Maaf lama. Ini dia chapter 4 nya, selamat membaca ^^
Disclaimer : Boboiboy milik Monsta, aku cuma minjem karakternya aja. Ide cerita milikku sendiri.
Warning : AU, OOC, mungkin ada typo (s), gaje, dll.
Boboiboy menyenderkan punggungnya ke dinding yang membatasi gerbang sekolah. Sesekali ia melambai dan menyapa teman-temannya yang lewat. Behubung hari ini tidak ada kegiatan klub, maka ia akan pulang bersama dengan Yaya, karena itulah Boboiboy menunggu adiknya itu di depan gerbang. Walaupun bel pulang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, namun Yaya masih belum kelihatan batang hidungnya, membuat Boboiboy sedikit kesal karena harus menunggu di bawah terik matahari.
"Yaya ke mana, sih? Apa mungkin ia sedang piket?" gumam Boboiboy sambil mencoba mengingat jadwal piket adiknya. Namun karena sifat pelupanya, ia sama sekali tak ingat hari apa Yaya kena jatah piket.
"Boboiboy!" Mendengar namanya dipanggil, sontak Boboiboy langsung menoleh dan melihat Ying berlari ke arahnya.
"Mana Yaya?" tanya Boboiboy begitu Ying tiba di sebelahnya.
"Yaya bilang dia masih ada urusan, dan dia menyuruhmu pulang duluan," kata Ying sedikit terengah-engah.
"Urusan apa?" tanya Boboiboy heran.
"Ya mana aku tau, lah," ujar Ying.
"Kau kan sahabtanya, masa tidak tau? Kau tidak bertanya padanya?" tanya pemuda bertopi itu lagi.
"Aku lupa bertanya," kata Ying sambil sedikit cengengesan.
"Huh, dasar," ucap Boboiboy, mendengus pelan.
"Jadi, mau pulang denganku?" ajak Ying.
"Aku mau nunggu Yaya aja. Bisa-bisa aku diamuk Tok Aba kalau pulang tanpa menunggu anak itu," kata Boboiboy.
"Ya udah kalau gitu. Aku pulang duluan, ya. Daaah!" Ying melambai pada Boboiboy dan langsung berlari meninggalkan pemuda itu.
"Kenapa dia suka sekali lari-lari, sih?" gumam Boboiboy sambil geleng-geleng kepala. Ia kemudian menoleh kembali ke arah gedung sekolah. "Kira-kira Yaya di mana, ya? Coba kucek ke kelasnya aja, deh."
Boboiboy kembali melangkah masuk ke gedung sekolah yang perlahan mulai sepi. Tidak butuh waktu lama, ia telah tiba di lantai dua tempat kelas Yaya berada. Pintu kelas itu tertutup, dan baru saja Boboiboy hendak membukanya, ia mendengar suara-suara dari dalam.
"Kau … kau tidak ingat padaku?" Itu suara Yaya. Boboiboy mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, dan memilih untuk menempelkan telinganya di daun pintu sambil berusaha mencari dengar.
"Tentu saja aku ingat. Kau Yaya, kan? Si ketua kelas?" Kali ini suara seorang laki-laki, tapi siapa?
Selama beberapa detik berikutnya, hanya keheningan yang terdengar, namun tiba-tiba Boboiboy mendengar suara tawa dari dalam.
"Kau benar-benar tidak berubah, Yaya. Ekspresi sedihmu masih sama seperti dulu."
Sama seperti dulu? Apa maksudnya? batin Boboiboy. Ia ingin sekali mengintip ke dalam melalui kaca yang ada di bagian atas pintu, namun takut ia kepergok oleh Yaya dan laki-laki itu.
"Kau masih ingat padaku?" Boboiboy mendengar Yaya bertanya.
"Tentu saja. Mana mungkin aku melupakanmu?" Terdengar balasan dari si anak laki-laki. Sebenarnya siapa yang sedang bersama Yaya? batin Boboiboy penasaran.
