Chapter 4

"Mencintai iblis adalah dosa besar," gumam Justine ketika ia sendirian di kamarnya, berdiri di depan Jendela. "Sebastian bukan iblis. Tapi mengapa aku merasa dia iblis?"

Pintu kamar Justine terbuka perlahan. Dari bayangan di cermin, Justine bisa melihat Ciel berjalan mendekatinya. Wajah Ciel terlihat pucat, terkena cahaya bulan, sama seperti wajah Justine.

"Mengapa kau tidak menghidupkan lilin?" tanya Ciel penasaran. Ia ikut berdiri menghadap jendela. "Malam ini bulan bersinar sangat terang, ya.. tapi tak cukup terang untuk menerangi seluruh kamar."

Justine menyandarkan tubuhnya ke dada Ciel. "Ciel, apakah iblis itu ada?" tanya Justine. "Aku merasa Sebastian memang iblis."

Ciel mendenguskan tawa. "Dia memang suka memberi julukan tidak jelas pada dirinya sendiri," kata Ciel. "Tapi dia bukan iblis kok. Hanya orang berbakat biasa."

"Kalau memang begitu, baguslah.."

Ciel tiba-tiba memegang kedua pundak Justine. "Justine, kau sangat menyukai Sebastian, ya?" tanya Ciel penasaran.

Justine mengalihkan tatapannya dari mata biru Ciel, kemudian mengangguk perlahan.

Ciel tersenyum manis. "Kalau begitu, kau mungkin akan senang kalau kita pergi berlibur ke sebuah kota di Perancis besok!"

Justine memandang Ciel. "Apakah maksudmu kau ke sana karena ada pekerjaan lagi?" tanya Justine curiga.

Sialnya Ciel mengangguk. "Aku akan bekerja selama di sana. Kau dan Sebastian bersenang-senang lah!"

Justine menggeleng cepat. Perutnya melintir membayangkan 'bersenang-senang' macam apa yang akan dilakukannya bersama Sebastian. "Aku tak mau kalau berdua saja dengannya!" kata Justine keras. Wajahnya memerah.

Ciel tertawa lagi. "Kalau kau memang sangat menyukainya, kau harus berani menghadapinya!" kata Ciel tenang. "Kau itu lady, lho! Masa tidak pandai dalam menggaet pasangan?"

Justine menggigit bibir. "Yang ingin kugaet kali ini adalah iblis, lho!" Justine membela diri.

"Ternyata kau masih berpikir begitu," kata Ciel agak sebal.

Justine mengangguk. "Habisnya, lebih aman kalau aku berpikir begitu.." kata Justine pelan.

Ciel tertawa pelan. Ia berjalan keluar kamar Justine. Tanpa berbalik ia berkata, "Kalau begitu, berarti kau sudah siap dengan semua kemungkinan terburuk! Kalau ada apa-apa, bisikkan nama kakakmu!"

Justine mengangguk meski tahu kakaknya itu tak bisa melihatnya. Setelah pintu tertutup rapat, ia kembali menatap jendela. Agak lama ia memandang pergerakan awan hitam, ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya.

"Ojou-sama," panggil Sebastian dari luar. "Waktunya mandi."

"Aku akan mandi sepuluh menit lagi," kata Justine. Ia langsung panik ketika mendengar suara Sebastian. Kemudian dengan suara yang lebih kecil ia berkata, "kau istirahat saja, Sebastian!"

Suara langkah Sebastian terdengar, kemudian senyap. Agak lama baru Justine memutuskan keluar kamar dan berjalan menuju kamar mandi di sebelah kamarnya.

Namun ketika ia memasuki kamar bernuansa biru gelap yang biasa menenangkan pikiran itu, tenggorakannya tercekat. Sebastian sedang menunggu di dekatnya. Duduk di atas pinggiran bath tub yang sudah terisi air hangat, membelakanginya.

"Lebih cepat dua menit dari yang kau katakan," kata Sebastian pelan. Pelayan itu berdiri dan mendekati Justine.

Justine membuang muka. "Aku ingin diurus Mey-Rin saja mulai sekarang!" kata Justine pelan. Ia sudah berbalik menghadap pintu dan tidak menyadari Sebastian sudah berada di belakangnya.

"Mey-Rin sudah tidur," kata Sebastian. "Kau tidak kasihan padanya, Ojou-sama?"

Justine kasihan. Apalagi sebenarnya ia sudah sangat mengantuk. Mey-Rin yang selalu terjaga lebih awal pasti merasa sangat mengantuk. Tapi ia takut pada Sebastian. Laki-laki yang ia anggap sebagai iblis.

Tangan Sebastian sudah hinggap di punggungnya. Membuka perlahan ikatan tali pada gaun dan korsetnya. Justine merasa merinding. Ia menunduk. "Kalau begitu biarkan aku mengurus diriku sendiri," kata Justine.

