supernatural, Angst, AU

Characters: Oh Sehun, Kim Jongin, EXO

Author: hunhanslave

Chapter 4

Sehun menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobilnya, matanya menatap lampu merah dengan tatapan malas. Langit sudah semakin gelap dan jalanan juga semakin sunyi, padahal itu baru pukul sembilan kurang tiga puluh.

Tak biasanya Sehun pulang selarut itu dari sekolah. Biasanya ia akan sampai di rumah sekitar jam 7 tetapi Sehun sepertinya lupa waktu. Ia terlalu hanyut dalam tariannya.

Ah, ya menari. Sehun tersenyum tipis. Sensasi saat tubuhnya bergerak membentuk satu tarian masih terngiang-ngiang di pikirannya. Ia sudah lama sekali tidak merasakan hal tersebut, bahkan Sehun hampir lupa bagaimana rasanya. Mungkin Sehun harusnya berterima kasih pada Jongin karena akibat paksaannya, Sehun bisa kembali menari.

Berbicara soal Jongin, sepertinya berteman dengannya tidaklah seburuk apa yang Sehun pikirkan ketika pertama kali bertemu dengan pemuda berambut cokelat itu.

Kalau bersama dengan Jongin, mungkin tak apa-apa.


Pagi itu suasana sekolah yang baiasanya tenang menjadi sedikit riuh. Beberapa murid yang kalau tidak salah adalah pengurus organisasi siswa dengan semangat membagikan pamphlet pada siapa saja yang lewat, tak terkecuali Sehun.

Awalnya Sehun ingin menghindari mereka tetapi mengambil satu lembar pamphlet sepertinya tidak akan menyakitkan?

"Jangan lupa berpartisipasi!" Sahut gadis berkepang dua sebelum Sehun berlalu dari hadapannya.

Sehun mengerutkan dahinya sembari membaca isi pamphlet di tangannya. Festival Sekolah, 25 Oktober. Pemuda itu mendesah pelan sebelum menyelipkan kertas tersebut di antara buku sejarah miliknya.

Sehun tidak pernah tertarik dengan festival sekolah. Ketika seisi sekolah sibuk mempersiapkan diri untuk serangkaian lomba tahunan, Sehun selalu memilih untuk bersembunyi di balik rak-rak buku perpustakaan. Sebisanya Sehun akan menghindari keramaian karena ia sama sekali tidak menyukainya—Sehun sama sekali tidak suka menjadi pusat perhatian.

"Tidak tertarik untuk berpartisipasi?"

"Tidak." Gumam Sehun tanpa menoleh ke arah Jongin sembari terus berjalan menuju kelasnya.

"Tema tahun ini sepertinya sangat menarik." Ucap Jongin. Tubuhnya melayang-layang mengitari Sehun beberapa kali, memperhatikan si pemuda berambut hitam itu dari setiap sudut. "Sepertinya kau terlihat berbeda hari ini."

"Apa maksudmu?" Sehun tidak menghentikan langkahnya. Suasana koridor yang ramai membuat Sehun merasa tidak nyaman, ia hanya ingin cepat-cepat sampai di kelas dan melanjutkan membaca kisah cinta Romeo & Juliet-nya.

Jongin mengerutkan dahinya—seperti berpikir. "Kau terlihat…bersemangat?"

Sehun mengangkat sebelah alisnya samar. Sedikit bingung dengan perkataan si hantu tadi. Apa benar ia terlihat bersemangat? Menurutnya tidak ada yang berbeda pada dirinya hari itu.

Seolah mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Sehun, Jongin terkekeh pelan kemudian mengambil posisi di depan Sehun dan sukses membuat langkah Sehun terhenti. "Mungkin paksaanku kemarin tidaklah buruk, bukan begitu?"

Sehun mengigit bibir bawahnya pelan. Ia sejujurnya tidak ingin mengakuinya tetapi apa yang dikatakan Jongin tidaklah salah.

"Terserah kau saja." Balas Sehun pada akhirnya yang membuat kekehan Jongin semakin kuat.

