Warning:GAJE, OOC, [miss]TYPO, AU, adegan kekrasaan, dll.
Flame jangan tapi kalau concrit sangat boleh^^
Disclaimer:Naruto © Masashi Kishimoto
Rated:M
Pairing:SasuSaku
Genre:Hurt/comfort & Romance
.
.
.
.
.
Chapter 4: Come Closer.
Sakura berangkat ke sekolah dengan mata yang sepertinya hanya berfungsi lima watt saja. Selama ini dia memang sudah terbiasa bekerja di café hingga larut malam tetapi tidak pernah dia merasa semengantuk ini, pasalnya dia harus mengerjakan terlebih dahulu semua tugas yang telah diberikan oleh Mei sebelum pergi untuk tidur dan akhirnya setelah berhasil mengerjakan pekerjaan rumah Mei, Sakura tanpa sengaja tertidur di atas meja dan kemudian terbangun saat merasakan air dingin mengguyur wajah dan tubuhnya sehingga membuat seluruh tubuhnya basah kuyup.
Jadilah sekarang dia di sini dengan keadaan wajah yang terlihat sangat lelah dan mengantuk karena hanya tidur selama kurang lebih satu jam. Biasanya kalau keadaan memaksa, Sakura memilih tidak tidur sema sekali dari pada harus merasa pegal-pegal paginya karena kurang tidur dan tidak bisa membantunya untuk berkonsetrasi pada pelajaran seperti saat ini.
Sakura beberapa kali menguap dan menutupi wajahnya dengan tangan saat Anko-Sensei menerangkan beberapa pembahasan materi mengenai pelajaran yang sedang berlanjut sekarang ini. Perutnya berteriak ria memprotes ingin segera di-isi, sementara masih ada satu jam lagi sebelum bel tanda istirahat berbunyi. Sakura mengalihkan tatapanya ke arah tempat duduk Sasuke yang kosong, rupanya hari ini tuan muda Uchiha itu sengaja tidak masuk kelas.
Hanya ada Naruto yang biasanya tidak bisa diam sekarang mendengarkan ceramah Anko-Sensei dengan khidmat. Ada juga Neji yang sepertinya sama sekali tidak peduli denngan apa yang dikatakan oleh guru yang ada di depan kelas, Gaara yang menatap papan tulis dengan pandangan kosong yang menusuk dan juga shikamaru yang kurag lebih bernasib hampir sama dengan dirinya, yakni menguap dengan memasang wajah bosan yang menjadi ciri khasnya. Sedangkan Sai, entah berada di mana sekarang.
"Baiklah. Aku akan mengumumkan pembagian kelompok untuk tugas minggu depan!" kata-kata Anko-Sensei berhasil menyita semua kepala yang berada didalam kelas itu.
Banyak murid yang mengeluh kecewa karena tidak berpasangan dengan siswa yang mereka harapkan, kebanyakan adalah anak perempuan yang sangat antusias bisa berdekatan dengan Sasuke dan teman-temanya. Dan tidak sedikit juga yang berteriak gembira karena harapan mereka terkabul namun semua itu segera berganti menjadi dengungan keputus-asa-an saat Naruto dengan kesal berkata bahwa dirinya sama sekali tidak ingin dipasangkan dengan siapa-pun kecuali kekasihnya yang tercinta. Hyuga Hinata! Dan hal itu juga disetujui oleh ke-tiga temannya. Bahwa mereka akan memutuskan sendiri dengan siapa mereka berpasangan.
Jadilah keputusan akhir!
Shikamaru dengan Temari.
Naruto dengan Hinata.
Neji dengan Tenten. Yang adalah gadis tomboy yang sepertinya tidak tertarik dengan pria manapun hingga membuat Neji sangat yakin kalau bersama gadis itu dia tidak harus merasakan ketakutan kalau-kalau dirinya diserang dengan brutal seperti yang kerap terjadi kalau fans-nya berada didekatnya. Lagipula dia sudah mengenal Tenten sejak kecil.
Gaara yang dengan sangat terpaksa karena diperintah oleh Temari disertai dengan sedikit ancaman halus bersama dengan Matsuri yang notabene adalah tunangan yang telah dijodohkan dengannya.
Sai dengan….. tiba-tiba saja pria yang sekarang ini sedang berada digaleri seninya itu mengirimkan pesan singkat kalau dirinya ingin dipasangkan dengan gadis yang telah menjadi kekasihnya. Ino yamanaka yang sekarang berada diprancis demi menghadiri acara fashion show sebuah merek ternama sebagai model utama.
