WARNING!

IF YOU DON'T LIKE BOYS LOVE/SHONEN AI/YAOI, PLEASE JUST IGNORE IT.

Fandom : Super Junior

Cast : Super Junior and SMTown

Pairing : KiHae, WonHae, KyuHyuk, YeolHun

Rated : M/MPreg

Chapter : 4

Genre : Romance, Hurt/Comfort.

Disclaimer : All cast belongs to God and themselves.

~Nappeun Bam~

"Ketika sang pujaan tak memihak, pada siapa kau kan berpijak. Bunga layu tak berarti ia akan mati. Hanya tinggal menanti akan datangnya bunga indah yang kan mengganti."

Chapter 4: Awal Baru

Gemericik air menggema dalam sebuah ruang. Hawa dingin menusuk permukaan tubuh yang polos. Menciptakan gerutukan pada tulang-tulang kecil yang tersusun. Raganya meringkuh pada lantai yang seakan membeku. Sang tubuh pun tak kuasa melayu.

"Hueekk.. hueekk.. uhukk.."

Keluar sudah semua isi perutnya saat ini. Sarapan yang ia makan pagi ini, seakan sia-sia. Donghae rebahkan tubuhnya di atas sofanya. Mengistirahatkan tubuhnya yang terasa berat. Terlalu banyak muntah sungguh menguras tenaganya. Benar apa yang dikatakan Kibum kepadanya. Semenjak kedatangannya ke Mokpo, ia lebih sering mual dari biasanya. Setiap pagi dan malam ia pasti akan memuntahkan makanannya. Membuat tenaganya benar-benar terkuras. Namun berkat obat dan susu yang dianjurkan Kibum, membuat staminanya tetap terjaga. Bahkan nafsu makannya bertambah.

"Beginikah rasanya mengandung?" Donghae bergumam. Ia pandangi sebuah foto yang terpampang di atas laci. Sebuah foto yang menampakkan seorang perempuan paruh baya nan cantik bersama dengan dirinya. Ia membayangkan bagaimana keadaan ibunya ketika sedang mengandungnya dulu. Ia pandangi foto-foto lainnya, foto keluarganya. Ia tersenyum getir, mencoba mengingat saat-saat mereka bersama. Kosong. Hanya bayangan kabur yang dapat ia lihat. Ia terus mencoba mengingat, mencoba menyusun puzzle-puzzle kenangan yang kabur. Namun, lamunannya terhenti karena terdengar suara getaran dari telpon genggamnya.

From: Anchovy

Datanglah ke sanggarku hari ini. Aku membutuhkanmu. Jebaaal.. :*

Ia tersenyum membaca pesan dari sahabatnya itu. Sudah meminta bantuannya di bulan pertama kedatangannya? Sungguh tidak pengertian. Namun ia tidak marah akannya. Justru ia sangat senang, sahabatnya masih membutuhkannya. Ia pun segera bergegas tanpa membalas pesan tersebut. Ia terlalu bersemangat. Berdiam diri di rumah bukanlah kebiasaannya.

~Nappeun Bam~

"Hae-ah.. Aku sudah yakin kau pasti datang. Tapi setidaknya, bisakah kau membalas pesanku walau hanya dengan satu huruf 'Y'?" Ujar Hyukjae yang kesal akan kelakuan temannya.

"Yang penting aku datang." Balas Donghae dengan santai.

"Jadi ada apa?" Tanya Donghae, penasaran dengan maksud Hyukjae memanggilnya.

"Ahh.. Hae-ah.. Kau benar-benar malaikatku. Kau ada di saat seperti ini." Ujar Hyukjae bahagia.

"Aku belum setuju untuk membantumu, pabo. Jangan berlebihan." Balas Donghae.

"Aishh.. Kenapa kau jadi dingin seperti itu Hae? Apa terlalu lama bergaul di kota besar membuatmu seperti ini?" Protes Hyukjae yang merasa sahabatnya yang satu ini menjadi agak sedikit cetus.

"Benarkah? Ahh mianhae Hyukie. Mungkin karena bawaan bayiku. Aku jadi sedikit mudah merasa kesal belakangan ini." Sesal Donghae.

"Aegi?!" Tanya Hyukjae, merasa ragu akan pendengarannya. Donghae pun hanya menganggukkan kepalanya.

"Apa kau sudah menjelaskan kepadanya, Chagiya?" Terdengar suara Kyuhyun dari luar ruangan. Mengalihkan perhatian Hyukjae mengenai bayi tadi.

"Ahh.. Iya. Baiklah, akan aku jelaskan. Jadi begini Hae-ah. Sanggar kami akan mengadakan pagelaran musik pada bulan Oktober. Namun satu tenaga pengajarku mengambil cuti melahirkan dan yang satunya lagi berhenti karena dia harus pindah ke luar kota. Kami kekurangan tenaga pelatih di sini Hae. Aku yakin kau masih belum mempunyai pekerjaan kan, Hae-ah. Jadi, kau mau membantu kami kan?" Terang Hyukjae, berharap sahabatnya bersedia membantunya.

