.

Come Away With Me

.

Karya: Kristen Proby

.

.

.

Cast: Xi Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun

GS for Uke

.

.

Ini BUKAN karya Cactus93, Cactus93 hanya me-remake dan berbagi cerita yang Cactus93 sukai. Cactus93 hanya mengganti nama pemeran, mungkin dialog yang sesuai dengan keadaan. Setting cerita ini tidak di Korea.

Luhan POV

.

HUNHAN

.

RATE M

.

.

Hope u will enjoy this remake^^

Happy reading

.

.

.

Previous chapter:

"Sebenarnya," aku melanjutkan, melihatnya dalam mata hitam kecoklatannya yang bersinar. "Aku belum pernah mengundang laki-laki ke rumahku sebelumnya."

Matanya membelalak dan dia mengambil nafas dalam. "Ranjangmu?"

"Hanya aku."

"Itu harus diubah." Dia menyambar tanganku dan menarikku keluar studio, membanting pintu di belakang kali dan mendahuluiku masuk ke dalam rumah.

"Dimana kamar tidurmu?"

.

.

.

Astaga, dia adalah laki-laki dengan satu misi.

Sehun menyeretku melewati rumah, terengah-engah, matanya liar.

"Kamar tidurmu?" dia mengulangi pertanyaannya, dan aku menunjuk lantai atas, tidak sanggup berkata-kata.

Aku tidak mengingat namaku sendiri! Dan bahkan dia belum menyentuhku.

Wow.

Ketika dia menarikku naik ke lantai atas, aku mendapatkan pemandangan indah dari pantatnya yang kencang, dan membuat perutku mengencang.

"Ke kanan," akhirnya aku menemukan suaraku dan dia menarikku masuk ke dalam kamar tidur, menutup dan mengunci pintu, dan dia menarikku ke pelukannya.

Masih ada banyak cahaya yang masuk melewati jendela dari laut biru Sound, dan untuk beberapa saat aku berdiri dengan lengannya memeluk pinggangku, tanganku di bahunya yang lebar, dan mabuk oleh penglihatan dari wajah indahnya.

"Kau sangat tampan," bisikku.

Dia menyeringai dan menunduk untuk mengendus leherku, perlahan memundurkanku ke ranjang. Terima kasih Tuhan, aku melakukannya pagi ini!

Aku mengharapkan dia mendorongku ke ranjang, tapi yang dia lakukan adalah mundur dariku, tidak menyentuhku sama sekali, dan mata terbakarnya melihat ke atas dan ke bawah tubuhku, akhirnya berhenti di mataku.

"Apa kau yakin dengan ini?" Apa?

"Apa kau ragu?"

"Sial, tidak, aku hanya ingin meyakinkan bahwa ini yang kau mau, baby. Jika kau mengatakan tidak, tidak apa-apa, tapi please, Ya Tuhan, jangan katakan tidak."

Oh wow. Dia memberikanku kontrol, dan aku tidak tahu apakah ini karena apa yang aku katakan di mobil atau dia hanya bersikap sopan, dan jujur, aku tidak peduli.

Ini pilihanku.

Dia adalah pilihanku.

Menatap matanya, dan aku mengatakannya dengan suara penuh keyakinan yang mengejutkan, "Sehun, kumohon buat kita telanjang dan bercintalah denganku."

Dia tersenyum, sangat lebar, senyuman yang menghentikan detak jantung dan melepaskan kaus melewati kepalanya.

Whoa!

Tubuhnya penuh dengan otot yang ramping dengan bahu yang lebar. Perutnya terpahat, dengan garis seksi yang turun ke pinggul dan kejantanannya. Lengannya berotot…dia hanya sangat…kuat.

Aku mengangkat tanganku untuk menyentuhnya, tapi dia menggeleng dan tetap tersenyum. "Jika kau menyentuhku, ini akan terjadi lebih cepat dari yang kita berdua inginkan."

Oh. "Kita punya waktu sepanjang malam."

"Dan kita akan mengambil keuntungan dari itu, baby, percaya padaku. Tapi yang pertama kali harus menjadi spesial."

