Taufan: Nama Yang Engkau Sebut
-Part 1 of 3-
.
.
Dia menghindariku. Sejak kejadian itu, dia telah membangun dinding kasat mata di antara kami. Aku tahu, tapi sengaja mengabaikannya. Sampai suatu hari, aku sadar, dia berhenti memanggil namaku. Dan itu sangat menyakitkan. Betapa aku ingin dia menyebut namaku lagi.
"Taufan."
Hanya itu.
.
Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios©
Drama. Action. Friendship. Minor Romance. AU. Elemental Siblings. Teen!Characters. Alur maju-mundur. Taufan-centric.
.
From: Kakak Bodoh
Temui aku di halaman belakang sekolah selepas kegiatan klub.
Barangkali semua bencana hari ini berawal dari pesan itu. Singkat, padat, jelas. Namun, pada saat membaca pesan singkat yang masuk ke ponselnya itu, Taufan tidak berpikiran macam-macam. Belum. Meskipun dia memang heran, tumben sekali Halilintar mengajaknya bertemu di tempat sepi. Halaman belakang sekolah yang dimaksud itu jarang didatangi siapa pun karena—katanya—angker. Dan tentunya, yang dimaksud Halilintar, Taufan harus datang sendirian.
"Taufan."
Suara lembut itu menyapa Taufan yang sedang membereskan kertas-kertas di atas meja. Ia menoleh sejenak, melihat Yaya baru saja masuk ke ruangan OSIS yang saat ini sepi. Cuma ada mereka berdua.
"Kamu masih di sini?" tanya Yaya sambil memasukkan barang bawaannya ke dalam satu-satunya lemari di tempat itu. Sebuah paper bag coklat, entah apa isinya.
"Yah ... tinggal membereskan ini," sahut Taufan. "Oh ya, semua kertas pengumuman sudah selesai kutempelkan. Di mading, dan di beberapa tempat lain."
"Thanks, ya!" Yaya tersenyum, lalu duduk di kursi terdekat. Melepas penat setelah nyaris sibuk seharian. "Maaf, kegiatan klub-mu jadi terganggu."
"Nggak apa-apa kok, Yaya." Taufan memasukkan kertas-kertas di tangannya ke dalam laci, lantas ikut duduk beristirahat. "Klub Skateboard lagi santai ini."
Yaya mengulas senyum kecil sekali lagi, ketika melihat cengiran lebar khas Taufan. Keceriaan pemuda itu adalah sesuatu yang bisa menular kepada semua orang di dekatnya. Dan Yaya menyukai itu.
"Hmm ... Kamu sudah dengar?" tiba-tiba Taufan membuka topik dengan nada santai. "Kejadian tadi pagi jadi heboh, lho!"
Yaya menaikkan alis sejenak. Kali ini dia melihat senyum jahil di wajah Taufan. "Kejadian apa, sih?"
"Yaya menampar Taufan," pemuda bertopi biru-putih dengan bagian lidah miring ke kanan itu, bicara layaknya pembawa berita di televisi. "Bahkan sudah berubah jadi gosip bahwa kita pacaran. Aku dengar dari Gempa."
"E-Eeh ...? Yang benar?" Yaya merona, lebih karena malu. Sementara, Taufan hanya tertawa melihatnya. "Sorry. Kamu jadi digosipin yang aneh-aneh gara-gara aku."
"Aku sih nggak apa-apa digosipin sama Wakil Ketua OSIS," Taufan menyahut dengan nada penuh canda.
"Ish! Kamu ni!" Yaya memberengut, sebelum akhirnya menghela napas. "Hh ... Ada-ada aja, deh! Padahal aku cuma refleks menepuk nyamuk di pipimu ..."
"Ng?" Taufan mengerutkan kening sejenak ketika Yaya tiba-tiba terdiam. "Kenapa, Yaya?"
"... Nggak. Aku cuma masih ngerasa aneh. Kayaknya itu bukan nyamuk, deh. Tapi apa ya kalau bukan ...?"
"Udah. 'Gitu aja dipikirin." Taufan melihat jam tangannya, lalu segera beranjak. "Sudah hampir jam bubaran klub. Aku permisi dulu, ya!"
"Hm. Terima kasih banyak ya, Taufan. Aku sangat tertolong."
"Sama-sama."
.
Oo)=======o=======(oO
.
"Apa hubunganmu dengan Yaya?"
Taufan tidak pernah menyangka akan mendengar pertanyaan itu dari Halilintar. Setelah hampir 10 menit menunggu dengan hati bertanya-tanya—plus sedikit ketegangan—ternyata dirinya akan menjumpai 'kejutan' seperti ini.
"Hei! Aku bertanya padamu." Tampaknya Halilintar agak kesal karena merasa diacuhkan.