Pemuda yang mengenakan topi terbalik itu terus berusaha mencuri dengar setiap percakapan sang adik dengan si anak laki-laki misterius itu.
"Aku tinggal bersama keluarga angkatku di luar negeri. Baru seminggu yang lalu kami kembali ke sini. Dan orang tuaku memasukkanku ke sekolah ini. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi di sini."
Keluarga angkat? Mungkinkah anak itu teman Yaya dari panti asuhannya dulu? pikir Boboiboy.
Boboiboy menempelkan telinganya semakin rapat ke daun pintu, takut ada kata-kata yang ia lewatkan.
"Tentu saja aku senang. Aku sangat senang bertemu denganmu lagi, Fang."
Fang! Jadi yang berbicara bersama Yaya di dalam adalah si anak baru, Fang. Boboiboy akhirnya ingat di mana ia pernah mendengar nama Fang. Yaya pernah menceritakan tentang pemuda itu dulu, saat mereka masih kecil.
Oh, jadi Fang adalah teman berharga Yaya saat di panti asuhan? pikir Boboiboy, entah kenapa mulai merasa gelisah. Ia ingat Yaya pernah menceritakan betapa Fang sangat berarti untuknya, dan bagaimana gadis itu telah menganggap Fang seperti seorang kakak. Sekarang pemuda itu kembali ke hadapan Yaya, dan Boboiboy mau tak mau merasa posisinya sebagai kakak sedikit terancam. Tanpa menunggu lebih lama, Boboiboy memutuskan untuk masuk dan memutuskan percakapan di antara kedua orang itu.
"Oh, Yaya, ternyata kau masih di sini," kata Boboiboy sambil memasang ekspresi sedatar mungkin.
"Boboiboy!" ucap Yaya sedikit terkejut. "Apa Ying tidak bilang aku menyuruhmu pulang duluan?"
"Tadi Ying sudah memberitahuku. Tapi Tok Aba pasti akan marah kalau aku pulang tanpa menunggumu. Jadi, yah, kupikir lebih baik aku mencarimu," kata Boboiboy sambil mengangkat bahu. Ia tidak berbohong kan?
"Oh iya, ini siapa?" tanya Boboiboy sambil berpura-pura mengamati Fang yang berdiri di sebelah Yaya. Pemuda berkacamata di hadapannya menatap Boboiboy dengan pandangan sedingin es, dan Boboiboy balas menatapnya sambil menjaga agar wajahnya tetap tenang.
Yaya kemudian memperkenalkan mereka, dan sebagai tanda sopan santun, Boboiboy pun mengulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman, yang ditolak mentah-mentah oleh si pemuda berambut jabrik. Boboiboy sama sekali tak merasa sakit hati, justru ia sudah menduga hal ini akan terjadi saat Yaya memperkenalkannya sebagai kakak.
Ada aura persaingan yang menguar di antara kedua pemuda itu. Boboiboy bisa melihat dari tatapan Fang bahwa ia tidak terima posisinya sebagai orang yang —dulunya— dekat dengan Yaya digantikan oleh Boboiboy.
Yaya yang sepertinya menyadari ada suasana yang canggung di antara Boboiboy dan Fang, buru-buru mengajak kakaknya itu pulang. "Ka-kalau begitu, ayo kita pulang, Boboiboy."
Boboiboy melirik Fang sekilas untuk terakhir kalinya sebelum membiarkan dirinya diseret keluar oleh Yaya.
Sepertinya sekarang aku punya saingan yang kuat, batin Boboiboy.
.
.
.
Boboiboy melangkah keluar dari kamar mandi sambil mengelap rambutnya yang basah dengan handuk. Ia berjalan ke arah dapur dan mendapati Yaya masih sibuk memasak makan malam.
"Makan malamnya belum siap? Aku sudah lapar nih," keluh Boboiboy sambil menghempaskan diri di atas kursi.
"Sabar dong. Kalau mau cepat, masak sendiri sana," kata Yaya. Boboiboy memanyunkan bibirnya kesal.
