DISCLAIMER: GAKUEN ALICE by Higuchi Tachibana
Obsession
Written by Luna Margaretha
Chapter 04: Cooperation Partner
Ruka dan Sumire, melihat kedua sahabatnya terus menjabat tangan tanpa dilepaskan. Kedua pasang mata keduanya juga terus bertatapan tanpa menoleh sedikit pun. Mengangkat sebelah alis, Sumire dan Ruka menepuk pelan bahu mereka hingga keduanya terjengkal muncur dan terlepaslah tangan digenggamnya tadi.
"Kau mengagetkanku, Permy!" seru Mikan mengelus dadanya karena kaget.
Sumire menjitak kepala Mikan, kesal. "Jangan panggil aku dengan nama begitu di depan mereka, bodoh! Bukankah seharusnya aku yang marah padamu karena kau terus berjabat tangan dengan Natsume-sama."
"Natsume-kun?" Ruka dan Natsume mengangkat kedua alisnya, terkejut pada panggilan sopan dari Sumire.
Sumire menoleh pada mereka, memerah malu. "Nggak apa-apa 'kan, jika aku memanggil Anda sekalian dengan sebutan 'Ruka-kun' dan 'Natsume-kun'?"
"Nggak apa-apa," senyum Ruka melihat betapa malu-malunya gadis berambut hijau di depannya.
Mikan sedari tadi mengusap kepalanya dijitak Sumire, memutar matanya. Dia melihat seseorang keluar dari gedung, menghampiri mereka bersama dengan seorang perempuan berambut merah muda.
"Yuu! Anna-chan!"
"Mikan-chaan!" teriak mereka bersamaan. "Selamat datang kembali di Kyoto!"
"Aku pulang!" seru Mikan senang.
"Karena kau dan Shouda-san belum muncul, makanya kami datang ke sini menjemputmu begitu juga dengan kedua laki-laki di belakang kalian," ucap laki-laki berambut hijau berkacamata sempat melihat Natsume dan Ruka. "Kalian berdua telah dtunggu petinggi perusahaan ini. Kau juga dipanggil, Mikan."
"Benarkah?" tanya Mikan tak terduga. Yuu mengangguk, tersenyum.
"Ada yang ingin didiskusikan Jinno-san kepadamu dan mereka berdua." Yuu minggir sedikit untuk mempersilakan mereka masuk ke dalam gedung. "Mari masuk! Mereka telah menunggu kalian di atas."
Ruka, Natsume, Mikan dan Sumire lebih dahulu masuk ke dalam gedung diantar Anna dan Yuu. Keenam orang ini disambut hangat oleh beberapa karyawan di dalamnya. Mereka juga menyambut kedatangan Sumire dan Mikan dalam kehangatan yang dirasakan Natsume dan Ruka seperti kehangatan keluarga.
Setelah mereka masuk, Ruka dan Natsume sempat-sempatnya memandangi dalam gedung. Gedung yang dikasih banyak kaca-kaca jendela, memancarkan matahari siang masuk ke dalamnya. Sambutan hangat diterimanya beberapa kali saat melewati mereka. Entah apa yang dirasakannya, tempat ini membawa mereka ke langit ketujuh. Itu yang dirasakan keduanya.
Menuju lift terbuka, Yuu membimbing Natsume, Ruka dan Mikan masuk. Sementara Anna dan Sumire berdiri di tengah, setengah membungkuk pada mereka sebelum berbalik badan pergi. Yuu menekan tombol angka 20, lantai tertinggi di gedung ini.
Selama mereka berada di dalam sana, Mikan terus gemetaran hebat. Hal paling tidak disukainya adalah berada di lift ini tanpa persiapan apa pun. Natsume merasakan getaran itu di sampingnya, melirik Mikan yang memeluk tubuhnya.
"Kau ketakutan?" tanya Natsume mengkhawatirkan kondisi Mikan sambil berbisik.
Mikan tak menjawab. Dirinya terus memeluk tubuhnya, mengusap-usap lengannya. Tak diketahuinya bahwa Natsume membuka kemejanya dan memberikan itu pada Mikan, meletakkan di kedua bahunya. Mikan mendongak, menatap heran pada Natsume.
"Aku nggak tahu, kenapa kau ketakutan seperti ini. Tapi, aku hanya bisa menolongmu lewat ini. Kau juga nggak perlu sungkan-sungkan kepadaku meminta bantuanku selama aku bisa menolongmu."
Tubuh Mikan berhenti gemetar. Kehangatan di kedua bahunya menutupi kedinginan dan gemetar hebat tadi. Entah apa ada di benaknya, dirinya serasa melambung di angkasa. Kedua mata cokelatnya menatap mata merah Natsume yang juga terus menatapnya. Mereka seperti sangat mengenal lama, tapi hal itu belum bisa terjadi karena pintu lift terbuka. Mereka telah sampai di tempat yang ditentukan.
Resepsionis lantai ini, menyambut kedatangan keempat orang tersebut, setengah membungkuk kepalanya sedikit. "Selamat datang di perusahaan ini, Hyuuga-san dan Nogi-san. Kalian telah ditunggu oleh Jinno-sama, Narumi-sama dan Misaki-sama di dalam."
Yuu menunjukkan jalan di mana pintu tadi tertutup, terbuka dan menampilkan seorang perempuan berambut biru panjang. Tersenyum merekah melihat kedatangan orang-orang dinanti.