Taufan tersentak kecil. Spontan menggaruk pipinya yang tidak gatal. Kebiasaannya kalau sedang bingung. "Ng ... Kenapa tanya begitu? Jangan-jangan ... gara-gara gosip nggak jelas itu, ya?"
Halilintar berdecak tak sabar. "Jawab saja. Jangan bicara berputar-putar."
Taufan menelisik wajah kembarannya. Sungguh, saat ini dia tidak bisa tidak merasa heran. Apa pun gosip yang beredar antara dirinya dan Yaya, kenapa Halilintar peduli?
"Kalau misalnya gosip itu benar ... memangnya kenapa?"
Kalimat itu terucap begitu saja, setengahnya karena Taufan ingin memancing reaksi sang kakak. Demi memuaskan rasa penasarannya. Walapun kemudian Taufan agak menyesal. Bukan apa-apa. Hanya saja, ia tahu Halilintar tipe orang yang serius. Apalagi kalau ia sampai membicarakan hal seperti ini.
"Kamu ... suka Yaya?"
Taufan kembali bertanya ketika Halilintar masih terdiam, lantaran terkejut dengan pertanyaan pertamanya tadi. Halilintar tersentak pelan. Taufan berani bersumpah, ia melihat rona merah samar di wajah Halilintar. Hanya sekejap, sebelum tatapan mata merah delima itu menajam.
"Bukan urusanmu." Sejenak, wajah Halilintar menggelap. Kemudian ekspresinya dipenuhi kesal. "Ck! Sudahlah!"
Tiba-tiba saja Halilintar berbalik, lantas beranjak pergi begitu saja. Taufan tentu saja kaget. Namun, kali ini, terbersit rasa 'tidak suka' yang mengganjal di hatinya.
"Hei! Tunggu dulu!" Panggilan Taufan diabaikan sepenuhnya. "Hali!"
Halilintar berhenti ketika mendengar langkah kaki Taufan yang mendekatinya.
"Apa-apaan itu?" Taufan berkata lagi dari balik punggung sang kakak. "Kamu yang memanggilku ke sini. Terus sekarang malah mau pergi 'gitu aja?"
Hening dua-tiga detik membuat suasana mulai terasa tidak enak.
"Kau berisik."
Kata-kata Halilintar yang dingin itu menusuk hati Taufan. Selama beberapa tahun terakhir, dia sudah terbiasa menerima ucapan dan perlakuan seperti ini. Kebanyakan tanpa alasan yang jelas. Samar-samar Taufan merasa, mungkin Halilintar membencinya. Meskipun ia tidak terlalu mengerti kenapa.
"Kamu kesal padaku?" akhirnya Taufan mengeluarkan hal yang menyesakkan batinnya. "Kenapa? Aku ... Aku nggak ngerti ... Katakan, apa salahku?!"
Halilintar bergeming. Taufan merasakan dadanya semakin terhimpit.
"Hali ... ini ... bukan cuma soal Yaya." Taufan menyadari suaranya bergetar, walau samar. Ia juga sadar, emosinya mulai tak terkendali. Tetapi kali ini, dia tak ingin berhenti. Tidak lagi. "Aku tahu ... kau menjauhiku. Tidak apa-apa ... aku bisa terima ... Tapi ... apa kau harus selalu menyalahkan semuanya padaku?! Ha ...?"
Halilintar masih tak bergerak dari posisi terakhirnya. Gara-gara itu, Taufan tak bisa melihat mata sang kakak berkaca-kaca.
"Sudah cukup, Hali ... Aku capek!"
Taufan menggeretakkan rahang. Lantas diulurkannya tangan kanan. Diraihnya bahu Halilintar, memaksa yang bersangkutan membalikkan badan ke arahnya.
"Lihat aku!"
Taufan bisa merasakan banyak hal di dalam dirinya seolah mendesak ingin keluar. Semua yang selama ini dipendamnya dalam-dalam. Demi menjaga perasaan Gempa, dan juga Halilintar. Namun, kali ini ia ingin mengacuhkan itu. Sekali ini saja. Taufan ingin menurutkan emosi yang rasanya sudah hampir meledak.
"Kau cemburu padaku soal Yaya? Atau ada yang tidak kausukai dariku? Atau ... kau masih kepikiran pertarungan kita dulu? Kau ... Kau masih marah karena aku pernah mengataimu 'lemah'?"
Bukannya lega setelah mengeluarkan perasaannya, Taufan malah merasa dadanya semakin sesak. Tahu ucapannya mulai meracau, tapi ia tidak bisa—bukan, tidak mau berhenti.
"Atau ... kau merasa aku membebanimu? Aku ... Aku tahu ... Waktu itu juga ... kau sampai tertangkap Adu Du ... karena melindungiku, 'kan? Kau menyesal ... atau apa? Ayo, bilang!"
