The Kim

Story By: Secii / Eunhacii

Cast: Kim Minseok (Xiumin), Kim Joonmyun (Suho), Kim Jongdae (Chen), Kim Jongin (Kai). Other Cast will appear.

Ide dan Cerita murni milik saya, maaf bila bertebaran typo

Happy Reading! ^^

Gedung untuk penyeleksian murid berbakat terletak di sebelah utara area akedemi itu, berjauhan dengan gedung para Viridis dan Caerulus yang berada di bagian selatan. Setelah yakin dengan semuanya, yaitu penyamarannya sebagai Byrrus dia berjalan santai menuju gedung untuk tes

"Hey! Kau akan mengikuti tes penyeleksian murid berbakat juga? Kenalkan aku Lay" Chen tersentak kaget ketika ada yang menepuk bahunya dan menyapanya

"Uhh..mm..Chen" anak laki-laki itu tersenyum simpul

"Kau…ruangan berapa? Kenapa aku jarang melihat mu?" Chen menelan ludahnya dengan susah payah, ayolah otak bekerja! Serap baik-baik dan olah data yang telah Fornax beritahukan sebelumnya (tentunya setelah les singkat mengenai strategi perang yang ia berikan cuma-cuma untuk Fornax)

"Byrrus…2" anak laki-laki bernama Lay itu mengangguk-ngangguk

"Pantas! Aku Byrrus 1! Jadi kita jarang bertemu…apa kekuatan mu?" Syukurlah! Setidaknya dia ingat bahwa Lay dari kelas Byrrus 1

"Petir…aku mengendalikan dan membuat petir"

"Oh… Aku menyembuhkan…aku dapat menyembuhkan orang dan menyembuhkan diriku sendiri…" Chen mengerjap-ngerjapkan matanya, bakat unik yang pasti akan lulus dengan mudah…berarti termasuk saingan

"Eximius…" tanpa sengaja Chen mengeluarkan isi pikirannya, Lay terkekeh mendengarnya

"Terimakasih Chen, lebih baik kita bergegas" Lay menggandeng lengan Chen menuju gedung dimana diselenggarakan tes penyeleksian murid berbakat.

-#-#-#-

"Berjuang Suho! Kalau kau sampai dikirim ke akademi jangan lupakan teman-teman mu yang harus mengikuti ujian untuk menjadi Aurum!" teriakan lantang Felix dan lambaian tangan Kris seperti menjadi pengiring perjalanannya menuju gedung yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari area para Canens, karena tes ini memang ditujunkan untuk para Canens maupun Byrrus akhir. Perjalanan menuju gedung tidak memakan waktu yang lama dan gedung itu cukup dikenali dengan bentuk gedung yang menyerupai rumah kaca berbentuk bola, dari luar gedung itu hanya terlihat seperti bola raksasa transparan yang isinya hanya udara namun sebenarnya gedung tersebut sudah dipasang kabut kamuflase yang menutupi dalam gedung itu yang berisi peralatan-peralatan untuk tes bakat yang hari ini akan diadakan.

Suho memasuki gedung menuju tempat pendaftaran yang dijaga oleh dua Aurum yang ia kenal

"Rapmon! JR!" kedua Aurum itu melemparkan senyuman kearah junior yang hanya berbeda satu tahun dari keduanya

"Hey Su! Kau ikut tes ini? Sudah mampu membuat air terjun?" Suho mengisi daftar yang diberikan Rapmon lalu tertawa mendengar celetukan JR

"Kita lihat saja nanti…sampai aku berhasil traktir aku, Felix dan Kris. Bagaimana?" JR dan Rapmon bertukar pandangan sejenak

"Baiklah aku setuju, dengan syarat kau masuk seleksi" Suho tersenyum lebar dan menjabat tangan JR

"Awas saja nanti!"

-#-#-#-

"Nomor urut 7!" Chen menelan ludahnya dengan gugup, jantungnya berdebar dengan kencang seiring dengan langkahnya memasuki ruang pengujian

"Chen…jadi apa bakatmu?" penguji pertama langsung menanyainya, Chen memainkan jemarinya sambil mengumpulkan keberaniannya

"Petir. Aku mengendalikan dan membuat petir" sang penguji menganggukan kepalanya

"Baiklah silahkan mulai menunjukan bakatmu" Chen menarik nafas dan kemudian menghembuskannya, tangannya sibuk ia gerak-gerakan dan seketika bunga-bunga api keluar dari tangannya. Matanya berkilat-kilat seiring dengan petir yang keluar dari tangannya, ruang latihan itu seketika berisi suara gemuruh-gemuruh yang memekakan telinga. Catatumbo Lightning atau dikenal juga dengan Relampago del Catatumbo. Dimana petir setinggi 5 km yang terjadi 140 sampai 160 kali. Kali ini Chen mengumpulkan seluruh tenaganya untuk menciptakan Relampago del Catatumbo dan…berhasil!