Aku mulai melepaskan kausku dan dia menghentikanku.

"Aku akan suka melakukannya."

"Kalau begitu cepatlah!" aku mendengar rengekan di suaraku, tapi tidak dapat menghentikan itu, dan aku hanya bisa tertawa dengannya.

"Dengan senang hati," dia menanggalkan celana pendek beserta celana dalamnya dalam satu gerakan cepat, dan tiba-tiba aku mendapatkan pemandangan depan dari seorang Sehun dalam semua kemuliaannya.

Dia adalah Dewa Yunani. Tubuhnya sempurna.

Dan dia menginginkanku!

Dia berjalan ke arahku dan mengambil tepian kausku, melepaskannya melewati kepalaku. Dia menjalankan jari-jarinya di bawah tali bra ku dan bersandar untuk menggigiti leherku, di bawah cuping telingaku.

"Sehun," gumamku.

"Santai, baby." Tangannya mencapai punggungku, melepaskan bra ku dengan tangkas dan menurunkannya melewati lenganku. Dia bekerja dengan cepat pada celana dan celana dalamku, mendorong tangannya di antara kain dan pantatku, mencubitnya lalu perlahan meluncurkan mereka turun ke kaki ku.

Oh, tangannya sangat hebat!

Dia berdiri lagi, mengangkat tubuhku dan tiba-tiba aku terayun di lengannya. Aku mengalungkan lenganku di lehernya, dan dia mencium bibirku lembut ketika menurunkanku ke ranjang.

"Demi Tuhan, kau cantik, Luhanie," bisikannya menyumbat tenggorokanku, aku tidak bisa melakukan apapun selain menutup mata dan berpegangan pada selimut di bawahku.

"Mari kita temukan tato-tato itu."

Aku tersenyum ketika dia mencium dan menjilat payudaraku, lalu melenguh ketika dia menarik satu putingku dengan keras ke dalam mulutnya dan mengulum dengan lidah ahlinya.

Petir menyambar langsung di antara pahaku, dan pinggulku meliuk atas keinginan mereka sendiri. Aku mengerang namanya dan memilin rambut pirang lembutnya di jariku.

"Hush, baby," dia menyentuh payudaraku yang lain dan memelintir dengan ibu jarinya.

"Oh, Tuhan!"

Respon tubuhku padanya sangat luar biasa.

Aku merasakan dia tersenyum di kulitku, dan dia bergerak turun, tiba-tiba menggulingkan ku ke kanan. "Apa yang kita punya di sini?"

"Mungkin tato yang lain?" suaraku pecah ketika dia membelai pinggul kiriku yang kemudian beralih ke bahuku.

"Tulisan apa ini, baby?"

Itu adalah tulisan, seperti semua tato ku, yang berada di tulang rusukku, tapi aku terlalu sibuk untuk mengingat, untuk bernafas dan untuk berkata.

"Luhan, apa arti tulisan ini?" dia menciumi tiap tulisan itu dengan lembut, lengannya memeluk pinggulku, bertumpu pada sikunya.

"Itu artinya, 'Berbahagialah untuk saat ini'."

Aku mengerang, lalu melanjutkan. "'Saat ini adalah hidupmu'."

"Dalam bahasa apa?" jari-jarinya menyapu tulisan itu sekarang. Oh wow.

"Sansekerta."

"Mmmm...Berpindah ke perutmu."

Aku menurutinya dan mengerang ketika dia mencium bahuku, turun ke tulang punggungku dan mulai ke bawah, ke bawah, ke bawah.

"Ya Tuhan, mulutmu terasa sangat baik," erangku dan aku merasakan dia tersenyum di atas kulit sensitif ku.

"Dan ini?" dia menggigiti kulit di antara bahu dan tulang belikatku.

"Bahasa Yunani."

"Apa artinya, cantik?" Oh, Tuhan, tangannya berada di mana-mana, kulitku seperti terbakar, dan dia ingin aku berbicara?

"Mencintai dengan sangat."

