Disc:
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
.
.
.
Minggu, 13 November 2016
.
.
.
DISTANCE
By Hikasya
.
.
.
Chapter 4. Pergi ke suatu tempat
.
.
.
Koneko terkejut sekali ketika menyadari dirinya berada di pelukan seseorang. Dibukanya matanya dengan cepat dan mendongak untuk menatap wajah yang berada di depan matanya.
"...!" Koneko membulatkan kedua matanya."U-Uzumaki-san...?!"
"Kamu takut petir ya?"
"Ah..."
"Aku akan memelukmu supaya kamu tidak takut lagi dengan petir. Jadi, jangan marah apalagi memukulku. Aku tulus ingin berteman denganmu."
Koneko menatap wajah Naruto yang begitu dekat dengan wajahnya. Naruto tersenyum manis sekali membuat kedua pipi Koneko merona merah.
DEG!
Terdengar satu detakan jantungnya yang begitu keras, Koneko merasakan rasa aneh mulai menyerang hatinya.
'Ada apa ini? Kenapa aku berdebar-debar saat sedekat ini dengan laki-laki ini? Rasa apa ini sebenarnya?' batin Koneko yang terpaku ketika menatap kedua mata Naruto yang biru. Menghipnotis dirinya sehingga dia tidak berniat kasar pada Naruto sekarang.
CTAAAAAAR!
Petir terus menyambar. Air pun turun dari langit untuk meramaikan suasana pagi ini dengan kegelapan yang sangat dingin.
CRRRRRSSSH!
Hujan badai datang beserta angin yang sangat kencang. Menghantam sekota Konoha dengan suaranya yang mencekam. Semua jenis tumbuhan kebasahan dan menari-nari karena ditimpa hujan yang membawa angin kencang.
Tidak ada seorang pun yang berani turun ke jalan ataupun keluar pada saat seperti ini.
Ketakutan akan petir, menjalari seluruh tubuh Koneko. Secara refleks, dia membalas pelukan Naruto dengan cara membelit pinggang Naruto.
Dia semakin mendekapkan dirinya pada Naruto. Naruto semakin membelit tubuhnya untuk memberikan rasa perlindungan padanya.
Mereka bertahan dalam posisi itu, sampai suara petir itu tidak terdengar lagi. Koneko pun sadar dan segera melepaskan rangkulannya dari pinggang Naruto. Begitu juga dengan Naruto.
"Te-Terima kasih... Karena kamu sudah memberiku tempat berlindung dari petir."
Koneko sedikit gugup saat mengatakannya pada Naruto.
"Ya, sama-sama," Naruto tersenyum lagi."Jika kamu takut petir lagi, datanglah padaku atau hubungi aku lewat ponsel. Aku pasti akan memelukmu seperti tadi. Asal kita jadi teman ya?"
SET!
Melihat tangan Naruto terulur padanya, Koneko terdiam. Tanpa pikir panjang lagi, dia menyambut uluran tangan Naruto dengan perasaan yang tidak terpaksa.
"Baiklah, aku akan menjadi temanmu. Tapi, jangan seenaknya memelukku seperti tadi. Kalau aku tidak ketakutan seperti tadi, sudah pasti aku akan memukulmu!"
Wajah Koneko menjadi sewot sembari melepaskan tangannya dari tangan Naruto. Lantas mengepalkan tangan kanannya dan diacungkannya tepat di depan wajah Naruto. Naruto sedikit kaget dibuatnya.
"Ah, tu-tunggu... Aku minta maaf soal itu. Habisnya aku tidak tega melihatmu menjerit ketakutan seperti itu. Makanya tidak ada jalan lain, selain memelukmu seperti itu. Kamu phobia petir, kan?"
"Iya. Aku phobia petir! Tapi, kamu tetap saja salah karena sudah memelukku tiba-tiba! Aku tidak akan memaafkanmu begitu saja!"
Kaki kanan Koneko terangkat ke atas untuk menendang Naruto.
DAP!
Dengan cepat, Naruto menangkap kaki Koneko dengan satu tangannya. Sedangkan satu tangannya lagi menarik tangan Koneko dan...
