Update spesial hari raya Idul Fitri. Yah,, meskipun lebih awal 2 hari. Tapi yang pasti kalian bisa berkumpul bersama keluarga dihari raya sambil menertawakan tulisan saya sekalian buat dosa baru #khahahahaha.

Waah kemarin banyak yang review tentang penulisan saya. Yah, saya bisa menerima itu lagian saya memang penulis amatir, saya sendiri sudah merasa kalau ada yang salah dengan tulisan saya tapi tak tau apa yang salah. Saya memang paling bingung dengan penggunaan tanDA baca. Jadi kalau ada yang menemukan penempatan tanda baca yang salah, tolong sebutkan dikotak review dan tolong berikan contoh benarnya. Soalnya jika saya sendiri yang mengorreksi tentu saya akan berkata tidak ada yang salah. jadi mohon bantuannya ya.

Chapter kali ini tak sengaja tercipta karena saya membaca review lama dari salah satu reviewer dikotak review saya. Dari Satu kalimatnya itu entah kenapa kepikiran cerita seperti ini. Jadi bagi yang merasa, saya ucapkan terima kasih banyak. Kamu bisa mendapatkan kata-katamu itu di bagian akhir chapter ini. Ok tak usah buang waktu lagi langsung saja ini dia :

.

.

Madara DXD : a Savior or Tormentor

Chapter 4 : penyelamatan Asia

Disclaimer : Yang pasti bukan punya saya

Author : ini baru saya~ Anggarda sang El23

Rating : M

Pair : nanti lak ketahuan sendiri

Warning : Mungkin OOC, mungkin Pasaran, mungkin aneh, dan berbagai kemungkinan lainnya, jadi waspadalah.

.

.

.

Sabtu adalah akhir pekan yang cerah. Cocok sekali dihari yang indah seperti ini untuk berefresshing dan menyegarkan kepala setelah beberapa hari melakukan rutinitas yang membebani setiap syaraf tubuh maupun jiwa. Namun bagi beberapa orang, meskipun hari sabtu itu termasuk akhir pekan, mereka tetap harus melakukan rutinitasnya. Sebagai contoh suster rumah sakit, pelayan restoran, pelajar, dan sebagainya. Namun itu tak berlaku bagi seorang pelajar SMA berambut cokelat bertampang mesum yang kini sedang memegang gagang stir mobil dan membelok-belokkannya cepat layaknya seorang pembalap.

"inilah pembalap paling cepat dan paling tampan didunia, Hyodou Issei" pelajar yang kita ketahui bernama Issei itu berkata dengan girang-. ralat, maksudnya dengan narsisnya.

Broom brom broooooom

Dia menginjak pedal gas dan mememajukan tongkat perseneling yang ada disampingnya. Dilayar kaca yang berada didepannya nampak sebuah mobil yang dikendalikannya menyalip dua mobil di tikungan dengan posisi nyepoot.

"cepatnya ! kamu hebat Issei-san!" disampingnya seorang gadis muda berambut pirang panjang mengenakan pakaian seperti suster gereja sedang menyorakinya layakanya seporter.

'huhuhuhu, lihatlah Asia ! jatuh hatilah dengan kemampuan menyetirku' batin Issei tengah menyeringai.

Broom brom Brooooumm

Winggg

Peng

Braak braak braaak

Mobil yang dikendalikannya oleng dan tabrakan beruntun pun tak terelakkan hingga akhirnya terjadi ledakan besar.

BOOOOUUUUUMMMMM

VAILED, YOU LOSE

"apa-apaan ini stirnya tidak berfungsi saat aku hampir menang. Pemiliknya ini sengaja agar pengunjung yang bermain kalah, siaalann" Issei mengumpat keras-keras.

Setelah puas mengumpat dan menendang game balapan yang dimainkannya tadi, Issei menoleh kesamping dan sadar bahwa Asia tak berada disampingnya lagi. lalu dia berkeliling mencari Asia. Rupanya Asia kini tengah berdiri dan menempelkan wajahnya dikaca game pengait boneka. Matanya tampak berkerlip melihat salah satu boneka yang berada didalam. Boneka itu berbentuk seperti tikus lucu berwarna kuning, itu adalah salah satu karakter yang populer dijepang maupun diluar negri, itulah Rache-kun. Issei terkekeh melihat wajah manis Asia yang menempel di kaca jendela game tersebut yang nampak seperi bayi.

"Asia, apa kamu suka Rache-kun?" tanya Issei yang kini sudah berada disamping Asia.

"ummm bu-bukan et-etoo" asia nampak kikuk dengan wajah yang memerah. Lalu Asia mengangguk mengakuinya dengan malu-malu.

"khehehe, kalau begitu aku akan mengambilnya untukmu" issei berkata sambil terkekeh melihat wajah Asia yang sangat manis jika sedang menginginkan sesuatu.

"eh? Ta-tapi..!" kata Asia terbata

"tenang saja. Aku pasti bisa mendapatkannya untukmu" ujar Issei dengan lantang.

Issei langsung saja memasukkan koin dan mulai mengendalikan kait geme itu. Pertama kali mencoba, boneka itu terlepas dari pengaitnya. Kedua juga meleset total. Ketiga dan keempat juga meleset. Pada percobaan kelima akhirnya Issei berhasil mendapatkannya.

"yes, Akhirnya berhasil" kata Issei kegirangan. Lalu issei mengambil boneka itu dan memberikannya pada Asia. "silahkan Asia"

"terima kasih Issei-san, aku akan merawat boneka ini" kata Asia dengan begitu senangnya sambil memeluk boneka itu didadanya.

"hey, hey, Kalau satu boneka saja bisa membuatmu sesenang itu. Kalau begitu aku akan mengambilkan lebih banyak boneka lagi untukmu" kata Issei, namun asia menggelengkan kepalanya.

"tidak. Rache-kun ini adalah lambang pertemuan menggembirakanku dengan Issei-san. Karena aku hanya bertemu dengan Issei-san hari ini, aku akan merawat baik-baik boneka ini" kata Asia dengan tersenyum lembut pada Issei.

"oke ! kita masih baru mulai! Asia kita akan bermain dan bersenang-senang seharian penuh! Ikuti aku !" kata Issei sambil meraih tangan Asia dan menuju permaian lainnya.

"ya" kata Asia.

Saat mereka berkeliling mencari permainan apa yang akan dimainkan selanjutnya, Issei tak sengaja melihat seorang pria yang tak asing baginya. Lalu ia dan Asia menghampiri pria berambut reven panjang yang sedang memegang pistol berwarna merah itu.

Dorr

Dorr

Dod dor

Doorr

"hahahaha kena penismu. Rasakan itu, kabangganmu itu nanti malam takkan bisa genjoot diranjang. Hahahaha" pria itu tertawa gila layaknya psikopat begitu sosok bertopi koboi yang berada pada layar didepannya itu terkena tembakkan dibagian selangkangan yang pasti membuat senjata kebanggaan pria itu mengalami mal-fungsi.

