Luhan tahu persis apa itu tangis. Luhan mengerti kesakitan dan keterpurukan. Sejak dulu Luhan tahu tangis pasti ada di kehidupannya, di sekitarnya. Dan yang tak pernah Luhan sangka, pemikiran tersebut mulanya berasal dari penolakan Sehun yang membuatnya menangis. Tangisan yang benar-benar terasa sakit dari dasar hatinya. Luhan pikir setelah kejadian itu ia akan menjadi lebih kuat, namun semua tidak seperti dugaannya. Jauh dan sangat melenceng. Seperti ketika Sehun menunjukkan sisi lainnya, itu menohok diri Luhan, dan tak pernah sekali pun Luhan berpikir bahwa Sehun, suami yang telah merusak reputasinya, merupakan lelaki yang menyukai aroma menyimpang dalam percintaan. Dulu Luhan tidak tahu, tapi sekarang, tepat pada pagi ini, Luhan mengerti preferensi tersebut sangat baik.

Kata maaf yang berulang kali Sehun ucapkan tak berpengaruh besar pada perasaannya yang terlanjur hancur lebur. Walaupun Sehun mengatakannya begitu lembut dengan dua tangan yang sedari tadi mencoba merengkuhnya, tapi Luhan rasa hal tersebut terlalu cepat. Baru kali ini Luhan merasa tak ingin Sehun sentuh. Ia tidak lagi mencintai Sehun, begitu menurutnya—dan permintaan maaf Sehun telah berhasil mengkontaminasi lambungnya. Luhan merasakan air dari dalam sana naik ke atas kerongkongannya dan rasanya sangat mengerikan. Luhan sadar ada sesuatu yang harus segera dikeluarkan ke luar tubuhnya lalu ia menyempatkan diri untuk menampik keras lengan Sehun yang tengah memegang lengannya dan berlari dari atas ranjang ke wastafel yang ada di kamar mandinya.

Luhan ingat dirinya muntah kalau ia memakan makanan berbahan udang-udangan. Hanya itu, selebihnya mungkin karena masuk angin atau hal-hal normal lainnya. Dan ia peduli ada apa dengan nasibnya hingga hari ini berjalan sangat buruk. Ia muntah deras, tapi sekadar air licin bening yang keluar dari mulutnya. Cairan tersebut terasa pahit dan getir di lidahnya. Rasa pahit itu berputar di kerongkongan Luhan. Perutnya seakan terlilit, lehernya tercekik, dan ia menatap enggan suaminya yang menyusul melalui cermin wastafel dan pria itu bertanya, "Kau yakin baik-baik saja?"

Andaikan perut Luhan dalam kondisi normal dan lehernya tidak seperti terblokir, Luhan bisa memuntahkan kalimat bahwa ia tak pernah merasa baik-baik saja sejak insiden Sehun-menindihku-di-atas-meja. Luhan membersihkan mulutnya dan saat Sehun menyentuh bahunya untuk memastikan apakah Luhan baik-baik saja, Luhan berteriak berang, "Jangan sentuh aku!"

Dan agak menyakitkan bagaimana Luhan dapat melihat reaksi Sehun menjauhkan tangannya, juga ekspresinya yang terlihat begitu terluka. Sehun tak pernah menunjukkan ekspresi itu, mungkin pernah satu kali ketika malam pertama mereka habis oleh persenggamaan yang lumayan menggairahkan, tapi Sehun tahu ia telah bercinta dengan siapa; wanita berhati kosong yang hanya menyerahkan raganya.

Tak mau habis dalam penyesalan karena telah membentak Sehun, Luhan membalik badannya dan meninggalkan Sehun, namun hal yang ia takutkan ialah Sehun yang menangkap tangannya. Dan ketakutan itu menjadi nyata. Kakinya terhenti dan seluruh darahnya menggelenyar saat jari-jari lelaki tersebut menempel di pergelangan tangannya.

"Luhan…"

"Aku tak pernah mengiranya."