Dan terakhir. Uchiha Sasuke!
Semua gadis berteriak histeris sambil melayangkan protes saat mendengar bahwa sang pangeran sekolah dipasangkan dengan gadis yang mereka anggap sebagai hama yang telah mengotori kemewahan sekolah mereka. Karena memang hanya Sasuke dan Sakura yang tersisa dari hasil pemasangan tugas kelompok karena memang jumlah murid perkelasnya genap. Yakni 40 orang.
Yang paling tidak terima tentu saja Karin yang merasa dirinya-lah yang paling pantas berada di samping bungsu Uchiha itu karena dia adalah kekasih resmi Sasuke. Semakin bertambah saja kekesalan gadis berambut merah pada Sakura. Sedangkan Sakura sendiri bingung pada perasaaanya, antara senang karena dirinya mendapatkan kesempatan untuk bisa berdekatan dengan pria pujaan hatinya, walaupun hanya sekedar mengerjakan tugas kelompok, tapi disisi lain Sakura juga merasa takut karena tau dirinya tidak pantas berada sangat dekat dengan Sasuke.
"Tidak ada yang protes. Itu semua sudah menjadi keputusan ku. Kelas dibubarkan dan jangan lupa mengerjakan tugas kalin. Minggu depan sudah harus dikumpulkan!"
-SAKURA-
Sakura menggoyang-goyangkan tabuh berisi cairan reaksi kimia berwarna merah menyala di dalam sebuah tabung kecil yang di jepit dengan menggunakan sebuah pinset panjang agar tidak bersentuhan langsung dengan kulit karena temasuk dalam cairan kimia yang cukup berbahaya apabila terkena kulit manusia.
Karin menyenggol lengan Sakura yang masih berkonsentrasi penuh menuangkan cairan berwarna merah itu dengan tangan gemetar ke dalam sebuah tabung kimia yang sudah berisikan cairan kimia yang tidak kalah berbahayanya hingga Sakura terpekik kaget karena perbuatan Karin dan akhirnya menjatuhkan tabung reaksi kimia itu dan menimpa tabung-tabung yang disusun berjejer di atas meja.
Terjadi ledakan yang cukup besar tapi tidak sampai menciderai siswa yang berada di satu ruangan yang sama dengan Sakura, terdengar suara pekikan histeris beberapa siswi tidak terkecuali Karin yang ketakutan karena tidak menyangka ternyata reaksi senyawa kimia yang akibat perbuatan dirinya terjatuh.
"Sa..Sakura menjatuhkanya Sensei." Adu Karin pada Ibiki-Sensei yang segera menghampiri tempat terjadinya ledakan. "Dia menjatuhkan tabung itu, Sensei."
Ibiki mengaraahkan tatapannya kepada Sakura yang hanya menunduk sambil memasang wajah bersalah karena hampir saja mencelakakan teman sekelasnya, walaupun hal itu sama sekali bukan kesalahanya.
"Apa benar itu Sakura? Kalau benar serperti itu, berarti kau telah bersalah karena hampir membahayakan teman-teman sekelas mu. Dan kau sangat terpaksa harus menerima hukuman atas keteledoranmu. Kau mengerti."
Sakura menjalani hukumannya dalam diam. Dia berdiri di samping koridor selama 30 puluh menit penuh dan setelahnya kembali kekelas, Sakura menarik nafasnya lega setelah terbebas dari hukuman yang terbilang memang cukup ringan dibandingkan hukuman yang pernah diterimanya dan bisa menikmati bento yang sudah disiapkanya tadi pagi.
Karin berjalan dengan di-iringi oleh temannya mendekat kearah Sakura yang asik menikmati makanannya dengan bara yang meletup dikedua matanya. Dia kesal dan merasa marah karena Sakura terus saja berada di samping Sasuke, terlebih lagi Karin merasa kecewa karena sepertinya Sakura selalu saja beruntung hingga bisa menarik perhatian pangeran Uchiha itu.
"Hei. Gadis jelek! Apa yang kau makan?" Tanya Karin dengan logat angkuh sambil mencibir kearah Sakura yang sepertinya sama-sekali tidak perduli pada keberadaan Karin disekitarnya.
"Iihh… makanan apa itu! Bentuknya aneh sekali, seperti makanan basi." Cibir salah satu teman Karin sambil memperhatikan makanan yang dibawa Sakura dengan wajah mengernyit jijik.