Sehun menunggu Jongin untuk membalas tetapi pemuda itu malah memilih untuk menghilang dan Sehun pun membiarkannya pergi begitu saja. Toh, beberapa menit dari sekarang Jongin akan muncul lagi.


Perkiraan Sehun ternyata salah. Jongin tidak menampakan dirinya selama jam pelajaran. Hal itu sedikit membuat Sehun bertanya-tanya kemana perginya dia? Tak biasanya Jongin akan menghilang selama itu.

"Sehun, kau akan ikut meramaikan festival sekolah kan?" Kata Park Chanyeol yang tiba-tiba saja duduk di depan Sehun yang sementara merapihkan buku dan alat tulisnya.

Kehadiran si ketua kelas itu sepertinya tidak hanya mengganggu Sehun tetapi juga Do Kyungsoo, pemuda mungil bermata bulat yang hampir sama pendiamnya dengan Sehun. Hanya saja, Do Kyungsoo masih sering terlihat bercakap-cakap dengan Huang Zitao dan pergi makan siang bersama beberapa teman sekelasnya.

"Bisakah kau bercerita dengan nada normal? Sehun hanya berjarak tidak lebih dari satu meter darimu dan anak kelas sebelah bisa mendengarmu dengan jelas." Gerutu Kyungsoo sebelum menarik tas ranselnya dan meninggalkan kelas.

Chanyeol hanya menyengir lebar, ia sudah terbiasa dengan gerutuhan Kyungsoo. Sehun hanya memutar bola matanya bosan tanpa menjawab pertanyaan si jangkung yang kalau tidak salah sering dipanggil si jerapah oleh seisi kelas—kecuali Sehun tentunya. Pemuda itu bahkan tidak berniat untuk bercerita panjang lebar dengan si ketua kelas.

Melihat Sehun yang sepertinya tidak akan membuka mulutnya, Chanyeol mengangguk cepat kemudian mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk V sign—andalannya.

"Kalau kau tertarik, kau bisa menghubungiku. Kelas kita masih kekurangan dancer, alto untuk vocal group, dan juga beberapa peran untuk drama." Kata Chanyeol bersemangat. "Baiklah, aku pergi dulu. Sampai jumpa Sehun!" Tambahnya sebelum beranjak dari duduknya lalu menghilang di balik pintu.

Sehun mendecih, sampai kapanpun ia tidak akan menerima tawaran Park Chanyeol tadi. Alto katanya, Sehun bahkan tidak bisa menyanyikan Do Re Mi dan kawan-kawannya dengan nada yang benar. Ia juga sangat tidak tertarik dengan drama, dan dancer? Ya, Sehun memang sangat menyukai tari tetapi tidak untuk ditunjukan pada orang lain—selain Jongin tentu saja.

Yang membuat Sehun bingung, kenapa ia bisa menari di hadapan Jongin? Diluar fakta bahwa Jongin bukanlah manusia, tetapi bukankah Sehun sangat tidak ingin orang lain melihatnya menari?

Sehun menoleh ke arah jendela sebelum merapatkan bibirnya hingga membentuk garis lurus. Ada yang berubah dari dirinya dan Sehun pun sadar akan hal tersebut. Namun, ia tidak ingin mencari tau apa dan kenapa.


Entah apa yang membuat seperempat dari murid sekolah itu berbondong-bondong memenuhi perpustakaan. Kursi dan meja yang biasanya hanya diisi oleh Sehun kini penuh dengan murid-murid yang sedang membaca dengan penuh konsentrasi.

Sehun tidak mungin membaca dengan tenang jika keadaan perpustakaan seperti itu. Terlalu ramai, terlalu berisik.

"Ketika perpustakaan tidak bisa digunakan untuk membaca," Jongin berbisik tepat di telinga Sehun sebelum berdiri di hadapan Sehun dengan senyum khasnya. "Kau harus mencari alternative lain."

"Diluar terlalu dingin."

"Kalau begitu, carilah tempat lain." Gumam Jongin dan sebelum Sehun sempat membalas, pemuda itu sudah menarik Sehun menuju suatu tempat.


