PROTOTYPE OF THE EMPEROR
Original character : Akashi Seijuurou and Kise Ryouta by Fujimaki Tadatoshi
Akihiko Takao, Chiharu Miyuki, Kado Masaru, Yuuki, and Kimiko Miyuki by Kohikaru (Evilyoung)
Original story by Kohikaru (Evilyoung)
PART I
"Hime-sama! Siapa orang ini?" Tanya Kado dengan sangat heboh sambil menunjuk pemuda bersurai hitam yang berdiri di samping tuannya, "Lalu, kenapa ada chobi-hige? Kau ini mau cari mati, ya? Kalau kau ditangkap oleh teman-teman youkai-nya bagaimana, huh? Apa kau tahu, aku hampir kehilangan akal sehatku hanya karena kau menghilang! Akh! Aku benar-benar bisa gila! Setidaknya kau beritahu aku kalau kau mau pergi ke air terjun itu! Apa yang akan terjadi jika kau bertemu dengan orang-orang dari Kerajaan Meiyo? Kalau kau memang ingin mati, mati saja setelah urusanmu denganku selesai!"
"Oi, oi, apa kau tak berlebihan memarahinya?" Tanya Suuhai memberi jeda pada ocehan Kado yang layaknya kereta express bawah tanah. Kedua tangannya dilipat di depan dada. Tatapan matanya tenang. Chobi-hige yang berdiri di belakangnya hanya mengangguk.
Kado menutup kedua matanya. Dia menarik napas dalam dan menghembuskannya. Tampaknya pemuda bersurai putih itu sedang menenangkan dirinya. Sedangkan Miyuki, gadis itu menundukkan kepalanya dalam. Apa gadis itu menangis? Iie, dia tidak melakukannya. Ocehan Kado yang meluap-luap seperti itu sudah sering di dengarnya. Jadi menurutnya, hal itu sudah wajar karena baginya, Kado hanya ingin tugas pemuda itu berjalan dengan baik –melindunginya– bagaimanapun caranya.
Setiap kali Kado menceramahinya, Miyuki hanya terdiam. Karena, jika dia menyahut perkataan Kado di saat dia sedang marah, itu hanya akan membuang waktunya dan amarah Kado tak akan hilang. Lagi pula, Miyuki adalah tipe orang yang lebih suka mendengarkan daripada berbicara.
"Ne Hime-sama." Panggil Kado setelah dirinya sudah tenang. Miyuki mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Kado dengan ekspresi datarnya. Hal itu membuat Kado mencubit kedua pipi tuannya, "Kenapa wajahmu tidak menunjukkan rasa bersalah, huh?"
"Hehehe…" kekeh Miyuki. Kado melepaskan cubitannya. Dia menghela napas panjang.
"Sepertinya ocehanku tak pernah membuatmu merasa bersalah, ya, Hime-sama." Kado menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak juga." Sahut Miyuki cepat, "Lagi pula, aku akan selalu baik-baik saja, Masaru. Kamu terlalu berlebihan." Miyuki menepuk-tepuk bahu kiri pemuda bersurai putih yang berdiri di hadapannya itu.
"Hem hem.. dia begitu agresif." Sambung Suuhai yang menyetujui perkataan Miyuki. Dan lagi-lagi chobi-hige mengangguk.
"Urusai!" kesal Kado pada Suuhai.
Suuhai memperhatikan Kado dari bawah sampai atas. Dia memautkan kedua alisnya sambil memegang dagunya dengan jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya. Tatapan Suuhai masih tenang seperti sebelumnya.
"Heemm.. baru kali ini aku bertemu dengan youkai setengah-setengah begini." Ucap Suuhai yang membuat Masaru dan Miyuki kaget.
"Apa maksudmu dengan youkai setengah-setengah itu?" Tanya Miyuki bingung.
