a Chanbaek Fanfiction by Bikiya
"From The Future Back to The Past" based on K-DRAMA "GoBack Couple"
...ketika takdir menolak Chanyeol dan Baekhyun untuk bercerai.
Hope you guys enjoy it~! ^-^
.
.
.
...
Belakangan ini Kyungsoo terlihat lebih sering melamun sendirian, Baekhyun tentu menyadari hal itu. Di antara dirinya dan Joohyun, Kyungsoo memang yang lebih tenang kepribadiannya, tapi tenangnya lelaki Do itu kali ini berbeda.
Baekhyun ingat Kyungsoo memang pernah melalui hal yang sama di tahun sekarang. Dan setelah itu Kyungsoo sedikit berbeda sebelum pergi menghilang beberapa tahun kemudian. Mungkin dari sinilah awal masalah yang dihadapi Kyungsoo, tebak Baekhyun seperti itu. Maka satu yang harus Baekhyun lakukan kali ini adalah membuat Kyungsoo terbuka, mengingat dulu yang dia lakukan saat itu hanya membiarkannya karena tidak cukup peka.
"Kyung." Mulai Baekhyun, menghampiri Kyungsoo di taman belakang kampus kemudian duduk di samping lelaki itu. Kyungsoo hanya tersenyum kecil menyambut kehadirannya. "Sepertinya kita berdua sedang dilanda kebingungan yang sama."
Baekhyun tidak berpura-pura omong-omong, ia pun memang sedang memiliki sesuatu di dalam kepalanya—sama seperti Kyungsoo saat ini. Menemukan sahabatnya itu hanya berkerut alis memandangnya, Baekhyun berdecak kecil kemudian.
"Maksudku sekarang, kita sama-sama sedang punya masalah." Sambung Baekhyun.
"Kupikir masalahmu itu sudah lama terjadi." Kyungsoo menyahut kontan, berhubung keanehan sikap Baekhyun sudah berlangsung lama. Sekarang Kyungsoo paham, perubahan sikap seseorang bisa terjadi karena pengaruh dari masalah yang dialami, termasuk dirinya. Baekhyun bahkan tahu kini dia sedang mempunyai masalah pertama yang cukup berat di dalam hidupnya.
"Yeah.." Baekhyun menghela nafas panjang. "Tapi aku tidak bercerita pada siapapun, dan itu sungguh mengacaukanku." Ringisnya, kemudian menoleh memandang Kyungsoo penuh arti. "Haruskah kita berbagi bersama-sama?"
"Masalahmu adalah bersama Chanyeol, kan?"
"Bagaimana kau tahu?" Memekik tanpa sadar Baekhyun lakukan, sedang Kyungsoo tampak tidak sama terkejutnya untuk pembenaran Baekhyun—alih-alih mengangkat bahu ringan seperti itu.
"Tidak terlalu tahu, sih."
"Itu benar." Baekhyun bergumam kecil. Mata kecilnya lantas bergulir ke depan, sesaat menerawang ruang masalah antara dirinya bersama Chanyeol seperti apa. "Aku dan dia sudah mengenal lama sekali, kupikir kita sudah saling tahu satu sama lain, tapi ternyata tidak dengan kesalahpahaman yang sering terjadi di antara kami."
Kyungsoo tanpa sadar mulai fokus sepenuhnya pada Baekhyun dan ia sudah siap untuk mencerna tiap patahan kata yang keluar dari sahabatnya itu. Ini benar mengenai sesuatu di antara Chanyeol dan Baekhyun—yang bahkan tidak diduga-duga sebelumnya mereka sudah dekat sejauh ini.
"Persamaan aku dan Chanyeol adalah saling mendiamkan. Satu masalah datang tidak pernah kita selesaikan bersama, lalu masalah itu tertutup dengan satu masalah yang lain. Tapi sebenarnya itu tidak pernah benar-benar tertutup."
Setiap masalah yang terjadi di dalam rumah tangganya, nyatanya tak benar hilang dan selesai, namun Baekhyun tidak pernah mengungkit hal itu kembali dalam pembicaraan serius bersama Chanyeol. Hanya bertingkah seolah-olah hatinya yang mengganjal tidak pernah ada. Begitupun ketika masalah-masalah baru lainnya datang. Sampai kemudian itu membuat sebuah tumpukan di hati.
"Kami tidak terbuka satu sama lain, dan membiarkan semuanya terus berjalan seperti apa yang kita pikirkan. Sampai akhirnya kita pun dibuat jengah dan memilih untuk terserah apa yang kita mau. Tapi kemudian, disaat apa yang kita mau telah terjadi, akar dari permasalahan kita kini terungkap. Dan kenyataannya semua masalah itu benar hanya mengenai kesalahpahaman."
Sesuatu dalam dada Baekhyun rasakan mulai bergemuruh di sana, itu membuatnya tanpa sadar mengernyit sakit. Baekhyun tidak ingin mengelak ketika hatinya meratap sedih pada kehidupan pernikahannya yang gagal seperti ini hanya karena kesalahpahaman semata.
"Menurutmu siapa yang salah di sini, Kyung?" Baekhyun tertunduk. Ia tak begitu butuh sebuah jawaban sebenarnya, karena baik dia atau Chanyeol yang salah—itu takkan merubah apapun.
