Summary : "Yak, berhenti Park Kyuhyun. Appo" / "…aku sudah tidak sabar untuk melihatnya bernasib sama seperti ayahnya" / "Sudah siap mendengarnya?"/ "Kau memungut orang yang tepat Appa" / "….Kalian hanya memikirkan Eomma kalian, katakan dimana Eomma kami?!" / "…Hyung. Mianhae..jangan pukul Kyu hyung, jebal".
Warning : Typo bertebaran *belum sempet check*, alur kecepetan *mungkin* hehehe
Secret Family 4
..
Semuanya kembali pada hari-hari biasa. Si kembar KyuBum dengan sekolahnya, Jungsoo dan Heechul dengan pekerjaannya, juga Donghae dan Siwon dengan kuliah dan berbagai macam pekerjaannya. Semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing.
1 minggu yang tenang juga bagi KyuBum karena siluet yang mereka rindukan dan membuat mereka takut sekaligus tak menampakkan wujudnya.
..
Ada suatu hal yang membuat Kibum tak beranjak dari tempat duduknya. Kyuhyun dan Changmin bahkan sudah keluar kelas semenjak tadi. Laptop di depannya lah yang menjadi temannya semenjak bel istirahat terdengar. Mata hitamnya menelisik setiap huruf yang terpampang di layar laptop putih kesayangannya. 2 hari yang lalu dia menemukan hal yang mungkin adalah sebuah rahasia besar yang tidak diketahui oleh semua Hyungdeul termasuk Kyuhyun.
"Kau sedang apa?"
Kyuhyun yang baru datang langsung menyodorkan sebungkus roti dan minuman dingin yang diterima dengan senang hati oleh Kibum.
"Tidak ada. Hanya melihat perkembangan pasar", ujar Kibum tanpa mempedulikan ekspresi Kyuhyun.
"Kau tau Bum, otak manusia tidak akan bisa berkembang sempurna jika hanya digunakan untuk melakukan hal-hal yang monoton", Kyuhyun berdiri tepat di depan Kibum dan tanpa mengindahkan sopan santun terhadap Hyungnya, dia menenggak sebotol air mineral yang dibawanya hingga tandas.
"Lain kali kau harus bertanding game denganku dan Changmin", ucap Kyuhyun sambil mendudukkan dirinya dikursi depan Kibum dengan posisi berbalik, sehingga dia kini dapat berhadapan dengan Kibum.
"Tidak, terimakasih", Kibum menutup laptopnya dan memandang kedua mata bulat adiknya.
"Aku bukan anak kecil", Ujar Kibum santai sambil mengunyah roti yang tadi deberikan Kyuhyun.
"Yak, Bum-bum. Jadi kau mengataiku seperti anak kecil eoh?" Kyuhyun yang tak terima segera berdiri dari duduknya sambil berkacak pinggang.
"Aku tak mengatakannya".
"Tapi secara tak langsung kau sudah mengataiku", Kyuhyun masih berkacak pinggang dengan bibir mengerucut lucu. Persis seperti anak kecil.
"Jangan memasang wajah seperti itu. Kau semakin terlihat seperti anak kecil".
"YAK, Bum-bum!", Kyuhyun mengambil buku tebal yang ada di meja Kibum dan hendak memukulkan buku itu di kepala Kibum. Kibum yang melihatnya langsung berlari menjauh melompat di atas kursi di dalam kelas. Kyuhyun yang tidak pandai berlari hanya mampu mengejar Hyungnya dengan menggeser beberapa kursi yang menghalangi jalannya.
"Akh..".
Kibum membalikkan badanya saat mendengar teriakkan Kyuhyun. Adiknya itu tengah jatuh terduduk di samping meja di bagian tengah. Kibum panik tentu saja, apalagi melihat Kyuhyun yang kini tengah mencengkeram dada kirinya seperti menahan sakit.
"Kyu, mianhae. Gwaenchana?"
Kyuhyun masih meringis, menghiraukan pertanyaan Kibum dan terus meremas dada kirinya hingga seragam bagian itu menjadi kusut.
"Kyu, ireona. Mianhae", Kibum semakin panik saat tubuh Kyuhyun melemas dan keringat yang begitu banyak keluar dari pori-pori kulitnya.
"Appo", Kibum mengaduk ketika sebuah tangan. Ah tidak, tulang lipatan jari mendarat dengan keras di atas kepalanya.
