Naruto tidak tahu apa dia harus tersenyum atau menangis?
Melihat seseorang yang masih amat kau cintai berjalan dengan wanita lain di depan matamu sendiri, tentu bukan hal yang menyenangkan bukan?
Melihat tangan kekar yang biasanya mendekapmu, kini tengah merangkul bahu lain bukan suatu hal yang bisa dia terima begitu saja dengan lapang dada.
Hatinya sakit…
Mungkin kata sakit saja tidak cukup untuk menggambarkan suasana hatinya yang kian kelabu, beranjak menuju hitam, dan mungkin tidak lama lagi akan ditelan kegelapan.
Tapi kebahagiaan Gaara menjadi kebahagiaannya juga.
Melihat pemuda itu dengan mudah mendapatkan penggantinya, sedikit membuatnya bernapas lega. Itu berarti ia tidak perlu merasa sangat-sangat bersalah.
Walau tetap saja ia tidak akan pernah bisa menipu diri.
Sebutir air mulai bergulir dari kedua safirnya, melampiaskan kesedihan dan kekecewaannya yang kini amat mencengkeram mendera dada. Dia bahkan sulit untuk mengambil napas, kepalanya terasa berdengung hebat seolah hendak pecah setiap kali ia berusaha berpikir positif, mungkin memang inilah jalan yang terbaik untuk mereka berdua.
Dalam hatinya masih ada Gaara…
Naruto berbalik perlahan, berjalan gontai ke arah berlawanan dengan punggung Gaara dan gadis barunya menyusuri koridor kampus mereka. Berusaha menetralisir rasa sakit di hatinya dengan mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga memutih, kedua bibir merah itu kian bergetar mengukirkan senyuman perih diiringi lirihan, "Semoga kau bahagia… Gaara…"
Disclaimer
Masashi Kishimoto
Pairing
AllXFemNaru
Rated
T
Genre
Romance, Hurt/comfort
Warning
Miss typo, OOC, Bashing chara mungkin, AU, FEMNARU, gaje, dll
Dare of Ria Amelia
"Lihat, wajah naïf itu tidak sesuai dengan tingkah lakunya!"
Gertakan seorang gadis itu langsung mengaung begitu seorang gadis berambut pirang panjang berjalan sendiri melewati kerumunannya. Mendapat tatapan mencemooh mengadili padahal bukan dirinya lah yang salah.
Tidak mendapat rasa simpati sama sekali karena kemalangan yang sudah dialaminya.
Semua gadis di Universitas itu bukan hanya benci melihat sosoknya, tapi juga kemujuran gadis pirang dalam menjerat hati para pangeran mereka.
Naruto tidak punya teman sama sekali…
Tidak akan ada sosok yang menjelma sebagai sahabat dan membelanya seperti di tv-tv.
Dia sendiri… selalu sendiri.
Sakura dan Ino yang dulu menjadi temannya pun kini menjauhinya, tidak mau dinilai buruk karena bersahabat dengan seorang gadis yang sudah mengalami pemerkosaan namun terus saja disudutkan oleh para kaum hawa yang tidak percaya pada kata-katanya.
Yah, bagi mereka apa pun yang dikatakan si pirang itu salah. Tidak mungkin Sasuke, Neji, dan Sasori meniduri Naruto, tanpa gadis itu dulu yang menggoda mereka. Sesuatu hal yang tidak akan bisa didapatkan oleh para kaum hawa jajaran elit sekali pun di lingkungan mereka.
"Tidak cukup dengan Gaara-sama, dia menggoda Sasuke-sama, Sasori-sama, dan juga Neji-sama. Dia benar-benar rendah."
Tiga hari…
Sudah tiga hari Naruto menjalani kehidupan ini. Ia mulai membiasakan diri. Ia mematikan hatinya dan sebisa mungkin menulikan kedua telinganya. Ia harus tetap masuk kuliah, ia harus menyelesaikan pendidikkannya demi masa depan yang lebih layak untuk kedua adiknya, dua bocah yang selalu tersenyum menyambutnya setiap kali pulang ke rumah.
