Seijuurou's POV
Semuanya memang terjadi begitu saja.
Empat tahun aku benar-benar menjalani sebuah kehidupan. Menjadi seorang remaja yang kini telah mencapai titik awal dari sebuah perjalanan. Dan disanalah aku menyadari betapa pentingnya 'seseorang' di dalam hidupku. Amerika memang sangat indah. Dengan gemerlap kota serta teknologi yang modern dan memuaskan, hal tersebut tak memungkiri bahwa diriku sedikit senang.
Hanya saja, aku tidak sebebas dulu. Aku dikunci oleh berbagai macam tugas dan pelajaran yang diberikan oleh fakultas maupun kehidupan pribadiku. Seperti yang kuduga, kehidupanku tidak akan jauh-jauh seperti di Jepang. Aku terkenal dan kemutlakanku dirasakan oleh mereka; membuat tidak sedikit yang menyukai maupun membenciku.
Aku mengerti karena aku sudah sering merasakan hal-hal seperti itu.
Empat tahun kujalani dengan ketekunan; akhirnya sampai pada buahnya. Aku lulus lebih cepat daripada yang lain. Aku berhasil menyelesaikan studiku satu tahun lebih cepat. Dan hal tersebut tak memungkiri kalau aku bisa pulang ke tempat kelahiranku. Kembali ke Jepang, melaporkan hasilku yang selalu sempurna ini pada ayah, dan bertemu teman-teman yang sudah lama kurindukan.
Termasuk dirinya; seseorang yang menunggu.
Sehari setelah kelulusan, aku segera berangkat. Mengambil penerbangan paling awal, kelas privasi dan jet tercepat; aku sampai di bandara Narita tepat pukul enam pagi waktu setempat. Luar biasa? Tidak juga. Hal itu sudah menjadi kemutlakan bila diriku yang melakukannya.
"Jadi, kapan Ayah menjadikanku direktur perusahaan?" Pagi-pagi buta, aku tahu Ayahku yang berada di ruang kerjanya terlihat terkejut dengan diriku yang sudah sampai di rumah. Memang sudah jelas; aku tidak memberinya kabar. Bahkan kelulusanku pun tidak. Mengabaikan raut wajahnya yang langka itu, aku berjalan dan berhenti tepat di depan mejanya. "Kewajibanku terhadapmu sudah selesai, Ayah."
Akashi Masaomi, ayahku sendiri, terlihat mengerjapkan matanya dengan penuh keterkejutan. Mendengus dalam hati, segera kuberikan senyum tipis yang jarang kuperlihatkan. "Maaf tidak memberimu kabar," Ya, aku sengaja melakukannya. "Aku pulang."
Ayah tersenyum kecil. Ia menarik nafas dalam-dalam dan mencoba untuk menetralkan keterkejutannya. Ia berdiri dan memelukku. "Selamat datang, nak."
"Hm, tadaima."
Dan disinilah, pembicaraan kami dimulai; mengenai seputar kehidupan di Amerika serta persiapan yang sudah kusiapkan matang-matang.
Hei, bagaimana kabarmu?
.
.
.
HISTORY
Kuroko No Basuke by Fujimaki Tadatoshi
A Request Fanfiction from Yamashita Hanami-chan by stillewolfie
History at 2015
[Akashi Seijuurou & Reader/OC]
OOC, AU, future-life, teikou-era, typo, etc.
.
.
BAGIAN EMPAT
(Sejarah)
.
.
Reader's POV
Jika menangis tadi adalah hal yang kulakukan, maka tersenyum merupakan awal dari segalanya.
Akashi Seijuurou, seseorang yang berhasil memikatku dengan perintahnya, seseorang yang berhasil membuatku jatuh cinta untuk yang pertama kalinya, seseorang yang membuatku merasa terlupakan, seseorang yang membuatku bahagia sekaligus sesak di saat yang bersamaan, seorang pria yang menjadi satu-satunya prioritas utamaku dalam hidup, seseorang yang berhasil menghasutku dengan kasih sayangnya, seseorang yang kucinta, adalah kekasihku; seorang pemuda pencipta aura neraka yang kini telah menjadi pria tampan nan dewasa.