Bau debu yang cukup pekat sedikit membuat hidung Sehun gatal. Koridor itu sedikit gelap, hanya cahaya matahari yang menyusup diantara jendela-jendela kaca yang sudah usang yang membuat Sehun dapat melihat kursi-kursi dan juga meja tua yang ditumpuk begitu saja di sepanjang lorong. Sehun pernah kesana selebumnya—di hari pertama ia bersekolah, tetapi ia sama sekali tidak memperhatikan sekitarnya dengan baik.

Sehun menyipitkan matanya ketika pintu kayu tua bercat cokelat di depannya terbuka. Berbeda dengan keadaan di koridor tadi, ruangan itu cukup terang meskipun hanya satu jendela kaca yang membuat matahari dapat masuk ke ruangan itu. Jendela lainnya dibiarkan tertutup oleh beberapa lembar kayu.

"Selamat datang di kamarku." Ucap Jongin. Pemuda itu berdiri tepat di tengah ruangan. Cahaya matahari yang menyinarinya membuat Sehun menyadari bahwa tubuh Jongin sedikit tembus pandang. Samar-samar Sehun dapat melihat lukisan seorang penari yang berada tepat di belakang Jongin.

Tak ada yang berubah di ruangan itu. Semuanya masih sama seperti terakhir kali Sehun kesana. Cermin-cermin besar serta tumpukan buku dan juga piringan hitam serta beberapa tape masih berada di tempatnya.

"Kau bisa membaca dengan tenang di sini." Kata Jongin.

Sehun mengangguk kemudian berjalan masuk ke ruangan tersebut. Ia melirik ke sekelilingnya sebelum menjatuhkan tas ranselnya lalu duduk bersilah di sana. punggungnya ia sandarkan di dinding berlapis cermin, di sana pencahayaannya bagus.

"Kau…juga sering membaca di sini?" Tanya Sehun tanpa menatap Jongin yang juga ikut duduk bersilah di depan Sehun.

"Ya, karena terkadang aku bosan membaca di perpustakaan."

"Bagaimana dengan malam hari? Apa kau masih bisa membaca dengan keadaan gelap? Atau…" Sehun terhenti. Matanya mengerjap-ngerjap sementara Jongin menatapnya dengan tatapan terkejut, dua ujung bibirnya semakin di tarik menciptakan senyuman yang lebih lebar. Sehun menggigit bibirnya sebelum mengalihkan pandangannya kearah buku bersampul merah di pangkuannya.

"Aku tidak pernah mendengarmu berbicara sepanjang itu sebelumnya." Gumam Jongin lalu terkekeh. "Tak apa, Sehun."

Sehun kembali menatap Jongin sebelum menarik nafasnya dalam dan membuangnya perlahan. Ia tidak bisa menahannya lebih lama lagi, Sehun memang benar-benar merasa nyaman berada di dekat Jongin.

Jujur saja, ketika Sehun pertama kali bertemu dengan Jongin, Sehun benar-benar sangat ingin Jongin segera menghilang dan tidak mengganggunya lagi. Namun, semakin lama Sehun mulai terbiasa dengan keberadaan Jongin. Terlebih lagi ketika Sehun menyadari bahwa Jongin hanyalah sosok arwah yang kesepian, ia pun merasa bahwa Jongin dan dirinya memiliki kesamaan dalam hal itu.

Sehun tak bisa memungkiri jika dirinya merasa senang ketika Jongin berada bersamanya. Jongin sedikit demi sedikit bisa mengobati rasa kesepiannya, dan diam-diam Sehun juga berharap Jongin merasakan hal yang sama, meskipun sikap Sehun pada pemuda itu sangatlah tidak ramah.

"Hey, Jongin."

"Hm?"

Sehun mengerutkan dahinya samar sementara matanya menatap Jongin dengan tatapan menerawang. "Apa rasanya…mati lalu menjadi seperti sekarang?"

Jongin terdiam sejenak, ia sedikit menengadahkan kepalanya ke atas sebelum tersenyum tipis. Sehun hanya menatapnya dalam dia, tak berharap Jongin akan menjawab pertanyaan konyolnya tersebut.

