Yo!

Yo readers!

I am back!

Maafkan saya baru kembali memperbarui fiksi ini, chapter 4 sebenarnya sudah saya ketik jauh-jauh hari, setelah chapter 3 selesai, namun baru bisa saya publish karena yaah... pasca lebaran tahun ini cobaan nggak bosannya datang menyapa, saya baru kecelakaan beberapa hari yang lalu, sebuah mobil dengan kecepatan lebih dari 100km/jam hilang kendali ketika gerimis, lalu nyerunduk saya dan kejepit di kolong Mobil lalu menghantam rumah kayu, alhasil badan saya remuk semua! Bersyukur saya masih hidup, sampai detik ini saya aja tidak percaya saya selamat, bahkan pinggang saya nggak patah, karena duluan nyungsep dikolong pas moncong mobil menghantam pinggang.. yaah.. luka lecet dan tulang remuk nggak mungkin nggak kerasa karena terjepit diantara balok-balok kayu rumah.. Tuhan benar-benar menunjukan Kuasa-Nya dengan menyelamatkan saya dari kematian.. orang-orang yang nolongin saya nggak percaya saya masih bernafas, jangankan mereka, saya aja nggak percaya bisa selamat dan selalu bersyukur terhindar dari maut!

Terbangun tengah malam karena tulang-tulang saya ngilu semua, akhirnya saya publish chapter 4, dan maafkan saya tidak bisa membalas review anda semua, saya akan usahakan balas kalau kondisi fisik saya agak mendingan. Chapter ini berisi dialog panjang yang amat membosankan, bersabarlah, chapter ini sudah saya singkat sesingkat mungkin agar tidak membosankan, tapi.. yaah... begitulah.

Chapter 5 merupakan ending dari fiksi ini, saya akan ketik kalau ngilu yang bikin saya melenguh kesakitan tiap malam sudah mulai berkurang... maafkan saya sudah membuat anda semua terlalu lama menanti dan kehilangan 'feel' dari fiksi ini.. sekali lagi maafkan saya.

Dan untuk seorang temanku yang menghilang ditelan bumi ;

Temanku, apakah matahari masih bersinar disana? Apakah kehangatan tetap menyelimutimu? Apa kau merasakan hatimu pecah? Tetap pegang beling tajam sisa puing hatimu, pecahan kristal tulus itu menandakan kau tidak kehilangan dirimu. Jangan! Jangan sampai kau kehilangan dirimu. Tetaplah menjadi pribadi yang selalu membuatku bangga menjadi temanmu.

Namamu terselip dalam tiap doaku.

I am alone.

Its hurt!

L samudra putra, present ;

The Negosiator

Chapter 4

Disclaimer : Naruto dan seluruh karakter didalamnya hak milik tunggal Masashi Kishimoto.

Seluruh nama Bandar Udara dan merupakan nama asli dan tempat real.

Seluruh nama maskapai penerbangan dan perusahaan serta nama departemen birokrasi pemerintahan merupakan rekayasa penulis.

Genre : Psychological Thriller - Action - Adventure.

Rate : T

Main Character : Naruto dan Sasuke

Peringatan keras! Dan ini Serius! Fiksi ini Alternatif Universe (AU) dan Out of Character (OOC), bagi anda yang tidak suka silahkan untuk tidak membaca.

Pahami makna

'Don't Like Don't read!'

Selamat membaca

...

Naruto menginjak pecahan kaca dengan pelan, tanpa menunduk atau waspada, ia kembali ke meja kerjanya, yang bergesek sekian centimeters kebelakang, dengan ekspresi yang sangat susah di artikan.

Shikamaru menyolek Shikaku dan Asuma, memberi isyarat dengan gelengan kepala untuk berbicara diluar. Shikaku menurut, sementara Asuma bertanya-tanya dalam hati.

Naruto mendudukan kembali pantatnya pada kursi putar, seiring dengan pintu yang baru saja ditutup Asuma.

Naruto melipat lengan kemeja seragamnya hingga siku, lalu membuka dua kancing atas baju kerja ATC. Raut wajahnya tetap susah ditebak. Hanya kegelapan menguar disana. Telunjuknya menekan tombol hijau pada standmic.

"Sasuke, ayo selesaikan ini."

..

"Ada apa, Shikamaru?" Asuma memutar kenop untuk menutup pintu. Ia menatap lekat Shikamaru yang sedang bersedekap dan bersender pada dinding.

"Kecurigaanku makin kuat."

"Kecurigaanmu pada Naruto?" Kini Shikaku yang berdiri disamping Asuma mencoba mencari ketegasan pada tiap silabel Shikamaru.

Shikamaru menatap kedua orang tua tersebut, "Dari awal, aku sudah curiga padanya. Aku terlalu terpaku membuat analisis pada Sasuke. Aku melupakan satu variabel disini.." Shikamaru memberi jeda, "The Negosiator... Namikaze Naruto!"

Kedua orang itu seksama mendengarkan penjelasan Shikamaru.

"Pertama, dasar kecurigaanku, mengapa Naruto bisa menjaga ketenangannya menghadapi pimpinan tim teroris? Meski sudah terjawab, karena ia rupanya Negosiator dari departemen perhubungan."

Asuma mengeluarkan sebungkus rokok dan pemantik dari saku celananya, menyulut sebatang rokok dan menawarkan pada pasangan ayah anak Shika.

"Mau?"

Shikamaru menerima sebatang rokok dan menyulutnya, "Kedua," Shikamaru melanjutkan dalam kepulan asap, "Seperti ada kesengajaan dari Sasuke, dengan menjadikan Naruto satu-satunya mediator dari ATC dengan pemerintah dalam pemenuhan tuntutannya. Sepertinya bukan suatu kebetulan NSA112 masuk dalam cakupan radar Naruto?"

"Ketiga, Naruto mampu mengimbangi Sasuke. Orang ini jenius, dia sudah membuktikan dengan menguasai pesawat NSA, membawa senjata api dalam pesawat, dan menabuhkan genderang perang pada pemerintah kita. Orang ini gila, dengan segala konsep Ketuhanannya. Dan Naruto mampu memberikan perlawanan imbang!"

"Lalu?" Shikaku meminta penjelasan lebih lanjut.

"Yang terakhir, terlepas dari pernyataan kasus Naruto sendiri," Shikamaru memberikan gestur serius, "Bagaimana cara mereka kabur jika sudah mendapatkan uangnya? Itu masih menjadi misteri bagiku, tapi satu hal pasti..."

Shikamaru menghembuskan asap nikotin dari mulutnya, "Sasuke akan memilih Naruto untuk mengantarkan uangnya. Sekali lagi, ini terlepas dari kasus yang menimpa Naruto, Lalu mereka kabur bersama. Membagi hasil uang tebusan dan pindah ke negara lain, dengan nama baru dan kehidupan baru."