Kurasa, ia tidak lagi sejahat dulu. Akashi Seijuurou tidak seintimidasi seperti dahulu. Meski aura tegas itu masih terasa, setidaknya senyuman yang ia berikan padaku mampu membuatku jatuh bahwa fakta ini adalah nyata. Akashi-kun telah pulang, ia kembali datang, dan dirinya... berhasil mengumpulkan kepercayaanku lagi padanya.
Selama perjalanan, tak henti-hentinya genggaman ini terputus. Ia terus memegang tanganku agar tak lepas dari penjagaannya. Aku tahu, dirinya sibuk melirik sana-sini agar orang-orang tidak menggangguku maupun kami. Akashi-kun menjagaku dengan sikap posesifnya. Aku tahu itu. Diam-diam, aku tersenyum geli dan akhirnya kekehan itu mampu membuatnya melirik heran padaku.
"Ada apa?"
"Um," Aku menggeleng seiring dengan dempetanku yang semakin mendekatinya. "Malam ini aku sangat senang."
Tak lama, ia terkekeh pelan. Tangannya yang lain memeluk pinggangku erat, kepalanya bersandar pada kepalaku. "Jangan katakan kalau kau masih belum percaya." Aku tahu ia tersenyum. "Atau aku benar-benar akan menciummu. Lagi."
Perkataan tersebut berhasil membuat bibirku yang usil ini bungkam. Setelah pelukan itu, tak elaknya aku menemukan Akashi-kun tepat dihadapanku, bibir ini tak tahan dan langsung menciumnya. Saking rindunya, tubuhku terefleks melakukannya. Itu tidak sengaja, sungguh. A-Aku 'kan hanya... rindu.
"Tolong jangan mengungkit sikap mesummu padaku, Akashi-kun."
Dirinya tak membalas, namun perjalanan kami di tengah kota terus berlanjut hingga sampai di apartemenku.
Sejak aku masuk kuliah, aku mulai meninggalkan orangtuaku dan hidup mandiri. Di sebuah apartemen kecil yang menjadi saksi kerinduanku pada orang itu. Aku menjalani kesendirian ini tanpa mengandalkan siapapun. Tanpa Satsuki-chan, ayah, ibu, atau yang lainnya. Aku mencoba untuk teguh pada pendirianku dan membuktikan bahwa aku baik-baik saja. Dan nyatanya, kami-sama memang sangatlah mencintaiku. Buktinya, seseorang yang kutunggu telah datang kembali dan memberikan kejutan di pertengahan Desember ini.
"Silahkan masuk, Akashi-kun."
Kami menemukan sebuah ruang sederhana pada umumnya. Bersih, rapi, dan nyaman ditempati. Segera kubimbing Akashi-kun ke ruang tamu dan meninggalkannya sebentar; sekedar untuk menyiapkan minuman untuk kami berdua. Namun sayangnya, sebelum diriku bergerak, ia berhasil mencegatku dan menyuruhku lewat mata; untuk duduk disampingnya.
Kami terdiam. Aku meliriknya lewat ujung mata; sekedar bertanya mengapa ia menyuruhku duduk bersamanya. Kulihat, Akashi-kun duduk dengan kepala menunduk sedikit, tampak memikirkan sesuatu hal yang cukup membuatnya bingung. Tanpa ragu-ragu, aku meraih tangannya, mengusapnya lembut dan bertanya hati-hati.
"Ada apa?" Ia menaikkan kepala, dan membuatku menghela nafas diam-diam. "Apa yang Akashi-kun pikirkan?"
Usapan di kepalaku tak dapat kuhentikkan. Ia medekatkan diri padaku dan mengecup keningku pelan. Dan hal tersebut berhasil menjauhkan pikiran negatif di otakku. "Tak ada, aku hanya senang bisa bertemu kembali denganmu."
Kami saling bertatapan. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku heran, sedangkan ia mempertahankan senyum sejuta dollar yang mampu membuatku merona. Tak lama, kekehan terdengar. Ia tertawa. Akashi-kun tertawa... karenaku?
"Jangan terkejut begitu. Aku Akashi, ingat? Semua bisa kulakukan bahkan yang tidak masuk akal sekalipun."