Sakura diam saja. Itu benar, makanan yang sekarang berada dihadapanya tentunya pasti akan membuat orang-orang yang terbiasa hidup serba berkecukupan seperti Karin dan teman-temannya akan mengatakan hal yang sama kalau melihat makanan sisa makan malam kemaren yang dibawa Sakura kesekolah sebagai bekal karena memang sudah tidak ada lagi makanan yang tersisa di dapur.
"Kau memang pantas memakan makanan sisa yang sudah basi seperti itu." Dengus Karin.
Karin menarik kotak makan Sakura yang masih bersisa setengah dari makanan yang telah masuk ke dalam lambungya dan menumpahkan makanan itu ke atas kepala Sakura hingga seluruh isinya tumpah dan mengotori rambut serta seragam sekolah yang dikenakannya, lalu kemudian melemparkan kotak makanan yang seluruh isinya tumpah hingga tandas kesembarang arah.
Sakura kaget atas tindakan Karin dan hampir saja marah tetapi kemudian gadis itu kembali menjadi seperti dirinya yang selalu pasrah karena berpikir dirinya sudah terlalu sering terlibat masalah dan tidak ingin menambahkan masalahnya dengan berurusan dengan gadis yang menyandang status sebagai kekasih pangeran sekolah.
Gadis yang berparas anggun itu beranjak dari tempat duduknya sambil mengacuhkan suara-suara ejekan dan hinaan yang terlontar dari mulut Karin dan teman-temanya lalu kemudian berjongkok mengambil kotak makanan yang tergeletak dilantai begitu saja. Belum puas, Karin mendorong tubuh Sakura yang masih sibuk memunguti sisa makanan yang berhamburan dilantai hingga terjerembab dan jatuh tersungkur di lantai dalam keadaan menimpa kaki seseorang yang tengah lewat.
"Uchiha san…!" Sakura segera berdiri dan membungkukan tubuhnya dengan khidmat. "Gomen ne."
Sasuke diam saja sambil memperhatikan rambut Sakura yang dipenuh nasi. Sakura yang merasa dirinya diperhatikan segera meraba kepalanya dan membersihkanya pelan-pelan seakan takut sisa nasi yang menempel dikepalanya mengenai tubuh Sasuke.
Ditatapnya Karin yang entah bagaimana berada di sampingnya dengan sangat ajaib dan sekarang sudah bergelayut mesra dilenganya dan sudah jelas bahwa gadis berkacamata itulah oknum utama pelaku penganiayaan terhadap Sakura saat ini. Sebuah ide tiba-tiba saja melintas di kepala Sasuke, sudah sangat lama dirinya berusaha lepas dari cengkraman nenek sihir yang satu ini. Dan kebetulan pula kejadian ini berlangsung di depan banyak mata, benar-benar sebuah kesempatan yang bagus, jadi kenapa tidak sekalian saja. Pikir Sasuke!
"Lepaskan Karin." Sasuke menarik lengannya yang dipeluk mesra oleh Karin dengan sedikit kasar hingga terlepas. "Mulai sekarang kita putus. Karena aku sudah tidak menginginkanmu lagi. Sebaiknya kau pergi."
Semua orang yang menyaksikan sekali lagi sang Uchiha menunjukan kuasanya seketika menahan nafas. Tidak terkecuali Sakura yang sempat terpana saat menyaksikan bagaimana dengan mudahnya Sasuke menyingkarkan seseorang dari hidupnya, belum lagi pernyataan kasar cowok itu akan menciptakan huru-hara berupa gossip panas tantang satu lagi tersingkirnya saingan berat para penggemar Sasuke dan sukses mebuat reputasi Karin hancur total. Kejadian ini tentunya akan melekat di-ingatan semua warga KHS dan menjadikanya bulan-bulanan gossip.
"Apa maksudmu Sasuke-kun?" suara Karin terdengar jelas seperti sedang berusaha keras menahah tangisnya agar tidak tumpah.
"Apa kata-kata ku kurang jelas.!" Sasuke berkata tegas tanpa ada rasa menyesal sama sekali.
Seketika itu pula Karin langsung berlari dari tempat itu dengan wajah yang dipenuhi oleh air-mata beserta juga dengan teman-temannya yang berusaha mengejarnya sambil sesekali meneriakan nama Karin agar gadis itu berhenti berlari.