"KYAAAAAA!"
Lagi-lagi Koneko menjerit kencang di dalam kelas itu. Suaranya kalah kuat dari suara hujan yang terus turun dengan ganasnya.
Ia tertarik lagi dalam pelukan Naruto. Naruto memegangi kedua bahunya dengan erat. Naruto mengedipkan sebelah mata jahilnya pada Koneko.
"Kamu tidak akan berhasil lagi untuk memukulku. Aku ini jago karate juga dan memakai sabuk hitam sekarang. Jika aku mau, aku bisa membantingmu ke lantai jika kamu berniat untuk melawanku. Bagaimana, Toujou-san?"
Semburat merah tipis hinggap lagi di dua pipi Koneko. Apalagi wajahnya berdekatan lagi dengan wajah Naruto. Naruto tersenyum manis dengan wajah yang berseri-seri.
Dengan kasar, dia menepis dua tangan Naruto yang memegang bahunya itu. Lalu berkata.
"Huh... Aku mengerti. Aku tidak akan melawanmu."
"Itu artinya... Kamu memaafkanku, kan?"
"Hn."
"Apa aku boleh memanggilmu Koneko?"
Koneko menatap wajah Naruto dengan datar. Ia pun memalingkan wajahnya.
"Hn."
"Hn? Hanya itu saja jawabanmu?"
"Ya."
"Baiklah, aku akan memanggilmu Koneko sekarang. Oh ya, kamu juga harus memanggilku Naruto. Bukan Uzumaki-san lagi."
"Hn."
"Kenapa jawabanmu hn terus sih?"
"Hn. Itu sudah kebiasaanku."
"Begitu ya..."
Senyuman lebar terukir di wajah Naruto. Dia sangat senang karena Koneko sudah menjadi temannya sekarang.
Kemudian dia melihat ke arah lain. Melipat tangan dan disanggahkan di belakang lehernya. Menghelakan napas sebentar.
Gadis berambut putih itu memperhatikannya sangat lama. Penasaran, dia pun bertanya.
"Sebenarnya kamu itu siapa?"
Melirik ke arah Koneko, Naruto memiringkan kepalanya sedikit ke kiri.
"Maksudmu?"
"Ya... Ceritakan tentang diri kamu dan keluargamu. Hmmm... Pokoknya apa saja mengenaimu."
"Kenapa kamu bertanya begitu?"
"A-Aku... Hanya ingin tahu saja kok. Memangnya tidak boleh ya?"
"Ya, boleh saja sih..."
Melihat ke arah lain lagi, Naruto pun menceritakannya pada Koneko. Koneko mendengarkannya baik-baik.
"Aku hanya orang biasa-biasa saja kok. Pekerjaan orang tuaku adalah koki dan mengelola restoran mie ramen. Aku tinggal terpisah dari mereka."
"Tinggal terpisah?"
"Iya, aku tinggal sendirian di apartemen sekarang."
"Oh."
"Aku sudah menceritakan tentang diriku dan keluargaku. Jadi, giliran kamu yang bercerita tentangmu dan keluargamu, Koneko."
Pandangan Naruto beralih pada gadis bermata kucing itu. Koneko sedikit tersentak dan menganggukkan kepalanya pelan. Menundukkan kepalanya sedikit.
"Aku anak yatim piatu. Aku hanya punya satu saudara perempuan yaitu kakakku Kuroka. Sejak kecil, aku dan kakakku diasuh oleh keluarga Gremory. Keluarga Gremory-lah yang membiayai kebutuhan sehari-hari dan sekolah kami. Bahkan ketika kami sudah kuliah, keluarga Gremory yang juga memberikan sebuah mansion untuk tempat kami tinggal. Ya, kami sangat berterima kasih pada keluarga Gremory yang telah mengurus kami sejak kecil. Hidup kami akan kami abdikan hanya untuk keluarga Gremory. Kami siap mematuhi segala apa yang diperintahkan oleh keluarga Gremory..."