"Madara Sensei" kata Issei yang kini telah berada disamping pria psikopat itu yang ternyata adalah Madara gurunya. Sementara Asia, dia bersembunyi dibalik lengan Issei sambil melihat takut-takut Madara yang nampak menakutkan baginya karena dia merasa familiar dengan tingkah itu. Tentu saja siapa yang tak takut melihat pria gondrong bertubuh kekar yang tengah tertawa seperti pasien rumah sakit jiwa yang kabur sedang berada ditempat umum seperti game center ini.

Merasa seseorang memanggil namanya, Madara menoleh keasal suara. "Issei. Sedang apa kau disini? Kau bolos sekolah? Astaga, kau bolos sekolah dan berkencan dengan seorang gadis di game center ini dengan masih berseragam sekolah? Bagimana kalau ada Razia? Kau pikir aku takkan kena batunya karena gurumu ini ada ditempat kejadian dan bla bla bla..." Madara berceloteh panjang lebar menceramahi Issei yang kini menunduk dan sedang bertahan dari derasnya kuah Madara yang bercucuran mengenai wajahnya. Sedangkan Asia dia masih bersembunyi dibalik lengan Issei namun kini wajahnya tampak memerah, itu mungkin karena dia mendengar kata bahwa dirinya kencan dengan Issei.

"haah yare yare! lihatlah gara-gara kau, aku kalah" kata Madara kesal sambil menunjuk papan layar yang bertuliskan GAME OVER. Jelas saja, siapa suruh dia berceramah ditengah permainan.

"maafkan aku. sensei sendiri kenapa berada disini?" tanya Issei. Kacau sudah hari ini, dirinya berpikir dia bisa bersenang-senang dengan Asia sepanjang hari namun ternyata tidak. 'haah, seharusnya aku tidak menghampiri orang ini' batinnya

"Mainlah. apa lagi?" jawab Madara santai.

'itu sudah jelas, selain main apa lagi yang bisa dilakukan ditempat seperti ini' batin Issei sweatdrop. "maksudku sensei tidak mengajar disekolah hari ini?" tanya Issei

"hari ini aku tidak ada jadwal mengajar. Jadi hari sabtu dan minggu adalah hari liburku." jawab Madara dan Issei hanya bisa bungkam mendengarkan Madara.

"haah"madara mengehembuskan nafas berat. "apa boleh buat, karena kau sudah berada disini temani aku bermain. Ajak juga pacarmu itu" kata Madara yang seratus delapan puluh derajat berbalik dari awalnya dan malah mengajaknya ikut bermain hingga membuat Issei Jawsdrop ditempat. Sedangkan Asia kini wajahnya sudah seperti kepiting rebus setelah mendengar kata pacar dari Madara, meskipun dia tak terlalu mengerti bahasa jepang tapi kalau untuk kata-kata yang seperti itu tentu akan langsung diterima otaknya.

"ayo,, apa yang kau tunggu" tanya Madara menautkan alisnya melihat Issei tak kunjung mengikutinya.

Issei tersadar dari acara Jawsdropnya "Ha'i sensei. Asia ayo" kata Issei sambil meraih tangan Asia dan mulai mengekori Madara.

.

Mereka sampai disebuah game berlayar lebar dan terdapat beberapa ornamen bola dan juga bendera-bendera negara didunia.

"ayo kita main Winning Eleven" kata Madara semangat.

"aku baru tahu sensei suka bermain game bola." Kata Issei dengan terkesima. Yah,, siapa yang tidak terksima jika melihat seorang guru yang seharusnya berurusan dengan hal-hal yang merepotkan malah menjadi seorang Gamers yang gila bola.

"kau baru tahu ya?! Ayo duduk, cepat kita main" kata Madara yang kini sudah duduk dikursi yang disediakan. Sebelum duduk Issei menoleh kesamping memandang Asia, Asia nampak kagum dengan layar yang nampak besar itu, dia nampak berbinar seperti ingin main.

"Asia kau duduklah. Kau bisa mainkankan?" tanya Issei

"tidak.. Sedikit sih." Kata Asia malu-malu.

"kalau begitu mainlah, bule sepertimu pasti juga pandai mengenai bola. Santai saja. Sensei, Asia akan menjadi lawan pertamamu" Kata Issei sambil terkekeh.

"Yare yare, apa kau baru saja meremehkanku. Kau menyuruhku bermain dengan seorang gadis?" kata Madara dengan nada jengkel.

"Sensei, justru kau yang meremehkannya. Dia itu orang Roma, dia berasal dari kota bola. Negara yang menjadi juara dunia tahun 2006" kata Issei

"hpppfrrt, bagaimanapun dia wanita. Baiklah ayo cepat kita main nona" ajak Madara. Namun Asia tak kunjung duduk.

"dia juga belum terlalu pandai bahasa jepang. Hanya sedikit yang dia pahami" kata Issei sambil menggaruk belakang kepalanya. "Asia ayo cepat mainlah"

Asia langsung duduk dan mulai bermain bersama Madara. Mereka nampak menikmati permainan ini. Tapi kalau untuk Madara, menikmati bukanlah kata yang pas digunakan untuk mendiskripsikan dirinya. Kenapa tidak? Lihat saja sendiri.

"OPER! OPER!"

"KANAN! KANAN!"

"SLEDING AYO SLEDING !"

"INJAK! INJAK LEHER KIPERNYA! INJAK"

"sensei! kau ingin membunuh semua pemain yang ada disana ya ?!" kata Issei Sweatdrop. Asia hanya menikmati kegilaan pria disampingnya itu sambil sesekali terkikik geli melihat tingkahnya yang kelewat gila.

"ahh. Sial, kebobolan lagi" kata Madara kesal.

"ahh... masak baru menit ke 15 sensei udah kebobolan 23 kali. Ini sepak bola pa Badminton ?!" kata Issei meremehkan Madara.

"tenang, tenang,, santai aja. Jagoan emang gitu, selalu menang belakangan" kata Madara santai.

"hihihihi" Asia terkikik geli melihat Issei dan Madara, dia pasti sudah bisa menebak apa yang dibicarakan guru dan murid itu.

"banyak alasan." Kata Issei.

"banyak bicara kau. Kau sendiri bagaimana, ayo sini coba lawan aku."kata Madara.

"baik ! Asia aku akan melawannya" kata Issei. Asia hanya menganggukakan kepalanya, lalu bergantian tempat dengan Issei.

Kini gantian Issei yang melawan Madara. Kalau dilihat kemampuan Issei lebih payah dari pada Asia, namun tetap saja Madara masih kalah bermain dengan Issei.

"bahh.. payah, masak sensei kalah 3-0 lagi ?!" ejek Issei.

"hahaha ! aku sengaja, biar membuatmu senang dulu" kata Madara.

"aku udah biasa senang sensei, bikin aku sedih donk! Cepetan" kata Issei dengan nada mengejek

"cihh, baiklah" kata Madara kesal. Terlihat kobaran api dimatanya. Lalu ia mulai bermain dengan sungguh-sungguh.

.

SKIPP TIME

.

Hari sudah mulai sore. Tiga orang tadi kini sedang bejalan keluar dari game center yang mereka kunjungi akhir pekan ini sambil tertawa riang kecuali Madara.

