HOHO! Author udah update! Untuk chapter ini author sekeras mungkin berusaha untuk membuat adegan adegan romantis. Tapi emang dasar gak jago, jadinya kayak gini deh...
Oke! Selamat membaca, seperti biasa, jangan salahkan saya kalo romancenya kurang. Soalnya saya spesialis humor.
A/N: Maap kalo gak seru dan lucu. Apalagi romantis. Jangan harap. Saya gak ahli. Jadi saya akan sangat senang bila ada readers yang bilang kalo ini fic kerasa romancenya.
Pairing : Gray F. & Lucy H.
Genre : Romance (Maybe)/Family
Disclaimer : Hiro Mashima
Warning : OOC nomor 1, GaJe, Typo(s), gak romantis, mengandung sedikit perselingkuhan (?), ada OC sebagai anak, bahasa nyampur
Pagi hari di kediaman Gray Fullbuster.
Mata berwarna caramel perlahan terbuka dan menampakan pantulan cahaya yang masuk ke matanya. Titik air kecil di sudut matanya enggan untuk jatuh. Dia adalah Lucy Heartfilia. Istri Natsu Dragneel yang sekarang tidur di rumah Gray Fullbuster.
Setelah meregangkan ototnya, Lucy berjalan ke dapur dengan malas dengan wajah yang masih mengantuk. Ia menuruni tangga dan berjalan ke dapur sambil terhuyung-huyung. Lalu Lucy mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Kemudian ia duduk di kursi dan mulai meneguk airnya.
"Hari ini libur ya... " Gumam Lucy dengan wajah mengantuk.
KLEK
Langkah kaki yang menuruni tangga itu perlahan mendekati Lucy. Dan pemilik langkah kaki itu duduk di sebelah Lucy.
"Baru bangun?" Tanya Gray yang duduk di sebelah Lucy. Lucy yang setengah sadar itu menengok ke arah laki-laki di sebelahnya lalu mengangguk seperti orang kebingungan.
Gray facepalm melihat Lucy yang baru bangun itu. Rambutnya yang berantakan, air mata di sudut matanya yang masih belum jatuh, juga bajunya yang kusut, membuat perempuan bermarga Heartfilia itu terlihat imut. Gray pun berjalan ke dapur dan membuat beberapa tumpuk roti untuk sarapan.
Lucy berjalan ke arah Gray. "Gray, sejak kapan kau ada di sini?" Tanya Lucy yang sudah sepenuhnya sadar. Gray berhenti mengoles rotinya sesaat dan mendengus. Lalu ia mengambil selembar roti dan mengolesnya lagi.
"Sekitar 5 menit yang lalu... " Jawab Gray. Lucy hanya mengangguk-ngangguk sambil mengambil 2 buah gelas. Lalu ia mengambil susu bubuk dan sirup jeruk. Kemudian ia tuang ke masing-masing gelas, lalu ia aduk.
"Hey, kapan kau akan menelpon Natsu?" Tanya Lucy sambil terus mengaduk.
"Untuk apa?" Tanya Gray sambil terus mengoles roti yang sudah entah yang keberapa. Lucy melihat ke arah Gray. "Soal Utsuka yang sakit itu lho... " Kata Lucy memperjelas. Gray hanya mengangguk-ngangguk, "Ooh... ". "Jadi Bagaimana? Kapan kau akan menelponnya?" Tanya Lucy. Gray meletakkan roti-rotinya di atas piring kemudian berjalan menuju meja makan.
"Bukankah ini masih terlalu pagi untuk seorang teman menelpon dan menanyai kabar anaknya?" Gray duduk di kursi dan mulai memakan rotinya. Lucy berjalan ke arah Gray sambil meletakkan 2 gelas susu dan sirup jeruk di atas meja. Lucy melihat ke arah jam dinding yang terpasang di belakang Gray.
"Masih jam 7... kau benar. Natsu bisa curiga kalau kau menelpon sepagi ini... " Kata Lucy. Ia pun duduk di samping Gray dan mulai mengambil setangkap roti.