Taufan menentang tatapan Halilintar yang masih tak terbaca. Sang penguasa elemen angin itu merasakan matanya mulai panas. Mati-matian ditahannya agar jangan ada air mata yang keluar.
"Sudah selesai?"
Taufan tersentak. Apa? Cuma itu tanggapan Halilintar? Setelah semua yang dikatakannya, hanya dua kata yang terucap dingin itu balasannya?
"Kau memang berisik." Kata-kata Halilintar berikutnya semakin melukai Taufan. "Kau mau tahu? Oke. Dengarkan baik-baik."
Halilintar memberi jeda sejenak, tatapan matanya semakin tajam. Terarah lurus kepada sang adik.
"Kau menyebalkan. Semua yang ada di dirimu adalah palsu. Termasuk senyum yang disukai semua orang itu." Halilintar mendengus pelan. "Kau itu ... tidak lebih dari seorang pembohong. Menyedihkan."
Sepasang netra beriris biru milik Taufan masih berkaca-kaca sampai beberapa detik setelah itu. Sakit. Jauh di lubuk hatinya, Taufan benar-benar merasa sakit. Kenapa ... Kenapa Halilintar berkata begitu? Itukah perasaan sang kakak yang sesungguhnya?
"Aku tidak tahan ... melihat orang yang selalu membohongi orang lain. Jadi, hentikan," Halilintar berkata lagi. "Mengerti?"
Taufan membeku. Dilihatnya Halilintar kembali beranjak. Apa ...? Apa-apaan itu? Tidak adil! Memangnya dia tahu apa? Orang yang tidak pernah peduli pada orang lain seperti Halilintar ... memangnya tahu apa?!
Syuu ...
Taufan nyaris tak menyadari kekuatan yang terkumpul di tangan kanannya, seiring dengan emosi yang membuncah. Rahangnya mengeras, begitu pula sorot matanya. Dan ketika Taufan tiba-tiba mengepalkan tangan, gelombang kekuatan itu pecah. Menjelma menjadi angin tajam yang terarah lurus kepada Halilintar!
"?!"
Meskipun kaget 'diserang' tiba-tiba, Halilintar masih sempat mengelak ke samping dengan gerakan secepat kilat. Ia pun menghadap ke arah Taufan kembali. Berdiri di hadapan saudaranya dengan sorot mata tajam. Aura yang terpancar dari Taufan saat ini, membuat seluruh tubuhnya otomatis masuk ke dalam posisi siap tempur. Refleks yang sudah terlatih berkat karate yang ditekuninya selama bertahun-tahun.
"Berani kau menyerangku dari belakang," Halilintar berkata, masih dengan nada dingin. "Kenapa? Tidak terima dengan kata-kataku? Huh! Karena itu memang benar—"
"Diam!" Halilintar cukup terkejut ketika tiba-tiba Taufan membentaknya. "Kau ... tahu apa tentang aku?! Padahal kau tidak pernah peduli padaku!"
Embusan angin tajam kembali terarah pada Halilintar. Dengan kecepatan geraknya, pemuda itu bisa menghindar dengan mudah.
"Bola Taufan!"
"Cih! Pelindung Halilintar!"
Dua elemen beradu, bola angin berputar menghantam perisai petir merah berbentuk kubah yang melingkupi seluruh tubuh Halilintar. Sama kuat, lantas saling meniadakan. Tidak seperti biasanya, Taufan kelihatan sangat bernafsu untuk melepaskan serangan demi serangan. Dan Halilintar menyadari hal itu.
"Gerakan Kilat!"
Tak mau buang waktu dan tenaga, sosok Halilintar lenyap, lalu muncul lagi di belakang Taufan. Ia sudah siap dengan serangan berikutnya, tetapi hal itu sudah terbaca oleh lawan.
"Bola Kilat!"
"Perisai Taufan!"
Angin berputar dalam wujud bola melingkupi Taufan, mementahkan dua bola petir yang dilempar ke arahnya. Halilintar berdecak samar, lalu melompat beberapa kali ke belakang, mengambil jarak. Taufan tidak tinggal diam, terus mengirimkan serangan angin tajam, yang terpaksa dihindari saja oleh Halilintar.
"Penakut!" tiba-tiba Taufan berseru. "Kau memang lemah!"
Amarah Halilintar langsung terpantik, tetapi ia tak membalas dengan kata-kata. Langsung dengan mempersiapkan serangan balasan. Taufan pun merasakan energi besar yang mengancam, membuatnya bergegas menghimpun serangan baru yang tak kalah kuatnya.
"Tombak Halilintar!"
"Cakhra Udara!"
"BERHENTI!"
.
Oo)=======o=======(oO
.
Taufan masih berada di halaman belakang sekolah. Sendirian. Halilintar sudah pergi sejak tadi. Sementara, Taufan masih berusaha menenangkan diri. Duduk di bawah pohon paling besar dan rindang di tempat itu.
Apa tadi itu?
