Sweet Jung
Our Story
Na Jaemin/Ji Jaemin
Lee Minhyung/Mark Lee
Lee Jeno
Huang Renjun
– Chapter 4: On Rainy Day –
Ini sudah bulan ketiga Jaemin berada di kelas satu sekolah menengah pertama. Dan ini juga sudah bulan yang entah keberapa seorang Lee Jeno menjauhinya. Dan ini adalah bulan pertamanya menyadari bahwa hatinya terbagi dua untuk kakak beradik Lee walaupun harus ia akui hatinya lebih dominan kepada Jeno, tapi saat Mark hadir, ia menghapus sementara perasaan Jaemin kepada Jeno dan menggantinya dengan afeksi yang ia berikan. Dan ini juga sudah sebulan semenjak kejadian di rumah keluarga Lee dan semenjak itu Jaemin tidak pernah lagi pergi ke rumah itu.
Jaemin tidak tahu kenapa ia harus menjauhi rumah itu. Ia hanya tidak ingin memperumit perasaannya. Ia masih muda. Ia baru berumur 12 tahun. Ia hanya tidak mau memperburuk keadaan dan lebih memfokuskan dirinya pada hal yang jauh lebih penting.
Tapi jika sekelas dengan Jeno seperti ini, ia tidak tahu bagaimana harus memfokuskan dirinya. Dan yang memperburuk keadaannya adalah saat wali kelasnya, Cho seonsaengnim mulai merasa aneh saat Renjun, murid kesayangannya malah duduk di belakang bersama Jeno sementara Jaemin pindah ke tempat Renjun dan berakhirlah dirinya kini di tempat semula ia duduk. Di sebelah Jeno.
Hal buruk lainnya yang harus menimpa dirinya adalah saat Cho seonsaengnim membagi kelas menjadi beberapa kelompok dengan dua orang siswa tiap kelompok dan berakhirlah (lagi) Jaemin dengan Jeno menjadi satu kelompok.
Ingin sekali Jaemin merutuki dirinya. Padahal ia sudah bersumpah, kalau Jeno bisa menjauhinya, ia juga bisa melakukan hal yang sama. Tapi memang ekspektasi terkadang tidak sesuai realita. Ia kini menjadi satu kelompok dengan Jeno. Ia bingung bagaimana harus memulai semuanya. Jeno diam, dia juga diam. Dia sebenarnya berani saja mengajukan diri untuk pindah kelompok kalau saja guru tersebut bukan Cho seonsaengnim. Beruntung saja tugas tersebut dikumpulkan bulan depan. Tapi tetap saja ia bingung. Sepertinya ia lebih memilih untuk membuat tugas itu sendiri jika keadaannya seperti ini dan agar ia tidak bertemu dengan Jeno.
"Kelompok sudah dibagikan. Saya berharap agar tugas yang saya berikan ini dikumpulkan tepat pada waktunya. Saya tidak menerima alasan apapun. Jika waktunya dikumpulkan maka harus dikumpulkan pada hari itu juga," Cho seonsaengnim memulai pembicaraannya setelah membagi kelompok pada semua muridnya.
"Dan satu lagi. Tidak ada anggota kelompok yang tidak mengerjakan tugas ini. Semuanya harus mengerjakan. Jika ketahuan hanya satu orang yang mengerjakan maka satu kelompok itu akan diberi hukuman!" Cho seonsaengnim melanjutkan pembicaraannya dengan sebuah ancaman yang cukup untuk menakutkan bagi murid di kelas 1-A.
Setelah mengucapkan ancamannya, Cho seonsaengnim memberi salam kepada semua murid di kelas tersebut dan keluar dari kelas meninggalkan murid-muridnya yang mulai ribut dengan tugas yang diberikan oleh Cho seonsaengnim. Ada yang ribut tentang konsep yang akan dibuat untuk tugas mereka. Ada juga yabg merutuki mengapa harus sekelompok dengan orang yang tidak ia suka. Salah satunya Jaemin. Tapi bedanya dia merutuki mengapa ia satu kelompok dengan Jeno bukan karena ia tidak menyukai Jeno. Malah sebaliknya. Tapi tetap saja keadaannya tidak memungkinkan.
Ia melirik sebentar ke arah Jeno yang masih tetap diam sambil melihat keluar kelas, tepatnya lapangan futsal. 'Bahkan ia tidak memberi reaksi apapun tentang tugas kelompok ini.' batin Jaemin sambil menghela napasnya. Mengapa hidupnya di masa puber berat sekali, sih?