"Aku tahu." Sehun sangat ingin mengeratkan genggamannya, tetapi sarafnya menolak. Ia sudah cukup tahu alasan mengapa sarafnya melarang, dan tak ada yang bisa ia lakukan selain tidak berusaha nekat. "Kau membenciku?"

"Sangat."

Demi Tuhan, berilah kekuatan bagi Luhan untuk menaruh kepercayaan pada kata itu.

"Apa kau merasa kesakitan?"

"Aku merasa terlecehkan."

Sehun mengerti. Sepertinya Luhan akan selalu merasa dilecehkan olehnya. Dadanya terpukul oleh kalimat Luhan, dan hatinya terpecahkan oleh tangis Luhan yang kembali mengalir di hadapannya. "Luhan… aku tak pernah melakukannya untuk kesenanganku. Kupikir kau akan menyukainya juga…"

"Menyukainya juga?" Luhan bertanya agak keras, menyindir Sehun dan ia memilih untuk diam saja setelah ini. Luhan terlalu bingung untuk berkata-kata dan terlalu sakit untuk mengekspresikan kekecewaannya.

"Sayangku," kata Sehun, tangannya menarik Luhan ke dalam pelukannya dan beruntung istrinya itu menerima dengan pasrah. "Maafkan aku. Aku tak pernah bermaksud untuk melukaimu. Jika kau membenciku, benci saja aku sesukamu." Sehun mengelus rambut Luhan. "Aku tak pernah melarangmu untuk membenciku karena aku tahu aku salah. Tapi untuk sekarang, bisakah aku membawakanmu sarapan dan obat mual?"


Jangan tanya kenapa Luhan menjadi semakin kuat menumpahkan tangisnya. Itu semua karena perhatian yang Sehun limpahkan, dan tiada orang lain lagi yang bisa memberikan perhatian seperti itu padanya. Selain suaminya sendiri yang brengsek.

.

.

.

.

.

-The Feelings-

.

.

.

HunHan | Hurt/Comfort

.

.

By seluddict

.

.

.

.

.

Seperti orang bodoh Luhan mengenakan rok ketat berwarna hitam yang panjangnya di atas lutut. Lingkaran pinggang roknya terasa sangat jauh dan Luhan sedikit kesulitan untuk mengaitkan kunci resletingnya. Di tengah kesulitannya, ia mendengar Sehun tertawa tipis. Luhan melirik ke cermin almari dan mendapati Sehun yang telah diselimuti jas semi formal mulai berjalan ke arahnya. Luhan nyaris berlari menghindari Sehun seperti melihat monster, tapi tangan Sehun yang menyentuh pinggangnya membuat tubuhnya beku seketika. Tangan suaminya tersebut mengambil alih resleting roknya kemudian mengaitkan kunci resleting dan menarik roknya sedikit ke bawah untuk membetulkan letak rok kerja Luhan.

"Terima kasih." Luhan berniat duduk ke kursi meja rias, tapi Sehun menahannya.

"Pasangkan dasiku dulu."

Permainan apa lagi ini? Memasangkan dasi merupakan sesuatu yang dapat Sehun lakukan sendiri, astaga. Sehun juga tidak pernah menyangka kalau setelah kemarahan Luhan pagi ini ia akan mau menyimpulkan dasi abu-abunya. Ia menahan senyum menyaksikan Luhan yang mengerjakannya dengan mimik serius, Sehun juga tak pernah menyangka jika Luhan akan senyaman ini memasangkan dasinya sejak tiga bulan lalu. Luhan telah selesai memberi sebuah simpul dengan rapi dan Luhan kehilangan rasa puas melihat pangkal dasi yang sedikit terlipat. Wanita itu berdecak pelan.

"Sudah. Ini sudah rapi," kata Sehun mencoba menghentikan Luhan. Tetapi Luhan hanya mendesis menyuruhnya diam lalu merapikan lagi bagian yang ia rasa kurang rapi. Butuh waktu lima menit, Sehun tak meragukan hasil Luhan yang teramat rapi, namun ia rasa tiada artinya toh dasi ini akan ia lepas setelah selesai bekerja. "Oke, ini sangat-sangat rapi. Aku berangkat?"