"Maksud dari Suuhai-sama adalah youkai yang memiliki setengah darah youkai dan setengah darah manusia de gozaru. Ini sangat jarang terjadi. Bahkan lebih tepatnya hanya 1 atau 2 youkai yang seperti ini de gozaru." Jelas chobi-hige.
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan makhluk setengah youkai yang menjadi utusan dewa. Apa yang orang tuamu minta ketika kau lahir, kitsune-kun?" tampak seringai tipis di wajah Suuhai. Tatapan pemuda bersurai hitam itu mulai menajam.
Kado mengepalkan kedua tangannya. Di wajahnya tercerminkan perasaan tidak sukanya pada pemuda yang sedang berhadapan dengannya itu.
"Kimi dare?" Tanya Kado yang merendahkan suaranya. Setelah pertanyaan itu dilontarkan, hening pun datang. Tak ada satupun yang angkat bicara. Ketegangan juga menyelimuti mereka. Miyuki yang sedari tadi memerhatikan mereka hanya terdiam.
"Aku, Ryuugamine Suuhai, seorang onmyouji dan juga…" Suuhai melirik pada Miyuki, "seorang prajurit khusus Kerajaan Meiyo."
Kado dengan cepat mengeluarkan katana-nya dan mengayunkannya ke kepala Suuhai. Namun, serangannya itu dapat ditahan oleh pemuda di hadapannya dengan uchigatana. Miyuki terbelalak. Gadis itu membatu. Jantung serta paru-parunya seperti berhenti bekerja untuk beberapa detik setelah mendengar pernyataan Suuhai.
"Chikishou!" seru Kado. Dia memelototi Suuhai. Sedangkan Suuhai hanya menyeringai.
Miyuki melihat ke chobi-hige. Dan chobi-hige juga melihatnya. Tiba-tiba, ekspresi Miyuki kembali datar. Gadis bersurai indigo itu kembali menatap kedua orang pemuda yang masih mempertahankan posisi tangan serta kuda-kuda mereka. Tatapan tajam darinya membuat kedua pemuda itu merasakan kehadirannya dengan aura menyeramkan.
"Bisakah kalian berhenti?" Tanya Miyuki dengan nada yang datar pula.
"Hime-sama!" panggil Kado yang tampaknya pemuda itu tidak suka bila tuannya menyuruhnya berhenti.
"Kado Masaru, ini perintah. Kembalilah ke belakangku." Perintah Miyuki dengan menekankan kata 'perintah' di dalam kalimatnya.
Kado pun dengan berat hati berdiri di belakang Miyuki dengan cepat. Kado dan Suuhai memasukkan pedang mereka ke dalam sarung pedang mereka masing-masing.
"Suuhai-sama" panggil chobi-hige pelan dan dengan nada khawatir.
"Ne Suuhai, apa yang membuatmu datang ke mari?" Tanya Miyuki yang menatap datar si pemuda bersurai hitam itu.
Suuhai membenarkan posisi berdirinya agar berhadapan dengan gadis yang sekarang menjadi lawan bicaranya.
"Aku diberi tugas oleh ousama untuk mencarimu. 'Kau, Ryuugamine Suuhai, dari pasukan khusus Meiyo, Aku memberimu tugas penting. Cari dan bawa putriku, Kamiki Miyuki, kembali ke dalam kerajaan hidup ataupun mati. Jika tidak, aku akan mengucilkanmu di penjara Sado–yang terletak di Pulau Sado–'…" Suuhai berhenti sesaat, "itulah yang dikatakan oleh ousama."
"Kenapa orang itu–"
"Masaru." Panggil Miyuki yang membuat Kado berhenti berbicara.
Kado pun membuang muka. Miyuki tahu, Masaru bukanlah seseorang yang suka omongannya diselak oleh orang lain, walaupun yang menghentikan omongannya adalah tuannya sendiri. Miyuki menghembuskan napas panjang.
"Souka…" ucap Miyuki, "Aku akan kembali ke rumah. Suuhai, ke arah mana kita akan pergi ke Kerajaan Meiyo?"