"ahh hari ini menyenangkan sekali" kata Asia dengan senyumnya yang sangat cerah

"ya begitullah, aku jadi sedikit lelah."kata Issei sambil merentangkan kedua tangannya berusaha melemaskan otot-ototnya yang tegang sedari tadi digunakannya bermain.

"hei hei, berbicaralah menggunakan bahasa jepang. Aku tahu kalian berdua sedang mengejekku" tuduh Madara dengan nada jengkel, padahal mereka sama sekali tidak membicarakan Madara.

"hehehe, Salah sensei sendiri. Masak dari tadi kalah terus melawanku dan Asia" kata Issei dengan nada mengejek.

"JoySticknya tidak enak" kata Madara

"kalau mau enak, tambahin selai coklat, terus dipanggang di oven 15 menit, pasti enak" kembali Issei mengejek Madara.

"kita tidak sedang membicarakan makanan. Yang kumaksud tidak enak itu, joysticknya rusak"kata Madara jengkel.

"alasan !"kata Issei

"sudahlah aku mau pulang." Kata Madara kesal setelah sampai dipintu keluar game center.

"ahh jaa ne sensei, kapan-kapan kita main lagi ya. Hehehe" teriak Issei yang melihat Madara meninggalkannya.

Mendengar teriakan Issei, membuat Madara semakin kesal karena merasa diejek. Dia semakin ingin cepat-cepat pergi dari sini dan segera pulang. Sebelum pulang, Madara mampir ke restoran cepat saji yang tak jauh dari game center yang tadi dikunjunginya untuk membeli makan sekaligus membeli bungkusan untuk makan malamnya nanti.

Madara memesan Hamburger, kentang goreng dan segelas minuman soda. Lalu Madara memakan makanannya pelan-pelan dengan sangat santai, lalu dia mencicipi sedikit minumannya.

"bagaimana kabarmu"

"uhuk" Madara tersedak minumannya ketika dia mendengar suara feminim namun datar itu tepat disamping telinganya.

"K-kau" Madara terkejut dengan siapa yang baru saja merusak acara makannya. Madara mengamatinya dari bawah sampai keatas dan berhenti tepat diwajahnya. Dia adalah seorang gadis muda yang imut berambut hitam sepinggang, mengenakan kaos berwarna hitam yang terdapat pita biru didadanya, kaos itu dirangkap jaket tipis berwarna pink, memakai rok mini berwarna ungu, mengenakan sepatu Kets dengan kaos kaki selutut berwarna hitam dan warna biru dipuncaknya, dan terakhir topi berwarna biru yang dipakai miring kesamping bertengger dipuncak kepalanya. Dia terlihat gaul dan modis.

"O-Ophis-kah" kata Madara tergagap. Madara diam membeku, dia tak mengalihkan sedetikpun pandangannya dari wajah Ophis. Pipinya perlahan memerah, 'Ka-Kawaii' kata Madara dalam hati. Dia terpesona oleh penampilan Ophis yang berbeda dari pertama kali mereka bertemu. Kali ini Ophis terlihat sangat luar biasa manis dan nampak bergaya dimata Madara.

Kemudian Ophis duduk satu meja dengan Madara saling berhadapan dengan membawa seporsi makanan yang sama dengan Madara dan mulai mengambil satu kentang gorengnya lalu memasukkannya kemulutnya yang mungil. Merasa diperhatikan oleh Madara, Ophis memandang pria dihadapannya itu dengan mengerutkan alisnya dan berkata "ada apa?"

Madara langsung tersentak kaget dan tersadar dari lamunannya "ti-tidak. Hanya saja kau terlihat berbeda. Ka-kau cantik" kata Madara yang semakin lama suaranya mengecil diakhir kalimatnya. Namun Ophis tentu dapat mendengarnya, bagaimanapun dia dewa, tentu saja semua indranya lebih diluar manusia.

Dia tersenyum tipis dengan rona merah menghiasi kedua pipinya"a-arigatou" katanya

Madara yang sadar bahwa Ophis mendengar apa yang diucapkannya tadi kini wajahnya tambah memerah. 'a-apa yang kukatakan tadi' batinnya mencak-mencak.

"ke-kenapa kau bisa berada disini" Madara tanpa sadar telah mengucapkan kata-kata yang sama persis dengan Ophis ketika bertemu Madara, tapi kalau untuk Madara kali ini ada nada gagap dari kalimatnya. Aneh ya? aneh memang jika yang gagap adalah seorang cowok bukannya cewek.

"memangnya tidak boleh"

"twitch" ok kali ini benar-benar deja vu, meskipun kebalik. Perempatan urat muncul didahi Madara karena Ophis juga menjawab pertanyaan Madara tadi persis seperti yang diucapkan Madara kemarin.

"bukan hanya kau yang bisa menyembunyikan hawa keberadaan sampai tak dapat disadari." Kata Ophis.

"cih, untuk apa naga sepertimu melakukan ini semua?" tanya Madara mulai jengkel.

"menikahlah denganku" kata Ophis dengan datar tapi terlihat rona merah tipis menghiasi kedua pipinya.

'gadis ini, dia benar-benar melakukan apa yang dikatakannya kemarin' batin Madara sempat syok. "su-sudah kukatakan, aku tidak mau" Madara tampak kikuk dan pipinya memerah.

"dan sudah kukatakan, Jika kau tidak mau menikah denganku, Aku akan terus membuatmu melihatku dan memikirkanku dimanapun kau berada hingga kau mau menikahiku" kata Ophis yang lagi-lagi membuat Madara deja vu.

Ok kali ini Madara tak bisa mengaggap kata-kata gadis ini sebagai gertakan. Dia mulai takut kalau hal itu akan terjadi, contohnya sekarang Madara mulai terpesona oleh keimutannya. "kau, jangan main-main denganku" kata Madara sambil mengaktifkan Sharinggannya, berusaha menggunakan genjutsunya pada gadis didepannya.

.

.

.

.

.

.

.

Krikk krikk... krikk krikk... krikk krikk

.

"yare..?" Madara memasang wajah bingung ketika mendapati sharinggannya tak berpengaruh pada Ophis.

Ophis yang bingung dengan tinggah Madara menaikkan alisnya. "ada apa denganmu" spontan saja Ophis menyebutkan salah satu judul lagu peterpan.

"er.. ti-tidak apa-apa. A-aku hanya ingin mendengar suara jangkrik, ya jangkrik" Madara menjawabnya dengan gelagapan sambil memalingkan muka. Tidak mungkin kalau dia bilang dia habis mengalami kegagalan dalam memakai jurus istimewa mata iblisnya, tapi jawaban konyol macam apa tadi yang baru saja diucapkannya. 'ada apa dengannya, genjutsuku tak berpengaruh padanya?' batin Madara.

"begitukah. aku tidak tahu kalau ada jangkrik direstoran cepat saji seperti ini" tepat setelah Ophis mengatakan itu seekor jangkrik hinggap di mejanya dan Madara.

.

.

Krikk krikk... krikk krikk... krikk krikk

.

"KYAAAAAAA"

Ophis berteriak keras dan jingkrak-jingkrak diatas kursinya.