Taufan tak habis pikir dengan dirinya sendiri. Samar-samar ia masih ingat pertengkarannya dengan Halilintar. Ia sadar telah membiarkan emosi menguasai dirinya. Membiarkan isi hatinya keluar tanpa disaring. Namun, setelah itu pikirannya berkabut.
Bertarung dengan Halilintar.
Kemudian Gempa datang, menghentikan mereka.
Lalu ... ia dan Halilintar mengabaikan Gempa. Kembali bertarung. Dan gara-gara itu ... Gempa terluka.
Gempa terluka.
Taufan tersentak. Benar. Gempa! Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja?
Aku nggak mau tahu lagi. Terserah kalian saja.
Tiba-tiba ucapan Gempa memenuhi benak Taufan. Menyakitinya tanpa terhindarkan. Tidak, bukan. Dia bukan marah atau kecewa pada Gempa. Justru sebaliknya, dua perasaan itulah yang kini tertuju kepada dirinya sendiri.
Taufan memeluk lutut, setengah menyembunyikan wajah di antara kedua lengan. Sepasang netra birunya berkaca-kaca. Sungguh, ia mencemaskan Gempa. Tapi ... kalau pulang sekarang, dia tidak tahu harus pasang wajah seperti apa di hadapan Gempa.
"Ng?" Taufan mengangkat kepala ketika tiba-tiba mendengar nada sederhana dari Jam Kuasa miliknya. Menandakan ada hubungan komunikasi yang mencoba masuk. Ketika melihat layar jam, ia tahu siapa yang menghubunginya. "Yaya?"
Taufan bergeming. Yaya pasti masih bersama Gempa. Orang sebaik Yaya, tidak mungkin akan meninggalkan orang yang sedang terluka sendirian. Minimal, Yaya pasti akan merawat Gempa. Atau menunggu Tok Aba dan Ochobot pulang.
Menit berganti, dan panggilan dari Yaya terputus dengan sendirinya. Namun, tak lama kemudian, gadis itu kembali menghubungi. Taufan pun sekali lagi membiarkannya jadi panggilan tak terjawab.
Ngapain sih, aku ini?
Taufan mendesah. Ia lalu meraih tas selempang warna biru miliknya, yang sejak tadi tergeletak di tanah, tak jauh dari tempatnya duduk. Ketika ia akhirnya hendak beranjak, Jam Kuasa-nya kembali berbunyi. Kali ini ada pesan singkat yang masuk.
From: Ratu Biskuit
Kamu di mana? Kenapa nggak jawab panggilanku? Cepatlah pulang! Gempa sakit.
Taufan tersentak kecil. Mau tak mau hatinya dikuasai kecemasan.
"Aku harus pulang."
.
Oo)=======o=======(oO
.
Aku harus pulang.
Memang, Taufan sudah bertekad seperti itu beberapa menit yang lalu. Namun, ketika benar-benar sampai di depan rumah, nyalinya ciut. Tok Aba dan Ochobot pasti sudah pulang. Mungkin mereka sudah tahu, apa yang telah diperbuatnya—bersama Halilintar—terhadap Gempa.
Dan tahu-tahu, Taufan memutuskan untuk masuk ke kamarnya di lantai dua, dari jendela yang tidak terkunci. Dengan hoverboard, itu mudah saja baginya. Meskipun ketika sudah berada di dalam kamar, Taufan jadi merutuki diri sendiri. Untuk yang kesekian kalinya.
Ngapain sih, aku ini?!
Taufan menghela napas. Ia meletakkan tasnya sembarangan di atas meja belajar, lantas menjatuhkan diri ke kasur. Meringkuk malas sambil memeluk guling. Sampai didengarnya suara langkah kaki yang menaikkan detak jantungnya setingkat lebih cepat. Halilintar? Ah, bukan. Suara langkah Halilintar lebih cepat dan ringan. Ini pasti Gempa.
Eh, tunggu. Gempa? Tak apa-apakah dia berjalan naik turun tangga? Berarti, dia sudah sehat? Diam-diam Taufan menarik napas lega. Lantas didengarnya Gempa masuk ke kamar paling ujung. Sunyi cukup lama. Sampai Taufan tiba-tiba mendengar suara isak tangis tertahan.
Hah—A-Apa?
Taufan sontak bangkit, terduduk di atas ranjangnya yang bernuansa biru-putih. Tak salahkah pendengarannya? Gempa menangis?
Taufan turun dari ranjang. Lalu mendekati dinding yang membatasi kamarnya dengan kamar Gempa. Saat itulah, dia mendengarnya.
"Hali brengsek ... Taufan bodoh ... Taufan gila ..."
DEG.
Detik itu juga, Taufan membeku. Seumur hidup, baru kali ini ia mendengar Gempa mengatai dirinya dan Halilintar. Sejauh apakah perbuatan mereka berdua telah melukai anak itu?