"Pagelaran musik bukanlah hal kecil. Apa kau yakin mau mempekerjakanku, Hyukie?" Tanya Donghae memastikan. Ia sedikit ragu dengan kemampuannya.

"Salah satu murid kami mengatakan pernah melihatmu di Seoul. Dan katanya kau adalah salah satu guru di sekolah SM Music School. Apa itu benar?" Tanya Kyuhyun yang kini telah bergabung dengan mereka. Yang sekali lagi hanya dijawab dengan anggukan kecil dari Donghae.

"Jadi haruskah kami meragukan kemampuan seorang guru dari salah satu sekolah musik terbaik di Seoul?" Tanya Kyuhyun meyakinkan Donghae. Donghae pun hanya bisa tersipu mendengarnya. Merasa sedikt berlebihan akan ucapan Kyuhyun. Ia tidak sehebat itu.

"Aku tak sebaik yang kalian pikirkan." Jawab Donghae.

"Oh.. Come On Lee Donghae. Dua puluh tahun lebih aku berteman denganmu. Aku tahu pasti kemampuanmu. Jadi berhentilah merendah." Hyukjae berargumen, berusaha meyakinkan Donghae.

"Kami akan membayarmu dengan harga yang setimpal Hae." Sambung Kyuhyun.

"Benarkah? Kalian harus membayarku mahal." Celetuk Donghae diiringi dengan tawa.

"Dasar, mata duitan." Cetus Hyukajae.

"Jadi kau tidak rela membayarku, heoh?" Tanya Donghae mengompori.

"Aku bercanda Hae-ah. Kenapa kau sensitif sekali sih. Kami pasti akan membayarmu." Balas Hyukjae, heran dengan sahabatnya satu ini.

"Aku juga bercanda pabo. Tidak usah dipikirkan masalah bayaran itu. Aku senang bisa membantu kalian." Donghae mengklarifikasi. Ia pun tersenyum setelahnya. Membantu sahabat adalah prioritasnya.

"Tidak lucu, Ikan." Sepertinya ia masih kesal.

"Sudahlah Hyukie. Terima kasih Hae. Kau yang terbaik." Kyuhyun begitu berterima kasih. Berkat Donghae bebannya sedikit berkurang.

"Ini proposal kegiatan kami. Semuanya dijelaskan di dalamnya. Bila ada yang kurang jelas kau dapat bertanya kepada kami." Jelas Kyuhyun. Donghae pun membacanya dengan seksama.

"Terdapat kekosongan pelatih di biola, akustik dan tari. Kau bisa memilih satu atau dua dari kekosongan itu. Tapi aku berharap kau mau mengambil biola dan tari. Kami benar-benar belum mendapatkan pelatih biola sampai saat ini." Lanjut Hyukjae.

"Baiklah. Aku akan melatih biola. Namun aku akan sedikit membantu di akustik. Aku tidak bisa mengambil tari. Kau lebih mahir dibanding denganku Hyukie." Jawab Donghae. Dengan keadaannya saat ini, tidak mungkin ia melatih tari, bukan.

"Aish.. Padahhal aku niat ingin bersantai. Tapi yasudahlah. Tapi Hae, kau juga harus mau mengambil bagian dalam pertunjukkannya yah." Ujar Hyukjae.

"Mwo? Kau harus benar-benar membayarku mahal Lee Hyukjae." Donghae terkekeh. Temannya tidak pernah berubah. Selalu memutuskan segalanya dengan seenaknya. Benar-benar mengurasnya. Namun semua tidak masalah baginya. Selama itu menyenangkan dan untuk kebaikan sahabatnya. Ia akan dengan senang hati.

Percakapan mereka pun dilanjutkan dengan membahas konsep acara mereka. Menyampaikan tiap ide atau gagasan untuk mengisi acara mereka. Sedikit perdebatan kecil pun tak lepas dari diskusi mereka. Gelak tawa dan canda tak pernah terhenti dari mulut mereka. mengingatkan akan cerita lama yang sempat terlupa.

"Latihan dimulai pada hari Senin jam lima sore. Kami akan mengenalkanmu pada murid-muridmu nanti. Aku berharap kau akan mudah akrab dengan mereka. Mereka anak-anak yang menyenangkan." Ujar Kyuhyun, berharap semua akan berjalan dengan lancar.

"Serahkan padaku. Aku mohon pamit, aku masih ada janji dengan orang lain." Balas Donghae dengan percaya diri. Namun karena ia telah memiliki janji lain, maka ia harus pergi.

"Baiklah Hae. Terima kasih banyak sudah mau membantuku. Hati-hati di jalan." Ujar Hyukjae.