"singkarkan itu dari hadapanku" katanya sambil melemparkan semua makanannya dan perabotan yang ada disekitarnya kearah jangkrik tadi, tapi semuanya tidak ada yang mengenai jangkrik itu dan malah mengenai Madara. Apakah dia lupa kalau dia punya kekuatan naga, kenapa tidak menembakinya dengan kekuatannya saja, author sendiri senang kok kalau Madara tepar ditempat.

Madara pun tak bisa berbuat apa-apa ketika dirinya dihujani kentang goreng yang entah kenapa tidak ada habisnya. "oi oi oi, tenanglah akan kusingkirkan. Tapi berhen-, oiii itu makananku" Madara tiba-tiba berteriak histeris ketika Ophis menggunakan makanannya sebagai amunisinya.

Orang-orang di restoran mulai mengarahkan perhatian mereka kepada kedua pasangan yang histeris itu.

Jangkrik itu mulai melompat mendekati Ophis seolah sedang mengerjainya. "kyaaa, cepat singkirkan" Ophis semakin histeris. Langsung saja Madara segera menangkap jangkrik tersebut dan membawanya kepintu keluar. lalu ketika sudah diluar dia menarik kakinya kebelakang dan menendang penggagu kecil yang membuatnya kehilangan makanannya itu layaknya penjaga gawang yang sering dia tonton diacara bola kesayangannya.

Kemudian Madara kembali kemejanya dan memasang wajah malang sambil melihat makanannya yang berserakan disetiap area. "makananku"

"kau sudah menyingkirkannya?" tanya Ophis yang masih berada diatas kursi dengan wajah yang seperti bayi yang habis menangis, membuatnya tampak imut dan menggemaskan.

"kau ini.! Lihatlah, kau melempar semua makananku" kata Madara dengan nada jengkel.

"semua itu salahmu sendiri, kau kan yang memanggil jangkrik itu kemari" kata Ophis tak terima Madara menyalahkannya.

"enak saja, memangnya aku pawang jangkrik" kata Madara tak terima uchiha sepertinya disamakan dengan pencinta serangga aburame itu.

"iya, malahan wajahmu seperti serangga" kata Ophis tak mau kalah.

"oh ya, jadi maksudmu kau ingin menikahi dan mempunyai anak dari serangga sepertiku begitu?"

Blush...

Ophis kini bungkam dengan wajah memerah.

"huh" Madara mendengus puas karena berhasil menang adu mulut dengan Ophis. Tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata tertuju kearah mereka, mengawasi tingkah laku mereka yang lucu.

"hihihihi. Lihatlah pasangan kekasih itu. Mereka lucu ya, mengingatkanku saat kita muda dulu" kata seorang ibu-ibu yang terlihat sudah berumuran 40-an kepada suaminya yang berada didepan mejanya.

"ya mereka memang pasangan yang serasi. Tapi seiingatku, kau tidak semanis gadis itu" kata suaminya santai yang langsung mendapat lemparan ayam kentaki tepat dimulutnya.

"kau, jangan coba-coba" kata ibu tadi sambil memberikan deathglare mematikan kearah suaminya. Sang suami langsung meneguk ludahnya sambil mengangguk cepat dengan ayam kentaki yang masih berada dimulutnya.

Madara yang diperhatikan oleh banyak orang seperti itu, tidak ambil pusing dan langsung pergi kekasir berniat memesan makanannya lagi tapi tiba-tiba berhenti karena tangannya dipegang seseorang.

"apa" tanya Madara dengan nada malas kepada gadis yang memegang tangannya.

"aku juga pesan makanan yang sama denganmu" kata Ophis.

"Hn" jawab Madara. Lalu dia segera pergi kekasir untuk memesan makanan dan menyuruh cleaning service untuk membersihkan mejanya.

"kali ini kau jangan melempar makananku" kata Madara yang telah sampai kemejanya dengan membawa 2 porsi makanan yang sama.

"urusai, itu gara-gara jangkrik tadi." Kata Ophis dengan memasang wajah sebal yang malah membuatnya terlihat manis.

Madara terkekeh melihat wajah Ophis. "khehehe. Ternyata Naga takutnya sama Serangga ya?... hahaha" canda Madara.

"berhenti menertawaiku" kata Ophis sebal yang malah membuat Madara semakin tertawa.

Madara terus menertawakan dan Ophis membalasnya dengan melemparkan kentang gorengnya dan ganti menertawakan Madara karena kentang gorengnya tepat menyumpal kedua lubang hidungnya. Ophis memang merasa sebal dengan Madara tapi entah kenapa dia juga merasa senang dengannya. Rasanya dia ingin terus membuat Madara tertawa meskipun dirinya tak pandai melawak, tapi paling tidak dia ingin terus bersama Madara. Entah sejak kapan perasaan ini muncul, yang pasti Ophis menyukai perasaan ini dari pada tujuannya yang dulu yakni mencapai keheningan, rasanya ini lebih menyenangkan dan membahagiakan.

Sedangkan Madara meskipun awalnya sebal, tapi entah kenapa tanpa disadarinya dia mulai mengikuti permainan Ophis. Mereka makan sambil mencari gara-gara satu sama lain.

.

Setelah sekitar 30 menit akhirnya Madara keluar dari restoran itu membawa bungkusan yang berisi makan malamnya nanti. Ophis juga sudah pergi setelah makan bersama Madara. Lalu Madara segera pergi untuk pulang. namun baru beberapa langkah berjalan, Madara merasakan hawa keberadaan seorang Malaikat jatuh tak jauh dari tempatnya berpisah dengan Issei tadi. Membuat Madara penasaran apa yang terjadi dan semoga tak terjadi masalah.

"haahh, semoga bocah mesum itu sudah pulang" ujar Madara penuh harap.

Saat Madara hampir sampai, hawa keberadaannya lenyap entah kemana. Lalu saat dia sudah berada ditempat berakhirnya hawa keberadaan malaikat jatuh yang ia rasakan tadi, dirinya menemukan Issei yang berada ditengah kolam dangkal sedang berlutut dengan tangannya yang bertumpu dibawah agar tidak ambruk, perutnya berlubang dan penuh dengan darah, dia meringis kesakitan lalu ambruk dan tidak terlihat karena tenggelam dalam air kolam.

"haah, dia belum pulang." Kata Madara dengan nada malas.

"inilah akibatnya kalau kau bolos sekolah." Kata Madara. (itu juga berlaku untuk reader yang masih sekolah) lalu Madara segera ketempat Issei. Kemudian membawa Issei ketempat yang terlintas dipikirannya, yaitu disekolah, diruang club penelitian ilmu gaib.

.

O.o

.

2 hari setelah kejadian tersebut. Akhirnya Issei sadar dan kini sedang adu cekcok dengan Rias. Dirinya meminta bantuan pada Rias untuk menyelamatkan Asia tapi Rias menolak.

"baiklah kalau bucho tak mau membantuku, aku akan pergi sendiri" kata Issei lalu pergi keluar ruang club.

"Issei" Rias berteriak tapi diabaikan oleh Issei. Kemudian Akeno mendekat kesamping Rias dan membisikan seseuatu ketelinganya.