TErdengar suara mengeong pelan di kakinya, membuat Boboiboy menunduk ke bawah. Ochobot tengah mengeluskan kepalanya ke kaki Boboiboy, dan pemud aitu langsung menggendong kucing tersebut ke pangkuannya.
"Kau pasti lapar juga kan, Ochobot? Yaya memang kejam sekali membiarkan kita kelaparan," kata Boboiboy sambil mengelus bulu kuning keemasan milik si kucing. Ochobot mengeong pelan seolah mengiyakan perkataan Boboiboy. "Tuh kan, Ochobot juga setuju kalau kau itu kejam," kata Boboiboy pada Yaya.
"Jangan menghasut kucingku, Boboiboy. Dia masih polos, jangan cemarkan dengan pikiran-pikiran jahat milikmu," kata Yaya sambil meletakkan mangkuk berisi sup yang baru matang di atas meja.
"Aku juga masih polos tau," cibir Boboiboy.
"Terserah deh. Cepat ambilkan piring dan sendok di lemari," perintah Yaya.
Boboiboy bangkit dari kursi dan menurunkan Ochobot dari pangkuannya. Kucing itu kini bergelung dengan tenang di bawah meja sambil memperhatikan dua kakak beradik itu mempersiapkan meja makan.
"Hei Yaya, Fang itu murid pindahan dari mana?" tanya Boboiboy tiba-tiba sambil mengatur piring dan sendok yang diambilnya di meja makan.
Gerakan Yaya sempat terhenti saat mendengar Boboiboy menyebut nama Fang, namun ia kembali melanjutkan kegiatannya mengatur lauk yang baru selesai dimasaknya. "Untuk apa kau bertanya tentang Fang?"
"Tidak ada, aku hanya penasaran," kata Boboiboy sambil mengangkat bahu. Ia kembali duduk di kursinya setelah selesai mengatur piring untuk dirinya, Yaya, dan juga Tok Aba.
"Ooh," Yaya hanya mengangguk paham. Ia berjalan ke arah kompor untuk mengambil ayam goreng. "Setauku Fang pindahan dari luar negeri," ujarnya.
"Tapi dia kelihatannya lancar berbicara bahasa melayu," komentar Boboiboy.
"Itu karena dia memang dibesarkan di sini," kata Yaya.
"Oh ya? Darimana kau tau?" tanya Boboiboy.
"A-aku tadi sempat bertanya padanya," jawab Yaya gugup. Gadis itu meltakkan piring berisi ayam di meja, dan berusaha menghindari mata Boboiboy.
"Kelihatannya kau sudah akrab dengan Fang," kata Boboiboy lagi, sambil terus menatap Yaya yang menghindari matanya.
"Tidak terlalu, sih. Dia kan baru sehari masuk ke kelasku. Tapi karena aku ketua kelas, aku harus berusaha untuk akrab dengan semua teman sekelasku," ujar Yaya.
"Oh, begitu," ucap Boboiboy, mengangguk pelan. Ia kemudian bangkit dari kursinya dan melangkah ke luar dapur. "Aku mau memanggil Tok Aba dulu," ujarnya.
"Oke," kata Yaya. Ia masih sibuk mengatur makanan di meja dan tidak menatap Boboiboy sedikit pun.
Boboiboy melangkah santai ke arah ruang keluarga tempat Tok Aba sedang menonton TV. Tapi tepat di depan pintu ruang keluarga, ia menghentikan langkahnya dan menghela nafas pelan.
Yaya jelas-jelas menyembunyikan kenyataan bahwa ia pernah mengenal Fang. Padahal Boboiboy tau mereka sudah saling kenal sebelum Fang pindah ke sekolah mereka hari ini. Tapi entah kenapa Yaya tidak ingin mengaku pada Boboiboy bahwa Fang adalah teman masa kecilnya yang dulu pernah ia ceritakan. Mungkin gadis itu berpikir bahwa Boboiboy telah melupakan ceritanya.