"Entahlah Sehun, tetapi rasanya seperti…hidup. Hanya saja, orang-orang seolah mengabaikan keberadaanmu. Kau berada di sana setiap saat, tetapi tak ada yang menyadarinya." Suara Jongin sedikit bergetar di akhir kalimatnya.

"Kau…bisa saja menunjukan dirimu pada orang-orang, kan?"

Jongin terkekeh pelan lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sehun. Aku bisa menyentuh, tetapi aku tidak bisa memperlihatkan diriku pada manusia."

Sehun menundukan kepalanya, jari-jari pucatnya berpautan satu sama lain. Hatinya sedikit berkedut nyeri. Jongin memang tidak memperlihatkan raut kesedihan di wajah pemuda itu, tetapi Sehun dapat merasakannya.

"Karena itu aku sedikit terkejut ketika kau ternyata bisa melihatku." Tukas Jongin lalu menepuk kepala Sehun dengan pelan.

Tak ada yang bersuara setelah itu sebelum Jongin memecah keheningan. "Bagaimana denganmu, Sehun?"

Sehun akhirnya mengangkat kepalanya. Dua iris hazelnya bertemu dengan onyx milik Jongin yang menatapnya dalam.

"huh?"

"Bagaimana rasanya hidup sepertimu? Kau tau, dengan keadaanmu yang seperti ini." Jongin sedikit memajukan badannya.

Pertanyaan Jongin tadi cukup membuat Sehun tertegun—lebih tepatnya berpikir. Sesungguhnya pertanyaan tersebut sering kali ia tanyakan pada dirinya sendiri tetapi Sehun tidak pernah sekalipun menjawabnya.

"Mungkin," Sehun kembali menghela nafas panjang. "Mungkin kau dan aku memiliki kesamaan." Ia kembali memautkan jari-jarinya sembari mencari kata-kata yang tepat untuk melanjutkan kalimatnya.

"Orang-orang menyadari keberadaanmu…setiap saat," Suara Sehun memelan, tatapan matanya menjadi sendu. Jongin pernah melihat Sehun seperti ini sekali, namun Jongin tidak pernah menduga akan melihatnya kembali. "Tetapi, kau saja yang berusaha mengabaikan keberadaan mereka. Lucu?"

Sehun tertawa hambar, berharap Jongin untuk ikut tertawa bersamanya. Namun Jongin hanya diam, pemuda itu malah menatap Sehun dengan tatapan yang tidak bisa dibaca oleh Sehun.

Sunyi kembali menyergap keduanya. Hujan yang tadinya turun secara perlahan tanpa suara kini menjadi sangat bising. Cahaya di ruangan itu semakin redup dikarenakan awan pekat yang menghalangi matahari ketika Jongin bangun dari duduknya lalu berjalan menuju sudut ruangan dengan langkah malasnya. Suara benda-benda yang dibanting perlahan ikut menambah kebisingan di ruangan tersebut. Sejenak Sehun berpikir kalau Jongin marah padanya namun ketika Jongin kembali dengan cengiran khasnya, hati Sehun yang tadinya menegang sedikit-demi sedikit menjadi hangat.

"Mau kuperlihatkan sesuatu?" Tanya Jongin. Kedua tangannya disembunyikan di balik punggungnya. Ia menunggu Sehun untuk mengangguk sebelum Jongin berjongkok di depannya lalu menyodorkan buku bersampul biru tua yang sudah sangat usang.

"Album kelulusanku, menengah pertama."

Tanpa Sehun sadari, ia menyunggingkan senyum ketika membuka lembar pertama album foto tersebut. Di lembar pertama tersebut terlihat Jongin dan juga teman-teman sekelasnya sedang berlomba-lomba untuk mendapatkan deret pertama untuk berfoto. Rambut Jongin tidaklah sepanjang sekarang dan ia terlihat masih seperti seorang bocah yang masih mencintai lumpur dan juga mandi di sungai.

"Dulu, berfoto adalah hal yang masih dianggap menakjubkan, kau tau?" Gumam Jongin yang tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum saat melihat Sehun kembali menarik ujung-ujung bibirnya.

Kali itu adalah kali pertama Jongin melihat Sehun tersenyum—bukan hanya sekedar senyum tipis yang terkesan dipaksakan.