Aku menatapnya. Tanpa menjawab, aku tahu dia sudah menyadari apa perkataanku selanjutnya. Sehingga, tanpa malu-malu lagi, mengeluarkan rasa rinduku ini pada Akashi-kun, aku menangkup kedua pipinya. Tak peduli lagi akan rasa gugup, aku mendekatkan diri dan menyentuhkan kening kami berdua, salah satu hal yang kulakukan bila berduaan dengannya. Seandainya saja, aku bisa berteriak ataupun memarahinya, menjelaskan betapa cemasnya aku saat ia tidak memberiku kabar. Memberitahunya betapa sakitnya hatiku ketika menolak permintaan Hayama-san demi dirinya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan Akashi-kun selama kepergiannya tentu membuatku sesak. Aku tak tahan lagi. Tapi, aku tetap diam. Seperti yang kukatakan, sejahat apapun dirinya padaku, aku tidak bisa kesal seperti wanita pada umumnya.
Aku terlalu menyukainya, menyayangi Akashi-kun dibandingkan diriku sendiri.
Karena itulah, aku tidak bisa.
.
.
~ history ~
.
.
Seijuurou's POV
Dalam empat tahun terakhir, untuk pertama kalinya; aku menemukan sebuah keberanian.
Di dalam dirinya, tentu saja. Aku tahu dirinya sudah banyak berubah. Wajah dewasa serta senyum palsu yang ia berikan padaku. Hal-hal berat itu terus saja menamparku. Ya, tanpa diberitahu pun, aku sudah tahu. Selama beberapa tahun terakhir, selama aku tidak ada, selama aku pergi, aku mengerti bagaimana keadaan dirinya yang rapuh ini.
Tubuhnya semakin kurus dan kurang tidur; dari fisiknya saja aku sudah tahu. Hei, apa kau benar-benar memikirkanku? Apa yang kau pikirkan terhadapku? Aku tahu sikapku tidak bisa ditolerir. Tapi sifat pengertianmu itu benar-benar membuatku tak berkutik. Kau mengerti, kau mencoba untuk menahan keegoisanmu, benar? Tentu saja. Sampai saat ini aku selalu benar.
Karena itulah, kau menangis. Tepat di depan mataku, kau menangis lagi. Tangisan yang menyesakkan, jujur saja. Melihat mata kelabumu yang terus mengeluarkan cairan tak berguna, yang dikeluarkan hanya saat-saat kau merasakan kesesakan karena diriku. Aku kurang ajar? Brengsek? Tidak berperasaan? Ya, aku sadar bahwa inilah diriku yang sebenarnya.
Tanganmu dengan setia tetap di wajahku. Kau menyatukan dahi kita; suatu kebiasaan yang kulakukan bila aku menginginkannya. Kali ini, aku benar-benar tak berpikir bahwa kaulah yang akan melakukannya duluan. Keberanianmu pantas diberikan penghargaan; karena aku menghargai setiap perlakuanmu padaku.
Tangan ini bergerak sendiri, sungguh. Dengan pelan, aku mengusap cairan itu agar tidak merusak wajahnya yang pucat. Senyum kukembangkan; sebuah simpul sederhana yang mampu membuat hatinya berbunga-bunga. "Kau boleh menghajarku setelah ini. Maaf tidak memberimu kabar. Kau tahu, 'kan? Satu tahun terakhir benar-benar berat."
Bibir itu terkatup, sebelum dirinya berbicara pelan. Suaranya yang serak itu mampu membuat hatiku sedikit retak. "T-Tidak. Aku mengerti, Akashi-kun." Lagi-lagi, kau memberikan senyum malaikat pada iblis sepertiku. "Kau berhasil kembali dalam empat tahun. Aku sudah menyimpulkan kalau kau mencoba untuk pulang lebih cepat, 'kan?" Ia terkekeh. "J-Jadi jangan menyuruhku untuk menghajarmu... ya?"
Aku tahu kau ingin. Karena itulah, aku mengizinkanmu. Tapi sepertinya, kau tidak bisa.
Aku tahu. Itu semua terbaca dari matamu.
Mata ini menatapmu dari jarak dekat. Memberimu arti dalam dari mata ini. Kembali, kau berani menatapku langsung. Mata beda warna yang mampu membuatmu kembali tersenyum. Sebuah mata yang mampu menjatuhkanmu untuk yang kesekian kali ke dalam pelukanku. Sebuah kelebihan yang kumiliki; dan kali ini aku bersyukur karena telah memiliki mata ini.
