Chapter 4
Hari itu air langit tampaknya sudah puas menumpahkan lautan embunnya kemarin malam. Matahari kembali bersiaga menarik mereka kembali ke langit yang tampak cerah. Namun, suasana cerah yang seharusnya menyenangkan itu mengusik Aomine yang sedang menatap jendela ruang kerjanya ketika Midorima berdiri mematung di pintu masuk.
"Aomine"
Midorima sedikit menunduk –tak biasanya, membuat Aomine mengerenyit heran. Raut wajahnya seakan ingin mengatakan sesuatu tetapi sesuatu itu kembali tertelan ke kerongkongannya. Mata yang dibalut bingkai kacamata itu kemudian menatap Aomine dengan pasti. Si pria bersurai biru pun hanya diam menunggu apa yang akan Midorima sampaikan.
"Ada ... penyusup"
Aomine melongo seolah berkata "Hey! Ini markas kepolisian pusat! Mana mungkin penyusup bisa masuk dengan mudah?!". Seakan mengerti arti pandangan Aomine padanya, Midorima kembali mengulang perkataannya tadi.
"Ada penyusup. Ke ruang forensik" katanya dengan suara yang lebih tegas.
"Kau yakin? Mungkin hanya perasaanmu saja Midorima"
"Mana mungkin aku hanya mengada-ngada. Kau pikir aku punya selera untuk bercanda dengan mengatakan hal itu?"
"Ya-, tapi bagaimana bisa? Maksudku, ini markas polisi, penyusup-, dari mana?"
"Mana aku tahu? Bukankah kalian yang seharusnya menjaga keamanan di markas ini? Aku hanya dokter, dan aku juga tidak selalu terus-terusan mengurusi mayat-mayat itu"
Kemudian Midorima berpikir bahwa Aomine mungkin tidak akan kuat untuk terus berlama-lama bersama mayat di sana –dia takut hantu, dan bukan berarti di ruangan berisi mayat-mayat itu tidak ada hantu. Tapi Midorima lebih suka di sana dibanding harus berlari-lari mengejar tikus-tikus yang menggemparkan warga.
"Lalu ...-, Hey! Apa kau serius?! Sejujurnya aku masih tidak mempercainya"
Midorima menghela nafas berat. Sungguh mengapa harus Aomine yang menangani kasus ini? Tidak bisakah dia dipasangkan dengan partner yang lebih mudah paham apa yang dirinya katakan? Bukan orang bodoh semacam Aomine yang bahkan malas menegur rekan sejawatnya –meskipun Midorima akui kemampuan lapangannya itu hebat.
"Demi sifat malasmu itu Aomine. Penyusup itu mencuri sesuatu dari labku!"
"Ya, dan apa sesuatu itu?"
"Ibu jari"
"Huh?"
"Dia memotong ibu jari milik Imayoshi dan membawanya pergi dengan botol reagen. Aku menyadari kalau ada botol yang hilang di sana dan jarinya ... tentu saja hilang juga"
BRAK!
Saking kagetnya Aomine hingga tangannya menyenggol kaleng berisi alat tulisnya hingga berceceran. Kelopak matanya melebar dan menatap Midorima tidak percaya seolah masih berpikir kalau semua yang Midorima hanyalah lelucon belaka.
"Kalau kau tidak percaya. Ikut aku"
ooOOOoo
Ruangan itu tidak terlihat gelap meskipun nyatanya berada di bawah tanah. Satu lampu neon menggantung di tengah plafon yang menyinari petak-petak keramik berwarna kecoklatan. Tiga pria mendudukkan dirinya di soffa hitam yang tampak empuk itu. Bahkan Kise tak habis pikir bagaimana cara Takao membuka pintunya dengan potongan ibu jari Imayoshi.
Dia menyuruh kami menjauh saat dia membuka pintunya karena katanya formalin berbahaya kalau terhirup, jadi menyingkirlah dulu kalau kau masih sayang hidungmu. Lalu Takao? Tentu saja membawa masker dan alat yang dibutuhkan untuk mengambil jari itu dari botol berisi cairan tadi, dan mereka berakhir dengan mendiskusikan sesuatu yang gila.
"Baiklah sudah selesai!"
Takao ikut menjatuhkan bokongnya di soffa setelah mengatur ulang kuncinya dengan sidik jadi mereka berempat. Awalnya, hanya Hanamiya saja; bisa dibilang dia pemimpin baru mereka setelah Imayoshi –karena dia yang paling tua dan pintar, meskipun perangainya buruk. Ya, memangnya siapa penjahat yang tak punya perangai buruk? Dan mereka adalah penjahat –begitu orang lain memanggil mereka, jadi tentunya mereka berempat pasti punya sifat buruk.