"Kesalahpahaman apa yang terjadi memangnya?"
"Chanyeol mengacuhkanku karena pekerjaan yang dia miliki jadi kupikir dia sudah tidak peduli padaku, namun sebenarnya Chanyeol hanya sedang berusaha untuk membahagiakanku. Dan aku baru tahu itu."
"Kupikir tidak ada yang salah di sini, selain hanya karena ruang komunikasi kalian yang kurang."
Ujaran Kyungsoo betul dicermati Baekhyun sampai kini otak belakangnya kembali membentuk bayangan seperti apa yang dikatakan Kyungsoo. Dia dan Chanyeol tidak pernah benar-benar memiliki ruang komunikasi yang cukup banyak untuk membicarakan kehidupan pernikahan mereka.
Baekhyun menyadari hal itu sekarang, betapa sempitnya waktu yang dia miliki bersama Chanyeol dibanding saat mereka masih berpacaran dulu. Setelah menikah sebuah pekerjaan menjadi penting untuk Chanyeol. Dan itu wajar. Sementara Baekhyun, walau dia berdiam diri di rumah, dia memiliki beberapa anak yang menjadi tanggung jawabnya.
Keterbatasannya waktu membuat mereka tidak pernah sadar jarak demi jarak mulai tersisa. Baekhyun sudah mulai terbiasa, begitupun dengan Chanyeol, mereka nyaman-nyaman saja. Tapi tahunya sebuah kebiasaan itulah yang membuat mereka akhirnya berada di sini.
Ini hanyalah masalah quality time yang tak benar mereka gunakan dengan baik.
"Kau benar." Aku Baekhyun dalam sebuah desahan berat.
"Err.. Baekhyun."
Lirihan suara Kyungsoo yang berubah cepat mengais kesadaran Baekhyun kemudian. Carrier itu menoleh dan menemukan Kyungsoo bersama raut wajah menahan sesuatu.
"Dua hari yang lalu Jongin mengajakku pacaran." Ungkap Kyungsoo selanjutnya.
Baekhyun tidak heran mengapa Kyungsoo mengatakan hal itu pertama kali. Mungkin benar akar permasalahan Kyungsoo adalah dari pria bernama Kim Jongin itu.
"Kalau kau tidak terlalu menyukainya, jangan memaksakan diri."
"Tidak." Kyungsoo tahunya menggeleng banyak, menyangkal keras untuk ucapan Baekhyun. "Aku menyukainya, sangat menyukainya. Tapi kupikir aku bukanlah orang yang tepat untuk Jongin."
"Mengapa seperti itu?" Alis Baekhyun lantas terangkat satu. Kyungsoo tidak pernah merendah diri seperti itu, apalagi untuk hal yang bersangkutan dengan Jongin, seingat Baekhyun.
"Karena Jongin adalah anak tunggal sedangkan aku tidak akan bisa memberikan dia keturunan. Aku bukan seorang carrier, Baek."
"Apa?!" Saraf Baekhyun kontan mencapai puncak. Motoriknya bergerak cepat mendekati Kyungsoo dalam pelototan mata berlebih. Wajar, Baekhyun hanya terkejut—sebenarnya dia tercengang. "Kupikir kau seorang carrier sejati."
Kyungsoo mengindahkan itu dengan gelengan kepala yang lesu. "Aku tidak. Aku pikir awalnya juga begitu karena aku memiliki karakteristik yang sama seperti seorang carrier, tapi beberapa hari yang lalu aku mengecek ke dokter dan CT Scan tidak menemukan rahim di dalam tubuhku. Aku seorang pria tulen, Baek."
Untuk sesaat Baekhyun hanya terdiam kosong menatap Kyungsoo. Dia mengerti kini bagaimana kepergian Kyungsoo yang terjadi setelah merencanakan pernikahan dengan Jongin adalah kebaikan untuk Jongin sendiri. Baekhyun tidak tahu ternyata Kyungsoo menyimpan hal ini seorang diri selama bertahun-tahun.
"Kyung.."
"Karena itu aku tidak mau membuat Jongin kecewa."
"Aku mengerti itu, Kyung." Baekhyun menyahut. "Tapi perlu kau tahu, Jongin sangat mencintaimu. Dia bahkan tidak mau melirik pada yang lain selain kepadamu."
"Bagaimana kau tahu?"
Satu tolehan kepala Kyungsoo membuat Baekhyun sedikitnya tergugu. Ia tidak mungkin mengatakan di masa depan Kyungsoo dan Jongin bertunangan, dan Jongin yang depresi setelah Kyungsoo menghilang tiba-tiba. Itu bahkan belum terjadi di tahun sekarang. Tapi itu cukup membuat Baekhyun tahu bahwasannya Jongin mencintai Kyungsoo dalam-dalam.
"Itu—Jongin yang mengatakannya padaku." Jawab Baekhyun pada akhirnya.
"Kupikir kalian tidak akrab." Kyungsoo kembali membuang pandangannya ke depan. "Bagaimana dengan keluarga Jongin kelak?"
Baekhyun tersenyum kecil. Tangannya serta merta meraih tangan milik yang lainnya untuk ia genggam, berikut sorot mata meyakini Baekhyun berikan pula pada Kyungsoo.
"Percayalah, kau akan tetap membuat Jongin bahagia dan tidak akan mengecewakan siapapun."