"Aku mencintaimu, Akashi-kun."
Aku tak tahu apa yang tiba-tiba merasukimu. Kau berkata seperti itu; kau mencintaiku. Sebuah ucapan sakral yang ingin sekali kudengar dari bibirmu. Sebuah kalimat yang memiliki arti sejuta; sebuah ucapan terindah yang pernah kau katakan padaku.
"Aku mencintaimu selalu," Ya, katakan terus. Berulang-ulang. Jatuhkan aku ke dalam pesonamu, sekali lagi. "Hal itu tidak akan berubah, Akashi-kun..."
Di detik selanjutnya, aku menciummu. Sebuah kecupan ringan yang mampu membuat dirimu terkejut. Hanya sebuah hadiah untukmu. Mungkin inilah yang kali ini bisa kuberikan padamu. Aku memang bukan seseorang yang mengerti romansa atau semacamnya. Setidaknya aku mengerti, bahwa kehadiranku disini cukup membuatmu bahagia.
Memori kebersamaaan kembali berputar. Dimana saat itu, ketika musim semi mulai menumbuhkan hari baru, aku bertemu denganmu. Seorang perempuan biasa dengan popularitas yang biasa-biasa saja. Prestasimu pun tak bisa dibilang sempurna; namun cukup memuaskan. Kau cukup cerdas di bidang sosial, tapi kurang menyukai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu fisika. Kau sering duduk melamun di pojokan, dengan mata yang terus berfokus pada langit yang cerah.
Di saat itulah aku menemukanmu. Aku bertemu, berpapasan, bahkan tidak terlalu peduli denganmu saat itu. Awal semester memang tidak terlalu bernyali untuk kami. Namun di saat kenaikan kelas, aku terkejut ketika takdir mulai bermain. Kita sekelas di tingkat dua; sama persis seperti tingkat pertama dulu.
Kembali, aku menemukanmu. Duduk di paling belakang dengan wajah melamun. Rambutmu yang sebatas dada itu melambai pelan, membuatku mau tak mau terkunci juga akan sesuatu yang kau hasilkan. Sebuah ekspetasi yang kau hasilkan mampu membuatku terdiam. Dan di saat itulah, aku menemukan jawabannya.
Musim semi berikutnya, aku melakukannya. Berkata mengenai perasaanku yang sesungguhnya melewati ucapan tajam. Namun kau mengerti dan mengiyakannya. Sebuah senyuman tipis nan hangatmu kembali membuatku terkunci. Pada saat itulah, aku tidak menyesal dengan tindakan nekatku ini.
Hari-hari baru kita jalani bersama. Kau yang seolah mengerti sikapku luar dan dalam pun hanya bisa memakluminya. Sejak aku meminta dirimu untuk menjadi kekasihku, kau mencoba untuk memahaminya. Kau tidak memutuskan hubungan dan mengetahui (dimana aku tidak tahu mengapa ia bisa mengerti) bahwa diriku bersungguh-sungguh. Hanya kaulah satu-satunya perempuan yang benar-benar mengerti perasaanku. Seseorang yang tidak gampang takut dan berani menatapku.
Pada akhirnya, di tahun terakhir kami, aku tidak takut lagi memberikan sikapku padamu. Kau menerima semua perkataanku dan tak pernah membantahnya. Kau tidak pernah melawan, selalu tersenyum tulus bila kau menginginkannya, dan di saat itulah... aku jatuh pada pesonamu untuk yang pertama kalinya.
Kau mencintaiku, sebuah fakta singkat yang benar-benar membuat jantungku berdegup.
"Akashi-kun?"
Kau memutus lamunanku, dan hal tersebut mampu membuat diriku tersenyum. Tanpa melepas genggamanku padanya, aku mengeluarkan sebuah kotak kecil yang daritadi berteriak untuk dilepaskan.
Mengabaikan raut wajahmu itu, aku membuka tutupnya. Sebuah kepingan bulat yang gemerlap, dibentuk sedemikian rupa agar menjadi sesuatu yang indah. Batu-batu kecil itu tersusun dengan rapi dan mampu menghasilkan kerlipan arti. Aku mengambil salah satu tangannya, memasukkan cincin perak ini pada salah satu jemarinya, dan berkata kalimat sakral yang tak akan kutarik selamanya.
