Maaf atas waktu yang lama untuk mengupload cerita ini. dan maaf juga beberapa chapter ke depan bukan chapter yang panjang dan bukan chapter-chapter favorit saya juga, maklum, ditulis di sela-sela kuliah yang sudah mulai menguras waktu -.-. tapi berharap bisa tetap membawa cerita ini di jalurnya. sangat amat butuh saran, kritik, yang pedas2 juga ga apa-apa, thanks.

Disclaimer: JK Rowling


1974

Severus Snape duduk di pinggiran danau, hidungnya tenggelam ke dalam buku tebal yang dibacanya. Sesekali dia mengerling pada sekumpulan gadis-gadis yang sekarang sedang duduk-duduk di bawah naungan pohon beench sambil saling tertawa-tawa seru. Snape tampak terlalu berkonsentrasi, entah pada bukunya atau pada gadis-gadis itu, sampai dia tidak menyadari bahwa gerak-geriknya sedang dipantau oleh the Marauders dari sisi lain.

James Potter maju paling depan, melihat arah pandangan Snape ke gadis-gadis itu dan tersenyum dengan kejam. Tongkat sihirnya terangkat setinggi bahu sembari dia memperpendek jaraknya pada Snape yang masih menenggelamkan diri dalam bacaannya. Di belakang James Potter, ketiga temannya mengikuti. Sirius dengan senyum yang sangat identik dengan senyum James. Peter yang tampak amat bergairah dan tidak sabar. Lupin yang tampak terpaksa mengikuti mereka dan berkali-kali menoleh dengan cemas ke arah kastil.

"Aquamenti!" seru James saat sudah tiba di belakang Snape. Air mengucur dari tongkatnya dan mengguyur Snape sampai basah kuyup. Secara refleks, Snape mencabut tongkatnya dari balik lengan baju, tapi seketika itu juga tongkatnya dibuat melayang oleh kilasan cahaya merah dari tongkat James.

"Kau butuh sampo, Snivellus?" ujar Sirius keji sambil memandang Snape dengan tatapan merendahkan. Rambut Snape yang memang sudah terjurai lemas di pinggir wajahnya, sekarang tampak semakin menyedihkan karena basah.

"Jangan keramas di sini," timpal Peter. Snape hanya berdiri, sekali lagi mengerling pada gadis-gadis di bawah pohon. Tongkatnya berada di luar jangkauan tangannya. Salah seorang gadis, dengan rambut merah panjang dan mata hijau cemerlang, telah berdiri dan tampak marah melihat kejadian di depannya. Sementara itu, Snape, dengan langkah-langkah canggung, berjalan mendekati tongkatnya yang tergeletak di atas rumput, tidak tampak keinginan untuk membalas penyerangnya. Si gadis berambut merah tampak kecewa Snape tidak melawan.

Lalu Sirius gantian mengangkat tongkat sihir pada Snape. "Petrific—" Sirius sedang berseru lantang sambil mengacungkan tongkatnya pada Snape saat tangannya ditahan oleh seseorang. Regulus berdiri di sana, dengan wajah dingin yang belum pernah ditampakkan sebelumnya pada Sirius, membuat wajahnya terlihat seperti patung pualam dengan ekspresi yang mengerikan. Regulus menahan tangan pemegang tongkat Sirius, menghalanginya untuk memantrai Snape. Mata Sirius membelalak tidak percaya. Peter tampak marah. Lupin tampak hampir bersyukur ada yang menghentikan temannya. Sementara James hanya tersenyum kecil seolah sudah mengira hal ini akan terjadi.

"Cukup, Sirius," kata Regulus dengan nada sedingin es. Regulus melepaskan tangannya dan tangan Sirius terjatuh dengan lemas ke samping tubuhnya. Snape telah pergi setelah mendapatkan kembali tongkatnya, masuk ke dalam kastil untuk mencari ketenangan. "Tidak lucu," kata Regulus lagi sambil membalikkan badan, berjalan menjauh dari danau.

"Tunggu," Sirius menahan Regulus di bahunya. Regulus berhenti berjalan. Semua mata yang ada di sekitar situ memandang mereka berdua dengan penasaran. "Siapa kau berani-beraninya menghalangiku!" bentak Sirius pada punggung Regulus.

"Dan siapa kau—" Regulus berbalik dengan tajam dan menepis tangan Sirius dari bahunya, "berani-beraninya membentakku!" seru Regulus bahkan lebih keras daripada Sirius, suaranya bergema di lapangan rumput itu. James mengalihkan pandangannya ke hutan terlarang di seberang danau, pura-pura tidak melihat ataupun mendengar.

"Aku—" Sirius terdiam di tengah kalimatnya. Regulus masih menatapnya dengan tatapan dingin dan berbalik lagi hendak pergi. "Reggy," Sirius memelankan suaranya sampai hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. "Kita perlu bicara…"

"Oh, jadi sekarang kita perlu bicara?" balas Regulus sama pelannya dengan Sirius dan sama dinginnya dengan sebelumnya. "Ke mana saja kau tiga tahun ini? Lupa kalau punya adik? Lupa atau malu karena adikmu di Slytherin? Terlalu sibuk menyiksa anak yang lebih lemah bersama geng Marauders kecilmu?"

"Reggy," suara Sirius melembut, begitu juga dengan ekspresinya. Kontras dengan ekspresi Regulus yang justru semakin keras, gurat-gurat wajahnya terlihat semakin dalam sementara Regulus terus memandangi kakaknya dengan tatapan terkejam yang dia punyai. "Maafkan aku," bisik Sirius. Regulus hanya mendengus dan berbalik, berjalan cepat dengan langkah tegak menuju kastil dan menghilang dalam kegelapan bayang-bayangnya. Sirius masih berdiri di tempatnya, terpaku seakan tidak bisa bergerak setelah apa yang baru saja terjadi. Semua mata masih memandanginya, bisik-bisik teredam mulai terdengar dari tempat anak-anak berkumpul.

"Hey, aku menemukan Snitch di kantongku!" seru James keras, mengalihkan perhatian anak-anak padanya ketika dia mulai melepaskan Snitch dan menangkapnya. Anak-anak bertepuk tangan riuh melihat aksi James. Namun Sirius belum juga bergerak dari tempatnya.


23 April 1975

Kenapa aku bersikap seperti itu? Apa yang merasukiku? Ya Tuhan, apa-apaan aku berkata seperti itu pada Sirius. Dia tidak akan pernah memaafkanku karena hal ini. Tapi harus ada seseorang yang memperingatkan mereka. Sikap mereka memuakkan dan aku tidak percaya si manusia serigala justru yang bersikap paling waras di antara mereka (apa yang akan Sirius katakan bila dia sadar aku mengetahui rahasia tentang teman serigalanya?). Dan aku juga tidak mengerti kenapa mereka selalu melampiaskan kekejaman mereka pada coba masalah mereka dengannya?

Bagaimanapun juga aku harus tidur, besok ada pertandingan Quidditch melawan Ravenclaw, jangan sampai aku kurang tidur karena hal ini, Avery bisa sangat marah jika aku gagal menangkap Snitch lagi.

Tapi Sirius minta maaf padaku tadi… Kenapa aku malah meninggalkannya? Bodoh! Sudahlah, jangan pikirkan Sirius lagi, pikirkan saja Snitch yang harus kutangkap besok. Aku berharap Sirius menonton pertandingan ini, apa dia bersedia? Setelah apa yang aku lakukan padanya tadi?


Langsung upload banyak, untuk membalas kesalahan karena lama ngeupload :) next chapter udah ada.