Asuma dan Shikaku terdiam, mencatat tiap kata dari Shikamaru kedalam otak mereka masing-masing.

"Asuma-san.. bisakah kau minta pada Kakashi-san untuk menghubungi pihak NSA, selain daftar nama penumpang yang telah mereka berikan, kita juga butuh daftar barang pada bagasi pesawat itu."

"Baiklah..."

Shikamaru menjatuhkan rokoknya, melindas batang racun itu dengan pijakan kaki. "Ini pertaruhan. Jika memang nanti Sasuke memilih Naruto yang mengantarkan uangnya, lalu kabur bersama, berarti yang kita saksikan sedari awal hanyalah drama dari mereka." Shikamaru memutar kenop pintu dan masuk, diikuti oleh Shikaku dan Asuma, yang terlebih dahulu mematikan rokoknya.

..

"Sasuke, ayo selesaikan ini."

Kini aura mencekam menyelimuti kokpit. Sasuke bisa merasakan kesedihan berselimut amarah dari setiap kata Naruto.

"Bahan bakar kita cukup sampai Osaka. Tapi kita harus isi ulang bahan bakar disana." Kabuto mengecek persediaan bahan bakar, juga memastikan posisi melalui Navigation Display (ND).

"Berapa lama?" Sasuke meminta kepastian.

"Tokyo-Osaka, satu jam lima menit dari sekarang." Kabuto kembali memeriksa Flight Instrumen. "Ke-empat mesin sudah kembali hidup."

Sasuke mengambil kembali radio pada Radio magnetic indicator (RMI), "Apa yang harus diselesaikan?"

"Siapa yang kau bilang munafik, teme?"

"Tentu saja pengkhianat negara sepertimu! Baka Naruto!" Sasuke menaikan sebelah kaki, menopangkan kaki kanan pada paha kiri. "Kau tahu, Naruto... aku benar-benar kecewa. Catat itu."

"Huh? Ya? Tahu apa kau soal diriku?" Jelas sekali nada mencibir lekat pada kalimat terakhir petugas ATC itu.

"Aku cukup tahu kau cukup tamak menerima uang kotor 120 juta yen demi satu istri dan satu anak!"

"BWUAHAHAHA... HAHAHA..."

Sasuke menaikan alis.

"Keadaan mulai berbalik, heh, Sasuke?" Kabuto bicara tanpa menoleh.

..

Naruto tertawa dengan memegang perutnya, tapi semua orang yang ada dibelakang Naruto tahu, itu tertawa yang dibuat-buat.

"Kasihan sekali kau, Tuhan yang Maha Tahu. Kau bisa tahu aku korupsi, tapi kau tidak tahu apa yang tersembunyi dihatiku! Kau adalah Tuhan paling brengsek penuh omong kosong yang pernah ada. Jangankan manusia hendak menyembahmu, anjingpun sungkan!"

"Tutup mulutmu, KEPARAT!"

Naruto naik pitam. "DAN TUTUP MULUTMU! JAHANAM!"

"Sepertinya keadaan berbalik, heh, Kakashi? Naruto mulai menguasai permainan..." Asuma mengeluarkan bungkus rokoknya lagi, namun tangan Kakashi lebih dahulu menahan tangannya.

"Bukan... sudah kukatakan dari awal... Naruto sedang menjemput kematiannya."

"Kau bicara berbelit-belit... macam orang pintar saja..." Asuma dengan berat hati memasukan kembali rokoknya dalam kantong.

Kakashi merasakan sesuatu bergetar di saku celananya.

..

Hinata bergegas keluar dari ruang dosen setelah televisi di ruangan itu menampilkan sesuatu yang berkecamuk dihatinya. Tempat kerja kekasihnya baru saja hampir, hampir rubuh diseruduk pesawat. Mata kepalanya menyaksikan jelas, bagaimana ekor pesawat hampir mengenai ruangan paling atas dan paling vital di menara pengawas bandara, ruang kendali kontrol, ruangan dimana kekasihnya mengabdi.

Ia mempercepat langkahnya, setengah berlari, menuju parkiran. Pengawal pribadi merangkap sopir plus pengasuh sejak ia balita, Ko, sudah menunggu dengan pintu belakang limosin yang terbuka. Hinata menghambur kedalam tanpa salam.

Ko bergegas masuk dan menyetir. Meninggalkan parkiran salah satu universitas swasta paling elit seantero negeri matahari terbit. Dari spion tengah, pengawal keluarga bangsawan itu melihat jelas majikannya sedang membongkar isi tas dan meraih handphone, lalu berbicara dengan nada panik.

"Halo! Naruto-kun!"

..

"Hah? Ini handphone Naruto!" Kakashi mengambil benda yang sedari tadi bergetar disaku celananya, yang memberikan sensasi tersendiri karena getarannya merambat pada bagian sensitif kejantanannya.

"Yo... aloha?" Kakashi merapatkan alat komunikasi itu ke telinganya.

"Ini siapa?"

"Oh. Naruto sedang sibuk. Benar-benar sibuk. Tidak bisa di ganggu."

"Ya.. keadaannya baik-baik saja... rambutnya tetap pirang dan kaki serta tangannya masih dua. Tidak kurang satu apapun jua."

..

"Jangan bercanda, Hatake-san! Ini bukan waktunya mendengar leluconmu!"

Wajah panik Hinata berubah menjadi memelas, "Aku mohon... biarkan aku bicara sebentar dengan Naruto-kun... kumohon..."

Hinata meremas kepalan tangannya, "Baiklah, kalau begitu, katakan padanya untuk segera menghubungiku, berjanjilah! Ha'i! Terima kasih, Hatake-san!"

Hinata mematikan sambungan telponnya, ia menatap wallpaper handphone berlogo apel yang sudah di gigit. Gambar seorang pria sedang meyeruput kuah ramen, bahkan mangkuk ramen tersebut menutupi wajahnya, hanya surai pirang laksana matahari terlihat memenuhi layar 5,2 inch itu.

Hinata tersenyum getir.

"Semoga kau baik-baik saja... Naruto-kun."

..

"Menyedihkan sekali kau, teme!" Sang Negosiator tunggal menggelengkan kepala. "Sungguh kasihan."

Naruto melanjutkan, "Dulu, aku juga sempat berpikiran sepertimu. Menghujat takdir dan mencoba lari dari kenyataan pahit."

Hening. Sepertinya Sasuke seksama mendengarkan.

"Tapi perlahan aku menyadari, bahwa sia-sia menjadi oposisi melawan dominasi Tuhan. Tidak ada gunanya. Dia-lah Sang pencipta dan Sang penguasa seluruh alam. Lalu, aku mulai berkeyakinan, untuk merubah alam sekitarku."

