untuk [FFC] Infantrum; Seven Minutes in Heaven. (prompt: 7 Heavenly Virtues.)

Disklaimer: Katekyo Hitman Reborn! karya Amano Akira. Tidak ada keuntungan komersil yang dibuat dari sini.

Peringatan: mungkin Canon, dengan situasi Mukuro belum bebas dari Vendicare; OOC; typo. Kind of ficlet. MukuroXHibari / 6918.

Let Me Spend Seven Minutes With You: 2012: M. Gabriella

.

tiga: quando l'illusione del suono travolgente del silenzio
[
kala keheningan menyapu suara]


"Kyo-san, proposal pesta perayaan kemenangan tim sepak bola―"

"Kamikorosu."

"Kyo-san, laporan keuangan bulanan komite kedisiplinan―"

"Cap saja."

"Kyo-san…."

Dan berbagai "Kyo-san, Kyo-san, dan Kyo-san" telah dilontarkan berkali-kali oleh mulut Kusakabe Tetsuya. Pemuda yang dipanggil sebagai "Kyo-san" hanya duduk dengan tenang di kursi depan meja kebesarannya, meja Prefek Namimori-chuu.

Hibari Kyoya.

Nama yang terpampang jelas di meja tersebut. Pemuda berambut hitam itu memejamkan matanya, mendengarkan judul-judul dokumen yang dibacakan Kusakabe.

Bertanya mengapa Kusakabe yang mengecap beberapa dokumen tersebut―dan mengabaikan yang dikomentari "kamikorosu"―alih-alih Hibari menandatanganinya sendiri?

Coba ingat-ingat sebuah fakta. Fakta sial yang terus dirutuki Hibari Kyoya hingga kini.

Hibari Kyoya buta. Buta.

Buta berarti tidak bisa melihat. Buta berarti tidak bisa menandatangani dokumen-dokumen kewajiban seorang prefek Namimori. Buta berarti Kusakabe harus menggantikan tanda tangan Hibari dengan cap prefek Namimori. Buta berarti setiap komentar "cap saja" dari Hibari berarti persetujuan.

Buta berarti setiap komentar "kamikorosu" dari Hibari berarti tanda tidak setuju dengan dokumen tersebut.

Seperti proposal pesta perayaan kemenangan tim sepak bola yang menerima pertidaksetujuan Hibari berupa sebuah "kamikorosu" instan.

"…"

Hening.

Setelah sekian lama terdengung suara orang membacakan judul dokumen, tidak ada lagi suara terdengar di ruang prefek Namimori.

Mana Tetsu dan suaranya?

"… Kusakabe?"

Hibari memanggil, namun hanya senyaplah yang menjawabnya.

Ia membuka matanya yang tadi terpejam; berniat untuk mencari di mana sosok Kusakabe berada.

Hanya untuk menyadari, bahwa ke mana pun ia memandang, hanya gelaplah yang menguasai lapang pandanganya.

Sial.

"Ku―"

"Kyo-kun, laporan pertempuran dengan Kokuyo―"

"Kamikorosu."

… Hening sejenak.

Sebentar―

"… Hah?"

"Kufufu―"

Clang!

Dua buah tonfa metal terlempar dari arah Hibari Kyoya yang tadi duduk.

Iya, tadi duduk. Sekarang, Hibari sudah berdiri, saat tadi melempar dua tonfa miliknya ke arah di mana suara Mukuro ia dengar. Walaupun Hibari yakin, kedua tonfa itu gagal mengenai Mukuro, mengingat itu adalah Mukuro.

Yang pasti memakai ilusi perpindahan tubuh.

"―semangat sekali, Hibari Kyoya. Sampai tidak sadar bahwa sudah bukan bawahanmu itu yang membacakan dokumen," ujar Mukuro santai, sembari mendekati di mana Hibari yang sehabis berdiri melempar tonfa, kembali duduk.