"Gwaenchana. Aku pergi." Pamit Donghae.

"Oh iya. Jangan lupa urus lemak pada perutmu. Kau seperti orang hamil." Celetuk Hyukjae, membuat Donghae menghentikan langkahnya.

"Aku memang sedang hamil." Jawab Donghae, yang langsung melanjutkan langkahnya. Meninggalkan dua namja yang terdiam.

"Sebaiknya kau belajar melawak Hae." Ujar Hyukjae.

"Aku tidak bercanda." Teriak Donghae dari kejauhan.

"Yak, Hae. Cepat kembali dan jelaskan semuanya." Panggil Hyukjae yang penasaran dengan pernyataan Donghae tersebut. Namun sudah terlambat. Donghae telah melaju dengan mobilnya meninggalkan tempat mereka.

"Donghae hamil? Benarkah?"

~Nappeun Bam~

Donghae memasuki area rumah sakit. Perasaan yang sama seperti pertama kali ia datang ke rumah sakit ini muncul kembali. Perasaan yang begitu familiar menyelubunginya. Namun ia abaikan semua itu. Ia rapatkan coat merah miliknya, menyembunyikan perutnya yang kini semakin membesar. Ia pun mulai melangkah memasuki rumah sakit.

Tok tok tok

"Masuklah." Sahut pemuda yang berada di dalam ruangan tersebut. Setelah mendapatkan izin, Donghae pun memasuki ruangan tersebut. Ruangan yang sama saat pertama kali ia datang kerumah sakit ini.

"Duduklah." Pinta Kibum. Yang dibalas ucapan terima kasih dari bibir Donghae.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Kibum. Memulai percakapan.

"Baik. Namun yah seperti yang kau katakan Bumie. Aku sedikit kewalahan dengan rasa mualku." Adu Donghae.

"Itu wajar. Kau meminum obatnya?"

"Ya, itu sangat membantuku." Jawab Donghae

"Ini hasil scannya dan laporan diagnosisnya." Ujar Kibum sambil menyerahkan sebuah amplop coklat.

"Saat ini keadaannya memang kurang baik. Namun berusahalah demi kehidupannya." Ujar Kibum memberikan semangat. Memang sudah menjadi tugasnya.

"Terima kasih. Aku akan berusaha sebaik mungkin." Balas Donghae dengan senyum yang begitu manis. Membuat Kibum entah kenapa menjadi merindu melihatnya.

"Datanglah dua minggu lagi, untuk pemeriksaan selanjutnya. Kita akan melihat letak plasenta dan mendeteksi kelainan anatomi janin. Apakah ada kecacatan pada janin atau tidak." Terang Kibum.

"Baiklah." Jawab Donghae singkat. Ia masih merasa canggung dengan Kibum.

"Oh iya. Berhentilah memakai celana itu. Aku tidak akan melayanimu jika kau datang masih menggunakan jeans atau celana yang kecil atau ketat di kakimu." Himbau Kibum.

"Wae? Semua celanaku modelnya seperti ini." Protes Donghae. Yah semua celananya memang berukuran pas di kakinya. Ia adalah seorang pelatih tari, bukan pekerja kantoran yang memakai celana longgar di kakinya.

"Aku tidak peduli. Aku lebih memilih menanganimu yang menggunakan piyama dari pada dengan pakaian itu."

"Memasuki minggu ke 15, janinmu akan mulai bergerak. Jika kau masih bersikeras menggunkan pakaian itu, itu dapat menghambat pertumbuhan janinmu, Hae." Jelas Kibum yang sontak membuat Donghae terdiam.

"Araso." Donghae pun tak dapat mengelak jika ini sudah menyangkut janinnya.

"Oh ya Kibumie. Waktu itu Sooyoung mengatakan bahwa kau pernah berurusan dengan kasus sepertiku. Benarkah itu?" Tanya Donghae penasaran.

"Hm.." Jawabnya dengan datar.

"Lalu bagaimana? Apakah bayinya dapat lahir dengan selamat?" Tanya Donghae kembali. Dia sedikit khawatir dengan keadaan dirinya dan janinnya.

"Pria yang ada dihadapanmu ini adalah seorang anak yang lahir dari rahim seorang pria." Ujar Kibum yang sontak membuat Donghae terkejut.

"Jinjjayo?" Tanya Donghae memastikan.

"Kau tidak pernah mendengar nama Kim Heechul dan Tan Hangeng?" Tanya balik Kibum.

"Tidak." Jawab Donghae dengan pasti. Membuat Kibum sedikit kecewa mendengarnya.

"Mereka adalah orang tuaku. Rumah sakit ini adalah milik ayahku sedangkan Kim Heechul adalah salah satu Dokter kandungan di rumah sakit ini yang dinikahi oleh ayahku. Dan ia adalah seorang namja." Kibum menjelaskan yang menciptakan decak kagum dari Donghae.