Lembar kedua pun dibuka dan Sehun terkekeh ketika expresi Jongin terlihat seperti belum siap untuk di foto. Entahlah, tetapi menurutnya itu terlihat sangat lucu sampai-sampai ia tidak bisa menahan tawanya. Jongin pun masih tersenyum, ia melihat sisi lain dari seorang Oh Sehun yang mungkin tidak banyak orang yang tau—atau mungkin tidak ada yang tau? Entahlah, tetapi hal itu membuat Jongin merasa senang.

"Kau harus lebih sering seperti ini, Sehun."

Perkataan Jongin tersebut sukses membuat Sehun terkesiap. Bukan kata-kata Jongin yang membuatnya terkejut tetapi ketika pemuda berambut hitam itu menyadari bahwa ia tertawa—tertawa hanya karena hal sederhana—tertawa untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Sungguh sangat menyedihkan jika mengingat Sehun tidak pernah tertawa selang waktu yang sangat lama. Sehun bahkan tidak mempedulikannya karena menurutnya, ia tidak memiliki alasan untuk tertawa. Tetapi kali itu tentu berbeda. Hal tersebut semakin membuat Sehun bingung, perlahan-lahan ia merasa berjalan semakin jauh meninggalkan dirinya.

"Tertawa dan tersenyum tidaklah menyakitkan ketika kau memiliki alasan untuk itu." Bisik Jongin lalu menepuk kepala Sehun—kebiasaan baru Jongin sepertinya.

Sehun seperti kehilangan kata-kata. Meskipun ia ingin sekali membalas kalimat Jongin itu, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya, maka dari itu Sehun memilih diam dan hanyut dalam pikirannya sendiri.

"Sudah gelap, sebaiknya kau pulang sebelum hujannya kembali deras."

Sehun dengan cepat menolehkan kepalanya ke arah jendela. Ia bahkan tidak menyadari hari sudah malam dan hujan ternyata sudah lama reda. Dengan cepat, Sehun langsung beranjak dari duduknya lalu berjalan cepat menuju pintu sesaat setelah ia menggelantungkan tas ranselnya ke bahu.

"Ah, Sehun?" Jongin menyahut.

"Um…Ya?" Sehun menoleh lalu mendapati Jongin kembali melemparkan senyumannya.

"Besok… Ada yang ingin aku perlihatkan padamu." Ucap Jongin sembari mengelus tengkuknya.

Jari-jari Sehun terasa hangat ketika ia menggenggam gagang pintu tua tersebut. Ia terlihat berpikir sejenak sebelum mengangguk pelan.

"Kau…Akan datang kemari?" Pemuda berambut cokelat itu bertanya dengan nada canggung. Tidak seperti biasanya dan hebatnya Sehun menyadari hal itu.

"Ya, aku akan datang." Balas Sehun dengan nada suara dibuat senetral mungkin.

Jongin tersenyum lebar—menunjukan deretan gigi putihnya yang rapih. Sehun hanya tersenyum tipis—senyum andalannya kemudian menghilang di balik pintu, meninggalkan Jongin yang masih belum bisa menghilangkan senyuman di wajahnya, dan tanpa sepengetahuan Jongin, Sehun kembali menyunggingkan senyum lebarnya sesaat setelah ia keluar dari ruang tari tersebut.

Tertawa dan tersenyum tidaklah menyakitkan ketika kau memiliki alasan untuk itu

Sehun kembali mengucakpan kalimat itu dalam hati

To be Continue


Annyeonghaseyo!

as always, pertama tama dan utama/? makasih buat yang mau baca dan review ff gaje aku ini.

kalo bukan karena kalian aku ga mungkin semangat buat nulis XD

anyway, gimana nih chap 4 ini? makin gaje kah? kayaknya sih iya hehe

sebenernya aku mau update ff ini hari sabtu tapi berhubung hari ini aku ultah (ga ada yg nanya)

jadi sebagai hadiah buat para readers, aku updatenya lebih cepet wkwkwk

oke, last. tungguin chap 5 ya mantemann

xoxo