The Survival (part 3)
A Fate Stay Night Fanfic
" Senpai," kata Sakura lagi. Dia bener-bener ketakutan ngelihat perang kagak jelas ini. " Jangan kayak gini lagi. Mau cobain pancake maduku nggak? (lha, kok jadi promosi sih?) Kalau mau jangan kayak gini lagi."
" Bodoh! Kamu kan sudah janji nggak kabur dulu sebelum perawatanmu selesai, tapi mengapa sekarang kamu melakukan tindakan bodoh? Membunuh saudara sendiri? Itu benar-benar tindakan terbodoh abad ini!" kata gadis yang tadi memanggil Tori tadi. Dia memakai sebuah kemeja feminin dengan warna broken white yang sangat lucu. Sementara bawahannya adalah rok jeans yang casual, membuatnya tampil cantik.
Lalu orang yang memanggil Tori itu berjalan ke arah Shiro.
" Kamu adiknya Tori ya? Tori cerita banyak tentang kamu sama aku. Oh ya, kenalkan, aku Yuu Kahuza."
" Err.. aku Shiro Emiya," kata Shiro memperkenalkan diri, gugup. Mengapa sih, dalam waktu beberapa menit saja segalanya bisa berubah?
" Aku sudah tahu. Oh ya, aku psiater yang menangani kakakmu. Kakakmu menderita skizorfenia," kata Yuu ramah. Dia lalu menarik nafasnya sebentar dan berkata, " Shiro, bisakah kamu memberinya motivasi untuk sembuh? Kurasa jika dari aku saja tidak akan cukup. Aku tahu bahwa ia ingin membunuhmu, tapi kamu harus tahu bahwa sebenarnya itu bukan keinginannya."
" Oh gitu… Lalu apa yang bisa kulakukan?" tanya Shiro pada Yuu.
" Kurasa.. saat ini kau bisa memberinya dukungan moril. Dia tidak memiliki siapa-siapa selama ini, " kata Yuu dengan nada yang bersahabat.
" Oh ya, apa kau bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan kakakku?" tanya Shiro kebingungan.
" Baiklah. Kita bicarakan ini di rumahmu saja."
~ - ~
" Dia tampak sendirian begitu ayahku menemukannya. Selain itu, ayahku menyadari ketidakberesan di dalam dirinya. Makanya ia dimasukkan ke rumah sakit jiwanya ayahku. Tepatnya sih di rumah kami yang berada di sebelah rumah sakit jiwanya ayahku."
" Lalu mengapa kakakku terkena penyakit skizorfenia ?" tanya Shiro. Sejujurnya beberapa jam ini bibir Shiro masih kelu mengucapkan kata-kata kakak. Rasanya aneh saja.
" Ya. Aku juga nggak tahu pasti kenapa dia jadi gitu .. tapi yang aku tahu, dia itu terlantar setelah kebakaran. Dan suatu hari ia melihatmu sudah memiliki ayah baru , jadi ia merasa begitu marah. Kurasa itulah alasan mengapa dia menjadi seperti ini," kata Yuu mencoba menjelaskan ulang, "Tapi ini semua bukan salahmu kok."
" Oh ya, terimakasih selama ini telah menemaninya," kata Shiro, lalu ia tiba-tiba dihajar keras dari belakang. Saat Shiro melihat ke belakang … ternyata Fuji-nee menghajarnya dengan sangat keras.
" SHIRO!! Kamu bikin orang panik saja!!" kata Fuji-nee kesal.
" Maaf deh," kata Shiro agak terpaksa.
" Heh.. memangnya dipikir semuanya bisa diselesaikan dengan maaf?"
" Daripada diselesaikan dengan makanan, coba!"
Dan.. kata-kata terakhir Shiro (yang sangat tidak seperti dirinya, penulis tahu itu) sukses membuat Fuji-nee kembali menghajar Shiro. Sementara Yuu hanya bisa melihat pertengkaran ini dengan menahan tawa dan tangis (memangnya bisa?)