Naruto murung, tapi raut ketegasan jelas diwajahnya.

"Ini bukan seperti membuang sampah pada tempatnya, Sasuke. Ini jauh lebih kompleks. Ini adalah pembunuhan besar-besaran rakyat negara ini!"

"Kau bicara dalam konteks apa?" Akhirnya suara Sasuke memberi respon, menggema di seluruh ruangan ATC melalui pengeras suara.

Naruto menatap monitornya, "Kau berada dalam rute menuju Osaka. Apa lagi sekarang?"

"Aku siap mendengarkan ceritamu. Pastikan uangnya siap, dan antarkan ke Osaka." Sasuke mencoba kembali mengambil alih dominasi perintah.

"Jangan seenaknya, keparat! Kau harus kembali ke bandara Haneda!"

"Sudah kukatakan, aku menunggu uangnya di Osaka. Tapi jika aku bisa memahami apa yang mendasarimu menerima uang panas, aku akan berbalik ke Haneda, saat ini juga."

"Naruto... katakan padaku, apa perbedaan kita berdua."

..

"Kita... sama -sama mengenakan topeng. Namun sayang, aku sudah dalam keadaan basah, satu-satunya cara adalah membuka semua pakaianku dan telanjang di depan umum. Aku mengira awalnya, pakaian basahku bisa kering dibadan."

Ketujuh pejabat pemerintah yang berdiri di belakang Naruto mendengarkan dengan seksama, termasuk seluruh petugas ATC.

"Akan ada harga yang pantas dari apa yang kau sebut 'telanjang' itu, ratusan nyawa dipesawat ini adalah bayaran setimpal atas pengakuan dosamu."

Sasuke melanjutkan, "Manusia lebih suci dalam keadaan telanjang, manusia dilemparkan ke bumi pun dalam keadaan telanjang dan menangis." Sasuke menjaga intonasinya, "Tanpa ego, tanpa ambisi, tanpa keperihan, tanpa rasa kehilangan, bersih dari segala macam kemunafikan."

"Kau bicara seperti pendeta sekarang, teme!"

"Uh? Tak perlu menjadi pendeta, pastor, ataupun imam untuk menyampaikan kebenaran, dobe."

"Aku sepakat untuk sepakat, teme!"

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, dobe!"

Semilir angin merasuk kedalam ruang kendali, karena memang tak lagi ada pembatas ruangan dengan dunia luar, semua dinding kaca menjadi tabur beling akibat getaran amukan burung besi yang dikuasai Sasuke.

Pirang dimainkan angin, menjadi lebih berantakan dari sebelumnya, dan pemilik mahkota menatap kosong tanpa direksi. "Aku menerima uang dari PT. Boeing Steel Line dalam dua tahap, 50 juta yen dalam bentuk uang muka, setelah mereka keluar sebagai pemenang tender dari proyek pembelian pesawat oleh pemerintah, aku kembali mendapat uang sebesar 70 juta yen."

"Hn. Kau sudah bilang tadi, apa dasarmu? Aku menghormatimu Naruto, menghormati prinsip-prinsipmu, selain baka-aniki, kau adalah orang kusegani secara personal... jangan sampai kata-katamu selanjutnya membuatku murka dan kehilangan nafsu bicara."

Bola biru berubah sayu, "Ini akan lama."

"Aku siap mendengarkan, katakanlah keluh kesahmu... lepaskan topengmu, dobe!"

..

Sakura duduk ditepi ranjang anaknya yang masih tertidur. Wanita berambit pink panjang itu memeluk sebuah foto ukuran besar, menutupi perut dan dadanya. Ia mencium lembut pria bersurai kuning cerah yang memeluk wanita berambut merah muda pendek pada foto itu.

Liquid suci mengalir tanpa isakan, ia mendekap erat foto pernikahanya dengan Naruto, pria yang berhasil menjadikannya Namikaze Sakura. Pria bodoh dengan segala celotehan konyol yang selalu ada disisinya.

Cairan bening hasil proses lakrimasi berlomba keluar membasahi pipi mulus Nyonya Namikaze, Sakura mengeratkan dekapannya. Dalam lirih, ia memanggil nama orang yang amat dicintainya. Orang yang memberikan semangat dalam setiap nafasnya. Orang yang bahkan sampai sekarang bercokol dihatinya.

Dalam lirih, dalam lara, dan dengan semua luka yang masih perih terkoyak, Sakura memanggil malaikatnya, "Aishiteru Naruto. Gommenesai..."

Foto pernikahan mereka yang tersenyum bahagia menjadi saksi air mata kepedihan dan pengorbanan.

..

Naruto menarik laci pada meja kerjanya, ia tersenyum pedih menatap foto dalam laci tersebut, namun tangan Naruto tidak meraih foto, melainkan amplop coklat.

"Aku mengorbankan segalanya, Sasuke, demi apa yang disebut omong kosong takdir." Naruto meletakan amplop berwarna coklat itu dimeja kerjanya, "Kehilangan karir, nama yang tercemar," Naruto menggeser amplop besar itu, rupanya masih ada amplop yang berwarna sama namun dengan ukuran lebih kecil dan lambang berbeda, "Kehancuran keluarga yang amat kukasihi, orang yang amat kusayangi."

Naruto membuka amplop yang lebih kecil, mengeluarkan selembar kertas disana, Surat dari pengadilan, dengan perihal gugatan cerai dari Haruno Sakura kepada Namikaze Naruto. "Aku kehilangan segalanya, teme, aku mengorbankan semua yang ada dalam genggamanku."

"Pemerintah berencana membeli pesawat baru untuk penerbangan lokal, bisnis penerbangan negara ini semakin lesu setelah di gempur habis-habisan oleh maskapai dari Korea dan China, yang menawarkan tiket murah, jauh dibawah harga tiket dari Nippon SkyWay Airlines selaku maskapai milik pemerintah. Tidak hanya di gempur dari maskapai lain, Shinkansen juga menambah serangan yang membuat maskapai pemerintah hampir gulung tikar."

Naruto menambahkan, "Dengan perbedaan selisih harga tiket, masyarakat lebih memilih Shinkansen untuk bepergian antar kota. Bahkan untuk Tokyo-Osaka, selisih ticket mencapai 2000 yen. Meski jarak tempuh mereka lebih lama, tetap saja finansial adalah pertimbangan utama daripada lamanya perjalanan bagi mereka yang berada dalam kasta menengah kebawah."

Seluruh petugas ATC menaruh minat pada kata-kata Naruto berikutnya.