Tes.
Air mata Taufan jatuh. Ia menangis tanpa suara dengan hati terluka. Oleh penyesalan yang selalu datang terlambat. Ha ha ... Gempa bahkan menyebut namanya dua kali. Apa artinya itu? Apa Gempa lebih marah kepadanya daripada Halilintar?
Prak!
Taufan tersentak pelan. Suara apa itu? Datangnya dari kamar Gempa. Seperti ada benda jatuh. Atau ... Gempa yang menjatuhkannya? Sebesar itukah kemarahannya hingga Gempa yang lembut sampai merusak barang-barang? Taufan mulai cemas. Menilik sifat Gempa, mungkin dia bukan marah, melainkan sedih. Atau malah frustasi.
Ah ... Gempa menangis lagi.
Tidak bisa. Taufan tidak bisa terus berdiam diri kalau begini caranya. Dia harus ke sana. Dia harus mendatangi Gempa sekarang juga. Kalau perlu, dia akan bersujud memohon maaf.
Pokoknya harus!
.
Oo)=======o=======(oO
.
Meminta maaf pada Gempa tidak pernah sulit. Buktinya, si bungsu dari kembar tiga itu langsung memberikannya begitu diminta. Dengan begitu, setidaknya hati Taufan sudah terasa lebih lega.
Tapi ... masih ada masalah. Apa lagi kalau bukan soal Halilintar? Dia belum pulang juga, padahal sudah jam setengah lima lebih. Gempa sangat khawatir. Karena itulah, Taufan pergi untuk mencarinya. Yah ... sebenarnya bukan cuma Gempa, dia sendiri juga mulai cemas.
Mengendarai hoverboard, Taufan langsung menuju satu tempat yang menurutnya akan didatangi Halilintar. Melewati perkebunan karet. Bukit hijau kecil yang langsung menghadap laut. Tempat kenangan sekaligus kesayangannya bersama Halilintar dan Gempa.
Dia benar-benar ada di sana. Duduk membisu di dahan pohon besar, sembari menatap laut lepas. Entah apa yang dipikirkan pemilik iris merah delima itu. Ia bahkan tak menyadari kehadiran Taufan, sampai sang adik tiba di dekatnya.
"Hali!" Taufan berseru. Ia turun dari hoverboard, lantas menempatkan diri di dekat kakaknya.
"Cih!"
Halilintar yang melihat kedatangan Taufan, langsung melompat turun dari dahan yang letaknya tak sampai semeter dari tanah itu. Dia sudah berniat untuk pergi dengan Gerakan Kilat. Namun, dihentikan oleh Taufan.
"Jangan lari!"
Dua kata itu membuat Halilintar mengarahkan tatapan tajam kepada Taufan. Yang ditatap pun tak bisa mencegah jantungnya berdebar lebih kencang.
"Lari?" Halilintar mendengus sinis. "Kenapa aku harus lari?"
Taufan menarik napas panjang, menenangkan diri sejenak. "Hali ... maafkan ucapanku di sekolah tadi. Aku ... cuma mau mengajakmu pulang."
Halilintar membuang muka. Sama sekali tidak menyahut.
"Kumohon," tambah Taufan. "Gempa sangat mencemaskanmu."
Halilintar menggeretakkan rahang.
"Kalau Gempa yang cemas, kenapa kau yang datang?" tiba-tiba ia bertanya, dingin.
"Eh?"
"Nggak usah pura-pura peduli!" Taufan hanya melongo, sama sekali tak mengerti tatapan Halilintar yang dipenuhi amarah. "Tinggalkan aku sendiri."
"Hali ... aku peduli padamu ...," Taufan berkata dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa ... Kenapa kau bilang aku pura-pura—"
Grep.
Ucapan Taufan terputus ketika tangan kiri Halilintar mendadak terulur, mencengkeram kerah jaketnya di bagian depan. Sangat cepat, Halilintar sudah menghempaskan tubuh Taufan ke pohon di dekat mereka. Keras sekali. Taufan tak sempat bereaksi apa pun, selain merintih pelan. Tahu-tahu sang kakak sudah mendekatkan wajah ke telinganya.
"Aku benci padamu."
DEG!
Tiga kata yang dibisikkan Halilintar terasa bagaikan racun. Satu desiran tajam menyakiti dada Taufan. Benci ... 'Benci', ya? Akhirnya kata itu terucap juga. Taufan terpaku, menatap nanar tangan kanan Halilintar yang terangkat dalam posisi mengepal. Napasnya mendadak terasa sesak oleh tekanan perasaannya sendiri.
Apa? Halilintar akan memukulnya?
Kemudian Taufan melihatnya. Tatapan maupun ekspresi keras di wajah Halilintar mendadak berubah. Sulit digambarkan dengan kata-kata. Yang jelas iris merah delima itu berkaca-kaca, terpancang ke satu tempat. Taufan tersentak pelan. Ia cukup yakin, yang dilihat sang kakak adalah bagian lehernya, meski hanya sekejap.
