Disclaimer : Hidekazu Himaruya
A/N : FFN sembuh aku bahagia :D lol
Warning : AU, OC, semoga enggak OOC & typo. para chibi bertebaran :D overdose fluff and cuteness [kalo gak gagal]
-Cute Little Brother & Sister-
Chapter IV
Rumah yang tenang. Tingkat dua dengan halaman yang cukup luas. Dari depan terlihat sangat minimalis dan nyaman karena pepohonan rindang yang tumbuh disekitarnya. Switzerland, nama pemilik rumah itu. Ia mendobrak pintu dengan kasar dan keluar membawa sapu sambil menggerutu. Dari pintu yang terbuka, kita dapat melihat keadaan di dalam rumah.
Anak-anak kecil tergeletak tak beraturan dimana-mana, layaknya korban perang dunia yang jatuh bergelimpangan di medan peperangan. Namun berbeda dari korban perang yang berlumuran darah, anak-anak ini masih mengeluarkan napas pelan dan lambat secara teratur. Dan pada beberapa anak, kita dapat melihat genangan pulau yang diciptakan dari kelebihan produksi lendir di mulut mereka.
Hanya pada saat-saat seperti inilah Switzerland dapat menggunakan waktu bebasnya. Meski sebelumnya ia berpikir untuk bersantai di depan TV tanpa diganggu, ia terpaksa mengurungkan niatnya tersebut. Seisi rumah bagaikan kapal terbalik, barang-barang sudah tidak berada di tempatnya semula. Tempat tidur acak-acakan, mainan berserakan dan sisa makanan tercecer dimana-mana. Pria 19 tahun ini sudah berusaha menutup mata dan beranjak ke sofa di depan TV. Namun kemarahannya memuncak saat melihat America tidur di sofa dengan posisi yang ajaib—kaki diatas, kepala dibawah dan kedua tangan yang direntangkan—beserta genangan pulau besar yang dihasilkannya.
Switzerland pun akhirnya memutuskan untuk bersih-bersih rumah. Mulai dari menyapu seluruh ruangan sampai meletakkan kembali barang-barang ke tempatnya semula. Hampir saja ia membuang Korea ke tempat sampah karena anak itu berguling-guling di lantai saat ia sedang menyapu.
"Bubububu…. Aku buldozeeeeerrrr….da…ugh!" igauan ngaco Korea yang bermimpi menjadi Buldozer terhenti saat Switzerland menginjak anak itu.
Cukup tersiksa juga mengangkat semua anak ini kembali ke tempat tidurnya masing-masing. Namun bebannya sedikit berkurang karena mendapati Liechtenstain yang tertidur di kasurnya dengan tenang. Berbeda dengan anak lain, adik semata wayangnya ini memang tahu tata krama. 'Ck!' Switzerland berdecak kesal mengingat kelakuan anak-anak yang lain.
Saat selesai meletakkan semua anak di kasur masing-masing, Switzerland sadar ada seorang anak yang tidak ada disana. "Mana Austra…"
'TOK TOK TOK!'
"Iyaa… sebentar!" Ia bergegas keluar untuk membukakan pintu. 'siapa sih?'
'DOK DOK DOK!'
Switzerland menarik daun pintu, "Kubilang, tunggu sebentar! Dasar kau…" ia mengerjap, "Australia?" yang disebutkan namanya hanya nyengir lebar.
"Darimana saja kau sejak kemarin? Heh!"
"Aku…hemm… BERPETUALANG! Hehehe."
Switzerland memperhatikan Australia dari ujung kaki sampai ujung rambut. Seluruh tubuhnya belepotan lumpur yang mulai mengering. 'Berpetualang kemana sampai bisa sekotor ini?' pikirnya.
"Ah sudahlah. Aku mulai terbiasa dengan hobi-mu sekarang. Masuk, dan cepat mandi!" perintahnya. "Oke!" Australia menjawab singkat.
"Jangan lupa lepas sepatumu."
"Siap!"
Switzerland masuk kembali ke rumah. Australia segera mencopot kedua sepatu dekil itu dan bersiul. "Thomas! Ayo mandi!" Dari belakang Australia, muncullah sesosok makhluk yang merayap dengan cepat. Switzerland berbalik—menyadari ada sesuatu yang tidak beres—dan mendapati makhluk hijau, bersisik, dan mempunyai deretan gigi tajam yang sangat rapi sedang merayap ke arahnya, "AAAARRRRGGGGHHHH….!" Ia mudur dengan segera, menyenggol vas di atas meja yang telah disusunnya dengan rapi
'BRAK! PRANGG!'
"Thomas! Kembali! Jangan takut-takuti paman Swiss!" teriak Australia yang segera menyambar makhluk bernama Thomas itu ke pelukannya.