Jaemin lebih memilih untuk tidur sambil bersandar di tangannya yang terlipat di meja. Setelah ini adalah mata pelajaran Choi seonsaengnim dan dia yakin gurunya itu tidak akan datang seperti minggu-minggu sebelumnya karena guru muda itu masih sibuk dengan kuliahnya. Setidaknya dia bisa melepaskan kebosanan yang ia alami dengan tidur.
Jaemin mulai tertidur tanpa mengetahui bahwa Jeno sebenarnya dari tadi melihat tingkah lakunya dan entah mengapa kali ini senyum terukir di bibirnya. Sejujurnya, Jeno sudah tidak tahan untuk berbicara dengan Jaemin tapi melihat Jaemin yang seperti sekarang membuatnya menjadi egois. Dia ingin melihat, apa Jaemin masih membutuhkannya atau tidak. Dan ia sadar Jaemin masih menginginkannya. Tapi jujur, ia terlalu bodoh untuk berkata jujur kepada Jaemin.
Entah mengapa ia merasa sangat bersalah kepada Jaemin. Ia ingin minta maaf, bahkan jika harus melupakan perasaannya kepada Jaemin dia rela asal Jaemin masih selalu di sampingnya. Tapi ia bingung bagaimana caranya. Sudah tiga bulan ini ia meminta bantuan dari Renjun tapi jawaban namja itu tetap sama, 'Kalau kau benar-benar menyukainya, cari jawabannya sendiri.'
Tiba-tiba saat ia sedang berpikir tentang bagaimana cara ia meminta maaf kepada Jaemin, Renjun menghampirinya dengan senyum manisnya yang terukir di bibirnya. "Mau ke kantin bersamaku? Choi seonsaengnim tidak datang lagi hari ini dan aku lapar." Renjun mengajak Jeno ke kantin. Jeno sebenarnya tidak ingin meninggalkan tempat duduknya tapi ia juga baru sadar tadi dia datang telat ke sekolah dan hanya makan roti tawar tanpa isi jadi ia langsung mengangguk menyetujui ajakan Renjun.
Mereka keluar dari kelas itu sambil menggenggam tangan satu sama lain tanpa menyadari Jaemin yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka melihat hal tersebut. Menatap mereka dengan pandangan sedih.
'Sepertinya aku benar-benar tidak punya harapan lagi, ya?'
Waktu istirahat tiba dan Jaemin saat ini duduk di kantin bersama Hina dan ketiga temannya dan sialnya dia duduk di samping Jeno. Jujur saja dia sebenarnya tidak ada niatan untuk ke kantin karena dia yakin pasti akan bertemu pasangan ini. Lebih baik dia mengendap di perpustakaan bersama buku-buku yang sedang ingin ia baca daripada harus bersama teman-temannya dan duduk di samping 'pasangan baru'.
"Hei, kenapa kau melamun?" suara Hina menyadarkan Jaemin dari lamunannya. Jaemin langsung menggelengkan kepalanya dan kembali memakan makanan di depannya.
"Oh ya, Jaemin-ah. Nanti kita tidak bisa pulang bersama. Aku ada latihan dance dengan klubku." ujar Hina. Jaemin tersenyum, "Tenang saja, Noona. Nanti aku pulang dengan Woo ahjussi saja." balas Jaemin. Hina menghela napasnya sebentar, "Woo ahjussi hari ini pulang ke Busan karena istrinya sakit. Jadi mungkin dia harus menunggu istrinya selama seminggu lebih. Appa sedang ada di Jepang sementara Umma pasti sibuk di rumah. Jadi aku sarankan kau nanti naik bus saja." ujar Hina.
Jaemin membulatkan matanya kaget. "Noona! Kau serius menyuruhku pulang sendiri dengan bus? Bukannya kau malah mewanti-wantiku untuk tidak naik bus sendiri? Kau baik-baik saja kan?"
"Tentu saja tidak, bodoh. Aku akan menyuruh salah satu dari manusia-manusia ini untuk menemanimu pulang." balas Hina dengan nada santai. Jaemin mengelus dadanya lega, ya setidaknya ada yang menemaninya. Ia benar-benar tidak mau naik bus sendirian. Ia trauma dengan kejadian 'itu'.