"Kau sangat seksi, Luhanie."

"Kau membuatku merasa sangat seksi, Sehun."

Dia menggigiti alur ke punggung bawahku.

"Tidak ada tato di belakang?" aku mendengar senyumnya.

"Sial, tidak." Responku.

Mulutnya terbuka, ciuman basah di pantat kiriku, lalu sebelah kanan, dan kemudian aku mendengar nafasnya tertahan.

"Ya Tuhan, baby."

Dia menggigiti paha atasku, tepat di bawah pantat kananku dan aku hampir datang di ranjang.

"Tenang. Yang ini apa?"

Aku tersenyum. "Sebuah tato."

"Oh, kau gadis pintar." Dia menampar pantatku, keras dan aku melenguh.

"Ah!" aku melihat nya dan terkejut, mataku melebar dan dia menyeringai.

"Apa artinya?" dia menaikkan alisnya, menantangku untuk menjawab, dan aku menelan ludah.

Brengsek, tidak ada seorang pun yang pernah menamparku sebelumnya. Ini sangat…seksi.

"Kebahagiaan adalah sebuah perjalanan," bisikku. "Bahasa Perancis."

Dia mengerang dan menciumnya dengan lembut. Aku berbaring, telentang di ranjang dan menikmati gigitan dan ciuman Sehun meninggalkan tubuh bagian atas dan turun ke kakiku. Dia berhenti dan memberikan lekukan di kaki kananku ekstra perhatian spesial lagi, membuatku menyeringai dan ingin menutup kakiku dalam waktu yang bersamaan.

Tiba-tiba dia membalikkan tubuhku dan dia meraih kaki kiri ku, menekuk lututku, dan mencium pergelangan kakiku, perlahan naik ke atas. Sangat mengherankan, dia seperti menyembah kulitku.

Matanya memicing ketika dia menangkap pemandangan pusarku yang tertindik, tapi kemudian matanya menjadi gelap ketika dia melihat rambut kewanitaanku yang baru saja dicukur.

"Oh, sayang, apa ini?"

Aku mulai merespon dengan jawaban cerdas tato ku, tapi itu tertahan di tenggorokanku ketika dia membungkukkan kepala pirang seksi itu dan menghujani satu kata di rambut kewanitaanku dengan ciuman ringan.

"Itu artinya, 'Ampunan' dalam bahasa Italia."

Dia memberikan satu ciuman basah lalu merangkak naik, menciumi hati berwarna perak di perutku, naik ke tulang dadaku, sampai dia bertumpu pada sikunya di sisi kepalaku dan dia merapikan rambutku. Mata hitam kecoklatannya bersinar dengan kebutuhan, mulutnya terbuka, dan aku belum pernah merasa begitu menginginkan, sangat membutuhkan seseorang dalam hidupku.

"Apakah kau punya ide bagaimana menakjubkannya dirimu?" dia menggosokkan hidungnya di hidungku dan menjilat pinggiran bibirku dengan lembut.

Nafasku terengah-engah. "Tidak semenakjubkan dirimu yang membuatku merasa seperti itu."

"Oh, Tuhanku, baby, aku menginginkanmu." Aku merasakan ereksinya dan aku memiringkan pinggulku mengundang.

"Ya." Aku menggigiti bibir bawahnya.

Dia meraih ke bawah di antara kami dan dengan lembut meletakkan jarinya di klitorisku.

Tubuhku melengkung dan terkejut ketika aku merasakannya sampai ke jari-jariku.

Mulut laparnya berada di tubuhku sekarang, menciumku dengan keras dan dalam, dan tiba-tiba aku merasakan jarinya menyelinap masuk ke bibir kewanitaanku dan dia menggeram di bibirku.

"Sialan, kau sangat basah."

"Aku sangat menginginkanmu."

Dia memasukkan jarinya masuk dan keluar kewanitaanku, lalu dia menambahkan lagi jari-jarinya dan kupikir aku akan mati karena sensasi di sekitar tubuhku.