"Hahahaha, rasakan itu Bum-bum", Kyuhyun yang hanya berpura-pura langsung menyerang Kibum tanpa ampun.
"Yak, berhenti Park Kyuhyun. Appo".
"Hahahaha", Kyuhyun masih terus menyerang Kibum tanpa peduli dengan teman-teman kelas mereka yang sudah mulai kembali memasuki kelas.
"Ige mwoya?", Ryeowook yang baru masuk kelas dan melihat beberapa kursi bahkan meja yang sudah tak berada ditempatnya tampak kesal. Namun setelah melihat Kibum dan juga Kyuhyun yang tengah asyik dengan dunia mereka membuat bibir Ryeowook justru melengkungkan senyum.
"Hahahaha, aku menang!" Kyuhyun bersorak senang tanpa mempedulikan teman sekelasnya yang tertawa dengan tingkah polos Kyuhyun.
"Kau curang", Kibum berdiri sambil mengusap puncak kepalanya yang masih berdenyut.
"Kau saja yang gampang tertipu. Ah, aku sungguh berbakat menjadi actor hahahaha", Kyuhyun kembali tertawa senang.
"Sudah bersenang-senangnya?", tanpa mereka sadari, Shin Seongsaengnim sudah berdiri di depan kelas sambil melipatkan tangannya di depan dada.
"Saem?" Kyuhyun meneguk ludahnya sendiri susah payah. Dia takut di hukum, sungguh. Walapun bukan hukuman berat karena seluruh guru sudah diberitahu perihal kondisinya. Namun tetap saja ia takut.
"Bereskan meja dan kursinya. Sepulang sekolah kalian temui Han Seongsangnim di ruangannya", Ujar guru bertubuh gempa itu dengan wajah datar. Kibum dan Kyuhyun hanya pasrah sembari sesekali melirik saat keduannya merapikan meja dan juga kursi yang mereka buat berantakkan.
..
"MWO?"Kyuhyun berteriak begitu mendengar hukuman yang harus diterimanya juga Kibum dari Guru Han.
"Itu tidak berat Kyuhyun-ssi. Saya sudah memperhitungkannya. Apalagi kau dibantu dengan Kibum. Tidak perlu setiap hari melakukannya. Hanya ketika kalian sempat saja dan 2 minggu harus selesai. Mudah bukan?".
"Ta…"
"Saya sedang ada keperluan. Silahkan mulai pekerjaan kalian".
Pekerjaan yang tak berat memang. Hanya membersihkan gudang dan merapikan buku perpustakaan. Itupun tidak harus saat itu juga. Bahkan guru paruh baya keturunan China itu memberikan rentan waktu 2 minggu.
..
"Kau sudah memulainnya?".
"Mereka yang memulai sendiri".
"Itu bagus. Anak malang itu, aku sudah tidak sabar untuk melihatnya bernasib sama seperti ayahnya".
Dua manusia paruh baya tampak begitu senang sore itu. Perasaan terpendam yang terlanjur menggores dalam hati salah satunya membuat demdam itu semakin menjadi dan menguar tanpa ampun.
"Kau yakin dengan ini?"
"Tentu. Hari pertama, biarkan mereka tenang terlebih dahulu. Sisanya, beri tahu aku waktu yang tepat untuk bermain dengan mereka", seringaian mengerikan itu muncul. Bayang-bayang hal yang menurutnya menyenangkan membuatnya tak sabar untuk 'kembali' melancarkan aksinya.
..
Sore ini, Kibum dan juga Kyuhyun memutuskan untuk menjalankan hukumannya di perpustakaan. Kibum yang sangat menyukai buku pun sangat antusias untuk melakukannya.
"Perpustkaan sebagus ini, tapi kenapa begitu kotor?" keluh Kyuhyun yang hanya melihat deretan buku di depannya.
"Song Ahjussi sedang sakit 3 hari ini, jadi tidak ada yang membersihkan. Petugas pengganti hanya melayani peminjaman dan pengembalian buku tanpa menatanya".
Kyuhyun hanya mengangguk paham. Minimal dia sedikit tenang karena tidak memilih gudang untuk dibersihkan di sore yang gelap itu.
"Gunakan jaketmu, sepertinya akan hujan. Cuaca sedang tidak baik", Kibum mengulurkan jaket biru tua milik Kyuhyun. Kibum sendiri sudah mengenakan jaketnya ntah dari kapan.
"Terimakasih, Bum-bum".