"Yuuto, Koneko. Cegah dia, jangan sampai dia berbuat nekat." Kata Rias

"Ha'i/Ha'i" jawab kiba dan Koneko serentak. Lalu mereka segera berlari mengejar Issei.

.

O.o

.

Hari Sudah sore. setelah mengajar kini Madara segera berjalan pulang kerumah dan mampir sebentar kekantin sekolahan terlebih dahulu untuk membeli makanan seperti biasa, dia membeli pisang satu tangkai yang berisikan 8 buah. namun ketika keluar dari kantin matanya kini menangkap hal yang tak biasa, yakni Issei yang berjalan cepat keluar dari ruang club penelitian ilmu gaib dengan tampang serius nan sangar. Itu berbeda dari biasanya karena biasanya wajahnya tak luput dari tampang mesum. 'ada apa dengannya? Dia seperti orang yang terkena lemah syahwat' batin Madara lalu segera melanjutkan perjalanannya.

Tak berselang beberapa menit Kiba dan Koneko juga menyusul keluar dari ruang club dengan berlari tergesa-gesa. Membuat Madara yang melihatnya menggaruk-garuk belakang kepalanya. "sepertinya sesuatu yang bagus terjadi. Lebih baik aku membuntuti mereka" kata Madara lalu mengikutinya secara sembunyi-sembunyi.

Kiba dan Koneko berhasil menyusul Issei dan menemukannya sedang berjalan cepat kearah gereja, jadi mereka cepat-cepat memanggilnya sebelum dia masuk.

"Issei-kun" panggil Kiba tapi seolah tuli Issei tak menanggapinya sama sekali. Lalu mereka berdiri dihadapannya, menghalangi jalannya.

"minggir" kata Issei dingin

"Issei-kun, bucho melarangmu pergi. Kau tak boleh bertindak suatu hal yang dapat membuat hubungan iblis dan malaikat jatuh kembali memanas" kata kiba.

"aku tahu. Maka dari itu aku pergi secara pribadi, bukan atas keluarga Gremory!" kata Issei lantang.

"tapi tetap saja. Kau masih bagian dari club ini" kata Kiba.

"kalau begitu aku akan keluar dari club ini. Bukannya aku tidak menghargai kalian semua, tapi ini agar kalian tak terlibat dan tidak menimbulkan konfilk antara iblis dan malaikat jatuh. Aku akan pergi secara pribadi. Apapun yang terjadi aku harus pergi walaupun aku harus mati" kata Issei mantap. Kiba dan koneko sempat tercengang dengan ucapan Issei. Tapi kiba dapat melihat tekad yang kuat dimata Issei yang menatapnya.

Issei mulai berjalan kembali melewati Kiba dan Koneko. Namun ketika Issei berada 2 langkah setelah melewati mereka, dia berhenti karena bahunya ditahan oleh seseorang dari belakang. Lalu Issei menoleh dengan wajah datar.

"kau pikir aku akan membiarkanmu pergi sendirian?" kata Kiba sambil tangannya masih berada dibahu Issei.

"Kiba" wajah Issei nampak kebingungan.

"aku akan membantumu" kata Kiba dengan senyuman.

"apa" Issei kaget dengan apa yang dikatakan Kiba, karena Issei memang tak menduganya sama sekali bahwa seorang Kiba, yakni pria tampan yang dibencinya itu akan menolongnya.

"Kiba Senpai" Koneko nampaknya juga terkejut dengan ucapan Kiba.

"maafkan aku Koneko-chan, bagaimanapun Issei-kun adalah temanku. Walau aku tahu apa yang dikatakan Bucho memang benar, tapi ada sisi dari diriku yang sangat ingin mendukung Issei-kun. Selain itu, secara pribadi aku membenci malaikat jatuh. Aku sangat membenci mereka" kata Kiba tenang pada Koneko.

Issei yang melihat ketulusan Kiba kini sudah mulai sesenggukan. "Kiba, terima kasih. Kau memang temanku yang paling hebat" kata Issei lalu mulai menghambur memeluk Kiba. Tapi tidak jadi karena dia baru sadar ternyata ada Koneko yang melihat, dia tidak mau tampil seperti pasangan Yoi didepan seorang gadis.

"aku juga akan ikut" kata Koneko dengan wajah datar.

"huh, Koneko-chan?" Issei bergumam.

"aku khawatir kalau Cuma dua orang yang pergi" kata Koneko tanpa ekspresi, tapi meskipun begitu suaranya terdengar tulus.

"aku sangat tersentuh Koneko-chan. Saat ini aku sangat tersentuh dengan kalian berdua" kata Issei yang kini mulai kembali kesifatnya.

Kiba tertawa senang melihat wajah Issei yang kembali seperti semula.

"kalau begitu mari kita bertiga memulai misi penyelamatan Asia.! Tunggu kami Asia" kata Issei dengan background api yang berkobar dibelakangnya. Lalu mereka bertiga segera pergi menuju gereja.

Sementara itu, Madara yang duduk didahan pohon tak jauh dari tempat mereka bertiga, kini sedang makan pisang sambil sesenggukan dengan mata yang memerah seperti Sipanse yang kehilangan ibunya. "drama yang mengharukan! Harusnya kudokumentasi dan kumasukkan You tube"

.

O.o

.

Langit mulai gelap. Sesudah berdiskusi tentang stratergi yang akan digunakan untuk misi kali ini, Issei,Kiba dan koneko segera masuk kepintu gereja dan masuk keruang kudus. Ada altar dan banyak kursi panjang. Lilin ditengah ruangan dan lampu ruang menerangi ruangan tersebut. Tapi semuanya tampak usang dan banyak terdapat jaring laba-laba, benar-benar mengerikan. Sedangkan Madara juga masuk tanpa diketahui dan kini sedang berada dilangit langit ruangan tersebut, berdiri terbalik sambil membawa tas kerjanya dan pisang-pisangnya

PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK

Suara tepuk tangan terdengar. Seseorang seperti pendeta berwajah seperti anjing yang terkena rabies muncul dari balik tiang.

"Konbawa. Apa kalian iblis ingin berdo'a digereja haa? Ini sungguh menarik mari kufoto terlebih dahulu sebagai iblis pertama yang mengunjungi gereja!? Tapi tidak jadi karena aku ingin menebas kepala kalian wahahaha. Hebat bukan?" kata pendeta tersebut berbicara seperti orang gila yang histeris ditengah jalan.

'ada yang salah dengan orang itu' batin Madara yang berada diatap kemudian dia mulai mengupas satu pisangnya dan memakannya.

"Freed! Dimana Asia" teriak issei

'pantas saja, namanya saja KamFreed. Tega sekali, ibunya menginginkan anaknya seperti Kampreet' batin Madara maklum.

"sebelumnya aku belum pernah bertemu iblis yang sama dua kali! Kenapa? Karena aku sangat kuat, aku mencincang mereka semua ketika kami bertemu pertama kali! Kemudian aku menggosok-gosokan pantatku kewajahnya dan mengucapkan selamat tinggal! Itulah cara hidupku biasanya! Tapi kalian merusak semua itu, aku jadi resah! Ini tidak benar! Tidak baik merusak gaya hidup orang lain! Karena itu aku jengkel sekali pada kalian! Aku harap kalian bisa mati! Tidak,, MATILAH KALIAN IBLIS SAMPAAAAH" kata freed sambil mengeluarkan pedang cahaya dan pistol lalu menembakkannya DOOR.