...
Terlahir menjadi seorang carrier tentunya tidak selalu berdampak positif. Bagi Baekhyun sendiri yang benar merupakan carrier sejati cukup merepotkan. Dinding rahim di dalam tubuhnya akan mengalami hal yang sama seperti rahim wanita kebanyakan di bulan-bulan tertentu, menebal dengan darah kotor yang memenuhi. Namun bedanya, pada seorang carrier dinding yang menebal itu hanya berefek nyeri pada perut dan pinggang. Tapi rasanya jauh lebih sakit. Bagaimanapun rahim yang kosong sedang terisi dengan darah kotor, untuk membuat darah-darah itu hilang perlu obat untuk menanganinya.
Hari ini adalah hari pertama datang nyeri pada Baekhyun. Lelaki Byun itu betul merutuk ketika dia tidak mendapati obat itu di dalam tasnya. Baekhyun berakhir tidak berdaya di dalam kelas, ia tak mampu pergi kemana-mana, dan membiarkan Joohyun dan Kyungsoo pergi meninggalkannya ke kantin.
"Hai, babe. Makan siang bersama?" Sebuah sapaan langsung didapati Joohyun ketika dia masuk areal kantin. Itu jelas merupakan Sehun yang kini merangkulnya, dan sengaja membawa Joohyun menjauh dari Kyungsoo.
Sementara itu sosok Jongin yang juga ditinggal Sehun hanya berdiri canggung di samping Kyungsoo. Jongin menemukan lelaki Do itu kini cemberut menyusul siluet Joohyun di sana. Jongin benar tidak bisa menahan dirinya untuk sebuah sapaan.
"Hai." Dan berakhir menyapa konyol seperti itu. Jongin menjadi kaku berdekatan dengan Kyungsoo seperti itu, karena ia tahu betul bagaimana Kyungsoo yang mulai menghindarinya semenjak dia mengajak lelaki itu berpacaran. Mungkin Kyungsoo memang tidak menyukainya, pikir Jongin mengertikan hal tersebut.
Tapi tiba-tiba saja Kyungsoo menggandeng tangannya seperti itu. Jongin tidak bisa untuk tidak terkejut.
"Ayo makan bersama." Ujar Kyungsoo menambahkan. Tentu saja itu tidak akan ditolak oleh Jongin yang sekarang wajahnya sudah kembali sumringah seperti biasa.
Hanya Chanyeol seorang yang tidak mendapatkan seseorang di sampingnya. Mendengus Chanyeol pun lakukan sembari terpaksa mengekori Jongin dan Kyungsoo di hadapannya.
"Baekhyun tidak bersama kalian?" Chanyeol mengeluarkan suara ketika sudah menggabungkan dirinya di antara kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara itu.
Joohyun menggeleng pertama kali. "Baekhyun sedang nyeri datang hormon, jadi dia tidak mau pergi kemana-mana."
Chanyeol mengangguk kecil, dia ingat ini memang tanggalnya Baekhyun. "Apa dia tidak minum obat?"
"Baekhyun lupa membawanya."
Itu tidak baik, pikiran Chanyeol sontak tertuju pada hal itu. Pria Park itu tahu betul bagaimana Baekhyun yang suka menjadi cengeng ketika nyeri datang bulan.
"Aish, dasar pelupa." Gerutunya, tanpa sadar langsung mendirikan tungkai seperti itu.
"Kau mau kemana, Yeol?" Sehun langsung bertanya.
"Beli obat untuk Baekhyun."
Selepas itu Chanyeol benar memberanjakkan dirinya tanpa peduli air wajah seperti apa yang selanjutnya diperlihatkan keempat orang lainnya di sana. Pengecualian untuk Kyungsoo.
"Aku benar'kan." Lelaki itu bahkan mengulas senyum penuh arti pada sosok Chanyeol yang menghilang di persimpangan.
"Aku masih tidak percaya." Itu Sehun dan Jongin yang bergumam mengenai hubungan di antara Chanyeol dan Baekhyun.
...
Benar saja. Chanyeol menemukan Baekhyun di dalam kelasnya tengah menunduk di balik tangan terlipat seperti itu. Samar-samar pundak Baekhyun bergetar, Chanyeol tidak salah telah datang kemari.
Langkah pria itu pun memasuki kelas Baekhyun, menuju dimana bangku Baekhyun berada kemudian meletakkan sebungkus obat yang dibutuhkan Baekhyun saat ini.
"Ini, minumlah." Ujarnya.
Perlahan-lahan kepala Baekhyun terangkat, keningnya tampak mengernyit saat mendapati tubuh Chanyeol di hadapannya. Kemudian mendengus ia lakukan, namun tak menolak untuk obat yang diberikan Chanyeol.
"Kau selalu menangis saat datang hormon."
Baekhyun merengut tak suka setelah meminum obat yang diberikan Chanyeol. "Itu karena kau tidak merasakannya."
"Sudah tahu sakit, kenapa tidak bawa obatnya?"
"Aku lupa."
Chanyeol menghela nafas kecil, lalu melepaskan tas di punggungnya. "Awas sebentar." Perintahnya, dan Baekhyun menuruti tanpa protes ketika Chanyeol meletakkan tas di depan Baekhyun sementara Chanyeol sendiri kini mendudukkan dirinya di samping carrier itu. "Tidurlah, aku akan memijatmu."