Aku mencengkeram pantatnya dan mengangkat tulang pinggulku. "Sekarang."

"Tunggu."

Apa? Tunggu?!

Tiba-tiba dia berpindah ke sisi ranjang untuk meraih celana pendeknya dan menarik sebuah bungkusan foil keluar dari saku belakangnya. Aku tersenyum ketika dia menyobeknya, matanya mengunciku dan dia menggulungnya di atas kejantanannya.

Dia menindihku, bersiap di depanku. Jariku menyusuri tulang belakang menuju rambutnya, dan menaikan kakiku, memiringkan tulang pinggulku. Dia menggosokkan hidungnya padaku dan dengan perlahan, oh amat sangat perlahan, masuk ke dalam tubuhku.

"Oh my," aku terengah, ketika dia menutup matanya rapat dan menempelkan dahinya di dahiku.

"Luhan," dia berbisik terbata-bata.

Dia mendorong ke dalam, sepenuhnya dan berhenti. Ketika aku mulai menggerakkan pinggulku, dia menghentikanku, memicingkan matanya.

"Tunggu."

Aku hanya ingin bergerak, aku ingin dia bergerak keluar masuk tubuhku, membuatku meledak di sekelilingnya, dan dia terlihat sangat tenang.

Aku menekan otot kewanitaanku, hanya sekali, dan ini dia.

"Sial," bisiknya dan dia mulai bergerak keluar masuk, menambah kecepatan. Aku menggerakkan pinggulku dan kami membangun irama yang indah. Bibirnya menciumku lagi, tubuhnya meluncur dan melilitku, dan tangannya menangkup kepalaku, memilin rambutku.

Jari ku meluncur di punggungnya dan dia menarik tangannya turun ke payudaraku, lalu ke pinggulku, dan akhirnya mengaitkan lututku di lengannya, membuka diriku lebih lebar, dan aku merasakan diriku menjadi lebih kencang, membuat bulu kudukku berdiri, dan aku membenamkan wajahku di lehernya.

"Ya, baby, keluarkan."

Dan aku melakukannya, mengejang di sekelilingnya.

"Oh, Sehun!"

Tiba-tiba aku merasakan dia menegang dan mendorong ke dalam tubuhku dua kali, dan dia mengeluarkannya di dalam.

"Luhan!"

ooOoo

Nafasku yang terengah mulai mereda dan penglihatanku mulai menjadi jelas, dan aku memeluk Sehun di dada. Jariku meluncur di rambut pirangnya yang lembut, dan melihatnya bernafas.

"Maaf, aku berat. Aku akan bergerak satu jam lagi." Dia tidak bergerak, hanya tersenyum.

Menarik rambutnya lalu menunduk dan mencium dahinya.

"Kau hebat," bisikku dan meneruskan memilin rambutnya.

"Hanya hebat?" dahinya berkerut main-main dan menarik keluar dari tubuhku, memutuskan koneksi kami. Dia melepaskan kondomnya, dan berbaring di sampingku, menarikku ke pelukannya.

"Okay, kau lebih dari hebat."

"Bagaimana denganmu?" dia bertanya, serius.

"Aku…," aku mencari kata-kata. "Luar biasa."

"Ya, kau luar biasa." Dia menciumku lembut. "Jadi mengapa dalam bahasa yang berbeda?"

Aku mengangkat bahu dan memalingkan wajah, tapi dia menarik daguku kembali.

"Aku hanya tidak ingin orang lain tahu artinya kecuali aku yang memberitahukan."

"Siapa orang yang beruntung itu, Miss Xi?" dia menaikkan alisnya.

"Kau," bisiku.

"Dan?"

"Kau."

Dia terkejut. "Benarkah?"

"Ya."

Punggung tangannya membelai pipiku, lalu ibu jarinya membelai bibir bawahku dan aku menggigitnya.

"Oh, kau ingin bermain kasar?"

"Mungkin nanti."

"Apa yang ingin kau lakukan, baby?" Oh, dia sangat manis.

"Kupikir aku harus mandi." Aku menyeringai kepadanya dan bangkit, menggoncang ranjang dan berbalik menatapnya.

