Desclaimer : Aoyama Gosho
Balasan Review
raralarhas : begitulah, kebaca bgt ya.. Yah, smg k depannya ceritanya gak kebaca, :)
uchiha azaka : Pertanyaanmu akan terjawab di chappy ini.. :)
razioaray : Ok, ini di lanjut. :)
M4dG4rl : Yah, kita lihat aja, apakah detektif tidak peka satu ini bisa menemukan gadisnya atau tidak.. :)
SaniaMiyano : Ok, di lanjutt. :)
Sekali lagi terima kasih yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca dan review cerita ini. Monggo,, ini dia lanjutannya.,
Warning : Alur ga jelas, OOC.
Stay on My Side
London…
Shiho baru saja sampai di Bandara, setelah dari Amerika. Ia memutuskan untuk tidak ikut program perlindungan saksi FBI karena ia lebih memilih untuk mencoba menjalani hidup normal sebagai dirinya sendiri. Memang ia sadar bahwa keberadaanya mungkin tidak akan lama lagi di ketahui oleh organisasi itu, tapi setidaknya yang tau ia masih hidup baru Vermouth dan Bourbon, lagipula Organisasi itu di Japan dan ia di London, cukup jauh bukan? Jadi tidak akan secepat itu BO mengetahui keberadannya. Biarpun cuma sedikit waktu, tapi ia ingin benar-benar merasakan hidup senormal mungkin. Itu lah yang ia pikirkan, dan itu juga yang ia katakan ke Jodie ketika Jodie memaksanya untuk ikut program perlindungan saksi karena ia tidak dalam pengawasan 'detective' itu lagi.
XXX
Gadis itu tengah berjalan sambil membawa sebuah koper yang ia geret di tangan kanannya. Gadis itu sangat terlihat fashionable dengan menggunakan kaos lengan panjang warna hitam polos dan menggunakan rok mini se atas lutut berwarna coklat muda di lapisi oleh mantel maroon se lututnya dan beralaskan boot sampai sedikit di bawah lutut di tambah lagi dengan warna rambutnya yang khas. Pirang Strawberry. Memperindah sosoknya saat ini. Penampilannya saat ini memang terlihat bahwa ia hanyalah gadis biasa yang berkehidupan sangat normal, walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa hati dan pikirannya sangat kacau balau mengingat kehidupan yang telah ia lewati, apalagi masalahnya dengan detective itu dan sepertinya sampai saat ini ia masih setia di bayang bayangi oleh detective tersayangnya itu. Yaa bukan kah memang ini yang ia inginkannn?...
XXX
Entah apa yang terjadi, sepertinya Bandara hari ini sedang sangat di penuhi orang, baik yang ingin pergi atau pun yang baru kembali. Sehingga sulit sekali mendapatkan taksi, dan akhirnya gadis itupun menyerah menunggu taksi dan ia melihat book store di bagian luar bandara itu, dan ia memutuskan untuk memasukinya.
"sepertinya aku ingin membaca,,,, nah itu dia?" gumam Shiho pada dirinya sendiri, ketika ia menemukan buku yang ingin di belinya.
"aahh, itu dia novel terbaru Agatha Christie". Tambahnya.
Saat tangannya ingin mengambil buku itu yang tinggal satu, di sisi lain ada tangan lain yang ingin mengambil buku itu juga.
"eehh" ucap keduanya sambil bertatapan.
.
.
.
Disinilah ia, seorang detectif terkenal asal Inggris, Saguru Hakuba sedang berdiri. Menatap kesal kearah gadis di hadapannya, yang menurutnya adalah gadis yang angkuh dan menyebalkan bila di lihat dari wajahnya yang sekarang sedang memandangnya, dingin.
Saguru's POV
Apa-apaan gadis ini, kenapa memandangku dengan muka begitu, dingin. Padahal sudah jelas-jelas aku yang duluan memegang novel ini.
