Saat aku berumur tujuh tahun, musim semi adalah hal terbaik untukku. Musim yang selalu aku tunggu-tunggu setiap tahunnya, karena ia begitu identik dengan suasana hatiku, seperti Kim Jongin
Ada pohon Cherry yang tumbuh besar di halaman depan rumah. Saat musim semi tiba, kelopak-kelopaknya akan jatuh berserakan ke halaman maupun ke jalanan. Aku selalu suka menatap bunga Jongin yang berguguran diterbangkan angin. Ibu selalu tersenyum ketika aku mengumpulkan kelopak-kelopak itu dan memasukkannya ke dalam botol. Menyimpannya di dalam lemari sampai ia kering.
Biasanya, kami akan menghabiskannya dengan duduk di teras ditemani secangkir ocha hangat khusus yang dibuatkan ibu.
Hingga suatu ketika kami berlibur ke Kyoto. Ayah bilang, pemandangan di kota itu sangat indah. Dan saat itulah pertama kalinya aku melihat ribuan kelopak bunga itu jatuh ke tanah.
"Ibu, boleh aku mengumpulkannya?" Tanyaku saat itu. Ibu hanya mengangguk kecil sambil tersenyum lebar. Tak lupa ia mengambil botol yang biasa aku gunakan untuk mengisi kelopak bunga Jongin itu.
Aku segera berlari ke sana, ke tempat di mana kelopak-kelopak indah itu jatuh. Sesekali aku menoleh ke belakang melihat Ayah dan Ibu yang duduk di bangku taman dekat situ sambil melihat ke arahku, -tersenyum.
Aku menatap dengan mata cokelat yang berbinar kepada warna-warna merah muda yang serupa dengan warna rona disekitar pipiku. Memungutnya satu-satu lalu memasukkannya ke dalam botol.
Aku tak sengaja melirik ke samping dan melihat ada anak lain yang sedang melakukan hal yang sama sepertiku. Aku baru tahu, ternyata ada anak lain di dunia ini yang mempunyai hobi yang sama denganku –mengumpulkan kelopak bunga Jongin.
Wajahku memerah karena malu ketika tertangkap basah sedang melihatnya sejak tadi. Dengan gugup aku lekas memungut kelopak-kelopak itu lalu memasukkannya ke dalam botol milikku.
Dan ketika aku sedang asyik dengan kegiatanku, sebuah botol berisi penuh bunga Jongin mengacung tepat di depan mataku.
Spontan aku menengadah dan langsung disuguhi oleh tatapan sepasang jelaga hitam anak laki-laki berambut raven yang tadi menjadi pusat perhatianku.
Dia menggoyang-goyangkan botol itu di depan mataku saat aku tak kunjung mengambilnya. Secara reflex, aku langsung meraih benda itu dari tangannya sebelum kembali melihat ke arahnya. Dia tersenyum tipis sebelum berdiri dengan tegak.
"Kamu cantik, seperti bunga Jongin." ujarnya. "Ibuku selalu suka bunga Jongin." Saat itu, aku tidak mengerti untuk apa dia mengatakan hal itu padaku. Jadi yang aku lakukan adalah tersenyum lebar padanya.
Dan entah bagaimana caranya, kami bersama-sama mengutip kembali kelopak bunga itu dan menaruhnya ke dalam botol milikku yang belum terisi penuh.
Hingga hari menjelang sore ketika aku harus berpisah dengannya. Dan itu pertama kalinya aku merasa bahwa aku sangat bodoh karena tidak menanyakan namanya.
Dan hal yang terakhir dapat kulihat darinya adalah; warna putih perak yang melingkar dan saling bertumpukan seperti angin topan yang menempel di punggung jaketnya.
Saat itu, adalah musim semi paling menyenangkan seperti yang biasa kuhabiskan dengan Ayah dan Ibu. Namun yang membedakannya kali ini adalah, aku mengahbiskannya dengan bocah laki-laki yang tidak ku ketahui siapa namanya.
Dan kini, aku juga merasakan hal yang sama, dengan pemuda bernama Oh Sehun.
.
.
.
[4/4]
Disclaimer: Cast belong to GOD. Story line is belong to Bang Kise Ganteng.
Warning: GS!Some, Typo(s), AU, limr insplit, and manymore.
.
.
.
"Apa kau mencintai Kris, Jongin?" Onyx Sehun membidik tepat permata cokelat karamel milik gadis di depannya. "Jawab pertanyaanku dengan jujur!"
Entah mengapa Jongin gelagapan seketika saat onyx Sehun tak melepaskan sedikitpun pandangan darinya. Gadis itu meremas kedua tangannya yang ada dalam pangkuannya, resah. Pandangannya hanya terfokus pada itu, seolah-olah tangan adalah objek yang paling menarik untuk dilihatnya saat ini.
"Kenapa diam saja?" Sehun menggenggam tangan Jongin yang sedikit berkeringat dan meremasnya pelan. Gadis itu terlihat terkejut walau masih tetap menunduk, namun Jongin tak menampik tangan Sehun.
"Aku…sebenarnya…"
"Apa? Kau mau bilang kalau kau tidak tahu." Potong Sehun cepat karena Jongin tak kunjung menjawab. Jongin merengut imut membuat Sehun gemas dan langsung mengecup pipi gembilnya dengan gerakan kilat. "Jadi sekarang, jawab pertanyaanku." Paksanya lagi.
Jongin mengangkat kepalanya, menatap Sehun dengan kokoa-nya dalam. Mengagumi keindahan onyx itu sekaligus mencari sesuatu dalam bola hitam tak berdasar itu.
"Kenapa kau ingin tahu dan selalu memaksaku?" ujarnya pelan. "Sejujurnya, jika kau menanyakan hal tentang bagaimana perasaanku pada Kris-ge aku benar-benar tidak tahu." Imbuhnya sambil menggeleng pelan. Kokoa-nya menatap Sehun dengan sorot sedih, "disatu sisi, aku menyayanginya tapi di sisi lain, aku seolah membencinya."
Sehun terpekur sejenak, "kau membecinya?" sebelum kembali bertanya karena merasa kurang yakin dengan perkataan Jongin.
"Ya. Aku benci sifatnya yang egois dan pemaksa sepertimu, Sehun-ie"Jongin kembali menundukkan kepalanya.
"Jadi, kau juga tidak suka padaku?" Onyx-nya sedikit menyipit membuat Jongin tidak bisa menahan senyumnya karena melihat Sehun yang begitu lucu di matanya. "kau bahkan lebih sering tersenyum bila dekat denganku, dari pada dengan dia. Bisa kusimpulkan bahwa kau menyukai ku kalau begitu?"Jongin langsung melunturkan senyumnya begitu Sehun menatapnya serius. Sudah hilang entah kemana raut jenaka yang pria itu tampilkan tadi.
"Sehun-ie, bisa tolong hentikan pembicaraan ini. Aku benar-benar...merasa tidak nyaman."Jongin menatap Sehun penuh permohonan membuat pria itu menghela nafas.
Suasana diantara mereka kembali hening, dengan Jongin yang duduk canggung di tempatnya sedangkan Sehun yang hanya diam tampak memikirkan sesuatu.
