Chapter 3
Pilih Siapa?
Author : Cho Minseo
Cast :
Huang Renjun
Mark Lee
Lee Jeno
Lee Haechan
Na Jaemin
Park Jisung
Zhong Chenle
Summary :
Renjun kira kehidupan di sekolah SOPA akan menyenangkan seperti yang dia pikirkan selama ini. Ternyata semua itu salah sejak keempat pangeran sekolah selalu mencari perhatian Renjun dengan tingkah konyol – menurut Renjun – mereka. Bagaimana kisah keseharian Renjun untuk menghindari mereka? Atau malah menerima mereka semua?
Genre :
Romance, Fluff, Humor, School life, OOC, dll..
Rate : T
Note :
Renjun, Jeno, Jisung sekelas, tingkat 2 (anggap aja Jisung ikut kelas akselerasi), Mark tingkat 3, Haechan Jaemin tinggat 2 beda kelas ma Renjun Jeno Jisung. Jisung sama Chenle seumuran. Chenle tingkat 1.
Warning :
BxB, Boys Love, cerita aneh palagi judulnya, alur cepat, sorry for typo..
Big thanks to :
realloveexo, nrlyukkeuri96, Mastaxxx, Jeon Wonnie, pacarnyaHaechan, JaeminNanana, JaeEun21, wafertango, BlueBerry Jung, Min Milly, adaml8770, tryss, Rlyuklla, zahra9697, KimYijoon, marklis247, kono Ouji sama ga inai, vivihaulia, dream'snoonachan, chittaphon27. Makasih udah review chap kemarin sama yang udah fav and fol.
..ooo..
"Eomma aku pulang," teriak Renjun dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar suara anak semata wayangnya, Minseok menjawab teriakan anaknya dari dapur setelah menyicipi masakan untuk makan siangnya dan Renjun, "Iyaa, sayang. Sebentar…."
"Eommaaa…" teriakan Renjun semakin menjadi.
"Bentar sayaang, eomma ke sana sekarang." Dirasa masakannya sudah pas di lidah, Minseok keluar dari dapur setelah mematikan kompor menghampiri Renjun yang terisak di ruang tamu.
Minseok heran melihat keadaan anaknya, Renjun terlihat kacau. Rambut orange acak-acakkan, jas yang tergeletak di lantai berkapet warna emas bersama tasnya, seolah sengaja dicampakkan begitu saja oleh pemiliknya.
"Astaga, Renjunnie." Minseok menghampiri Renjun yang terduduk di sofa ruang tamu, duduk mendekat Renjun dan memeluknya, "Ada apa sayang? Kenapa menangis, eoh? Apa yang terjadi di sekolah, heum?" Minseok mengusap punggung anaknya pelan berulang.
"Hiks.. hiks.. eomma." Renjun membalas pelukan Minseok, tangisannya semakin keras, "Aigoo, kenapa sayang? Cerita pada eomma? Ada yang jahatin kamu di sekolah?" Renjun menggeleng dalam dekapannya.
"Chenlie menjahili mu?" Renjun menggeleng.
"Jisung memukul mu?" Renjun menggeleng lagi. "Lalu kenapa kamu menangis sayang? Ayo cerita sama eomma? Jangan buat eomma khawatir sayang."
Renjun mendongak menatap Minseok sambil terisak lirih, "Eo..eomma ja..janji tidak akan marah, kalau Njunnie cerita ke eomma?" Melihat itu, Minseok mengangguk mengiyakan, "Iyaa, sayang. Eomma tak akan marah. Sekarang cerita ke eomma ada apa?"
"Emmm, eomma. Ni..nilai ujian Njunnie semua jelek eomma. Njunnie takut eomma marah, lalu eomma tidak menganggap Njunnie anak eomma lagi, lalu membuang Njunnie di jalanan. Hiks.." Renjun dengan pikiran negatifnya menyembunyikan kepalanya lagi dalam dekapan Minseok.
Mendengar itu, Minseok tertawa dalam hati. Tiba-tiba ada niatan untuk menjahili anaknya, "Ehemm." Minseok memasang wajah garangnya, "Renjun, kemasi barang-barangmu sekarang."
"Hiks.. eommaaaa. Jangan usir Njunnie dari rumah. Njunnie tidak mau jadi pengemis di jalanan.. hiks.. hiks.." sambil mengelengkan kepalanya Renjun semakin erat memeluk Minseok.
"Lepaskan Renjun." Minseok tegas.
"Tidak mauuu.." teriak Renjun histeris, Minseok melepaskan pelukan anaknya paksa, "Dengarkan eomma." Sambil terisak Renjun menatap mata Minseok, memasang telinganya mendengarkan segala keputusan eommanya, biarpun eommanya mengusirnya dari rumah Renjun akan tetap menyanyangi dan mencintai Minseok, eommanya. "Nee eommaa," lirih Renjun menggigit bibir bawahnya menahan isakkannya.