~ - ~
"Jadi untuk saat ini dia kembali ke tempatnya Yuu dulu ya sampai dia sembuh?" tanya Rin saat mereka (Shiro dan Rin) makan di balkon.
"Ya," kata Shiro dengan nada yang datar.
"Tapi aku nggak nyangka kalau kamu punya kakak. Gimana kakakmu? Ganteng nggak?" serbu Rin dengna pertanyaannya yang gak jelas itu.
" Seleramu tinggi,Rin, jadi aku tak bisa menilainya jika dari sudut pandangmu," kata Shiro, membuat gadis ini malah makin jumawa.
"Tentu saja seleraku tinggi. Aku kan penerus keluarga Tohsaka, jadi aku harus mencari suami yang hebat," kata Rin dengan nada yang (sok) kebangsawanan.
" Oke deh, serius," kata Rin , " Jadi kapan kira-kira kakakmu bakal 'sembuh'?"
" Tak tahulah. Tapi aku akan menunggunya sampai sembuh, selama apapun itu," kata Shiro dengan nada yang yakin.
" Dan begitu juga dengan Saber?" ledek Rin
" Itu berbeda, Rin," wajah Shiro blushing berat saat Rin membahas tentang 'gadis' itu. Saber.
" Haha.. cuma bercanda kok! Ya sudah, good luck , ya," kata Rin lalu ia meninggalkan balkon karena makanannya sudah habis.
~ - ~
10 tahun kemudian
Suasana rumah kediaman keluarga Emiya sedang ramai karena hari ini Tori dan Yuu baru pulang dari honeymoon mereka dan Shiro menjemput mereka di bandara.
" Oh ya, adikku yang satu ini sudah punya pacar belum?" tanya Tori, setengah meledek.
" Tau tuh! Kalau secret admirer sih ada kali," kata Rin sambil merujuk Sakura (diam-diam)
" Iya. Tuh, sayangnya Shiro terlalu bodoh untuk menyadarinya," kali ini giliran Fuji-nee yang bersuara.
Sakura yang tahu bahwa orang yang dimaksud adalah dirinya, segera menelungkupkan tangannya ke mukanya, tampak malu (untung aja Shiro nggak nyadar! Kalau nyadar bisa-bisa Sakura tambah pingsan. Mau gotong pake apa, coba?)
" Sudahlah.. kapan nih makan-makannya?" tanya Yuu yang tiba-tiba merasa kelaparan. Setahunya Sakura telah memasakkan masakan untuk mereka semua.
" Oh ya.." seru semuanya bersamaan lalu segera menuju ruang makan.
~ - ~
Mereka pun selesai makan-makan (oh ya, sekarang Sakura sudah jadi pengusaha catering lho!). Mereka pun ngobrol ngolar-ngidul lagi, mulai dari tentang cerita masa lalunya Shiro (Shiro langsung ke WC pas diceritain masa lalunya. Mau muntah, katanya) sampai Yuu yang saat ini ingin mengembangkan rumah sakit ayahnya.
Nah, pada saat inilah, tiba-tiba ada sesuatu yang ingin ditanyakan Tori pada Shiro. Sebenarnya ini sudah mengganjal lama sekali. Tapi ia baru teringat sekarang untuk menanyakannya.
" Oh ya, pedang kembarmu waktu kita duel itu dapat dari mana, ya?"
Glek ! Shiro segera menelan ludahnya. Gimana jelasinnya nih? Masa ia harus bilang kalau ia seorang penyihir sih. Rin sendiri melihat perubahan ekspresi Shiro hanya tertawa … diam-diam.
F I N
NB :Akhirnya, cerita selesai dengan damai..Ending gak jelas. Hoho… habis bingung banget sih. Semoga semua suka ya.. Soal ke'bagus'an cerita, maklumi saya ya kalau ceritanya jadi gaje gini, maklum pemula. Btw, aku jadi ingin buat fanfic FSN lagi.. Dan.. sekarang tolong reviewnya, atau nanti sebuah gando shot akan mengenai kepala anda (just kidding!)