"Hey, ngomong-ngomong kita ke taman bermainnya kapan? Kalau terlalu siang, bisa ramai." Kata Gray yang sudah selesai memakan rotinya. Lucy berpikir sejenak. Iya tau persis taman bermain. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali Lucy ke sana bersama anak perempuannya.
Karena serius mengobrol, mereka berdua tidak sadar kalau Fuyu dan Yuki sudah bangun dan berjalan ke tempat duduk mereka. "Asiik! Ke taman bermain!" Teriak Yuki.
"Aduh, telingamu tajam sekali... " Kata Gray sambil terkekeh melihat anak bungsunya itu.
"Kapan kita akan pergi?" Tanya Fuyu sambil mengambil setangkap roti untuknya dan untuk adiknya.
"Hari ini... tapi papa masih bingung mau pergi jam berapa..." Jawab Gray sambil menyilangkan jari-jarinya.
Fuyu minum sirup jeruk dan Yuki minum susu. Suasana di ruang makan keluarga Fullbuster itu sunyi karena masing-masing dari mereka memikirkan jam yang tepat untuk pergi ke taman bermain. Fuyu mendelik ke arah Gray dan Lucy yang masing-masing menatap meja. Sedangkan Yuki menatap pantat gelas yang sedang ia gunakan.
"Bagaimana kalau jam 9?" Tanya Gray dan Lucy berbarengan. Fuyu dan Yuki melihat mereka dengan kagum, lalu mereka tersenyum jahil.
"Cie." Ucap Fuyu dan Yuki dengan senyum jahilnya.
"Ah! Kalian ini! Kejadian seperti itu tidak langka tau! Banyak orang yang seperti itu!" Kata Lucy dengan alis bertaut.
"Sudah! Sudah! Ayo kalian cepat habiskan sarapan kalian dan pergi mandi!" Gray pun berjalan ke ruang tamu, meninggalkan Lucy dan anak-anaknya. Lucy pun pergi ke kamar mandi. Yuki mengambil sisa rotinya di atas piring dan memakannya. Kemudian ia berlari ke kamar mandi dan menggedor-gedor pintu kamar mandi. "Mama! Aku mau mandi juga!" Teriaknya. Sedangkan Fuyu mencuci piring dan gelas.
20 menit kemudian.
Di kamar Lucy, Lucy sedang duduk di depan meja rias dan sedang menyisir rambutnya. Tak lama, Yuki berlari masuk ke kamarnya sambil membawa dua buah ikat rambut.
"Mama! Ikatkan rambutku dong!" Ujar Yuki yang langsung melompat ke arah Lucy. Lucy dengan spontan menangkapnya. Yuki bergeser, dan sekarang ia ada di pangkuan Lucy. Yuki menatap dirinya yang ada di depan cermin. Lucy mulai mengambil sisir dan mulai menyisir rambut Yuki yang cuma sampai bahu itu.
Lucy mengambil dua buah ikat rambut yang Yuki bawa, ia mengikat rambut Yuki model twintail dengan rambut belakang yang dibiarkan tergerai. "Sudah selesai!" Kata Lucy sambil menggendong Yuki turun dari pangkuannya. Yuki meraba rambutnya. "Wah! Cantik sekali!" Teriaknya dengan senyum lebar. Kemudian ia berlari keluar sambil tertawa.
Tak lama, Fuyu masuk sambil membawa dua buah ikat rambut dan sisir. Lucy baru saja ingin keluar tapi terhenti saat Fuyu memintanya untuk mengikat rambutnya. Lucy pun menyuruh Fuyu untuk duduk di kursi riasnya dan mulai menyisir rambutnya yang panjang itu. kemudian, Lucy membelah rambut Fuyu menjadi dua bagian dan mulai mengepangnya dengan rapi.
Lucy pun mengambil dompetnya di atas meja rias dan keluar bersama Fuyu. Di bawah Gray dan Yuki sudah menunggu mereka di depan pintu. Yuki melambai-lambai ke arah mereka.
"Ayo pergi!" Kata Yuki.