"Siapa bilang eomma akan mengusirmu dari rumah ini, sayang?" Minseok mengakhiri sandiwaranya.
"Tapi eomma, Njunnie sudah mengecewakan eomma lagi."
"Iyaa, memang Njunnie sudah berhasil membuat eomma kecewa. Tapi eomma tidak akan mengusirmu dari rumah ini sayang. Berhentilah menonton drama, mana mungkin eomma tega mengusirmu dari rumah seperti drama yang kemarin kamu tonton sayang."
"Tapi eomma yang menonton drama, Njunnie hanya ikut-ikutan." Renjun mengelak sambil mengusap pipinya yang basah karena air mata.
"Aigoo, anak eomma sekarang sudah pandai mengelak yaa."
"Hehehe," cengir Renjun. "Lalu kenapa eomma menyuruh Njunnie untuk membereskan barang-barang Njunnie?" Renjun cemberut.
"Coba tengok di bawah sana, sayang." Minseok memegang kepala Renjun, menolehkan kepalanya ke arah di mana tas dan jas Renjun tergeletak sembarangan di atas karpet. Menyadari maksud eommanya Renjun hanya terkikik pelan, "Mian eomma."
"Sekarang bereskan barangmu, ke kamar dan berganti bajulah, lalu bantu eomma di dapur menyiapkan makan siang kita."
"Baik eomma," mengambil tas dan jasnya Renjun langsung berlari menuju kamarnya di lantai dua.
"Jangan lari-lari, nanti kamu bisa jatuh, sayang."
"Ne eomma," jawab Renjun tetap berlari. "Ckck, dasar bandel." Minseok menggeleng sebentar lalu menuju dapur untuk menyiapkan makan siang untuk dirinya dan Renjun.
..ooo..
"Sudah eomma putuskan, Njunnie. Eomma akan mencarikanmu guru private." Putus Minseok setelah mereka menyantap beberapa sendok makanan yang telah dia masak siang ini di meja makan.
"Ta..ta,-"
"Kali ini Njunnie harus menerima keputusan eomma."
"Hmm, baik eomma, Njunnie turuti permintaan eomma." Dengan kesal Renjun menghabiskan makan siangnya.
"Pelan-pelan makannya, sayang." Minseok tahu Renjun kesal dengan keputusannya kali ini, dia tahu bahwa anaknya malas belajar, tapi kalau dibiarkan terus-menerus Minseok khawatir anaknya tidak naik kelas tahun ini.
"Setelah ini kamu ada jadwal les nyanyi kan?"
"Iyaa, maa. Njunnie sudah buat janji pergi ke tempat les bareng Chenle." Renjun menjawab setelah menghabiskan jus jeruk kesukaannya.
"Bukannya biasanya kalian berangkat selalu bersama-sama, sayang. Kenapa sekarang harus buat janji untuk berangkat bersama?"
"Tak tahu, eomma. Bukan Njunnie yang buat janjinya tapi Chenle, eomma."
Teringat sesuatu Minseok memberita tahu Renjun, "Oh iyaa, eomma lupa, setelah ini eomma ada janji ingin bertemu teman lama eomma, eomma antar kamu dan Chenle ke tempat les yaa, sekalian jalan."
"Nee eomma, Njunnie ke rumah Chenle sekarang, memberi tahunya bahwa aku dan dia tidak usah naik bus ke tempat les, eomma aku pergi sebentar. Eomma tunggu Njunnie." Melihat eomma mengangguk mengijinkan, Renjun langsung mencium pipi Minseok sebentar, lalu pergi melesat ke rumah Chenle.
Minseok beranjak berdiri dan membereskan semua peralatan makan yang mereka berdua gunakan.
..ooo..
Melewati gerbang yang sengaja dibiarkan terbuka oleh pemilik rumah, Renjun memasuki sebuah rumah minimalis yang menjadi tempat tinggal Chenle bersama kedua orang tuanya.
Ting.. Tong..
"Eh, Renjunnie…. Ayo masuk!" Sapa bibi Zhong mengajak Renjun masuk rumah.
"Nee ahjumma, Chenle sudah siap ahjumma?" Renjun sambil mengikuti bibi Zhong menuju ruang tamu.
"Duduklah, Renjunnie. Bentar ahjumma panggilkan Chenle." Bibi Zhong mempersilahkan Renjun duduk.
"Nee." Setelah mendengar jawaban Renjun, bibi Zhong meninggalkan Renjun sendirian di ruang tamu menuju ke kamar anaknya.