Pemuda berambut hitam itu menyenderkan punggungnya ke dinding. Entah kenapa ia merasa gelisah. Kenyataan bahwa ia tahu Yaya berusaha menyembunyikan sesuatu darinya membuatnya khawatir. Sebenarnya apa yang membuat adiknya itu ingin menyembunyikan hubungannya dengan Fang dari dirinya? Mungkinkah Yaya …
"Oh, Boboiboy. Sedang apa kau di sini?" tanya Tok Aba yang tiba-tiba muncul dari ruang keluarga.
Boboiboy tersadar dari lamunannya mendnegar suara Tok Aba. "Eh, atok, baru aja Boboiboy mau manggil atok. Makan malamnya udah siap, Tok," ujarnya.
"Oh baiklah kalau begitu. Ayo kita makan," kata Tok Aba. Boboiboy mengangguk dan mengikuti sang kakek berjalan kembali ke dapur.
Sudahlah, aku tidak perlu memikirkan tentang Fang dan Yaya sekarang. Mungkin aku memang terlalu berlebihan. Mungkin Yaya cuma menunggu waktu yang tepat untuk memberitahuku. Aku seharusnya tidak perlu khawatir.
Boboiboy terus membatin dalam hatinya, berusaha mengusir kegalauannya. Tak ada gunanya ia memikirkan hal-hal itu. Kalau pun Yaya memang sengaja menyembunyikan hubungannya dengan Fang dari Boboiboy, ia tidak berhak untuk mencampuri urusan adiknya itu, kan? Yaya memang adiknya, tapi itu tak berarti Boboiboy harus mengetahui segala hal tentang gadis itu.
Dengan lesu, Boboiboy melangkah mausk ke dapur dan makan bersama adik dan kakeknya.
.
.
.
"Kau ada kegiatan klub hari ini?" tanya Yaya sambi memandang Boboiboy yang berjalan di sebelahnya.
"Hmm, sepertinya ada," kata Boboiboy sambil mengernyitkan dahi mencoba mengingat.
"Dasar, kenapa hal seperti itu juga kau bia lupa, sih?" kata Yaya sambil geleng-geleng kepala.
"Yah, mau bagaimana lagi, memang aku dari dulu kayak gini," kata Boboiboy santai.
Keduanya terus berjalan menyusuri koridor sekolah yang masih agak sepi. Hanya beberapa orang yang memiliki jiwa disiplin seperti Yaya yang mau datang ke sekolah sepagi ini, atau orang-orang sial seperti Boboiboy yang terpaksa datang lebih awal setiap pagi kalau tidak mau dihajar oleh adik tersayangnya.
Beberapa murid yang mereka lewati di koridor menyapa kedua kakak beradik ini. Mereka memang cukup dikenal oleh para siswa di sekolah ini. Sang kakak yang jago bermain bola dan juga memiliki wajah manis yang membuatnya punya banyak penggemar dari kalangan siswi-sisiwi, dan juga sang adik yang pintar dan selalu menjadi murid kesayangan para guru. Tapi hanya sedikit yang tahu bahwa mereka berdua tidak memiliki hubungan darah. Kebanyakan menganggap Boboiboy dan Yaya adalah anak kembar, karena begitulah yang tertulis di kartu keluarga mereka. Hanya orang-orang terdekat mereka yang mengetahui hal yang sebenarnya tentang kakak beradik itu.
Yaya akhirnya tiba di depan kelasnya, sementara Boboiboy masih harus berjalan beberapa meter lagi untuk mencapai kelasnya yang berada di sebelah kelas Yaya.
"Nah, sampai jumpa saat istirahat nanti," kata Boboiboy.
"Oke," ucap Yaya.
"Belajar yang rajin ya, adik kecil," ujar Boboiboy sambil mengelus kepala Yaya.
"Kau juga. Jangan membuat masalah di kelas," balas gadis berkerudung merah muda itu.