"Kalian ke mobil dulu. Papa mau nelpon sebentar." Kata Gray. Fuyu dan Yuki pun berjalan menuju mobil yang telah terbuka itu. lalu mereka duduk di kursi barisan belakang.
Rumah Gray bersebelahan dengan rumah Erza. Kebetulan wanita berambut scarlet ini akan bersiap berangkat ke pasar dan melihat mobil Gray yang sepertinya sudah disiapkan untuk pergi. "Gray mau kemana?" Gumam Erza. Namun Erza tidak terlalu perduli dan berlalu begitu saja.
Di dalam rumah, Gray sedang menempelkan gagang telepon ke telinganya. Sudah beberapa detik Gray terdiam.
"Tidak diangkat?" Tanya Lucy khawatir.
Gray pun menutup telepon itu dan mengangguk. "Sudahlah, mungkin dia masih tidur... " Kata Gray sambil menepuk bahu Lucy. Mereka pun berjalan menuju mobil dan pergi ke taman bermain.
Selama perjalanan, di dalam mobil hanya terdengar suara Yuki. Lucy dan Gray fokus pada jalanan dan Fuyu sedang tertidur. Jalanan cukup renggang untuk jam 9 pagi. Dan tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke taman bermain.
Di Magnolia Fantasy World.
Lucy berjalan ke arah 3 orang yang sudah menunggunya. "Ini tiketnya!" Kata Lucy sambil menyodorkan 4 lembar tiket kepada Gray.
"Wah, cepat sekali... " Gray menerima tiket itu dengan kagum. Lucy menyilangkan tangannya. "Karena aku sering ke sini, petugas loketnya udah tau kalau biasanya aku beli 4 tiket." Kata Lucy.
"Yuki! Jalan pelan-pelan!" Teriak Fuyu. Sepertinya anak dari Gray Fullbuster ini jarang di ajak ke taman bermain, makanya laganya kayak orang desa. Lucy dan Gray saling bertatap-tatapan.
"Ayo masuk."
"KYAAA! Kora-kori!" Teriak Yuki.
Sekarang keluarga yang bukan benar-benar keluarga ini sedang duduk dan bersiap dengan wahana pertama mereka, Kora-kori. Sebuah perahu besar yang akan mengayun dan membuat kau merasa isi perutmu keluar semua.
DEG
SWIIIIIIIING
"KYAAAAAAA!"
.
.
.
"Gray? Kau tidak papa?" Tanya Lucy sambil mengelus-elus bahu Gray. Gray menggeleng sambil menempatkan wajahnya di atas tong sampah.
"Naik lagi yuk!" Ajak Yuki.
"UWEEEEEEEEEEK!"
"Kau tidak lihat bagaimana reaksi papa?" Tanya Fuyu. Yuki melihat ke arah Gray.
"Aah! Dia kan sudah tua... jadi gak kuat sama permainan kecil seperti itu... " Kata Yuki sambil mengibaskan kedua tangannya. Teriakan pengunjung terdengar silih berganti. Suara roller coaster, dan rumah han—
"KYAA! LEPASKAN AKUU!" Gray menggendong Yuki di depan loket rumah hantu. Lucy dan Fuyu yang melihat itu sweatdrop. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, tibalah giliran mereka.
"UGYAAA!" Teriak laki-laki yang berperan sebagai hantu. "KYA!" Teriak Yuki yang ada digendongan Gray. Ia mencengkram baju Gray dengan kuat. Gray hanya terkekeh geli melihat anaknya yang ketakutan. Sementara Fuyu memeluk Lucy dengan erat.
"KYAA!" Teriak pengunjung yang lain. Yuki mulai menangis. Gray yang menyadari itu langsung menepuk-nepuk bahunya dengan lembut.
Di samping Fuyu yang sedang memeluk Lucy, boneka hantu yang sangat menyeramkan tiba-tiba muncul di sampingnya. Dia menatap boneka itu dengan tatapan datar, kemudian ia mempererat pelukannya sambil terus menatap boneka seram itu. Dan ini yang dimanakan sebagai takut tapi 'stay cool'.