"Donghyuk! Nanti kau temani Jaemin pulang, ya?" pinta Hina pada Donghyuk yang masih asyik dengan ramennya. Mendengar perintah Hina, Donghyuk langsung memasang wajah seperti sedang mengingat sesuatu. "Hmm. Maaf Hina-chan. Aku ada pertemuan dengan klub paduan suara. Sebentar lagi kami ada perlombaan. Maaf ya~" tolak Donghyuk. Hina memicingkan matanya curiga. "Benar kau ada pertemuan dengan klub paduan suara hari ini?" tanyanya dengan nada curiga.
Donghyuk mengangguk santai. "Kalau tidak percaya, tanya saja pada Kim seonsaengnim atau senior-seniorku seperti Seungkwan sunbaenim." jawabnya. Hina pun menghela napasnya kecewa. "Ya sudah. Kau saja, Renjun-ah. Nanti kau temani Jaemin. Bagaimana?" tanya Hina pada Renjun.
"Maaf, Hina-ya. Bukannya aku ingin menolak atau bagaimana tapi hari ini aku dijemput oleh ibuku karena kami akan pergi ke rumah paman Henry di Gwangju saat pulang sekolah nanti hingga hari Minggu." jawab Renjun dengan agak tidak enak hati. Hina memasang facepalm saking kesalnya.
"Kalau begitu, kau pulang bersama Jaemin nanti, Lee Jeno!" pinta Hina langsung pada Jeno. Sementara, Jeno yang sedang ingin menyuapkan supnya ke mulutnya langsung menghentikan tindakannya.
"Tidak janji." jawab Jeno singkat lalu melanjutkan makannya. Sementara itu, Jaemin yang kaget karena kakaknya menyuruh Jeno pulang bersama dengannya langsung menghentikan kakaknya sebelum menanyakan alasan Jeno menjawab pertanyaannya seperti itu.
"Sudahlah, Noona. Nanti aku pulang sendiri. Aku kan sudah remaja lagipula aku kan anak laki-laki." ujar Jaemin. "Tidak boleh! Aku tidak mau kejadian yang dulu terulang kembali!" ujar Hina jengkel.
"Tidak akan, Noona. Percaya padaku." mohon Jaemin. Ia benar-benar tidak mau pulang dengan Jeno. Dan ia yakin Jeno juga tidak mau pulang bersama dengannya.
"Baiklah. Tapi ingat jaga dirimu baik-baik." ujar Hina pada akhirnya. "Dan kau, Donghyuk! Aku akan benar-benar menanyakan soal pertemuanmu dengan anghota klubmu kepada Seungkwan sunbaenim! Kalau kau bohong, siap-siap saja tinggal nama!" ancam Hina yang disambut tertawaan Donghyuk.
Jaemin melirik ke arah Jeno yang sedang menghabiskan supnya tanpa mengetahui kalau Renjun juga melihat ke arahnya dengan senyum penuh arti.
Suasana sekolah saat ini sudah sepi. Semua murid sudah pulang ke rumah mereka masing-masing walaupun masih ada juga yang mengikuti ekstrakurikuler seperti Hina dan Donghyuk.
Sementara, Jaemin yang baru saja mendaftar di klub mading sekolah belum memiliki kegiatan apapun hingga akhirnya ia saat ini berakhir di sebuah halte yang tidak jauh dari sekolahnya.
Bus yang ia tunggu belum datang dari tadi dan ini sudah setengah jam ia menunggu di halte ini dan cuaca yang tadinya cerah kini mulai berubah menjadi gelap. Awan hitam memenuhi langit pertanda sebentar lagi akan turun hujan deras. Jaemin merutuki dirinya yang lupa membawa payung. Ia juga merutuki betapa lamanya bus yang ingin ditumpanginya itu.
Rintik-rintik hujan mulai turun. Perlahan turun setetes demi setetes hingga akhirnya menjadi lebih banyak dan hujan deras pun memenuhi daerah itu. Halte ini sebenarnya memiliki atap tapi tetap saja, hujan deras dengan angin kencang membuat air hujan tersebut mau tak mau mengenai Jaemin juga. Angin kencang itu juga membuat Jaemin merasakan kedinginan. Ia lupa membawa jaket dan itu membuatnya merutuki kecerobohan dirinya.