Saat menceritakannya, Koneko terus menundukkan kepalanya. Menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sebenarnya. Sehingga tidak dapat tertangkap oleh mata Naruto yang terus memandangnya dengan lama. Lalu ia terus melanjutkan perkataannya.
"Aku tidak pernah tahu siapa orang tuaku. Aku pernah mendengar kalau mereka dibunuh oleh seseorang saat aku berumur sembilan bulan. Aku dan kakakku diselamatkan oleh Tuan besar Gremory agar tidak dibunuh oleh orang yang dendam pada keluargaku. Aku tidak tahu siapa pembunuh orang tuaku itu. Hingga kini aku terus mencari tahu siapa sebenarnya pembunuh itu...," kedua tangan Koneko mengepal kuat."Jika aku berhasil menemukan siapa orangnya, aku berjanji dengan tangan ini, aku akan membalas dendam atas kematian orang tuaku. Aku... Akan membunuhnya dan mengirimnya ke neraka sana!"
DEG!
Jantung Naruto sedikit kaget mendengarnya. Seketika wajahnya menjadi serius. Kedua matanya menajam.
Dalam waktu yang sama, petir kembali menyambar. Kali ini sangat kuat dan memekakkan telinga.
CTAAAAAAAAR!
Kembali Koneko menjerit dan melompat karena kaget.
"KYAAAAAAAAA!"
Dia pun mencari perlindungan dengan cara merangkul pinggang Naruto. Naruto juga kaget dibuatnya.
GREP!
"Eh?"
"A-Ada petir lagi, Naruto... Aku mohon... Izinkan aku memelukmu lagi sampai suara petirnya hilang. A-Aku takut sekali..."
Dengan senyum yang hangat, Naruto pun membalas pelukan Koneko.
"Ya, peluk aku seerat-eratnya. Kita adalah teman. Jadi, jangan sungkan-sungkan lagi ya."
"Hn... Terima kasih, Naruto."
"Iya."
Sambil memeluk Koneko erat, Naruto terus tersenyum. Bahkan menutup kedua matanya dan merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Dia sudah mendapatkan teman di tempatnya berkuliah. Koneko dianggapnya sebagai teman spesial yang paling pertama di hatinya.
Untuk beberapa lama, mereka tetap berpelukan sampai suara petir hilang yang bersamaan hujan lebat berangsur-angsur reda.
.
.
.
Akhirnya hujan benar-benar reda. Matahari mulai menampakkan dirinya di balik awan-awan hitam yang berangsur-angsur akan hilang. Langit biru kelihatan dan menunjukkan keindahan cerahnya pagi hari ini.
Di kelas yang dihuni Naruto dan Koneko, mulai didatangi oleh orang-orang. Satu persatu mereka mengisi setiap bangku yang ada di kelas itu. Bahkan Naruto yang sudah duduk di bangkunya semula, dikerubungi oleh beberapa orang. Di antaranya adalah Issei dan Le Fay.
"Duh, aku kira aku benar-benar telat datang ke kampus. Habisnya hujan redanya pas jam 10, aku takut kena sembur kemarahan dari dosen Tsunade...," ucap Issei yang memegang rambutnya dengan tangan kanannya."Syukurlah jika dosen Tsunade tidak datang hari ini. Kita bisa bebas dari pelajarannya yang membosankan itu..."
Le Fay, Naruto dan beberapa teman lainnya tertawa kecil mendengar keluhan si Issei.
"Hahaha... Sepertinya kau senang, Issei."
"Tentu saja aku senang dong, Naruto."
"Bilang saja kamu itu pemalas, Issei."
Le Fay ikut berkomentar dan mendapatkan tanggapan sewot dari Issei.
"Fay, bukan begitu. Jangan anggap aku seperti itu dong. Bukannya aku pemalas, tapi aku cuma tidak mau saja mengikuti pelajaran Dosen Tsunade itu hari ini."
"Hehehe... Maaf. Aku cuma bercanda kok."
"Huh... Ya sudah, tidak apa-apa."
Le Fay tetap tertawa kecil. Naruto yang tersenyum. Beberapa teman lainnya tertawa geli.