"Aku suka pantatmu, Luhanie."

Aku tertawa, berbalik dan terkekeh, lalu berjalan ke kamar mandi.

"Sebaiknya kau bergabung bersamaku sebelum aku memakai semua air panasnya!"

ooOoo

Siapa perempuan ini, dan apa yang telah dia lakukan padaku?

Aku tidak percaya bagaimana aku merasa tenang dengan Sehun, apalagi telanjang. Aku belum pernah, walaupun hanya berjalan telanjang seperti itu bukanlah hal besar. Klienku melakukan ini sepanjang waktu, dan aku mengagumi kepercayaan diri mereka, tapi tidak denganku.

Sampai hari ini.

Sampai dengannya.

"Aku suka pantatmu, Luhanie." kata-kata yang dia ucapkan sebelum dia tergesa turun dari ranjang untuk bergabung denganku di kamar mandi membuatku tersenyum. Dia menyukai pantat penuhku, tato ku, lekuk tubuhku.

Kelihatannya dia paling suka dengan lekuk tubuhku.

Aku meliriknya di kamar mandi dan tersenyum. Oh, dia tampan. Dia menggosok rambutnya, dan aku menuangkan sabun cair di tanganku dan mulai membasuh punggungnya.

"Mmm…," dia mengerang dan menyandarkan kepalanya bawah shower untuk membilas rambutnya.

"Seberapa sering kau berolahraga?" tanyaku.

"Hampir setiap hari," jawabnya dan berbalik, menuangkan sabun wangi ke telapak tangannya. "Berbaliklah."

"Bagaimana denganmu?" dia bertanya ketika mulai memijat bahuku.

"Pertanyaan apa itu?" gumamku.

Aku mendengarnya terkekeh. "Seberapa sering kau berolahraga?"

"Aku melakukan yoga tiga atau empat kali seminggu ketika jadwalku memungkinkan. Pekerjaanku membutuhkan fisik yang bagus." Aku mengangkat bahu.

"Itu berguna untukmu." Suaranya terdengar tulus dan aku melirik ke belakang dan tersenyum.

"Berguna untukmu juga."

Dia memutar-mutar tangannya di punggungku dan turun ke bawah, lalu melangkah memutariku sehingga punggungku berada dalam guyuran air dan dia mulai memijat tubuh bagian depanku.

"Kau punya tangan yang hebat," bisikku dan menjepitkan diriku di pinggulnya.

"Kau punya kulit yang bagus," responnya.

Tangannya menyentuh payudara dan putingku, kemudian turun ke bawah.

Dia memudahkan satu tangan menuruni perutku dan menyentuh klitorisku dengan satu jarinya. Dia memundurkanku menyentuh dinding dan menarik cuping telingaku di antara giginya.

"Ah!"

"Aku ingin bercinta denganmu di sini, baby, tapi tidak ada kondom di sini." Aku merasakan seringaiannya dan aku melihat ke atas, ke mata hitam kecoklatannya.

Sebelum dia dapat menyelinapkan jarinya masuk ke dalam ku, aku memegang tangannya dan membawanya ke bibirku, menarik jarinya dengan mulutku, dan menghisapnya keras. Pupil matanya membesar dan dia menggigit bibirnya.

"Aku punya ide yang lebih baik."

Tanganku membelai dadanya, turun ke perut dan pinggulnya.

Aku berlutut dan berada sejajar dengan kejantanannya yang sangat keras dan hebat. Tanganku membungkusnya, menggerakkannya ke atas dan ke bawah, aku mendongak melihat matanya.

"Sial, baby." Dia menutup matanya, menyandarkan kedua tangannya di dinding, dan melihat kenikmatan di wajahnya membuatku terperdaya.

Aku bersandar dan menjilat tepian kepalanya, lalu memasukkannya ke dalam mulutku dan menghisapnya keras.

"Sial!"

Oh, yes!