"Tunggu aku. Aku berangkat bersamamu."

Alasan yang sangat jelas dari kebahagiaan Sehun pagi ini. Semudah ini istrinya melupakan kekesalannya, dan Sehun takkan sudi menyia-nyiakannya.

Luhan duduk tenang di kursi meja rias. Hanya tangannya sibuk ke sisi lain meja lalu ke wajahnya lagi. Dengan senatural mungkin Luhan membubuhi wajahnya yang seindah boneka dengan polesan tipis serta lembut. Nampaknya Sehun lebih nyaman menyaksikan istrinya mempercantik diri daripada berangkat kerja sendirian. Dan meskipun begitu, terus terang saja Sehun mulai gelisah. Hampir satu jam Luhan sibuk memoles diri dan itu adalah kesalahan seorang CEO dan sekretaris perusahaan. Sehun mengetukkan ujung sepatu kerjanya berulang-kali, itu kerjaan kecilnya sambil menunggu Luhan, dibandingkan ia harus mati kebosanan.

"Sehun, diamlah. Jangan menggangguku."

"Apa? Aku tidak."

"Sepatumu, bajingan."

Sehun hanya dapat menggulirkan bola matanya. Bajingan yang Luhan sebut sudah terlalu familiar di telinganya. "Apa kau masih lama?"

"Lima belas menit."

"Persingkat."

"Kau memaksaku atau apa?" Sehun agak terkejut melihat Luhan yang kini memandangnya kejam melewati cermin. Persimpangan di dahi Luhan jelas terlihat, satu hal yang membuat Sehun bertanya-tanya apa yang salah dari Luhan pagi ini.

"Bukan memaksa, tapi ada kerjaan yang menunggu di perusahaan. Aku tidak akan heran jika ayahmu akan marah padamu karena kita terlambat."

Brengsek. Ayahnya adalah masalah terbesar yang sebisa mungkin harus ia hindari.

.

.

.

"Aku mau pulang." Pria di seberang telepon mengerutkan dahi. Mulutnya terbuka mencari reaksi yang tepat, tapi wanita itu sudah menjawab pertanyaannya lebih dulu. "Jemput aku. Perutku sakit, aku mual."

"Jadi kau salah makan siang?"

"Aku belum makan siang," ralat Luhan. Sehun berniat memberi tutur kata yang panjangnya sangat berlebihan pada Luhan, dan sekali lagi sebelum ia berhasil mengatakannya, Luhan telah berkata, "Jangan memarahiku. Aku akan pulang ke rumah orangtuaku dan akan menyerahkan dokumen yang nanti ayah berikan ke wakil sekretaris. Baru setelahnya aku bisa makan siang."

"Memang ayah di mana?"

"Tidak di mana-mana. Dia di rumah dan dari tadi pagi dia tidak berangkat kerja. Jangan tanya aku kenapa karena aku tak tahu apa-apa." Ada jeda sesaat, lalu Luhan menghela napasnya. "Cepat ke sini atau aku akan muntah di kemeja satinku!" Luhan mulai merengek dan Sehun bergegas bangkit dari kursi kerjanya untuk pergi menjemput Luhan.

"Oke, tunggu aku di sana sepuluh menit."


Sehun datang ke ruangannya dua menit lebih cepat dibandingkan prediksinya. Dan saat itu Sehun nyaris dihampiri serangan jantung karena Luhan langsung berlari menerjang badannya dan memeluknya seperti anak berusia empat tahun yang mencari perlindungan setelah ia melihat seekor lebah. Pemikiran itu membuat perasaan Sehun merindu pada kejadian dua puluh tiga tahun lalu saat Luhan berlari ke arahnya dengan berlinang air mata. Sehun hanya tertawa dan mendekap kepala Luhan ketika gadis kecil tersebut mengatakan betapa mengerikannya ulat yang meliukkan diri karena ranting yang sengaja Baekhyun tusukkan di tubuh ulat hijaunya.