0w0
Seychelles terbangun karena mendengar suara rebut dari luar. Ia mendekap boneka ikan kesayangannya dan mengintip dari balik pintu. Setelah melihat penyebab keributan itu, ia berteriak membangunkan teman-temannya.
"TEMAN-TEMAN! AUSTRALIA BAWA BUAYA GEDE! KEREN BANGET!"
Sebagian besar anak langsung bangun, kecuali kakak-adik doyan tidur—Indonesia dan Malaysia—yang harus digoncang-goncang baru bangun. Mereka semua berhamburan keluar, penasaran akan makhluk yang hanya bisa dilihat saat-saat tertentu. Seychelles menyembunyikan boneka ikannya di balik bantal tidur sebelum keluar, takut menjadi sasaran si Buaya.
"AAAHH! CEPAT SINGKIRKAN ! SINGKIRKAN MAKHLUK ITU AUSTRALIAAA!" Switzerland berteriak histeris dan berusaha menggapai simpanan senjatanya di balik lemari.
"Namanya Thomas."
"AKU TIDAK MAU TAHU SIAPA NAMANYA, JENIS KELAMINNYA, ULANG TAHUNNYA, YANG JELAS SINGKIRKAN SEKARANG JUGA!"
Anak-anak berkerumun, penasaran tapi juga sedikit takut. Maka anak-anak yang berada paling depan menggerakkan kakinya dan pindah ke paling belakang, anak yang berada di tengah dan sekarang berada di paling depan melakukan hal yang sama, begitu seterusnya, sehingga terlihat seperti terjadi perputaran.
"Tidak apa-apa teman-teman, Thomas jinak kok." Kata Australia berusaha menenangkan teman-temannya.
Indonesia dan America maju terlebih dahulu—perlahan-lahan. Mereka berdua memang paling tahu soal hobi Australia. Namun biasanya dia membawa makhluk lucu seperti Koala dan Kangguru…
Eh, Sepertinya Indonesia lupa kalau matanya pernah berubah biru lebam ditendang si Kangguru karena penasaran dan berusaha masuk ke dalam kantung si Kangguru.
Makhluk yang ini berbeda. Meski Australia bilang dia jinak… tetap saja gigi-gigi yang tajam dan berderet rapi itu terlihat mengerikan.
Tangan mungil Indonesia terjulur ragu-ragu, ingin menyentuh moncong buaya yang terlihat nyaman berada di pelukan Australia. Namun ia berjengit dan segera menarik tangannya kembali, karena tiba-tiba Thomas membuka mulutnya lebar-lebar.
"Tidak apa-apa, dia cuma ngantuk."
"Oh…ha..haha.."
Indonesia akhirnya berhasil mengelus-elus Thomas, begitu juga dengan America. Melihat hal ini, anak-anak lain juga penasaran ingin mencoba dan mulai mendekat perlahan. Dalam sekejab, Australia telah dikelilingi oleh anak-anak yang berebut ingin mengelus Thomas. Tetapi sayangnya, Thomas yang merasa risih mulai menggeliat tak nyaman. Ia membuka moncongnya lebar-lebar dan menakuti anak-anak disekitarnya. Kemudian buaya itu meronta dan lepas dari pelukan Australia. Thomas mengeluarkan suara aneh—suara khas buaya untuk mengintimidasi lawannya. "Aaaaaaaaaaaa!" Anak-anak mulai berlarian menjauh.
"Thomas! Kembali kesini!" teriak Australia. Switzerland sudah siap dengan senapannya, "Minggir kau, akan kubunuh makhluk sialan itu." ucap Switzerland tajam.
"Ja..jangan paman Swiss… kasian Thomas." Australia berjinjit dan berusaha menghalangi Switzerland untuk menembak dengan mengarahkan moncong senapannya ke arah lain.
Di sisi lain, anak-anak berlarian tak tentu arah karena panik. Thomas merayap perlahan, "Aaaaaaaaa!" Romano berlari di depannya. Thomas masih merayap perlahan, "Aaaaaaaaaaa!" Indonesia dan Malaysia berlari di belakangnya. Thomas masih belum menambah kecepatan, "Aaaaaaaaaaaaaa!" 'BUGH!' America dan Korea jatuh bertabrakan. Trio muka datar ikut berlarian, masih dengan muka datarnya. Germany menarik lengan Liechtenstain dan mengajaknya menyelamatkan diri keatas. "Hoy! Germany! Lepaskan tanganmu dari Liech!" raung Switzerland. Taiwan mengikuti dari belakang dan Seychelles segera menuju kamarnya—menyelamatkan si ikan yang kemungkinan akan menjadi incaran Thomas. "Kakaaaaaakkk!" "Hiiii! Tidaaaaakkk! Jangan kemari!" Belarus dan Russia berlarian meskipun dengan alas an yang berbeda. Japan mengambil langkah paling pintar dengan bersembunyi di bawah kolong meja dan berdoa semoga Thomas tidak melihatnya. Keadaan benar-benar tak terkendali, kecuali… Canada memang hebat! Ia sudah bersembunyi entah dimana bahkan saat yang lain sedang panik. "Hu….hu…. A…aku Canada dan a..aku…. takuuuut…." sahut suara yang tidak jelas berasal darimana.