Kibum hanya tersenyum sambil berlalu menuju deretan rak tak jauh dari tempat Kyuhyun. Dia tak akan membiarkan Kyuhyun lepas dari penglihatannya.
"Apakah semua pengujung perpustakaan adalah orang yang pintar tapi malas? Kenapa mereka meletakkan buku yang mereka pinjam tidak pada tempatnya?", gerutu Kyuhyun tampak kesal.
"Mereka suka membaca, tapi tidak membaca dengan benar bagian rak mana untuk sains dan sosial", gerutunya lagi.
"Bum-bum!".
"Hm…"
"Aku menemukan buku sejarah di rak matematika", adu Kyuhyun sembari mengerucutkan bibirnya. Dia semakin kesal tentu saja.
"Letakkan di meja saja. Biar aku saja yang mengembalikannya", ujar Kibum masih fokus dengan kegiatannya.
"Mana bisa begitu. Aku akan menyisihkannya, nanti kau beritahu aku tempatnya".
Kegiatan memilih dan membersihkan 2 rak saja membutuhkan waktu hampir 2 jam. Sekarang sudah pukul 6 petang. Hujan sudah turun sejak setengan jam yang lalu, udara semakin dingin tentu saja.
"Kyu, kau tak apa? Apa kau lelah?", tanya Kibum yang sedari tadi khawatir karena Kyuhyun hanya melakukan kegiatannya tanpa gerutuan seperti biasanya.
"Ani. Waeyo?"
"Oh, aniyo. Kita pulang saja, Kim ahjussi sudah menunggu".
CTAK
JDERRR
"Kyu/Bum!" Kyuhyun dan Kibum saling memanggil, tak ada cahaya lagi diperpustakaan. Lampu mati dan petir saling bersahutan, jendela perpustakaan sampai bergetar karena suara petir yang terlalu keras. Tentu saja disuasana yang gelap mereka mampu melihat sesuatu yang orang lain tak bisa lihat.
"Kyu, diamlah ditempatmu", Kibum segera mengambil ponsel miliknya dan menyalakan lampu disana. Dengan cahaya yang tak seberapa itu dia dapat melihat adiknya masih berdiri di depan rak sambil menunduk takut. Tak jauh dari tempat Kyuhyun ada sesosok anak kecil yang sedang berlari kesana kemari. Kyuhyun hanya mampu menunduk sambil menggumamkan lantunan Do'a juga berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdentum cepat.
"Hanya anak kecil", Kibum menggenggam tangan adiknya yang basah dan juga dingin.
"Kita pulang sekarang". Kyuhyun hanya mengangguk sambil mengikuti langkah Kibum yang masih menuntunnya. Kyuhyun bahkan melupakan tasnya dan membiarkan Kibum membawanya.
"Bum…" Kyuhyun menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Kyuhyun.
"Ne".
"Aku tidak mau keluar", lirihnya.
"Wae?"
"Nanti saja. Biarkan lampunya menyala", Kyuhyun menarik lengan Kibum dan merapatkan tubuhnya.
"Kau kenapa?"
"Jebal".
Kyuhyun semakin kuat mencengkeram lengan Kibum. Tangan Kyuhyun begitu dingin dan basah, kepalanya terus menunduk. Sepertinya ada suatu hal yang membuat Kyuhyun ketakutan seperti itu, namun Kibum tak melihat apapun di dalam perpustakaan selain anak kecil yang terus berlarian kesana-kemari.
"Baiklah", Kibum menuntun Kyuhyun duduk di salah satu kursi panjang di dalam perpustakan. Anak kecil yang sedari tadi berlarian ikut duduk dihadapan mereka dan menangis keras.
"Wae?" Kibum mencoba bertanya kenapa anak kecil itu menangis. Namun bukannya menjawab, anak kecil itu justru kembali berlari dan menghilang. Disaat yang bersamaan, lampu sekolah menyala. Kibum dapat melihat adiknya tegeletak di atas kursi panjang di sampingnya.
"Kyuhyun-ah", Kibum menepuk pelan pipi pucat adiknya. Namun yang terdengar hanyalah deruan nafas yang tidak beraturan dan berat.
"Yak! Kau kedinginan..eoh?". Kibum segera membuka jaket yang dipakainya dan mengenakannya ditubuh Kyuhyun yang menggigil.