"Chenlie, Renjunnie sudah datang, sayang." Renjun mendengar suara bibi Zhong memanggil Chenle samar-samar di telinganya.
Tidak lama setelah itu, Chenle berlari tergesa-gesa menghampirinya.
"Ayo, hyung. Berangkat sekarang."
"Ne kita ke rumahku dulu, Chenle-ya. Karena eomma ingin pergi menemui teman lamanya sekalian mengantar kita ke tempat les." Renjun menjelaskan. Renjun berdiri menghampiri Chenle, "Ayo, kita pergi sekarang."
"Eooommmaaaa….." Teriak Chenle membahana, menggema, memantul di ruang tamunya. Renjun menutup telinganya, dia tidak mau telinganya tiba-tiba tuli hanya gara-gara mendengar teriakkan Chenle. Dirasa sudah hening, Renjun melepaskan tangannya yang menutup kedua telinganya.
"Nnneeeee saaayyaaaaangggg….." Renjun kembali menutup telinganya otomatis setelah mendengar jawaban bibi Zhong. Aigooo telingaakuuu…
"Chenlie… sama Renjun hyungg mauu berangkaat lees nyanyii sekaraang eommaaa." Teriak Chenle lagi. Renjun bisa benar-benar tuli berada di rumah ini lama-lama.
"Haatii-haatii saayaanggg…"
"Neee…" teriakan terakhir Chenle, "Ayo hyung, kita berangkat sekarang."
"Aigooo, Chenle-ya. Kenapa pamitannya harus berteriak-teriak segala? Memang ahjumma berada di mana?" Renjun mengusap-usap kedua telinganya.
"Eomma ada di kamar lagi istirahat."
"Kalau sedang istirahat, kenapa kamu teriak-teriak? Bukankah itu akan mengganggu kegiatan istirahat eommamu yaa?" Renjun penasaran dengan kebiasaan aneh antar ibu dan anak itu.
"Eh, benar juga yaa. Hehehe tapi hyung tenang saja, eomma tidak terganggu kok. Hyung mau tetap di situ atau keluar sekarang?" Chenle memegang handle pintu, menatap di mana Renjun berada.
"Yaa keluarlah." Menyadari Chenle sudah di depan pintu, Renjun mengikuti Chenle keluar rumah yang langsung Chenle tutup pintunya setelah mereka berada di teras rumah. Mereka berjalan berdampingan menuju rumah Renjun.
..ooo..
"Ayo masuk Chenle-ya!" Renjun mengajak Chenle masuk dan menyuruhnya duduk di sofa ruang tamu, "Kamu duduklah dulu aku mau mengambil tasku dan memanggil eomma." Yang hanya diangguki Chenle, "Okay."
Renjun menuju ke lantai dua, ke kamar eomma.
Cklek
"Eomma, Chenle sudah ada di bawah. Eomma sudahsiap?" Renjun setelah memasuki kamar eommanya lalu duduk manis di ranjang kedua orang tuanya menatap Minseok yang sedang berkaca memastikan penampilannya sekali lagi.
"Sudah, ayo kita berangkat sekarang." Minseok meraih tas tangan di meja rias di hadapannya, berjalan menghampiri Renjun.
"Nee." Renjun merangkul lengan kanan Minseok.
Di depan kamar orang tuanya, "Eomma, Njunnie mau mengambil tas dulu." Renjun melepaskan rangkulannya pada lengan Minseok, langsung berlari memasuki kamarnya yang berada di sebelah kiri kamar kedua orang tuanya.
Blaamm
"Ayo kita berangkat eomma." Renjun semangat, saking semangatnya pintu kamarnya ditutup Renjun terlalu keras hingga menimbulkan suara yang menyakitkan di dengar oleh daun pintu kamar Lumin. Maaf sob, aku tidak bisa membantu. Batin daun pintu itu begitu kira-kira setelah melihat temannya yang diperlakukan kejam oleh Renjun –menurut daun pintu itu.
"Astaga sayang, nutupnya pelan-pelan saja. Nanti kalau rusak lagi, appamu tidak mau memperbaikinya." Minseok mengingatkan.
"Upss. Mian eomma." Renjun memasang wajah polosnya.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang." Minseok merangkul anaknya menuntunnya menuruni anak tangga menghampiri Chenle yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Ayo Chenle-ya, kita berangkat." Renjun menepuk pundak Chenle pelan, membuat Chenle langsung memasukkan ponselnya di kantong celananya, "Ne hyung."
Mereka berangkat setelah memasukki mobil sedan putih milik Minseok.
..ooo..