'dia benar-benar tidak waras. Apa mungkin ibunya terjungkal dari becak saat mengandungnya?!' batin Madara sweatdrop.

Door

Door

Door

Pistol itu terus menembak tanpa suara. Dan yang lainnya terus menghindar sebisa mereka.

"Sacread Gear" issei mengaktifkan secred Gearnya. Kiba memunculkan pedang sebagai senjatanya. Sedangkan Koneko, WAOW dia mengakat bangku altar yang panjang itu dengan mudahnya layaknya ranting pohon. dia memegang bangku itu seperti memegang pedang dengan satu tangan. Sungguh menggumkan untuk gadis mungil sepertinya.

Koneko langsung melempar bangku itu kearah Freed. Namun freed menebasnya secara vertikal dari bawah keatas hingga bangku tersebut terbelah menjadi dua dengan pedang cahayanya. Lalu pendeta itu berjoget-joget sambil menebas Kiba tapi kiba menahanya dengan pedangnya.

[BOOST] tiba-tiba sarung tangan Issei berbunyi dan kekuatannya berganda.

Issei tidak tinggal diam. dengan kikuk karena ini adalah pertama kalinya dia bertempur, dia segera mengarahkan tinjunya dibelakang freed. Namun freed menghindar kesamping dan membiarkan Issei meninju Kiba.

"maaf kiba" kata Issei setelah meninju Kiba.

"tidak apa" katanya kemudian mulai menyerang freed lagi.

"hahahaha. Apa enak dipukul oleh kawanmu sendiri ha? Tidak! Bagaimana kalau aku yang memukulmu ? tidak-tidak, lebih baik aku menembakmu" kata Freed gila lalu menembakkan pistolnnya kearah Issei tapi Kiba mendorong Issei agar tak mengenainya.

"egh cepatlah hajar dia. Aku tak tahan mendengar ocehannya. Ingin sekali rasanya aku menyumpal mulutnya itu dengan pisang ini" gumam Madara kesal. Dia masih sabar menunggu ditempatnya berada.

Kiba berlari menyerang Freed dan Freed menembakkan pelurunya kearah Kiba. Kiba menghindarinya lalu dengan kecepatannya dia berdiri tepat didepan freed lalu menebasnya tapi ditahan oleh pedang cahaya milik Freed. Lalu mereka mulai beradu pedang.

[BOOST] sarung tangan Issei berbunyi lagi, tapi Issei hanya bisa diam melihat adu pedang antara Kiba dan freed

Madara yang melihat Kiba malah beradu pedang dengan Freed mulai bosan menunggu. "sialan, aku bosan menunggu. LIMBO" kata Madara sambil memfokuskan Matanya kearah Freed.

Tiba-tiba saja tubuh Freed tak bisa digerakan diselang dirinya beradu pedang. Kiba pun tak mau mensia-siakan kesempatan, dari posisinya terakhir tadi dia langsung menebas cepat tangan fredd yang membawa pistol hingga tangannya terpotong dan langsung melompat mundur.

"arggg" jerit Fredd menahan sakit. 'tubuhku tak bisa bergerak' batinnya.

Kemudian Koneko berlari cepat kearah Fredd membawakan pukulan dengan tenaga penuh kewajahnya dan membuatnya terpental terbang jauh hingga dia menabrak kaca jendela gereja sampai pecah dan tergeletak di tanah diluar gereja.

"akhirnya selesai" kata Koneko dengan wajah datar sambil menepuk-nepukkan tangannya seolah habis membersihkan sampah.

'begitu saja kelamaan' batin Madara jengkel.

"ayo kita segera pergi menyelamatkan Asia" kata Issei

"sepertinya dibawah sini" kata Kiba yang kini berada di atas altar. Lalu Issei dan Koneko menghampirinya lalu melihat kebawah ada tangga menurun dibawah altar. Lalu mereka turun dengan kiba berada dibarisan paling depan. Setelah turun tangga, terdapat lorong yang menuju kebagian terdalam ruangan. Mereka langsung berlari hingga keujung dan menemukan sebuah pintu besar. Madara juga mengikuti mereka. jika mereka berlari dibawah menginjak lantai, maka Madara berlari diatas menginjak langit-langit lorong tersebut. Aneh ya? Itulah ninja.

"mungkin saja didalam sana ada sekelompok pengusir setan dan malaikat jatuh. Apakah kalian siap?" tanya Kiba dan dibalas anggukan oleh semuanya.

Ketika Kiba ingin membuka pintu itu, tiba tiba saja pintu itu terbuka dengan sendirinya. Lalu terlihatlah apa yang ada didalam. Pertama yang dapat dilihat adalah seorang gadis berambut pirang terikat disebuah salib diatas puncak tangga diujung ruangan dialah Asia, disampingnya seorang perempuan bersayap gagak dengan pakaian aneh yakni Raynare dan sekelompok berpakaian pendeta berwarna hitam, mengenakkan bungkus kepala dengan 2 lubang di kedua matanya, memakai topi koboi dan membawa pedang.

"Selamat datang para iblis" kata Raynare

"ASIAAA" teriak Issei spontan namun tak ada jawaban dari gadis yang dipanggilnya itu.

"kalian terlambat. Dia sudah mati. Ritualnya telah selesai" kata Raynare sambil memain-mainkan sebuah cahaya hijau berbentuk bola ditangannya.

"apa yang kau lakukan padanya?" tanya Issei

"aku mengambil sacred gearnya. Aku sudah menunggu kekuatan ini sejak lama. Dengan ini aku dapat menaklukkan semuanya. Kekuatan ini" katanya sambil menaruh bola cahaya itu kedadanya dan bola itu terserap masuk ketubuhnya. Seketika ruangan itu terisi oleh kilatan warna hijau hanya sekejab yang terpancar dari tubuh Raynare.

"owoooh" para pengusir setan itu terkesima, Issei menggeram kesal sambil menyilangkan tangannya karena silauan cahaya tesebut, teman-temannya juga melakukan hal yang sama. Sedangkan Madara yang berada dilangit-langit hanya menguap bosan sambil memakan pisangnya.

"hahahaha! dengan kekuatan baru ini, aku dapat menjadi malaikat jatuh kelas atas yang kekuatanya dapat menyamai tuhan dan aku dapat bersama Azazel-sama dan shemhaza-sama." Kata Raynare dengan bahagia.

"BWUHAHAHAHA kau, kau! ngelawak?... BWUHAHAHAHA hah.. hah.. hah.. pfffttt... ahahaha, aduh" Perkataan raynare tadi sukses membuat Madara yang berada diatas tertawa terpingkal pingkal sambil memegangi perutnya yang terlihat kesakitan dan membuat Madara ketahuan.

"Siapa kau" kata salah satu pengusir setan yang berada dibawah Madara.

"Madara sensei" kata Issei, Kiba dan Koneko serentak.

