Kenapa? Kenapa aku harus melihat kejadian itu? Aku benci diriku sendiri, aku benci dia, aku benci mereka, dan aku benci musim dingin. Aku rindu musim semi dimana bunga sakura bermekaran. Musim yang mengingatkanku akan dia, dimana aku jatuh kepadanya, dibawah pohon sakura dengan kelopak bertebaran. Tapi, sekarang musim dingin. Hatiku dingin seakan retak jika tersentuh. Kau tau betapa besar cintaku padamu? Mungkin lebih besar dari gadis yang sekarang ada di pelukanmu yang kau cium baru saja.
.
.
Aku mencintaimu Sasuke...
.
.
Aku membencimu Hinata...
.
.
Black blue rose
Desclaimer : Masashi kishimoto
Warning : AU, OOC
.
.
.
Sasuke merasa Hinata akhir-akhir ini cenderung agresif dan 'nakal'. Tapi, hal itu hanya berlaku sebentar saja, hanya di depan Sakura. Sasuke dapat melihat itu.
Hinata mulai berani menciumnya di depan Sakura, bahkan di depan rekan 'kerjanya'. Bukannya Sasuke tidak suka, tapi Hinata yang seperti ini sangat diluar karakternya. Kepribadiannya sering berubah-ubah.
Sasuke menghentikan langkahnya, matanya menelusuri langit senja bertabur warna jingga yang kontras saat mengenai putih salju. Mengingat bahwa ini sudah minggu kedua bulan Desember, dan dia sudah mengalami berbagai perubahan pada tubuhnya. Indranya peka, matanya berubah merah dan juga taring, kukunya yang memanjang kala malam hari, dan hal yang paling dia takuti adalah nafsu darahnya yang semakin kuat. Dia tidak mau mati sia-sia karena meminum darah Hinata.
Sasuke melanjutkan langkah ragu untuk mencapai tujuannya. Sedikit helaan nafas berusaha mengurangi beban hidupnya. Sasuke berjalan cepat sebelum malam tiba. Dia tidak mau berubah di depan gadisnya.
Hatinya terus mengucapkan doa agar malam ini tidak akan terjadi apa-apa.
.
.
.
Hinata terus menatap pria yang ada di hadapannya ini. Pria yang sedari tadi mengeluarkan asap yang sangat dia benci, hinata mendekat ke arahnya, menarik kerahnya dan berbisik kepadanya.
''Bukankah sudah kubilang, jangan merokok di depanku'' Sasuke menoleh ke samping dan menghembuskan asapnya tepat di wajah Hinata, sontak hinata pun terbatuk. Sasuke hanya terkekeh melihat reaksi pacarnya itu.
''Apa yang kau lakukan!'' Sasuke memasukan rokok itu ke mulut Hinata.
''Coba dulu! Rasanya enak'' Hinata sama sekali tidak menghisapnya, dia membuangnya dan menginjaknya, lalu kembali menatapnya.
''Biasanya kau sangat agresif'' Sasuke membelai lembut rambut Hinata yang saat ini terus menatapnya.
''Atau kau mau aku yang agresif'' Hinata merasa Sasuke yang saat ini sangat beda. Auranya berbeda. Dan tanpa peringatan Sasuke sudah mencium Hinata mendorongnya ke ranjang. Hinata mau tidak mau membalasnya. Memeluknya lembut.
.
.
.
''Arrgghh!''
Sedari tadi teriakan terus terdengar dari kamar dan suara benda yang di banting. Kamarnya sangat berantakan, rambutnya kusut, wajahnya lelah dan sembab. Gadis yang menderita. Itulah dia saat ini, perasaan yang tidak bisa di sampaikan sangat menyakitkan di hatinya.
Sungguh pemuda itu miliknya, tidak ada yang boleh memilikinya selain dia. Kata itulah yang hanya keluar dari mulutnya. Dia akan membunuh siapapun yang mendekatinya, itulah janjinya saat pemuda itu pernah terlelap di pangkuannya. Dimana butiran bunga sakura terus bertebaran. Di bawah pohon Sakura, musim semi 3 tahun lalu.
''Aku benci Hyuuga''
.
.
''Akan ku bunuh kau Hinata''
.
.
.
Mereka terus berpagutan, senja jingga berganti gelap malam. Suhu ruangan berubah panas. Hinata dapat merasakan pelukkan Sasuke terus mengerat, seakan menginginkan kehangatan lebih pada tubuh dinginnya.
Hinata membuka matanya. Dia dapat melihat kulit wajah putih Sasuke, dia terus menatap matanya yang masih tertutup.
Ciuman mereka semakin dalam, dengan Hinata yang terus menatapnya.