"Tidak perlu."
Chanyeol berdecak menemukan penolakan itu, padahal ia tahu betul pijatan sedang dibutuhkan Baekhyun saat ini. Di saat mereka masih menikah, Baekhyun sendiri yang bahkan suka meminta dipijati. "Jangan keras kepala, Baek."
Baekhyun menghela nafas, lagi tak menolak bagaimana Chanyeol menidurkan dirinya di atas tas pria itu sebagai bantal kemudian Chanyeol memijat pinggangnya. Baekhyun akui perlakuan Chanyeol ini sedikit banyak mengurangi rasa sakit yang menjalar di daerah perutnya. Itu membuat Baekhyun nyaman, rasanya sama tiap kali Chanyeol membantu mengurangi nyerinya yang seperti ini di setiap malam. Pria itu bahkan sudah seperti tahu dimana letaknya.
"Baekhyun, kau tidur?"
Mata Baekhyun yang sudah terpejam tahunya kembali terbuka saat Chanyeol bertanya seperti itu. "Tidak."
Sesaat keduanya memilih untuk menjemput keterdiaman. Chanyeol masih betah menggerakkan tangan di tempat yang sama untuk Baekhyun, begitu pula satu yang lainnya yang merasa nyaman. Mereka seperti itu tanpa menyadari bagaimana susupan rindu saling menyelinap ke dalam diri mereka ketika tubuh mereka berada di jarak yang seperti ini.
"Aku minta maaf." Pelan suara Chanyeol yang berbisik lantas memecah keheningan itu. Baekhyun terdiam dan menunggu imbuhan yang diberikan Chanyeol selanjutnya. "Kupikir kau benar. Aku tidak memahamimu selama ini, aku hanya melakukan apa yang kuanggap benar."
"Tak apa, itu wajar, kau sudah dituntut untuk menjadi seorang pelindung untuk keluarga." Gumam Baekhyun mengerti, kemudian menggigit bibir ragu ia lakukan tanpa sadar. "Lantas jika kau tidak berselingkuh, kemana perginya kau saat orangtuaku meninggal? Kau bilang kau menyayangi mereka."
"Aku...dikurung." Sendu Chanyeol berujar.
Pada tempatnya Baekhyun mengernyit, ia berdengung tak mengerti dan kontan menarik tubuhnya untuk menghadap Chanyeol. "Apa maksudmu dikurung? Siapa yang mengurungmu?"
"Sudah kubilang aku menjadi anjing peliharaan untuk atasanku. Aku melakukan apa yang diperintahkan Direktur Choi, termasuk untuk menyembunyikan para selingkuhannya dari Nyonya Choi, istrinya." Chanyeol tersenyum kecut untuk kilasan di malam itu, sebenarnya dia ngilu bila mengingatnya. "Saat itu ada kesalahpahaman. Aku membawa selingkuhan Direktur Choi untuk dibawa ke tempat lain, tapi jalang itu mengira aku adalah musuhnya jadi dia menghubungi para anak buahnya untuk menghajarku. Aku sudah berusaha untuk menjelaskan pada mereka, tapi mereka tidak percaya sebelum Direktur Choi sendiri yang datang dan membenarkan pengakuanku. Aku dihajar dan dikurung oleh mereka tanpa makan dan minum selama dua hari. Ponselku tertinggal di dalam mobil, itulah kenapa aku tidak mengangkat panggilanmu, Baek. Saat Direktur Choi datang dan semuanya selesai, aku terkejut melihat beribu pesan darimu yang memakiku untuk segera pulang."
Chanyeol melihat bagaimana kini retina Baekhyun melebar untuk apa yang ia ceritakan. Dia tahu seberapa menyedihkan dirinya di sana, namun Chanyeol tetap melanjutkan apa yang ia pendam selama ini.
"Kau tahu, semua pukulan yang diberikan para preman itu tidak lebih sakit daripada saat aku mendatangi rumah duka mertuaku sendiri, kemudian melihatmu dalam kondisi menangis seperti itu. Aku seperti melihat semua usaha yang kubangun hancur di hadapanku, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membangunnya lagi."
"Dan karena itu kau mengabaikanku?"
Chanyeol tertunduk, merasakan dengan nyata seperti apa denyut di dalam dadanya berpendar. Dia seperti melihat kembali usahanya yang benar berujung sia-sia, lebih-lebih menjadikan Baekhyun sebagai korban di sini.
"Maafkan aku, Baekhyun. Ini hanya sulit untukku, kelemahanku adalah melihatmu menangis dan aku tidak bisa bersikap menjadi sosok yang paling kuat saat itu untukmu."
Kepala Baekhyun mulai terasa pening. Sekarang apa lagi yang menjadi kesalahpahaman di antara mereka?
"Chanyeol, aku tidak memintamu melindungiku. Kau tidak perlu menjadi pelindung untukku. Kau hanya perlu berada di sisiku, menatapku, memelukku, dan menangis bersamaku. Kau tidak perlu mencari nafkah sekeras itu, kau hanya perlu makan bersamaku." Mata serentak membuat pandangan Baekhyun menjadi buram oleh air mata. Baekhyun tak bisa menahan dirinya lagi, hormonnya meledak dan membuat emosi menjadi tidak stabil. Seharusnya ia pergi untuk mengistirahatkan dirinya, tapi sesuatu menahannya di sini untuk terus mendengarkan satu kenyataan yang lain.