"Ehm, Sehun-ie?" Panggil Jongin pelan sambil melihat sekitar. "rumahmu sepi sekali, kau tinggal sendiri?"
Sehun menggeleng, lantas menjawab, "tidak. Kedua orang tua ku sedang pergi keluar kota, dan Sejong-Hyung selalu pulang malam." Jawabnya kemudian. Jongin mengangguk sambil mulutnya mengeluarkan suara 'oh' pelan.
Keadaan kembali hening dan Jongin sudah duduk gelisah di tempatnya. Gadis itu kembali meremas jari-jarinya sambil sesekali melirik kecil ke arah Sehun.
"Uhm, Sehun-ie kupikir aku harus segera pulang," Mendengar suara gadis di sebelahnya membuat Sehun menoleh. Jongin sedang berdiri di sampingnya dengan tas gadis itu yang telah tersampir rapi di bahu mungilnya. "aku pamit dulu ya," izinnya lagi. Gadis Tan itu akan segera hengkang dari rumah Sehun sebelum tangan pria itu menghentikan gerakannya.
"Aku antar."Jongin baru saja akan menyerukan penolakan, tetapi Sehun sudah pergi dari hadapannya. Gadis itu kembali duduk di sofa sembari menunggu Sehun kembali.
Selang beberapa menit kemudian, pemuda Pale itu sudah berdiri di hadapannya dengan menggunakan jaket biru dongker milikknya.
"Sebenarnya kau tidak perlu mengantarku, Sehun-ie. Aku bisa pulang sendiri."
Sehun hanya mengangkat satu alisnya tinggi seraya melirik kecil Jongin, membiarkan saja perkataan Jongin sebelumnya menguap dibawa angin.
Jongin menghembuskan nafas kesal ketika melihat pandangan tak acuh dari Sehun. Lelaki itu malah dengan santai duduk di atas sepeda motornya sebelum menyalakan mesinnya.
Merasakan tempat duduk di belakangnya masih kosong, Sehun kembali melirik Jongin, menyuruh gadis itu duduk di belakangnnya lewat isyarat mata. Jongin menatap mata Sehun lama sebelum naik ke atas sepeda motor pria itu.
"Peluk aku Jongin, angin malam sangat dingin." Ucap Sehin pelan. Jongin hanya menampilkan wajah yang menyiratkan penolakan membuat Sehun tersenyum. "Baiklah kalau kau tidak mau. Dan aku tidak akan bertanggung jawab kalau sampai kau sakit."
Dan Sehun tidak bisa menahan senyumnya lebih lama lagi ketika merasakan tangan-tangan Jongin menyusup di pinggangnya. Melingkarinya dengan erat. Sehun melirik ke belakang di mana kepala gadis itu bersandar di punggungnya.
"Sampai di sini saja, Sehun-ie," Sehun langsung menghentikan laju sepeda motornya ketika mendengar seruan Jongin. Gadis itu segera turun dan berdiri di samping Sehun. "terima kasih," Katanya lagi.
Sehun memperhatikan lingkungan sekelilingnya sebelum kembali menatap Jongin. "Yang mana rumahmu?" tanyanya.
"Tidak jauh dari sini," jawab Jongin. "sudah ya, Sehun-ie."
"Uh, Jongin.." panggil Sehun pelan. Jongin membalikkan badannya hingga menghadap pemuda Pale itu. Sehun menggeleng pelan sebelum tersenyum, "sampai jumpa besok." Katanya lagi.
Jongin balas tersenyum sebelum berlari menuju rumahnya. Sehun masih melihatnya, sebelum sosok Jongin hilang di telan kegelapan malam. Pria Pale itu langsung menyalakan mesin motornya dan melaju dengan kecepatan maksimum membelah jalananan Seoul yang sepi.
.
.
.
Jongin mengernyit heran ketika melihat mobil pink mencolok milik Baekhyun terparkir rapi di pekarangan rumahnya. Gadis itu lalu masuk ke dalam guna melihat kekacauan apalagi yang akan dilakukan oleh sahabat sejawatnya itu di rumahnya ini.
Jongin langsung berjalan ke dapur dan mendapati Baekhyun sedang menata makanan di meja makan.
Gadis bermana sipit itu melempar senyum lebar padanya. "Woh, ternyata kau sudah pulang, ya?"Jongin tidak tahu perkataan Baekhyun itu terkesan menggoda atau menyindir dirinya. "Apa saja yang dia lakukan padamu?"
Jongin menarik bangku untuk duduk sementara Baekhyun mengambil beberapa makanan lagi. "Tidak ada yang kami lakukan, Byunbaek." Jongin mencomot okonomiyaki yang ada di depannya.
"Hoohh. Kukira Sehun itu sedikit agresif," Baekhyun melempar tatapan jenaka kepada Jongin, membuat gadis itu tersenyum kecut mendengarnya.
"Baekhyun, menurutmu sesuatu yang membuat kita berdebar, menyenangkan dan takut di saat bersamaan itu apa?" Tanya Jongin sambil menyuap okonomiyaki ke dalam mulutnya.
Baekhyun mengisi gelasnya dengan air sebelum meminumnya. "Membuat berdebar dan terasa menyenangkan, huh?" tanyanya lagi, sekedar memastikan. Gadis bermahkotakan merah wine itu menaruh gelas di samping piringnya. Jongin mengangguk membenarkan, sedangkan Baekhyun tampak berfikir di tempat duduknya. "Mungkin saja itu cinta," Jawabnya kemudian.
Jongin termangu di bangkunya setelah mendengar jawaban Baekhyun. Jika Baekhyun mengatakan bahwa itu adalah perasaan cinta, berarti saat ini dia sedang jatuh cinta.
Jatuh cinta pada Oh Sehun.
"Kenapa tidak dimakan?" suara penuh tanda tanya dari Baekhyun sukses menariknya dari lamunan. Gadis itu melempar senyum kepada sahabatcentilnya sebelum menyuap kembali makanan ke dalam mulutnya.
"Kau akan menginap?" tanya Jongin di sela-sela kegiatan makan mereka. Baekhyun hanya menggeleng, sebelum menjawab.
"Sebenarnya aku ke sini untuk menjemputmu," Katanya pelan. "Kris sudah pulang," Jelasnya lagi. Jongin tampak terkejut namun hanya sebentar. "Aku tahu kau sedang bersama Sehun, makanya aku memaksa untuk menjemputmu. Bisa gawatkan kalau dia sampai tahu."
Jongin hanya bisa memandang kosong pada sumpit yang ada di tangannya. Baekhyun sendiri hanya bisa menghela nafas pelan melihat Jongin. "Sudahlah. Lebih baik kau coba tempura udang ini, aku yang membuatnya sendiri, loh." Kata Baekhyun bangga sembari menaruh satu buah tempura udang di piring Jongin.
Dan Baekhyun bersyukur karena raut muka Jongin langsung cerah karenanya.
.
.
.
Jongin langsung masuk ke dalam rumah Kris bersama Baekhyun begitu mereka sampai. Dua gadis berbeda surai itu sempat bertemu Iruka di ruang tengah. Pemuda yang masih melajang hingga sekarang dengan luka melintang di hidungnya itu hanya tersenyum singkat sebelum berjalan keluar dari rumah.