"Dasar pelacur!"
Dan Naruto akhirnya tidak tahan lagi. Ia mempercepat langkahnya mencari arah yang lain. tidak ingin melewati jalan yang biasanya menjadi tempat banyak mahasiswa berlalu-lalang, ia mulai berbelok ke arah gudang dan mengatur napasnya yang lebih tergesa.
"Tuhan aku tidak kuat lagi…"
Pada akhirnya Naruto kembali mengeluh. Penyiksaan batin yang dialaminya benar-benar sanggup menghancurkannya sampai ke titik terendah. Ia bahkan sudah tidak percaya di kampus ini akan ada orang yang mau berbaik hati padanya.
Tidak ikut menghinanya saja, itu sudah sangat-sangat disyukurinya.
"Kumohon beri aku kekuatan lebih…" Naruto terisak, tangannya mencengkeram dada kirinya seolah bagian itulah yang terluka. Luka lebar menganga yang sama sekali tidak ada obatnya. Ia berusaha bersikap tidak peduli…
Namun nyatanya… semua orang selalu bisa mengatakan sesuatu hal yang menyakitinya.
"Papa…" Naruto memanggil lirih sosok sang Ayah yang sudah sangat lama tidak dilihatnya, memeluknya, memberinya semangat setiap kali ia mendapatkan masalah. "Papa…"
Naruto tahu sejak awal Minato sudah membagi rata harta warisan untuknya dan sang kakak.
Tapi ia memilih diam saat kemarahan Kyuubi membutakan sang kakak, dan menjadikan bagian miliknya pun untuk dikuasai Kyuubi. Ia tidak butuh semuanya, ia tidak butuh uang yang berlimpah.
Ia hanya mengharapkan sedikit saja rasa sayang dari Kyuubi.
Dan sampai detik ini, ia belum mendapatkannya.
'Kalau saja aku tidak menolak cinta Kak Kyuu…' Naruto menyesalkan keputusannya di masa lalu. Kalau saja waktu itu dia menerima cinta Kyuubi, walau pun rasa sayangnya hanya sebatas perasaan adik pada kakaknya mungkin nasib naas ini tidak akan terjadi. Kyuubi akan tetap menyayanginya, Kyuubi akan terus melindunginya.
"Papa…"
Naruto tidak menyadari, seorang pemuda berbadan tegap dengan rambut orange kemerahan mencolok kini bersandar di sisi tembok, hanya beberapa meter darinya, bisa mendengar tangisan pilu juga seruan dirinya memanggil sosok sang Papa. Menghancurkan hati pemuda itu, yang awalnya dibutakan napsu setan yang pada akhirnya merugikan dirinya sendiri.
.
Naysaruchikyuu
.
..
"Kumohon jangan menangis lagi…" lirihan pemuda berambut merah itu membuat Naruto tersentak. Ia sedang duduk di atas rumput halaman belakang kampus yang jarang dikunjungi siapa pun selain dirinya. Pemuda itu menyodorkan sapu tangannya, tersenyum sedih saat Naruto sedikit beringsut menjauh menyadari sosok yang duduk di sampingnya tiba-tiba itu tidak lain adalah si tunggal Akasuna.
Sasori memaklumi jika Naruto masih takut.
Ia memang layak mendapatkan perlakuan menyakitkan itu.
"Kau cantik." Sasori tersenyum lembut. Tangan kanannya masih menyodorkan sapu tangan. "Eye linermu luntur."
Naruto mengangguk. Merasa tidak enak hati, ragu-ragu ia menerima sapu tangan Sasori, menghapus airmatanya perlahan menggunakan sapu tangan lembut itu, sesekali safirnya masih melirik ke sisi kanannya gelisah.
Ia masih tidak mempercayai pemuda di sampingnya.