"Kenapa aku tidak pernah mengetahuinya yah?" Bingung Donghae. Ia sudah tinggal lama di sini namun ia tidak mengetahuinya.

"Kami pindah ke Cina saat aku berusia enam tahun dan baru kembali lagi lima tahun lalu setelah aku menyelesaikan kuliahku." Lanjut Kibum.

"Ah pantas aku tidak tahu. Mungkin saat itu aku masih terlalu kecil hingga aku melupakannya. Dan setelah aku pergi selama enam tahun yang lalu, aku baru kembali lagi ke Mokpo sebulan yang lalu." Ujar Donghae.

"Mungkin." Balas Kibum pelan, bahkan seakan berbisik. Sebenarnya ia sedikit jengkel dengan pembahasan ini.

"Kibumie, apakah aku bisa bertemu dengan 'ibumu'?" Tanya Donghae. Ia penasaran dengan orang yang bernasib sama dengannya. Mungkin ia dapat banyak bertanya kepada orang itu, terlebih orang itu adalah ibunya Kibum dan seorang dokter kandungan.

"Ia sedang berada di Hongkong. Mungkin kau bisa menemuinya setelah ia kembali." Jawab Kibum.

"Benarkah? Ahh.. Terima kasih banyak Kibum-ah, kau telah banyak membantuku." Ujar Donghae begitu berterima kasih.

"Tak masalah." Jawab Kibum.

"Kalau begitu, aku pamit. Ku tunggu kabar darimu Kibumie."

"Berhati-hatilah. Jaga kesehatanmu."

Donghae pun meninggalkan ruangan Kibum. Hatinya begitu senang hari ini. Ia merasa seakan-akan memasuki dunia baru. Ia tidak sendiri. Mencoba membuka lembaran baru. Melupakan segalanya yang telah lalu. Sekarang yang terpenting adalah janin yang kini ada dalam kandungannya. Sosok yang akan menemaninya saat ini dan seterusnya.

"Ia bahkan melupaknmu, eomma." Gumam Kibum.

~Nappeun Bam~

Kini sang langit mulai merona mega. Menghantarkan mereka kembali keperaduannya. Namun tidak bagi mereka sang penguasa malam, mereka yang mulai berburu ketika sang malam menjelma. Mereka yang haus akan yuforia malam.

"Kau ingin kemana thore-thore begini, Hyung?" Tanya Sehun yang melihat hyungnya sedang bersiap-siap untuk pergi.

"Ada pekerjaan yang harus ku kerjakan." Jawab Donghae.

"Kau thudah bekerja? Kaukan thedang mengandung, apa tidak apa-apa?" Tanya Sehun merasa khawatir dengan keadaan hyungnya. Yah, ia sudah mengetahui keadaan hyungngya saat ini. Semenjak Donghae pindah ke samping apartemennya , ia jadi sering bermain bahkan menginap di sana. Jadi tidak heran jika ia sudah mengetahui keadaan hyungnya yang sedang mengandung.

"Aku hanya mengajar alat musik. Jadi tenang saja." Jawab Donghae, mencoba menenangkan dongsaengnya yang khawatir kepadanya.

"Benarkah? Tapi kenapa thore thekali? Memang kau kerja dimana hyung?" Tanya Sehun kembali.

"Mengajar di sebuah sanggar, jadi tentu kegiatannya sehabis para siswa pulang sekolah. Kau tahu Sanggar Shappire Blue di daerah sekitar Yeongsan?" Jawab Donghae dengan pertanyaan lainnya.

"Thappire Blue? Ya thamping ? Yang milik Hyukjae hyung?" Tanya Sehun memastikan. Menciptakan kekehan dari bibir Donghae karena pelafalannya.

"Iya. Kau mengenal Hyukkie?" Tanya Donghae penasaran. Mengapa dongsaengnya yang satu ini mengetahui sahabatnya.

"Tentu thaja. Hyukjae hyung thetiap minggu thelalu mendatangi apartemenmu hyung. Ahh ia berrti kau thudah bertemu dengannya? Thepertinya ia thelalu menunggu kepulanganmu hyung." Ujar Sehun, yang membuat Donghae sekali lagi merasa bersalah. Seberharga itukah dirinya hingga temannya selalu setia menunggunya. Memikitkannya membuatnya hampir menangis.

"Hyung?" Tanya Sehun, menyadarkan Donghae yang melamun.

"Ahh.. Nae? Mianhae aku sedikit melamun." Sahutnya.

"Gwaenchana hyung. Thebaiknya kau thegera berangkat hyung, langit mulai gelap." Himbau Sehun.

"Nae. Aku berangkat." Pamit Donghae.

"Hati-hati. Dan titipkan thalamku untuk Hyukjae hyung dan kekasihnya."

Donghae pun beranjak setelah berpamitan. Ia bergegas karena tak ingin terlambat di hari pertamanya bekerja.