Jongin sudah tahu seluk beluk kediaman Kris ini dan ia juga tahu di mana tempat pria itu suka berdiam diri dan bersantai.
Jongin membuka pintu yang menghubungkan mereka dengan teras belakang dengan pelan. Kris ada di sana, menatap langit malam tanpa bintang yang merajai malam ini.
"Kris-ge" Tegur Jongim pelan. Pria itu menoleh padanya sekilas sebelum kembali menatap langit.
"Mengapa kau lama sekali,"Jongin dan Baekhyun hanya bisa saling pandang saat kalimat itu keluar dari bibir Kris, "aku sudah menunggumu dari tadi." Lanjutnya lagi.
"Maaf ya, aku dan Baekhyun memasak makanan untukmu dulu. Makanya jadi sedikit lama." Ujar Jongin berkilah sembari menunjukkan rantang berisi makanan miliknya.
Kris tersenyum kecil, lalu bangkit dari duduknya menghampiri Jongin yang berdiri di depan pintu bersama Barkhyub. Tangan lelaki itu langsung merangkul bahu Jongin posesif setelah memberi ciuman kilat pada pelipis kekasihnya.
"K-kurasa aku harus pulang." Ujar Barkhyun setelah cukup lama berdiam diri. Di pandangi dengan begitu dalam oleh jade Kris sedikit membuatnya gugup juga. Baekhyun merasa bahwa Kria ingin mengulitinya hidup-hidup lewat tatapannya.
"Tidak menginap saja?" tanya Jongin.
Baekhyun hanya menggeleng sebagai jawaban. "Sampai nanti, Jongin, Kris!" Gadis itu langsung pergi dari hadapan dua sejoli itu. Kris hanya memandang punggung Baekhyun dengan tatapan datar.
"Kau sudah makan?" Tanya Jongin pada kekasihnya. Kris menatapnya sebentar, sebelum menggeleng.
…
…
"Akhir-akhir ini kau jarang bicara?"Jongin menatap Kris yang tengah menyantap makanannya dengan khidmat.
"Aa. Aku hanya tidak tahu apa yang harus di bicarakan,"Jongin menaruh lagi satu tempura udang di piringKris. "bagaimana dengan sekolah?"
"Seperti biasa."
Kepala pria itu mengangguk kecil. Jongin menatap Kris sedih. Kadang ia merasa begitu dicintai oleh kekasihnya ini. Kris memang mencintainya, hanya saja caranya salah. Jongin tanpa sadar meneteskan air matanya, hingga jatuh ke kakinya.
"Kris-ge, apa kau mencintaiku?"Kris mengangkat kepalanya menatap wajah Jongin yang kini dipenuhi air mata. "Apa…kau benar-benar mencintaiku?" tanyanya lagi.
Kris hanya terdiam di tempatnya, menatap Jongin dengan pandangan yang sulit diartikan. Pria itu lalu menaruh piringnya di lantai, menggeser semua benda yang ada di depannya dengan sebelah tangan lalu mendekati Jongin.
"Kenapa kau bertanya pertanyaan yang sudah kau tahu jawabannya,"Kris menangkup kedua pipi basah Jongin seraya menyeka air matanya. "perasaanku bahkan lebih dari kata cinta itu sendiri."Kris mendekatkan wajahnya pada Jongin, menempelkan bibirnya di atas bekas-bekas jejak air mata gadisnya.
Kria lalu menarik Jongin duduk di atas pangkuannya, masih dengan menciumi wajah gadis itu. "Seharusnya aku yang bertanya begitu." Gumamnya pelan. Lelaki itu mendekap Jongin dengan erat, seolah-olah takut angin malam akan mengambil Jongin darinya.
'Apa kau mencintaiku, Jongin?'
…
Kris menggedong dengan penuh protektif tubuh Jongin yang jatuh tertidur dalam pangkuannya sejak tadi. Lelaki itu sempat berselisih jalan dengan nenek Cha yang akan masuk ke dalam kamarnya.
"Oh ya ampun, saya tidak tahu nona akan menginap di sini," Katanya dengan penuh penyesalan, begitu pula dengan wajahnya, "kalau begitu.."
"Tidak usah," Potong Kris cepat, "dia tidur bersamaku." Tungkai kakinya langsung bergegas setelah mengatakan hal itu pada nenek Cha –pengasuhnya sejak kecil.
Krid meletakkan tubuh Jongin dengan nyaman di ranjang king size-nya. Dia pandangi dengan intens wajah Jongin yang terlihat damai dalam tidurnya.
Mengapa rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat wajah gadis yang dicintainya itu begini. Wajah tidur Jongin yang tampak berseri-seri terbias remang-remang cahaya bulan yang menerobos masuk dalam kamar.
Tangannya bergerak pelan, mengelus pipi gembil Jongin, mencubitnya sedikit membuat pipi chubby yang tadinya tan sedikit merona. Lantas ia tersenyum, tersenyum getir lebih tepatnya. Jongin tidak pernah merona jika di dekatnya. Wajah yang selalu Jongin tunjukan pada Kris adalah; wajah ketakutan dan selalu ingin lari menjauh darinya.
Kris selalu menyadari hal itu. Oleh sebab itu, Kris sering pergi dari hadapannya, memberi jarak sementara waktu untuk mereka. Membuat alasan bahwa ia memantau perusahaan ayahnya yang ada di Kanada, padahal sebetulnya hal itu tidaklah benar. Itu hanyalah kebohongan yang Kris ciptakan agar Jongin tidak merasa selalu tertekan berada di dekatnya. Agar setidaknya, gadisnya ini bisa bebas darinya.
Namun sepertinya, Jongin telah salah mengartikan kebebasan yang ia berikan.
=0=0=0=
Sehun menunggu dengan sabar di depan rumah bercat kuning di depannya kini. Sesekali ia melirik arloji yang melingkar manis di pergelangan tangannya lalu kembali menatap rumah yang ada di depannya.
"Yo, Sehun."
Park Chanyeol keluar dari rumahnya dengan tampang berseri-seri, tak merasa bersalah sedikitpun karena sudah membuat Sehun menunggu lama.
"Kau lama sekali, Tiang." Ketus Sehun. Chanyeol hanya cengengesan tak jelas membuat Sehun mendengus, "cepat, kita sudah telat." Ujarnya lagi. Pemuda tinggi bermarga Park itu langsung duduk di belakang Sehun, sebelum pemuda itu mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan maksimum di jalanan protocol.
.
.
Chanyeol mengelus dadanya dengan gerakan gusar sambil melempar tatapan tajam pada Sehun. Mereka sudah sampai di gedung sekolah hanya dalam waktu sepuluh menit.
Jarak dari rumah Chanyrol dengan sekolah adalah dua kilometer. Bayangkan saja bagaimana pria pale itu mengendarai motornya.
"Kau tahu, aku bahkan sempat bertanya apakah aku masih hidup sekarang?" tanya Chanyeol sarkastik. Sehun hanya menyeringai tipis lalu berjalan meninggalkan Chanyeil yang masih mengomel tak jelas di belakang sana.
…
…
"Hm, aku mencium sesuatu yang aneh di sini?"Baekhyun mengendus tepat di telinga Jongin membuat sang gadis menoleh. Gadis Kim itu melempar tatapan bertanya pada Barkhyun yang hanya dibalas dengan tatapan menggoda dari gadis Byun itu. "Jangan pura-pura Jongin, kau sudah memperhatikan Oh Sehun sejak tadi."