"Yes, ma'am!" kata Boboiboy sambil berpura-pura hormat kepada Yaya. Gadis itu hanya memutar bola matanya.
"Aku masuk dulu. Sampai jumpa," ucap Yaya. Ia baru saja melangkahkan kakinya melewati pintu, saat seseorang tiba-tiba mendahuluinya.
"Oh, Fang, selamat pagi!" sapa Boboiboy pada pemuda yang baru saja lewat di sebelah adiknya.
Pemuda berkacamata itu tidak menggubris sapaan Boboiboy dan berlalu begitu saja ke dalam kelas. Yaya melirik ke arah Boboiboy yang terlihat sedikit kesal pada teman sekelasnya itu.
"Jangan dipikirkan, mungkin dia masih malu untuk mengobrol," kata Yaya pelan.
"Ya, aku yakin dia anak yang pemalu," kata Boboiboy sedikit sinis. Ia tidak tau kenapa pemuda berkacamata itu terus mengganggu pikirannya dan membuatnya kesal. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Boboiboy berjalan meninggalkan Yaya dan masuk ke kelasnya.
.
.
.
Yaya memasukkan buku-bukunya ke dalam tas sebelum akhirnya bangkit dari kursinya. Gadis itu melirik sekelas ke arah belakang dan mendapati pemuda berkacamata yang dicarinya sudah tidak ada di sana. Itu artinya Fang sudah pulang duluan. Yaya menghela nafas pelan dan akhirnya melangkah ke arah Ying yang telah menunggunya.
"Ayo kita pulang," ujar Yaya.
"Bagaimana dengan Boboiboy?" tanya Ying. Ia memang sudah terbiasa pulang bersama kakak beradik itu setiap hari.
"Boboiboy ada kegiatan klub," kata Yaya.
"Jadi kita pulang duluan nih?" tanya Ying lagi.
"Yep," Yaya mengangguk.
Kedua sahabat itu kemudian melangkah bersama-sama meninggalkan kelas mereka. Ying, yang berjalan sedikit di depan Yaya, mulai bercerita dengan bersemangat pada sahabatnya itu tentang band baru kesukaannya, sementara Yaya hanya mendengarkan tanpa berkomentar apa pun.
Seseorang tiba-tiba menarik lengan Yaya ke dalam salah satu kelas yang telah kosong. Yaya hendak berteriak minta tolong, namun mengurungkan niatnya begitu melihat siapa orang yang menariknya.
"Fang? Apa yang kau lakukan?" tanya Yaya bingung.
Fang tidak menjawab pertanyaan Yaya dan menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. "Ssst, jangan berisik," gumamnya. Pemuda itu mengintip sedikit melalui celah pintu, tepat saat Ying berlari panik melewati kelas tempat mereka bersembunyi.
"Yaya! Kau di mana?" Yaya bisa mendengar suara panik sahabatnya itu dan buru-buru ingin keluar.
"Ying pasti panik karena aku tiba-tiba menghilang. Aku harus menemuinya dulu," kata Yaya. Tangannya bergerak hendak membuka pintu, namun ditahan oleh Fang.
"Jangan. Aku tidak ingin ada yang tahu," kata Fang.
"Eh, kenapa? Memangnya kita mau ngapain?" tanya Yaya tak mengerti.
Fang menatap Yaya sambil tersenyum tipis, membuat gadis itu sedikit merona. "Kita akan pergi kencan."
.
.
.
Ying berlari panik menuju lapangan tempat anak klub sepak bola tengah berlatih. Matanya mencari-cari sosok pemuda bertopi jingga dan sedikit lega saat melihat pemuda itu tengah berjongkok di pinggir lapangan sambil mengikat tali sepatunya.
"Boboiboy!" seru Ying sambil berlari menghampiri pemuda itu.
"Lho, Ying, ada apa?" tanya Boboiboy heran melihat wajah panik Ying yang berlair mengahmpirinya.
"Ya-Yaya menghilang!" kata Ying sedikit terengah-engah.