~Nappeun Bam~

Donghae menapakkan kakinya pada bangunan yang cukup besar untuk ukuran sebuah sanggar. Ia perhatikan ukiran-ukiran cantik yang menghiasi ruang di dalamnya. Ia tidak memperhatikannya ketika pertama kali ia datang ke tempat ini. Terlihat begitu indah dan artistik. Potret-potret indah pun turut menghiasi tiap dinding bangunan tersebut. Hingga netranya kini tertuju pada ruangan dengan pintu eboni yang kokoh. Ia masuki ruangan tersebut. Menampakkan sosok pria yang menatapnya dengan nyalang.

"Kau masih tidak mau menceritakannya kepadaku Lee Donghae?" Tanya pria tersebut begitu mengintimidasi.

"Bukankah aku datang kesini untuk mengajar, bukan untuk mendongeng, eoh?" Balas Donghae.

"OOHH.. Ayolah Hae-ah.. Kau mau sahabatmu ini mati karena penasaran, heoh? Setidaknya ceritakan sedikit kepadaku Hae." Pintanya kepada Donghae. Ia benar-benar ingin mengetahui apa yang sebenarnya yang terjadi kepada Donghae. Bukankah mereka sahabat? Lalu mengapa Donghae masih merahasiakan segalanya.

"Mianhae. Araso, aku akan mengatakan secara garis besarnya saja. Dengarkan baik-baik." Pinta Donghae.

"Aku selalu mendengarkanmu Hae." Balas Hyukjae.

Donghae mendudukkan tubuhnya pada sofa dalam ruangan tersebut. Ia berhenti sejenak. Berpikir, apakah ia benar-benar siap untuk menceritakannya.

"Siwon menikah dengan wanita lain. Dan sekarang aku sedang mengandung anaknya. Itulah sebabnya aku dapat kembali kesini." Jelas Donghae, meski sedikit pahit ia menceritakannya. Namun semua telah lebih baik.

"Lalu Siwon membiarkanmu begitu saja?" Tanya Hyukjae sedikit kesal.

"Ia tidak mengetahuinya. Aku pun baru mengetahui bahwa aku sedang hamil saat kandunganku sudah memasuki usia 12 minggu." Lanjut Donghae. Menciptakan raut iba dari lawan bicaranya.

"Akan ku bunuh kau Choi Siwon. Bila aku bertemu denganmu." Ujar Hyukjae penuh amarah. Marah kepada Siwon yang sudah berani mengkhianati sahabatnya.

"Lalu apakah Kibum sudah menemuimu dan mengetahui keadaanmu?" Tanya Hukjae tiba-tiba.

"Tentu saja. Ialah yang menjadi dokter kandunganku." Terang Donghae dengan wajah yang santai.

"Mengapa kau bisa mengatakan itu dengan wajah sedatar itu Hae?" Tanya Hyukjae, merasa ada yang salah dengan ekspresi yang dikeluarkan sahabatnya itu.

"Memangnya kenapa? Terus kenapa kau bisa mengenal Kibum?" Tanya Donghae heran.

"Jangan bilang kau juga melupakan Ki.. Buum?" Ujar Hyukjae yang terbata pada ujung kalimatnya.

"Melupakan Kibum? Apa maksudmu, Kibum adalah salah satu orang penting dalam hidupku yang aku lupakan?" Tanyanya meragu.

"Ahh.. Ya, tentu saja kau melupakannya Hae. Diakan.. dia itu hanya dokter yang terkenal dikota ini. Jadi pasti kau melupakannya." Jelas Hyukjae terbata.

"Siaal.. Mianhae Kibum-ah. Aku tak bermaksud mengatakannya." Ucap Hyukjae membatin. Meruntukki akan kebodohannya.

"Jika ia hanya sebatas dokter yang aku kenal. Itu mustahil. Karena ia baru menjadi dokter setelah aku meninggalkan kota ini, Hyukie. Apa kau merahasiakan sesuatu kepadaku, Hyukie?" Tanyanya sedikit marah, karena sahabatnya menyembunyikan sesuatu darinya.

"Kau sudah bertemu dengannya bukan? Lalu bagaimana ekspresinya ketika bertemu denganmu? Bukankah seperti kalian tidak saling mengenal kan? Itu mungkin karena kau yang tidak mengenalinya, maka ia berlaku demikian." Terang Hyukjae.

"Apakah ia adalah termasuk orang yang berharga bagiku?" Tanya Donghae meragu. Ia benar-benar tidak mengingat apapun tentang Kibum. Yang ia ingat hanyalah kejadian-kejadian setelah ia terbangun dari komanya. Namun selama itu tidak pernah ada Kibum dalam kehidupannya. Lalu salahkah ia bila tidak mengingat Kibum? Ia pun ingin mengingat segalanya.

"Aku tidak bisa menjawabnya. Mianhae. Tanyalah langsung padanya." Jawab Hyukjae merasa tidak enak hati dengan sahabatnya.