Aku mendorong dan menariknya keluar masuk mulutku, gigiku berada di belakang bibir. Aku menghisap dan menjilat, memutar ujungnya ketika aku menariknya. Dia mulai menggoyangkan pinggulnya dan aku menghisapnya semakin dalam, merasakan ujungnya berada di tenggorokanku.

"Oh sial, Luhanie. Hentikan baby, aku akan keluar."

Tapi aku tidak ingin berhenti. Aku terus menyiksanya, membuatnya menjadi gila. Dia memegang ikatan di atas kepalaku dan mengerang ketika dia datang, dan aku menelannya dengan cepat.

Aku menyeringai melihatnya terengah-engah, dahinya bersandar di ubin. Ketika dia sudah menormalkan nafasnya, dia melihat ku ke bawah dengan mata hitam kecoklatannya, dan menarikku, menciumku lama dan keras.

Oh my.

"Ayo, keluar dari air."

Dia keluar, mematikan shower dan memberikanku handuk yang lembut.

"Apakah kau lapar?" tanyaku.

"Kelaparan." Dia menyeringai kejam dan aku tertawa, membungkus tubuhku dengan handuk ketika aku berjalan ke kamar tidur. Aku mengamati kaus abu-abunya di lantai dan meraihnya. Aku menjatuhkan handuk dan menarik kaus itu masuk lewat kepalaku.

Mmmm… baunya seperti dia.

Tidak perlu memakai celana dalam. Aku terkekeh pada keberanianku dan berputar menemukan Sehun berdiri di ambang pintu, handuk mengelilingi pinggulnya dan matanya menatapku.

"Itu beberapa pertunjukan, Luhanie."

"Senang kau menyukainya," balasku dengan senyuman. "Ayo, kita akan menemukan sesuatu untuk dimakan di dapur."

Aku menunggunya menggunakan celana pendeknya – tanpa celana dalam! – dan kami turun ke lantai bawah. Sehun duduk di kursi bar dan melihatku di dapur.

"Aku tidak tahu apa yang kita punya." Kataku malu-malu. "Ini adalah wilayah Baekhyun. Hmm… Caesar salad?"

Aku memegang mangkuk keluar dari lemari pendingin dan dia mengangguk. Aku menyiapkan untuk kami berdua, kemudian duduk di sampingnya.

"Jadi kau sama sekali tidak memasak?" tanyanya.

Aku meringis. "Aku bisa, aku hanya memilih untuk tidak melakukannya. Baekhyun selalu bersamaku, dan dia suka memasak, jadi itu berjalan untuk kami berdua."

Ketika menyebutkan namanya, aku mendengar pintu depan terbuka. "Luhanie?" panggilnya.

"Aku di dapur," panggilku kembali.

"Kau bersama temanmu?"

"Ya."

"Okay, pergi tidur. Sampai jumpa besok." Aku mendengar suara sepatunya di tangga.

Sehun menaikkan sebelah alisnya dan melihatku. Aku mengangkat bahu.

"Mungkin dia mengalami hari yang buruk."

"Mungkin," aku menjawab dan mengernyit, tapi kemudian mengangkat bahu. Aku akan menanyakan itu padanya besok. Aku pikir dia pasti akan penasaran untuk mengintip Sehun, tapi melihat kami berdua setengah telanjang, aku merasa lega. Aku sangat tidak ingin orang lain melihat Sehun tanpa pakaiannya.

Aku membersihkan sedikit kotoran dan menaruhnya di pencuci piring, lalu kembali dan menyandarkan siku ku di meja konter.

"Apakah kau akan tinggal denganku malam ini?" tanyaku.

Mata Sehun melebar dan dia tersenyum. Dia tidak mengatakan apapun, dia hanya berdiri dan berjalan ke bar ke arahku.

Tanpa menyentuhku dia menunduk dan dengan lembut menyentuhkan bibirnya di bibirku.

Astaga, dimana aku menemukan pria ini?

Aku akan senang tinggal di sini malam ini," bisiknya di bibirku. Oh, itu adalah bisikan seksi yang dia lakukan dengan baik.

"Okay, bagus," bisikku kembali.

