The spirit who wished to become human

Step 4 - longing;

I don't own Kuroko no Basuke

.

.

.

"Mengapa kau tidak merasakan apapun?!"

Manik dwiwarna mendongak, memandangi sosok laki-laki berambut hitam di hadapannya, dan tanpa peduli mengembalikan pandangannya pada pemandangan mengerikan yang ada di hadapannya.

"Kenapa aku harus merasakan sesuatu?"

"Kau yang terburuk." Suara laki-laki yang seharusnya menjadi familiarnya itu menetes dengan kebencian. "Aku pikir kau orang yang baik—kau hanya seorang monster!"

"Apa menurutmu manusia biasa bisa membawamu dari kematian seperti sekarang?"

Laki-laki berambut hitam—yang sudah ia lupakan namanya sekarang—menggertakkan bibirnya. "Kau—brengsek—menyebalkan—"

Manik heterokrom menutup, mengabaikan suara berderik keras dan tulang-tulang patah dari belakangnya, seolah familiarnya tengah berubah dari wujud manusianya—dan memang itulah yang sedang terjadi. Ketika jiwa seorang manusia yang berubah menjadi familiar—wujud yang menjadi akar bagi manusia—terpengaruh oleh pikiran jahat, maka jiwa itu akan kehilangan kesuciannya, berubah menjadi sekadar roh jahat.

Dan ia telah berulang kali melihatnya—begitu sering hingga ia tidak lagi merasa gentar atau panik melihat mantan familiarnya menggeram padanya dalam bentuk monster yang mengerikan.

Sang monster membuka mulutnya, tidak mengeluarkan kalimat apapun selain geraman. Cairan kental menetes dari taring raksasanya, yang kini mengarah padanya, hendak mencabik-cabiknya.

Ia tidak bergerak sama sekali ketika sang monster menerjang ke arahnya.

Ia tidak menggerakkan satupun otot, namun sang monster terjatuh ke tanah dengan suara bedebum yang keras.

Ia bahkan tidak memandangi wujud terakhir sang monster yang merutukinya sebelum berubah menjadi abu dan menghilang ditelan angin.

Ia tidak mengerti mengapa manusia begitu terikat pada satu sama lain—dan ia memutuskan untuk tidak peduli akan hal itu.

.

.

.

"Kenapa kau tidak merasakan apapun?"

Kouki Furihata masih tidak melepaskannya. Ia merasakan tangan laki-laki berambut cokelat itu di punggungnya, mencengkram kain pakaiannya seolah enggan membiarkannya pergi.

Ia juga tidak bergerak sedikitpun. Untuk suatu alasan, ia tidak dapat menggerakkan satupun ototnya, tenggelam dalam tubuh bergetar seorang Kouki Furihata.

"Kenapa aku harus merasakan sesuatu?"

Ia merasakan tubuh laki-laki di hadapannya menegang, dan saat itu ia menduga dapat melepaskan dirinya sendiri atau laki-laki itu akan mendorongnya menjauh. Dugaannya salah—Kouki Furihata justru menguatkan pegangannya pada bajunya.

"Bukankah ini menyedihkan?"

"Apa yang menyedihkan?"

"Pemandangan ini," Jeda sebentar, seolah tengah berpikir. Laki-laki itu bergetar sekali lagi, lanjutan kalimatnya hampir tidak terdengar di antara isakan, "Dan dirimu yang tidak merasakan apapun."

Keraguan menyesap bersama kalimat laki-laki berambut cokelat itu. "Aku menyedihkan?" Ia mengangkat kepalanya sedikit, mendapati sepasang manik bumi yang tengah memandanginya—penuh kasihan. "Kenapa?"

Kouki Furihata tersenyum tipis, namun tidak mengatakan apapun.

"Katakan, Kouki Furihata." Dekapan berubah menjadi cengkraman. Ia mendorong laki-laki itu menjauh, menatapnya langsung dengan manik dwiwarnanya. "Kenapa aku menyedihkan?"

"Karena kau tidak menyadarinya."

Matanya memicing. "Apa?"

"Betapa menyedihkannya pemandangan ini."

Ia kembali memandangi pemandangan di sebelahnya—pemandangan abu-abu yang tidak lagi menghiburnya. Abu-abu. Tanpa warna. Menyedihkan.

Menyedihkan?

Perlahan laki-laki berambut cokelat itu berdiri, menariknya bersamanya. Ia terlalu sibuk mencari apa yang dilihat oleh laki-laki itu—apa? Apa yang ada di sana?

Apa yang tidak ia miliki?

"Aku ingin tahu."

Saat menoleh pada Kouki Furihata—yang kini mulai menariknya berjalan menjauh—dilihatnya sebuah senyum sedih mengembang di wajahnya.

"Kau sudah tahu." Ujarnya. "Kau hanya melupakannya. Aku yakin itu."

Ia balik menggenggam tangan Kouki Furihata, kini rasa ingin tahu mengambil alih seluruh tubuhnya—seolah menginginkannya mengingat sesuatu yang telah lama ia lupakan.

"Ajarkan aku, Kouki Furihata." Ia mencengkram tangan laki-laki itu, merasa begitu lega saat laki-laki itu menggenggam tangannya balik.

"Ajarkan aku menjadi manusia kembali."

Kala itu adalah pertama kalinya ia melihat senyum Kouki Furihata seperti itu. Dan satu kali melihatnya, betapa ia menginginkan untuk melihatnya terus menerus.