Hari baru, semangat baru!
Yah, begitulah seharusnya. Apalagi kalau mulai hari ini kau sudah punya pacar baru. Rasanya itu seperti ... ada pelangi yang mengelilingi hatimu, gitu.
... Chotto matte, kenapa aku sekarang berlagak seperti anak muda yang baru kasmaran? Tidak! Lebih parah dari itu! Aku bahkan terlihat seperti seorang remaja yang baru pubertas! Kami-sama, apa yang telah kaulakukan padaku?! Kenapa kau merubahku menjadi salah satu penganut kaum pelangi? Sepertinya sekarang diriku lebih menyedihkan dibandingkan sebelumnya.
Aku bersimpuh dengan menahan berat tubuhku dengan kedua lututku di hadapannya. Ya, di hadapan Sang Ketua Murid iblis, yang tak lain dan tak bukan adalah Hijikata Toushirou, pemuda yang memiliki poni berbentuk V.
OI, IMAGE-KU BENAR-BENAR SUDAH DINISTAKAN DI SINI! Kenapa aku harus berlutut di hadapannya?! Makhluk yang membuat takdirku menjadi seperti ini pasti otaknya sudah tidak waras. Oh, aku bahkan meragukan kalau dia punya otak.
Tapi ... kenapa? Setelah semua yang kukatakan barusan, kenapa jadi begini? Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku jadi amnesia?
Baiklah, kali ini aku tidak akan bacot panjang lebar. Rasanya menyebalkan juga mengingat aku begitu memprotes jalannya fanfic ini namun yang terjadi selanjutnya malah lebih parah dari apa yang kubayangkan.
... Selamat menikmati penderitaanku.
.
.
.
YA KALI!
Aku Karakter Utamanya, 'kan? Lalu Kenapa Malah Aku yang Menjadi Orang Ketiganya?
Disclaimer :
Gintama © Om Sorachi Hideaki
Story © Yumisaki Shinju
.
Pair(s) :
GinHijiOki ǀ OkiHijiGin
.
Genre(s) :
Drama ǀ Romance ǀ Little bit Humor & Angst
.
Warning(s) :
AU ǀ OOC ǀ Typo(s) ǀ Non EYD ǀ Multi-Chapter ǀ School-life ǀ Shonen-ai alias Boys Love ǀ
.
Dedicated to Chronnia
.
Hope you like it!
CHAPTER 4
"Sudah selesai mencabuti rumputnya, anjing peliharaanku?"
"... Kuso. Mati saja kau, Mayora."
"Apa kaubilang?" ucap Hijikata setelah mengembuskan asap rokok melalui bibirnya, mata birunya menyalang garang ke arah Gintoki.
"Su-sudah, Tuan! Guk!" cicit Gintoki pelan, tak lupa dengan gonggongan kecil yang menyertai akhir ucapannya.
"Hn, bagus. Sekarang kau boleh istirahat," ucap Hijikata sembari menepuk kepala Gintoki berulang-ulang, memperlakukannya seperti anjing. Jangan lupakan dengan seringai yang ia tunjukkan saat mengatakannya, yang sukses membuat perempatan muncul di dahi Gintoki.
Ingin rasanya pemuda perak itu menggigit tangan Hijikata sampai berdarah karena sudah seenaknya menepuk rambut ikalnya. Demi uang kas yang bahkan sampai hari ini belum ia bayar, ia paling benci jika kepalanya ditepuk! Namun pemuda yang sekarang berperan menjadi anjing itu berusaha sabar karena takut jika ia akan dihukum lebih parah dari ini.
Sungguh. Menjadi anjing pesuruh Sang Ketua Murid Iblis selama seminggu dengan memakai kalung anjing itu sudah sangat memalukan. Awalnya Gintoki memprotes hal tersebut, namun karena takut dengan ancaman bahwa akan ditambahkan menjadi satu bulan, mau tak mau dia menerima hal itu dengan berat hati. Gintoki tidak bisa membayangkan ada hukuman yang lebih buruk dari ini. Bagaimana kalau ia disuruh mencari kutu di rambut anunya Kondou? Atau disuruh memakan mayones? Hii, amit-amit, deh! Memikirkannya saja sudah membuat mukanya pucat. Seketika perutnya ikut mulas karena baru sadar dia belum makan apapun sejak pagi.