"APA?!" Anggota klub sepak bola yang lain menoleh kaget mendengar seruan kaget Boboiboy, namun pemuda itu tidak peduli dan tetap memandang Ying dengan ngeri. "Yaya hilang? Kok bisa?" tanyanya panik.
"Tadi aku meninggalkan kelas bersama-sama dengan Yaya. Aku sedang asyik bercerita sesuatu padanya dan aku yakin sekali ia berjalan tepat di belakangku. Tapi saat aku berbalik Yaya tidak ada di belakangku," jelas Ying.
"Kau sudah mencarinya?" tanya Boboiboy panik sekaligus khawatir.
Ying mengangguk. "Ya, aku kembali ke kelas karena kupikir mungkin Yaya ketinggalan sesuatu, tapi ia tidak ada di sana. Aku juga sudah mengecek toilet dan koridor-koridor yang kami lewati, tapi Yaya tidak ada di mana-mana."
"Apa tidak ada orang lain di dekat kalian saat Yaya menghilang?"
"Tidak. Tadi koridornya sepi dan aku yakin tidak ada siapa-siapa selain aku dan Yaya."
"Tapi bagaimana mungkin Yaya bisa menghilang begitu saja?"
"Aku juga tidak tau, Boboiboy," kata Ying. Ia kelihatannya hampir menangis. "Apa yang harus kita lakukan?"
"Kita harus mencarinya tentu saja," kata Boboiboy tegas. Ia tidak mungkin membiarkan adiknya menghilang begitu saja. Bagaimana kalau Yaya diculik?
"Tapi bagaimana dengan sepak bolanya?" tanya Ying sambil melirik teman-teman se-klub Boboiboy yang tengah melakukan pemanasan di lapangan.
"Tidak apa-apa. Aku akan menjelaskan pada mereka nanti. Ayo sekarang kita cari Yaya," ujar Boboiboy sambil berjalan cepat meninggalkan lapangan. Ying mengangguk dan berlari kecil mengikuti Boboiboy, namun suara dering ponselnya membuat gadis berkacamata itu berhenti.
"Boboiboy, tunggu!" seru Ying pada Boboiboy yang telah menjauh. "Ada SMS dari Yaya!"
Boboiboy buru-buru berlari kembali ke arah Ying. Gadis itu menyerahkan ponselnya pada Boboiboy dan pemuda itu langsung membaca pesan yang tertera di layarnya.
From : Yaya
Ying maaf aku tiba-tiba menghilang. Aku ada urusan mendadak, jadi aku tidak bisa pulang bersamamu hari ini. Kau tidak perlu khawatir, nanti aku kabari lagi.
Pemuda bertopi jingga itu mengernyit menatap pesan dari Yaya. "Urusan mendadak apa?" tanyanya.
"Entahlah. Tapi syukurlah Yaya tidak apa-apa," kata Ying sambil menghembuskan nafas lega.
Boboiboy sama sekali tidak merasa lega seperti Ying. Otaknya justru menyerukan peringatan berbahaya, membuatnya tetap berpikir ingin mencari Yaya.
"Aku tetap akan mencarinya," kata Boboiboy. Ia menyerahkan kembali ponsel Ying kepada pemiliknya dan berlari ke arah gerbang sekolah.
"Boboiboy, tunggu!" seru Ying sambil berlari mengikuti pemuda itu.
.
.
.
Yaya tersenyum puas setelah selesai mengirimkan SMS pada Ying. Setidaknya sahabatnya itu tidak akan panik lagi karena ia tiba-tiba menghilang. Gadis berkerudung itu kembali menatap Fang yang berdiri di sebelahnya.
"Sudah selesai?" tanya Fang.
Yaya mengangguk. "Sekarang kita mau ngapain?" tanyanya sambil memandang ke sekeliling taman tempat mereka berada.
Fang ikut memandang ke sekelilingnya, dan matanya langsung tertuju ke penjual es krim yang berada tak jauh dari mereka. "Ayo kita belie s krim. Kau masih suka es krim, kan?" tanyanya pada gadis di sebelahnya.