Gerakan tangan Sebastian terhenti. "Kau takut padaku, Ojou-sama?" tanya Sebastian dingin. Setidaknya di telinga Justine.

Justine mengangguk. "Kau kasar dan pemaksa. Tapi.." Justine menggigit bibir bawahnya. "..Aku tidak bisa berhenti mencintaimu. Dan kau malah ingin memakan jiwaku, seolah kau iblis. Kau.. sama sekali tidak berniat memberiku kesempatan mencintaimu."

Sebastian tersenyum kecil. Tangannya kembali melepas ikatan gaun Justine, dan membiarkan gaun itu jatuh teronggok di lantai. Kemudian ia mengelus kedua bahu Justine dengan kedua tangannya. Justine tersentak kaget. "Ojou-sama," Sebastian mendekatkan bibirnya ke telinga Justine. "Kesempatan seperti apa yang kau inginkan? Aku benar-benar tidak mengerti."

Justine menggigit bibirnya semakin kuat. "Kau sangat mengerti, bodoh!" kata Justine keras. Ia memasukkan kakinya ke dalam bath tub. "Aku tak mau kau permainkan lagi. Perlakukan aku seperti wanita, bodoh!"

Tatapan Sebastian meredup. Ia benar-benar marah sekarang. Apalagi karena Justine memanggilnya 'bodoh' dua kali. "Aku benar-benar tidak mengerti perempuan," katanya kesal. "Aku hanya memberimu kesenangan bermesraan denganku, tapi kau menyuruhku berhenti. Kau juga berkata kau mencintaiku meski aku kasar dan pemaksa, tapi kenapa kau takut dan menjauh dariku?"

Justine terdiam. Ia menunduk menatap air hangat yang merendam tubuhnya.

"Apakah kau hanya ingin aku memberimu kesempatan mencintaiku? Kau tidak tertarik menyuruhku mencintaimu juga?" Sebastian bicara lagi. Ia menatap punggung Justine dengan tatapan tajam. "Sejauh ini, aku hanya melihatmu mencoba mempermainkan aku."

Justine menggeleng lemah. Mana mungkin ia mau mempermainkan Sebastian.

Sekejap Sebastian berdiri di belakang Justine. "Kau berkata aku mempermainkanmu, karena aku menyentuhmu sembarangan? Bukankah itu pertanda aku merasa tak masalah apabila kau ingin menyentuhku? Aku juga merasa tak masalah kau mau mencintaiku atau tidak. Tapi.." Sebastian memutar tubuh Justine sedikit agar gadis itu menghadap ke arahnya. Kemudian Sebastian memegang dagu Justine. "Jangan pernah takut padaku! Itu lah perasaan cinta yang sesungguhnya bagiku."

Justine terus mengalihkan tatapannya ke semua titik di ruangan—apa saja asal bukan wajah Sebastian. Sebastian sebal dan menggerakkan dagu Justine sedikit. "Beranilah dan lihat aku," kata Sebastian halus. "Kalau kau tidak melakukannya, aku bersumpah tidak akan pernah mencintaimu. Karena kau sendiri takut padaku."

"Aku bukan masochist," gumam Justine akhirnya. Ia masih tidak menatap mata Sebastian.

Sebastian menyeringai. "Kau benci jika aku kasar dan pemaksa, ya.." gumam Sebastian. "Lalu apa yang membuatmu cinta? Namaku?"

"Sebelumnya kau lembut," jawab Justine pendek.

Mata Sebastian melebar. "Begitu," katanya. "Sayang sekali, Ojou-sama. Aku hanya begitu ketika aku menjadi pelayan. Tapi ketika aku menjadi kekasih, aku kembali ke sifatku yang sebenarnya. Jadi kalau kau hanya mencintaiku ketika aku menjadi pelayan, dan membenci sifatku yang sebenarnya, ku anggap kau tidak mencintaiku." Sebastian menarik nafas. "Aku bersumpah—"

Mata Justine terbuka lebar. "Tunggu Sebastian!" pintanya panik. "Aku mau jadi kekasihmu!"

Sebastian agak terkejut ketika perkataannya dipotong. Tapi lebih terkejut lagi ketika Justine mencium bibirnya.

"Aku tidak berniat mempermainkanmu, Sebastian!" kata Justine di sela kecupannya. Sebastian menahan senyum. Sepertinya Justine memang masochist, meski dia tidak mau mengakuinya.

Sebastian sudah menemukan pasangan yang cocok untuknya.

"Ap—" Ciel terkejut ketika ia membuka pintu kamar Justine, hanya untuk mengecek apakah adik kesayangannya itu sudah tidur.

Ciel melihat Justine sedang tidur di pelukan pelayannya yang, Ciel sangat tahu, pura-pura tertidur. Ciel merasa terkejut. Apalagi karena sebelumnya insting iblisnya pun tak merasakan keberadaan iblis lain seperti Sebastian di kamar adiknya. Dan kenapa? Ciel merasa agak marah.