Kibum seperti mendengar Kyuhyun bergumam. Tapi tak ada satupun kalimat yang ia tangkap, bibir pucat itu telah membiru karena kedinginan. Kibum segera mengambil tasnya dan juga tas milik Kyuhyun dan disampirkannya didepan dada. Ia tak yakin Kyuhyun masih bisa berjalan, oleh karena itu Kibum berinisiatif untuk menggendong adiknya yang kini sudah pingsan.
..
"Tidak apa-apa. Hanya sesak nafas karena shock, dia sudah sadar sekarang. Dia mencarimu Kibum-ah", jelas Jung Uisa.
"Ne. Kamsahamida Jung uisanim".
Sesaat setelah Kibum berlalu, Jung Uisa justru tersenyum kearah 4 orang di depannya sambil menunjuk sebuah ponsel yang sudah tersambung dengan panggilan lain.
"Sudah siap mendengarnya?"
Jungsoo, Heechul, Donghae dan Siwon hanya tersenyum menanggapinya.
..
"Kenapa? Ada apa?", tanya Kibum begitu masuk ke dalam kamar adiknya.
"Ani", Jawab Kyuhyun seadanya tanpa menatap Kibum, pandangannya lurus ke depan.
"Ne?"
"Kau tak mendengarnya?"
Kibum mengernyit tidak mengerti, "mendengar?", tanyanya bingung.
"Appa".
"Mwo? Appa?"
"Hm..dia menyuruh kita tetap tinggal hingga anak itu pergi", jelasnya.
"Anak kecil?"
"Ne, appa tidak ingin kita keluar sebelum anak itu pergi".
Kibum mengernyitkan dahinya bingung.
"Apa maksudnya?"
"Ntah lah, setelah anak itu pergi lampu menyala. Tidak kah Appa tau jika kita takut gelap?"
"Oh…aku fikir Appa tidak ingin kita melihat hal yang lebih menakutkan lagi di luar perpustakaan".
"Ne. Tapi kenapa Appa tidak seperti Eomma?".
Lagi-lagi Kibum mengernyit dengan pertanyaan adiknya.
"Eomma muncul dan seakan menakuti kita. Lalu Appa?".
Kibum menghela nafas mendengar perkataan adiknya. Dia mulai menghubungkan beberapa kejadian yang terjadi dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Bahkan tahun-tahun sebelumnya.
" Aku meragukannya, Kyu".
"Nado".
Kibum menoleh kearah adiknya. Tidak kah dia sadar adiknya itu jenius sama sepertinya. Tentu saja dia sudah mencari tau banyak hal sama seperti Kibum.
"Dia hanya memanfaatkan kelebihan kita untuk membalaskan sakit hatinya dari keluarga Lee".
Flashback
"Dong Wook-ah, ini adalah adik barumu. Kim Yuri".
"Kim Yuri?" Ujar anak remaja berusia 17 tahun yang tampak angkuh itu sambil melirik gadis remaja yang 2 tahun lebih muda darinya.
"Dia akan membantu kita, membantumu untuk dapat memegang perusahaan Appa. Kau tak perlu sedih lagi ne dengan penyakitmu", Mr. Lee seorang pengusaha besar Jepang dengan satu-satunya penerus perusahaannya Lee Dong Wook. Anaknya kesulitan membaca, menulis, bahkan menghafal sesuatu. Dan juga jangan lupakan keangkuhan yang membuatnya malas.
"Apa kau yakin Appa?"
"Tentu saja. Ia bahkan sudah masuk Universitas diusianya yang 15 tahun".
Dong Wook memandang angkuh gadis lugu di depannya.
"Kau memungut orang yang tepat Appa", Seringaian Dong Wook terlihat menakutkan di mata Yuri. Hingga dia harus pasrah bertahun-tahun menjadi budak keluarga Lee dengan otak jeniusnya yang hanya dimanfaatkan.
Flashback off
"Hingga Donghae Hyung lahir dan ibunya meninggal saat itu membuat Yuri Eomma semakin membeci keluarga Lee. Dia membunuh Dong Wook Ahjussi dengan dalih penyakit jantung yang memang di deritanya. Ntahlah bagaimana dia bisa dalam keluarga ini dan melahirkan kita?" Kyuhyun meremas selimutnya erat-erat. Dia tak tau lagi harus menceritakan apa sampai Kibum membuka suaranya.
"Donghae Hyung masih terlalu kecil untuk dapat mewarisi seluruh perusahaan Lee, sehingga saat itu Appa yang adalah sahabat dekat Dong Wook Ahjussi yang juga sudah lama bekerja sama dengan keluarga Lee mendapat kepercayaan untuk merawat Donghae Hyung dan menjalankan perusahaan keluarga Lee".