Pada akhirnya, Takao mengaturnya bahwa hanya mereka berempat saja yang bisa masuk. Dan Hanamiya memutuskan atas usul Takao juga, dia bilang tak mau menyusup lagi ke kepolisian untuk urusan yang sama dua kali; mencuri ibu jari. Meskipun Hanamiya menyangkal kalau dia tidak akan mati konyol seperti Imayoshi.
"Jadi ayo kita mulai pembicaraannya" Hanamiya membuka obrolan mereka.
Tok! Tok! Tok!
Ketika bahkan pembicaraan mereka belum dimulai, seseorang mengetuk pintu. Dan Haizaki berteriak "Siapa yang mengetuk pintu?!" lalu orang di balik pintu itu menjawab kalau dia membawa pesanan minuman mereka. Rupanya pelayan bar. Raut wajah Haizaki berubah dan berjalan ke arah pintu. Haizaki memberinya kedipan, semua orang tahu kalau Haizaki itu penggila wanita. Wanita itu tersenyum sesaat setelah menyimpan empat gelas minuman di meja dan kembali bekerja. Kise dan Takao memesan minuman yang sama seperti sebelumnya.
Haizaki duduk kembali setelah menyeruput sisi gelasnya dan membawa cairan bening itu masuk ke tenggorokannya. Martini, sekilas isi gelas itu hanya terlihat seperti air biasa yang dihias dengan buah zaitun yang ditusuk. Tapi jangan terpaku pada penampilannya karena nyatanya gelas itu penuh kadar alkohol.
"Baiklah, wanitanya sudah pergi. Jadi ayo lanjutkan lagi pembicaraannya"
ooOOOoo
Aomine berjalan was-was ketika Midorima menuntunnya ke ruang forensik. Langkahnya terasa berat –sungguh. Aomine mungkin bisa membunuh, tapi bukan berarti dia menyukai mayat. Terlebih mayat orang yang nyaris membunuhnya.
"Oi, Midorima ..., kau serius aku harus ikut masuk ke sana?"
"..."
"Kau tentu tahu ... apa-, maksudku kan?"
"Ini juga urusanmu, jangan membawa masalah pribadi semacam takut, padahal kau sendiri yang membunuhnya"
"Aku tidak membunuh Imayoshi, ingat? Pisau yang membunuhnya"
"Terserahmu. Yang jelas kita sudah sampai"
Untuk beberapa saat Aomine mematung di depan pintu bertuliskan 'RUANG FORENSIK' itu. Demi apapun, Aomine paling benci untuk membawa tubuhnya masuk ke ruangan itu. Dia lebih suka masuk ke penjara yang berisi kandang-kandang penjahat dibanding ruangan ini –setidaknya di penjara berisi orang hidup, pikirnya.
Midorima menyibak kain putih pada benda panjang yang terbaring. Hanya bagian wajah sampai dada dan menunjukkan apa yang dia katakan sebelumnya.
"Jarinya ... hilang"
"..."
"Begitulah yang aku tahu setelah siang ini aku mengeceknya"
Aomine berusaha memalingkan wajahnya ke arah lain, intinya selain menatap tubuh Imayoshi yang terbujur kaku. Dia melihat banyak botol cairan-cairan yang entah apa fungsinya, suntikan, tabung reaksi dan macam-macam alat lainnya tersusun rapi di rak kaca.
"Bisa kau tutup lagi Midorima? Aku merasa tidak enak membiarkannya telanjang begitu. Aku sudah lihat, jadi kita bicara di luar saja, oke?"
Midorima memutar bola matanya, tak habis pikir seorang polisi yang disegani semacam Aomine Daiki takut pada seonggok mayat. Tangannya menarik lagi helaian kain putih itu untuk menyembunyikan raga Imayoshi. Lalu keduanya berjalan ke luar.
.
.
Ruangan Aomine adalah tempat yang mereka tuju kembali. Untuk pembicaraan semacam ini diperlukan ruangan pribadi tanpa ada pengganggu yang memotong obrolan mereka. Dan di sanalah tempat yang mereka rasa cocok, karena orang lain tidak akan asal masuk ke ruangan itu seolah tempat umum.
"Kau sudah mengatakan ini pada yang lain?"
Aomine terlihat serius di mata Midorima. Baguslah, karena sejujurnya ini bukan masalah yang sepele.