"Pemerintah mengambil keputusan untuk membeli pesawat baru guna menambah armada untuk penerbangan lokal, demi menghindari gempuran maskapai swasta yang kini makin melejit dimata masyarakat, Departemen Perhubungan menunjuk aku dan tim-ku menilai, menawar, dan membeli armada. Tiga perusahaan menawarkan proposal."

..

Burung besi dengan gagah memecah awan, menunjukan keperkasaan dengan deru mesin yang menggeram di atap langit. Dalam ruang kokpit, Sasuke seksama mendengarkan Naruto.

"Akhirnya pemerintah memilih PT. Institus penerbangan Jepang Mandiri, meski belum ditetapkan menjadi Goal. Tapi aku mengambil langkah berbeda. Dengan terus me-lobby pihak pemerintah, yaitu menteri Perhubungan dan Divisi 7 dewan parlemen, yang mengurusi segala macam transportasi di negara ini, keputusan berubah. PT. BSL keluar sebagai pemenang tender."

Sasuke menjawab pada radionya, "Dan kau pasti punya alasan kenapa harus menjadikan PT. BSL sebagai pemenang, apakah uang berbicara disini?"

"Antara ya dan tidak." Jawaban ambigu menguar disela-sela noise.

"Sasuke, akan kuberitahu padamu, seluruh maskapai penerbangan di negara ini hampir 90 persen menggunakan pesawat bekas dari maskapai negara lain. Kau pasti tahu maksud bekas, kan? Pesawat yang sudah terbang sebanyak 4000-5000 lebih, demi menjaga agar pesawat tetap layak terbang, maskapai membeli onderdil untuk mengganti onderdil yang tidak layak, ironisnya, harga onderdil pesawat sangat mahal, mereka memilih alternatif, yaitu membeli onderdil bekas."

Sasuke mengangguk, memahami sesuatu, lalu kembali menempelkan mulut pada radio, "Jadi, secara tidak langsung, kau ingin mengatakan bahwa satu armada pesawat terbang adalah kumpulan dari barang rongsokan. Begitu?"

"Tepat sekali!"

"NEGARA SIALAN!" Sasuke meradang.

"Kau tahu istilah one on one off, Sasuke?"

"Apa itu?"

"Tanyakan pada pilotmu! Dari cara ia melakukan manuver tadi, kurasa ia bukan pilot amatir, setidaknya jam terbang tinggi dan segudang pengalaman pasti ia miliki..."

Sasuke menoleh pada Kabuto. Merasa ditanya melalui tatapan, Kabuto masuk ke mode Autopilot, lalu mulai menjelaskan.

"Itu istilah yang sering digunakan oleh maskapai, mahalnya spare part pesawat terbang, bahkan yang bekas sekalipun, membuat tiap pesawat tidak memiliki spare-part lengkap. Jadi, ketika ada satu pesawat hendak terbang, maka ia akan mengambil spare-part dari pesawat lain, dan itu memaksa pesawat yang di ambil onderdilnya harus parkir di Apron."

Sasuke menganalisa, "Dan ketika pesawat yang di parkir itu masuk dalam jadwal terbang, maka pesawat itu juga mengambil spare-part dari pesawat lain yang baru landing."

"Benar, dan pesawat itu harus parkir sampai datang pesawat lain untuk di ambil onderdil yang diperlukan, karena itu ada istilah one on one off, jika satu pesawat terbang, harus ada satu pesawat yang mengalah untuk di parkir. Itu pula yang menjadikan jadwal penerbangan melorot alias delay!"

Sasuke kembali menghubungi Naruto, "Lalu apa keterkaitan one on one off dengan kasusmu?"

"Sederhana, Sasuke, armada dari PT. Airbus sangat mahal, pemerintah hanya mampu membeli 5 pesawat sesuai anggaran dana dari APBN, sedangkan mereka butuh setidaknya 10-13 armada. Anggaran hanya cukup membeli dari PT. Boeing Steel Line atau PT. Intitut penerbangan Jepang Mandiri. Pilihan jatuh pada PT. BSL, 10 pesawat baru. Benar-benar baru."

Naruto melanjutkan, "Dengan rongsokan yang bisa mengudara, bisa kau bayangkan jeleknya standar keamanan dan keselamatan penerbangan negara ini? Siapa yang di korbankan?"

..

Naruto berdiri dan menggebrak meja, "954 KECELEKAAN PESAWAT PADA TAHUN LALU ADALAH BUKTI TAK TERBANTAHKAN BAHWA PEMERINTAH TELAH LALAI! RIBUAN, TEME! RIBUAN! RIBUAN NYAWA MELAYANG SIA-SIA DALAM KEPENTINGAN BUSUK PEMERINTAH!"

Kepalan Naruto makin menguat hingga buku jarinya memutih, "Kapitalisme adalah nyawa birokrasi ini, mereka mengeruk keuntungan sebesar-besarnya demi kantong mereka dengan mengabaikan nyawa orang lain, birokrasi negara ini adalah kumpulan pembunuh berdasi! DAN AKU HARUS BERTINDAK! DENGAN MEMBELI PESAWAT BARU, SETIDAKNYA JUMLAH NYAWA YANG DIKORBANKAN DEMI KEUNTUNGAN BORJUIS KAPITALIS BISA DIKURANGI!"

Hiruzen gelisah, berkeringat dingin.

"Aku harus bertindak demi keselamatan masyarakat, Sasuke, meskipun harus mengorbankan karir dan keluargaku. Kaum kapitalis menjelma sebagai predator marjinal yang memangsa rakyat negaranya sendiri."

"KEPARAT-KEPARAT SEBAGAI DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DENGAN SOMBONG MENYALAH-GUNAKAN KEKUASAAN!" Naruto terengah, tapi ia belum selesai, "Bayangkan, teme, bagaimana perasaan keluarga mereka yang ditinggalkan?"

"Kehilangan." Singkat dan padat, Sasuke menjawab.

"Tapi tidak sepenuhnya dalam kerelaan. Kau tahu, terkadang aku diperintahkan mewakili departemen perhubungan untuk menghadiri pemakaman korban kecelakaan pesawat, dalam linangan airmata, semua anggota keluarga yang ditinggalkan saling menguatkan dan berkata 'ini adalah takdir kita,' saat itu juga aku ingin berteriak dihadapan mereka bahwa kecelakaan bukanlah takdir..."

Naruto memberi jeda, mengatur nafasnya, "KECELAKAAN BUKANLAH TAKDIR!"

Mata naruto berkilat dalam amarah, "Pemerintah mempermainkan nyawa rakyatnya. Itu intinya, Sasuke, dan aku tidak akan tinggal diam jika ada yang bisa kulakukan demi perubahan ke arah lebih baik, semuanya demi keselamatan penumpang. Apapun itu, bahkan mengorbankan segalanya, kita berbicara masalah kemanusiaan sekarang, apakah kita akan diam saja ketika kita mampu merubahnya, kita manusia, Sasuke, manusia yang beradab dan bermoral!"