"Maafkan aku. Aku hanya ingin membuatmu tertawa, karena aku tahu aku tidak bisa melakukan apapun, kukira hanya itu yang bisa kulakukan. Aku tidak ingin melihat dan membuatmu menangis. Aku hanya ingin melihat dan membuatmu tertawa. Maafkan aku.."
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya? Kupikir kau seperti itu karena sudah tidak peduli padaku."
"Aku selalu ingin mengatakannya, tapi kau tahu seberapa pengecutnya aku, Baekhyun." Chanyeol mengangkat pandangannya, namun ia malah menemukan keretakan hatinya yang lain ketika Baekhyun menangis dan segera menghapusnya seperti itu. Lagi. Dimana seharusnya Chanyeol lah yang melakukan semua itu.
"Lalu mengapa kau tidak menahanku saat aku meminta cerai kepadamu?" Baekhyun menatap Chanyeol dengan nanar. Satu yang ingin dia ketahui alasannya, apakah ini juga hanya salah paham? "Aku menunggumu untuk menahanku saat itu, Chanyeol. Aku pikir kau akan menahanku saat kau terdiam cukup lama, tapi nyatanya kau membiarkanku seperti itu."
"Karena kupikir kau benar-benar menderita bersamaku, Baekhyun. Aku tidak bisa menahanmu jika nyatanya kau tidak bahagia selama ini."
Baekhyun tertegun sedang apapun yang ingin ia luapkan melebur di atas lidahnya begitu saja. Dari sana, Baekhyun menyadari kesalahannya. Tentu ia ingat persis di malam lalu kekalapannya meneriaki Chanyeol dan berseru seperti apa pada pria itu.
'...HIDUP BERSAMAMU MEMBUATKU MENDERITA!'
"Maafkan aku, Baekhyun. Aku terlalu bodoh untuk memahamimu." Chanyeol hanya mampu mengucapkan kalimat itu. Untuk semua kesalahannya, apa yang ia pikirkan selama ini—tak benar tahu harus Chanyeol bagaimanakan. Semuanya membawa akhir yang seperti ini, maaf tidaklah cukup untuk mengembalikan keadaan seperti semula.
"Berhenti meminta maaf." Baekhyun pun bergumam seperti itu. Chanyeol terdiam, benar tak berani untuk menatap Baekhyun, berbanding terbalik dengan satu yang lebih mungil. "Satu kesamaan kita adalah saling diam dan berpikir waktu bisa mengobati segalanya. Ruang komunikasi kita terlalu sempit dan kesalahan kita sama-sama tidak membuat itu menjadi lebar. Aku menyadari hal itu. Kita berdualah yang salah Chanyeol, bukan kau atau aku."
Chanyeol mengangguk membenarkan di sana. Tiba-tiba ia merasakan kedua tangan Baekhyun menangkup wajahnya dan membuat kontak mata mereka terhubung. Rasanya hangat, seperti mimpi yang dimiliki Chanyeol nyata terjadi.
"Kita tidak transparan satu sama lain." Setelah itu giliran Baekhyun yang menunduk, tangannya hendak terlepas dari wajah Chanyeol tetapi segera pria Park itu menahannya.
Apa yang akan Chanyeol katakan teralih ketika fokusnya cepat menarik atensian yang lain. Jari manis Baekhyun, ada lingkaran di sana yang tercetak jelas bekas cincin.
"Sejak kapan kau memiliki bekas ini?" Tanya Chanyeol kemudian.
Baekhyun melirik sesaat jemarinya. "Sejak aku melepas cincin pernikahan kita, aku tidak tahu ini akan sulit dihilangkan."
"Aku juga memilikinya." Chanyeol menunjukkan bekas serupa yang juga dimilikinya di jari yang sama.
Bekas itu seharusnya sudah hilang mengingat mereka sama-sama membuangnya sudah terhitung cukup lama. Tapi tahunya itu masih tertinggal di sana, bahkan tidak terlihat mengendur sedikitpun. Chanyeol awalnya tak mengerti, namun setelah melihat Baekhyun juga memiliki hal yang sama persis Chanyeol mulai menaruh sebuah pemikiran untuk hal tersebut.
Apalagi ketika Baekhyun mengimbuh. "Hal aneh terjadi setelah aku melepas cincinnya."
"Apa itu?"
"Sebuah guncangan besar aku rasakan, tapi anehnya itu tidak dirasakan oleh orang lain. Itu tidak mungkin hanya bagian dari imajinasiku."
"Aku juga begitu."
Chanyeol bergumam takjub. Ia mendapatkan Baekhyun kini menatapnya dalam diam, Chanyeol dengan senang hati membalasnya.
"Aku pikir aku tahu jalan kita pulang."
...
Cincin mereka adalah kuncinya. Chanyeol begitu menaruh harapan besar ketika tahu ia dan Baekhyun sama-sama mengalami kejadian yang aneh selepas cincin pernikahan mereka dibuang. Chanyeol sendiri bahkan sudah membaca dari berbagai buku tentang perjalanan mesin waktu ini, dan itu tidak ada jalan keluar yang lebih masuk akal untuknya—seperti menemukan gerbang untuk masuk ke perut bumi. Maka kini sebuah cincin sangat masuk akal untuknya. Dan dia harus mendapatkan cincin yang sama itu kembali.