Tempat les menyanyi Renjun terletak tidak jauh dari rumahnya. Naik bus hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di sebuah rumah sederhana yang selalu rame di hari selasa, rabu, dan kamis pada sore hari. Jadwal lesnya memang sore hari, mulai dari 04.00 – 06.00 KST. Tidak lama sih, tapi menurut Renjun itu lama, karena setelah les berakhir, suara Renjun langsung hilang. Jadi, jika kalian mengajak Renjun bicara, sebaiknya jangan mengajaknya bicara setelah dirinya pulang dari jadwal les menyanyinya. Karena Renjun akan berubah jadi pendiam, jadi jangan harap Renjun menanggapi ajakan bicara kalian.
"Sudah sampai." Minseok menghentikan mobilnya di depan rumah tersebut.
"Gomawo eomma, Njunnie keluar sekarang." Renjun melepaskan sabuk pengaman dan mencium pipi kanan Minseok. Chenle yang duduk di belakang juga menyusul Renjun yang telah keluar duluan, "Gomawo ahjumma." Chenle riang.
"Daaahhh eomma, bye bye…" Renjun melambaikan tangannya.
"Chenle, ahjumma titip Renjun yaa." Minseok menurunkan kaca mobilnya.
"Siap ahjumma." Chenle tersenyum lebar menanggapi permintaan Minseok.
"Bye sayang," ucap terakhir Minseok, "Bye eomma/ahjumma…." Renjun dan Chenle bersamaan. Minseok kembali menutup kaca mobilnya dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Ayo hyung, kita masuk sekarang. Aku takut Taeil hyung marah jika kita terlambat lagi." Chenle menyeret tangan Renjun semangat. Renjun hanya pasrah diseret Chenle, dia tahu tragedi yang akan terjadi kalau mereka terlambat lagi. Renjun bergidik membayangkannya.
Mereka langsung masuk ke rumah itu, memilih tempat duduk yang memang disediakan untuk para peserta les. Ruangan ini tidak ada bedanya dengan ruang musik di sekolah mereka. Di depan ada whiteboard untuk menuliskan lirik lagu yang akan mereka pelajari nantinya. Di pojok ruangan terdapat berbagai alat musik seperti piano, biola, dan gitar untuk membantu mereka menyelaraskan nada dengan melodi yang dihasilkan alat musik tersebut. Bedanya, di sekolah mereka peralatannya jauh lebih lengkap dan tempatnya lebih luas, dengan panggung untuk tempat praktek tampil mereka.
"Chenle-ya, sudah hafal lagu yang diberikan Teil hyung kemarin?" Renjun setelah mereka duduk di dekat pintu keluar, alasannya sederhana, agar mereka bisa pulang duluan setelah jam les mereka berakhir.
"Sudah dong, hyung. Hyung belum hafal yaa?" Chenle menaik-turunkan alisnya menggoda Renjun.
"Sedikit sih, tapi tak apalah, nanti hyung nyanyinya sambil baca naskah."
"Ai,-" pembicaraan Chenle terhenti ketika pandangannya ke arah depan menatap Taeil shock. Bukan Taeil yang membuat Chenle shock tapi seseorang di sampingnya yang sedang berbicara entah apa dengannya.
"Hyung.. hyung… yak hyung.." Chenle mengguncanglengan Renjun heboh. "Apaan sih, aku lagi menghafal lagunya, jangan ganggu." Renjun menepis tangan Chenle. Chenle kembali mengguncang lengan Renjun kali ini lebih keras, "Yaak hyung, lihat ke depan." Terpaksa Renjun mengalihkan pandangannya dari naskah liriknya ke depan, "Apaan sih," Renjun shock melihat seseorang yang sedang berbicara dengan Taeil. Bagaimana bisa dia ada di sini? Batin Renjun bertanya-tanya.
"Baiklah, hari ini kita kedatangan anggota baru, Haechan perkenalkan dirimu." Taeil mengawali kelas menyanyinya.
"Lee Haechan imnida, mohon bantuannya." Haechan singkat, tatapan matanya tidak lepas dari Renjun. Haechan menahan tawanya ketika melihat Renjun yang melongo melihat dirinya dengan bibir membentuk huruf O. Uhh, lucunya. Batin Haechan gemas.
"Sudah selesai?" Haechan mengangguk dengan tatapan matanya masih menatap Renjun yang sekarang menatapnya juga. Haechan mengedipkan sebelah matanya ke Renjun.
"Kyaaaaa tampannya.." jerit gadis-gadis yang melihat kedipan Haechan.
Renjun menunduk malu mengetahui Haechan menatapnya. Hei kalian berisik tahu, Haechan berkedip ke arahku bukan ke arah kalian, dasar kalian gadis genit. Batin Renjun kepedean. (Aigoo Renjunnie -_-)
"Tenang-tenang. Haechan duduklah." Taeil menenangkan murid-muridnya. "Ne hyung." Haechan berjalan menuju bangku kosong di sebelah kanan Renjun, karena sebelah kirinya sudah Chenle duduki.