Dan ia benar-benar tertawa saat ini, yang nyatanya membuat Luhan melepas peluk dan menghentakkan kakinya sebal. "Apa yang kau tertawakan? Aku kedinginan di sini dan kau datang setengah jam dari janjimu? Itu yang kau tertawakan?"

"Setengah jam? Kurasa…"

"Masa bodoh! Yang penting kau antarkan aku ke rumah ayah. Sekarang."

"Tunggu." Sehun berjalan ke arah meja Luhan. Ia menyentuh benda berwarna hitam yang tergeletak di atas mejanya dan mata Sehun pindah ke Luhan. Luhan terlihat bingung dan pemuda itu berkata, "Katakan padaku, sejak tadi kau meneleponku, apa kau melepas bramu?"

"Apa?!" Luhan histeris dan berlari ke arah Sehun. Pria itu bisa melihat payudara istrinya bergerak kasar sesuai langkah cepatnya dan ketika Luhan tiba di hadapannya untuk merebut branya, Sehun menahan lengan Luhan sambil menjauhkan bra tersebut dari istrinya. "Kembalikan, Brengsek!"

"Jangan sebut aku brengsek atau kau takkan pernah berhasil keluar dari ruangan dengan bramu."

"Sialan. Apa maumu?"

"Mauku?"

"Ah. Aku paham. Mencoba mengulang kesalahan masa lalu?" Luhan terdengar sarkastik, tapi Sehun tahu ke mana arah pembicaraan istrinya.

Ia menyentuh bahu Luhan dan membiarkan wanita itu menatapnya dalam diam. "Aku hanya ingin kau." Sehun mencium rahangnya dan melanjut dengan hati yang perlahan terluka, "Perasaanmu. Bukan sekadar ragamu."

Demi Tuhan, apa yang Sehun katakan sungguh sakit adanya. Dan Luhan juga merasa hal tersebut benar-benar nyata bahwa dirinya selalu berpendapat jika dirinya tak lagi mau memberikan sedikit perasaannya pada Sehun. Luhan pikir pria bajingan itu akan puas dengan raga dan gairahnya saja, tapi ia tidak pernah menyangka jika Sehun menginginkannya juga. Seluruhnya. Perasaannya.

"Sehun…" Sehun membungkam Luhan dengan sebuah ciuman panjang yang membuat pipi Luhan memampilkan semburat merah muda. Luhan menggigit bibir bawahnya ketika ia bisa merasakan lengan Sehun menekan daging kembarnya yang menonjol tanpa bra. "Braku, please," lirihnya. Sebagai pria, Sehun juga mengerti bagaimana para wanita menahan garis nafsunya, dan meskipun Sehun sudah nekat menekan pinggulnya ke arah Luhan yang begitu sensitif, cengkraman jemari istrinya di lengannya membuat Sehun sadar kalau ini bukan lokasi yang tepat untuk bercinta.

Ia melepas ciumannya pelan-pelan, Sehun bisa merasakan embusan napas memburu Luhan yang keluar dari mulutnya menerpa bibir Sehun.

"Menjauh dari tubuhku atau aku akan menendang penismu, Sehun."

Sehun tidak bisa menjawab apa-apa lagi selain diam dan mengikuti kemauan Luhan. Mungkin terdengar menyebalkan namun lebih mengerikan jika Luhan berubah pikiran dan marah padanya—apalagi mempertemukan ujung heelsnya pada kejantanannya.

Semua jelas membosankan karena apa yang terjadi di dalam mobil setelahnya hanyalah keheningan. Luhan berusaha mencari topik pembicaraan namun ia merasa tiada gunanya, lidahnya masih enggan mengajak bicara lelaki ini. Dan meskipun Sehun memiliki puluhan topik yang ingin sekali ia bicarakan, nyatanya Sehun juga tahu kalau Luhan yang diam adalah Luhan yang tak mau diajak berbicara.