..

Sasuke melihat ke arah jauh, hamparan langit menyita matanya, tapi tidak dengan pikirannya.

"Sidangmu di tunda karena kurangnya barang bukti, uang kotor tidak ditemukan direkeningmu. Koreksi jika aku salah!"

"Benar."

"Berarti kau menyimpan uang dalam bentuk tunai, lalu kau sembunyikan di suatu tempat, atau, kau memakai rekening lain, dan pasti bukan rekening biasa, milik orang yang tak terduga serta 'penting', karena investigasi sulit melacak kemana dana yang kau terima mengalir."

"Kau jenius, brengsek!"

"Aku memang dilahirkan sebagai orang jenius, keparat."

Noise bermain mengisi senyap.

"Aku kehilangan keluargaku, teme."

..

"Maksudmu, dobe?"

Naruto kembali nanar menatap surat perceraian di meja kerjanya.

"Aku me-lobby dewan parlemen divisi 7, demi menjadikan PT. BSL sebagai pemenang, dan untuk me-lobby menteri perhubungan, Hyuuga Hiashi, aku mendekati putri dari menteri perhubungan, Hyuuga Hinata."

"Mendekati?"

"Hinata adalah teman semasa sekolahku, juga sahabat baik istriku. Kami bertiga berpisah saat Hinata fokus mengambil study bisnis di Amerika, sementara aku dan Sakura tetap disini."

"Lalu?"

"Hinata dulu memiliki perasaan khusus denganku, meski akhirnya aku menikah dengan orang yang kusayangi, Sakura."

"Dan kau memanfaatkan perasaan Hinata padamu, untuk me-lobby ayahnya sendiri?"

"Ya... petaka terjadi, aku tidak punya maksud lain dengan Hinata, tapi dia salah paham, ia mengira aku serius menjalin hubungan dengannya. Dia bahkan menerima seandainya harus dijadikan istri kedua. Asalkan aku tidak meninggalkannya, bayangkan, betapa tulus dan suci hati Hinata?"

"Kau menyimpan uang yang kau terima dari PT. BSL di rekening Hinata?"

"Ya..." Naruto menjawab dengan gontai.

"Kau cukup pintar, tidak ada yang akan menyangka bahwa putri menteri perhubungan menyimpan uang panas dalam rekeningnya."

Naruto diam menunduk.

Sasuke kembali melanjutkan perkataannya, "Jadi yang kau maksuskan kehilangan keluarga yang kau kasihi adalah kau ketahuan... selingkuh."

Naruto menegakkan kepala, dengan air mata tanpa isakan, "Aku sudah jujur pada istriku, tapi Sakura tidak bisa menerima alasanku, aku juga katakan padanya bahwa aku hanya memperalat Hinata demi mewujudkan kontrak pembelian pesawat. TAPI SAKURA MALAH MARAH BESAR! SEBAGAI SEORANG ISTRI, SEBAGAI SEORANG PEREMPUAN LAYAKNYA HINATA DAN SEBAGAI SAHABAT HINATA!"

..

Sasuke memutus kontak, dan memberi perintah pada Kabuto, "Kita berbalik ke Haneda, kita kembali ke rencana awal."

Kabuto memutar toggle searah jarum jam secara perlahan, memastikan pergerakan aileron dan rudder pada Turn Indicator. Tidak ada yang membuka suara dalam flight deck. Sasuke mengambil kembali radio, menghubungi petugas ATC Tower bernama Naruto.

"Naruto... kau pahlawan. Aku kagum pada kebaikan hatimu meski resiko yang kau terima menyiksamu."

"Aku tidak butuh gelar itu, Sasuke... bukan itu tujuannku dari awal, semua ini demi kemanusiaan, manusia yang beradab dan bermoral,"

Sasuke kembali memasang telinga setajam mungkin.

"Kapitalis menciptakan kebahagian mereka dengan mencabut paksa kebahagiaan orang lain! KAPITALIS KEPARAT! PEMERINTAH KEPARAT!"

..

"Aku korbankan semuanya, Sasuke! merelakan kebahagiaanku tercerabut demi kebahagiaan yang jauh lebih besar! Bagiku, yang bekerja dalam dunia transportasi dan perhubungan, tidak ada yang jauh membahagiakan hati ketika melihat pesawat berhasil mendarat, seorang kakek yang menggendong cucunya, sepasang kekasih yang akhirnya bertemu setelah sekian lama terpisah jarak, seorang pebisnis yang berhasil menemui rekan kerjanya, dimana perusahaannya menampung ribuan karyawan, semua itu terjadi karena mereka selamat mendarat, Sasuke, ketika aku pulang, bertemu dengan beberapa pilot di lantai bawah, mereka menjabat tanganku dan berterima kasih atas bantuanku sebagai petugas ATC tower, tidak ada yang lebih membahagiakan, Sasuke, ketika semua berjalan dengan aman."

Naruto menggigil dalam berdiri. Ia sesak nafas, sulit mengendalikan emosi yang terlalu sakit untuk dipendam. "Aku kira, aku bisa mengelak dari kenyataan, setelah bercerai, aku berencana tinggal jauh ke daerah terpencil, menghilang dari orang-orang yang kusakiti hatinya. Tapi sekarang semua sudah terungkap! Jeruji besi menantiku."

"Maafkan aku, Naruto, telah memaksamu menceritakan semua ini."

Naruto menggeleng cepat."Bukan! Bukan! Kau salah mengira aku menyesal menceritakan ini semua! Kau salah! Aku sangat lega sekarang! Aku bisa hidup damai dalam penjara, asalkan tidak membuat Sakura dan Hinata menangis. Aku rela! Aku rela, Sasuke!"

"Naruto... terima hormatku untukmu! Aku berterima kasih atas kepedulianmu kepada sesama manusia, negara ini memang tidak tahu berterima kasih, karena itu, sekarang aku bertindak sebagai penghukum negara ini. Dengan apa yang telah kulakukan dipesawat ini, negara ini menjadi sorotan dunia, gangguan stabilitas ekonomi dan keamanan serta turunnya tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah."

Mereka semua yang tadi mengikuti rapat diruang Kakashi saling pandang, perkiraan mereka tepat bahwa tujuan teroris membajak pesawat NSA112 adalah untuk mengacau.

Naruto menangis dalam gemetar, Naruto membenturkan kepalanya berkali-kali ke meja kerjanya, tuts keyboard berhamburan terkena hantaman keningnya. "Bwuahahaha... ini semua demi kemanusiaan, Sasuke... Bwuahahaa..." Tangisan pilu kontras dengan tertawa yang dipaksakan. "Maafkan aku, Sakura-chan! Maafkan aku, Hinata! Maafkan aku!"