Australia mulai kesal karena Thomas tidak menurutinya, saking kesalnya ia mulai berteriak, "BLOODY GIT! HELL YOU THOMAS! COME HERE IMMEDIATELY YOU FUC*ING STUPID ANIMAL! D*MMIT! "
Perhatian : jangan pernah berkata kasar di depan anak-anak. Mereka akan lebih jago menggunakannya ketimbang anda.
Switzerland facepalm. 'ini pasti pengaruh si dukun penggila teh itu' batinnya.
Dan voila! Cukup ampuh juga cara tersebut. Karena Thomas tak lagi bergerak dan mulai merayap menghampiri Australia dengan wajah memelas. Ya, mirip wajah buaya yang sedang memelas. Gunakan imajinasi anda.
0w0
Meski dengan susah payah, masalah akhirnya terselesaikan. Australia dengan terpaksa setuju untuk melepas Thomas. Dan Switzerland pun dengan terpaksa menyetujui syarat anak-anak agar mereka bisa mengunjungi Thomas di kebun binatang suatu saat nanti.
Untuk kedua kalinya—dalam sehari—tempat penitipan berubah menjadi kapal terbalik. Ah, mungkin yang kedua ini bukan terbalik, hanya oleng ke kanan dan kiri saja. Namun itu sudah cukup membuat kepala sang pemilik oleng beberapa kali sampai hampir pingsan. Ia benar-benar tak bisa mengawasi anak-anak ini seorang diri.
Switzerland akhirnya kembali ke kamar dan mengangkat gagang telepon. Ia sedikit ragu saat akan menekan nomor seseorang. Berpikir sejenak, menghembuskan napas panjang tanda siap, ia pun akhirnya menelepon teman lamanya.
"Ha..halo?"
[Halo. Dengan siapa ini?]
"Ini aku."
[Siapa 'aku'?]
"Ini aku Swiss. Kau tetap menyebalkan seperti biasa, bocah aristokrat."
[Dan kau tetap membingungkan seperti biasa, Switzerland. Ada perlu apa?]
"… kalau tak salah, kau punya seorang adik angkat dan baby sitter untuknya kan?"
[Kalau kau mau menyebutnya seperti itu, ya. Tapi Italy sudah bukan bayi lagi, dan otomatis julukan Hungary bukan lagi baby sitter.]
"Terserah mau disebut apa, aku tidak peduli. Aku cuma mau minta tolong soal…"
[Maaf, tapi kupikir tak ada untungnya menolong orang yang 'tidak peduli'.]
"Baiklaah Austriaa… Kau ingin aku menyebut Hungary apa? Perawat? Pembantu? Pacar? Atau malah Istrimu? Akan kulakukan, asal dengar dulu penjelasanku sampai habis."
Tanpa banyak basa-basi, Switzerland langsung masuk ke pokok permasalahan. Dan tanpa banyak menghabiskan waktu, Austria setuju asalkan Italy boleh tinggal tempat penitipan itu sementara. Kebetulan sekali dalam waktu dekat Austria akan mengadakan resital di rumahnya. Suara-suara musik waktu latihan dan resital pasti akan sangat mengganggu Italy yang masih kecil.
0w0
Pagi itu, Austria mengantar Hungary dan Italy ke tempat penitipan Switzerland. Hungary gugup dan sedikit berdebar, ia akan bertemu banyak anak hari ini. Ia memang suka anak-anak. Baginya, anak kecil itu bagaikan model yang paling sempurna. Ia bisa memakaikan segala jenis pakaian pada mereka, dan akan terlihat cocok apapun itu, karena semua anak memang ditakdirkan memiliki wajah dan tubuh yang lucu. Apapun kenakalan yang dilakukan anak-anak pasti akan segera dimaafkan jika melihat wajah bersalah mereka yang imut.
'Ugh!' tiba-tiba Hungary teringat seorang teman masa kecilnya yang sama sekali tak termasuk dalam golongan anak-anak imut dan lucu. Hungary berharap semoga saja ia tak akan bertemu dengan teman lamanya itu. Pria albino bermata merah dengan suara yang memekakkan telinga serta tingkat percaya diri yang over dosis. Prussen.
0w0
"Halo semua! Perkenalkan, namaku Hungary. Ini Italy dan Austria." seru Hungary dengan nada seceria mungkin. Tetap tidak bisa merubah ekspresi trio muka datar kok.