Sunyi. Tak lama..
"HAH?!" terdengar suara terkejut Kado dan chobi-hige. Suuhai pun memberikan ekspresi tak percayanya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Hime-sama! Apa yang kau pikirkan? Apa kau–" lagi-lagi perkataan Kado terhenti dengan terpaksa.
Miyuki membalikkan tubuhnya, "Masaru, tolong jaga warga desa. Aku ingin orang-orang baik itu tetap hidup damai tanpaku. Oya, jangan mengikutiku! Aku akan membunuhmu bila kau melanggarnya!" ancam Miyuki.
"Hime-sama.."
"Oh, sebelum kita berangkat, lebih baik mengganti pakaian kita dulu. Aku sampai lupa kalau aku basah kuyup." Ucap Miyuki yang berjalan menuju desa yang tak jauh dari tempat mereka berhenti berjalan karena bertemu Kado. Kado, Suuhai dan chobi-hige memerhatikan punggung gadis berjubah kelabu itu.
"Aku tidak menyangka dia akan langsung menjawabnya seperti itu." Komentar Suuhai sebelum akhirnya dia mengikuti langkah Miyuki. Chobi-hige dan Kado pun mengikuti mereka.
x-x-x-x-x-x-x-x-x
Setelah mengganti pakaian, Miyuki dan Suuhai serta chobi-hige keluar dari rumah. Ternyata, Suuhai membawa seekor kuda saat perjalanannya mencari Miyuki. Kuda cokelat yang tampak gagah itu sudah diikat pada sebuah pohon di samping rumah sementara Miyuki dan Kado di desa tersebut.
Ketika ingin pergi, warga desa menangis dan memohon agar Miyuki tidak kembali ke kerajaan dan tetap tinggal di desa mereka. Melihat warga desa yang tidak rela dengan kepergiannya, Miyuki merasa sedih. Dia berkata, "Daijoubu. Kalian adalah orang-orang yang sangat baik. Kalian bahkan tidak ragu membiarkanku tinggal di sini, padahal kalian tidak mengenaliku bahkan tidak tahu kalau aku benar-benar seorang putri. Aku senang karena aku bisa diselamatkan dari bencana oleh kalian. Aku yakin, kalian akan baik-baik saja."
Semua warga desa menjadi terharu mendengar omongan sang putri. Sedangkan Masaru hanya terdiam. Miyuki tersenyum cerah dan melambaikan tangannya pada warga desa. Gadis itu melihat ke pemuda bersurai putih yang sedang berdiri sambil bersender ke sebuah pohon.
"Tolong jaga mereka, ne." pesan Miyuki pada Kado. Kado hanya mengangguk. Setelah itu, Suuhai dan Miyuki menunggangi kuda cokelat yang sudah tak diikat itu. Mereka pun pergi.
"Kitsune-dono, apakah Anda yakin membiarkan ouhime-sama kembali ke Kerajaan Meiyo?" Tanya chobi-hige yang berdiri di samping Kado setelah warga desa kembali ke aktivitas mereka masing-masing walaupun dengan wajah yang masih sedih.
"Biarkan saja dia." Jawab Kado sambil berjalan memasuki rumah yang menjadi tempat tinggalnya dan Miyuki selama 2 minggu itu. Chobi-hige mengikutinya tanpa berbicara apapun.
Namun, tampaknya chobi-hige merasa iba pada Kado yang ditinggal oleh tuannya. Dia pun bertanya banyak hal pada Kado. Dan Kado pun menjawab semua pertanyaan chobi-hige walaupun singkat.
Hari mulai gelap. Tak disangka waktu begitu cepat berlalu. Di perjalanan, Suuhai bertanya pada Miyuki yang duduk di belakangnya.
"Apa kita harus berhenti sekarang, ouhime-sama?" Tanya Suuhai.
"Iie. Lanjutkan saja perjalanannya." Butuh beberapa detik untuk mendengar jawaban Miyuki tersebut. Suuhai pun melanjutkan perjalanan sesuai dengan perkataan Miyuki.