Naruto dan yang lain sudah tidak merasa kaget ataupun shock seperti yang sering terjadi pada orang-orang yang menyaksikan sepak terjang teman mereka yang malang melintang diunia kebrengsekan. Neji mengulum senyumnya, satu lagi makhluk berisik menghilang dari kehidupannya, minus Naruto yang memang tidak akan pernah bisa dia singkirkan dari hidupnya. Walau bagaimanapun sibodoh jabrik itu tetaplah sahabatnya. Naruto juga senang-senang perempuan genit itu pergi, sedangkan Gaara seperti biasa sama sekali tidak berkomentar.
Sasuke berbalik meninggalkan tempat kejadian dengan diringi oleh tatapan heran den bertanya dari sebagian orang yang berada di sana saat kejadian, dan juga pandangan penuh dengan sinar harapan yang dipancarkan setiap penggemar Sasuke saat mengetahui impian mereke kembali melambung tinggi dengan status jomblo.
"Eum…. Namikaze-san." Suara Sakura yang terdengar sangat lemah terdengar di telinga Naruto dan membuat calon adik ipar Neji itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap wajah Sakura yang masih saja menunuduk.
"Tidak usah memanggilku seperti itu. Panggil saja Naruto. Dan aku akan memanggilmu Sakura. Boleh kan?"
Sakura mengangkat wajahnya, dan seulas senyuman lebar di wajah Naruto langsung menyambut penglihatanya.
"Hai… Naruto-san."
Naruto tersenyum lagi. Tidak heran mengapa sahabatnya yang terkenal dengan harga dirinya yang setinggi langit bisa sampai jatuh hati kepada gadis yang memiliki pancaran emerald yang sangat indah dan menggoda. Sakura memang secantik dan seanggun namanya.
"Ada apa?" Tanya Naruto ramah.
"Se…sebenarnya a…..aa…aku i…ingin minta bantuanmu." Tanya Sakura takut-takut.
"Memangnya apa yang bisa kubantu?" sepasang mata blue-ocean milik Naruto menatap Sakura dengan tidak sabaran.
"Bisakah kau memberitahukan pada Uchiha-san bahwa aku sekelompok dengannya untuk tugas Anko-Sensei."
"Cuma itu." Ucap Naruto.
"I…iya."
"Gampang saja. Tapi aku tidak mau!" ucapan Naruto membuat Sakura mengangkat tegak kepalanya memandang Naruto dengan tatapan heran.
"Eh…kalau begitu maaf sudah merepotkanmu Naruto-san." Wajah Sakura kembali menunduk, kali ini lebih dalam dari sebelumnya.
"Kalau kau ingin Sasuke tahu. Kau harus memberitahukanya sendiri. Dia tidak akan suka kalau kau menghindar, Sasuke bisa saja marah karena merasa terhina."
Sakura terdiam. Perkataan Naruto memang ada benarnya, awalnya dia merasa takut kalau-kalau Sasuke akan menolak untuk satu kelompok dengannya dan mengambil jalan nekat meminta bantuan salah satu sahabat Sasuke, sama sekali tidak memikirkan apakan Sasuke nantinya akan tersinggung atau tidak.
"Baiklah. Terimakasih Naruto-san!"
"Kalau kau ingin memberitahukannya. Sebaiknya secepatnya, karena Sasuke sangat sulit ditemui."
Mata Sakura terbelalak, dia memang sudah berusaha menyiapakan mentalnya untuk bertemu Sasuke. Tetapi tidak menyangka kalu dia harus melakukanya dalam waktu dekat.
"Kalau kau ingin bertemu dengannya. Dia sekarang pasti ada diruang rekreasi!"
"Hai…. Sekali lagi arigato."
"Apa yang dia bicarakan?" pertanyaan tajam langsung menyambut pendengaran Naruto begitu menghempaskan dirinya di samping Sasuke.
"Kalau aku bilang aku tidak ingin mengatakanya padamu, apa yang akan kau lakukan Teme?"
Naruto langsung menunjukan cengiran maut andalanya saat mendapati mata sahabatnya sedang menatapnya dengan kilatan kemarahan di-kedua bola mata onyx-nya .
"Bercanda Teme. Dia hanya ingin aku `menyampaikan kalau kalian sekelompok dalam tugas Anko-sensei. Dan aku bilang aku tidak mau, dan menyuruhnya menyampaikan sendiri hal itu pada-mu. Sebentar lagi dia pasti datang kemari!"