Naruto terus menceracau kata maaf sambil terus menghantamkan kepalanya sendiri ke meja kerja. Kepiluan mencekat lehernya dan menyesakan dadanya. Naruto akan terus begitu sampai kepalanya bocor jika tidak ada sebuah tangan menepuk bahunya.

"Hentikan, Naruto!"

..

Sasuke terdiam, entah apa yang ada dipikirannya. Ia meregangkan seluruh persendian yang terasa pegal. Ia mencoba kembali menghubungi Naruto.

"Naruto... akan kuceritakan padamu, sebuah kisah, tapi bukan dongeng pengantar tidur."

..

Kakashi menepuk bahu Naruto. Matanya semakin sayu menatap si pirang dari belakang. Setelah memastikan Naruto tenang dan tidak menghantamkan kepalanya lagi pada meja, Kakashi menurunkan tangannya dari pundak Naruto.

Asuma miris melihat keadaan Naruto. Ia mengamit sejumput jenggot pada dagunya.

"Sasuke dan timnya berasal dari luar Tokyo, karena mereka terbang dari Beijing. Berarti mereka harus keluar juga dari Tokyo saat menerima uang tebusan." Bola mata Asuma menatap intens Kakashi yang mengacak rambut Naruto seraya mengatakan 'aku bangga padamu.'

"Dia pasti sudah tahu saat barter penumpang dengan uang, mereka akan dikepung oleh pasukan detasemen anti teror. Bagaimana ia melarikan diri saat semua pihak keamanan di negara ini memburunya?"

Asuma menengadah kepalanya, tanpa sadar bahwa Kakashi sudah berdiri disampingnya. "Akses keluar masuk kota yang paling efisien dan efektif adalah jalur udara, atau jangan-jangan mereka tetap menggunakan pesawat yang sama untuk kembali ke Beijing?"

"Ada apa, Asuma?" Kakashi sedikit heran melihat teman lamanya yang tampak berpikir keras. Raut serius Asuma, yang sangat jarang ditampakan kecuali di lapangan, membuat Kakashi yakin putra pertama perdana menteri itu sedang menganalisa dan mengumpulkan berbagai kemungkinan.

"Mereka tidak akan kembali ke Beijing menggunakan pesawat yang sama, selain harus berhubungan dengan pihak kepolisian Beijing, dunia international akan segera turun tangan karena dalam pesawat terdapat beberapa orang berkewarganegaraan asing."

"Kakashi..." Yang ditanya menaikkan alis, menoleh sesaat.

"Berapa daya tampung bagasi NSA?"

Kali ini Kakashi memutar seluruh lehernya ke arah sahabatnya yang pecandu nikotin itu. "Bagasi?" Ada berbagai spekulasi yang bermain di kepala Asuma, Kakashi yakin itu, bagaimanapun juga Asuma adalah orang nomor satu di pasukan anti teror, ia pemikir handal dan pekerja keras.

"Secara spesifik aku tidak tahu berapa daya tampung bagasi NSA, tapi dalam keluarga Boeing, NSA112 yang merupakan Boeing 747-400 adalah yang terbesar. Sebelum kemunculan Airbus, 747-400 terbesar di dunia. Daya tampung penumpang 400 orang diluar flight attendance dan pilot serta first officer, terbagi dua lantai, serta tiga pembagian kelas."

"Berarti, bagasi boeing 747-400 terbesar di kelasnya, mengingat kapasitas penumpang yang begitu banyak."

"Ya..."

Asuma menunduk, menatap ujung sepatunya. "Apakah kendaraan bermotor bisa masuk bagasi pesawat non-cargo?"

"Untuk Boeing 747-400? Bisa... dengan izin dan berbagai persyaratan khusus."

Asuma seketika menegakkan kepala, lalu berbalik dan berlari menuju keluar, pintu kayu naas tidak lagi berdebam, karena dengan sekuat tenaga Asuma membuka pintu sampai terlepas dari engselnya. Genma dan Anko terkejut, namum segera ikut mengejar ketua mereka. Seluruh petugas bertanya-tanya dengan kepergian satuan khusus anti teror.

"Setidaknya ucapkan salam sebelum kau pergi... Anko-chan..." Kakashi melambaikan tangan entah pada siapa. "Aku yakin kau punya rencana bagus, Asuma."

"Apa yang akan kau ceritakan, Sasuke?" Suara Naruto kembali menyita perhatian.

"Sebuah pengakuan dosa." Suara dingin itu menggema dalam ruangan melalui pengeras suara, "Tapi bukan dosaku."

..

"Melainkan dosa negara ini." Kilatan kebencian mulai menyambar di kelamnya mata Sasuke, "Aku... Uchiha Sasuke."

"Kau.. uhm..."

Amarah merah darah mengbungkus onyxs.

"Keluarga... pahlawan."

Perkataan Naruto menguapkan amarah Sasuke.

"Kau keluarga pahlawan, teme, kenapa tidak dari awal kau sebutkan margamu.."

Sasuke menanti lanjutan perkataan Naruto dengan raut wajah mengeras.

"Kau keturunan pahlawan.. keturunan Uchiha Madara. Bersama Senju Hashirama berusaha melepaskan negara ini dari belenggu penjajahan. Di setiap buku sekolah dasar pelajaran sejarah, nama kakek moyangmu terukir sebagai patriot bangsa."

"Lalu.. apa lagi yang kau ketahui?" Sasuke bertanya.

"Hm..."

Sasuke memotong sebelum Naruto menjawab, "Madara di cap sebagai pengkhianat negara. Diburu untuk dibunuh. Uchiha Madara lenyap ditelan bumi, tapi keturunannya tetap menanggung dosa."

"Apa maksudmu?"

"Madara dan Hashirama bersebrangan. Madara lebih berkiblat pada Uni Soviet saat Sekutu menyerahkan negara ini kepada rakyatnya sendiri untuk berdaulat, sedangkan Hashirama ingin menerapkan negara parlementer dengan azas liberal seperti Amerika. Madara dituduh sebagai Fasis dan Komunis. Hashirama sebagai orang nomor satu negara ini yang terpilih secara aklamasi, memerintahkan untuk memburu sahabatnya sendiri, termasuk semua orang yang mendukung Madara."

"Aku tidak pernah tahu... setahuku, dalam buku sejarah, Madara membentuk partai komunis sebagai oposisi partai berkuasa."

"Pemerintah pintar menutupi sejarah.. Naruto.. Madara tiba-tiba hilang, tapi seluruh keturunan Uchiha mendapat kutukan! Meski Uchiha mengabdi layaknya masyarakat lain, pemerintah tetap menganggap benih komunis masih mengalir pada darah kami. Generasi yang bahkan tidak tahu apa-apa."