Di kursi taman di belakang kebun.
"Hiks... hiks... " Yuki masih terus menangis. Padahal sudah 5 menit mereka keluar dari rumah hantu itu.
"Gray, kau keterlaluan!" Kata Lucy sambil mengusap kepala Yuki. Gray hanya tersenyum miris.
"Mau jus?" Tanya Fuyu sambil menyodorkan jus stroberi kemasan yang ia beli di mesin minuman. Yuki menerimanya dan meminumnya. Sesekali ia menarik kembali ingusnya.
"Ya sudah, sebagai permintaan maaf, kita ke taman boneka, bagaimana?" Tanya Gray sambil berjongkok di depan Yuki. Yuki mengangguk kecil.
Mereka berjalan menuju wahana ketiga, Doll Island. Wahana ini dikhususkan untuk anak-anak seperti Yuki dan Fuyu. Terlihat betapa senangnya mereka berdua saat melihat badut yang bergoyang-goyang di depan pintu masuk. Lucy membeli 2 lembar tiket dan memberikannya pada petugas. Di wahana ini, orang tua dilarang masuk dan dimohon untuk mempercayai petugas.
Lucy dan Gray pun duduk di kursi taman yang berada di depan wahana.
"Mereka terlihat senang ya... apa lagi Yuki, setelah menangis ia langsung bisa tersenyum semudah itu... apa itu yang dikatakan moody?" Tanya Lucy sambil menatap anak-anak yang sedang bermain dengan badut di depan pintu masuk wahana itu.
"Mungkin... " Jawab Gray sambil menghabiskan jus stroberi yang tidak sempat dihabiskan Yuki itu. kemudian ia melempar kotak kosong itu ke dalam tong sampah lalu berdiri.
"Waktu main mereka 15 menit, kalau diam di sini terus kita akan terlihat seperti orang bodoh... " Kata Gray sambil menatap langit. Lucy ikut berdiri.
"Mau coba biang lala?" Tanya Gray sambil tersenyum. Lucy berpikir sejenak. Sebelumnya ia tidak pernah naik wahana itu karena Natsu dan kedua anaknya takut ketinggian, dan ia ingin naik biang lala dengan seseorang. Dan sekaranglah kesempatannya!
"Boleh!" Jawab Lucy sambil tersenyum.
Lucy dan Gray telah berada di dalam salah satu tempat di biang lala. Biang lala itu mulai bergerak naik perlahan. Lucy dan Gray duduk bersebrangan. Wajah Lucy tampak lebih putih dan bercahaya karena terpaan sinar matahari. Gray tertegun melihat kecantikan Lucy. Sempat terpikir oleh Gray, kenapa Natsu yang berhasil mendapatkan Lucy? Bukannya dia?
Menyadari dirinya diperhatikan, Lucy tersenyum dan menegur Gray. "Pemandangannya indah ya... " Kata Lucy. Gray tersadar dari lamunannya dan melihat ke arah lain. "Y-ya..." Jawab Gray sambil menopang dagunya. Lucy kembali menikmati pemandangan dari atas. Ini adalah pertama kalinya bagi seorang Lucy Heartfilia untuk melihat kota Magnolia dari atas. Gedung dan rumah terlihat begitu kecil, juga mobil-mobil yang berjalan. Orang-orang pun terlihat seperti semut. Diam-diam Gray memperhatikan Lucy.
Lucy adalah gadis yang cantik, dia sempurna dalam segala hal. Bisnis, anak, masak memasak, menjahit, menata sesuatu, semua bisa ia kerjakan dengan rapi. Laki-laki macam apa yang akan menolaknya? Dan laki-laki macam apa yang tidak menginginkannya? Termasuk Gray Fullbuster. Sebenarnya diam-diam ia menyimpan perasaan suka pada Lucy di bangku sekolah dulu. Tapi semua itu ia tutupi karena tau kalau Lucy menyukai Natsu.
Natsu, temannya yang bodoh, tidak mengerti wanita, malas, dan ceroboh. Kenapa Lucy bisa suka padanya? Itulah yang dipikirkan Gray sekarang. Ia kembali melamun.