Begitu, ya? Halilintar melihat bukti kelemahannya. Luka bakar yang disebabkan serangan petir lima tahun lalu, dan masih berbekas sampai sekarang walau tinggal samar-samar.
"HALI! TAUFAN!"
Taufan tersentak ketika tiba-tiba mendengar namanya dipanggil. Halilintar juga tak kalah kagetnya. Keduanya spontan menoleh dan melihat Gempa sedang berlari mendekat. Kenapa dia malah menyusul kemari? Padahal sudah disuruh tunggu di rumah.
"Cih!"
Halilintar menurunkan tangan kanannya yang masih terkepal. Tatapan matanya kembali dingin, sekaligus tajam menusuk. Ia hanya memandang Gempa sekilas, sebelum akhirnya berkelebat pergi disertai kilatan petir merah.
"Taufan!" Tatapan Gempa kini terfokus pada Taufan, sarat kecemasan. "Apa yang terjadi? Kamu nggak apa-apa?"
Taufan menggeleng pelan—
"Aku ... Le—Lebih baik ... kita pulang ... sekarang ..."
—lalu terkejut sendiri dengan suaranya yang bergetar. Ia baru sadar, jantungnya masih berdegup tak karuan. Tubuhnya pun gemetar.
"Oke. Tapi kamu jangan mengudara dalam kondisi begini. Jalan bareng saja denganku pelan-pelan."
Taufan hanya mengangguk. Ia tersenyum samar sekilas. Sinis. Gempa yang sangat perhatian itu, tentu saja bisa melihat dengan jelas, 'kan? Sama seperti bertahun-tahun lalu, Taufan merasa kesal dengan kelemahannya sendiri.
Kenapa? Kenapa selalu begini? Kenapa dirinya tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar?
Taufan benci menjadi lemah. Karena itulah, dia selalu ingin lebih kuat. Lebih daripada Gempa. Bahkan Halilintar. Supaya tak ada lagi yang harus tersakiti.
Apa itu salah?
.
Oo)=======o=======(oO
.
"Lho? Mati, ya? Sejak kapan?"
Taufan baru mengecek ponselnya setelah selesai mengerjakan PR. Serta-merta ia teringat, ponsel ber-casing gradasi biru yang sama dengan motif hoverboard miliknya itu, memang sudah lowbat sejak menerima pesan singkat dari Halilintar siang tadi. Pantas saja, Yaya jadi terpaksa menghubunginya lewat Jam Kuasa.
Tok. Tok.
Dua ketukan pelan di pintu kamarnya, mengagetkan Taufan.
"Taufan, makan malam sudah siap. Ayo, turun dulu!" sebuah suara robotik terdengar dari balik pintu.
"Oke, Ochobot!"
Taufan segera turun ke lantai satu setelah mengambil charger, lalu meninggalkan ponselnya untuk diisi daya. Dilihatnya semua anggota keluarga sudah siap di meja makan. Ia hanya mengernyit samar, ketika menyadari Halilintar mengambil tempat duduk di samping Tok Aba. Biasanya Gempa yang duduk di situ. Gempa sendiri duduk di hadapan Halilintar, berseberangan meja. Alhasil, Taufan kebagian satu-satunya tempat yang masih tersisa, berhadap-hadapan dengan kakeknya.
Tok Aba memimpin doa sebelum makan seperti biasa. Sementara Ochobot menonton TV di ruang keluarga merangkap ruang tamu—karena robot tidak butuh makan—juga seperti biasa. Yang tidak biasa malam ini adalah si kembar tiga yang makan dalam diam.
"Kalian kenapa?"
Akhirnya Tok Aba menegur. Beliau baru saja selesai makan dan hendak menyeruput teh di dalam gelasnya. Sebenarnya, sang kakek senang-senang saja bisa makan dengan tenang. Biasanya meja makan selalu ramai oleh perbincangan, perdebatan, sampai lelucon tak penting dari ketiga cucunya. Tapi kalau mereka diam seperti ini, rasanya malah aneh—bahkan mengkhawatirkan. Apalagi Taufan yang biasanya tidak bisa diam.
"Apanya yang 'kenapa', Atok?" Gempa menaikkan alisnya sedikit. Dia baru saja menelan satu suapan terakhir dari piringnya, lantas meraih gelas berisi susu cokelat di hadapannya.
Tok Aba mendesah pelan. "Kamu dari tadi melamun terus, sampai-sampai tidak sadar ada yang aneh."
"Eh? Iyakah? He he he ..." Gempa tertawa kecil. "Maaf, Tok."
Tok Aba menghela napas sekali lagi, lalu menatap Halilintar dan Taufan bergantian. "Kalian berdua kenapa?"