Sasori duduk meluruskan kaki, kedua telapak tangannya diletakkan di atas rumput menopang tubuhnya ke belakang, ia mendongak, menatap langit biru jernih yang serupa dengan iris gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta.
Lama dalam keadaan hening.
Sasori mulai bersenandung, tidak lama kemudian ia bernyanyi, memamerkan suara merdu yang sangat jarang ia keluarkan jika di balik panggung atau masa-masa latihan vokal. Kali ini Sasori bernyanyi atas kemauan dirinya sendiri.
Naruto terpukau.
Jujur saja suara Sasori memang amat jernih juga enak didengar. Kedua iris cokelat madu itu tertutup rapat, sesekali ia menggerakkan kepalanya seolah bisa mendengar alunan musik. Ia terus melantunkan bait-bait lagu cinta, lagu orang yang sedang jatuh cinta tepatnya.
"Lagu ini kuciptakan sendiri tadi malam." Sasori berkata saat ia selesai bernyanyi. Menoleh pada Naruto yang bertepuk tangan pelan kagum. Melihat wajah Naruto yang lebih ceria, Akasuna tunggal itu merasa sangat bahagia. "Bagaimana menurutmu?"
Meski sejak setengah jam yang lalu Naruto tidak pernah menjawab setiap kali ia bicara, namun si merah sama sekali tidak mempermasalahkannya. Naruto bisa duduk diam di sampingnya dalam waktu cukup lama pun sudah sangat disyukurinya.
"Sangat indah." Naruto menjawab dengan cengiran lebar. "Sasori-sama sangat pandai bernyanyi, juga memiliki suara merdu. Liriknya juga sangat – sangat menyentuh."
Naruto mengingat-ngingat setiap bait yang tadi dilantunkan Sasori.
Aku jatuh cinta…
Terlalu dalam sehingga tidak bisa bernapas karenanya…
Aku jatuh cinta…
Terlalu sakit, sampai ingin mati dibuatnya…
Kau adalah segalanya bagiku.
Napasku, hidupku, rasaku, jiwaku.
Kumohon beri aku maafmu…
Biarkan aku membuktikan betapa besar cinta yang bisa kuberikan untukmu…
Aku jatuh cinta…
Padamu… selamanya cinta ini akan kuberikan untukmu…
"Aku senang jika kau yang mengatakannya." Sasori tersenyum lebih lebar. "Jauh lebih senang daripada seratus ribu fansku yang selalu mengucapkan hal sama."
.
Naysaruchikyuu
.
..
Neji sedang serius bermain basket di lapangan. Puluhan fansnya tampak antusias menyaksikannya. Sorakan dan yel-yel pun mengaung. Meramaikan suasana siang Universitas Konoha di tengah rutinitas mereka. Memanggil nama Neji terus-menerus, menjerit saat bola yang sedang digenggam Neji bisa direbut lawan mainnya, berteriak senang saat Neji berhasil memasukan bola ke ring.
Sungguh siang yang pengap. Padahal Neji hanya bertanding melawan Hidan one by one, kakak kelasnya yang memiliki postur tubuh lebih besar juga kokoh. Tidak peduli terik matahari yang bisa membakar kulit pucatnya, Neji hanya ingin melampiaskan hasrat bermain setelah sepuluh hari mengalami hal menjijikan yang disebut galau.
Sret!
Neji mendadak melemparkan bolanya sembarangan. Membuat semua orang menatapnya aneh, dan saat dua kaki panjang berbalut celana olahraga itu mulai berlari ke pinggir lapangan jalan menuju gerbang keluar kampus. Semua orang langsung bisa melihat sosok gadis blonde yang memakai gaun biru selutut dan sepatu kets biru tua bertombak Sembilan senti.
Gadis itu sedang berjalan tanpa menyadari ada orang yang mengejarnya, ia ingin segera pulang dan mandi, lalu pergi ke restoran untuk bekerja.
"Namikaze!"