Saat itu, Suuhai merasa kalau Miyuki tidak memiliki niat untuk kembali ke Kerajaan Meiyo. Tidak seperti orang yang ditemuinya ketika di air terjun tadi pagi, gadis bersurai biru keunguan itu terlihat lebih pendiam. Bahkan Suuhai menjadi tidak enak karena mengatakan apa yang ditugas oleh ayah Miyuki padanya.
"Ouhime-sama, daijoubu?" Tanya Suuhai.
"Hai, daijoubu." Sahut Miyuki pelan.
Suuhai diam lagi. Dia sedang berpikir topik pembicaraan yang bagaimana yang harus diucapkan olehnya. Namun, usahanya berakhir karena Miyuki bertanya padanya.
"Suuhai, apa kau sering bertemu dengan Nee-sama?" Tanya Miyuki.
"Iie. Aku hanya bertemu dengannya beberapa kali saja. Doushita no, Ouhime-sama?" Tanya Suuhai balik.
"Menurutmu, Nee-sama orang yang seperti apa?" Tanya Miyuki lagi.
"Yuuki-hime-sama?" Suuhai kembali berpikir sambil membayangkan si gadis cantik bersurai cokelat panjang, "Menurutku, Yuuki-hime-sama orang yang sangat cantik. Aku tidak tahu apakah dia itu malaikat yang turun ke Bumi atau siapa. Yang pasti dia sangat-sangat cantik."
"Aku setuju dengan itu." Sahut Miyuki, "lalu?"
"Hem… dia juga orang yang lembut dan disayangi oleh semua orang." Lanjut Suuhai.
"Nee-sama adalah orang yang paling aku sayangi." Ujar Miyuki, "Lalu?"
"Aku tidak tahu lagi. Aku bahkan tidak pernah berbicara dengannya." Sambung Suuhai, "Omong-omong Ouhime-sama, apa Ouhime-sama sudah mendengar berita tentang rencana perjodohan Yuuki-hime-sama dengan Ken-wakaimasutaa?"
"Aku sudah membayangkan hal seperti itu akan terjadi, Suuhai." Jawab Miyuki.
"Eh?"
"Aku pernah membayangkan perjodohan Nee-sama dengan Ken-kun ketika aku masih kecil. Dan beberapa hari yang lalu, ada memberitahuku bahwa hal itu akan terjadi." Jelas Miyuki.
"Bolehkah aku tahu siapa orang yang memberitahumu?"
"Para leluhur dan Kami-sama yang memberitahuku."
Suuhai terdiam. Miyuki mengerti kenapa pemuda di depannya tak menyahut jawabannya. Dia hanya tertawa dan berkata, "Aku rasa kamu tidak akan percaya dengan omonganku tadi, Suuhai."
"Iie. Aku percaya omonganmu, Ouhime-sama." Bantah Suuhai dengan tegas.
Sekarang, Miyuki yang terdiam. Dia tidak tahu kalau Suuhai akan membantahnya. Namun, tak lama dia tersenyum. Ada seseorang yang membisikkan sesuatu di telinganya yang membuat dia yakin bahwa Suuhai tidak berbohong dengan omongannya.
"Arigatou, Suuhai."
Suuhai terdiam. Sebenarnya, dia sudah lama mengetahui tentang kekuatan Miyuki yang mampu berbicara dengan para leluhur. Bahkan dia percaya kalau gadis itu juga dapat berbicara dengan Kami-sama. Walaupun banyak anggota kerajaan yang tak mempercayainya.
"Suuhai, apa kau tahu lambang pribadi Nee-sama?" Tanya Miyuki tiba-tiba.
"Hem? Iie, aku tak thu tentang itu." Jawab Suuhai.
"Nee-sama memiliki lambang pribadi berbentuk bunga Aster." Kata Miyuki.