"Ha..halo… emm… Hungary-san, Italy-san dan Austria-san." Jawab Japan seraya membungkuk dengan sopan.
"Aku disini akan merawat kalian menggantikan Switzerland." lanjut Hungary lagi.
"Oom Swiss mau pensiun?" tanya Taiwan polos. Liechtenstain terkejut dan menatap kakaknya, "Kakak?"
"Jangan panggil aku seperti itu!" amuk Switzerland.
Hungary buru-buru menengahi "Bukan dik, aku hanya membantu oom Swiss. Dia tidak mengkin berhenti, ini kan rumahnya." Jawab Hungary lembut. Switzerland mendelik, "dan jangan ikut-ikut memanggilku seperti itu! Kau bahkan lebih tua daripada aku! Tante!" bisiknya kasar.
Hungary terpaku sesaat sebelum mengeluarkan sesuatu dari bajunya. Sesuatu berwarna hitam mengkilap yang tampaknya sangat keras. Ia menggenggamnya kuat-kuat…
"Aku Italy vee~ Salam kenal semuanya ya." Seru Italy gembira melihat calon teman-teman barunya. Hungary memasukkan kembali 'sesuatu' itu ke dalam bajunya.
"I..Italy!" seru seorang anak yang terkejut saat melihatnya. Ia menyeruak kerumunan anak-anak dihadapannya, memastikan bahwa ia tidak salah orang. Tidak, itu benar-benar Italy!
Italy terdiam melihat seseorang yang sangat familiar itu. Rambut dan wajah yang serupa dengannya, tak mungkin ia bisa melupakan sosok itu. "Ka…kakak?" Italy mulai terisak.
"Kakaaaaaaaakkk…." ia pun menerjang Romano—kakak kembarnya. Italy menangis meraung-raung di pelukan Romano. "Kakaaak…kakaaaaakkk…. huhuhuhu"
"Hei..hei Italy! Memalukan sekali kau, sudah lepaskan aku!"
"Ta…tapi, kita kan sudah tidak bertemu lama sekalii….aku kangen kakakkk…."
Yang lain hanya bisa memperhatikan pertemuan kembali kakak dan adik itu dalam diam, beberapa lainnya cukup terharu. Dan bahkan… ada yang ikut menangis…
"Huhuuuuu…! Pertemuan yang sangat menyentuh! Aku terharuuuu! Untung saja kita tidak terpisah seperti mereka berdua ya, Canada!" America langsung menerjang Canada dan memeluknya.
"A…anu…" Canada sebenarnya tidak terlalu keberatan dipeluk oleh saudaranya sendiri. Tapi pelukan America itu… maut! Tuhan tak sayang lagi padanya.
'Ya Tuhan, ampunilah dosa hambamu ini. Masukkan hamba ke surga-Mu jika aku mati. Tidak apa-apa jika aku hanya dikenal sebagai Canada—anak yang mati dipeluk America. Tapi tolong berikan petunjuk pada saudaraku satu-satunya ini untuk diet, supaya tak ada lagi korban yang jatuh seperti aku. Amiin.'
Tak sadar dengan penderitaan seorang Canada, Austria, Switzerland, Hungary dan anak-anak lainnya hanya bergumam bingung, "Siapa sih dia?"
See you in the next chapter…
MIJN GOD! Saya berasa mendapatkan kembali feel membuat fic! Well… fic panjang mulus tanpa macet kayak jalan tol—yang bukan di Jakarta. Dan setelah ini masih ada beberapa fic yang belum saya tulis, idenya berlimpah di otak saya :3
Aiihh… tugas bertumpuk itu memang sumber kekuatan! lol :D entah kenapa, semakin banyak tugas, semakin lancar pula ide mengalir, ohohohoho. Jadi mengapa saya harus membiarkan ide hanya mengalir dan hilang tertelan lautan? [ini perumpamaan apa sih? -_-] Yah, pokoknya selama ada ide, KUDU DITULIS! Sebelum ilang, wahahahaha XD
Request berjalan lambat, gomen :3 saya lagi pengen memunculkan Australia dan peliharaannya, ohoho XD ada yang nyadarkah chapter kemaren ga ada Aussie? Saya sendiri gak nyadar loh, pas nyadar justru muncul ide buat bikin kayak gini XD
Tapi request yang paling banyak sudah saya munculkan, welcome to CHIBITALIA! Tokoh utama kitaaa! Yeaaayy! Request Americest udah. Maaf kalo kurang memuaskan, karna seperti saya bilang dari awal, NO PAIRING untuk fic ini [apa kalian tega mem-pairingkan mereka yang masih begitu imut, polos, suci tanpa dosa jatuh ke dalam jurang kegelapan? #lebaygagal ] paling sekedar hint, itu juga family, hahay~
Seperti biasa, review onegaishimasu! :D gomen saya lama bales reviewnya, tapi saya usahakan kok