"Lalu dimana kakek dari Donghae Hyung?".
"Dia menghilang. Appa sudah berusaha mencarinya, tapi hingga sekarang Tuan Lee tak juga ditemukan…".
"Yuri eomma, dia merubah dirinya menjadi sosok Han Yuri dari Kim Yuri. Masuk dalam Keluarga Park dengan harapan mendapat keturunan dan dapat mengambil alih apa yang diinginkannya melalui keturunannya nanti", Kibum menghentikan penjelasannya saat Kyuhyun terlihat kesulitan bernafas. Oh tidak, adiknya pasti sangat shock.
"Lanjutkan, Bum", lirihnya.
"N-ne. Kau dan aku. Sebenarnya kita adalah anak yang terlahir dari dendam Yuri Eomma. Namun aku tak ingin melakukannya dan menolaknya saat kita berusia 13 tahun, dia menyuruhku mendekati Appa dan mengalihkan perusahaan atas namanya".
"Kau tau, hanya anak laki-laki dari keturunan Park dan juga Lee yang bisa membuka kuncinya. Itulah kenapa Eomma menyuruhku".
"Saat itu aku tidak berfikir bahwa Eomma akan melakukan hal keji dengan membuat sebuah kecelakaan yang melibatkan Appa..",
BRAK
Kibum menyelesaikan penjelasannya saat tiba-tiba pintu kamar adiknya dibuka begitu keras. Muncul ke empat Hyungnya disana dengan Donghae yang sudah menangis keras.
"Kau? Bagaimana bisa Eomma kalian membunuh Appa kami?!" Heechul yang sudah kehilangan akal segera meraih kerah baju seragam Kibum yang memang sedari pulang sekolah tadi belum diganti.
"Hyung..".
Bruk
"Hyung!", Siwon segera menghampiri Heechul dan menenangkannya. Sementara Kibum yang mendapat pukulan dari Heechul hanya mampu berdiam sambil meringis merasakan perih di sudut bibirnya.
"Dimana eomma kami?" tanya Heechul dingin.
"Mollayo, kami belum menemukannya Hyung", Jelas Kibum masih dengan posisinya.
"Kau sengaja tidak mencarinya. Kalian hanya memikirkan Eomma kalian, katakan dimana Eomma kami?!" Gertak Heechul.
"Mian.."
"YAK!"
BRUK
Kepalan tangan Heechul berhasil mengenai pipi pucat. Pipi pucat? Heechul, Jungsoo, Siwon dan Donghae hanya mampu terpaku ketika adik bungsu mereka sudah tersungkur disebelah Kibum.
"Kyu, gwaenchana?" Kibum menghampiri Kyuhyun yang masih belum berubah dari posisinya, namun ketika Kibum membalikkan tubuh Kyuhyun, adiknya itu justru menangis.
"Uljima, uljima Kyu", Kibum langsung mendekap erat tubuh Kyuhyun yang bergetar.
"Eottoke, Bum? Hyungdeul..mianhae..hiks", isakan Kyuhyun semakin terdengar, dan hal itu berhasil membuat perasaan keempat Hyungdeulnya terenyuh.
"Maafkan kami Hyung, kami baru saja mencari tau tentang Yuri Eomma beberapa hari ini, Hyung. Mianhae..jangan pukul Kyu hyung, jebal", Kibum terus memohon pada Heechul dan Hyungdeulnya yang sedari tadi hanya berdiri terpaku.
"Tidak. Ini salah keluargaku, jangan salahkan Kibum atau Kyuhyun, ku mohon. Mereka juga korban, mereka tak tau apapun".
"Apa yang kau katakan Donghae?" Kali ini Jungsoo yang membuka suara.
"Kau dengar sendiri tadi Hyung, jika bukan karena keluarga ku yang memanfaatkan Han Yuri ahjumma pasti hal seperti ini tidak akan terjadi. Dan…dan Kibum juga Kyuhyun, mereka tidak tau jika harus terlahir dari rahim Han Ahjumma dan dijadikan alat untuk membalaskan dendamnya..".
"Kalian dengar sendiri bahkan Kibum sudah menolak, dan memilih kita untuk terus bersamanya juga Kyuhyun. Ku mohon Hyung, maafkan aku, Kibum dan juga Kyuhyun".