Toko Perhiasan Armhany, Chanyeol masih ingat betul tempat dia membeli emas kawinnya bersama Baekhyun, dan ia benar menemukannya. Ini merupakan satu cincin yang tersisa dengan model serupa, karena itu Chanyeol bersyukur tidak terlambat.
Chanyeol sudah mantap ingin pulang. Ia tidak peduli apa yang akan selanjutnya terjadi, keberadaan anak-anaknya di masa depan sungguh Chanyeol rindukan. Setelah mengetahui kesalahpahaman antara dirinya dan Baekhyun selama ini, Chanyeol berpikir penjelajahan waktunya kemari hanyalah untuk berpergian sebentar sebelum kembali ke rumah yang sebenarnya. Perjalanannya adalah untuk mencintai dan menyayangi apa yang dia miliki. Sedang rumahnya adalah seseorang yang berani mendampinginya tanpa ragu.
Baekhyun... Dan Chanyeol tahu bagaimana perasaannya yang sama sekali tidak berkurang, lebih-lebih bertambah dengan kembalinya ia kemari. Chanyeol menyadari hal itu dan dia tak ingin menolak rasa rindu untuk kebersamaan dirinya bersama Baekhyun pula anak-anak di masa depan.
Itu membuat Chanyeol menggebu untuk pulang. Namun seketika semua kemantapan Chanyeol tahunya hilang sirna tatkala ia menemukan rumahnya yang ingin ia bawa pulang tampak lebih bersinar bersama Yoona di sana.
Sontak langkah Chanyeol terhenti. Di depan sana Chanyeol melihat seperti apa Baekhyun terlihat bahagia bergelayutan pada Yoona, sang ibu. Baekhyun tersenyum lebar sampai mata sipitnya membuat bukit yang indah, itu adalah apa yang tidak Chanyeol dapati lagi dari Baekhyun setelah kepergian Yoona. Chanyeol tidak mungkin tega menghilangkan sorot itu dengan membawa Baekhyun pulang... ke ruang dimensi dimana Yoona sudah tidak ada.
Chanyeol berakhir dilema kembali. Apa yang harus ia lakukan? Baekhyun tampak senang, dan Chanyeol mengerti betul bagaimana Baekhyun merasakan kebersamaannya bersama Yoona. Jika mereka pulang, apakah Baekhyun masih bisa tersenyum seperti itu? Chanyeol takut dia melakukan kesalahan yang serupa karena dia tidak tahu apakah Baekhyun berpikiran hal yang sama tentang penjelajahan waktu ini? Apakah rumah Baekhyun adalah dirinya?
Atau bukan?
...
Suara tawa Baekhyun terdengar menggelegar di udara malam ini sementara ia tak mengurangi langkahnya di jalanan. Di sampingnya Yoona berdecak, tetap bercerita seperti apa yang Baekhyun pinta.
"Sungguh aku segalak itu, Bu?" Baekhyun menyela, sisa tawanya masih terdengar di sana. Lalu ia menoleh pada Yoona dan menemukan sang ibu lagi berdecak kepadanya, Baekhyun tahunya geli dan merasa ingin tertawa kencang lagi mendengar sahutan Yoona seperti apa.
"Eoh! Kau lihat saja wajah Seora secara dekat, kau akan melihat bekas cakaranmu di sana. Ya Tuhan.. Sampai sekarang Ibu dan ibunya Seora tidak pernah akrab berkat ulahmu saat kecil, Baek." Yoona menggeleng kepala berbanding terbalik dengan Baekhyun yang terkikik puas.
Carrier itu baru tahu ia ternyata sudah galak dari kecil. Seora, teman kecilnya yang sekarang tidak terlalu akrab pernah mendapatkan cakaran darinya karena gadis itu bermain dengan tidak sesuai yang Baekhyun inginkan. Baekhyun tidak ingat ia pernah melakukan hal itu jika saja Yoona tidak bercerita kepadanya.
"Tapi sekarang aku tumbuh menjadi anak baik, Bu." Ujar Baekhyun, kembali bersender kepala di atas pundak ibunya dan mengeratkan gandengannya di lengan Yoona yang kini mendengus.
"Baik apanya. Kau bahkan tidak pernah menuruti Ibu."
"Aku akan menuruti Ibu mulai sekarang."
Sembari terus melangkah, Yoona bergumam. "Kau akan paham bagaimana rasanya menjadi orangtua yang tidak pernah dituruti setelah kau punya anak nanti."
"Yeah.." Baekhyun menyahut kecil. Dalam diam ia mengingat Jackson, putera sulungnya yang Baekhyun sadari ternyata cerminan dirinya sekali ketika muda. Mudah marah, gengsi, pemalas, keras kepala, dan tidak mudah menuruti dirinya. Jackson seperti karma untuk Baekhyun saja.
"Ada apa di sana?" Yoona tiba-tiba berhenti melangkah, sedang Baekhyun kini pun ikut menggulirkan arahnya pada yang Yoona maksud kemudian bergumam tak tahu, dan mereka pun mendekat ke arah orang-orang yang berkumpul di sana.