"Hai Renjun, mohon bantuannya." Haechan dengan senyum ramahnya.
"N..ne Hae..Haechan-ssi." Renjun gugup, sumpah dia gugup, karena sudah beberapa hari setelah kejadian dirinya terjatuh dia tidak pernah berbicara dengan Haechan lagi. Rasanya begitu canggung.
Tiba-tiba Chenle membisikkan sesuatu ke telinga Renjun yang tidak terdengar di telinga Haechan. Setelah itu Chenle dan Renjun bertukar tempat duduk, "Hai Haechan sunbaenim, semoga betah di sini." Chenle setelah duduk di tempat yang tadi Renjun duduki. "Ah, ne." Kenapa kau duduk di sini? Lanjut Haechan dalam hati.
"Hari ini aku memberi tahu kalian tentang event pementasan menyanyi yang akan diadakan untuk menghibur anak-anak panti asuhan bulan depan. Kalian akan berduet dalam pementasan itu. Aku telah menyiapkan daftar nama pasangan-pasangan kalian, jadi dengarkan baik-baik, 1. Chenle – Yujin, 2. Haerin – Seulbi, 3. Renjun – Haechan,4. …. "
"Yaaahhhh…" desah beberapa gadis kecewa karena mereka tidak beruntung berpasangan dengan Haechan.
Renjun terdiam mendengar bahwa pasangan duetnya Haechan, perkataan Taeil sudah dia abaikan. Astaga mimpi apa aku semalam?
"Hyung, gwaenchana?" Chenle yang melihat Renjun melamun mencoba bertanya, dia tahu sepupunya pasti shock mendengar dirinya dipasangkan dengan Haechan.
"Bagaimana ini Chenle-ya?" Renjun meminta pendapat.
"Tenang aja hyung, kalau Haechan sunbae berani macam-macam ke hyung, Chenle akan memukulnya, jadi hyung jangan khawatir. Okay?" Chenle membuat Renjun tenang. Renjun mengangguk setelah menghela nafasnya perlahan menenangkan diri.
Haechan mengulum bibirnya menahan teriakan kegirangan karena bisa duet bersama sang pujaan hati. Sebenarnya Haechan ingin salto merayakan kegembiraannya, tapi dia tahan. Mungkin nanti di rumah dia akan salto, lompat-lompat, teriak-teriak tak jelas semalaman di dalam kamarnya.
"Okay, itu daftarnya. Sekarang kalian kumpul dengan pasangan duet kalian masing-masing." Taeil mengakhiri membaca daftar pasangan duet yang telah dia rencanakan semalam.
"Aku akan selalu mengawasimu, jadi jangan khawatir lagi." Chenle mengusap bahu Renjun pelan, lalu meninggalkan Renjun untuk menghampiri pasangannya setelah mendapatkan anggukan setuju dari Renjun.
"Hai Renjunnie." Sapa Haechan setelah dirinya pindah tempat duduk disamping Renjun, menduduki kursi yang ditinggal Chenle.
"Hai juga Haechan-ssi." Renjun membalas sapaannya, Haechan tersenyum lebar mendapati pujaan hati membalas sapaannya.
"Sekarang kita patner Renjunnie, berhentilah memanggilku dengan embel-embel ssi , okay."
"Nee Haechan-ssi, eh Hae..Haechan." Renjun buru-buru mengganti panggilannya saat dia melihat Haechan melototkan(?) mata bulat besarnya.
"Nah, begitukan lebih enak didengar."
"Kalian tentukan lagu yang akan kalian tampilkan, setelah itu beritahukan judulnya padaku." Taeil menyela perkataan yang ingin Haechan bicarakan ke Renjun.
"Neee saemm…" Jawab mereka kompak.
"Jadi, Renjunnie kita menyanyi lagu apa?" Haechan menoleh ke samping menghadap Renjun.
"Mmm, kamu ingin lagu apa? Ballad, hip hop, pop, jazz, rock, atau yang sekarang lagi ngertren. Seperti,"
Oh tuhan ku cinta dia
Ku sayang dia
Rindu dia inginkan dia
"Renjun, kamu nyanyi apa? Aku tak pernah dengar. Lagian itu bahasa Malaysia yaa?" Haechan setelah Renjun berhenti bernyanyi.
"Bukan, itu lagi ngetren di Indonesia, Haechan."
"Ah, lagu Indonesia. Tapi Renjun, kalau kita nyanyi lagu itu, anak-anak panti akan paham artinya?"