"Kembalilah ke kantormu."

Luhan mengambil ponselnya di dasbor mobil, Sehun mengetukkan telunjuknya di setir. Ketika Luhan hendak keluar, Sehun bertanya, "Apa kau selama itu di sini? Aku perlu menyapa orangtuamu."

"Hell. Kau hanya membuat mereka menjadi berkali-kali lipat lebih sinis." Luhan menoleh pada Sehun yang tidak tengah memandangnya. "Aku akan pulang secepatnya, kau tahu itu."

Aku hanya harus menjagamu.

"Baiklah."

"Oke," kata Luhan. Setelah itu keheningan kembali menyergap. Luhan memainkan pinggiran roknya dan ia sungguhan perlu keluar dari mobil sebelum kecanggungan benar-benar melenyapkan moodnya.

Sialnya sebelum Luhan keluar, Sehun kembali berucap, "Telpon aku jika sudah selesai." Hubungi aku jika ada apa-apa, batin Sehun memperbaikinya. Luhan berdeham sebagai jawabannya dan keluar mobil. Luhan bisa mendengar suara mobil Sehun pergi setelah beberapa detik kemudian, dan di saat itu ia merasakan tidak ada satu pun pelindungnya lagi.

Bersama jari-jari yang menggenggam erat ponselnya, Luhan langsung berjalan ke arah dapur. Ia ingat di luar kepala, nyatanya sang ayah memang ada di sana dengan ibu yang tengah memasak sesuatu. Luhan tidak tahu apa yang sedang ibunya masak, tapi lebih tepat lagi jika artinya Luhan tak ingin tahu apa itu.

"Kau datang agak lama." Luhan sedikit menegang ketika ayahnya yang tengah duduk di kursi berbicara. Luhan tahu apa alasan keterlambatannya, mungkin karena perdebatannya dengan Sehun yang lumayan cabul. Tapi, astaga, ia tidak berdebat dengan pria tampannya selama itu. Ia pikir ayah dan ibunya tidak perlu tahu kalau Sehun telah merebut branya di kantor, lagipula ayahnya terlihat mengerti. "Kau tidak sehat?"

"Aku sehat."

"Sehun bilang kau hamil."

"Apa?" Luhan hampir menjatuhkan ponselnya sendiri. Matanya refleks terbuka lebar. Ya Tuhan, Luhan tak pernah berpikir sebegitu jauh. Sehun pasti bercanda, atau ayahnya pasti bercanda. Dari mana lelaki brengsek itu tahu jika ia sedang hamil? "Aku tidak sedang mengandung…"

"Kau pembohong yang sangat buruk. Suamimu tahu kau terlambat mendapatkan periodemu dua bulan ini. Dan kau tidak tahu tentang dirimu sendiri?" Ayahnya menjawab dengan kalimat retoris, tapi ibunya terlihat tenang dengan tetap memasak. Ibunya lebih terlihat tidak peduli, terus terang saja. "Ambil berkas di meja kerjaku."

Luhan mendesah dan memalingkan tubuhnya. Namun belum sempat ia naik ke lantai atas, ayahnya kembali berkata, "Jangan pernah berani berharap bayimu adalah perempuan. Karena jika kau memilikinya, aku tak akan pernah sudi mengakuimu sebagai putriku."

Luhan mencoba mengerti tapi ternyata semuanya sia-sia saja. Yang dapat ia mengerti ialah segalanya buruk. Sekarang ia tahu mengapa ayahnya tidak bekerja dan menyuruhnya untuk datang. Dan pantas saja sejak dalam perjalanan, Sehun membangun atmosfer canggung yang sungguh bukan Sehun. Baru kali ini Luhan menyadari jika Sehun sama bodohnya dengan idiot karena gagasannya memberitahu apa yang Sehun ketahui pada ayahnya. Sehun tak beda jauh dari orang tergila di dunia.

Dan terkutuklah lelaki itu!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

Mind to Review?