Mereka pun bergelut pada pikiran masing-masing. Kejadian mengerikan yang menimpa Donghae beberapa tahun silam, terngiang kembali dalam benak mereka. namun lamunan mereka terhenti oleh suara yang memanggil mereka.

"Hyukjae, Donghae? Mau sampai kapan kalian melamun. Anak-anak sudah menunggu kalian." Panggil Kyuhyun, mengganggu khayal mereka.

"Nae. Aku akan segera kesana." Jawab Donghae dan Hyukjae serempak. Mereka pun beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Membiarkan misteri itu kan terjawab seiring berjalannya waktu.

~Nappeun Bam~

"Ini adalah ruang latihan kami. Silahkan masuk, di sana kita akan bertemu dengan yang lainnya." Ujar Kyuhyun memandu Donghae. Mereka pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Menampakkan beberapa orang yang sudah menunggu mereka.

Ruangan tersebut terasa nyaman. Mereka pun menyambut Donghae dengan ramah, tidak ada satu pun tatapan sinis tertuju padanya. Setelah mendengar beberapa pengantar dari Kyuhyun, Donghae pun diperkenankan untuk memperkenalkan diri.

"Annyeonghaseyo, Lee Donghae imnida. Aku akan mengajar biola dan akustik. Mohon kerjasamanya. Senang bertemu dengan kalian semua." Salam Donghae dengan begitu ramah, senyuman manis tak luput dari bibir tipis darinya. Membuat siapa pun ikut tersenyum melihatnya.

"Untuk Special stage, biar aku yang memperkenalkan mereka. ini adalah Chanyeol dan Minhyuk. Mereka akan menjadi drummer kita." Ujar Hyukjae menunjuk pria dengan tubuh yang begitu tinggi dan pria imut di sampingnya.

"Untuk Akustik. Ada Lay, Junieel dan Younghwa. Yang duduk di pojok sana, ada Taeyang yang menjadi leader tari dan vocal kita." Lanjut Hyukjae memperkenalkan member yang lainnya. Acara mereka pun hanya diisi dengan perkenalan dengan member-membelainnya.

"Seperti yang aku katakan Hae, Kami belum menentukan para pemain biola. Kau saja yang memilih, karena nanti merekalah yang akan menemanimu di atas panggung Hae." Ujar Kyuhyun setelah mereka selesai berkenalan dengan masing-masing pemain.

"Kalau begitu bisa kita pindah ke ruang musik bersama calon kandidatnya?" Tanya Donghae takingin berbasa-basi.

"Tentu saja, aku sudah menyiapkan lima orang terbaik, namun kau cukup memilih dua diantaranya sebagai pendampingmu." Jawab Kyuhyun.

"Ish.. Kau mengatakannya, seakan-akan ini adalah pementasan untukku." Celoteh Donghae yang tentu mengundang tawa dari yang lainnya.

Mereka pun memasuki ruang musik. Di sana terpampang berbagai music di sana. Enam buah biola pun sudah tersedia di sana. Termasuk sebuah grand piano yang kini menjadi pusat perhatian Donghae.

"Siapa yang akan memainkan solo piano nanti?" Tanya Donghae penasaran. Karena memang mereka belum memberi tahunya siapa yang akan bermain solo piano untuk pertunjukkan nanti.

"Aku." Jawab Kyuhyun begitu percaya diri.

"Kau yang terbaik Kyu." Balas Donghae. Yah dia memang mengetahui betul bagaimana permainan Kyuhyun, ia adalah pianist terbaik di Mokpo sejak ia duduk di sekolah.

"Kau pun demikian, Hae. Sekarang mulailah audisinya." Balas Kyuhyun. Tak berpikir panjang Donghae pun langsung mengambil sebuah biola, dan memerintahkan para kandidat mengambil biola masing-masing.

"Aku tahu kalian adalah yang terbaik dalam hal ini. Tapi maaf, kami hanya membutuhkan dua orang untuk tampil bersamaku. Tapi tenang, yang tidak dapat bagian ini bukan berarti kalian tidak akan ikut andil dalam pertunjukkan ini. Masih banyak bangku kosong untuk kalian." Ujar Dnghae menyemangati.

"Aku akan memainkan beberapa simponi atau melodi. Dan kalian cobalah untuk masuk dalam permainanku. Yang dapat mengimbangiku dengan baik. Kalianlah yang terpilih." Jelas Donghae akan aturan mainya. Ia pun memulai memainkan biolanya.

Donghae mulai memainkan biolanya. Ia memulai dengan melodi yang begitu terkenal dan familiar di kalangan pencinta musik klasik. Ia mainkan Symphony no.9 pada D minor karya Beethoven. Dan benar saja semua dapat mengikuti iramanya dengan sangat baik. Pada symphony kedua, ia mainkan sebuah alunan melodi yang terapung-apung di atas nada-nada rendah. Kemudian ia hentak dengan irama musik pop. Pada saat itu mulai satu persatu para kandidat mengikuti iramanya. Hingga akhirnya semua memainkan biolanya pada irama yang riang gembira. Symphony no. 34 pada D minor karya Haydn.