"Aku sadar, Rokudo Mukuro. Makanya aku menghantamkan tonfa padamu. Sekarang kembalikan tonfaku, atau kamiko―"

"Tonfa yang ini?" potong Mukuro begitu saja. Ia memamerkan sepasang tonfa milik Hibari yang kini berada dalam genggamannya, walau ia tahu bahwa Hibari tidak mungkin melihatnya.

"Ya, tonfa yang itu. Di mana pun kau berada sekarang, kembalikan tonfaku segera atau kami―"

"Tidak mau," jawab Mukuro enteng. Ia bisa melihat urat kekesalan mulai muncul di wajah Hibari.

"Kau tidak berada dalam posisi bisa bernegosiasi denganku, Rokudo Mukuro," ucap Hibari jengah. Ilusionis di depannya membuat terlalu banyak masalah―sampai Hibari lupa menanyakan Mukuro, bagaimana ilusionis itu bisa masuk ke ruangannya seenak dirinya, tanpa disadari Kusakabe.

Sudahlah. Tidak penting juga. Ilusionis di depannya―kalau ia tidak salah kira―pasti memiliki seribu satu cara untuk memasuki ruangannya.

Dan fakta itu membuatnya tambah ingin menggigit Rokudo Mukuro sampai mati.

Lagi, Hibari berujar, "Rokudo Mu―"

"Berjanji dulu padaku, untuk menit ketiga ini, tidak ada kata 'kamikorosu', 'gigit sampai mati', ataupun segala hal yang berbau itu. Juga, tidak ada yang namanya bertarung denganku hari ini. Tidak ada benturan trisula dengan tonfa ataupun borgol. Tahanlah segala keinginanmu untuk melakukan itu semua di menit ini―"

"Dan kenapa aku harus menurutimu?"

"Karena kalau tidak, tonfamu tidak akan pernah kembali lagi."

Kalau dalam keadaan normal, Hibari pasti bisa menerjang Mukuro dengan tangan kosong sekalipun. Dalam kondisi normal.

Kalau dalam kondisi kehilangan kedua penglihatannya … itu beda lagi. Bahkan untuk Cambio Forma demi mengeluarkan borgol saja sudah susah setengah mati, meski ia tidak mau mengakuinya.

Sial.

"Jadi … bagaimana?" Mukuro bertanya sambil menumpukan kedua sikunya di sisi depan meja prefek Hibari. Dagunya ia letakkan di kedua telapak tangan yang membuka ke atas, sehingga wajahnya menatap langsung pada Hibari.

"Ka―kkhh, oke."

Mendengar jawaban itu, Mukuro tersenyum lembut tepat di depan wajah Hibari. Senyuman lembut itu berubah menjadi seringai senang, melihat wajah … tanpa ekspresi Hibari.

"Oya, tersenyum sedikit kenapa, Hibari Kyoya?" ujarnya dengan kekehan kecil. "Kufufu" singkat terselip di antara kekehannya.

Hibari memasang tampang kesal, sebal, atau apalah itu.

"Diam kau, Rokudo Muku―"

Plok.

Mukuro menepuk puncak kepala Hibari dengan tangan kanannya, sambil tersenyum.

"Rileks sedikit, Hibari Kyoya. Khusus menit ketiga ini, aku sedang tidak ingin bertarung denganmu. Sesekali, gencatan senjata itu perlu, kufufu."

Walau Hibari tidak dapat melihat ekspresi Mukuro sekarang, ia yakin, Mukuro tengah tersenyum. Bukan, bukan senyum sadis atau gila bertarung seperti yang biasa Mukuro―dan Hibari―perlihatkan.

Rasanya, visi gelap yang selalu ia rasakan semenjak kebutaannya, kembali menjadi bercahaya.

Gelap tapi … terang.

Dari dalam dirinya, sesuatu bagai meneranginya.

Aneh. Tapi nyaman.

Ah, sudahlah.