Selesai dengan pertunjukan petirnya sang penguji mendecakan lidahnya kagum

"Kami dengar kau senang membaca dank au tertarik dengan bidang biologi, apakah itu benar?" Chen menganggukan kepalanya lemah, keringat mengucur dari pelipisnya dan nafasnya memburu karena kelelahan

"Benar.. sejauh ini saya telah menciptakan beberapa obat dan sepertiny efektif. Hasil dan wawancara dengan sample sudah saya buatkan laporan dan saya rasa anda sudah membacanya" para pengiju mengangguk mendengar penuturan Chen

"Baiklah kita lihat hasilnya minggu depan Chen, semoga kau berhasil" anggukan lemas hanya bisa menjadi jawaban baginya, dia yakin malam ini dia akan tidur cepat

-#-#-#-

Bulan tampak memerah di dalam kelamnya langit malam Confundo Planet, rumah-rumah sudah terlihat terang sepanjang jalan walau kerlipnya tidak secerah biasanya. Disalah satu sudut jalan terlihat bangunan bewarna crème yang dari luar terlihat hangat, sesekali terdengar tawa tergelak meskipun saat di tengok kedalam hanya berisi 3 laki-laki.

"Yak! Kenapa kau selalu mengkalahkan ku?!" Jongin. Lelaki yang baru menginjak usia 11 tahun itu mengusap dahinya yang kemerahan akibat sentilan kakak lelakinya. Jongdae.

"Dewi Fortuna jatuh cinta kepadaku makanya aku selalu menang"

"Aku meragukan itu, Dewi Fortuna pasti pilih-pilih jika ingin menurunkan rahmatnya " cibiran Jongin membuat Jongdae menatapnya tajam

"Jongin! Jongdae! ayo makan dulu!" teriakan dari arah dapur membuat keduanyan menoleh, aroma yang mengundang selera dan membuat liur mereka berdua nyaris menetes seperti mengundang mereka untuk segera berlari ke meja makan

"Makan~!" dengan secepat kilat Jongin berlari kearah dapur diikuti dengan Jongdae dibelakangnya, keduanya mengambil duduk dan segera mengambil makanan yang terhidang

"Jangan ribut dan berdoa dulu Jongin!" Jongin yang tengah mengambil potongan fillet ayam langsung menunduk dan berdoa.

Acara makan berjalan dengan hikmat, ya walaupun tidak begitu hikmat mengingat Jongdae dan Jongin sibuk melakukan food fight yang membuat Joonmyun hanya bisa menggelengkan kepalanya

"Ujian mu sudah mulai dekat kan Jongdae?" suara Joonmyun membuat keduanya terhenti, mendengar kata-kata ujian mengingatkan mereka akan pembicaran mereka di halte bus

"I…iya…ada apa memang kak?"

"Tidak mempersiapkan?" senyum kikuk tercetak dibibir Jongdae, membicarakan ujian bukan hal yang biasa dilakukan kakaknya

"Mm…sudah…kakak seharusnya khawatir terhadap Jongin kan?" Jongin mendelikan matanya kearah Jongdae, dia masih belum mahir mengendalikan kekuatannya dan dia tidak ingin mendapat ceramahan panjang lebar dai Joonmyun

"Aku khawatir terhadap kalian berdua malah, tadi siang Kris dan Felix membicarakan anak didik mereka. Fornax teman sekelasmu yang manja serta Ventus teman sekelas Jongin yang susah diatur"

"Lalu? Ada apa dengan semua itu?"

"Aku mengikuti tes penyeleksian bakat sore ini…aku harap kalian tidak keberatan" seperti menelan batu, tenggorokan Jongdae terasa sakit saat menelan. Tes itu juga diikutinya sore tadi dan tentu saja tanpa sepengetahuan Joonmyun!

"Tidak sama sekali kak, kami bangga kalau kakak dapat maju ke medan perang seperti kak Minseok! Aku akan menjaga kak Jongdae dengan sepenuh hati!" celetukan Jongin membuat Jongdae menghembuskan nafas lega, setidaknya focus kakaknya berubah ke Jongin tapi celetukannya itu agak menyebalkan menurutnya

"Hei! Harusnya itu perkataanku adik sialan!" ketiganya tergelak bersama, dalam hati Jongdae hanya bisa bersyukur adiknya cukup peka terhadap arah pembicaraan ini dan mimik tegangnya.