'Oh, jam istirahatku yang berharga~ Kenapa harus kugunakan untuk mencabuti rumput di halaman belakang sekolah, sih?' jerit Gintoki dalam hati. Rupanya ia tidak sadar jika semua hal ini terjadi akibat perbuatannya sendiri. Mengenaskan.
Sesuatu yang aneh mendadak membuncah di dada Sougo saat melihat keakraban Gintoki dengan Hijikata. Semacam perasaan tidak enak. Atau mungkin tidak senang? Tapi ... kenapa? Buru-buru Sougo membuang jauh-jauh perasaan itu, walau membuat hatinya sedikit nyeri.
"Danna~ Kau itu benar-benar menyukai Hijikata-san, ya?" tanya Sougo dengan nada jahil, walau suaranya terdengar agak parau dari biasanya.
"EH?! Apa maksudmu, Souichirou-kun? Mana mungkin aku suka pria macam dia! Kami hanya teman dekat! Tidak, tidak, tidak! Aku bahkan tidak mau menganggapnya sebagai teman! Uh, kami hanya ... rival. Ya, rival!" elak Gintoki seraya mengibaskan tangannya.
"... Lalu kenapa wajahmu memerah, Danna?" Pertanyaan Sougo membuat Gintoki terdiam sejenak. Namun detik berikutnya pemuda dengan kalung anjing di lehernya itu langsung menjawab dengan gelagapan sembari menggaruk belakang kepalanya dengan kikuk.
"Huh?! Si-siapa yang wajahnya memerah?! Ini karena pa-panas! Iya, panas! Hahahaha ...,"
"Tawamu menjijikan, Yorozuya," komentar Hijikata pedas dengan rokok yang terselip di bibirnya.
"Uruse! Diam kau, Ketua Iblis!" teriak Gintoki sambil melototi Hijikata, membuat pemuda yang dipelototi ingin sekali mencolok mata ikan mati milik pemuda rambut keriting perak tersebut.
"Danna tsundere," celetuk Sougo tiba-tiba.
"Apa katamu, Okita-kun?! Siapa yang kausebut tsundere, huh? Bukannya si poni V ini yang seharusnya kausebut sebagai tsundere?" bantah Gintoki dengan nada menggeram, jari telunjuknya mengarah ke Hijikata yang sudah menampilkan raut masam sedari tadi.
"Tapi wajahmu mengatakan hal yang sebenarnya, Danna." ungkap Sougo dengan nada datar.
"Etoo—anoo—" Sekarang Gintoki bingung mau membalas apa.
"Hijikata-san, kau harus mengurangi hukuman yang kauberikan padanya. Ini pasti karenamu. Padahal kau itu tipe uke, kenapa suka sekali menyiksa orang. Memangnya ada gitu, uke sadis?" Tak mendapatkan balasan dari Gintoki, si Sadis segera beralih ke target selanjutnya.
"HAAAH?! Kau ini bicara apa, Sougo? Benar-benar tidak jelas! Siapa juga yang jadi uke sadis? Kamu membicarakan dirimu sendiri, huh?!" elak Hijikata dengan wajah yang agak bersemu. Perkataan Sougo barusan hampir saja membuat rokoknya terjatuh dari bibirnya. Sementara itu, Gintoki diam-diam menghela napas lega karena dirinya sudah tidak lagi dijadikan sebagai target ejekan Sougo.
"Hijikata-san, kita sudah beberapa kali melakukan ini dan itu, dan kau selalu berada di posisi bawah. Kau masih tidak mau mengakuinya?"
'EEH? APAA? Pembicaraan macam apa iniii?!' jerit Gintoki dalam hati. Rasanya ingin sekali ia melarikan diri dari sana, namun entah kenapa kakinya seperti dipaku ke tanah sehingga tidak bisa bergerak. Seolah dia dipaksa untuk tetap berada di sana untuk mendengarkan percakapan yang tak mau ia dengar.
"Kau ini ngomong apa? Memang aku selalu berada di bawahmu terus, tapi itu karena kau curang! Kau selalu mengambil start duluan!" protes Hijikata sembari menunjuk hidung Sougo, namun Hijikata segera menarik tangannya kembali ke dalam saku celananya dengan kecepatan cahaya sebelum Sougo berhasil mematahkan jarinya.
'Posisi di bawah ... Curang ... Start duluan ...' Kata-kata itu terus berputar bagai benang kusut di kepala Gintoki. Ia terdiam dengan pemikiran anehnya. Wajahnya kini melongo bagai orang bodoh.