"Sensei sedang apa disini" tanya Kiba

"Yo !maaf menggagu, Aku hanya kebetulan lewat lalu tak sengaja mendengar seseorang mengoceh tentang kekuatanya yang dapat menyamai tuhan dan itu membuatku tak tahan untuk tidak tertawa. Hahahaha" kata Madara lalu kembali tertawa.

"kau orang yang kemarin menggaguku untuk membunuh Issei." Kata Raynare menunjuk Madara dengan telunjuknya.

"yo ! lama tak jumpa, pakaianmu tidak berubah?" kata madara sambil mengupas pisangnya lalu memakan ujungnya sampai separuh.

"Onoree, aku akan membalas perbuatanmu!" Raynare berdesis.

"aku tak sabar melihat kekuatanmu yang katamu dapat menyamai tuhan itu."kata Madara sambil kembali memakan pisangnya

Mendengar perkataan Madara membuat Raynare geram. Dia menciptakan dua tombak cahaya lalu dilemparnya kearah Madara.

melihat dua tombak cahaya yang mengarah kearahnya, madara spontan melompat menghindar dan saat diudara dia melempar kulit pisangnya dan hinggap tepat diwajah cantik Raynare.

"eh maaf, tadi aku tak sengaja menjatuhkannya."kata Madara sambil mengupas pisang barunya lalu memakannya lagi dengan wajah tanpa dosa.

"brengesek kau ,aku akan membunuhmu hari ini juga. Semuanya serang orang itu" teriak Raynare penuh amarah.

Madara yang mendengarnya hanya memasang wajah kusam "jangan bercanda, bahkan aku bisa mengalahkan kalian semua hanya dengan pisang ini!" katanya sambil memakan kembali pisangnya.

Lalu semua para pengusir setan yang berada disana maju menyerang Madara. Madara langsung menghabiskan cepat pisangnya, lalu melemparkan kulitnya kearah gerombolan pengusir setan yang menyerbunya.

"Pisang Kage bunshin no jutsu" kata Madara sambil membuat segel tangan.

Seketika satu pisang yang dilemparnya menjadi puluhan dan para pengusir setan yang berlari menyerangnya semuanya jatuh terpeleset kulit pisang yang telah berada di lantai, ada juga kulit pisang yang masih diudara dan mengenai wajah beberapa dari mereka dan saling bertabrakan.

Kini Kiba,Issei, bahkan Koneko yang biasanya memasang wajah datar kini mulutnya terbuka dan rahangnya bergerak turun sampai kelantai ketika melihat bagaimana belasan pengusir setan itu dikalahkan oleh Madara hanya dengan bermodalkan kulit pisang. sedangkan Raynare melebarkan Matanya. dirinya perlahan mundur kebalakang dengan bergetar ketakutan.

Koneko yang pertama kali sadar dari acara jawsdropnya "Kiba Senpai" kata Koneko

"aku mengerti" kata Kiba lalu "Sword Bird" kiba menusukkan pedangnya ketanah, lalu seketika banyak muncul ujung pedang dari tanah yang ditiduri oleh para pengusir setan tersebut hingga membuat beberapa bagian tubuhnya tertembus. Ada yang diperut, dada, selangkangan, kepala, dan lain-lain yang pasti membuat semuanya tak bernyawa lagi. kini hanya tinggal Raynare sendiri, Raynare pun tak dapat berbuat apa-apa.

"Mana kekuatanmu yang menyamai tuhan itu? kau jangan bercanda. jika memang kekuatan seperti itu kau sebut menyamai tuhan, sungguh kau telah menurunkan standart tuhan dan sungguh membuatku tak mau menyembah tuhan." Kata Madara dengan nada sinis.

"tidak mungkin" Raynare bergetar ketakutan. Lalu dia membentangkan sayapnya bersiap kabur.

Tapi hal tersebut takkan dibiarkan Madara. Madara langsung melakukan shunshin dan seketika dia berada didepan Raynare. Lalu-.

.

Jlebb

Madara menusuk perut Raynare dengan besi hitam yang keluar dari telapak tangannya.

"uhuk" Raynare memuntuhkan darah dari mulutnya. Dirinya bersusaha melakukan penyembuhan dengan menggunakan Twilling Healing yang didapatnya tapi kekuatannya tak bekerja. "a-da apa i-ni, kekuatanku tak da-pat bekerja" kata Raynare yang semakin lama suaranya mengecil.

"kekuatanmu tak berguna dihadapanku. Besi hitam ini, bukanlah besi hitam biasa. Jika besi hitam ini berada dalam tubuhmu aku dapat mengatur dan mengendalikan tubuhmu. Jika aku tak berkehendak, maka kekuatanmu itu tak akan bekerja" kata Madara dingin.

"a-am-pu" perkataan Raynare yang kesusahan itu langsung berhenti ketika-.

Jraashh

Madara membelah tubuh Raynare menjadi dua bagian dengan besi hitamnya. Lalu tubuhnya melebur hilang tertelan udara Dan menyisakan bola cahaya berwarna hijau yang jatuh perlahan bagaikan kertas tepat didepan Madara. Lalu Madara menangkapnya.

"ugh" Kiba memalingkan mukanya melihat kesadisan Madara. Padahal dirinya sendiri tak kalah sadisnya dengan Madara, lihat saja bagaimana semua para pengusir setan yang tergeletak dengan beberapa tubuhnya yang tertembus tajamnya pedang, bukannya itu ulahnya. Koneko tetap memasang wajah datar. Sedangkan Issei, raut mukanya nampak sedikit sedih 'Yuma-chan' batinnya.

"Issei-kun" panggil Kiba

"ah, iya" Issei tersadar dari lamunannya. dia kini berlari ketempat Madara, tapi Madara bukanlah tujuannya, melainkan gadis yang disalib didepan Madara.

"Asia" kata Issei sambil melepaskan ikatan tangan dan kaki Asia. Lalu menurunkannya dan memangku kepalanya dilengannya. Dia menggoyang-goyangkan tubuh mungil asia, tapi tak ada respon.

"bukankah dia kekasihmu?" tanya Madara

"sensei, apa yang harus kulakukan" tanya Issei yang berlinang air mata. Madara tak menunjukkan ekspresi apa-apa. "Sring"Tiba-tiba muncul lingkaran sihir berwarna merah dan memunculkan dua orang gadis berambut hitam dan merah.

"Bucho" kata Kiba, Koneko dan Issei serentak.

"Madara-kun" kata Akeno girang. lalu menghambur memeluk Madara.

"Akeno, lepaskan" kata Madara sambil berusaha melepas pelukan Akeno.

"fufufu. Kenapa kau berada disini?" tanya Akeno.

"biar mereka yang bercerita padamu. tapi sebelum itu, tolonglah gadis itu, dia tak sadarkan diri" kata Madara sambil menolehkan kepalanya kearah Asia.

"Bucho, Asia. Aku tidak bisa menyelamatkannya" kata Issei menahan tangis sambil melihat Asia penuh rasa bersalah.

"tak apa, ini semua bukan salahmu. Kalau ada yang harus disalahkan, maka para malaikat jatuh itu yang harus disalahkan" kata Rias menyenangkan Issei

"tapi,, tapi aku" kini Issei sudah tak dapat menahannya lagi, air matanya sudah mulai berjatuhan.