Jaemin masih menunggu bus datang dengan keadaan mulai basah kuyup dan kedinginan. Hingga akhirnya ia menyadari air hujan yang mengenai kepalanya tidak terasa lagi. Ia menolehkan kepalanya ke atas dan melihat sebuah payung berwarna biru menutupi kepalanya. Jaemin segera mengenali payung biru tersebut dan menolehkan kepalanya ke arah pemilik payung tersebut.
Lee Jeno.
"J-Jeno? K-Kenapa?" Jaemin gugup setengah mati melihat Jeno di hadapannya saat ini. Jeno yang melihat wajah Jaemin hanya melengkungkan sedikit bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil untuk Jaemin.
"Kau masih ceroboh seperti biasanya, ya?" ucap Jeno. Ia lalu menarik tangan Jaemin untuk menggenggam payung yang dipegangnya sementara ia langsung membuka jaketnya dan menyampirkan jaket tersebut ke tubuh kurus Jaemin.
Jaemin yang diperlakukan seperti itu hanya bisa diam. Ia melihat Jeno duduk di sampingnya dan kembali melihat ke depan tanpa mempedulikan Jaemin yang kebingungan dengan apa yang terjadi.
Keheningan terjadi di antara mereka. Hingga akhirnya Jaemin membuka suara di antara mereka.
"Mengapa kau bisa di sini?" tanya Jaemin kepada Jeno.
"Ada yang salah dengan pulang naik bus?" Jeno berbalik bertanya kepada Jaemin. Sementara itu, Jaemin menghela napasnya. Jeno masih dingin padanya walaupun sudah mau berbicara dengannya.
"Lalu mengapa kau memperlakukanku seperti ini? Memberiku payung dan memakaikan jaketmu padaku?" tanya Jaemin dengan nada ragu.
Jeno menghela napasnya. Sepertinya sudah saatnya bagi dia untuk menghentikan aksi diamnya pada makhluk semanis Jaemin.
"Kalau aku bilang aku khawatir padamu apa kau akan percaya?" lagi-lagi Jeno membalikkan pertanyaan kepada Jaemin.
Jaemin tertawa kecil lalu tersenyum miris. "Kalau aku percaya apa untungnya bagiku?"
Jeno juga ikut tersenyum miris. "Begitu, ya?"
"Toh, kau bilang kau tidak janji akan menemaniku pulang saat ditanya oleh Hina Noona tadi saat di kantin." lanjut Jaemin.
"Aku memang tidak berjanji pada Noonamu, tapi aku berjanji padamu." ucap Jeno.
"Pembual. Sejak kapan kau pernah berjanji padaku?" sinis Jaemin. "Kau bahkan mendiamkanku selama ini! Jadi di mana letak kau berjanji padaku?!" Jaemin tidak tahu, tapi ia benar-benar ingin meluapkan seluruh perasaannya saat ini kepada namja di sampingnya.
Jeno tersenyum kecil. "Aku tidak pernah mengatakannya secara langsung padamu bukan berarti aku pembual. Sejak kita mengikrarkan diri menjadi sahabat aku sudah berjanji pada diriku untuk menjagamu. Tanpa perlu kau minta aku akan menjagamu," balas Jeno. "dan soal diriku yang mendiamkanmu selama ini aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi jika kau tanya apa alasanku mendiamkanmu selama ini maka jawabnya adalah rahasia. Aku tidak mungkin mengatakannya." lanjut Jeno lagi.
Jaemin terperangah sebentar mendengar ucapan Jeno yang paling panjang dia dengarkan setelah lama mereka tidak bercengkerama.
"Mengapa tidak mungkin? Apa karena sekarang kau sudah memiliki Renjun? Apa karena kau dan Renjun sudah memiliki suatu hubungan jadi kau mendiamkanku agar Renjun tidak cemburu denganku?" Jaemin tidak tahu bagaimana harus mengontrol emosinya saat ini. Ia benar-benar sangat ingin mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Sudah kubilang itu rahasia dan aku tidak mungkin mengatakannya karena itu akan menghancurkan dirimu bahkan diriku sendiri. Dan soal Renjun dia sama denganmu, dia hanya sahabatku. Walaupun bagiku kau satu-satunya yang selalu menemaniku selama ini. Kami hanya saling mencurahkan keluh kesah kami selama ini dan aku tidak memiliki hubungan selain sahabat dengannya." jelas Jeno.
Dan akhirnya terjadilah keheningan di antara mereka lagi. Bus yang mereka tunggu belum datang sama sekali sementara mereka mulai kedinginan.