"Kau saja yang terlalu asyik berpetualang di dunia fuwa-fuwa-mu. Perjanjiannya kan yang menang akan mendapatkan apa yang dia mau dari yang kalah selama seminggu. Kau pasti berpikiran mesum." Jelas Sougo sembari memajukan bibirnya, bersungut-ria karena tak berhasil mematahkan jari telunjuk Sang Ketua Murid.
"Hentikan, Sougo! Orang-orang akan berpikiran aneh tentang kita!" Pekik Hijikata frustasi saat ia menyadari bahwa wajah Gintoki terlihat semakin menjijikan. Ingin rasanya ia memukul si rambut perak agar kembali sadar, tapi ia segera berubah pikiran karena takutnya saat sudah sadar ia malah diterkam.
"Hee? Berpikiran aneh apanya, Hijikata? Padahal kan kita cuma main game tetris dan nilai poinmu memang selalu berada di bawahku. Lagipula siapa suruh kau melamun terus kan? Padahal aku sudah bilang 'mulai'."
"Sudah kubilang kau curang karena mulai duluan!"
"AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA." Seketika tawa Gintoki meledak. Membuat kedua pemuda lainnya bergidik ngeri.
"Ebuset! Itu orang kesambet apaan?!" sahut Hijikata dan Sougo, hampir bebarengan. Namun sayangnya tidak didengar oleh Gintoki karena ia sibuk dengan pemikirannya sendiri.
'Hahaha. Main game tetris toh. Aku kira mereka melakukan hal yang anu-anu. Rasanya otakku mulai tidak beres.' Pikir Gintoki sambil memegangi kepalanya.
.
.
Hijikata's POV
Tiga hari sudah berlalu semenjak kejadian itu. Dan aku pun sudah cukup lelah menghadapi si pembuat onar itu. Kuharap dia tidak melakukan sesuatu yang akan menyusahkanku dan berhenti membuat waktu istirahatku terbuang percuma karena terus mengurusinya. Aku heran kenapa dia tidak pernah jera. Padahal kupikir jika aku berpacaran dengannya, dia akan merubah sikapnya menjadi lebih baik. Tsk. Sepertinya aku terlalu berlebihan jika berharap agar dia berubah.
"Oogushi-kun~" Mendengar panggilan menjijikan itu seketika sukses membuat bulu kudukku merinding.
"Siapa yang kaupanggil Oogushi-kun, teme?!" semburku padanya. Haah, dia ini benar-benar tidak pernah berubah.
"Uwaah, galak sekali. Nanti cepat tua, tahu?" ujarnya dengan wajah mengejek. Tch, gayanya seolah dia merasa lebih muda dariku saja. Bercermin sana! Tidak lihat apa rambutmu itu sudah seperti uban kakek-kakek?! Dia tidak punya cermin mungkin di rumahnya.
"Mau tua atau tidak, bukan urusanmu, kan?" balasku dingin. Inginnya aku berteriak padanya, tapi tenggorokanku sudah lelah jika setiap hari meneriakinya terus-menerus. Kuhirup nikotin yang terselip di bibirku dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, mencoba untuk menetralisir perasaan kesal yang tiba-tiba menghinggapiku.
"Brrr ... dingiiin~ Oi, oi, kalau kau bersikap sedingin ini, bisa-bisa tidak ada yang mau mendekatimu, lho~" Ia mencibir. Tsk, memang itu tujuanku, bakayarou.
"Sudah kubilang itu bukan urusanmu! Pergi sana!" usirku seraya mengangkat daguku ke arah pintu.
"Eh? Diusir, nih? Kejamnya~ Tapi kalau aku maunya tetap di sini bersamamu, bagaimana?" Godanya dengan seringai yang membuatku ingin muntah.
"Kubilang pergi! Kau tidak paham, ya? Mengganggu pemandangan saja!" usirku lagi dengan mata melotot. Kulihat dia agak bergidik sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Baiklah kalau itu maunya Oogushi-kun. Tapi jangan merindukanku kalau nanti aku tidak kembali lagi, ya? Hahaha~"
"Siapa juga yang akan merindukanmu, bakayarou?!" teriakku padanya.
"Kau akan menyesal, Oogushi-kun~ Hahaha."
"Tsk, teme." Umpatku kesal.