"Oh iya... Karena dosen Tsunade tidak datang hari ini, bagaimana kalau kita pulang saja? Tidak ada jadwal kuliah lagi sekarang. Bagaimana?"
Naruto bertanya pada semua teman yang mengerubunginya.
"Ya, sepertinya kita pulang saja, Naruto," Le Fay yang menjawab.
"Benar," Issei mengangguk penuh semangat."Bagaimana kalau kau ikut dengan kami, Naruto? Daripada kau pulang sekarang, lebih baik kau pergi berkumpul bersama kami."
"Memangnya kalian mau kemana?"
"Kami akan pergi ke markas kelompok kami ini."
Le Fay yang mengatakannya disertai anggukan teman-teman yang lainnya.
Mendengar itu, Naruto terdiam sebentar dan lantas membalas perkataan Le Fay itu.
"Boleh saja. Aku mau ikut dengan kalian sekarang."
"Bagus, ayo kita pergi sekarang!"
Dengan penuh keceriaan, Le Fay tertawa lebar. Disambut dengan balasan teman-temannya.
"Ayo!"
Mereka sangat ribut sekali. Menarik perhatian orang-orang yang masih ada di kelas itu. Lalu satu persatu dari mereka pergi dari kelas. Meninggalkan Naruto yang masih berdiri di dekat bangkunya.
Naruto memperhatikan Koneko yang akan berkemas. Lalu dia berjalan cepat untuk menghampiri Koneko.
"Koneko..."
Melihat ke arah Naruto, Koneko yang masih duduk di bangkunya, memasang wajah datar.
"Ada apa?"
"Kamu mau ikut denganku?"
"Kemana?"
"Aku akan pergi bersama kelompok Issei sekarang."
"Tidak."
"Eh? Kenapa kamu bilang tidak?"
"Aku tidak suka dengan mereka. Kamu juga... Sebaiknya jangan terlalu dekat dengan mereka. Mereka itu adalah kelompok yang jahat dan suka menghabisi nyawa orang."
Naruto terkejut dengan kalimat akhir yang diutarakan oleh Koneko. Bersamaan Naruto dipanggil oleh seseorang.
"Naruto!"
Secara serempak, Naruto dan Koneko menoleh ke arah asal suara. Tampak Le Fay yang berdiri di dekat pintu kelas yang terbuka lebar.
"Le Fay..."
"Naruto, apa yang kamu lakukan? Ayo, cepat kita pergi!"
"Ah, iya. Baiklah!"
Naruto mengangguk cepat dan menatap lagi pada Koneko.
"Aku pergi ya, Koneko."
"Hn. Hati-hati ya. Ingat apa yang kukatakan padamu tadi."
"Ya, aku ingat kok. Terima kasih."
Naruto tersenyum sembari melambaikan tangan kanannya pada Koneko. Koneko hanya mengangguk dan menatap kepergian Naruto dengan perasaan yang tidak menentu. Pada saat Naruto sudah keluar, Le Fay menyempatkan dirinya untuk memandang ke arah Koneko. Dia menatap Koneko dengan sinis.
KIIITS!
Begitu juga dengan Koneko. Koneko juga menatap sinis ke arah Le Fay. Tatapan mereka sangat tajam. Sepertinya ada aliran permusuhan yang kuat di antara mereka.
Setelah itu, Le Fay memalingkan mukanya, berbalik dan bergegas keluar kelas Menyusul Naruto yang sudah berjalan mendahuluinya. Meninggalkan Koneko yang terpaku di tempat.
"..."
Terdiam karena memikirkan sesuatu. Menyandang tasnya di punggung, Koneko bangkit berdiri dari duduknya dan segera berjalan santai untuk pergi meninggalkan kelas. Dia juga berniat ke suatu tempat untuk melakukan sesuatu.
.
.
.
Sesampainya di sebuah gedung yang tidak terpakai. Dindingnya retak-retak, kotor dan berdebu. Banyak ilalang setinggi pinggang orang dewasa dan tanaman merambat mengelilingi bangunan gedung usang itu. Letaknya berada di pinggiran kota Konoha. Tempat pusatnya perkumpulan kelompok Issei.