"Apa ini berkaitan dengan pembantaian klan Uchiha?"

..

"Naruto... maukah kau mendengar kisah masa kecilku?"

Naruto melihat radar, memastikan jarak tempuh NSA112 yang sekitar 20 menit lagi mendarat di Haneda.

"Aku ada 20 menit untuk lukamu, Sasuke."

Hiruzen mengangkat handphone, setelah berbicara beberapa saat, ia menutup handphone dan berujar, "Uangnya sudah siap. Dalam lima belas menit sampai disini."

Kini semua telinga terpasang untuk mendengarkan Sasuke.

"Saat aku masih kecil, belum memasuki masa sekolah, yang ada dikepalaku hanyalah bermain, bermain, dan bermain. Aku punya seorang teman, aku sering bermain dirumahnya, aku lupa siapa namanya, ia berambut kuning dan cengiran selebar lima jari, ia tinggal bersama seorang kakek yang bekerja sebagai penulis dan seorang pemuda yang sangat disiplin dan perfeksionis. Mereka orang yang baik. Bahkan sekarang aku ingin sekali bertemu dengan ketiga orang tersebut."

Kakashi meyimak dengan serius, merasa tidak asing dengan beberapa orang yang diceritakan Sasuke.

"Waktu itu aku bermain ninja-ninjaan sampai lupa waktu bermain dirumah temanku itu, matahari sudah sepenggalah menuju haribaan, Aniki datang menjemput. Aniki adalah adik kelas dari kakak perfeksionis itu, mereka berbincang cukup lama, sehingga aku bisa kembali bermain kembali dengan temanku. Tapi saat yang sama petaka terjadi di kediaman klan Uchiha."

Sasuke melanjutkan, "Kami berdua pulang saat senja menyisakan sedikit warna kesedihan pada langit, namun apa yang kami temui ketika memasuki gerbang klan Uchiha adalah kegelapan dan kesunyian. Penjaga gerbang tewas dengan beberapa like tembak dan juga tusukan."

"Aku dan aniki berlari menuju rumah, sepanjang jalan kompleks sunyi, seolah tidak ada manusia disana, kami berharap bahwa kedua orangtuaku, kakek dan nenekku, baik-baik saja. Tapi kenyataan mengatakan hal yang sebaliknya."

Naruto dan seluruh petugas ATC mendengarkan dengan serius.

"Aku disambut dengan jasad anggota keluargaku. Kepala ayah terletak diatas meja makan. Dan tubuhnya tercerai berai. Ibuku ditemukan tewas dalam kamar mandi dengn kondisi menggenaskan, diperkosa lalu dibunuh! Kakak-nenekku tewas dengan tubuh yang juga tak lagi utuh!"

"Otakku saat itu tak sangup menerima semua kejadian itu, aku hanya bisa berteriak entah pada siapa, memanggil ayah dan ibuku dan berkata hentikan lelucon ini, aku belum berulang tahun. Tidak ada yang menjawab..."

"Karena mereka semua mati." Imbuh Sasuke dengan suara teramat dingin.

"Tiba-tiba tedengar ledakan, rumah kami dan seluruh komplek Uchiha terbakar, untuk menghanguskan seluruh jasad yang ada ditiap rumah Uchiha. Aniki panik, berusaha menyelamatkanku. Namun kami terjebak dalam reruntuhan, hingga oksigen yang berkurang memaksa kesadaranku tumbang."

"Sebelum aku pingsan, aku merasa tubuhku digendong seseorang, juga tubuh aniki, seorang kakek berambut putih panjang membopong kami seperti karung beras dan berlari menerjang api. Itu kakek temanku. Si kakek penulis."

Kakashi merasa familiar dengan cerita Sasuke, Namun ia memutuskan untuk tidak menyela.

"Aku tersadar beberapa hari kemudian, dirumah temanku. Rasanya setiap tulangku tak lagi punya tenaga. Bayang-bayang kematian keluarga serta seluruh klanku mencengkram hatiku yang remuk, aku mendengar keributan di ruang tamu. Seseorang yang mengaku Uchiha datang dari China dan hendak mengajakku serta aniki untuk tinggal bersamanya. Kakek penulis itu bersikeras, dengan kedua tangannya akan merawat aku dan aniki. Tapi orang yang mengaku Uchiha itu tetap memaksa aniki untuk ikut dengannya."

Tubuh Kakashi menegang, "Itu Obito!"

"Akhirnya aniki memilih ikut dengan orang itu, meskipun si kakek penulis berusaha membujuk aniki agar tetap tinggal bersamanya, aku mau tak mau ikut juga, karena bagiku saat itu, aniki adalah satu-satunya nyawaku. Satu-satunya kehidupanku. Aku memilih pergi menjauh untuk melupakan semua pilu yang menjerat takdirku."

"Pemerintah mengatakan bahwa klan Uchiha dibantai oleh lawan politik anti komunis. Omong kosong sejarah terbentuk sejak saat itu, Jika memang Madara seorang Komunis, kenapa kami, anak cucunya yang harus mencuci dosanya? Tidak ditemukan satu jasadpun, pemerintah mengatakan pada media massa seluruh jasad klan Uchiha habis dimakan api. Tapi mereka salah besar, ada dua orang yang selamat, membawa dendam kesumat dan kebencian."

"Kenapa kau bisa bicara sepanjang itu dengan tenang, Sasuke?" Naruto membatin.

"KARENA ITU SEKARANG AKU KEMBALI SEBAGAI PEMBALAS DENDAM! DENGAN KUTUKAN UCHIHA YANG MELEKAT PADA KULITKU! DENGAN SEGALA KESAKITAN YANG DITERIMA KLAN-KU! AKU KEMBALI MEMBALAS DENDAM!"

"Kutarik kata-kataku tadi." Naruto tersentak kaget dengan kemarahan Sasuke.

Shikamaru juga ikut terkejut, semua analisanya salah. "Ayah, jadi tujuan awal mereka bukan menyerang ekonomi kita?"

Shikaku menoleh sesaat, "Ini diluar dugaan, Shikamaru..."

..

Tiga mobil polisi masuk kedalam bandara dengan iring-iringan 6 polisi bermotor dan bersenjata lengkap. Tiga polisi membawa satu tas berisi 100 juta pada masing-masing tanganya. Salah satu Dari mereka menghubungi Hiruzen, lalu bergabung dengan tim anti teror di lantai dasar menara pengawas.

..

Asuma berada dilantai bawah menara pengawas, setelah pergi entah darimana. Seluruh warga sipil dievakuasi, di lantai bawah hanya ada satu pleton Satuan Khusus Anti Teror dan beberapa petugas kepolisian kota.