Kupandangi punggungnya yang menghilang di balik pintu. Si ikal bodoh itu pasti selalu menyempatkan waktu barang beberapa menit untuk menemuiku di ruanganku, lebih tepatnya mengganggu, sih. Tidak punya kerjaan, memang.
Aku menghela napas panjang. Menghadapi si rambut perak tiap waktu memang melelahkan, namun menyenangkan di saat yang bersamaan. Dan entah sejak kapan ... hatiku terasa berdebar.
Dicintai oleh seseorang dengan sepenuh hati itu menyenangkan, ya? Apalagi jika hal bodoh yang kaulakukan bisa membuatnya tertawa bahagia karenamu. Rasanya ... membuat hidupku sedikit berarti.
"Hijikata-san?"
"HUAA! Sou-Sougo?! Sejak kapan kau ada di sini?" Kemunculannya di hadapanku yang tiba-tiba hampir saja membuatku terjatuh dari kursi yang kududuki. Untungnya tidak. Hanya rokokku saja yang terjun bebas ke lantai. Tsk, padahal itu rokok terakhirku.
"Hee~ Kau tidak menyadari keberadaanku? Sedang kesambet, ya?" tanya Sougo sambil mengerutkan dahinya.
"Tsk, sembarangan. Tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Hah, sudahlah lupakan. Ada apa kau ke sini, Sougo?" Kualihkan pembicaraan ke topik lain karena sedang tidak mau membahas topik yang sebelumnya. Memalukan.
"... Bukannya biasanya aku selalu ke sini?" Sougo bertanya dengan nada datar.
"E-Eh ... benar juga," Aku menggaruk tengkukku dengan gugup. Duh, kenapa aku bisa lupa begini?
"Kau aneh, Hijikata-san ... selain itu, akhir-akhir ini kau sering terlihat berduaan dengan Danna," ucap Sougo pelan, namun masih bisa kudengar dengan jelas.
"Eh, begitukah? Ah, tidak. Tidak juga, kok. Dia memang suka sekali membuat masalah, makanya aku selalu menghukum dia." Terangku sembari mengusap dagu.
"Sou ka ...," Ia menundukkan kepalanya, membuat poni cokelat panjangnya yang menjuntai menghalangi wajahnya sehingga aku tidak bisa melihat ekspresinya saat ini.
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanyaku seraya bangkit dari tempat dudukku dan mendekatkan diriku padanya.
"Tidak," jawaban singkatnya tak membuatku puas.
"Katakan saja, Sougo. Siapa tahu aku bisa meringankan bebanmu." Kulihat kini dia mengangkat wajahnya dan menatapku dengan dalam. Entah kenapa saat memandangi iris merahnya membuat jantungku berdebar. Tanpa sadar aku menelan ludah karena merasa gugup.
"Kalau begitu, mati sana," ucapnya ketus dengan tatapan yang berubah dingin.
"... Hei, aku sedang menghiburmu, tahu!" Dasar Sougo sialan. Padahal dia hampir membuatku ingin menciumnya.
"Kau akan lebih menghiburku jika kau mati, Hijikata!"
"Tsk, teme. Apa masalahmu, huh?" Aku menghela napas lelah sembari menyisir rambutku ke belakang kepala.
Namun ia justru memalingkan wajahnya.
"Hei, Sougo—"
"—Aku ... takut,"
Mataku berkedip beberapa kali, mencoba mencerna perkataannya. Apa? Seorang Okita Sougo yang dijuluki sebagai Pangeran dari Planet Sadis merasa takut? Aku tidak salah dengar, kan?
"He? Kenapa? Apa ada orang yang mengganggumu ketika aku tidak bersamamu? Katakan padaku, akan kuhancurkan bolanya," ujarku sembari menepuk bahunya.
"Sungguh?" Lagi-lagi, dia menatapku dengan dalam, seolah mencoba mencari kebohongan di manik steel-blue milikku.
"Tentu saja, memangnya siapa dia?" jawabku dengan tegas.
"Ah, tidak. Sebenarnya bukan itu yang kutakutkan." Sougo segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, menolak untuk menatap mataku lebih jauh.
"Lalu?" Tanyaku lagi, meminta penjelasan.
Ada jeda sejenak sebelum kulihat ia menggigit bibir bawahnya dengan pelan, kemudian membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaanku.
"Aku hanya takut ... kau akan pergi meninggalkanku," Jawabnya dengan lirih.
DEG!
Jantungku berdetak keras. Kini tiba-tiba hatiku diselimuti oleh perasaan bersalah.