Sasuke diam saja sambil tetap mempertahankan image cool-nya. Padahal dalam hati cowok itu sudah tersenyum selebar-lebarnya dan berterima kasih sepenuh hati pada otak mampet Naruto yang ternyata masih berfungsi dengan baik. Tapi tentu saja tidak akan pernah dilakukanya hal itu.
Sakura berjalan menuju ke sebuah tempat yang mempunyai fungsi terpisah dari fungsi gedung utama sekolah, tempat di mana Sasuke dan teman-temanya selama ini menempatkan kesenangan diri mereka.
Sakura yang sekarang justru malah berdiri dengan bingung di depan sebuah pintu yang terbuat dari kaca dan membuka dengan sendirinya kalau ada seseorang yang melintas melewatinya. Dari balik pintu kaca itu terlihat ada sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu berbahan kualitas utama terbaik, pintu itu benar-benar besar dan mewah. Sakura sendiri heran bagaimana mungkin tempat se-mewah ini dibiarkan menjadi tempat pribadi untuk Sasuke. Tapi kalau mengingat reputasi dan status Sasuke yang adalah pemegang saham terbesar KHS tidak heran kalau sekolah ini sudah seperti miliknya sendiri.
"Hei. Gembel! Apa yang kau lakukan ditempat ini."
Sakura menolehkan kepalanya, ada beberapa orang gadis berdiri beberapa meter dari tempatnya berdiri sekarang. Gadis itu menyadari hal yang selama ini menjadi fokus perhatian Sakura dan lalu kemudian tersenyum meremehkan.
"Kalau kau ingin masuk ke sana. Sebaiknya jangan bermimpi, gadis rendah seperti mu tidak akan pernah pantas berada ditempat mewah seperti ini." Mereka tertawa mengejek kelemahan Sakura yang hanyalah seorang gadis biasa dengan nada yang sangat merendahkan.
Sakura menggigit bibir bawahnya. Gadis-gadis itu benar, dia memang tidak akan pernah pantas berada di tempat mewah seperti ini.
Pintu beperlitur mewah yang di jaga oleh dua orang bodyguard itu terbuka dan menampilkan sesosok pria muda bertubuh tinggi tegap yang sedang berjalan kerah Sakura dan gerombolan para gadis yang masih belum menyadari kehadirannya.
Sakura sempat terpekik kaget saat merasakan ada lengan kekar yang menarik lengannya bersamaan dengan terbukanya pintu kaca yang membatasi dirinya dengan keberadaan Sasuke. Gadis-gadis itu seketika terdiam saat tahu ternyata Sasuke-lah yang sekarang menggenggam lengan Sakura dan setengah menyeret tubuh gadis itu masuk kedalam ruang pribadinya.
Sasuke mendudukan Sakura disebuah sofa dengan sedikit paksaan, lalu kemudian mengambil tempat duduk persis didepan Sakura. Gadis itu mengedarkan pandanganya sekilas. Terlihat ada Naruto yang duduk didepan sebuah tv layar datar 42 inc sedang bermain game sendirian karena Shikamaru yang duduk disampingnya sudah tertidur dengan posisi tengkurap dan dalam keadaan memegang stick ps. Rupanya pemuda pemalas itu dipaksa Naruto menemaninya bermain video games dan kemudian tertidur.
"Untuk apa kau kesini?" Sakura tersentak sedikit saat mendengar suara baritone khas Uchiha.
"Ee…eto… aku hanya ingin menyampaikan kalau kau sekelompok dengan ku untuk tugas anko-sensei."
"Hanya itu saja?" Tanya Sasuke dengan sura yang terdengar sangat tenang, tapi dalam hati coowok itu mati-matian berusaha menahan degup jantungnya yang sudah tidak terkendali lagi.
Sakura mengangguk.
"Memang apa tugasnya?" Sasuke memperhatikan wajah Sakura yang tersembunyi karena terus menunduk sejak masuk tadi.
"Emm…. Kita di minta untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya tanaman yang berkhasiat untuk obat yang tumbuh di sekitar lingkungan sekolah. Minimal 100" Kali ini Sakura sudah lebih bisa mengendalikan suaranya yang terdengar gemetar agar tidak bicara tergagap.
"Kalau sedang berbicara, tatap lawan bicaramu. Jangan menunduk seperti itu." Tegur Sasuke tegas.