Sedikit perlu usaha untuk bisa melihat objek, Yoona dan Baekhyun tahunya menemukan seorang pria mabuk lah yang menjadi tontonan orang-orang sekarang. Penampilannya sangat berantakan, bau alkohol pun sangat tajam menusuk indera mereka. Baekhyun nyaris ingin berbalik, tapi apa yang diracaukan pria mabuk itu sangat menarik perhatian banyak orang, termasuk Baekhyun sendiri.
"Kenapa?! Kenapa usahaku tidak pernah dilihat sama sekali?! Apa yang harus aku lakukan lagi setelah aku menjadi anjingmu pak tua?!"
Baekhyun tersentak pada tempatnya. Itu terdengar familiar di telinganya, tentu Baekhyun mematung memperhatikan pria menyedihkan di sana.
"Kenapa ini sangat tidak adil?! Beritahu padaku dimana letak kesalahanku sehingga aku diperilakukan seperti ini?! Akupun sama memiliki harga diri tapi kenapa orang berdompet tebal sepertimu selalu menginjak harga diri orang sepertiku yang hanya ingin membahagiakan keluarga kecilku?!" Pria itu berteriak, membuat orang-orang yang menontoni tampak miris melihatnya. Terutama untuk apa yang diperdengarkan.
'Kau bahkan tidak tahu bagaimana aku bekerja diperilakukan seperti anjing selama ini.'
Ungkapan dari Chanyeol di hari lalu sontak melintasi bayang Baekhyun, benar membuat lelaki Byun itu kini menumpuk rasa bersalah lagi di dalam hatinya. Dia ingat betul bagaimana Chanyeol juga mengekspresikan serupa seperti yang diperlihatkan pria itu di sana ketika mengakui dunia pekerjaannya.
Nyatanya Chanyeol tak sedang melebih-lebihkan untuk menarik simpatiknya semata. Itu adalah apa yang menjadi benar adanya.
Hati Baekhyun tertusuk halus seiring dia tahu Chanyeol sudah mengorbankan segalanya hanya untuk membahagiakannya. Di hari lalu bagi Baekhyun itu adalah hal yang wajar, Chanyeol hanya terlalu melebih-lebihkan dan membual. Baekhyun tak pernah tahu jika nyatanya Chanyeol membiarkan harga diri pun diinjak karena Chanyeol terlalu peduli padanya.
"Apa kau pikir aku tidak menderita kau perilakukan seperti itu?! Aku menderita di sini. Tapi apa yang bisa kulakukan?! Aku membutuhkanmu untuk kehidupan keluargaku."
'Apa kau pikir aku juga tidak menderita?'
Yah, seharusnya Baekhyun mendengarkan Chanyeol saat itu. Bertanya apa yang membuat suaminya itu menderita, bukan malah menekani Chanyeol dengan sumber penderitaan dirinya adalah hidup bersama Chanyeol.
"Aku diinjak olehmu. Aku dihina olehmu. Aku menjadi anjing untukmu. Aku melakukannya untuk mendapatkan sebuah senyuman dari istriku. T-Tapi mengapa aku masih tidak bisa?! Katakan padaku kenapa aku tidak bisa mempertahankan pernikahanku?!"
'Aku sudah berusaha keras selama ini, Baek. Tapi kenapa aku masih tidak bisa membahagiakanmu?'
Pertahanan Baekhyun hancur meluruh keluar dalam luncuran air mata. Semua ungkapan itu seperti sebuah hunusan tajam menusuk ke dalam dadanya. Baekhyun bergetar, ia merasa lemas, dan dia tak menyadari bagaimana kini dirinya telah berakhir menangis seperti itu.
Untuk apa yang semua telah Chanyeol lakukan adalah mempertahankan dirinya, menjaga dirinya di samping pria itu, tapi lihat seperti apa Baekhyun menemukan dirinya berteriak menuntut sebuah perceraian. Seharusnya Baekhyun tahu Chanyeol lebih daripada hancur dibanding dirinya.
'...Aku tidak ingin melihat dan membuatmu menangis. Aku hanya ingin melihat dan membuatmu tertawa...'
Baekhyun tak menunggu lagi dia segera menarik langkahnya di sana, berlari sekencang mungkin untuk mengakui dia sebenarnya selalu bahagia bersama Chanyeol, tanpa Chanyeol Baekhyun seperti jarum kompas yang tak berarah. Ini benar tidak pernah Baekhyun pikirkan sama sekali, mengenai kenyataan dirinya yang begitu berharga untuk Chanyeol.
"Chanyeol, Yeobo, maafkan aku.."
Satu yang Baekhyun inginkan adalah segera memeluk tubuh Chanyeol. Kepalanya pening dipenuhi seluruh pengakuan yang selalu Chanyeol berikan adalah mengenai dirinya, dirinya, dan dirinya. Sedang dada Baekhyun rasakan mulai berubah menyesak dengan nafas bergulung mengingat seperti apa seluruh makian yang selalu dirinya berikan pada Chanyeol juga segala kesibukan yang dimiliki pria itu.