"Eeehh, benar juga." Renjun memekik lirih menyadari kebodohannya.
"Hahaha kamu lucu, Renjunnie." Haechan menertawakan tingkah menggemaskan Renjun.
"Ihh, berhenti dong, tawanya." Renjun memukul lengan Haechan lumayan keras berulang, "Dasar dasar dasaaarrr…."
"Aduh, okay, okay. Aku berhenti tertawa." Haechan memegang kedua tangan Renjun menghentikan pukulan brutal Renjun padanya. Haechan menatap dalam mata Renjun, membuat Renjun salah tingkah langsung menarik tangannya dari genggaman Haechan. "Eheemm." Renjun berdeham menghilangkan kegugupannya.
"Jadi, kita menyanyi lagu apa?" Haechan menghilangkan suasana canggung di antara mereka berdua.
"Mmm, apa yaa?" Kedua tangan Renjun menyangga kepalanya di meja dan mengetuk-ketukkan jarinya pelan di pipinya, "EXO?"
"Boleh." Haechan membalas.
"Shinee?"
"Boleh."
"Super Junior, SNSD, Taeyeon, G-Friend, Cosmic Girls, Astro, KNK, EXID, Oh My Girl, Seventeen, NCT, Urban Yakapa, Soyou, Yesung, Baekhyun, Wohyun, Junggigo, Red Velvet, iKON, Big Bang, Up10tion, Tae–,"
"Renjun, sebenernya KITA DUET APA MAU KONSER?" Suara Haechan meningkat satu oktaf.
"Ihh, kamu gimana sih, aku kan hanya memberi saran. Kamu tinggal pilih, mau nyanyi lagunya siapa?" Renjun cemberut mendengar Haechan marah.
"Aigoo, bukan maksudku marah Renjunnie. Maaf, maafkan aku." Haechan menyadari kesalahannya. Bodoh, bodoh, bodoh, bagaimana kamu bisa marah di hadapan gebetan. Dasar Haechan bodoh. Rutuk Haechan dalam hati.
"Uhh." Renjun menolehkan kepalanya ke samping asal tidak melihat wajah Haechan, dirinya kesal dengan kelakuan Haechan tadi. Dia seharusnya juga turut menyumbang saran, bukannya menyerahkan semua ke Renjun.
"Renjun, ayo dong. Jangan marah, nanti aku traktir es krim deh. Yaa? Jangan marah lagi…" Haechan membujuknya.
"Tidak mau." Balas Renjun cepat.
"Permen kapas?"
"Tidak mau."
"Moomin?"
"Okay, deal." Renjun menoleh ke arah Haechan secepat kilat, "Belikan aku boneka Moomin yang sebesar inii." Renjun merentangkan tangan ke atas lalu ke bawah menjelaskan ukuran boneka Moomin yang di inginkannya. "Mau kan Haechannie?" Tanpa sadar Renjun mengeluarkan agyeo yang jarang ia tunjunkan kecuali ketika dia di rumah.
Imutnyaaa. "Okay, deal." Haechan menyetujui permintaan Renjun. Asal Renjun senang, ia rela melakukan apapun untuk membuat Renjun merasa senang bersamanya.
"Yeaayyy, Haechan terbaik." Renjun menggenggam tangan Haechan lalu menaik-turun tanda kesepakatan mereka.
"Ehemm, sekarang kita harus cepat-cepat memilih lagu yang akan kita pentaskan bulan depan." Haechan menyembunyikan pipinya yang merona dengan berdeham pelan dan mengalihkan pembicaraan. Terima kasih Tuhan, kau telah mendengarkan doa hambamu ini.
"Gantian dong, kamu yang memberi saran." Renjun melepaskan genggamannya.
"Emmm, kita pilih lagu yang kita sukai saja bagaimana? Kamu suka lagu apa?"
"EXO Miracle In Desember, aku suka banget lagu itu. Kita pilih itu saja, bagaimana?"
"Baiklah, aku bilang ke Taeil hyung dulu."
"Neee, jangan lama-lama." Renjun membalas perkataan Haechan. Mendengarnya Haechan hanya mengangkat tangan kanannya membentuk gesture oke.
..ooo..
"Pertemuan kita hari ini kita akhiri, kita teruskan latihannya besok saja." Taeil mengakhiri sesi pertemuan kali ini.
"Neee saem…" ucap anak-anak ajarnya serempak.
"Ayo hyung, kita pulang sekarang." Ajak Chenle setelah dia selesai membicarakan sesuatu pada patner duetnya.
"Ayo, aku sudah lapar." Renjun beranjak dari tempat duduknya, memakai tas ranselnya dan berjalan menggandeng tangan Chenle menariknya keluar dari rumah Taeil.