"Ke-kenapa kau bisa berpikir begitu, Sougo? Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu," ujarku sembari mencoba meyakinkannya. Atau mungkin lebih tepatnya aku mencoba untuk meyakinkan diriku sendiri.
"Tapi—"
"Jangan berpikiran yang macam-macam. Aku hanya mencintaimu seorang, kau tahu?" Aku membelai rambutnya yang lembut dengan pelan. Kini justru aku yang merasa takut. Dan aku tidak tahu kenapa.
Sougo masih terdiam dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Ne, Sougo?" Diamnya Sougo membuat jantungku semakin berdebar ketakutan. Apa dia marah padaku? Apa aku sudah mengecewakannya?
"Janji?" Ia bertanya dengan sedikit merengut, persis anak kecil yang habis menangis setelah diyakinkan akan dibelikan permen. Membuatku tanpa sadar mengulas senyum di bibirku.
"Aku berjanji. Jadi apa kau percaya padaku?"
"... Aku percaya." Jawabnya seraya mengangguk pelan.
Kurengkuh tubuhnya yang mungil. Baru kusadari kalau tubuh Sougo begitu ringkih ... dan rapuh. Seakan jika aku memeluknya dengan lebih erat, tubuhnya akan hancur berkeping-keping. Sougo yang kupeluk ini rasanya bukan seperti Sougo yang biasanya. Yang selalu menghina dan mencaciku. Dia seperti ... kesepian. Yang membutuhkan seseorang untuk menyangganya agar dia mampu berdiri dengan tegak.
Rasanya sekarang aku seperti orang jahat. Sepertinya aku telah melakukan kesalahan. Seharusnya aku tidak melakukan hal itu. Ne, Sougo, maafkan aku. Aku tidak ingin melukaimu, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan si keriting bodoh itu. Aku baru sadar kalau ternyata aku juga menyukainya. Apa yang harus kulakukan? Siapa yang sebaiknya aku pilih? Tapi aku tidak ingin kehilangan kalian berdua.
Aku ... benar-benar orang yang egois.
End of Hijikata's POV
Bel pulang memang sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh warga sekolah. Terutama untuk pasangan yang ingin berkencan. Memikirkannya saja sudah membuat rona merah hinggap di sekitar pipi dan air liur terbit di ujung bibir.
Tunggu, apaan tadi? Liur?
"Oi, Zura. Lap air liur menjijikanmu itu, cepat. Membuatku malu saja." Celetuk Takasugi ketus sembari memasukkan gumpalan tisu ke mulut Zura yang sudah dipenuhi air liur karena sedang membayangkan betapa nikmatnya soba kesukaannya. Dan hal itu sukses membuat Zura tersedak ludahnya sendiri.
"Uhuk! Zura janai, uhuk! Katsura da!" protes Zura—maksudnya Katsura.
"Terserah. Aku mau beli yakulk dulu." Takasogay—maksudnya Takasugi segera berlalu tanpa mengindahkan protesan Katsura.
"Oke, oke, tapi setelah itu kita ke kedai soba di ujung jalan itu, ya!" pinta Katsura dengan mata berbinar. Bisa dipastikan kalau liur berikutnya akan terbit satu detik kemudian.
"Soba terus, akunya kapan?" Takasugi merengut.
"EEH? Apa maksudmu, Takasugi-kun?" Wajah sang Rambut Palsu—janai, Katsura da!—merona mendengarnya.
"Bukan apa-apa. Ayo cepat!" Perintah Takasugi sembari menarik tangan Katsura agar segera meninggalkan ruang kelas.
Gintoki yang sedari awal memperhatikan aksi kedua teman lamanya hanya bisa terdiam. Menandakan kalau ia sedang memikirkan sesuatu yang penting.
'EBUSET DAH! Itu Takasogay dan Zura kok bisa mesra gitu?! Bikin iri! Ngiri, men!' jeritnya dalam hati. Feel so gay.
Tanpa sengaja, manik merahnya menangkap sosok Hijikata yang baru keluar dari ruangan kepala sekolah dengan membawa setumpuk berkas yang tingginya hampir menutupi wajahnya melalui jendela kelasnya. Sepertinya ia berniat membawa berkas itu ke ruangannya. Gintoki pun segera bangkit dari tempat duduknya untuk menghampiri Hijikata.
"Yo, Oogushi-kun~" sapanya dengan riang.