Beberapa detik, tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Tangan Mukuro sudah meninggalkan puncak kepala Hibari.

Mukuro memfokuskan pandangannya pada sosok Hibari Kyoya yang duduk di hadapannya. Menyelami tatapan entah ke mana arahnya dari mata oniks Hibari; mata yang kehilangan cahayanya itu.

Spontan, Mukuro berkata, "Empat menit lagi. Lalu penglihatanmu akan kembali seperti sedia kala."

Hibari tahu itu.

Sudah berkali-kali, Mukuro mengatakan itu padanya. Tapi tetap saja, cahaya putih yang bagai menyelimuti visinya tidak berhenti bersinar, setiap kali Mukuro berkata demikian.

Dan jawaban Hibari pun selalu sama,

"… Terserah."

Terserah. Terserah. Terserah.

Terserah, Mukuro mau mengembalikan pandangannya, lalu mereka bisa bertemu dan bertarung seperti biasa lagi. Terserah, Mukuro tidak mengembalikan pandangannya tapi ia bisa menikmati hari damai, yang membuatnya bisa santai sejenak.

Terserah―tunggu.

Apa?

Membuka mulut, Hibari tiba-tiba saja mau menyebutkan nama, "Rokudo Muku―"

"Ah, sudah habis, ya, waktunya. Pantanganmu untuk tidak berkata 'kamikorosu', 'gigit sampai mati', atau apapun tentang itu, untuk menit ini telah usai. Lumayan menyenangkan juga, bisa bertemu denganmu tanpa kekacauan dan bentrok trisula dengan tonfa dan borgol. Nah, sekarang aku kembali dulu. Sampai jumpa di menit keempat, Hibari Kyoya."

Sehabis berbicara panjang lebar, Mukuro langsung menghilang dengan ilusi, sebelum Hibari sempat menyelesaikan memanggil namanya.

"―ro."

Hibari segera menyambar sepasang tonfa yang tertinggal di sisi depan meja prefeknya. Tonfa yang dikembalikan Mukuro tepat sebelum ia kembali ke penjara tangki air Vendicare.

Tonfa yang pegangannya masih … hangat.

Ilusionis sialan.

Hangat. Seperti kedua pipi Hibari kini, tidak tahu kenapa.

Nanti, di menit keempat, Rokudo Mukuro harus mati di tangannya.

"Kkkh, kugigit kau sampai mati, Rokudo Mukuro…."


-to be continue-

[words count; story only (without "separate particle" between one paragraph with another, like "…" or disclaimer-appearance-syalala):: 1000 words]


A/N: yes, ending-nya beda dikit X"D #woi. ehm, cuma perasaan saya, atau emang berasa tiap chapter ada selipan kusakabe/hibari gini? -_- #ngek. dan ini kelewat ooc, ya? susah banget bikin romens mereka tanpa ooc-in astaga #jedukinkepala.

[ps: saya tahu kok, "kamikorosu" dan "gigit sampai mati" itu artinya sama; cuma nambah-nambahin words aja, kok :"P #dor]

.

penjelasan prompt tiga: abstinence;

di sini saya terjemahkan menjadi "pantangan". terasa kan, dari cara hibari menahan keinginannya untuk berkata sebangsa "kamikorosu" atau itulah. pantangan juga berlaku untuk mukuro sebenarnya kalau dilihat lagi; mukuro berusaha untuk menahan keinginannya tidak menghantam hibari dengan trisula, loh, di menit ketiga ini―mengingat bagaimana sifatnya di canon selama ini. #inibenerenmaksawoi
semoga prompt yang menurut saya menjadi dasar chapter ini terasa sungguh :"Dd.

.

well, review?


terimakasih kepada: Hyuuzu • checkmate007 • Hikari Kou Minami • Aoi no Tsuki • Sachertorteei • Llewellyn del Roya • YUKA726 Hikari
semuanya sudah dibalas PM :")b.


« secondo :: quarto »