"apa?" ucapnya dingin.
"Kau yang apa, seenaknya merebut buku yang ingin ku beli. Lepaskan.." Ucapku tak kalah dingin.
Tiba-tiba gadis itu menyentakkan buku yang sedari tadi kami pegang.
"Dasar, laki-laki bodoh." Gumam gadis itu sambil berlalu menewatiku. Aku yang mendengar gumammannya itu tak terima karena ia seenaknya mengataiku bodoh. Entah kenapa, secara reflek aku menggamit tangannya dan membuatnya menoleh padaku.
.
.
.
.
.
"Hei, siapa yang maksud kau dengan laki-laki bodoh?" Tanyaku geram.
"Hahh, kau punya otak kan? Pikir saja sendiri." Ucap gadis itu ketus, membuatku semakin geram.
"gghhh… apa maksudmu?" Tanyaku frustasi.
"Menurutmu? Laki-laki yang suka mengikuti egonya sendiri di sebut apa, hah? Bodoh kann…?" Jelas gadis itu. Lalu pergi meninggalkan ku yang masih frustasi akibat berdebat dengannya.
"Tch… Dasar cewek aneh." Gumamku.
End Saguru's POV
XXX
"Hahh,, senangnya menjadi diri sendiri" ucap Shinichi sambil menjatuhkan dirinya ke sofa setelah meminum penawar itu.
"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Yusaku pada anaknya itu.
"Aku akan mencarinya.." Ucap Shinichi sambil menajamkan matanya.
"Gadis blonde itu,? Apa kau memiliki perasaan khusus padanya? Ku lihat kau sangat menyayanginya..?" Tanya Yusaku panjang lebar.
"Hahhh, apa yang ayah katakan, mana mungkin aku memiliki perasaan khusus padanya." Elak Shinichi,
"buktinya kau rela meninggalkan Ran, dan lebih memilih untuk mencari gadis itu." Cecar Yusaku
"a.. , kami adalah partner, jadi jelas kalau partner ku hilang tiba-tiba aku pasti cemas dan mencarinya.." ucap Shinichi sekenanya
"begitu? Tapi, sikapmu tidak menunjukan hal seperti itu."
"Eehh"
"Kalau mengenai gadis itu, sikapmu bukan hanya sekedar sikap seorang partner ataupun sikap seorang sahabat pada sahabatnya. Tapi yang ku lihat, kau lebih dari itu, lebih dari seorang sahabat. Apalagi jika sudah menyangkut keselamatannya." Jelas Yusaku
"Jangan membohongi diri, pekalah pada perasaanmu sendiri. Ku harap suatu saat nanti kau akan bijak dalam menyikapinya, Shinichi." Tambah Yusaku sambil mengedipkan sebelah matanya pada Shinichi dan berlalu ke ruang kerjanya.
"Otou-san…" Entah kenapa ia mulai ragu pada perasaanya sendiri.
.
.
.
.
.
Sudah beberapa hari ini Shinichi mencari gadis itu, pergi ke tempat-tempat yang ia ketahui tapi hasilnya nihil. Ia pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi Jodie untuk menanyakan hal ini.
"Apa? Jadi ia sebenarnya tidak mengikuti program perlindungan saksi FBI?"
"Ya, begitulah. Ia tetap menolaknya walaupun aku sudah memaksa. Bagaimanapun juga nyawanya selalu dalam bahaya. Tapi ia selalu menyangkal dengan mengatakan bahwa dia tidak akan lari dan ia akan menghadapi organisasi itu kalau organisasi itu menyadari keberadaannya. "
"Lalu, dimana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya." Ucap Shinichi sambil matanya mencari-cari keberadaan gadis itu.
"Dia tidak disini Cool Guy."
"Apa maksudmu?"
"Ia tidak di Amerika, sudah seminggu lalu ia pergi ke Inggris. Tepatnya di London."
TBC