"Belum. Kau kepalanya dan ..., lagipula aku tak punya hak untuk memberitahukan ini pada polisi yang lain"
"Lalu untuk apa mereka mengambil ibu jarinya?" pertanyaan itu terlontar dengan nada menggantung. Intinya entah Aomine menanyakan hal itu pada siapa, tapi tampaknya ia sedang berpikir.
"Entahlah. Aku belum menemukan jejak apapun, aku hanya tahu barang yang hilangnya saja. Mungkin yang mengambilnya adalah salah satu komplotan Imayoshi juga"
"Kupikir juga begitu. Tapi ... sejauh ini hanya dua orang yang kepolisian tahu soal identitas komplotannya. Dan sudah lama sekali tidak ada berita tentang kemunculan mereka"
"Tak ada berita bukan berarti mereka tidak bertindak kan?"
"Ya, kau benar"
Kepala polisi bagian kriminal itu sependapat dengan kepala bagian forensik markas pusat. Kata-kata Midorima menimbulkan dorongan untuk segera menangkap mereka –kalau bisa masih dalam keadaan hidup.
"Aomine, sejujurnya yang lebih aku khawatirkan adalah kalian. Bukan berarti aku sok tahu atau apa, tapi ini masalah serius"
"Maksudmu?"
"Penjagaan kalian mungkin belum maksimal. Ini markas pusat seperti yang kau bilang, seharusnya tidak mudah diterobos, apalagi penyusup itu sampai masuk ke ruang forensik yang letaknya nyaris di ujung gedung. Tidakkah kau pikir itu bahaya?"
Aomine berpikir sebentar. Mencerna setiap inci kalimat yang Midorima lontarkan untuk dia pahami. Hingga dia menarik kesimpulan, bahwa keadaan ini memang bahaya jika terus dibiarkan.
"Tunggu ..., biarkan aku berpikir sejenak"
Beberapa waktu yang Aomine lewatkan untuk kembali berpikir. Melakukan perdebatan di dalam otaknya soal kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Midorima diam menatap jari-jarinya sendiri yang terpaut, lalu terfokus pada bagian ibu jari.
"Hey Midorima. Kupikir aku bisa membaca gerakkannya. Tolong dengarkan dan aku butuh saranmu. Katakan padaku kalau yang kupikirkan ini masuk akal atau tidak"
Midorima menatap Aomine dan menganggukkan kepalanya. Setuju dan berharap kalau otak bodoh Aomine mungkin saja punya bakat dalam bidang yang lain.
"Jadi begini. Sekitar dua bulan yang lalu, Imayoshi terlihat berkeliaran dan membunuh. Lalu kepolisian melakukan penyergapan dan dia terbunuh. Aku yakin sekali kalau Imayoshi itu adalah pemimpin komplotannya. Jadi selama dua bulan ini bahkan tak ada kabar apapun tentang mereka dan kupikir juga Imayoshi tidak merencanakan pembunuhan terhadap pemilik pabrik tekstil di Kanagawa itu pada rekannya, karena dia hanya sendiri saat kejadian. Menurutmu kenapa mereka mengambil ibu jari Imayoshi? Apa yang bisa mereka lakukan dengan ibu jari Imayoshi?"
Beberapa detik berpikir, Midorima terkesiap.
"Mungkinkah?! Si- sidik jari"
"Ya. Mereka membutuhkan sidik jarinya untuk sesuatu yang hanya Imayoshi bisa lakukan. Bisa saja untuk membuka kunci sebuah ruangan atau tempat persembunyian. Karena biasanya pemimin yang berhak memegang kuncinya. Tanpa kunci itu, mereka tidak akan bisa masuk"
"Itu cukup masuk akal" tanggap Midorima.
"Tapi kenapa mereka melakukannya setelah berselang dua bulan? Aku masih belum tahu kenapa"
"Sebentar. Aku punya asumsi soal itu, dan ... itu belum tentu benar juga. Mungkin alasannya adalah media massa"
"Maksudnya?"
"Ketika terjadi pembunuhan, televisi dan koran-koran akan penuh dengan berita itu. Terlebih lagi ketika kabar bahwa polisi berhasil juga membunuhnya. Kau ingat bagaimana ramainya berita itu dua bulan yang lalu? Kurasa mereka menghindari itu, mereka menunggu hingga keadaannya kembali tenang, jadi mereka bisa bertindak lebih leluasa. Dan firasatku mengatakan kalau penyusup itu tidak hanya bermaksud untuk mengambil kunci –meskipun mungkin itu poin utamanya"
Dahi Aomine mengerenyit. Meskipun kemungkinannya kecil, tapi yang dikatakan Midorima juga bisa dijadikan alasan mengapa mereka menunda rencananya.