"Aku tidak memperhatikannya." Kilah Jongin.
"Hee~ cepat lari dan katakan saja kalau kau mencintainya." Goda gadis Byun itu lagi.
"Jangan mengada-ngada, Baekhyun. Itu tidak mungkin."Jongin berbalik lalu duduk di bangkunya. Kris sedang menghadap kepala sekolah karena sudah sering absen dari kelas.
"Bahkan kau bukan pembohong yang baik Jongin. Mulut bisa berbohong, namun matamu tidak." Jelas Baekhyun lagi. Gadis berambut merah itu mulai jengah melihat tingkah sahabat Tan-nya ini. "Dan jangan katakan kau tak bisa karena Kris." Baekhyun melotot tajam padanya membuat Jongin mendesah pelan.
Gadis itu mengerang pelan, "Oh Tuhan, Jongin. Kita sudah lama saling mengenal, dan aku sudah tau kalian luar dalam." Katanya tajam.
Jongin mendesah dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Baekhyun masih mencecarnya dengan perkataan gadis itu. "Tatapanmu padanya sangat kontras dengan tatapannya padamu. Singkatnya, kau tidak mencintainya."
Perkataan Baekhyun memang ada benarnya. Jongin memang tidak mencintai Kris. Yang ia rasakan pada laki-laki itu hanya sebuah rasa sayang atau sekarang sudah berubah menjadi rasa kasihan. Ia tidak lagi merasa berdebar ketika Kris menyentuhnya atau menciumnya. Malah sekarang perasaan itu ia rasakan kepada Sehun.
Mungkin saja ia telah jatuh hati pada pemuda berkulit pucat itu. Atau…entahlah. Memikirkan hal ini membuat kepalanya menjadi sakit.
"Kau juga butuh kebahagiaan Jongin." Suara Baekhyun kembali mengudara sebelum diam karena Guru mereka sudah datang. Dan kelas pun menjadi hening seketika.
Bel istirahat sudah berbunyi selama sepuluh menit yang lalu, namun Jongin masih diam duduk di kelasnya. Kris ada di sebelahnya, menyalin catatan karena pria itu banyak ketinggalan pelajaran. Jongin masih memikirkan tentang perkataan Baekhyun tadi pagi, apalagi yang bagian terakhir.
"Kau juga butuh kebahagiaan Jongin."
Jongin tidak mengerti kebahagiaan seperti apa yang Baekhyun maksudkan di sini. Akan tetapi, ketika mengingat kata kebahagiaan, wajah Sehun lah yang terlintas di benaknya. Bagaimana ketika pemuda itu menggodanya, memberinya ciuman, dan ketika Sehun menggenggam tangannya. Jongin merasa bahwa ia tengah melayang di langit ke tujuh bersama lelaki itu.
Apa mungkin, dia benar-benar telah jatuh cinta pada pemuda Pale itu?
Ah, mengapa masalah cinta saja begitu rumit?
Gadis bersuran Magneta itu melirik kecil Kris yang duduk di sebelahnya. "Uhm, Kris-ge. Aku ke toilet sebentar ya?" Walau bagaimanapun, Jongin harus tetap meminta izin kepada kekasihnya ini, walau itu hanya ingin pergi ke toilet.
Kris berhenti menulis lalu menatap permata cokelat Jongin. Begitu intens sehingga Jongin harus mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Kadang Jongin merasa terintimidasi oleh tatapan Kris yang seolah mencari-cari sesuatu darinya.
"Perlu aku temani?" Jongin melotot pada Kris membuat sang pria tersenyum. "Ya sudah." Katanya sambil melanjutkan lagi kegiatannya yang sempat terhenti.
Jongin sendiri langsung menggeser pelan kursinya sehingga menghasilkan suara berderit yang tidak terlalu keras. Gadis itu buru-buru keluar dari kelas tanpa melihat ke belakang.
Seandainya saja ia menoleh sedikit, maka ia akan menemukan tatapan tajam Kris yang serasa membakar punggungnya.
…
…
Jongin berjalan cepat menuju atap sekolah. Toilet hanya pengalihan saja agar Kris mengizinkannya pergi sebentar.
Kepala berhelaian pink gelap mengkilap miliknya menyembul dari balik pintu atap yang sudah terbuka sedikit. Matanya bergerak ke segala arah, berusaha mencari keberadaan lelaki berhelaian –yang sekarang raven di sana.
Jongin tahu ini bodoh karena seharusnya ia mencari Sehun di kelasnya, bukannya di sini. Namun entah mengapa ia malah mencari pria itu di sini. Mungkin karena insting!
Gadis itu baru saja berbalik ingin kembali ke kelasnya sebelum merasakan bibirnya ditekan oleh sesuatu yang kenyal.
Matanya melebar kaget melihat bulu mata lentik di depannya, secara reflex Jongin langsung mendorong bahu Sehun menjauh membuat tautan bibir mereka terlepas.
Sehun menyeringai ketika Jongin melotot tak suka ke arahnya. "Jangan melakukannya tiba-tiba, Sehun-ie. Aku bisa saja mendorongmu dengan kencang tadi hingga kau terjungkal ke bawahkan?"
Sehun hanya tersenyum tipis mendengarnya. "Habisnya kau sangat manis," Jawabnya sambil megendikkan bahu. "Mau apa kau ke sini." Jongin tidak tahu perkataan Sehun itu termasuk pertanyaan atau pernyataan, karena saat mengatakannya pria itu menggunakan nada yang monoton.
"Aku ingin bertemu denganmu." Jawab Jongin dengan rona merah menghiasi wajahnya karena malu mengatakan alasannya pada Sehun. Sedangkan pria itu tidak bisa menahan senyumnya lebih lama lagi. Dari awal, Sehun sudah melihat Jongin lari ke atap sendirian dan Sehun menggunakan kesempatan ini untuk kembali bertemu dengannya, dengan gadis pujaannya.
"Oh." Katanya berusaha agar terlihat tak acuh. Dalam hati Sehun sudah bersorak gembira karena Jongin sendiri yang ingin menemuinya. Terbukti dari pengakuan gadis itu. "Mau apa?" ujarnya lagi.
"Mengenai pertanyaan yang kau ajukan kemarin…" Jongin memenggal kata-katanya membuat Sehun mengernyitkan alis tidak sabar. Ia sudah tahu kemana alur pembicaraan ini. "aku belum tahu pasti. Tapi nanti, jika semuanya sudah jelas, maka aku sendiri yang akan mengatakannya padamu Sehun-ie." Jongin lekas berlari dari hadapan Sehun tanpa sempat Sehun cegah sebelumnya. Pria itu hanya bisa menatap di mana Jongin berpijak tadi sebelum berbalik.
Dari kata-kata Jongin tadi, mungkinkah Sehun punya harapan.
"Jadi, Oh Sehun ya?" Jongin lekas menghentikan langkahnya ketika mendengar suara seseorang dari balik dinding. "Jadi kau sudah yakin sekarang?"
Jongin hanya memutar bola matanya ketika tahu bahwa orang itu adalah Baekhyun. "Belum, makanya aku bilang akan mengatakan padanya ketika waktunya sudah tepat," Jawab Jongin.