"Aster? Bukankah itu cocok dengannya? Bunga Aster mengartikan tentang cinta, keindahan, kecantikan, kesabaran, dan juga kesetiaan." Jelas Suuhai.
"Sou desu ka." Sahut Miyuki. Mendengar sahutan Miyuki, Suuhai merasa ada yang mengganjal. Tapi dia tidak tahu apa yang membuatnya merasa demikian.
Di dalam Kerajaan Kenryoku
"Seharusnya Seijuurou-sama tidur sekarang. Bukankah besok Seijuurou-sama akan pergi pagi-pagi sekali?" ucap Akihiko yang duduk bersender di ujung ruangan.
"Souka. Aku akan tidur sekarang. Bisakah kau meninggalkanku sendiri, Akihiko?" kata Seijuurou yang bangkit dari duduknya dan mendekati futon yang telah disiapkan oleh beberapa pelayan yang biasa menyiapkan kebutuhan Seijuurou tiap harinya.
"Sesuai dengan permintaan, Seijuurou-sama." Sahut Akihiko.
Ketika Seijuurou sudah menyelimuti dirinya, Akihiko berdiri dan berkata, "Sepertinya besok sudah akan dimulai."
"Kau benar." Setelah mendengar ucapan Seijuurou, Akihiko pun menghilang.
Di dalam Kerajaan Meiyo
"Wakaimasutaa, apa tidak apa-apa setiap hari ke sini hanya untuk menunggu Ryuugamine-kun? Lebih baik waka kembali ke kamar dan beristirahat. Jika Ryuugamine-kun sudah kembali, Saya akan memberitahu waka." Saran Arata yang berdiri menghentikan langkah Kise yang baru saja ingin ke pos pintu masuk.
"Aratacchi, kau tidak tahu betapa aku mencemaskan Ryuugaminecchi? Dia itu sahabatku sejak kecil –ssu." Kata Ryouta yang mengisyaratkan dia menolak saran dari pengawalnya itu.
"Aku mengerti ucapanmu, waka. Tapi ini sudah larut malam! Waka bisa habis dimarahi oleh Ousama!" seru Arata.
"Huuh, yang harus kulakukan hanya tidak ketahuan oleh Oji-sama." Sahut Ryouta dengan enteng.
"Akhh! Kapan kau berubah menjadi lebih dewasa, wakaimasutaa?" Tanya Arata kesal.
"Hey ayolah Aratacchi, kau harus bisa lebih santai. Jika kau serius terus, wajahmu akan cepat terlihat tua-ssu." Ryouta menepuk kedua bau Arata dan tersenyum kekanakan.
"Cih.." Arata berdecih.
Dari kejauhan, terdengar suara langkah kuda yang berlari dengan cepat. Tiba-tiba saja, suara yang kian mendekat itu menghilang. Tak lama kemudian, pintu masuk Kerajaan Meiyo pun terbuka. Ryouta dan Arata yang ada tepat di samping pintu masuk penasaran siapa yang memasuki kerajaan di tengah malam seperti ini.
Ketika seekor kuda berjalan masuk, muncullah 4 orang yang juga berjalan masuk. Saat itu pula, kedua manik kuning cerah itu tak lepas dari sesosok berjubah putih yang ada di antara ketiga orang berpakaian prajurit. Lalu, salah satu prajurit itu berjalan di samping sosok berjubah putih. Tidak salah lagi, itu adalah Ryuugamine. Itulah yang dipikirkan Ryouta saat melihatnya.
Lalu, dua orang prajurit lainnya berlari dan menemui prajurit lain yang sedang berjaga di posnya masing-masing. Ryouta menghentikan salah satu prajurit tersebut.
"Ada apa? Kenapa kalian sibuk sekali?" Tanya Ryouta penasaran.
"Wakaihime-sama sudah kembali, wakaimasutaa! Ousama dan anggota kerajaan yang lain harus tahu hal ini!" seru prajurit tersebut dengan tergesa-gesa, "sumimasen, waka, Saya harus kembali memberitahu pada yang lain."