Tiba-tiba dia berbalik memunggungi ku dan berkata, "Naiklah."

"Apa?"

"Naik ke punggungku, kita ke atas." Dia memposisikan lengannya di belakang seperti dia ingin menangkapku dan aku tertawa ketika melompat ke punggungnya, melingkarkan lenganku di lehernya dan kaki ku terkait di pinggulnya.

Aku menunduk dan menarik telinganya di antara gigiku dan dia mulai naik ke atas, tanpa kesulitan menaikinya dan kami berdua tertawa seperti orang gila ketika dia berhenti di samping ranjang dan membuka seprainya.

Aku memekik ketika dia tanpa peringatan menjatuhkan ku di ranjang.

"Kau tahu," dia berkata, wajahnya berubah serius, ketika dia berbaring di sampingku.

"Apa?" tanyaku, sarkastik.

Ujung jarinya menyentuh kerah kausnya. "Kau tidak pernah bertanya padaku jika kau meminjam kausku."

"Apakah tidak?" aku melebarkan mataku dan menggigit bibir.

Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, kau tidak bertanya. Sangat tidak sopan."

"Maafkan aku. Bagaimana aku bisa melakukannya padamu?" aku mencoba untuk terlihat menyesal.

"Aku tak tahu. Aku sangat tersinggung."

Dia masih terlihat sangat serius dan aku sudah sangat ingin tertawa terbahak-bahak, tapi aku masih sangat menikmati permainan kami.

"Bisakah aku membelikanmu yang baru?" tanyaku.

"Well, aku sangat sangat suka yang satu itu."

"Oh," aku menggigit bibirku lagi dan mendorongnya ke belakang. "Bisakah aku mengambil gambarnya dan memberikan padamu?"

Aku melonggarkan celana pendeknya dan dia menaikkan pinggulnya sehingga aku bisa menariknya turun ke kakinya, ereksinya terbebas. Aku mengambil sebuah kondom dari dalam saku dan menyobeknya.

"Tidak," bisiknya, "Itu tidak sama."

"Hmm…" aku menggulung kondom di atas kejantanannya dan mengangkangi pinggulnya. Aku menatapnya, menyipitkan mataku seperti aku sedang berpikir sangat keras mencoba untuk menyelesaikan masalah ini.

"Well," aku menyilangkan tanganku dan memegang pinggiran kaus abu-abu lembutnya, menariknya ke atas kepala. "Aku kira lebih baik aku mengembalikannya."

Aku menyerahkan kaus itu padanya tapi dia melemparkannya ke lantai. Dia duduk sehingga wajah kami sejajar. Dia memegang pantatku dan mengangkat ku di atas kejantanannya dan aku meluncur turun ke atas dirinya.

"Sial, baby, kau sudah sangat basah."

"Permainan kecil tadi membuatku terangsang."

Dia menggeram dan menciumiku, membimbingku naik dan turun dengan tangannya di belakangku.

Aku meletakkan tanganku di bahunya dan mendorongnya, dia berbaring di ranjang. Aku menunduk dan menciumnya dengan lembut, pinggulku tetap bergerak, tangannya berada di pantatku.

Lalu aku duduk tegak, dan mulai benar-benar bergerak, merasakan bagaimana dalam rasanya, menegang di sekelilingnya. Tangannya menyusuri perutku untuk menangkup payudaraku dan menggoda putingku dengan ibu jarinya.

"Ah!" aku mendongakkan kepalaku dan menggeseknya lebih keras, lebih cepat, merasa tubuhku mengetat dan aku sudah hampir sampai.

"Datang untukku baby," tangannya mencengkeram pinggulku, mendorongku turun ke tubuhnya lebih keras dan lebih keras, dan aku meledak di sekelilingnya.

Sebelum aku mempunyai kesempatan untuk turun ke bumi, Sehun kembali bergerak dari bawah, mendorong untuk menelungkup.

Dia bersandar di punggungku, bulu dadanya menggelitik tulang bahuku. Dia mencium leher belakangku dan tato ku. Dia memisahkan kedua kaki ku dengan satu tangannya kemudian dia masuk ke dalamku lagi.