"Tsk, teme! Kalau kau tidak ada kerjaan, lebih baik kau membantuku membawa berkas-berkas ini, bakayarou!" perintah Hijikata seenak jidat.
"Huh? Seperti itukah caramu meminta tolong? Tidak sopan sama sekali." Gerutu Gintoki dengan memanyunkan bibirnya.
"Tsk, menyusahkan. Kalau kau tidak mau membantu, minggir sana! Menghalangi jalanku saja."
"Yare-yare, Oogushi-kun~ Sudah kubilang jangan galak-galak begitu kalau jadi orang. Nanti kau akan dikira perempuan yang sedang PMS, lho?" Gintoki mencibir Hijikata untuk yang entah keberapa kalinya dalam hari ini.
"Berisik! Pergi sana!" usir Hijikata.
"Baiklah, akan kubantu. Apa, sih, yang nggak buat kamu?" goda Gintoki sembari mengedipkan sebelah matanya, membuat bahu Hijikata langsung bergidik ngeri. Ia mengambil setengah berkas yang dibawa Hijikata dengan tangannya, berniat membantu membawanya.
"Dasar bodoh!" umpat Hijikata sambil mengalihkan pandangannya. Ia segera melanjutkan langkahnya yang tertunda. Oh, bahkan kini ia berjalan lebih cepat.
"Oogushi-kun itu tsundere sekali, ya. Haha, tapi menggemaskan," ujar Gintoki yang berjalan dengan santai di belakangnya.
"Sekali lagi kau mengatakan kalau aku tsundere, kutendang pantatmu." Hijikata melirik Gintoki dari ekor matanya dengan tatapan kematian, yang berhasil membuat Gintoki menelan ludahnya dengan pahit.
"... Selain itu dia juga seram," gumam Gintoki pelan. Untungnya hal itu hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Kalau tidak, tamatlah riwayatmu, Gintoki.
"Nah, kau taruh di dekat meja itu saja. Setelah itu cepat pulang, sana!" perintah pemuda berambut V itu saat mereka sudah sampai di ruangan sang Ketua Murid Iblis.
"Jadi ini balasanmu? Padahal aku sudah susah-susah membantumu, tapi sikapmu malah begitu." Gintoki menggerutu untuk kesekian kalinya lagi.
"Sougo akan kemari beberapa menit lagi. Lebih baik kau cepat pulang sebelum semuanya menjadi semakin rumit." Hijikata mengacak rambutnya frustasi. Hari ini ia terlalu banyak pikiran dan tugas dari Gorilla yang merangkap sebagai Kepala Sekolah itu semakin membuatnya stress. Ditambah lagi pemuda berambut perak yang masih dengan santainya berdiri di hadapannya ini tak membantu meringankan bebannya sama sekali.
"Heh, aku tidak akan pulang sebelum aku mendapatkan imbalan,"
"Kau ini! Jadi kau mau membantuku itu karena ingin mendapat imbalan? Tch, lain kali aku tidak mau menerima bantuanmu!"
"Tidak masalah, yang penting sekarang, berikan imbalanku." Gintoki menyeringai.
'CABUT SAJA NYAWAKU, KAMI-SAMA! Aku sudah tidak sanggup lagi menghadapi orang yang mengesalkan seperti dia!' do'a Hijikata dalam hati.
"Aku tidak punya sesuatu yang bisa kuberikan padamu. Sudah, pulang saja sana!" Hijikata berbalik setelah ia mengibaskan tangannya untuk mengusir Gintoki, hendak menyelesaikan berkas yang diberikan Kondou.
"Oh, tentu kau punya," ujar Gintoki sembari menarik tangan Hijikata.
"Hah? Apa maksud—" Kejadiannya berlangsung begitu cepat. Hijikata bahkan tak sempat melanjutkan pertanyaannya.
"Hijikata-san, ayo kita pu—"
Sougo membeku. Ucapannya tertahan di ujung lidah. Ia tak sanggup meneruskan perkataannya. Dadanya mendadak terasa sakit bak ditimpa batu besar yang mampu melindas dan meremukkan jantungnya dalam sekejap. Gintoki itu ... seperti yang sudah Sougo pikir, Hijikata selama ini memang dekat dengan dia. Dan itu bukan hanya karena hukuman yang Hijikata berikan pada pemuda itu semata. Jadi, Hijikata lebih memilih pemuda berambut ikal perak itu dibandingkan dirinya? Kenapa Hijikata membiarkan Gintoki berada di ruangannya padahal tahu kalau Sougo akan datang? Apa dia sengaja?