"Aku mencintaimu, kita berdua tahu itu." Bibirmu bergetar, matamu terbelalak sempurna. Dan tak lama, menyipit pelan disusul dengan air mata yang merembes di kedua pipimu yang bulat. "Jadi, menikahlah denganku."
.
.
~ history ~
.
.
Reader's POV
Akashi-kun melamarku.
Malam itu, aku benar-benar bahagia. Aku dikejutkan dengan kedatangannya serta cincin perak yang menjadi ikatan kami berdua. Tepat setelah ia memasukkan cincin itu di jariku, aku langsung menerjangnya dengan teriakan dan menangis di pelukannya. Sebuah kemarahan itu meluap dan berubah menjadi suatu kebahagiaan yang tak ada tandingannya.
Terima kasih atas semuanya, kami-sama.
Keesokan harinya, Akashi-kun membawaku ke rumah orangtuaku. Dengan lantang ia berhasil membuat ayah jantungan dengan ucapannya yang ingin menikahiku. Ibu pun yang sedang mencuci piring pun seolah luluh karena Akashi-kun. Dan saat aku membantu ibu memasak makan malam di dapur, Akashi-kun sedang bernegoisasi dengan ayah mengenai perihal kedatangan kami.
"Jadi, kau kesini untuk melamar putriku?"
"Ya, paman."
"Kau yakin?"
"Tentu saja."
Kira-kira, itulah awal dari sebuah pembicaraan kedua lelaki itu. Aku hanya bisa berdoa semooga Akashi-kun baik-baik saja. Aku tidak mau ia terbawa emosi karena tingkah ayah yang berdarah panas. Dengan pelan, aku melirik ibu yang sedang menyiapkan panci untuk menampung sup, dan sepertinya... ia terlihat senang dengan kedatangan Akashi-kun.
"Kau memilih suami yang bagus, nak." Setidaknya, itulah yang ia ucapkan waktu itu.
"Aku tahu kalian sudah memiliki umur yang cukup untuk menikah." Aku mendengar suara berat ayah dari ruang tamu. "Tapi, apa tidak terlalu cepat untuk kalian menikah di usia yang masih terbilang muda? Lagipula, kau baru selesai kuliah, benar?"
Uh, aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Tapi rasanya, meski aku tidak melihatnya, aku dapat merasakan seringai Akashi-kun yang lebar.
Tanpa aku sadari, Akashi-kun telah membuat perjanjian dengan ayah.
Hingga akhirnya, disinilah aku berada sekarang. Di dekat pintu masuk sebuah gereja, aku melangkahkan kakiku mantap. Tatapanku berfokus pada mempelai pria yang juga memandangiku dari jauh. Pada akhirnya, tautanku pada ayah yang sedari tadi telah mengiringiku selama perjalanan terlepas. Dan kini, genggamanku tercapai pada tangan Akashi Seijuurou.
Disini, kami berdiri. Di depan pendeta dan mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan. Dengan bersungguh-sungguh, aku bersumpah akan selalu berada disamping Akashi-kun, di saat senang maupun susah. Aku akan menjadi satu-satunya pendamping hidup yang akan selalu menemaninya hingga akhir hayat nanti. Karena aku mencintainya, mencintai Akashi Seijuurou hingga dasar terdalam.
Hingga saatnya, Akashi-kun memajukan kepalanya. Ia mengecup bibirku dengan pelan namun bergairah. Aku dapat merasakan kebahagiaan yang tersalur di dalamnya. Aku juga sama, memberikan semua hidupku padanya melewati ciuman abadi ini.
Bahkan setelah tautan kami terlepas, suara tepuk tangan yang meriah terus saja terdengar. Namun samar-samar aku dapat mendengar teriakan Kise-kun dan Aomine-kun dari deretan bangku belakang, serta teriakan Midorima-kun yang menyuruh mereka untuk diam. Ah, aku juga melihat Hayama-san disana. Dan tak kusangka, ia hadir disini, bertepuk tangan keras-keras dan tersenyum lebar pada kami.
Kenangan masa lalu yang terukir dari yang indah hingga menyakitkan, menjadi sejarah untuk kami. Mengingatnya membuat hatiku jatuh kembali hingga dasar terdalam. Sebuah kenangan pahit nan manis yang dicampurkan menjadi satu, menghasilkan momen penting dan akan terus terukir di dalam hati ini. Mengenai kehidupanku yang dicintai maupun ditinggalkan, akan terus kusimpan dan tak akan kubiarkan menghilang.