Baekhyun menyisir sedikit helaian rambutnya yang terbang terkena terpaan angin. "Haa~, romansa anak muda." Dengusnya.
Jongin mencibir, "seperti kau tidak merasakannya saja. Kau bahkan bercerita padaku tentang pemuda berambut panjang bernama Vernon waktu itu."
Baekhyun gelagapan ketika Jongin membahas tentang pemuda berambut panjang yang ia temui tempo hari. "Jangan salah mengartikan, aku hanya, um, hanya merasa kesal padanya, makanya bercerita."
"Benarkah? Tapi rona merah di wajahmu itu sama sekali tidak bisa berbohong." Jongin tersenyum puas ketika Baekhyun mendelik kepadanya.
"S-sudahlah, ayo kita ke kelas."
Baekhyun langsung pergi mendahului Jongin yang masih tersenyum menggoda padanya. Dan Jongin sendiri baru menyadari, bahwa Baekhyun itu tsundere.
=0=0=0=
Sehun duduk di atas sepeda motornya dengan senyum tak lepas dari wajah tampannya. Suara Jongin yang berbicara dengan nya di atap sekolah tadi bahkan masih terngiang-ngiang di telinganya.
Chanyeol sendiri hanya memandang malas ke arah Sehun. "Hun, menurut perkiraan ku siswi-siswi di sini bisa terkena serangan jantung mendadak kalau kau masih tersenyum juga." Sehun hanya melirik malas ke Chanyeol. Hilang sudah semua lamunannya tentang gadisnya akibat suara Chanyeol.
"Oh, aku tahu kau begini bukan tanpa alasan. Tapi, ayolah, kau bisa menyambung khayalanmu itu di rumah nanti." Kata pria berambut jabrik itu gusar.
"Hn, baiklah." Chanyeol hanya bisa cengengesan ketika mendengar gumaman Sehun. Pria jangkung dengan mata almond itu langsung duduk di belakang Sehun. Sehun sempat meliriknya sekilas sebelum menyalakan motornya dan melaju di jalanan Seoul.
…
=0=0=0=
…
Jongin menumpu dagu pada kedua kakinya yang ia lipat diatas sofa. Matanya menatap keluar jendela yang sengaja tak ia tutup.
Perlahan Jongin bangkit dari duduknya, mengambil jaketnya lalu memakainya. Kaki-kaki jenjangnya lalu berjalan mendekati jendela, menutupnya sambil melihat langit malam, tanpa ditemani bulan tanpa hamparan bintang. Begitu sunyi. Dan entah mengapa, melihat langit saat ini membuatnya seperti menatap mata Sehun.
Ah, Jongin merasa sudah gila karena memikirkannya terus.
Jongin berjalan keluar rumahnya, hanya berjalan kaki. Sesekali ia merapatkan jaketnya ketika merasakan udara dingin menusuk-nusuk masuk ke kulitnya.
Jongin sudah melihat ramalan cuaca di tv dan persentase hujan akan turun hanya lima belas persen. Namun, baru saja ia sampai setengah jalan, hujan malah turun. Awalnya hanya berupa titik-titik sebelum berubah menjadi deras. Jongin lupa mengantisipasi hal ini dan ia sudah berjalan kaki terlalu jauh jika ingin berbalik ke rumah untuk sekedar mengambil payung.
Jongin hanya diam saja saat dirinya di guyur oleh air hujan yang turun semakin deras itu. Dia tidak bergeming sedikitpun merasakan tiap tetes air mengguyur tubuhnya.
Tangannya perlahan terangkat ke atas, menyeka air hujan yang sedikit mengaburkan pandangannya.
Jongin tersenyum lebar. Selama ini ia tidak pernah menyukai hujan, tapi kali ini, entah mengapa ia merasa berbeda. Hujan ini seolah-olah mendukung suasana hatinya yang tengah mengalami euphoria.
Namun hal itu tak berlangsung lama ketika Jongin merasakan tubuhnya tertarik ke belakang. Matanya membulat kaget saat melihat Sehun berdiri di depannya dan memandangnya tajam.
"Apa yang kau lakukan di sini, ha? Kau bisa sakit karena kehujanan." Tukas pria itu. Jongin tidak bisa mendengar begitu jelas apa yang di katakan Sehun karena air hujan yang beradu dengan tanah mengeluarkan suara cukup berisik.
"Sehun-ie, kenapa kau ada di sini?" Tanya Jongin sedikit keras. Takut Sehun tidak bisa mendengar suaranya.
Pemuda pale itu menoleh ke belakang sambil menunjuk sebuah rumah besar yang ada di pinggir jalan. Mata Jongin melebar terkejut, tak menyangka bahwa langkah kakinya membawa ia ke rumah pria itu.
"Kau basah kuyup." Ujar Sehun. Tangannya langsung menarik Jongin, membawa gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
Sehun langsung menghidupkan penghangat ruangan ketika mereka sampai di rumah. Jongin awalnya ragu ketika masuk ke dalam rumah megah milik keluarga Oh ini karena tubuhnya yang basah kuyup. Kakinya juga sedikit kotor karena jejak-jejak tanah.
"Ayo." Jongin menoleh ketika mendengar suara Sehun.
"Mau kemana?"
"Kita ke kamarku. Kau harus ganti baju agar tidak masuk angin." Ujar Sehun. Lelaki pucat itu dengan sabar mendekat kearah Jongin, menarik tangan gadis itu dengan lembut. Jongin awalnya menolak, namun Sehun tidak perduli. Lelaki itu malah menyeretnya ke lantai atas kamarnya.
"Pakai ini. Kamar mandi di sebelah situ." Sehun menyodorkan sepotong baju kaos berwarna kuning beserta lejing hitam padanya. Matanya melirik kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu.
Jongin langsung masuk ke dalam kamar mandi ketika Sehun keluar dari kamarnya. Lelaki itu memilih memakai kamar mandi yang ada di ruangan lain.
.
Setengah jam kemudian Jongin keluar dari kamar mandi, bersamaan dengan Sehun yang masuk kembali ke dalam kamar. Jongin berjalan pelan kearah meja belajar Sehun sambil menyeka rambut panjangnya yang masih meneteskan air.
Adik Oh Sejong itu berjalan mendekat ke arah Jongin, menyuruhnya duduk di atas ranjang di samping pemuda itu. "Minum ini." Katanya sambil menyodorkan secangkir ocha hangat yang masih mengepulkan asap.
Sehun mengambil alih pekerjaan Jongin yang mengeringkan rambut gadis itu ketika Jongin menyesap teh buatannya.
"Orangtua mu, belum pulang juga, Sehun-ie?" Tanya Jongin pelan. Sehun masih dengan kegiatannya yang mengeringkan rambut Jongin. "jadi, kita hanya berdua begitu?" tanyanya lagi.
"Hn. Jadi jelaskan padaku, mengapa kau hujan-hujanan tadi?" tanya Sehun sambil menyampirkan handuk yang sejak tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambut Jongin di sandaran kursi belajarnya.
"Itu..aku hanya jalan-jalan, tiba-tiba hujan turun."
"Jalan-jalan ke rumahku?" tanya Sehun memastikan. Jongin meliriknya dari bulu mata lentiknya sebelum menggeleng.