Mata merah itu terbuka.
Ini gawat!
Hinata berusaha melepaskan Sasuke, namun hasilnya sia-sia. Hinata ingat, Kakashi pernah memberikan penawar untuk Sasuke. Dengan sekuat tenaga dia menendang dan itu berhasil membuatnya lepas dari cengkramannya.
Hinata berlari ke laci di sebrang ranjang. Dia terus merogoh laci, sampai berhasil menemukannya.
Ketemu!
Sasuke membalikkan tubuh Hinata dan menubrukannya ke dinding, dan kembali menciumnnya. Penawarnya tergeletak di atas laci, Hinata berusaha menggapainya.
Sasuke sudah mencapai lehernya.
Hinata terus menggapainya. Setelah berhasil dia langsung menusukan suntikan penawar itu tepat di lehernya.
Dia dapat melihat matanya yang berubah hitam lagi dan kuku dan taringnya yang kembali seperti semula.
Sasuke terjatuh tepat di pundaknya, Hinata berusaha menahan beban tambahan pada tubuhnya, namun gagal tubuhnya merosot dan terduduk. Dia memeluk Sasuke dan membelai pipinya lembut.
''Kau sedang keadaan labil Sasuke''
Hinata menaruh kepala Sasuke secara perlahan ke lantai, dan berdiri untuk berhadapaan di kaca.
Bibirnya bengkak. Rambutnya berantakan. Dan dia menemukan sedikit luka goresan di lehernya yang mengeluarkan darah memar. Dia beruntung; Hinata tepat waktu. Kalau tidak, matilah dia.
''Hampir saja!''
.
.
.
Hinata harus menjaga jaraknya dari Sasuke, dan hal itu membuat Sasuke terus emosi, hal itu membuat seluruh temannya. Dia tau hal itu, untuk dirinya juga, tapi emosi dan jiwanya telah terikat oleh Hinata. Tanpa ada Hinata emosinya semakin meningkat, terlebih saat keadaannya seperti ini.
Ini sudah minggu ke tiga, Sasuke semakin tak terkendali bahkan dia pernah menghisap darah salah satu siswa yang sedang piket saat senja. Hal ini membuat Shikamaru, Gaara, dan Naruto kelimpungan.
Naruto adalah salah satu korban keganasan Sasuke. Saat itu dia berusaha menahan Sasuke agar tidak menerkam salah satu gadis di jalan yang sepi. Tubuhnya terlempar jauh, dan gadis itu pun mati tak berdaya.
Kakashi telah memberikan mereka vaksin darah agar vampire tidak bisa meminum darah mereka, karena tugas mereka menjaga Sasuke yang sedang dalam proses vampire sepenuhnya.
Matahari senja masuk melalui celah jendela kelas, sinarnya mengenai wajah Sasuke yang tampak berkelip seperti berlian. Shikamaru menghela nafas, ia yakin kali ini sepertinya akan lebih berat lagi.
Seharusnya mereka membunuh vampire, tapi kenapa sekarang harus menjaganya. Kelas yang hanya terisi empat pemuda itu hanya diisi keheningan masing-masing memilih menyibukan diri mereka sendiri dengan benda yang ada di hadapan mereka.
Keheningan harus terhenti tak kala terdengar suara tembakan. Sontak mereka saling berpandangan satu sama lain, dan berlari kearah asal suara.
Sasuke merasa jiwanya terguncang perasaannya tidak enak, dia segera menyusul temannya yang sudah terlebih dahulu pergi.
.
.
Semoga tidak terjadi apa-apa.
.
.
.
Hinata berjalan di koridor sepi yang terpenuhi cahaya jingga. Harusnya minggu ini semakin dingin tapi malah menghangat.
Cahaya itu sangat indah sehingga seperti membuat aurora jingga di langit. Hinata meratapi hidupnya yang terasa seperti terkurung dalam maze besar.
Sebenarnya dia rindu Sasuke, sepertinya ide untuk menjauhkan Sasuke termasuk ide cemerlang, tapi membuatnya sakit juga. Jiwa mereka sudah terikat. Mereka tidak bisa di pisahkan.
Hinata sangat ingin berada di dalam pelukan Sasuke saat ini. Pelukan yang tidak memberikan kehangatan untuk aliran darahnya. Tapi, membuat kehangatan di hati.
.
.
Sungguh Hinata rindu Sasuke.
BRAAKK!
Hinata merasakan sakit menjalar di punggungnya, setelah seseorang mendorongnya dan menubrukan tubuhnya ke dinding di koridor.
Hinata dapat merasakan benda dingin melekat di dada sebelah kirinya. Dia membuka matanya.