"Oh, Tuhan!"

"Oh, baby kau terasa sangat nikmat." Dia menumpukan tubuhnya di kepalan tangannya di sampingku dan mendorong ke dalam ku lagi dan lagi, memukul titik nikmat di depan kewanitaanku, mengirimkan percikan api kenikmatan ke dalam diriku. Aku merasa diriku di dorong ke tepian lagi dan aku meneriakkan nama Sehun ketika aku datang, orgasme mencengkeram tubuhku dan meremas ku sampai kering.

Dia meneriakkan namaku ketika dia menemukan kenikmatannya sendiri dan ambruk di atasku.

"Wow." Aku menggumam di bantal dan aku merasakan senyumannya di punggungku.

"Apa itu tadi?"

"Wow." Kataku lagi, tidak menggerakkan kepalaku.

Dia menggigit bahuku dan aku memekik kecil, mendorongnya turun dari tubuhku. Dia tertawa geli ketika melepas kondomnya dan membungkus tubuh kami dengan selimut. Menarikku ke lengannya, dadanya di punggungku.

"Maafkan aku, Miss. Aku tidak mendengarmu."

"Aku berkata, 'itu tadi biasa saja'."

Dia tertawa terbahak-bahak dan memelukku erat.

"Apakah ini waktu yang salah jika aku memberitahukanmu bahwa aku memakai kontrasepsi?" aku berbalik di lengannya ketika aku mengatakan ini untuk melihat bagaimana reaksinya.

"Apa?" matanya memicing dan sekarang dia terlihat marah. Sial!

"Well, ya. Mengapa kau marah?" aku mundur beberapa inci untuk melihat wajahnya.

"Kupikir kau mengatakan kalau sudah hampir satu tahun sejak kau bersama dengan seseorang."

"Ya, memang begitu."

Dia mengangkat alisnya.

"Perempuan tidak memasang dan melepas kontrasepsi hanya karena mereka berada dalam hubungan fisik." Aku memutar mataku. "Itu akan sangat mengacaukan hormon kami."

"Oh." Dia mengernyit lagi lalu melihat tato ku.

"Aku selalu memeriksakan diriku setiap tahun. Dan aku sangat sehat." Aku tersenyum.

"Jadi, aku bisa mendapatkanmu di dalam shower?"

Aku tertawa dan mengangguk tapi kemudian berhenti dan melihatnya mengira-ngira. "Well…"

"Aku juga melakukan pemeriksaan secara teratur, tidak punya pasangan selama hampir sama denganmu, dan aku sehat."

"Kalau begitu, ya." Oh, aku sangat tidak ingin memikirkan dia bersama perempuan lain. Tidak, tidak, tidak.

"Well, sial, kupikir kita perlu mandi lagi."

Aku tertawa dan meringkuk di lengannya, mengistirahatkan kepalaku di dadanya.

"Besok, aku mengantuk."

"Mungkin kita akan saling menyembuhkan insomnia."

"Itu pantas untuk dicoba." Aku menguap lalu mencium dadanya.

"Tidurlah, baby."

ooOoo

.

TBC

.

ooOoo

.

.

.

Thanks for:

Kwon (novel barat emang maknanya dalem dan perlu mikir xD) - noe noe (meuupkeun aku summary-nya kurang menarik TAT tapi semoga kamu menyukai isinya) - Agassi 20 - ramyoon - Light-B - Juna Oh - keziaf - DEERHUN794 (fluffy kok^^) - luharawr 2x (lulu cocok jadi seksiih hahaha) - Rly. (makasih udah komen setiap chap :*) SonExofans (makasih^^) - HunhanBoo94 - .39 - Selenia Oh - Seravin509 - rara chapter (ceuni maknae HOT~ lebih hot daripada hyungnya~ #eh) - Arifahohse - DEERHUN794 - nisaramaidah28 - hun794

.

.

Jangan lupa tinggalkan jejak~

Saranghae~