"Hey! Gray! Kau dengar aku!?" Tanya Lucy setengah berteriak. Gray tersentak kaget dan tersadar dari lamunannya. "A-apa?" Tanya Gray.
"Aku tanya, nanti kita mau makan di mana, dan mau makan apa? Soalnya aku tidak buat makanan sebelum pergi tadi... " Ulang Lucy dengan wajah agak jengkel.
"O-oh... kalau begitu restoran dekat sini saja... " Jawab Gray sambil menggaruk kepalanya. Lucy mendengus kesal, kemudian ia kembali melihat ke samping. Biang lala itu terus bergerak dan sekarang mereka sudah hampir sampai ke bawah.
"Lucy." Panggil Gray. Lucy yang sedang menikmati saat-saat terakhirnya di biang lala itu menengok.
"Apa kau masih marah dengan Natsu?" Tanya Gray. Lucy tertegun. Ia menunduk dan terdiam, sedangka Gray menunggu jawaban dari Lucy.
"Natsu orang yang bodoh... dia ceroboh, malas dan tidak mengerti tentang wanita. Aku sebal dengannya!" Jawab Lucy.
"Lucy, pernahkah terpikirkan olehmu untuk cerai dengan Natsu dan menikah denganku?" Tanya Gray dengan wajah serius. Lucy menatap Gray dengan mata membulat. Detak jantungnya berubah derastis.
"Ada apa ini?" Batin Lucy. Gray terus menatapnya dengan serius. Mulut Lucy terbuka, "Maaf, aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu... " Jawab Lucy.
"Kalau begitu, apa jawabanmu dengan pertanyaanku yang ini... " Kata Gray. Lucy diam mendengarkan, jantungnya masih berdetak kencang.
"Bagaimana kalau kita cerai lalu menikah?" Biang lala yang mereka naiki pun sekarang sudah sempurna berada di bawah. Petugas meminta mereka berdua untuk turun dan bergantian dengan pengunjung lain.
"Waah... apakah sudah 15 menit?" Tanya Gray sambil meregangkan ototnya. Lucy melihat ke arah lain, masih dengan perasaan yang aneh. Gray melihat ke arah Lucy.
"Hey, Lucy. Kau kenapa?" Tanya Gray sambil menepuk Bahu Lucy. Lucy menghadap ke arah Gray, tapi matanya terus mencari sesuatu yang lain untuk dilihat.
"Hey, jangan-jangan kau menganggap serius perkataanku ya? Aku hanya bercanda!" Kata Gray sambil tersenyum. Kemudian ia tertawa lebar.
"HAHAHAHA! Aku tidak percaya kalau kau memikirkan perkataanku!" Gray pahanya dan terus tertawa. Lucy yang merasa sudah dipermainkan segera pergi dengan langkah besar. "H-Hey tunggu!" Teriak Gray sambil berlari menyusul Lucy.
Di depan wahana Doll Island.
"Maaf menunggu lama!" Kata Lucy sambil melambai kepada dua orang anak yang sedang duduk di kursi taman. Dua anak itu berdiri dan menunggu Lucy mendekat.
"Mama kemana aja?! Wahananya udah selesai dari tadi! Cuma 10 menit tau! Aku pikir mama ninggalin aku!" Kata Yuki dengan wajahnya yang kesal. Lucy hanya tertawa dengan senyum miris. "Maaf, tadi aku naik biang lala... " Kata Lucy sambil menggaruk kepalanya. "AAH! Curang!" Teriak Yuki sambil membuang muka.
Pandangan Lucy beralih ke selembar kertas yang sedang dipegang Fuyu. "Fuyu, itu kertas apa?" Tanya Lucy. Fuyu melihat ke arah kertas yang ia pegang, lalu memberikannya kepada Lucy. "Tadi aku pungut di jalan." Kata Fuyu.