Halilintar yang sedang meneguk kopi susu dari gelasnya, tampak terkejut. Taufan yang baru menyelesaikan makannya, juga tersentak pelan.
"Nggak kenapa-kenapa kok, Atok," Halilintar dan Taufan menyahut bersamaan.
Tok Aba mengerutkan kening ketika melihat Taufan yang salah tingkah, lalu buru-buru meminum susu putih di gelasnya. Sedangkan Halilintar melanjutkan minum sambil melihat ke arah lain.
"Memang biasa kalau sesama saudara kadang-kadang bertengkar." Tok Aba menatap penuh arti kepada Taufan, lalu Halilintar. "Tapi jangan lama-lama. Ya?"
"... Iya, Tok," hanya Taufan yang menyahut. Itu pun setelah diam dua-tiga detik.
"Dah, dah. Kalian selesaikan dulu minumnya." Tok Aba beralih memandang si bungsu. "Gempa, kamu masih tidak enak badan?"
Gempa menggeleng. "Gempa sudah baik, Tok. Cuma dari tadi ngantuk terus."
"Ya sudah. Habis ini langsung istirahat. Mungkin kamu kecapekan."
"Baik, Tok."
.
Oo)=======o=======(oO
.
Tak sampai sejam setelah makan malam, Taufan sudah berbaring-baring santai di kamar. Ia sedang membaca-baca materi pelajaran sejarah untuk esok hari. Tapi baru sebentar, ia sudah bosan, lantas mengembalikan buku teks tebal itu ke dalam tas.
"Oh, iya ... ponselku ..."
Taufan mengambil telepon genggamnya yang sudah terisi penuh. Setelah menyimpan charger, pemuda itu kembali berbaring santai sambil menyalakan ponsel miliknya.
Waa ... banyak banget panggilan tak terjawab dari Yaya!
Taufan kaget sendiri begitu mengecek ponselnya. Mungkin Yaya mencoba menghubunginya saat ia masih galau sendirian di halaman belakang sekolah. Setelah pertengkarannya dengan Halilintar. Waktu itu, ponsel Taufan memang ada di dalam tas. Sepertinya ponsel itu mati setelah ditelepon Yaya berkali-kali.
"Ng?" Taufan sedang mematikan mode getar—yang diaktifkannya setiap kali berada di sekolah—ketika sebuah pesan singkat masuk. "Gopal?"
Wajah Taufan berseri-seri ketika ia membuka pesan dari sahabat gempalnya itu.
From: Tukang Makan
Yo, kawan baikku! Waktunya chatting.
Sambil tertawa kecil, Taufan menyalakan koneksi mobile internet di ponselnya. Saat membuka aplikasi chatting, sudah ada notifikasi obrolan baru dengan Gopal yang memakai username 'AnakMurid_Kebenaran'. Walau agak aneh, tapi masih mending daripada Taufan yang username-nya 'Taufan_Handsome'.
Apa kabar di sana?
Tadinya aku mau group chat bareng yang lain juga. Tapi Yaya sibuk. Halilintar katanya males. Gempa gak ada respon. Ying apalagi, susah banget hubungi dia.
Taufan tersenyum membaca curhat dadakan Gopal. Ia pun segera mengetik jawaban.
Kabar baik.
Gempa dah tidur. Dia sakit, tau.
Balasan dari Gopal datang secepat kilat.
Gempa sakit? Tumben. Sakit apa?
Gopal mengirim pula stiker bergambar kartun-entah-apa bermuka cemas.
Cuma masuk angin, kok. Mungkin kecapekan juga.
Taufan diam setelah mengirim jawaban itu. Sangat tergoda untuk curhat pada Gopal soal kejadian hari ini. Dilihatnya Gopal mengirim ucapan semoga cepat sembuh untuk Gempa. Taufan pun membalas dengan ucapan terima kasih.
Sepi deh di sini, sejak kamu pindah ke Serawak 3 tahun lalu. Ying juga ikut program pertukaran pelajar ke negara tetangga ...
Tahu-tahu Taufan mendapati dirinya sudah mengirimkan dua kalimat memelas itu.
Kamu rindu padaku? Terharunyaaa ...
Taufan tertawa spontan membaca balasan Gopal disertai stiker kartun lebay berurai air mata.
Apa boleh buat, aku harus ikut Apak aku yang pindah kerja kemari.
Eh, bentar ... Ying belum balik?
Taufan mengangkat sebelah alisnya, baru mengetik jawaban.
Ish! Kamu niy ... Kan udah kubilang, Ying baru pulang semester depan.
Gopal mengirim stiker kartun dengan wajah merona malu.
He he ... Aku lupa.
Terus? Kamu tadi mau curhat apa?
Taufan tersentak. Kapan dia pernah bilang mau curhat?
Curhat apaan?