"Oh hai." Sahut Ryouta singkat. Lalu, prajurit itu pun pergi. Ryouta membatu. Tiba-tiba saja dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Arata yang masih ada di dekatnya hanya menatapnya bingung.
Suuhai berjalan bersama Miyuki di lorong istana Kerajaan Meiyo. Miyuki memerhatikan para prajurit yang berlari kesana-kemari setelah dia dan Suuhai sampai kembali di Kerajaan Meiyo. Suhhai melihat wajah gadis yang kini berjalan cukup cepat hingga dia berada di belakangnya. Tampaknya Miyuki tidak begitu senang telah kembali ke rumah mewahnya ini.
"Ouhime-sama!" panggil seseorang yang sedang berlari mendekati Miyuki dan Suuhai. Seorang pemuda berusia sekitar 20 tahunan yang memiliki warna rambut yang sama dengan Miyuki memeluk gadis itu dengan erat dan penuh kehangatan.
"Makoto-nii-sama…" gumam Miyuki.
"Yokatta, kamu baik-baik saja, Ouhime-sama! Aku sangat mengkhawatirkanmu!" kata-kata yang terucap oleh pemuda yang dipanggil Makoto itu begitu menyesakkan bagi Miyuki. Makoto melepaskan pelukannya dan menyentuh kedua bahu Miyuki. Dia menatap kedua mata Miyuki hangat, "Ouhime-sama, tidak ada yang menyakitimu, melukaimu, berbuat jahat padamu selama beberapa minggu ini, kan? Apa yang Ouhime-sama inginkan saat ini? Ouhime-sama lapar? Atau ingin tidur?"
Suuhai melihat dengan mata kepalanya sendiri, cairan bening mengalir di kedua pipi gadis yang sedang berbicara dengan pemimpin pasukan khusus Meiyo itu. Lalu, Miyuki memeluk erat Makoto sambil menangis. Suuhai tahu, sejak kecil Makoto sangat dekat dengan Miyuki. Bahkan wajah mereka mirip. Itulah mengapa, Suuhai tidak heran kalau Miyuki akan menangis tersedu-sedu ketika bersama Makoto.
Makoto tersenyum hangat. Dielusnya kepala Miyuki lembut. Dan dibalasnya pula pelukan Miyuki.
"Daijoubu. Sekarang kamu aman." Ucap Makoto pelan.
Tak lama kemudian, Ousama dan Yuuki datang. Ousama terlihat begitu bahagia ketika mendapati putri bungsunya telah kembali.
"Miyuki.." panggil Ousama, Hiyasu, dengan lembut. Miyuki dan Makoto menoleh ke arah asal suara tersebut.
Miyuki pun melepaskan pelukannya pada Makoto. Gadis itu berdiri di hadapan ayahnya. Dia pun membungkuk dalam, "Sumimasen desuta, Otou-sama. Sumimasen! Miyuki sudah sangat merepotkan Otou-sama dan yang lainnya. Miyuki benar-benar tidak berguna. Sumimasen!"
Hiyasu yang mendengar pernyataan maaf dari sang anak merasa heran. Kenapa seorang Hime mengatakan hal itu? Padahal, yang salah bukanlah dia. Namun, Hiyasu juga merasa bangga, Miyuki dapat menyatakan maaf dengan sangat tegas dan penuh penyesalan.
"Miyuki, angkat kepalamu, nak." Pinta Hiyasu dengan suara yang bergetar. Miyuki pun menegakkan tubuhnya. Lalu, dia dipeluk oleh otou-sama-nya.
Suuhai yang sedari tadi diam saja hanya memerhatikan sebuah keluarga kecil yang berkumpul kembali.
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
Keesokan harinya, diadakan pesta kembalinya Miyuki ke Kerajaan Meiyo, bersamaan dengan pertemuan raja dari empat kerajaan besar. Yaa, walaupun pesta tersebut hanya untuk keluarga Meiyo saja. Karena masyarakat tidak pernah bertemu dan berbincang dengan Miyuki, bahkan banyak yang tida tahu, jadi tidak diadakan pesta besar.