Jongin menaruh gelas yang sedari tadi di genggamnya. "Aku hanya jalan-jalan, tiba-tiba sudah ada di sekitar rumahmu," Katanya pelan. "sebenarnya, ada yang ingin aku katakan."
Sehun mengerutkan alis sambil memandang emerald jernih milik Jongin. Gadis itu membuang muka sambil jari-jarinya saling memilin.
"….mu," Jongin menggumam tak jelas di sebelahnya.
"Apa? Kau berbicara tidak jelas Jongin." ujar Sehun. Alis hitam pemuda itu semakin mengerut dalam saat Jongin tidak juga menjawab perkataannya.
Sehun berjengit terkejut saat Jongin membalikkan tubuhnya dan menatap pria datar itu tajam. "Aku menyukai mu," dan mencium bibirnya.
Hanya pagutan kecil yang gadis itu lakukan padanya, namun membuat hati Sehun tertampar keras dengan kebahagiaan. Mengalir deras ke dalam tubuhnya, seperti jantungnya yang kini berdetak cukup keras.
Ketika ciuman itu terlepas, Sehun bisa melihat wajah merah merona gadis itu yang kini tersenyum malu-malu di depannya.
Sehun sudah tidak bisa membendung perasaannya lagi. Lelaki Oh itu langsung menerjagnya dengan pelukan, membuat tubuh keduanya terhempas di atas ranjang. Sehun merambat naik ke atas tubuh Jongin lalu mencium bibirnya keras dan dengan semua perasaan yang ia miliki.
"Ah, Sehun-ie." Jongin mendesah pelan ketika Sehun menciumi telinganya. Menggigit kecil cupingnya. "Apa yang ingin kau lakukan?" Jongin mendorong dada Sehun pelan ketika lelaki itu mencium lehernya.
"Jongin… jadilah milikku," Sehun berujar pelan. Tubuhnya yang menindih Jongin semakin merapat, membuat dada mereka saling bersentuhan. "dan setelah ini, aku akan membawamu pergi jauh-jauh dari Kris."
"Hentikan!" Jongin menolak namun tubuhnya menikmati sentuhan Sehun. Pria itupun tak gentar, matanya sudah tertutup kabut nafsu sejak tadi. Sehun memulai sentuhannya dengan menciumi wajah Jongin, lalu turun ke leher jenjangnya membuat sang gadis mendesah karena geli.
Sehun membuka perlahan baju yang dikenakan Jongin membuat tubuh gadis itu polos. "Sehun-ie, aah." Desah Jongin ketika pemuda Pale itu menciumi dadanya. Sehun menarik tangan Jongin, mengalungkannya di sekitar lehernya. Bibirnya kembali menyentuh bibir Jongin dan melumatnya.
Hingga akhirnya ruangan itu di penuhi suara erangan dan geraman mereka berdua.
.
.
.
Baekhyun menggerutu tak jelas karena mobilnya yang mogok tiba-tiba. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam kurang lima belas menit.
Udara diluar cukup dingin karena habis diguyur hujan deras. Dan Baekhyun tidak tahu menahu tentang mesin.
Rumah Jongin memang tidak terlalu jauh dari tempatnya berpijak, namun gadis itu sangat enggan meninggalkan mobilnya di sini.
Lalu, sebuah cahaya kekuningan yang berasal dari lampu sepeda motor di belakang tubuhnya membuatnya menoleh. Alisnya mengernyit begitu melihat sepeda motor tersebut berhenti di depannya.
"Byun Baekhyun, kan?" Sang pengendara itu hanya membuka kaca helm full-face miliknya, membuat wajahnya tidak terlalu kelihatan. "ini aku, Park Chanyeol."
Merasa di curigai seperti penjahat, akhirnya si pengendara yang ternyata Chanyeol itu membuka helmnya. "Apa yang terjadi dengan mobilmu?" tanyanya lagi.
Baekhyun melirik sekilas kearahnya, "aku tidak tahu. Tiba-tiba saja mogok di tengah jalan begini." Jawabnya.
"Wah, sayang sekali aku tidak mengerti tentang mesin," Gumam Chanyeol. "Memangnya kau mau kemana?" tanya si pemuda jabrik lagi.
"Aku ingin ke rumah Jongin." Baekhyun melirik ke belakang, "tidak terlalu jauh dari sini."
Chanyeol mengapit dagunya dengan ibu jari dan jari telunjuk, tampak berfikir. "kalau begitu, biar aku antar saja." Chanyeol langsung menyalakan mesin motornya, siap tancap gas, namun Baekhyun tak kunjung naik bersamanya. "Kenapa?"
"Aku tidak bisa meninggalkan mobilku sendirian di sini." Kata Baekhyun.
Chanyeol mengerutkan bibir, "Biar nanti aku telfon Paman Bae untuk menggerek mobilmu," Jawab Chanyeol. "ayo cepat naik."
Baekhyun naik dan duduk di belakang Chanyeol, "memangnya paman Bae itu siapa?"
"Oh, dia itu pamanku, seorang montir juga." Jawab Chanyeol sambil tertawa. "Jalan yang mana?" tanyanya kemudian.
"Ah, sebelah kanan." Tunjuknya. "Eh?" Baekhyun terkesiap ketika mobil yang sangat di kenalnya keluar dari jalanan perumahan Jongin. Itu mobil Kris.
Entah mengapa, tiba-tiba Baekhyun merasa tidak enak. Firasatnya mengatakan bahwa sesuatu yang besar akan terjadi hari ini.
"Uhm, Chanyeol?" Panggilnya pelan. Baekhyun mendekatkan bibirnya kepada telinga Chanyeol, berbisik pada pria jabrik itu.
Chanyeol menampilkan wajah terkejut lantas segera mengangguk ketika mendengar perkataan Baekhyun selanjutnya.
=0=0=0=
Sehun merasakan pergerakan di samping kanannya. Jongin sudah bangun dan sekarang gadis itu sedang memakai pakaiannya.
"Mau kemana?" tanya Sehun parau. Jongin berbalik terkejut.
"Aku ingin pulang." Katanya, tak lupa senyum tipis ia torehkan untuk pemuda itu. "Sudah jam sepuluh malam, Sehun-ie." Gadis itu berjalan dengan sedikit tertatih.
Sehun lekas memakai pakaianya lalu menyusul Jongin yang kini berada di kamar mandi. "Apa masih sakit, aku antar ya." tersirat nada khawatir dalam suaranya. Jongin hanya mengangguk sebelum mengambil jaketnya yang tergantung. Masih sedikit basah namun tak lagi meneteskan air.
Sehun segera melesat keluar dari kamarnya. Mengeluarkan mobil dari garasi karena tidak mungkin memakai sepeda motornya karena cuaca sangat dingin.
…
=0=0=0=
…
"ibu, kenapa di sini gelap?"
"Ahh, lampunya ya?"
"Ibu, kau dimana? Aku takut gelap."
…
"Eommonim."
Gelap.
Adalah kesan pertama yang ia dapatkan saat ini. Tubuhnya tidak mampu digerakkan, semuanya terasa letih. Hampir seperti ditibun oleh benda yang mempunyai berat ribuan kilo ton. Kepalanya juga terasa pusing
Sang lelaki merasakan ada sesuatu yang menarik tubuhnya lalu menghempaskan ke lantai yang keras dan dingin. Pemuda itu merintih karena sakit. Namun sang pelaku tampaknya tak memperdulikannya.