"Lalu, maksud lainnya?"
"Dengan keberhasilannya menyusup ke markas pusat, dia juga membuktikan bahwa keamanan markas masih bisa mereka tembus"
"Jadi maksudmu kemungkinan besar mereka ... akan menyerang markas pusat?"
"Ya. Tapi aku tak tahu kapan tepatnya. Sebaiknya kau mempersiapkannya, tidak rugi juga kan kalau kau menyediakan pasukan sebelum berperang? Kalaupun mereka tidak menyerang, ya ... itu tentu lebih baik"
"Menyerang ..., hmmmm, menyerang ..., persiapan ... Kupikir butuh waktu untuk mereka menyiapkan penyerangan. Dan biasanya kurang lebih membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk menyusun rencana atau mempersiapkan alat. Tentu ini tidak hanya berlaku pada penyerangan saja, dan bisa juga tebakanku ini meleset, aku hanya mengambil waktu rata-rata. Jadi, jika tiga hari kemudian mereka gunakan untuk menyusun rencana, maka mereka akan menyerang empat hari lagi dari sekarang"
"Kupikir tiga"
"Huh? Kenapa? Mereka hanya mempersiapkannya selama dua hari?"
"Bukan, aku ikut denganmu bahwa waktu perencanaannya adalah tiga hari. Tapi aku ragu kalau mereka baru mulai menyusun rencana besok"
"Memangnya kenapa? Dari mana kau menyimpulkan itu?"
"Mayat itu tidak tahan lama. Mereka harus menghemat waktu sesingkat mungkin untuk segera menggunakannya atau itu akan membusuk dan rusak"
Aomine menegakkan tubuhnya. Kesimpulan akhir yang cukup mengancam.
"Baiklah, aku harus segera membicarakan ini dengan yang lain dan memperketat keamanan. Midorima ..., kau jangan libur untuk tiga hari ke depan"
Ketika Midorima hendak menyangkal, Aomine berbalik dan kembali berkata sebelum Midorima mengeluarkan suaranya.
"Aku butuh saranmu"
Midorima hanya memandang Aomine yang menghilang di balik pintu.
ooOOOoo
Selesai Hanamiya menjelaskan rencananya dan usulan mereka yang saling tumpang tindih. Semuanya sepakat bahwa melakukan pengeboman ke markas pusat adalah pilihan yang terbaik. Bom sangat berguna, selain bisa membunuh juga bisa menghancurkan bangunan. Jadi kerugian yang didapat akan semakin besar.
"Heeeeee, tak kusangka kita akan benar-benar melakukan ini ke markas pusat haha" Takao menyandarkan punggungnya ke soffa sembari menaikkan kakinya.
"Jadi ..., kapan tepatnya kita menjalankan rencana ini?" Kise menanyakan hal itu pada Hanamiya.
Bukan berarti Kise menyukai ini, dia tak begitu ambil pusing juga. Toh rasanya dia memang tak ada hubungannya. Tapi melihat wajah rekan-rekannya yang tak sabar untuk melakukan pembantaian itu membuatnya sedikit tertarik. Terlebih jika dia memikirkan bahwa ada polisi yang berkeliaran di dekat flatnya. Bukankah lebih baik menyerang duluan dibanding diserang duluan?
"Ah! Bahkan Kise tak sabar untuk ikut, benar?" timpal Haizaki.
"Cukup, tenanglah sebentar"
Ketika Hanamiya berkata begitu, semuanya diam memandangnya. Wajahnya tersenyum, menunjukkan bahwa sebenarnya dia sendiri ingin segera memuaskan hasratnya pada rencana itu.
"Kita tak bisa melakukan ini tanpa persiapan. Rencananya sudah kita susun, dan kita hanya butuh waktu untuk menyiapkan apa yang kita butuhkan. Dua hari sudah cukup. Besok kita persiapkan alat dan bahan yang berguna. Lusa, kita mulai merakit dan aku akan membagi posisi kalian. Lalu esoknya lagi ...-"
"BAM! Itulah hari kemenangan kita!" ucap Haizaki yang menyela ucapan Hanamiya. Namun tampaknya Hanamiya tak keberatan, dia mengulas senyum dan menjulurkan lidahnya –kebiasaan saat dia punya rencana kotor.
"Hey! Kata-katamu lumayan keren!"
Takao menepuk punggung Haizaki yang kemudian memamerkan senyum liciknya.
"Hari itu, polisi-polisi BA-KA akan kita musnahkan"
.
.
To be continue/discontinue?