"Ani..Kyu, gwaenchana? Yak! Ireona Kyu, Kyu ireona jebal!",
Jung uisa yang tadi hanya memperhatikan pertengkaran antar saudara di depan pintu kamar langsung masuk ke kamar Kyuhyun. Wajah yang biasanya tenang dan tampak ramah berubah panik ketika tubuh pucat itu sudah tak sadarkan diri dengan tangan mencengkeram seragam belakang Kibum.
"Kibum, siapkan keperluan Kyuhyun. Kita akan membawanya ke Rumah Sakit", Jung uisa segera menjauhkan tubuh Kyuhyun dari Kibum, namun Kyuhyun justru tersadar dan semakin mencengkeram baju belakang Kibum. Terdengar lenguhan menyakitkan dari bibir pucatnya. Kibum menggeleng.
"Kyuhyun membenci rumah sakit", jelasnya.
"Aku tau. Baiklah, angkat dia ke tempat tidur". Kibum segera melakukan perintah Jung Uisa, namun tubuh Kyuhyun seperti menolak. Dia semakin terlihat kesakita bahkan menangis. Kepalanya menggeleng pelan.
"Jebal, Kyu. Kau harus ditangani", Kibum mengusap kepala Kyuhyun dengan tangan kirinya. Tangan kanannya ia gunakan untuk menopang tubuh Kyuhyun.
Kyuhyun masih menggeleng. Setelahnya terdengar suara batuk yang begitu menyakitkan keluar dari bibir Kyuhyun. Semuanya terlihat panic saat tubuh Kyuhyun justru melengkung menahan sakit sambil mencengkeram punggung baju Kibum.
"Kau jangan nakal setan kecil. Jja, hyung akan memindahkanmu ke atas tempat tidur", tangan Kyuhyun yang tadinya mencengkeram punggung seragam Kibum terlepas ketika Heechul membisikkan beberapa kalimat tepat di telinga kananya. Namun bibir Kyuhyun justru menggumamkan nama Kibum.
"Bumh..hh..bum hyunghh, eo..eodiso?"
Kibum segera menggenggam erat tangan kiri Kyuhyun yang sudah tergeletak di atas tempat tidur,"Hyung disini. Hyung tak akan kemana-mana". Untuk kesekian kalinya Kibum meneteskan air matanya. Dan itu selalu karena Kyuhyun. Adik yang begitu berharga untuknya.
"Kalian keluarlah terlebih dulu. Biarkan aku dan Kibum yang di dalam", jelas Jung Uisa membuat beberapa namja yang tadinya ikut panik dengan enggan melangkahkan kakinya keluar ruangan.
"Jungsoo Hyung".
"Ne".
"Bicarakan semuanya baik-baik dengan adikmu. Kyuhyun bisa membantu kalian. Dia jugamembutuhkan kepercayaan kalian", pesan dokter muda itu sebelum Jungsoo benar-benar keluar.
..
Heechul menyadari bahwa apa yang diperbuatan semalam adalah salah. Dia baru menyadari setelah semalam setelah kejadian, dia, Jungsoo, Donghae juga Siwon membicarakan perihal yang terjadi hingga menjelang pagi.
"Di dunia ini tidak ada yang ingin dilahirkan karena sebuah kesalahan, dendam atau apapun itu. Tuhan sudah menggariskan semuanya. Chullie-ah, kau boleh marah. Tapi setidaknya izinkanlah Kibum dan juga Kyuhyun melakukan apa yang bisa mereka lakukan untuk menebus semuanya. Mereka tidaklah bersalah, Chullie-ah. Mereka hanya ingin membantu. Tidakkah kau sadar bahwa kedua adik kita itu tengah berusaha keras tanpa sepengetahuan kita selama ini?"Jungsoo
"Hyung, maaf jika aku mengatakan ini. Aku marah tentu saja. Tapi bukan pada Kibum ataupun Kyuhyun. Aku marah kepada diriku sendiri karena tak bisa melakukan apapun, bahkan tak mengetahui apapun seperti yang Kibum dan juga Kyuhyun ketahui dan lakukan selama ini. Aku justru merasa tak berguna karena tak bisa melindungi keluarga kita dan juga kedua adik kita yang sudah dimanfaatkan oleh Eomma kandungnya sendiri". Siwon
"Aku sadar segala sumber permasalahan yang terjadi berasal dari keluargaku. Apakah kalian masih mengizinkanku untuk tinggal dan membantu Kibum juga Kyuhyun untuk menyelesaikan semua?".Donghae
"Jebal, beri aku kesempatan untuk menebus kesalah keluargaku dengan terus bersama kalian dan membantu kalian. Dengan apapun itu, aku bersedia, Hyung, Siwon-ah".Donghae
"Eottoke, Bum? Hyungdeul..mianhae..hiks"
"Maafkan kami Hyung, kami baru saja mencari tau tentang Yuri Eomma beberapa hari ini, Hyung. Mianhae..jangan pukul Kyu hyung, jebal"
Tentu saja kedua kalimat terakhir adalah kalimat yang diungkapkan kedua adik kembarnya sebelum Kyuhyun kollaps dan tak membiarkan Kibum menjauh darinya. Semua nasehat Jungsoo, Siwon, permintaan maaf Donghae dan tangis Kibum juga Kyuhyun semuanya berputar di kepala Heechul. Namja cantik itu menangis. Menyesal sekaligus merasa bersalah karena lebih memilih mengikuti emosinya daripada berfikir sehat dan mendengar penjelasan adiknya. Itu karena Heechul sangat dekat dengan Eommanya.