Kali ini Taufan ikut mengirim stiker kartun chibi* yang wajahnya bertanya-tanya.
Ck ck ck ... Kamu yang biasanya ceria tiba2 mellow gaje. Pasti lagi ada masalah, kan? Dah lah ... ceritakan pada kawan baikmu ini.
Taufan bimbang sejenak. Setelah beberapa detik, barulah ia mulai mengetik. Diceritakannya insiden di antara dirinya dan Halilintar yang melibatkan Gempa.
Dey! Kamu tu mau curhat apa mau nulis cerpen? Masih typing aja ...
Taufan tertawa kecil, lantas menyelesaikan ketikannya sesingkat dan sejelas mungkin. Taufan menghela napas setelah—akhirnya—menyentuh tombol 'Kirim'. Kali ini, Gopal butuh waktu lama sebelum membalas.
Parah. Maksudku kamu dan Halilintar.
Mungkin Gempa sudah sakit waktu itu. Terus, harus menahan serangan kalian. Kalau bukan karena sarung tangannya itu, dia pasti sudah luka parah!
Taufan tercenung membaca kalimat demi kalimat temannya yang terkadang memang suka blak-blakan itu. Tapi dia juga mengerti, Gopal memang benar. Dirinya dan Halilintar memang sudah kelewatan.
Kalau Gempa sih, aku yakin udah maafin kalian.
Udahlah, besok kalian baikan aja. Gak baik marahan sama saudara sendiri. Habis tu, gak usah galau2 lagi, OK?
Taufan tersenyum tipis.
Tapi kaaan ... Hali sereeem ...
Sebuah stiker setan merah menyeringai dengan trisula di tangan, dikirimkan oleh Taufan.
Halah ... Sama abang sendiri masa' takut?
Halilintar gitu2 sayang sama kamu dan Gempa. Dia kan tsundere** ...
Tawa kecil Taufan kembali terpancing membaca balasan Gopal.
Dey! Dah panjang chat kita. Dah lah, aku ngantuk nih. Kapan2 sambung lagi, ya?
Met tidur.
Senyum masih terukir di bibir Taufan ketika ia mengirimkan balasan terakhir.
Oke. Thanks yah. Terbaik lah Gopal.
Met malem.
Taufan merasa suasana hatinya sudah membaik ketika akhirnya meletakkan ponselnya di meja kecil di samping ranjang. Semua kata-kata Gopal sesungguhnya sudah dipahaminya dalam hati, tanpa perlu diberitahu oleh siapa pun.
Ya. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukan. Mungkin yang diperlukannya saat ini hanyalah dukungan dari seseorang. Supaya dia bisa memberanikan diri. Diam-diam Taufan bersyukur, Gopal menghubunginya di saat yang tepat.
Dengan senyum mengembang, Taufan memejamkan mata sambil memeluk guling. Dia yakin bisa tidur nyenyak malam ini. Dan besok ... dia bertekad akan menyelesaikan semuanya dengan Halilintar.
.
.
Bersambung ...
.
Keterangan:
* chibi atau super-deformed, adalah gaya gambar karakter dengan proporsi badan kecil dan kepala besar untuk menimbulkan kesan imut dan lucu
** tsundere, adalah istilah dalam bahasa Jepang untuk menyebut seseorang yang suka bicara kasar dan pedas, tetapi sebenarnya bermaksud baik dan bersifat penyayang
.
*Author's Note*
.
Taufan: Huweee ... Sedihnyaaa ... Kenapaa ... Hali tega bangeeet~ *nangis bombay*
Halilintar: Oi! Kenapa peran aku jadi kakak jahat macam begini? Macam sinetron Ratapan Adik Tiri aja ...
Gempa: Emang ada? *sweatdrop* Lagian mana ada adik tiri? Kita kan kembar.
Taufan: Bwahahaha ... Ratapan Adik Tiri~ *ngakak guling-guling*
Halilintar: Berisik, woy!
.
Oh, hai semuanya~! Abaikan tiga anak tadi (Hali: Oi!). Setelah 'libur' sejenak, akhirnya chapter ini terbit lumayan panjang. Oh, ya ... kalau arc Gempa kemarin ada dua bagian, arc Taufan ini nanti akan ada tiga bagian. ^_^
Mulai arc Taufan ini, alur terkadang akan mundur lagi, tapi dari sudut pandang karakter yang berbeda. Kayak di chapter ini. Yang kemaren-kemaren penasaran apa sebenarnya penyebab Hali dan Taufan sampai berantem, dah terjawab yah ... Walau masih rada gaje gara-gara Hali~ :3 *death glare by Hali*
Dan Gopal kumunculkan juga di sini meskipun cuma lewat chat. Intermezzo habis yang sedih-sedih.
Okee ... jumpa lagi di chapter selanjutnya. :")
.
Regards,
kurohimeNoir
12.08.2017