Kontan Naruto menghentikan langkahnya, ia menoleh dan Neji dengan wajah serta tubuh berkeringat kini berdiri di sisinya. Naruto mengangguk hormat, memasang wajah bingung saat Neji dengan napas memburunya tersenyum manis.
"Neji-sama?"
"Tali sepatumu…" kata Neji ambigu. Sebelum akhirnya ia langsung berjongkok dan dengan telatennya mengikat tali sepatu Naruto yang terlepas. Tidak memedulikan pekikan dan jeritan para fansnya melihat kejadian tiba-tiba itu. Neji hanya mendongak, tersenyum pada Naruto yang tampak salah tingkah dengan kedua pipi bersemu merah.
"Jangan sampai kau terjatuh."
"Neji-sama tidak perlu melakukannya." Naruto mundur selangkah, menunduk balas menatap amethyst yang terus memperhatikannya. Jadi… hanya karena melihatnya dari jarak sekitar lima belas meter dan entah bagaimana caranya bisa melihat juga tali sepatu Naruto yang lepas, Neji kehilangan fokusnya bermain basket dan menghampiri Naruto untuk mengikatkannya?
"Aku bisa mengikatnya sendiri."
"Aku sama sekali tidak masalah." Neji berdiri, senyuman lembut masih terukir di wajah tampannya. "Suatu saat, aku berharap bukan hanya bisa mengikat tali sepatumu…
Tapi juga mengikatmu sebagai istriku." Neji sekali lagi cuek bebek saat sorakan para fansnya kian menggila. Dan saat Naruto membungkuk hormat lalu berlari menghindarinya, ia tahu dirinya sudah mulai maju selangkah.
Ia akan mendapatkan Naruto bagaimana pun caranya…
Ia mencintai gadis itu sekali pun dia masih tidak mempercayainya.
Naruto masih terpaku pada Gaara.
Dan Neji bersumpah, ia akan merebut hati si pirang dan mengikatnya agar hanya bisa melihatnya, hanya bisa mencintainya.
.
Naysaruchikyuu
.
..
"Hai Menma!"
"Papa Cuke!" Menma berteriak senang. Ia berlari susah payah menuju gerbang, menghampiri pemuda berambut raven yang mulai berani menjemput bocah balita itu ke sekolah.
Menma melompat dan dengan sigap Sasuke menangkapnya, memeluk bocah raven beriris biru yang sejak pertama melihatnya, sudah nekad memanggilnya dengan sebutan 'Papa'. Ahh… Sasuke sama sekali tidak keberatan.
Berbeda dengan kedua temannya…
Jika Neji dan Sasori berusaha mendapatkan hati Naruto secara langsung, Sasuke lebih memilih jalan yang bisa juga disebut untung-untungan. Dalam sekali lihat Uchiha bungsu itu sudah tahu Naruto amat menyayangi kedua adik angkatnya. Naruto akan tersenyum tulus saat melihat tingkah manis Yuki dan juga Menma.
Karena itu Sasuke hendak mendekati kedua adiknya dulu. Membuat Yuki dan Menma semakin menyukainya, dan ia tahu… tanpa sadar Naruto pun akan semakin memperhatikannya, tersenyum padanya seperti tiga hari sebelumnya.
Ahh…
Senyuman itu benar-benar membuat Sasuke nyaris gila.
"Hari ini kau tidak nakal?" Tanya Sasuke perhatian. Ia memangku Menma lalu menggesekkan hidung mancungnya ke hidung yang lebih mungil.
"Nani! Menma anak baik, kan tampan cama pintal kayak Papa Cuke, Mama Nalu!"
Sasuke luar biasa senang setiap kali Menma menyandingkan panggilang 'Papa Cuke'nya dengan 'Mama Nalu'. Ia rasa itu panggilan yang amat serasi untuk disandingkan sepanjang masa.
"Karena Menma sudah menjadi anak baik, Papa akan membelikanmu dan Kak Yuki eskrim."