"Hei kau berhutang satu pada ku kak" seusai makan Jongin mendekati Jongdae yang tengah asyik dengan buku yang ia tekuni

"Berhutang? Kau sangat perhitungan sekali terhadap kakakmu" Jongin merebahkan diri disamping Jongdae, keheningan menyelubungi mereka, Jongdae kembail menekuni bukunya namun fokusnya tidak tertuju kepada buku yang ia baca, fokusnya tertuju kepada pembicaraan mereka tadi di meja makan

"Kak, kenapa perang tidak berakhir? Apa yang sebenarnya dicari oleh mahluk busuk itu?"

"Confectrix maksudmu? Entahlah… banyak yang bilang karena kedamaian planet kita yang membuat mereka iri"

"Jalan pikir mahluk itu aneh"

"Lebih baik kau bersiap untuk ujian mu, kau termasuk pure atau eximius daripada memusingkan mereka Jongin" Jongdae menatap malas adik bungsunya yang balik menatapnya jengkel

"Ish, kau malah mengingatkan ku soal itu! Kau sama sekali tidak asik kak!" bantal melayang kearah Jongdae yang langsung menyambarnya hingga hangus, abu hitam menggantikan keberadan bantal tersebut dan bau kain terbakar memenuhi ruangan tersebut

"Kim Jongdae! Kim Jongin! Demi para dewan apa yang sebenarnya kalian lakukan?!" teriakan lantang terdengar dari ruang belajar milik ayah dimana Joonmyun biasa menghabiskan waktu

"Hanya bermain-main kak, kakak sibuk saja dengan buku-buku milik kak Minseok" Jongdae menjawab teriakan Joonmyun, matanya yang beriris emerald-ruby melirik kearah Jongin

"Ayo latihan, aku sendiri belum tahu kekuatanmu apa, adik manis".

Udara malam Confundo membuat tubuh Jongin menggigil sedikit, walaupun dingin, tubuh Jongin terasa seperti orang yang terpapar sinar matahari terlalu sering. Kering.

"Kak kenapa udaranya sangat kering? Aku langsung merasa haus"

"Ini kenapa kita tidak boleh keuar pada malam hari, udara Confundo memang tidak bersahabat dan jangan coba-coba menatap langsung kearah bulan, matamu bisa buta"

"Tapi iris mata kita memang diciptakan agar kebal terhadap cahaya, lagipula cahayanya redup"

"Radiasi yang diciptakannya bisa membunuh mu idiot, tidak pernah tahu akan hal itu?" Jongdae memainkan jemarinya dan menciptakan kilat-kilat kecil

"Jadi sebenarnya kekuatanmu apa Jongin? Kau selalu menjawab belum menemukannya"

"Aku memang belum"

"Konyol, semua anak yang sudah hampir tamat dimasa Viridis pasti telah menemukannya"

"Anggap saja aku tidak akan lulus tahun ini" Jongin mendengus kearah kakaknya, Jongdae sungguh menyebalkan jika sudah membicarakan hal-hal berbau kekuatan dan sekolah. Seketika segaris cahaya perak hampir mengenai kakinya, Jongin menghindar seketika

"Kau gila kak!? Kakiku hampir hangus oleh kilatmu!" Jongdae tidak peduli akan teriakan adiknya, dirinya sibuk melancarkan aksi serangan bertubi-tubi kearah Jongin yang sedari tadi hanya menghindari serangan kakaknya, untungnya ia gesit kalau tidak mungkin kaki atau bahkan sekujur badannya sudah menghitam

"Keluarkan kekuatan mu idiot! Kau tidak merasa haus eh? Udara disini panas bukan?" peluh membanjiri keduanya, tenggorokan mereka terasa kering layaknya lahan yang mengalami kemarau berkepanjangan

"Tidak! Hentikan kegilaan mu kak! Kau konyol!"Jongin merasa terdesak karena Jongdar tak kunjung selesai menyerangnya, pikirannya kalut dan seketika pikirannya terfokus untuk lenyap dari Jongdae, fokusnya menciptakan udara disekitarnya menyusut, semakin menyusut dan kemudian menekannya hingga ia terhisap dan seketika lenyap dari pandangan Jongdae, Jongdae mengerjapkan matanya, kaget dengan mendadak hilangnya Jongin dari pandangannya, matanya sibuk mencari sosok bocah berusia 11 tahun yang tadi sibuk meneriakinya agar berhenti menyerangnya dan duak! Hantaman keras dari belakang membuatnya terhuyung kedepan dan terjembab. Eximius… adiknya adalah Eximius pertama dikeluarga mereka.

-RnR-