Dia dapat melihat seorang gadis berambut merah muda yang sangat tersiksa perasaannya. Hinata tersenyum kecut ketika, melihat siapa yang sedang menodongkan pistol ke dadanya.
''Kau kenapa?''
''Diam kau!'' gadis itu menekankan setiap kata-katanya. Hal ini, membuat Hinata senang, seperti menonton sebuah komedi tanpa naskah.
''Sepertinya perasaanmu terluka. Gadis yang cinta Sasuke hingga gila''
''SUDAH KUBILANG DIAM!''
''Tapi aku ingin bercanda denganmu''
''Kau jauhi Sasuke! Kau tidak pantas dengannya! Bahkan dia tidak mencintaimu'' Hinata terkekeh, menertawakan sifat bodoh gadis yang ada di depannya.
''Apa? Kau pikir kau pantas? Asal kau tau Sasuke sangat mencintaiku, aku tau kau mengetahui itu, tapi tidak mau mengaku-''
''SUDAH KUBILANG DIAM!''
''Atau aku akan melepaskan peluru ini dan menembus jantungmu, sehingga kau tidak bisa melihat Sasuke lagi'' Hinata menyeringai.
''Apa kau sudah pernah dicium olehnya? apa kau pernah di peluk olehnya? apa kau tau seminggu yang lalu dia menciumku sangat protektif bahkan kita sudah pernah-''
''SUDAH KUBILANG DIAM''
.
.
DOOORRR!
.
.
Wajahnya penuh dengan darah, seragamnya penuh darah. Tubuh gadis di depannya tergeletak tak berdaya. Darah terus mengalir dari dadanya.
Tubuhnya lemas, pistol di genggamannya yang penuh darah jatuh. Matanya menyiratkan ketakutan yang luar biasa, tubuhnya gemetar.
Shikamaru, Naruto, dan Gaara yang melihat pemandangan berdarah itu terkejut. Mereka tidak menyangka dengan apa yang barusan terjadi. Mereka dapat melihat tubuh Hinata yang penuh darah. Bau amis menguar di koridor senja itu.
''SAKURA!''
Mereka segera mendekat. Shikamaru baru ingat, Sasuke sedang menyusul mereka. Ini gawat! Jika dia melihat ini dia akan marah besar belum lagi darah Hinata yang berceceran, pasti akan mengundang nafsu darahnya.
''Gaara cepat tahan Sasuke!''
''Apa yang harus ditahan?''
Mata mereka terbelalak. Ini sudah terlambat.
''S-sasuke''
Mereka dapat melihat mata Sasuke yang merah penuh amarah. Tubuh Sakura semakin bergetar. Derap langkah Sasuke yang semakin dekat dapat di dengar Sakura.
Dalam hitungan detik tubuh Sakura terlempar hingga ke ujung koridor.
''Sasuke!''
Naruto terasa sakit saat Sasuke menghempaskan tubuh Sakura begitu saja, dia ingin membalas perbuatan Sasuke namun tubuhnya kaku.
Sasuke mendekat ke arah tubuh Hinata.
''H-hinata''
Sasuke dapat menghirup aroma darah segar yang keluar dari tubuh Hinata, dan sialnya dia tidak bisa mengontrol nafsu darahnya.
''Gawat! Gaara!'' Gaara pun dengan sekuat tenaga menahan Sasuke yang terus berontak. Shikamaru terus mencari penawar itu di tasnya.
Tubuh Gaara terlempar, Naruto yang sedari tadi diam saja langsung menahan Sasuke yang sedang kalut. Naruto menendang Sasuke, dan itu membuat Sasuke yang menghindar sedikit menjauh dari tubuh Hinata. Begitu Sasuke maju, Naruto menahannya lagi bahkan sudah mulai menyerang Sasuke.
''Shikamaru cepat!''
''Aku sudah dapat!''
Tanpa aba-aba lagi, Shikamaru menusukkan suntikan itu tepat di lehernya. Sasuke kembali seperti semula, dan terjatuh.
Shikamaru menatap Naruto dan Gaara yang baru saja bangkit sambil menggendong Sakura yang terluka di kepalanya.
Shikamaru mengacak rambutnya Frustasi.
.
.
''Bagaimana ini?''
.
.
Tbc
yang sasuke kena matahari terus kinclong itu, saya ngikutin edward di twilight. Btw udah pada nonton breaking dawn 2 belom?
Aduh sumpah seru bgt! Jadi pengen nonton lagi edward sama bellanya keren bgt!
Jadi curhat...
Disini saya buat Sakura itu cinta gila sama sasuke. Jadi dia gitu deh...
Reviewwww!