Namun, ketika pestanya akan dimulai, Miyuki menghilang. para pelayannya kebingungan. Padahal Miyuki bilang dia mau ke kamar kecil. Lalu, para pelayan pun mencari Miyuki.
"Wakaihime-sama, kenapa kita mengumpat? Bukankah sebentar lagi pesta akan dimulai?" Tanya sebuah youkai berbentuk nattou.
"Sstt! Diamlah Nattou-kazou!" seru Miyuki yang duduk menyender pada salah satu daun pintu geser tempat penyimpanan barang lama miliknya. Ruangan itu cukup bersih dan rapi serta jarang dibuka oleh orang lain.
"Wakaihime tidak merasa kasihan pada para pelayan wakaihime? Sepertinya mereka sangat mengkhawatirkanmu." Ucap nattou-kazou.
"Bukannya begitu. Hanya saja, aku tidak suka dengan pakaian yang akan ku pakai. Terlalu susah dikenakan dan warnanya tidak cocok denganku." Sahut Miyuki.
"Kenapa Wakaihime belum saja berubah? Pakai saja pakaian itu dan nikmati pestanya." Kata nattou-kazou.
"Nattou-kazou, kau membuatnya tampak mudah! Padahal tidak! Kau harus–"
ZRAK!
Tiba-tiba saja, seseorang membuka pintu geser yang tidak di sender oleh Miyuki. Orang tersebut juga menggenggam pergelangan tangan kiri Miyuki dengan cepat. Miyuki dan nattou-kazou yang terkejut pun membeku. Miyuki melihat tangan yang memegang tangannya itu. Hitam, merah, emas… orang ini! Batin Miyuki yang juga ikut terkejut.
"Ne, apa yang dilakukan Ouhime-sama di tempat seperti ini? Apa ingin mencuri barang orang lain?" Tanya orang itu tepat di telinga kiri Miyuki dengan pelan. Lalu, dia menarik tangan kiri Miyuki sampai gadis itu membalikkan tubuhnya dengan paksa.
"Okaeri, Ouhime-sama." Salamnya dengan seringai di bibirnya.
"Kh…" Miyuki tampak tidak suka dengan orang yang ada di hadapannya.
"Ne, apa benar pertanyaanku tadi, Ouhime-sama?" Tanya orang itu lagi.
"Chigau! Aku tidak akan melakukannya!" bantah Miyuki sambil menarik tangannya dari genggaman orang itu.
"Oh, sumimasen. Sepertinya aku sudah berperasangka buruk padamu." Ucapnya. Lalu, dia mendekati Miyuki, "Tapi, ini waktu yang pas. Aku ingin bicara denganmu, Miyuki."
Pekarangan istana Kerajaan Meiyo, tempat yang paling indah di istana. Tempat tersebut juga adalah tempat favorit Ousama. Di dekat sana, ada meja dan dua kursi yang saling berhadapan. Di sanalah Miyuki dengan orang yang mengagetkannya itu duduk.
"Sepertinya kau mulai tidak senang jika bertemu denganku, ne?" Tanya pemuda bersurai crimson dangan tenang.
"Apa maumu?" Tanya Miyuki cepat.
"Hee… Kau benar-benar berubah, wakahime-sama. Apa ini pengaruh teman-teman youkaimu?" ungkap Seijuurou.
"Ini tidak ada hubungannya dengan youkai. Lagi pula, aku tidak berubah." Jawab Miyuki.
"Lalu, kenapa sekarang kau berteman dengan youkai? Bukankah kau sangat membenci mereka?"
Miyuki terdiam. Nattou-kuzou yang berdiri di samping kaki kanan Miyuki juga ikut terdiam. Beberapa saat kemudian, Miyuki bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.