Asuma membuka dua gulungan di tangannya dan dihamparkan pada sebuah meja. Seluruh anak buahnya mengelilingi dan siap menerima instruksi.

"Jadi, anda menghilang tadi untuk mencari cetak biru rangka pesawat NSA112 dan denah kota Tokyo?" Genma bertanya, namun Asuma lebih memilih mengacuhkan pertanyaan anak buahnya dan memberikan instruksi.

"Aku sudah menghubungi kantor pusat untuk meminta pasukan tambahan. Kita akan terbagi jadi dua tim! Tim pertama!" Asuma menunjuk pada cetak biru, "Gaara! Kali ini kau pimpin Alpha team!"

"Hah? Tapi pak, itu tim anda."

"Aku percayakan padamu!"

Gaara memberi hormat, "SIAP! LAKSANAKAN!"

Asuma kembali fokus pada hamparan peta kota Tokyo. "Tim kedua terdiri dari Beta team dan Charlie team. Aku akan memimpin langsung tim kedua. Charlie team akan segera tiba dari markas sebagai pasukan udara. Aku akan langsung memimpin dari atas."

"Jadi... begini rencananya..."

Semua satuan mendengarkan seksama instruksi dari Asuma.

..

"Tapi yang kau lakukan sama busuknya dengan pemerintah, Sasuke, menebar teror dan membunuh mereka yang tak bersalah."

"Harus ada yang dikorbankan demi satu tujuan, dobe."

"Tidak! Kau sama saja! Kau menebar teror pada mereka yang tidak tahu apa-apa! Yang tidak terkait dengan pembantaian klan Uchiha!"

"AKU TIDAK SAMA KEPARAT! AKAN KUTUNJUKAN PADAMU BAGAIMANA CARANYA NEGARA INI HARUS BERTERIMA KASIH PADA PAHLAWAN SEPERTIMU!"

Naruto tak menjawab, NSA112 sudah di atas bandara Haneda.

"KUPERINGATKAN KALIAN, JEPANG! INI HANYALAH AWAL DARI BABAK PEMBALASAN DENDAM! INI HANYALAH AWAL!"

"NSA112, masuk dalam runaway 21A 7F." Naruto mengarahkan Sasuke untuk landing. "Sasuke... jika aku boleh tahu, uang tebusan yang kau minta kau pergunakan untuk apa?"

"Hn. Kau tak perlu tahu. Antarkan uangnya kesini. Hanya kau sendiri."

"Lalu bagaimana caramu kabur?" Naruto bisa melihat NSA112 sudah mulai menurunkan roda dan masuk jalur runaway. "Baiklah. Sasuke."

Shikamaru kembali menoleh pada Shikaku. "Tepat! Untuk dugaanku yang satu itu tidak meleset!"

"Tapi kita tak bisa berbuat banyak, Shikamaru."

Hiruzen memotong, "Asuma baru saja menelpon, ia akan melakukan penyergapan saat pesawat benar-benar sudah selesai mendarat."

Naruto berdiri dari kursinya. Dari menara pengawas terlihat jelas NSA112 melaju dalam runaway.

"Naruto.. berhati-hatilah. Pasukan Anti Teror akan meng-cover-mu." Hiruzen mendekat pada Naruto dan menepuk bahunya.

..

NSA112 telah berhasil mendarat dan sepenuhnya berhenti. Tidak ada tanda-tanda penumpang akan turun.

Naruto berada di lantai dasar menara pengawas, bersama alpha team.

"Naruto-san, ketika kau mulai berjalan mendekati pesawat, kami akan berputar menuju keluar bandara, dan masuk dari arah belakang pesawat. Kami akan lakukan penyergapan ketika kau masuk dalam kabin."

"Apa ini tidak terlalu bahaya, Gaara-san... banyak penumpang di dalam."

"Ini perintah ketua Asuma. Kami hanya menjalankan perintah. Warga sipil tetap kami utamakan meski menangkap target adalah prioritas."

"Menangkap dalam keadaan apa? Hidup-hidup atau mati?"

"Kami punya wewenang menembak siapapun yang menjadi target, Naruto-san, sebaiknya kau mulai kesana. Beri kami waktu untuk bisa memutar, hitung dari satu sampai dua puluh, baru kau berjalan."

Gaara dan rekan-rekannya bersiap, memakai masker khusus dan kacamata putih serta helm pelindung kepala. Suara kokangan senjata otomatis bersahutan.

Naruto mengambil posisi dibelakang troli berisi tiga tas penuh uang yang sudah dipersiapkan Gaara. Ia memulai hitungannya dalam hati, ketika Gaara dan rekan-rekanya berlari menuju keluar menara pengawas, menuju sisi luar bandara dan masuk dari arah belakang NSA112.

Setelah dirasa cukup, Naruto berjalan perlahan seraya mendorong troli. Jarak tempat ia berdiri dengan NSA112 parkir cukup jauh. Naruto merasakan perutnya perih, asam lambungnya bereaksi dengan konsentrasi tinggi, efek dari ketegangan yang kini mendera.

Naruto tiba didepan moncong pesawat. Ia menatap kaca kokpit. Naruto memantapkan keyakinan lalu berjalan ke sisi kiri pesawat, menuju pintu masuk.

Pintu terbuka otomatis, menyambut Naruto yang sedikit gentar. Saat itu juga, tanpa bunyi derap kaki, satu polisi Anti Teror mengunci ban pesawat dengan alat khusus. Dua orang bersiaga dibelakang ekor dengan senjata otomatis. Empat orang memanjat pesawat dengan tali dan berdiri di atas badan pesawat, salah satu di antara empat orang itu adalah Gaara. Ia memberi kode tangan pada Naruto untuk masuk.

Naruto mengendong satu tas dipunggungnya, dan satu tas dimasing-masing tangannya. Ia menghirup nafas dalam, lalu menghembuskan perlahan, ia terus mengulangi hal tersebut sampai ia merasa tenang.

Tangga pintu masuk dipijak dengan kemantapan. Naruto tiba dilantai bawah NSA112. Ia meletakan ketiga tas dilantai. Ia memendarkan pandangan kesemua arah, hanya ada penumpang yang mulut dan mata mereka ditutup lakban.

Naruto merasa tercekat. Punggungnya ngilu dan dingin. Aura opresif ini sudah cukup memberitahukan Naruto bahwa dibelakangnya ada sosok dengan kegelapan teramat sangat.

"Halo... Naruto." Suara dengan intonasi tenang membuat keringat dingin makin deras mengucir di setiap pori-pori kulitnya.

Naruto berbalik.

Onyxs dan safir bertemu!

Sasuke dan Naruto dalam lingkaran takdir dan kebencian!

To be Continue