"Mianhae, saeng-ie. Maafkan Hyung". Heechul mengusap kasar wajahnya. Tak peduli seperti apa penampilannya sekarang, ia hanya ingin menemui Kyuhyun dan meminta maaf. Namun, Jung Yunho –uisa keluarga Park- belum mengizinkan siapapun kecuali Kibum untuk menemani Kyuhyun.
"Seharusnya dia di rawat di Rumah Sakit sekarang, kondisi jantungnya perlu penanganan serius".
Penjelasan Jung Uisa masih terngiang di fikiran Heechul, dia seolah melupakan fakta bahwa adik bungsunya itu 'istimewa'.
"Hyung".
Kibum terkesiap saat suara seorang namja berwajah datar menyapanya. Namja yang tak lain adlaah Kibum itu mendekat dimana Heechul duduk. Tak ada ekspresi lain yang dapat Heechul baca. Adiknya itu begitu tertutup.
"Maafkan kami", Ucap Kibum tanpa mengalihkan opsidianya dari namja cantik di depannya.
"Aku dan Kyuhyun akan membantu", Ujarnya lagi.
Heechul membelalakkan matanya. Kibum yang biasanya menakutkan ketika saudara kembarnya disentuh atau bahkan dipukul seperti yang dilakukan Heechul semalam justru datang dan menawarkan bantuan. Oh..sungguh lebih besar lagi rasa bersalah yang dirasakan Heechul.
"Sedikit lagi, Hyung. Kami berjanji akan mengungkap semua. Setelah itu kalian boleh membenci kami".
"M-mwo?".
"Sekali lagi maafkan kami, Hyung", Kibum beranjak dari duduknya dan berlalu begitu saja.
"Bum-ah, mianhae. Aku ikut membantu kalian. Ada sesuatu yang sepertinya ku ketahui".
Kibum menghentikan langkahnya, memandang Heechul Hyung-nya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sesuatu?
"Setelah Kyunie sehat. Kita akan membicarakan hal ini setelah itu", jelas Heechul semabri tersenyum. Kibum membalasnya, walaupun hanya sebuah senyum tipis.
..
Sepertinya keinginan Heechul untuk menceritakan 'hal penting' yang beberapa hari lalu ia bicarakan dengan Kibum kepada Kyuhyun harus ditangguhkan lebih dulu. Kyuhyun bahkan tak bicara dengan Heechul, bahkan dengan Hyungdeulnya yang lain –kecuali Kibum-. Dia seolah takut dan terus menghindar. Hal ini membuat ke-5 Hyungnya resah dan tak tenang karena kehilangan Kyuhyun yang sebelumnya begitu hyperaktif dan ceria.
Seperti yang terjadi pada hari minggu pagi ini. Semua penghuni rumah keluarga Park tengah berkumpul di ruang makan untuk melakukan rutinitas sarapan pagi mereka.
"Kyu, makanlah yang banyak", Ujar Jungsoo sambil mengangsurkan beberapa daging dan meletakkannya di atas mangkuk adiknya. Tangan lembutnya berusaha menggapai puncak kepala Kyuhyun, namun adik kecilnya itu justru menghindar.
"Wae?" tanya Jungsoo pada akhirnya.
Kyuhyun tak menjawab. Kepalanya justru semakin menunduk.
"Apa ada sesuatu yang menakutimu di sekitar sini?", Donghae mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tak ada apapun.