"Aku menunggumu di luar (lorong rumah), Sebastian!" bisik Ciel sembari menutup pintu. Ia berbalik menatap lukisan yang di pasang menghadap pintu kamar Justine. Lukisan abstrak yang mampu membuat perasaan seseorang yang melihatnya menjadi tidak nyaman. Namun untuk Phantomhive sepertinya, lukisan itu hanya memberi rasa hampa.

Beberapa detik kemudian Sebastian sudah berdiri di belakang Ciel. "Kenapa, Bocchan?" tanya Sebastian pelan. Bukan bermaksud dingin, tapi Sebastian sebal ia harus menyusul Ciel keluar kamar padahal apa salahnya bicara di dalam saja. Sebastian harus susah payah melepaskan diri dari Justine tanpa membangunkan kekasih barunya itu. (Sebenarnya niat kedua orang ini sama, yaitu ingin berbicara tanpa membangunkan Justine.)

Ciel merengut. "Kau sangat mengejutkanku hari ini," gumam Ciel. "Sebenarnya apa yang membuat kalian bisa tidur bersama? Justine memang suka padamu tapi tak ku sangka semudah itu dia mau tidur dengan orang yang dia anggap iblis sekarang."

Sebastian menaikkan sebelah alis. "Sebenarnya dia mencintai sisi iblisku sekarang," koreksi Sebastian. "Lagi pula, bukankah kemarin dia tidur denganmu?"

"Ap—" Ciel kelabakan. "Dia adikku. Tak ada salahnya."

"He.." Sebastian tersenyum iblis. "Sekarang kau menganggap dia adik kandungmu."

Ciel membuang muka. "Bukan urusanmu!" kata Ciel sebal. "Lagipula, dia terlihat seperti ibuku."

"Benar juga," kata Sebastian sambil memegang dagu. "Tapi, Bocchan," Sebastian berpindah ke depan Ciel. "Dia sudah menjadi kekasihku sekarang. Itu keinginanmu tadi pagi, kan?"

"Aku tak ingat perintahku seperti itu," kata Ciel. "Tapi kalau kau tidak menjaganya, aku akan mencari pedang Laevateiin dan membunuhmu!"

"Begitu," Sebastian agak terkejut diancam seperti itu. Tapi tatapan matanya biasa saja. "Baiklah. Aku akan menjaganya seperti aku menjagamu dulu."

Tangan Ciel tergerak sedikit. "Sebastian," gumam Ciel pelan. "Maaf karena kau jadi tidak bisa memakan jiwaku."

Sebastian menatap rambut Ciel yang hitam kelam. "Itu memang membuatku patah hati," katanya jujur. "Tapi tidak apa. Aku tidak akan meminta jiwa Justine. Saat ini aku hanya tertarik menjadi pelayan. Aku juga sudah punya kekasih. Aku yang melemah karena sudah lama tidak memakan jiwa manusia, semakin mirip dengan manusia biasa."

Sebastian membuka pintu kamar Justine, berniat melanjutkan tugasnya sebagai 'bantal' gadis itu. Atau memang kesenangannya melihat wajah cantik Justine yang sedang terlelap.

"Tunggu, Sebastian!" pinta Ciel. Sebastian berbalik. "Aku senang karena kau senang menjadi kekasih Justine," kata Ciel tulus. "Tapi kalau tubuhmu memang melemah, kau boleh mengambil salah satu jiwa musuhku. Besok aku akan ke sebuah kota di Perancis untuk membasmi sebuah perkumpulan berbahaya. Kau boleh mengambil jiwa mereka semua. Aku rasa tak masalah jika Shinigami tidak mengetahuinya."

Sebastian menatap Ciel tajam. Bola matanya yang berwarna merah menunjukkan dia tertarik. Tapi.. "Apakah ini perintah Ratu-mu lagi?" tanyanya sarkastis.

Ciel menggeleng. Sebastian memang tidak pernah membantunya bekerja setelah ia menjadi iblis, karena itu Sebastian tidak tahu kepada siapa Ciel tunduk. "Aku membasmi mereka karena Undertaker bilang mereka akan membahayakan dunia. Sebelumnya pun aku bekerja menurut kehendaknya."

"Kalau kau bekerja sesuai kehendaknya, tidak masalah." Sebastian berjalan cuek ke dalam kamar kekasihnya. "Dan mulai sekarang aku akan selalu bersama Justine. Tidak masalah kan?"

"Tidak masalah," kata Ciel tanpa ragu. "Aku pun tidak ingin diganggu ketika tidur dengan Elizabeth nanti.. setelah menikah, maksudku."

"Tak kusangka kau punya keinginan menikah setelah menjadi iblis," gumam Sebastian yang sudah duduk di atas ranjang.

"Sama sepertimu yang memiliki keinginan berpacaran," balas Ciel iseng. "Jangan lupa siapkan pakaian kami untuk perjalanan besok." Ia menutup pelan pintu kamar Justine.

To be continued