"BANZAI!" bocah gendut itu berteriak girang.
.
Naysaruchikyuu
.
..
"Uchiha-sama datang lagi?" Naruto memasang wajah terkejut. Saat pulang kerja sekitar pukul delapan malam, Sasuke sudah ada di apartemennya dengan Menma yang duduk di pangkuannya menonton tv. Naruto melepas sepatunya dan meletakkannya di rak, ia tersenyum tipis saat dengan tergesa Menma beranjak dari pangkuan Sasuke dan berlari kepadanya sebelum-
Dug!
"HUAAAAAA!"
Tersandung kakinya sendiri dan jatuh dalam posisi telungkup.
"Astaga!" Naruto berteriak panik. ia segera berlari menghampiri Menma, tanpa menyadari baru melepaskan sebelah sepatunya, membelit kakinya yang lain dan-
Dugh!
Ada dua makhluk beriris safir yang malam ini terjatuh karena kebodohan mereka sendiri.
"Dobe…" dengus Sasuke menahan geli. Ia segera menghampiri Menma dan memangkunya yang masih menangis histeris, menggendong Menma dengan tangan kirinya, ia berjalan menghampiri Naruto dan membantu gadis pirang itu untuk duduk. Onyx-nya memandang cemas kening Naruto yang membiru membentur lantai.
"Hanya usuratonkachi yang bisa terjatuh karena tersandung kakinya sendiri." Hina Sasuke menyebalkan. Membuat si pirang cemberut sambil memanyunkan bibirnya. Berusaha tidak mengambil hati hinaan Sasuke, Naruto lebih memilih menyibukkan diri meneliti tubuh Menma untuk memastikan adik bungsunya itu sama sekali tidak terluka.
"Cakit-cakit-cakit!"
Naruto merengkuh tubuh Menma dari dekapan Sasuke ke pelukannya, meletakkan Menma di atas pangkuannya kemudian mengecupi pipi tembem bocah itu. Membuat Sasuke melongo sambil berpikir melantur.
Kenapa saat tiga hari yang lalu ia babak belur dihajar preman, Naruto tidak menciuminya juga?
"Menma, anak kuat tidak boleh menangis, Ne?"
Hiburan Naruto masih tidak berpengaruh, Menma tetap menangis keras membuat Sasuke sedikit menjauhkan telinganya yang hampir tuli. Jera dengan tangisan Menma yang tidak juga kunjung berhenti, dalam posisi duduk dan saling bersisian, Sasuke berusaha membantu Naruto untuk menghentikan tangisan Menma.
Klik!
Tiga pasang mata itu menatap lurus saat merasakan cahaya kilat menerpa mereka satu detik. Di sana Yuki dengan kamera digital yang diberikan Sasuke tadi sore sedang nyengir lebar ke arah mereka sebelum berkata, "Kalian benar-benar seperti keluarga bahagia."
Naysaruchikyuu
Aku selalu ngerasa lebih cocok di genre hurt daripada humor. Makanya jangan aneh kalo cerita ini lebih gampang aku lanjutin daripada BBF or dll. Hahaha. Lagi main feeling, jadi nulisnya lancar aja. Lagi gak mood nulis yang lain, jadi diharap banget pengertiannya. Then, mungkin selama bulan puasa aku gak bisa posting YAOI selain The Sun Of Konoha.
Aku Menangkapmu stuck di lemon breh. Hahaha.