"Kalian sangat hebat. Saatnya permainan terakhir." Sela Donghae sebelum melanjutkan permainannya.

Ia mulai mengambil nafas, mencoba mempersiapkan diri. Ia langsung mulai dengan gesekan string yang tinggi yang seakan-akan menggambarkan sebuah peristiwa hujan es. Gesekkan stringnya semakin cepat, menciptakan sebuah melodi yang memekakkan telinga namun terdengar indah. Satu persatu mereka mulai mengikuti. Namun beberapa diantaranya tidak mampu mengikutinya. Tangannya bermain lincah di atas biolanya. Yang menyaksikan pun berdecak kagum dengan permainan biolanya.

Kini tak ada yang mengikuti permainannya. Donghae pun mengurangi tempo permainannya, berharap masih ada yang mampu menimpalinya. Dan benar harapnya, terdapat dua namja mulai memainkan biolanya. Largo, mereka memulai pada tempo lambat. Mencoba menyesuaikan permainan mereka dengan Donghae. Donghae pun mengubah temponya menjadi Allegro non molto.

Tempo-tempo cepat pun mereka mainkan. Sebuah melodi yang menggambarkan akan musim dingin. Permainan mereka seakan membawamu pada musim dingin yang membekukan. Namun memberikan kecerian tersendiri bagi penikmatnya. Concerto No. 4 pada F minor, "L'inverno" (Winter) karya Vivaldi mengalun indah. Dengan tempo Allegro yang sangat memukau mereka tutup permainan mereka. menciptakan sorak dan tepuk tangan yang meriah dari mereka yang menyaksikan.

"Henry-ah dan Benji-ah, kalian akan tampil bersamaku. Kalian sangat hebat, sampai aku hampir kehilangan tempoku." Puji Donghae kepada dua namja yang dapat bermain biola dengan sangat baik bersama dengan dirinya. Namun tidak melupakan peserta lainnya.

Setelah pertunjukkan kecil tadi mereka pun akhirnya berkumpul dengan pemain inti lainnya. Membagi job desk mereka masing-masing. Membahas konsep pertunjukkan dan segala hal teknis dan non teknis mereka bicarakan.

"Jeongmal Gomawoyo, Hae-ah. Kau telah banyak membantuku. Dan maaf telah merepotkanmu. Jangan terlalu dipaksakan. Selain kau harus menjaga tubuhmu kau kini juga harus menjaga kesehatan janin yang sedang kau kandung." Ujar Hyukjae menasehati. Mengingatkan akan keadaan sahabatnya.

"Aku senang bisa membantumu Hyukie, Kyunie. Dan tenang saja aku akan menjaganya dengan baik." Tunjukknya pada perutnya yang mulai membuncit.

"Besok-besok minta tolonglah pada si cadel untuk mengantarkanmu. Agar aku bisa mengantarmu saat pulang. Aku sedikit khawatir denganmu yang harus pulang malam-malam seperti ini." Pinta Kyuhyun yang merasa khawatir.

"Aku bukan anak kecil atau pun seorang gadis Kyu. Sudahlah tak usah mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja. Aku pamit." Tutur Donghae agar sahabatnya tidak perlu khawatir kepadanya.

"Berhati-hatilah."

Donghae pun meninggalkan tempat tersebut. Saat ini sang waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Menyebabkan jalanan yang begitu sepi. Suasana ini membuatnya sedikit bergidik. Namun ia harus menapiknya, karena hal ini akan menjadi hal rutinitasnya mulai saat ini. Yah, mulai saat ini harinya kan diisi dengan melatih alat musik. Berangkat pada jam lima sore dan pulang pada jam sepuluh malam ia lakukan.

~Nappeun Bam~

Ia pandangi pantulan dirinya pada cermin. Menampakkan tubuh yang mulai menggemuk. Pipi tirusnya kini menghilang, tergantikan pipi yang kenyal pada wajahnya. Helaian coklat ikalnya ia biarkan sedikit memanjang. Menjadikannya nampak begitu manis bagi ukuran seorang pria. Perut sixpack yang selama ini ia dambakan pun kini telah hilang. Ia raba perutnya yang kini nampak jelas membesar. Mengejutkannya akan apa yang ia rasakan dalam perutnya.

"Ia bergerak." Ia terkejut dengan pergerakkan janin di dalam perutnya. Merasakannya bergerak membuatnya ingin menangis. Ia merasa seakan bermimpi memiliki makhluk hidup lainnya yang tumbuh di dalam tubuhnya. Ia begitu haru. Ia usap perutnya kembali dengan penuh kasih sayang, menciptakan gerakan lembut di dalamnya.