Begitu tiba di sini untuk pertama kalinya, Naruto diajak dan dipersilahkan duduk di sebuah sofa cantik yang berada di ruang lantai satu. Gedung itu berlantai lima belas. Terdapat perabotan lengkap seperti sofa, meja, televisi, lemari pakaian, lemari es dan lain-lain. Listrik pun juga masuk di sini, itupun diambil secara ilegal. Suasananya cukup tenang dan nyaman untuk dijadikan tempat tinggal.
Sambil duduk di atas sofa yang empuk, Naruto memegang kaleng minuman soda dingin yang diberikan Issei padanya. Lalu Issei duduk di sampingnya.
"Di sinilah markas kami. Tempat perkumpulan kami setelah sepulang kuliah. Kami selalu menghabiskan waktu kami di sini..."
Issei berkata sambil meneguk sedikit minuman kaleng soda dinginnya. Naruto menatapnya dengan pandangan serius.
Di ruang yang bisa dikatakan adalah ruang tamu, hanya terlihat Issei dan Naruto saja yang ada di sana. Sementara Le Fay dan teman-teman lainnya berada di ruangan lain, entah sedang melakukan apa.
Lalu Issei terus berbicara. Naruto diam dan terus mendengarkannya.
"Di sinilah tempat kami bebas. Tanpa ada orang tua yang menyuruh kami untuk belajar dengan giat dan menyuruh kami melakukan ini-itu. Haaaah... Kau tahu... Itu sangat merepotkan. Kami seperti dikekang dalam penjara. Membuat otak kami buntu. Ya, karena itu kami tidak betah tinggal di rumah dan memilih tinggal di sini bersama-sama..."
Di sela-sela Issei berbicara, pada akhirnya Naruto menyela dan bertanya.
"Apa Le Fay juga tinggal di sini?"
"Iya. Dia tidak mau tinggal bersama orang tuanya. Dia lebih memilih hidup mandiri dan melakukan sebuah pekerjaan sampingan untuk membiayai kebutuhan sehari-harinya."
"Oh, pekerjaan sampingan apa?"
"Hmmm... Menjadi kasir di salah satu minimarket."
"Itu bagus sekali."
"Iya. Dia bekerja saat sore harinya, baru pulang pas malam harinya."
"Terus kau? Apa pekerjaan sampinganmu? Aku dengar kau punya pekerjaan sampingan, kan?"
Disodorkan pertanyaan itu, Issei cukup terkejut. Kedua matanya sedikit membulat dan...
KLAK!
"Hei, aku sudah selesai memasak! Ayo, kita makan siang sama-sama, Naruto, Issei!"
Tiba-tiba, pintu di ruangan itu terbuka dengan keras, Le Fay muncul di baliknya. Membuat Naruto dan Issei terkejut serta menoleh ke arah Le Fay.
Issei tersenyum dan segera bangkit berdiri dari duduknya. Kemudian berkata.
"Makanan sudah siap. Kita makan dulu yuk, Naruto."
Mengalihkan perhatian, Issei menatap ke arah Naruto yang bengong. Naruto menganggukkan kepalanya pelan.
"Ah, iya."
Sekali lagi Le Fay bersorak keras sambil berdiri di dekat pintu yang terbuka.
"Ayo, cepetan! Teman-teman sudah menunggu, tahu!"
"Iya... Iya... Kamu cerewet sekali, Fay!"
"Hehehe..."
Le Fay tertawa malu. Issei berwajah sewot. Naruto tersenyum simpul melihat mereka.
Lantas Naruto juga bertolak dari sofa, dia mengikuti Issei yang berjalan duluan di depannya. Kedua matanya menyipit tajam karena mulai mendapatkan petunjuk yang akan mengarahkannya pada The Black Girl itu.
Cepat atau lambat, The Black Girl itu pasti akan ditangkap olehnya.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
CHAPTER 4 UP!
Sekian dan terima kasih.
Senin, 14 November 2016