SUPER THANKS FOR MY REVIEWERS : Yuura Shiraku, akihiko. fukuda. 71, pyon, xxx, afi. bondas, DheKyu, yuzuru, Dhita, Mizuki Yuuko, Akira Naru-desu, Fujoshi desu, Yuichi, 0706, yuki amano, Fitria, Aristy, gici love sasunaru, aryaahee, Elis kuchiki, Hyull, afifahfebri235, kchopper1, shanzec,
LadyKirika, sivanya anggarada, Uzumaki Prince Dobe-Nii, lovelychrysant, minyak tanah, onxyshapierblue, kazekageashainuzukaasharoyani, niixz. valerie. 5, Deathberry45, aichan14, LNaruSasu, hanazawa kay, Vianycka Hime, titan-miauw, Ayuni Yukinojo, RisaSano, Ineedtohateyou, RaFa LLight S.N
JAWABAN REVIEW BUAT READERS YANG BERTANYA :
Yuki-Yuchan SPAIN UDAH PULAAANG! HUEEE! #keinjekcapslock. Nay udah gak mau lagi nonton bola. Haahahaha
Nay dapet ide ini gara2 pengen baca Naru di-rape banyak cowo keren tapi gak kesampean Akira Naru-desu. Hahaha. Ah, tiap penulis kan punya gaya sendiri2. Kira juga pasti dikenal punya cirri khas ma readers Kira. Semangat!
Apa Gaara bakalan ngerasa bersalah ato dapat karma? Nay masih mikir2. Hahaha
nanti naru hamil ga? ne,ne, naru terlalu baik. boleh kasih saran ga?
kalo naru hamil,gmana kalo naru pindah ke kota lain trus si empat cowo keren bin kece itu kelimpungan nyari naru #smirk
nah pas beberapa tahun kemudian,naru punya sepasang anak kembar cowo cewe berambut raven bermata ryuusuke ma hikari XD
aq suka banget ma tokoh oc ryuusuke ma hikari ini,soalnya selain menma,mereka sering jadi tokoh dari anak sasunaru atau sasufemnaru. Banyak sekali pertanyaanmu Fujoshi Desu. Ampe Nay copas dulu semua. Hiks. Di sini Naru gak bakalan hamil. Dan Nay gak mau kalo hamil pun Naru kabur. Ide alur kayak gitu udah sering nemu dif fn, nanti Nay dikira plagiat lagi. Hahaha. Kenapa harus kabur coba?
Dan untuk anak kembar, jujur Nay gak ngerti kenapa banyak yg suka anak kembar? Nay punya ponakan kembar gendut pirang, umur 4 tahun yg sekarang netep di Singapore. Tiap 3 bulan sekali pasti pulang buat ngerecokin Nay, ngerampok duit Nay ampe dompet2nya, dan kalo Nay gak kasih, dengan kurang ajarnya mereka berani minta sama cowok Nay. Kamfret! Kalo kalian mau, Nay jual mereka deh, lucu2 loh. Indo-Belanda-SG soalnya. Cuma nyebelinnya setengah mati. Hih. Tapi makasih sarannya. #Tebarkissu
senpai dikerenin dikit dong. kayak ada saudaranya naru-chan. trus belain naru-chan gitu. gak mesti ada kyuubi kan? ino mungkin. apa deidara. sivanya anggarada, Nay gak bisa kasih Naru orang yang bela. Biar dia sendiri aja. Biar ceritanya gak biasa. Hahaha. But… makasih sarannya.
Uzumaki Prince Dobe-Nii, Neji juga cintrong sama Naru. #Aye
minyak tanah, Hareem itu apa ya? Nay gak ngerti #Hueeee
kazekageashainuzukaasharoyani Errr Apa Naru punya blacklist sendiri tentang kekejaman mereka? Naru hatinya bersih kayak author #Taboked. Jadi gak punya dendam . hahaha. Sesuai ma Naru anime. ^^
Oke, yang pertanyaannya gak nyantumin nama kayak biasa, ada lebih dari satu orang yg ngajuin pertanyaan itu. Maaf kalo ada review yg gak kebales.
Betewe, lagu yg dinyanyiin Sasori itu puisi abal yg Nay ciptain sendiri. Dan ide dari Neji ngiketin tali sepatu Naru, itu juga gara2 Nay gak pernah bisa ngiket tali sepatu yg bener jadinya sering minta tolong #nyuruh orang lain. wkwkwk
RnR peliis?
Trims