Setelah Kibum menceritakan bahwa dirinya dan Kyuhyun adalah seseorang yang 'lebih istimewa', ke-4 Hyung mereka semakin was-was, terutama setelah Kibum menyebutkan makhluk yang sering ia dan Kyuhyun jumpai di rumah mereka semenjak mereka kecil.
"Aku akan berdo'a setelah ini agar mereka tak mengganggumu", kali ini Siwon yang berbicara.
"Apa kau takut pada, Hyung?", Heechul memberanikan diri berbicara.
"Oh pantas saja. Aku lupa ada setan besar di antara kita". Donghae langsung mengatupkan bibirnya saat melihat tatapan tajam Heechul.
"Hahahaha". Semuanya tertawa, kecuali Kibum dan Kyuhyun tentunya.
"Kalian ini, aisshh. Baiklah untuk kali ini terserah kalian. Aku hanya ingin bertanya pada baby kyu", Ujar Heechul kesal.
"Baiklah Kyu, mungkin aku memang evil senior seperti yang sering kau katakana. Aku hanya ingin minta maaf, malam itu aku hanya terbawa emosi. Eumm…", heechul terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Kau boleh balas memukulku. Tapi..jangan dibagian wajah. Wajah cantikku sangat berharga dan bisa menghasilkan uang, kau tau itu kan?".
Semua orang dibuat sweetdrop dengan permintaan Heechul. Kyuhyun sedikit mengulum senyumnya saat mendengar Heechul Hyungnya justru berkata narsis di tengah suasana serius seperti ini.
"Bagaimana? Diamana kau akan memukulku?", tanya Heechul lagi.
"Bolehkah aku memukul?" tanya Kyuhyun sambil mengerjapkan mata bulatnya.
"Eh? Oh tentu saja", Heechul meletakkan sumpitnya dna menata duduknya seolah siap jika akan dipukul saat itu juga. Walaupun dalam hatinya ia merasa takut.
"Pukul yang keras, Kyu. Argh..rahangku masih sakit", Kibum meringis sambil memegang rahangnya. Heechul yang megetahui bahwa Kibum berakting hanya mampu mendelik kesal.
"Nado", Kyuhyun mengelus pipi sebelah kanannya yang masih menyisakan sedikit lebam.
"Apa boleh sekarang?" tanya Kyuhyun kepada Heechul.
Heechul hanya mampu meneguk ludahnya ditengah anggukannya. Jungsoo, Donghae dan Siwon hanya mampu melihat interaksi keduanya dengan perasaan takut-takut juga heran. Heran, mengapa harus meminta izin jika memang ingin membalas memukul?.
"Baiklah", Kyuhyun beranjak dari kursinya menuju kearah Heechul diseberang meja. Tangannya sudah mengepal, siap untuk melancarkan aksinya. Ketika sudah berada di depan Heechul, Kyuhyun menarik nafas sejenak, kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Akhh…ya-ya yak! Park Kyu-kyu..hahahahaha, yak!", Heechul berteriak kesakitan dan tertawa sekaligus. Dia baru menyadari bahawa maknaenya tidak bisa berkelahi. Kyuhyun hanya memukul kecil pundak, dada dan kepalanya. Sekali-kali tangan pucat itu mencubit pipi milik Heechul, lalu menyerang perut Heechul untuk digelitik hingga Hyung cantiknya itu lemas.
"Rasakan! Rasakan!", teriak Kyuhyun di tengah aksi menyerangnya. Wajahnya merah karena marah, namun terlihat imut sekaligus di mata orang-orang di sekitarnya.
"AIGOO", koor ke-4 namja lainnya. Mereka mengira akan terjadi peperangan saudara sungguhan, Namun yang terlihat justru aksi lucu dan imut maknae mereka untuk membalas perbuatan Heechul.
"Bersenang-senanglah. Tak ada yang akan kalian dapat setelah ini selain 'pembalasan'."
TO BE CONTINUE
Mian karena lumayan lama updatenya hehe
Maaf jika banyak typo karena tidak sempat baca ulang
Ceritanya ngalir gitu aja waktu tau Kyu sakit #GetWellSoonKyuhyun T.T
Jadi, mian kalo misalnya ada yang kurang suka dengan jalan cerita di chapter ini yang mungkin terlalu cepet
Semoga tetap suka dan selalu review yaa, hehe
Oya makasih reviewnya chingu, dan salam kenal sekali lagi. Terimakasih^^