Baekhyun sadar, betapa dia tidak memperilakukan Chanyeol dengan adil di samping pria itu selalu memprioritaskan dirinya di atas segala-galanya. Sungguh tidak adil. Baekhyun tahu itu, dan betapa bodohnya ia baru menyadarinya sekarang. Ini karena Baekhyun terlalu fokus dalam satu pikiran yang seperti itu, tanpa tahu ia memiliki Chanyeol yang berdiri di belakangnya ingin menariknya untuk berjalan bersama.
Pandangan mata Baekhyun sudah terlalu buram dipenuhi air mata, seperti halnya langkah hidupnya yang kini tahunya sudah membawa dirinya ke tengah jalan sedang traffic light masih berwarna hijau. Samar teriakan Yoona cukup saja menyadarkan pikiran kalut Baekhyun, tapi sebelum carrier itu menyadari dimana dirinya sekarang sebuah bunyi klakson mobil truk menggelegar di depan sana. Baekhyun sontak membelalak terkejut, kakinya terpaku di sana dengan otot yang menegang. Ia tahu dirinya akan tertabrak saat itu juga.
Namun setelah Baekhyun memejamkan mata siap untuk menerima hantaman itu, apa yang selanjutnya terjadi hanya sebuah dorongan kecil yang hanya membuat Baekhyun jatuh tersungkur di pinggir jalan. Anehnya bunyi peraduan ban mobil dengan aspal terdengar jelas memekakkan telinga, juga bagaimana orang-orang memekik di tengah itu dengan suara riuh panik.
Jantung Baekhyun langsung berdentum keras, seseorang membantunya berdiri dan bertanya mengenai keadaannya, tapi motorik Baekhyun seperti kaku. Ia melihat di depan sana sebuah truk berhenti, tak jauh dari kendaraan itu sendiri ada beberapa orang yang kini mengurumuni satu titik.
Langkah Baekhyun lantas terseret panik mendekati kerumunan itu, terakhir dia ingat adalah teriakan dari ibunya. Baekhyun memaksa untuk memasuki celah orang-orang di sana, beringsut lebih dekat dimana ia langsung melihat sebuah kaki tergeletak sebagai yang pertama ditangkapnya.
Air mata tak bisa Baekhyun tahan kembali begitu dia melihat siapa yang tergeletak di sana. Kakinya kontan melemas, ia terjatuh, raungan kecil tersendat di tenggorokannya. Tubuh besar Chanyeol benar tergeletak di sana, menggantikan dirinya yang seharusnya tergeletak seperti itu.
"A-Andwae." Seluruh tubuh Baekhyun bergetar mendekati Chanyeol. Ia berbisik parau, rasanya seluruh dalam diri Baekhyun berdenyut sakit dan berubah panik ketakutan melihat darah merembesi sisian wajah Chanyeol. "Ch-Chanyeol—"
Baekhyun segera menangkup wajah Chanyeol dan membawanya ke dalam pelukannya, tangan bergetarnya ia bawa menutupi luka di kepala Chanyeol yang membuat darah Chanyeol terus mengalir di sana. Sementara kepalanya terus menggeleng sampai Baekhyun merasakan otot lehernya yang mengaku. Linangan air mata terus mengucuri wajah Baekhyun, sebagian jatuh mengenai tubuh Chanyeol.
"Yeobo, j-jangan—"
"Jangan menangis.." Chanyeol berbisik di tengah itu. Tangan pria itu terangkat menangkup wajah Baekhyun, dan Baekhyun cepat membalas menangkup telapak tangan Chanyeol di sana dengan erat.
Baekhyun masih menggeleng. Satu tangannya yang memegang kepala Chanyeol sudah kotor dengan darah yang keluar di sana. "Maaf, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku, kumohon Yeobo."
Air mata Baekhyun masih menetes deras, sedang Chanyeol sudah tak lagi memberikan sahutan. Tangannya terkulai dalam genggaman Baekhyun. Carrier itu menggeleng kasar, panik merasuki pikirannya saat melihat Chanyeol sudah tidak bergerak dan hanya terpejam seperti itu.
"Yeobo jangan tinggalkan aku. Kita belum pulang."
Seperti belum puas berbagai lintasan menghampiri Baekhyun, kini sebuah ingatan lagi mendatanginya dengan berbondong-bondong seperti layar proyektor di hadapannya, memperjelas semua kenangan mereka saat bersama, awal mereka bertemu tersenyum malu satu sama lain, berdirinya mereka di altar pernikahan, sampai dimana mereka berada di sini, terakhir Chanyeol yang membantunya mengurangi rasa sakit itu.
Chanyeol selalu ada untuknya, tapi tidak pernah ada ketika Baekhyun menumpahkan sebuah tangisan. Baekhyun tidak bisa menerima orang yang hampir mengisi seluruh hidupnya itu kini tak bergerak di dalam pangkuannya dengan darah yang memperburuk keadaan.
Baekhyun tidak menerima.
"ANDWAE CHANYEOOOOL!"
Jika aku adalah rumahmu, maka kau adalah jantungku...
Bersambung—
...
Kesalahpahaman itu bisa berakibat fatal ya, gaes! Jadi mending terus terang daripada dipendam dan bikin kita berspekulasi yg ngga-ngga. Di samping jadi su'udzon, itu juga rugi ke kitanya dan berujung nyesel kaya Baekhyun .gga
Besok chapter terakhir, hufftt akhirnya~