Tiba-tiba saja tangan Renjun yang satunya ditarik seseorang. Siapa lagi kalau bukan Haechan pelakunya, "Hari ini Renjun aku antar pulang. Chenle kamu hubungi Jisung saja, suruh dia untuk menjemputmu. Bye Chenle, selamat bersenang-senang." Tanpa mendengarkan penolakan Chenle, Haechan langsung berlalu membawa Renjun ke mobil di parkiran, "Masuk Renjun!" suruh Haechan setelah membukaan pintu mobil untuk Renjun.
"Ta..tapi, Chenle."
"Dia akan di jemput Jisung." Haechan mengangkat Renjun lalu mendudukannya di jok mobil samping pengemudi, "Kyaaa…" Renjun reflek mengalungkan kedua tangannya di leher Haechan. Setelah selesai memasang sabuk pengaman pada Renjun, Haechan menutup pintu mobil dan berlari ke pintu mobil satunya, membukanya, masuk dan langsung menjalankan mobilnya meninggalkan rumah tempat mereka les menyanyi.
"Ini namanya pemaksaan." Kata Renjun setelah Haechan menjalankan mobilnya sambil bersedekap dan mengerucutkan(?) bibirnya cemberut.
"Kalau tidak dipaksa kamu tidak mau pulang bareng aku, Renjunnie."
"Tapi kan, aku maunya pulang bareng Chenle."
"Sekali-kali kamu biarkan Chenle pulang dijemput pacarnya Renjunnie."
"Tahu ah, susah bicara sama kamu."
"Mau langsung pulang, atau kita mampir dulu?"
"Pulang."Jawab Renjun judes. Dia masih kesal dengan Haechan.
"Baiklah. Sekarang kita langsung pulang."
Dalam perjalanan mereka menuju rumah Renjun hanya ada keheningan yang tak berarti. Hah maksudnya? Entahlah aku juga bingung menjelaskannya. Pokoknya di dalam mobil mereka hanya berdiam-diaman. Renjun diam karena dia masih ngambek plus dia malas bicara karena kalian ingatkan Renjun habis selesai mengikuti kegiatan lesnya hari ini. Mangkanya Renjun malas bicara. Sedangkan Haechan diam karena tidak ingin membuat Renjun tambah ngambek.
"Sudah sampai." Perkataan Haechan langsung di sambut Renjun dengan membuka pintu mobil, "Terima kasih tumpangannya," lalu menutup pintunya keras.
Braakk
"Astaga, dia masih ngambek ternyata." Haechan mengelus-elus dadanya kaget mendengar suara pintu mobilnya yang ditutup Renjun keras. Melihat Renjun yang sudah masuk rumahnya, Haechan melanjutkan perjalanannya menuju rumah, kali ini rumahnya dan kedua orang tuanya.
Renjun berjalan tergesa menuju pintu rumahnya, membuka dan, "Eomma aku pulaaang…"
Setelah menutup pintu, Renjun berbalik, "EHH KENAPA KAU BISA ADA DI RUMAHH KUU…" teriak Renjun kaget melihat seseorang.
Siapakah seseorang itu?
..ooo..
.
.
TBC
Obrolan Tak Penting:
Hai hai, aku datang bawa Chap 3. Akhirnya selesai juga ngetiknya.. sebenernya ide mengalir lancar hanya saja, aku masih kecanduan main game, jadi ketunda-tunda deh ngetiknya. (Katanya banyak tugas, mau uts kok masih sempet-sempetnya main game?) habisnya gamenya seru sihh, sayang kalo terlewat. Emang kalo aku kecanduan sama game tuh, kalo gg ada kerjaan biasanya seharian aku di depan komputer mainin tuhh game, biasanya juga aku mainnya setelah blajar dan ngerjain tugas. Kadang sampai begadang mainnya. Eh, kok jadi ngomongin game yaaa.. maapkeun dakuhh karna jadi curcol.
Okay, balik ke tkp..
Gimana nihh pendapat kalian tentang chap ini? Moga aja kalian dapet feelnya… aku tuh mikirin scene ini berhari-hari, karna apa scene nya tuh nyebelin banget, masak kemana-mana panggah scene ini yang muncul di pikiranku, dijalan, saat makan, mandi, bersih-bersih rumah, dikampus, bahkan saat pelajaran kalkulus aku sempet2nya kepikiran tuh scene, ngeselin kan..
Udahlah aku kebanyakkan curhat..