Jaemin tidak tahu harus berbicara apa lagi. Ia lelah dengan tugas sekolahnya ditambah lagi ia lelah dengan namja di sampingnya.
Angin semakin kencang, air hujan juga makin banyak menerpa mereka berdua. Jaemin masih diam hingga akhirnya ia merasakan sepasang tangan melingkari pinggangnya dan kepala Jeno berbaring di bahunya. Jaemin merasa dirinya menghangat akibat perlakuan Jeno. Jantungnya berdebar dengan kencangnya.
"Aku merindukanmu." bisik Jeno yang masih bisa di dengar oleh Jaemin. Jaemin merasakan wajahnya memanas.
"Aku rindu memelukmu seperti ini. Aku rindu kita yang dulu." bisik Jeno lagi yang semakin membuat Jaemin merasa dadanya semakin sesak dan matanya seketika memanas.
"Na Jaemin, maafkan aku dan kembalilah menjadi Jaeminku lagi." kali ini bisikan Jeno benar-benar membuat Jaemin menangis. Hanya Lee Jeno yang memanggilnya dengan nama 'Na Jaemin'. Ia menghambur ke dalam pelukan Jeno yang disambut dengan sukacita oleh Jeno.
"Aku juga merindukanmu, bodoh! Lee Jeno bodoh! Bodoh! Hiks." Jaemin memukul bahu Jeno meluapkan kekesalannya juga kerinduannya pada sahabatnya ini. Jeno hanya tersenyum lembut dan mengusap rambut lembut milik Jaemin. Membiarkan namja manis ini menangis di dadanya.
"Maaf, Na Jaemin. Maafkan aku." Jeno terus membisikkan kata maaf pada Jaemin yang masih terus menangis di dekapannya. Jeno semakin merasa bersalah kepada Jaemin. Tidak seharusnya dia mendiamkan Jaemin hingga membuatnya tersiksa seperti ini.
'Jika aku harus menyimpan semua perasaan ini agar kau dan aku tetap bisa bersama seperti ini maka aku akan melakukannya. Demi persahabatan kita.' batin Jeno.
Mereka terus berpelukan seperti itu hingga akhirnya bus yang mereka tunggu sedari datang. Ia dan Jaemin menaiki bus tersebut. Beruntung bus tersebut agak kosong. Mereka memilih duduk berdampingan dan Jaemin meletakkan kepalanya di bahu Jeno dan mulai tertidur karena kelelahan.
Bus tersebut mulai berjalan meninggalkan halte tersebut dan meninggalkan seorang namja tinggi yang sedari tadi melihat pemandangan Jaemin dan Jeno di seberang halte tersebut.
Mark Lee yang berencana untuk menjemput Jaemin karena ia sudah lama tidak bertemu dengan Jaemin dan merindukannya harus menelan pil pahit melihat adiknya dan orang yang disukainya terlihat sangat akrab. Bahkan ia tidak mempedulikan rintik hujan yang mulai berkurang dan hanya tersenyum miris.
'Jadi, untuk mendapatkanmu saja aku harus merebutmu dari adikku sendiri?' batin Mark dan segera meninggalkan jalan tersebut menuju ke rumahnya menggunakan sepedanya. Dia sudah menyadari gelagat aneh Jeno yang mendiamkan Jaemin saat namja manis itu selalu bersamanya saat di rumah. Dan sekarang dia melihat mereka berdua berpelukan seperti itu dan dari tatapan Jeno pada Jaemin tadi, bahkan dari jauh pun Mark sudah menyadari bahwa Jeno memiliki perasaan yang sama dengannya untuk Jaemin.
Tapi sejak kapan? Sejak kapan Jeno memiliki perasaan itu? Apa sudah lebih awal dari dirinya?
Satu hal yang Mark sesali, mengapa untuk mendapatkan Jaemin ia harus berhadapan dengan adiknya sendiri?
TBC
A/N: Akhirnya selesai juga XDD Maaf kalo chapter ini agak pendek karena jujur aja aku ngerjainnya agak buru-buru juga. Aku baca review kalian dan makin bingung buat nentuin bakal ending dengan pair yang mana :'D maaf aku labil X'D tapi aku bakal bikin tiap pair di tag buat ada moment atau mungkin aku bakal bikin masing-masing satu chapter buat tiap pair alias side storynya mungkin mulai chapter depan dimulai dengan NoMin XD tunggu ya. Don't forget to review ya. Saranghae buat yang udah review /kasih lope lope/? X)