"Tentu saja," jawab Yaya sambil tersenyum. "Kau mau mentraktirku?"
"Yah, bolehlah. Asal kau tidak beli banyak-banyak dan membuatku bangkrut," kata Fang.
Yaya pura-pura kecewa, "Yaah, padahal aku mau minta beli yang banyak," katanya.
"Nanti kau bisa gemuk kalau kebanyakan makan es krim," kata Fang datar.
"Biarin," kata Yaya sambil memeletkan lidahnya.
Mereka kemudian berjalan ke arah gerobak yang menjual es krim. Yaya memilih es krim vanilla kesukaannya, sementara Fang lebih memilih es krim rasa mint. Setelah itu keduanya duduk di salah satu bangku taman sambil menikmati es krim mereka.
Walaupun Yaya terlihat asyik menjilati es krimnya, gadis itu berulang kali melirik gugup ke sekitarnya. Fang yang menyadari gelagat aneh Yaya akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Kau kenapa? Sepertinya gelisah sekali," kata Fang.
"Aku takut ada yang mengenali kita. Taman ini kan dekat dengan sekolah," kata Yaya sambil terus memperhatikan sekelilingnya.
"Memangnya kenapa?"
"Nanti bisa jadi gossip di sekolah. Aku benci kalau harus menjadi bahan pembicaraan orang."
"Oh kupikir kau takut ketahuan oleh kakakmu," ujar Fang dengan nada agak dingin.
"Yah, itu juga sih. Kalau Boboiboy tahu bisa gawat," gumam Yaya, sedikit meringis.
"Kenapa?"
"Aku belum memberitahunya kalau kau adalah teman masa kecilku."
"Memangnya kau harus memberitahukan hal itu padanya? Dia tidak harus tahu segalanya tentang dirimu, kan?" Entah kenapa nada bicara Fang mulai sedikit ketus, namun Yaya tidak terlalu menyadarinya.
"Tapi aku menceritakan segala hal pada Boboiboy," gumam Yaya.
Fang hanya mendengus dan memalingkan wajahnya dari Yaya. Sementara itu Yaya yang mulai menyadari perubahan suasana hati Fang memandang pemuda itu dengan bingung.
"Kau kenapa?" tanya Yaya.
"Tidak apa-apa," jawab Fang singkat.
"Tapi kelihatannya kau jadi badmood," kata Yaya sedikit takut.
"Memang," balas Fang.
"Kenapa? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Yaya sedih.
Fang menoleh kembali pada Yaya dan melihat wajah sedih gadis itu. Ekspresinya jadi sedikit melunak dan ia mulai merasa bersalah karena telah membuat Yaya sedih.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih," ucap Fang sambil mengelus kepala Yaya.
"Kau marah padaku?" tanya Yaya.
"Tidak, aku tidak marah padamu," kata Fang.
"Oh, syukurlah. Kukira kau marah," ucap Yaya lega. "Ah, es krimku meleleh!" ucapnya kaget begitu menyadari es krim vanilanya telah mencair dan mengotori tangannya.
Yaya buru-buru menjilati kembali es krimnya dan membuat mulutnya belepotan. Fang sedikit berdecak melihat wajah Yaya yang belepotan es krim.
"Dasar, kau masih seperti anak kecil," kata Fang sambil mengusap es krim di sekitar bibir Yaya.
Wajah Yaya memerah, dan ia buru-buru membersihkan mulutnya sendiri. "Ma-maaf," gumamnya malu.
"Tak perlu minta maaf," kata Fang santai.
Sementara Yaya masih sibuk mengurus es krimnya, Fang menatap ke balik punggung gadis itu, ke arah seorang pemuda bertopi jingga yang tengah membeku menatap mereka. Sebuah seringai muncul di wajah Fang.
Permainan dimulai, Boboiboy …
.
.
.
TBC
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
Ada yang mau berbaik hati ngasih review?