Ia pandangi kembali cerminan tubuhnya. Mengingatkan ia kembali pada masalahnya yang sebenarnya.

"Apa yang harus aku kenakan saat menemuinya nanti? Hanya tinggal piyama dan celana training yang masih muat di pinggangku. Otteokkhae?" Bimbangnya. Tinggal beberapa hari lagi ia harus kembali ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya. Namun Kibum tidak ingin melayaninya bila ia tidak mengganti kebiasaan berpakaiannya. Ia memang sudah membeli celana khusus untuk orang hamil. Namun, untuk busana atas apa yang harus ia kenakan? Tidak mungkin ia harus selalu mengenakan coat untuk menutupi perutnya

Bukannya ia malu karena sedang mengandung. Hanya saja, jika ia hanya mengenakan kemeja dan menunjukkan perut buncitnya. Bukannya terlihat seperti orang hamil, justru ia lebih terlihat seperti orang yang terkena busung lapar atau gizi buruk. Ia frustasi membayangkannya. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan. Maka ia putuskan untuk meraih telponnya dan mengirim pesan kepada temannya yang ia kira dapat menyelesaikan masalahnya.

To: Sooyoung-ah

"Aku membutuhkanmu. Apa kau sedang sibuk?"

From: Sooyoung-ah

"Kau bertanya di waktu yang tepat. Aku akan meluncur ke apatemenmu. sarangHAEyo oppa."

Tidak lama dari datangnya pesan tersebut, terdengar suara bel berbunyi yang ia yakin dengan pasti siapa yang datang. Tentu saja sosok cantik yang ia kirimi pesan tadi.

"Jadi, Ada apa oppa?" Donghae tak bersuara, ia hanya menggerakkan kepadanya mengarah pada tumpukkan pakaian yang sudah bertebaran di atas tempat tidurnya.

"Kau pasti bingung memilih pakaian karena perkataan Kibum Oppa." Tebak Sooyoung, yang disambut dengan anggukan lesu dari Donghae.

"Baiklah. Serahkan kepadaku." Ujarnya penuh percaya diri. Ia lihat-lihat semua isi lemari Donghae, mencari pakaian yang pantas untuk dikenakan. Namun hasilnya nihil. Ia pandangi Donghae dengan tajam. Ia pandangi Donghae yang kini mengenakan kemeja besar dan panjang yang hampir menyentuh lututnya. Cardigan abu-abu juga menghiasi tubuh atasnya. Namun tanpa menggunakan celana untuk menutupi kakinya. Ia pandangi terus Donghae, hingga ia tiba-tiba menemukan sebuah ide.

"Cepat pakai celanamu , oppa. Dan ikutlah denganku pulang." Donghae pun untuk kesekian kalinya hana bisa pasrah dengan tingkah laku tiba-tiba adik perempuannya itu. Mereka pun pergi menuju rumah Sooyoung.

~Napeun Bam~

Setelah setengah jam perjalanan, mereka pun sampai pada tempat tujuan. Tempat yang sudah lama sekali tidak ia singgahi. Tempat ia sering bermain ketika kecil, di kala orang tuanya harus pergi tanpa dirinya. Ia merindukan tempat ini.

"Eomaaaaaa.." Teriak Sooyoung saat sampai di rumahnya. Donghae hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar teriakan Sooyoung di mana pun.

"Waeyo, Sooyoung-ah?" Tanya seorang wanita paruh baya yang begitu cantik dari balik pintu.

"Lihat siapa yang aku bawa." Ujar Sooyoung sambil medorong Donghae memasuki rumah.

"Donghae-ah, kau kah itu?" Tanya wanita itu. Terlihat genangan air pada pelepuk matanya, namun senyum yang begitu damai dan meneduhkan terpantri diwajah cantiknya.

"Aku pulang, Leeteuk ahjuma." Salam Donghae yang langsung disambut dengan pelukan yang begitu erat dari Leeteuk. Menggambarkan betapa rindunya ia kepada Donghae. Donghae pun hanya bisa membalas pelukan tersebut.

"Eommaaaaaaa!" Teriak Sooyoung yang sontak menghancurkan momen haru mereka.

"Kau tak perlu berteriak, aku mendengarmu. Waeyo?" Ujar Leeteuk yang sedikit jengkel dengan kelakuan hyperaktif anaknya yang satu ini.

"Mianhae. Lalu dimana kau menyimpan baju hamilmu eomma?" Tanya Sooyoung yang sedari tadi sibuk mengacak-acak lemari eommanya.

"Baju Hamil?"

To be continue...

gimana? sudah panjangkah? belum? ahh mianhae.. hanya segini batas kemampuanku..

maaf juga ga bisa balas reviewnya satu persatu..

hope you like it.. dan mohon kritik dan sarannya.. #bow