"Selamat datang. Dimohon Hyuuga-san, Nogi-san dan Mikan-chan masuk ke dalam. Mereka menanti Anda sekalian." Gadis itu membuka pintu lebar-lebar, meminggirkan posisinya agar Natsume, Mikan dan Ruka masuk ke dalam. Setelah mereka masuk sepenuhnya, gadis itu meminta izin pada Yuu agar dirinya bisa masuk bersama mereka. Yuu mengizinkannya.
Penyambutan kali ini ditunggu oleh pria berambut pirang panjang sebahu, Narumi, sesaat melihat Natsume, Ruka dan Mikan. Dia berdiri sambil berjabat tangan dengan keduanya kecuali Mikan sangat dikenalnya.
"Saya senang bisa bertemu Anda berdua," katanya tersenyum senang.
Ada sesuatu paling tak disukai Natsume dan Ruka tentang orang ini. Caranya berjalan, berbicara, memandang, dan bahasa tubuhnya. Seperti seorang laki-laki bergerak gemulai sambil memancarkan gigi putihnya dan mengedipkan sebelah mata. Natsume merasa sebentar lagi, dia membenci orang sok kenal ini.
Mereka mengangguk tanpa berbicara, membalas jabat tangan itu. Narumi juga menatap Mikan, dan mengedipkan sebelah matanya terkenal sok akrab. Natsume benci apabila tindakan itu termasuk menggoda Mikan, gadis di sebelahnya.
"Alasan kami datang ke sini adalah—"
Sebelum Natsume mengatakan sebenarnya, Narumi menahannya dengan mengibas-ngibaskan jari telunjuknya di depan wajah Natsume. Sepuluh jari Natsume mengepal, tak suka ada orang yang memotong kalimatnya.
"Kami tahu alasan kalian datang. Kerja sama kita akan ditentukan lewat bagaimana cara kau memahami setiap tindak tanduk perusahaan ini kepada perusahaan kalian," kata Narumi di depan mereka tanpa mempersilakan mereka duduk. "Perusahaan ini berbeda dengan perusahaan lainnya, menerima baik setiap kerja sama yang ada. Kami nggak keberatan apabila kalian bekerja sama dengan kami. Dengan satu syarat!" Narumi mengacungkan jari telunjuknya.
"Satu syarat?"
"Kalian berdua akan ditemani pasangan kerja masing-masing," sahut Narumi tersenyum. Dia, kemudian melirik Mikan yang memeluk jaket Natsume erat-erat, tak suka pada pandangan itu, lalu beralih ke Natsume. "Mikan akan menjadi pasangan Anda, Natsume. Sedangkan Hotaru, menjadi pasangan Ruka Nogi."
"EH? APA?!"
Teriakan itu terjadi saat Mikan membuka mulutnya. Tak percaya pada Narumi seenaknya menjadikan dirinya berpasangan pada Natsume. Ada sesuatu di benak Mikan untuk berjauhan dengan Natsume sebelum masuk terlalu dalam. Perasaan aneh sekilas tadi.
"Kenapa, Mikan? Kau nggak suka?" tanya Narumi melihat Mikan yang menunduk malu karena berteriak di depan para petinggi perusahaan ini. "Biarpun kau nggak suka, kau harus mau. Ini demi keselarasan perusahaan kita dengan perusahaan mereka."
"Maafkan saya, Narumi-sensei."
Narumi mendesah. Menoleh ke belakang, meminta bantuan kepada keduanya untuk menyuruh Mikan berpikir ulang pada keputusannya. Akhirnya Misaki, laki-laki berambut hitam kecokelatan, menghampiri Mikan dan berbicara dengannya.
"Kau nggak sendirian, Sakura-san. Kau akan ditemani Imai-san. Kau juga bisa belajar dengan Hyuuga-san atau Nogi-san selama itu nggak membebani pikiranmu." Misaki menepuk pelan bahu Mikan yang berselimut jaket Natsume. "Ini nggak bertahan lama, selama mereka berada di Kyoto saja. Hanya dua minggu. Apa kau bisa?"
Mikan mengangkat kepalanya, mengangguk pelan walau ada keraguan di dalam matanya. "Akan aku coba, Misaki-sensei."
"Bagus." Misaki menepuk lagi bahu Mikan.
Setelah demikian berlanjut, Narumi memberitahukan semuanya pada Natsume maupun Ruka. Setelahnya, dilanjutkan saat Mikan bersama salah satu diantara mereka. Sayangnya, Hotaru tidak ada di tempat karena ada urusan mendadak di kota lain. Besok baru pulang. Mikan juga kaget karena Natsume dan dirinya akan tinggal bersama di hotel yang disebutkan Narumi, hanya berbeda kamar.
Misaki berjabat tangan pada Natsume dan Ruka, tersenyum berterima kasih. "Kami senang bisa bekerja sama dengan kalian. Kami harap, kami bisa menjadikan perusahaan kalian menjadi salah satu perusahaan yang mampu kami naikkan reputasinya."
"Sama-sama, Misaki-san."
Narumi tak mau kalah. Dia berjabat tangan pada Natsume dan Ruka, atas kerja sama ini. Mengantarkan mereka ke bawah dibantu Nonoko, gadis berambut biru panjang tadi, mempersiapkan segalanya. Di sana, ada Yuu dan Kokoroyomi, membantu kepindahan Mikan ke hotel yang telah ditentukan.
Mikan merasa sebentar lagi ada badai. Badai yang mengoyak pertahanan batinnya. Perasaan aneh di dalam dirinya. Ini juga bisa dirasakan oleh Natsume, tapi itu tak diperlihatkannya di depan orang lain terutama di depan sahabatnya.
Apa yang terjadi nanti?
TBC