Telinganya mendengar suara langkah kaki yang menjauh sebelum disusul oleh suara pintu yang tertutup keras. Dan tempat itu seketika menjadi hening.
….
….
…..
"Paman Lee?" Jongin terkejut melihat seorang supir kekasihnya berada di depan rumahnya. Matanya melirik kesembarang arah, mencoba mencari sesuatu selain mereka berdua. "ada apa, ya, malam-malam ke sini?' tanyanya.
Paman Lee tersenyum, "Tuan Kris menyuruh saya menjemput nona." Jawabnya kemudian.
Jongin mengernyitkan alis bingung. Baru kemarin dia dari rumah pria itu dan tidak biasanya Kris akan mengajaknya menginap dua kali.
"Ano, nona…" Lee kembali berbicara, tak lupa cengiran lebar ia torehkan untuk Jongin. "Sebaiknya kita pergi sekarang, Tuan Kris bisa marah jika terlalu lama."
Jongin yang langsung paham dengan pesan tersirat dalam nada bicara Paman Lee langsung mengangguk. Gadis itu dengan cepat naik ke mobil setelah Paman Lee membuka pintunya. Pria yang tak lagi muda itu itu langsung memutari badan mobil, sebelum masuk ke dalamnya.
Selang beberapa saat kemudian, mobil yang mereka tumpangi telah melaju dengan kecepatan konstan membelah angin malam.
Jongin langsung masuk ke dalam kamar Kris ketika tak menemukan lelaki itu di teras belakang –tempatnya biasa bersantai.
Hal pertama yang menjadi objek pandangannya adalah; punggung tegap Kris –karena lelaki itu tengah menatap ke luar jendela. Entah mengapa, Jongin akhir-akhir ini lelaki itu lebih suka memandang ke langit luas.
Jongin baru saja akan membuka mulut sebelum Kris menyelanya. "Kau sudah datang." Tanpa intonasi yang berarti. Pria itu membalikkan badannya, menghadap Jongin sepenuhnya.
Jongin memandang jade Kris yang terlihat merah di pantulan emerald-nya. Jongin mendekat kea rah prianya dan merasakan hawa dingin tiba-tiba menyentuh kulitnya.
"Kau sedang sakit?" Tanya Jongin lembut. Pandangannya menelisik penampilan Kris yang tampak berantakan. Dan matanya? Tubuh Jongin sedikit membeku saat melihat jade Kris yang tidak memancarkan apapun. Hanya kekosongan. Bahkan Jongin tidak bisa melihat dirinya di sana.
Kris tersenyum lantas menunjukkan kain panjang berwarna hitam yang ada di tangannya. "Aku punya kejutan."
Jongin tahu ia tidak bisa menolak apapun keinginan lelaki ini. Kris menutup matanya dengan kain hitam tersebut, mengikatnya dengan sedikit kasar. Tak lama kemudian, Jongin merasakan dorongan halus pada tubuhnya dengan tangan Kris yang memegang bahunya.
Jongin tidak tahu mereka akan kemana sekarang, karena warna hitam menghalangi pandangannya.
Tiba-tiba mereka berhenti dan Jongin merasakan tubuh Kris menjauh. Suara saklar lampu yang ditekan menjadi salah satu suara yang bisa memberi tahu Jongin di mana keberadaan Kris.
"Buka penutupnya, Jongin."
Jantung Jongin berdetak lebih kencang. Dadanya berdebar, namun bukan debaran yang asyik. Debaran yang terasa kali ini adalah; debaran ketakutan.
Jongin dapat melihat dengan jelas tempatnya berpijak. Ruangan bercat putih dengan lantai marmer.
Brukkkh.
Mata Jongin membeliak terkejut ketika menatap jade Kris yang begitu tajam menatap matanya. Jari telunjuknya mengarah pada sesuatu yang tadi dihempaskannya ke lantai. "Buka penutup kepalanya." Perintah Kris lagi. Jongin masih menatap mata jade Kris penuh penasaran dan entah mengapa debaran di dadanya makin bertambah. "Baiklah, biar aku saja yang buka."
Kris berjongkok lalu menarik penutup kepala dari kepala sang korban dengan gerakan pelan, membuat perasaan waswas timbul di hati Jongin.
Mata Jongin kembali membola terkejut saat mengetahui siapa yang ada di depannya kini. "Sehun-ie mu kan?" Kris menjambak rambut Sehun, menunjuk-nujuk wajah pria itu. "Tapi aku salut, dia sangat kuat. Dia bahkan tidak mati menerima pukulan dariku."
Jongin menggigit bibirnya keras-keras hingga berdarah begitu melihat wajah Sehun yang penuh luka lebam dan darah.
"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Jongin parau. Gadis itu berusaha menekan suaranya agar tidak menjerit.
Kris menarik satu sudut bibirnya, "karena dia merebut milikku." Jongin melemaskan bahunya mendengarnya. Dari awal juga dia tahu, ini pasti karenanya. "Dan dia bodoh, karena terang-terangan menantangku."
Tungkai kaki Kris melangkah mendekati Jongin saat melihat tubuh itu merosot jatuh. "Dia datang padaku dan mengklaim dirimu sebagai miliknya," Kris menarik tubuh Jongin hingga jatuh dalam pelukkannya. "..dan dia merasa menang karena itu." Tangannya mencengkram kasar wajah Jongin, "Tapi aku lebih bodoh karena percaya padamu," sebelum menariknya keluar dari ruangan itu menuju kamarnya.
Sehun bangun karena mendengar suara teriakan yang memekakan telinganya. Itu teriakan Jongin. Sehun mencoba mengangkat tubuhnya yang sudah mati rasa.
Namun, ia merasa tubuhnya kembali terangkat. Ada seseorang di depan matanya, menatapnya penuh rasa iba.
"Aku sudah tahu akan begini akhirnya," Samar-samar ia dapat mendengar gumaman dari orang di depannya. "aku sudah mengingatkan mu beberapa kali, tapi tetap saja keras kepala." Disusul suara isakan tertahan.
"Chan..Yeol..."
"Sudah jangan bicara, bodoh." Jawab seseorang (yanga ternyata Chanyeol) itu ketus. "Tenang saja, Baekhyun bertugas menyelamatkan Jongin." Seolah dapat membaca raut wajah Sehun, Chanyeol berkata. Mereka berjalan pelan, mengendap-endap seperti pencuri.
Beruntunglah rumah yang di tinggali Kris dalam keadaan kosong saat ini.
Sampai di luar Chanyeol langsung menempatkan tubuh Sehun ke kursi penumpang. Melihat wajah Sehun yang penuh luka membuatnya iba dan ingin segera membawa temannya itu ke rumah sakit. Namun apa daya, mobil yang digunakannya saat ini adalah mobil milik Baekhyun.
"Aku akan menyusul mereka ke dalam." –tanpa memperhatikan raut wajah Sehun, Chanyeol segera bergegas lari ke dalam rumah kembali.