Karena aku dapat merasakan cinta Akashi Seijuurou-kun di dalamnya.
Hari berikutnya, hari berikutnya lagi, dan seterusnya, aku menjalani kehidupanku dengan Seijuurou-kun. Tinggal di apartemen sederhana dan membangun keluarga di dalamnya merupakan salah satu impianku. Hingga akhirnya, diriku telah mencapai puncak kebahagian.
"Tadaima."
"Okaeri, Seijuurou-kun."
"Tunggu. Kenapa kau senang begitu? Apa ada seseorang yang mendekatimu lagi?"
"Eh? Tidak kok," Suatu hari, diriku tersenyum lebar menyambut kepulangannya. Dengan malu-malu, aku meletakkan telapak tangan pada perutku yang rata, mengelusnya pelan, berharap suamiku mengerti akan suatu hal yang kulakukan. "A-Aku hamil. Dan sepertinya, anak kembar..."
Aku melihat ekspresinya yang tak ternilai itu. Matanya membulat dan tas kerjanya jatuh begitu saja. Aku tak siap ketika ia menerjangku dengan sebuah pelukan, disusul dengan tubuhku yang diangkat dan ia membuat kami berputar-putar bahagia. Kembali, bibirnya mengecup milikku pelan. Dan dirinya membisikkan suatu hal yang mampu membuatku tertawa sekaligus menangis senang.
"Terima kasih telah membuatku bahagia."
.
.
history — end
.
.
a bit little long notes:
akhirnya tamat juga. ff request pertama dari Yamashita Hanami-chan tamat juga, muahahah.
terimakasih yang sudah mengikuti cerita ini dari awal. maap kalo ada kesalahan teman-teman. karena aku hanyalah seorang author biasa, jadi tak apalah meninggalkan sedikit tipo disana. /plak
terimakasih juga buat kamu, Hana, yang udah ngepercayain aku buat nampung permintaan kamu ini. terimakasih ya udah buat aku ngakak di fb, chat kamu pokoknya berwarna sekali ihii :3 /plakplok oh dan juga, buat kamu yang ingin nge-request ato sekedar ngobrol, bisa add efbeh aku kok. linknya di bio adaaa /ceritanya dia promosi/ kita bisa saling curhat disanaa :D
pokoknya terimakasih sama temen-temen yang udah review, kasih feedback, nge-favs, dan nge-follows. mungkin tanpa kalian, ff ini tak akan lanjut mueheh.
sampai jumpa di karya selanjutnya ya, aku cinta kalian semua!
.
.
super thanks:
Choutoru, Akane Miyahara, Ai Minkyoo Chan, LeafandFlower, berry uchiha, bubletea, Yamashita Hanami-chan, AoiKitahara, Aoi Yukari, Bakashi, Yunaclearance, ParkYoungRin97.
.
.
a world of ask: (chapter one to three)
Ini request pertama di tahun ini? Bukan tahun ini lagi, emang ini req pertama kok. Ditembak Akashi aku mau banget. Iya aku jugaa. Sumpah deg-degan, aku punya penyakit jantung ya? *sodorin akashi versi dokter* Kenapa Akashi pergi? Tanya Masaomi. Gapapa ada konflik, aku malah seneng. Wahah oke. Mereka ga bakal ngehianati satu sama lain, 'kan? Wah kalo gitu pasti tambah panjang. Akashi setia? Kalo di cerita ini sih iya. Menurutku sih ini fluffy. Duh, makasih. Kukira Akashi mendua, beneran. Ga bakal. Bikin kami nikah dong. Done. Terus, request adegan punya anak. Maaf, ini bukan ratem. Ngebaca ini sambil ngedengar lagu soundtrack Kimi ni Todoke. Wuih, yang mana? Lagi latihan voli, malah nangis. Plis, jangan nangis. :'( Terharu, feelnya dapet. Thanks. Kalimatnya mendetil banget, ga ada tipo. Menurutku sih ada hahaha. Aku nge-fly, ga bisa turun deh. Kesangkut ya? Sini mama tolongin /eh
.
.
Terima kasih sudah membaca! :)
Mind to Review?