Sakura mengangkat wajahnya, yang pertama kali terlihat adalah sepasang bola mata obisidian yang sedang menatap tajam tepat dikedua manic matanya. Sakura terpesona, kedua mata itu memang sangat indah. Didukung dengan tubuh sempurna dan wajah yang sangat rupawan, Sasuke adalah hal terindah yang bahkan tidak pernah ada dalam bayanganya. Meskipun sudah lebih dari setahun Sakura sekelas dengan Sasuke, setiap hari melihat cowok itu meskipun dari jauh sama-sekali tidak bisa membuat Sakura berhenti mengagumi kesempurnaan Sasuke yang nyaris tanpa cela. Seketika wajah gadis itu memerah.
Sasuke menyadari dengan sangat jelas rona merah yang menjalari wajah Sakura saat bertemu mata denganya. Sebersit rasa bangga memenuhi rongga dada Sasuke hingga menghasilkan suatu perasaan sesak yang menyenangkan, kenyataan kalau tidak ada satu-pun yang sanggup menolak pesona sang Uchiha termasuk gadis yang sekarang berada didepanya.
Sentakan rasa bangga membuat seulas senyuman tipis mengembang diwajah Sasuke dan membuat Sakura lagi-lagi merasakan sensasi aneh yang berdesir dihatinya seperti ada ribuan kupu-kupu yang melayang beterbangan didalam perutnya.
"Lalu. Kapan kita akan mulai?" Tanya Sasuke sambil menyilangkan kedua kakinya dan memposisikan tubuhnya dengan nyaman.
"Mulai besok saja. Sepulang sekolah." Kali ini Sakura berusaha tidak menunduk saat berbicara walaupun gadis itu sudah berusaha menahan diri agar wajahnya tidak memerah saat bertemu muka dengan Sasuke, tetapi tetap saja tidak bisa.
"Hn."
Sakura menganggap 'hn-nya' Sasuke sebagai persetujuan atas usul yang dia ajukan.
Suasana seketika berubah menjadi kaku, Sakura bingung harus berbicara apa lagi karena memang tujuannya sejak awal kemari adalah ingin menyampaikan tugas itu. Sedangkan Sasuke merutuki dirinya yang memang sudah sejak awal terlahir sebagai manusia pelit kata, baru kali ini merasa dirinya benar-benar bodoh hingga tidak mampu berbicara pada Sakura bahkan sekedar untuk mengobrol, kadang-kadang dia merasa iri pada Naruto yang bisa berbicara sambil bercanda dengan Hinata.
"Baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu!" Sakura beranjak dari duduknya sambil melangkahkan kakinya menuju kearah pintu.
Sasuke masih memperhatikan pintu yang baru saja Sakura lewati dengan pandangan hampa, dia ingin sekali mengatakan agar gadis itu tetap berada disisinya dan jangan pergi, tetapi ego sang Uchiha berteriak keras menentang hal itu dan terpaksa membuat Sasuke menekan keinginannya mengahalangi kepergian gadis itu.
"Teme!" panggil Naruto sambil menghentikan sejenak permainan ps-nya.
"Hn."
"Kenapa kau biarkan dia pergi?" Naruto menatap intens sepasang mata sahabatnya.
"Seandainya saja dia mengatakannya. Meskipun hanya sekali saja, mungkin aku tidak akan sanggup menahan diriku lagi." Kedua tangan Sasuke mengepal. Kembali terlintas dibenak Sasuke keadaan Sakura yang tidak melawan meskipun sudah direndahkan, seandainya saja saat itu Sakura menangis atau berbicara walaupun hanya satu kata saja yang menunjukan rasa sakitnya, mungkin sekarang gadis itu sudah berada disisinya meskipun Sasuke harus memaksa akan hal itu.
"Kau tahu. Dia tidak akan mampu menunggu lebih lama lagi." Ucap Naruto sebelum kembali membalikan tubuhnya dan melanjutkan permainannya yang sempat tertunda.
Sakura menggenggam dengan erat dadanya yang berdetak dengan sangat kencang seperti akan lepas dari tempatnya. Masih tererkam dengan sangat jelas bagaimana percakapan singkat yang terjadi antara dirinya dan sang penguasa sekolah, bagaimana pemuda itu menatap matanya dengan pandangan yang sulit diartikan dan juga saat Sasuke menggenggam tanganya di depan ketiga gadis yang melongo menyaksikan hal itu.
to be continued.
R
E
V
I
E
W