"mungkin ini terlalu cepat, tapi tidak ada salahnya mencoba. Bagaimana menurutmu" tanya Rias sambil mengeluarkan sebuah bidak catur.

"bidak catur" tanya Issei

"lebih tepatnya adalah mentri" yang menjawab adalah gadis yang tersenyum disamping Madara yakni Akeno.

"tugasnya adalah untuk membantu anggota iblis lainnya dari belakang. Dengan kekuatan penyembuhnya, dia akan menjadi mentri yang hebat" kata Rias.

"bucho, maksudmu. jangan-jangan" Kata Issei

"ya, aku akan mencoba merenkarnasikannya menjadi iblis" kata Rias sambil tersenyum.

"ufufufu. Berikan itu padaku Madara-kun." Kata Akeno sambil mengambil bola cahaya yang berada ditangan Madara. Lalu memberikannya pada Rias dan Riaspun memasangkannya pada Asia, ternyata bola cahaya itu adalah cahaya yang berasal dari dua cincin Asia. Lalu Rias menyuruh Issei membaringkan Asia dan meletakkan bidak catur itu diatas dada Asia. Kemudian dia melakukan suatu ritual dan sinar merah sekilas menyinari ruangan tersebut.

"eh" Asia membuka matanya dan menunjukkan wajah bingungnya

"Asia. Bucho" Issei terlihat senang.

"Issei-san" Asia bergumam memanggil Issei. Issei langsung saja memeluk Asia.

"aku serahkan dia padamu, Issei. Kau adalah senior" kata Rias

"ayo pulang Asia" kata Issei disela pelukannya.

"sekarang. ayo pulang Madara-kun" kata Akeno tersenyum kearah Madara.

"haah" Madara menghela nafas. Semuanya pulang, Asia kini ikut pulang dan tinggal dirumah Issei, dan Madara juga pulang dengan terpaksa sambil menceritakan semuanya pada Akeno karena rumahnya searah.

.

.

TBC

.

Pelajaran apa yang kita dapat hari ini ?

1. Jangan suka menganggap enteng perkataan seseorang

2. Menolong teman disaat dia membutuhkan itulah arti pertemanan sejati

3. Jangan suka bolos sekolah nanti ditusuk malaikat jatuh #hehehehe

Kali ini saya memberikan Sedikit interaksi untuk OphisMadara. Bagaimanapun juga saya tak mau jika Ophis ingin menikahi Madara hanya karena dia mempunyai kekuatan yang unik, begitupun dengan pair Madara yang lain. Rasanya gimana gitu kalau mereka hanya menyukai seseorang karena hal yang seperti tampan, kuat, atau hal-hal lainnya yang memikat dalam sekali pandang. Bagi saya rasa suka dan cinta itu muncul disaat adanya interaksi yang cukup dan butuh proses, bukannya dalam sekejab ujuk-ujuk suka, ujuk-ujuk menikahlah denganku, wah wah tentu tidak. Tapi kalau untuk kehidupan nyata author sendiri, pinginnya sih hal yang kayak gitu benar-benar terjadi pada saya hehehehe #plaak "munafik lu, bilang aja dari tadi kalau suka begituan." di tabok Madara

Mungkin beberapa dari kalian bertanya, seperti apa sih penampilan Ophis hingga membuat Madara terpesona !? copy paste ini kekolom search kalian : . /highschooldxd/images/e/ee/Ophis_My_First_Errand_ /revision/latest?cb=20120504080445

Satu lagi, bagi kalian yang syok kenapa Issei bisa mengerti bahasa Asia yang notabene bukan bahasa jepang? saya kasih tahu itu merupakan kekuatan iblis, yang dimana setiap kali dia berbicara dengan orang yang memakai bahasa berbeda, dia akan tetap mendengarnya sebagai bahasa jepang.

Ok sekarang waktunya membalas review para reader kesayangan saya yang tidak login. Bagi yang login seperti biasa saya balas via PM. ~ :

.

Merry : wah kalau itu kita ngikut alurnya aja ya. Terus untuk konsepnya tetap bakal harem, maaf saya gak bisa narik kata-kata saya, tapi disini ada pair utamanya kok entah itu Ophis atau lainnya, terus ikuti aja ceritanya. Kalau untuk sifat Madara, saya make sifatnya waktu masih bergaul dengan Hashirama, karena Madara tak mempunyai dendam apapun dengan dunia barunya ini jadi dia kembali dari nol kesifat asalnya, tapi tetap sifat penguasanya tetap ada, itulah yang akan menentukan jalan mana yang dipilih Madara, Savior(penyelamat) or Tormentor(penghancur). Terima kasih udah mau review kalau boleh minta reviewnya lagi.

Rei : ok terima kasih. Terima kasih juga untuk reviewnya kalau boleh minta reviewnya lagi.

Guest : ok terima kasih. Terima kasih juga untuk reviewnya kalau boleh minta reviewnya lagi.

Bocah : iya, saya percaya kok. memang charakter DXD itu kuat, munafik kalau saya bilang mereka lemah, terutama Sirzerch dan Ophis mereka yang paling kerennn. Tapi kalau bahas ginian tolong login ya. Gak enak soalnya kalau separuh dari sesi ini Cuma diisi oleh kehebatan jutsu-jutsu Naruto. Saya sendiri buat fic ini bingung bagaimana agar pertarungannya dapat bertahan lama dan Madara tak terlalu cepat menangnya agar lebih greget. Ada satu fakta yang menurut saya kurang dari review anda ; ketika Ophis kehilangan sebagian besar kekuatannya dia masih menyisakan kekuatannya sekitar 40% bukan 25%, makanya dia masih setara dengan kedua naga langit saat belum disegel. Memang samael menyerap kekuatannya sekitar ¾, tapi sebelumnya Ophis sudah memecah sedikit kekuatannya dalam bentuk ular. Jadi setelah dia mejadi lemah dia mengambil kembali kekuatannya dan jadilah dia sekuat itu. Itu aja kalau mau sharing lagi tolong review menggunakan akun anda. Terima kasih udah mau review kalau boleh minta reviewnya lagi.

Reyvanrifki : : ok terima kasih. Terima kasih juga untuk reviewnya kalau boleh minta reviewnya lagi.

Mr.X : ok gapapa. iya memang ide konyol ini gak sengaja dapet setelah baca ficnya dia. Ya saya sudah menduga itu, saya sendiri udah merasa pasti ada yang salah dengan pengguna an tanda baca saya itu yang paling membingungkan buat saya. Makanya saya minta bantuannya tolong sebutkan bagian mana yang salah dan bagaimana agar lebih baik, kalau saya sendiri gak bisa mengoreksi tanpa bantuan orang lain, jadi mohon bantuannya ya. Terima kasih udah mau review kalau boleh minta reviewnya lagi.

.

Ok terima kasih untuk kalian yang mau baca dan mohon tinggalkan jejak berupa review atau semacamnya. Sampai jumpa di chapter depan dan saya ucapkan Selamat hari raya Idul Fitri 1436 - #bener gak?