"Penginapan 'Natural'. Baru dibuka dan dapat diskon... " Gumam Lucy. "Kita mau nginep?!" Tanya Yuki. "Ah, bukan, aku hanya membaca tulisan di kertas ini... " Jawab Lucy. Tak lama, Gray datang dengan tergesa-gesa. Nafasnya tidak teratur.
"Aduh!... Lucy kau jahat! Aku kan cuma bercanda!" Kata Gray sambil menyeka keringatnya. Lucy tidak mempedulikannya dan langsung mengubah topik.
"Mau menginap?" Tanya Lucy sambil memperlihatkan selembar kertas brosur kepada Gray. Gray membaca brosur itu dengan cepat. "Ya, aku juga merasa bosan seharian di rumah... sesekali menginap itu juga bagus... " Kata Gray.
"YAY! Kita nginep!" Teriak Yuki. Fuyu juga ikut tersenyum.
"Ya udah, kita makan dulu yuk... " Ajak Gray.
Mereka keluar arena taman bermain itu dan beralih ke sebuah restoran keluarga. Restoran itu cukup ramai tapi setidaknya, sebuah cela untuk sebuah mobil berhasil Gray dapatkan dengan bantuan Lucy dan kedua anaknya yang siap siaga mencari tempat parkir.
"Nah, ayo." Lucy dan yang lain pun masuk ke dalam restoran keluarga itu.
Di dalam restoran yang didominasi oleh warna merah itu, terdengar jelas suara teriakkan anak-anak kecil yang sedang berlarian di dalamnya. Makanan yang disediakan di sana juga disesuaikan untuk anak-anak. Gray dan Lucy memilih tempat duduk untuk 4 orang di samping jendela.
Tak lama, pelayan pun datang dan memberikan mereka buku menu.
"Aku omelette!" Kata Yuki sambil menunjuk gambar omelette yang ada di dalam buku menu. "Memangnya kalau makan omelette aja kenyang?" Tanya Gray pada anaknya itu. Yuki berpikir sejenak.
"Omelette! Tapi yang jumbo!" Jawab Yuki riang. "Memangnya kalau makan omelette yang jumbo, bisa habis?" Tanya Gray lagi. Lagi-lagi, Yuki berpikir. Dia melihat ke arah Fuyu yang sedang bermain dengan sumpit yang ada di depannya. "Bagi berdua!" Jawab Yuki sambil menunjuk Fuyu dengan wajah polos. Gray pun mengangguk-ngangguk.
"Baiklah, kalau begitu omelette jumbo satu, jus jeruk 2, jus stroberi 1, dan American Cappucinonya 1." Pesan Lucy pada si Pelayan. Setelah mencatat pesanan Lucy dan mengulangnya, pelayan itu pun pergi.
"Habis makan kita kemana?" Tanya Yuki dengan wajahnya yang riang.
"Pulang. " Jawab Fuyu dengan nada datar, dia masih bermain dengan sumpit yang ada di depannya. Yuki tampak kaget. Mulutnya menganga dan bola matanya membulat. "Masa kita pulang secepat itu?!" Tanyanya.
"Ya, ya. Setelah sampai ke rumah, kita langsung bersiap untuk pergi menginap." Jawab Gray sambil melipat tangannya di atas meja. Fuyu mendelik ke arah Gray.
"Penginapan Natural maksudmu?" Tanya Lucy yang dijawab dengan anggukkan dari Gray. "Memang kau tau tempatnya dimana?" Tanya Lucy lagi.
Gray menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. "Masih di Magnolia kok..." Jawabnya singkat.
"Horee! Kita pergi menginap! Dengar itu nee-chan? Kita tidak akan pulang~" Kata Yuki sambil menjulurkan lidahnya. Fuyu hanya fokus dan kembali bermain dengan sumpitnya dengan wajah cemberut.
Dan sampai pesanan mereka tiba, mereka hanya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
SRUUUUP
"Wah! Akhirnya habis!" Ujar Lucy saat jus stroberi yang ada di gelasnya telah habis tanpa sisa. "Ayo Lucy, kita pulang!" Ajak Gray sudah berdiri. Lucy pun mengambil tasnya dan mulai berjalan.