"Aku belum selesai berbicara denganmu, Miyuki." Kata Seijuurou.
Miyuki pun berhenti melangkah. Nattou-kuzou yang mengikutinya juga ikut berhenti. Youkai itu membelikkan tubuhnya. Seijuurou berdiri dan mendekati gadis yang memakai kimono berwarna biru langitu itu.
"Kau sudah mendapat kabar kalau pertarungan perebutan gelar Kaisar akan dimulai?" Seijuurou masih melangkah mendekati Miyuki, "Bagaimana jika kau bergabung denganku?"
Miyuki terkejut mendengarnya. Namun, dia tetap diam dan mendengarkan suara pemuda crimson itu yang semakin lama semakin dekat dengan telinganya.
"Kau tahu, bukan, negeri ini tidak mengizinkan seorang perempuan menjadi Kaisar. Dengan dasar itulah para kontestan yang lain akan menyerangmu terlebih dahulu. Mungkin, mereka sudah bergerak mulai malam tadi. Jika mereka menyerangmu secara bersamaan, kau tidak akan menang. Apalagi pengawalmu itu tidak ada di sini. Apa kau mau menyia-nyiakan hidupmu hanya untuk mati begitu saja?"
Miyuki terus menyimak omongan Seijuurou. Sejujurnya, hati gadis bersurai biru keunguan itu bimbang. Memang benar Kado tak bersamanya saat ini dan pasti dia bisa kalah dengan beberapa serangan saja. Namun, dia tidak mau menyerah dan dia akan terus maju selama pertarungan tanpa bergabung dengan Seijuurou atau kontestan lain.
"Iie. Aku menolak tawaranmu." Ucap Miyuki yang terdengar ragu.
"Apa kau yakin?" Tanya Seijuurou dengan berbisik.
"Berhentilah menggangguku, Seijuurou!" kesal Miyuki sambil membalikkan tubuhnya. Namun wajahnya tetap memperlihatkan betapa bingungnya dia.
Kedua tangan Seijuurou meraih wajah gadis di hadapannya. Sedangkan kedua tangan Miyuki menggenggam pergelangan tangan Seijuurou. Kening mereka saling bertemu. Bahkan hembusan napas keduanya saling menerpa wajah mereka.
"Apa yang terjadi padamu selama 10 tahun ini? Kenapa kau menjadi lebih sulit dimengerti?" bingung Seijuurou. Manik crimsonnya mengintimidasi manik biru keunguan itu.
"Yang sulit dimengerti itu adalah kau." Bantah Miyuki, "Dari dulu sampai sekarang, aku tidak pernah mengerti tentangmu. Bahkan aku tidak tahu sebenarnya kamu ini siapa."
"Miyuki." Panggil Seijuurou.
"Sumimasen, wakaimasutaa. Bisakah kau melepaskanku? Seharusnya kamu tidak boleh melakukan hal ini padaku yang notabene adalah adik dari calon tunanganmu. Jika yang lain tahu, kita akan diberi hukuman." Ucap Miyuki sambil mencoba melepaskan diri.
Tiba-tiba saja, Seijuurou memeluk Miyuki yang membuat Miyuki kaget. Namun, tangan kanan Seijuurou mengambil anak panah yang hampir saja menusuk kepala Miyuki. Mata Seijuurou pun tertuju pada sang pemanah yang kabur setelah ditatap tajam oleh Seijuurou.
"Memang benar-benar sudah dimulai." Gumam Seijuurou yang terdengar oleh Miyuki. Gadis di pelukannya itu melihat anak panah yang dipegang oleh Seijuurou.
"Panah beracun…" ucap Miyuki setelah mengamati anak panah tersebut.
"Waaaaaaaaaa!" teriak beberapa orang wanita dari dalam istana. Seijuurou pun melepas pelukannya. Dengan sigap Seijuurou menarik tangan kanan Miyuki dan membawanya ke asal teriakan tersebut.
.
.
.
To Be Continue in Part II