Napasnya memburu, rasa sesak seketika menyergap dadanya. Matanya memanas seolah ada yang menaruh bawang merah di depannya, membuatnya dapat menumpahkan liquid bening itu kapan saja. Bibirnya kembali bergetar. Namun perlahan dia menggigit bibir bawahnya dengan keras, mencoba untuk menahan segala emosi yang ingin meluap. Tanpa sadar hal itu justru membuat bibirnya berdarah. Tubuhnya yang terasa dingin karena membeku bertolak belakang dengan hatinya yang terasa sangat panas. Ia benar-benar ingin menumpahkan segala perasaan yang ia rasakan pada saat itu juga. Sakit. Sesak. Nyeri. Semua bercampur menjadi satu. Sebelum perasaan itu meledak keluar, ia segera beranjak dari tempat tersebut dengan perasaan gusar.
Langkahnya ia percepat, tanpa sadar Sougo sudah berlari tak tentu arah. Ia tak tahu kemana kakinya membawanya, yang ia inginkan hanyalah menjauh dari ruangan Hijikata. Menjauh ... terus hingga ia tak bisa melihatnya lagi.
Dilihatnya pohon sakura tak berdaun yang berada di taman terpencil. Ia ingat tempat ini. Ini adalah tempat yang penuh dengan kenangan bersama Hijikata. Sedetik kemudian ia menggeleng, mencoba menepis ingatan yang tiba-tiba menghampirinya. Sougo pun memutuskan untuk ke sana dan duduk bersandar pada batang pohon tersebut. Ia menatap langit senja, di mana matahari akan segera terbenam dan menyisakan cahaya berwarna jingga yang indah. Namun ia sama sekali tidak mempedulikan hal itu.
"Kenapa?" Sougo bertanya dengan nada lirih pada dirinya sendiri.
Bersamaan dengan keluarnya ucapan itu dari bibirnya, air matanya terjatuh tanpa ia sadari. Kepala Sougo pusing. Sekelebat ingatan bersama Hijikata kini berputar di pikirannya bagai kaset rusak tanpa bisa ia tepis lagi. Segala kebersamaan, hal-hal yang telah mereka lakukan bersama, dan janji yang telah mereka buat. Ya, janji. Bahkan janji yang baru saja mereka buat beberapa saat yang lalu dengan mudah Hijikata ingkari. Sougo merasa kalau dirinya sekarang telah dibuang dan tak dipedulikan.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Sougo terbatuk, dengan refleks Sougo segera menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Tenggorokannya mendadak sakit. Dengan gerakan pelan ia melepas bekapan mulutnya dan menatap datar cairan merah yang ada di telapak tangannya.
"Sejak awal kau memang seorang pembual, Hijikata."
.
.
.
Sudah cukup. Sekarang Sougo sudah tidak peduli lagi.
.
.
.
TSUZUKU
Author's Note:
Ekhem. Yo, minna-san~ Masih ada yang ingat fanfic absurd ini?
/krik ... krik ... krik .../
OKE UDAH BERAPA BULAN AKU NELANTARIN FIC INI YAA? /head wall/
Padahal aku udah bilang sebelumnya kalau aku bakal update kilat, haha. Ya ampun, maafkan aku. Entah kenapa pas liburan waktu itu aku mager banget. Hahaha. /kicked/
Baiklah, maafkan aku karena telah memberi harapan palsu, minna-san. /bows/
Btw aku nggak yakin kalau genre-nya berubah, rasanya kok sama aja ya seperti chap 3 lalu? Harusnya genre-nya jadi angst, oi! Otak aku lagi mikirin apa, sih?! orz Aku minta maaf kalau chapter ini tidak sesuai harapan kalian. Maaf telah mengecewakan. Aku berharap aku bisa melakukan yang lebih baik lagi untuk chapter depan.
Special thanks to Chronnia, Ayuha chaan, Hiria-ka, higitsune84tails, 7th Commander (puasa udah lewat, kok. Jadi ya gak papa. Hahaha. /ditebas/ Terima kasih untuk semangatnya!), KAmichiZU, Caesar704, dan silent readers sekalian yang sudah membaca fanfic yang sangat jauh dari kata sempurna ini. Terima kasih untuk dukungan dan review kalian. :")
See you~
.
.
.
Sign,
Yumisaki Shinju