'ah, bagaimana aku tahu yang mana kamarnya?' –gerutu Chanyeol dalam hati. Ia dan Baekhyun hanya membagi tugas, dengan Chanyeol yang menyelamatkan Sehun dan Baekhyun menolong Jongin.
"Ayo cepat, Jongin." Chanyeol menoleh ketika mendengar suara melengking Baekhyun di salah satu lorong. Kakinya bergegas mendekat kearah suara dan menemukin Baekhyun yang tengah menyeret Jongin.
"Tapi, dia juga berdarah…"
"Tidak apa-apa. Polisi akan kesini beberapa saat lagi, Jongin-ie." Kata Chanyeol memotong perkataan Jongin. Kemudian pemuda jabrik itu tersenyum kearah Jongin saat melihat tatapan gadis itu, "Sehun ada di mobil." Jawabnya. "Kalian sebaiknya cepat pergi, biar aku yang mengurus ini sampai polisi datang." Himbaunya kepada dua gadis itu.
Baekhyun langsung mengangguk mengerti, kemudian menarik Jongin bersamanya. Mereka keluar dari rumah tersebut kemudian masuk ke dalam mobil.
Jongin tidak bisa menahan tangisannya lagi ketika melihat Sehun di sampingnya. Mata pria itu setengah terbuka, ketika Jongin memeluknya.
"Sehun-ie, maaf. Maaf."
Baekhyun yang melihat hal itu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum. Jongin di belakangnya masih menangis sambil memeluk Sehun yang mungkin sudah tidak sadarkan diri.
=0=0=0=
Jongin datang ke rumah sakit untuk menjenguk Sehun yang tidak sadarkan diri dari kemarin. Ada beberapa tulang lengannya yang patah akibat pukulan Kris.
Saat sampai di depan kamar rawat Sehun, Jongin bisa melihat ada tiga orang dewasa di sana. Dua lelaki dan seorang wanita.
"Annyeong-haseyo." Sapa Jongin ramah. Jongin kira ia akan di usir atau di tampar oleh ibu keluarga Sehun ini, namun dia salah. Ketiga orang ini malah memberi senyum padanya. "Apa Sehun-ie belum sadar juga?" Tanyanya.
Ketiga orang di depannya saling pandang sebelum sang Oh sulung –Sejong angkat bicara. "Haha, jangan terlalu khawatir, Jongin. Adik-ku pasti akan segera sadar, dia kan kuat."
Jongin tahu kata-kata Itachi itu bermaksud untuk menghiburnya, namun tetap saja tak menghilangkan rasa khawatirnya.
"Jadi kau adalah pacar Sehun?" Ayah Sehun bertanya. Onyx-nya menatap Jongin meminta jawaban.
"Bukan." Jawabnya sambil menggelengkan kepala. Jongin baru saja ingin berbicara lagi, sebelum dering handphone-nya mengintrupsi. Ada nama Baekhyun di id caller-nya. "Ah, maaf, aku permisi sebentar."
.
.
.
.
Jongin langsung menyetop taxi ketika Baekhyun memutuskan sambungan teleponnya. Masih terekam jelas di dalam kepalanya bagaimana kata-kata Baekhyun tadi.
"Dia di tahan di rumah sakit jiwa."
"Saat di introgasi dia tidak mengatakan sepatah katapun. Mereka memanggil dokter psikiologi dan katanya Kris mempunyai kecendrungan psikiopat. Sangat berbahaya jika di tempatkan dalam satu sel dengan orang lain."
"Intinya mereka mengatakan bahwa, Kris memang mempunyai gangguan jiwa."
Jongin hanya bisa menatap sedih pria berambut merah yang kini tengah menatap langit dari balik jendela kecil yang ada di ruangan itu.
"Bisa bukakan pintunya?" pintanya pada sang perawat bertubuh tambun di sampingnya. Netra mahoni-nya masih menatap Kris. Jongin menoleh, dan mendapat tatapan keraguan dari perawat tersebut. "Gwaehchanhayeo. Dia tidak akan menyakitiku."
Walau sedikit enggan, namun perawat dengan name tag Go Ara itu tetap membukakan pintunya juga. Jongin langsung masuk ke dalam sana, duduk di depan Kris.
"Kris-ge.." panggilnya sambil menyentuh pelan tangan Kris yang ada di depannya.
Kris menoleh, dengan tatapan kosong yang ia punya. "Jongin?" katanya. Tiba-tiba saja lelaki itu membuang wajahnya ke samping, kembali menatap langit. "Bagaimana keadaan Sehun?"
Jongin mendongak saat pertanyaan itu keluar dari bibir Kris. "Dia baik-baik saja." Jawab gadis itu dengan nada lirih. "Aku tahu kau tidak sengaja melakukannya."
Kris mendengus. Apanya yang tidak sengaja? Jelas-jelas dia memukul Sehun saat pria itu datang ke rumahnya. Mengatakan bahwa Jongin adalah milknya sepenuhnya.
Kris lalu merasakan pelukan hangat melingkupi tubuhnya. Lengan Jongin melingkari tubuhnya sedangkan kepala gadis itu bersandar di dada kerasnya.
"Mereka bilang kau sakit jiwa, tapi aku tidak percaya. Aku lebih mengenalmu dari pada mereka."
"Aku memang sakit jiwa." Kris membenarkan. "Bahkan aku tidak merasa bersalah ketika aku hampir membunuh seseorang." Katanya lagi. Kris merasakan kepala Jongin menggeleng di dadanya. "Pergilah Jongin. Kupikir seseorang sudah menunggumu." Kris mendorong bahu Jongin pelan.
"Kris-ge.."
"Kau bebas dariku sekarang Jongin. Pergilah. Sehun mungkin menunggumu." Jongin menangis dalam diamnya. "Sampaikan permintaan maafku padanya dan… semoga kau bahagia."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jongin berlari di sepanjang lorong rumah sakit dengan senyum di wajah cantiknya. Di tangannya ada sebuket bunga lily. Sejong bilang Sehun sudah sadar semalam.
Jongin berhentik berlari dengan nafas yang masih terengah-engah. Gadis itu memandang pintu bernomor 203 di depannya. Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Dengan langkah mantap, ia memegang kenop pintu lalu memutarnya.
Langkah baru untuk takdirnya yang baru sudah dimulai dari sekarang.
Cahaya yang menyinari ruangan itu menerpa wajahnya. Dengan hati yang berdebar kencang, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Hal pertama yang ia lihat adalah, wajah Sehun yang berbalut perban sedang menatap ke luar jendela.
Pria itu lalu menoleh kearahnya, dengan senyum tipis yang masih sama seperti dulu. "Hei. Apa kabar, Matahariku."
Dan Jongin tidak bisa menahan air matanya lagi ketika ia memeluk lelaki itu dan mencium aroma tubuhnya.
'Lambaikan tanganmu pada dunia dan…
….katakan halo pada takdirmu.'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
The End.
Udah berapa bulan ya? Setengah tahun ada? Maaf banget yaaa.
Saya masih hidup kok, cuman lagi sibuk jadi gini deh. Planning update ini udah dari bulan kemarin tapi entah kenapa baru bisa selesai sekarang, maaf buat yang lama nunggu, buat gantinya secepatnnya special chapther minggu depan.
Sampai jumppa lagi. /waving hands with Hunkai/