Karena Yuki adalah anak yang sangat hiperaktif, dia melompat dari kursi dan tidak sengaja mendorong Lucy yang sedang berjalan di belakang Gray.
Lucy secara spontan langsung memeluk Gray dari belakang karena takut terjatuh. Dan seketika itu juga Gray langsung menengok ke belakang. Beberapa pengunjung restoran memperhatikan kedua orang ini. Suara yang lumayan keras yang ditimbulkannya membuat mata para pengunjung tertarik untuk melihatnya. Tapi itu tidak berlangsung lama saat Lucy sudah berdiri ke posisinya yang benar.
Fuyu dan Yuki hanya memperhatikan dua orang dewasa yang sepertinya sedang salah tingkah itu.
Hari sudah sore, dan Gray berjalan menuju mobil mereka. Lucy masih tertunduk malu mengingat kejadian yang menimpanya tadi. Dan sekarang, mereka sudah memasuki mobil.
"Huwaa... aku mengantuk... " Kata Yuki sambil mengucek-ngucek matanya. Fuyu yang duduk di sebelahnya memberinya bantal tanpa berkata apa-apa.
"Kalian berdua tidurlah. Hari ini kalian sudah bergerak terlalu banyak." Kata Lucy sambil menengok ke arah anak-anak itu. mereka berdua pun menutup matanya.
Di dalam perjalanan, Gray dan Lucy tidak berbicara sedikit pun. Mereka hanya melihat kendaraan yang ada di depannya. Lagi pula tidak mungkin Lucy mengajak bicara Gray yang sedang menyetir. Tentu dia butuh konsentrasi. Berbeda dengan Natsu yang selalu memulai pembicaraan saat ia sedang menyetir.
Memang berbeda. Mereka kan orang yang berbeda, ya kan?
Lucy juga memperhatikan cara Gray menangani anak-anaknya. Memang terkesan masa bodo sama seperti Natsu, akan tetapi sikapnya terhadap anak-anaknya telalu dewasa. Tidak seperti Natsu yang bisa menyesuaikan sikapnya di depan anak-anak maupun di depan dirinya.
Sekali lagi, mereka berbeda.
Dan sampai mereka tiba di rumah, Lucy terus melamun memikirkan perbedaan-perbedaan yang ada pada Natsu dan Gray.
"Hey, Lucy." Panggil Gray sambil menepuk bahu Lucy. Lucy tersentak kaget dan tersadar dari lamunannya. "Kita sudah sampai." Lanjut Gray. Lucy hanya menjawab 'oh' kemudian ia membangunkan Fuyu dan Yuki yang masih tertidur pulas.
Di dalam kediaman Gray Fullbuster
Gray menyalakan lampu tengah, Kemudian masuk ke kamar. begitu pun Yuki dan Fuyu. Mereka berdua langsung berlari ke kamar mereka, meninggalkan Lucy yang berdiri sendiri di ruang tengah.
"Hey, apa yang kau lakukan? Kenapa diam saja? Ayo cepat! Kita kan mau pergi menginap! Siapkan bajumu!" Kata Gray yang melongokan kepalanya dari dalam kamar. Lucy pun berjalan ke kamarnya dengan wajah bingung.
Oh, sepertinya dia lupa soal 'paket' yang diterimanya kemarin.
To Be Continued
PRAAANG! #Suara piring pecah
Yoo! Author udah update! Hah? apa? Piring pecah? Ooh... itu piring tetangga.
Oke, ngg... romantis kah chapter ini? Ah udahlah gak usah dijawab. Author udah tau jawabannya kok... Weeeei! Natsu gak mucul ya!? Astaga baru nyadar... Erza cuma muncul segede upil doang XD
Ini chapter panjang kaaaaan? Oke, emang karena author gak nyadar udah ngetik segini banyak...
Oke! Di chapter selanjutnya, Lucy dan Gray akan menginap selama 2 hari di penginapan Natural!
Akhir kata,
Jangan lupa review, dan maaf, kalo alurnya kecepetan (lagi).