Balesan Review Kemarin:
realloveexo: Iyaa ortu Njun Lumin, kan mereka jadi keluarga serasihhh, sama-sama berbintang aries. Aura pendek, emang pendek. Kuakui aku gg bisa buat cerita panjang nat.. Ya udah, kalo gg bisa bayangin Jisung nyetir mobil gg usah kamu bayangin. Iya, tunggu aja setelah pekan2 uts berakhir aku mau spaamm ff. entah oneshoot, chapter, remake akan aku post setelah uts. Jangan bosen nunggunya..
nrlyukkeuri96: AHHH SUMPAH KAKAK KEMBAR KUHH MAKACIHH… iyaa, kak adegan salim2an kan udah aku tulis tuh, waktu diperjalanan berangkat ke kampus tuhh aku kepikiran 'emang di korea sama kaya disini saliman saat berangkat ke sekolah?' mangkanya aku tanya kakak and minta saran, makasih sarannya sangat membantu. Iyaa nihh, renjun manja banget. Mungkin karena sering ku manja kali yaa.. iyaa kuputuskan Lumin ortu Njun, kn mereka serasi kak, sama2 bintangnya aries. Typo emang banyak kak di chap kemarin, karena selesai ngetik langsung ku post udah tengah malem, jadi males ngedit. Kakak kejem banget sih ngatain anakku titisan kunti, kalo anakku titisan kunti masak aku k*nti, ihh kakak ihh… Muahh juga,, jenonya udah aku terima kak.. love you too…
Mastaxxx: oh gituhh alesanmu ganti penname kryss. Okay, jadi tambah keren pennamemu. Yaa nihh f4 dah mulai bersaing, pasti Njun bingung nanti. Hahaha.. aku suka Njun kebingungan.. Makasih Kryss, udah Review.. Nih dah aku lanjut..
Jeon Wonnie: Iyaa, strategi perang, ehh, bukan strategi ehmm apa yaa? Rahasia.. hihihi, aku gg mau rahasia ini bocor ke kamu. Mungkin nanti renjun terima mereka semua, lumayanlah buat koleksi pajangan di rumah. Ehh, bercanda deng…
pacarnyaHaechan: karena UN dah berlalu, baca chap ini gg ganggu blajar kamu kan.. kan mark memang leadernya. Tuh kan kamu juga ngrasain, waktu nulis adegan di rumah aku memang merasa aneh, kayak ada yg ganjal., tp aku terusin aja.. chap kemarin udah aku revisi kok tata-ya. Moga aja bahasanya jadi mudah dipahami..
JaeminNanana: Jaemin gentle kan di chap kemarin? Kemarin aku nulisnya sambil bayangin kalo aku jadi Renjun, uhhh rasanya dag dig dug jantung ku.. padahal Cuma nulis, coba beneran, uhhh bakal pingsan akunya.. tunggu yaa momen Minren nya, akan aku buat kamu meleleh .. Aaaa nadooo lopelope readernim/heart/calangeyoooo hihihi
JaeEun21: uluhuluh, beb. Kasian bebebku. Sinisini, pukpuk. Jangan sedih yaa beb, suatu saat pasti beb mimpi jadi renjun, co jangan cedihhh.. iyaa beb, nanti aku buat renjun pusing…
wafertango: aku jadi ingin makan kamu/slap/ maksudnya makan wafer.. hihihi.. iyaa dong, jaemin tuhh cocok banget jadi seme, ituhh sihh kalo ama renjun. Jadi hanya berlaku sama Njun. Ma lainnya uhh, aku gg bisa bayangin. Ini dah aku nextt dekk.
BlueBerry Jung: aku memang baik, sama aku juga sayang kamu, readernim.. kamu tunggu momen Minren lainnya yaa.. iyaa nihh Njun gengsinya tinggi banget.. makasih dah suka ma ff gaje ini..
Min Mily: makasih cyin udah suka, sebenernya aku juga paling suka scene Minren di perpus. Lucu2 gimana gituhh…
adaml8770: makasih dah penasaran dekku..
tryss: iyaa nihh, aku kasian Njun kena sial mulu..
Rlyuklla: aku juga pengen direbutin, tapi gg pernah kesampaian.. untuk ending, sebenernya aku belum mikir endingnya Njun ma siapa.. fighting kembali…
zahra9697: aku juga suka allxren, pokok renjun uke.. ini dah aku lanjut..
KimYijoon: udah ku lanjuuuuuuuuuttttttttttt….
marklis247: aku usahain tapi gg janji.. hehehe
kono Ouji sama ga inai: udah aku lanjut.. ! .
vivihaulia: iyaa mereka temenan, ku buat gituhh biar seru aja bersaingnya..
dream'noonachan: ini dah aku lanjut wkwkwkwk.. fighting kembali.. btw, kenapa kamu ganti penname?
chittaphon27: renjun memang memukau, ini dah aku lanjut.. makasih dah mampir di ff gajeku..
OTP END
Terakhir
Review juseeeyooooo
Sign
Minnie
