PART_4

"Mungkin kekasihmu itu akan segera pulang juga." Aku melanjutkan penjelasannya.

Entah apa yang ada difikiranku sekarang. Aku benar-benar hilang kendali. Ku sibakkan rambutnya yang menghalangi lehernya itu. Kuciumi dengan lembut lehernya hingga ke telinganya.

"Ahhh..." Dia mulai mendesah pelan. Kali ini tidak seperti biasanya, tak ada penolakan darinya itu semakin membuat otakku tidak terkontrol lagi. Ku balikkan badannya menghadapku. Kucium bibirnya dengan lembut. Tak ada penolakan juga tak ada balasan. Dia hanya diam. Ku gigit bibir bawahnya pelan hingga dia membuka sedikit mulutnya. Langsung ku kulum bibirnya, ku masukkan lidahku bertemu dengan lidahnya. Kudorong tubuhnya menuju sofa di depan tv tanpa melepas ciumanku. Ku rebahkan tubuhnya di atas sofa yang tidak terlalu besar namun mampu menopang seluruh tubuhnya, ku tindih dia. Dia mulai membalas ciumanku, meremas kaos bagian belakangku. Aku mulai menurunkan ciumanku ke lehernya. Pelan, aku tidak mau memberinya kiss mark karena akan membuat dia dalam bahaya. Ku remas dada kirinya dengan tangan kananku.

"Uuuhhh... " Desahannya tampak ditahan.

"Keluarkan desahanmu Jennie"

Ku masukkan tanganku ke kaosnya, ku pilin nipplenya bergantian. bibirku kembali menyantap bibirnya lagi dengan ganas.

Ku lepas bajunya satu persatu. Kini dia terlihat tanpa sehelai benang. Aku merasakan sesak pada celanaku. Ku lepas kaosku dengan segera ku ciumi tubuhnya satu-satu. Kugigit kecil nipplenya tangan kananku mulai menjelajahi daerah intimnya. Kumasukkan jari tengahku ke lubang kenikmatannya. Dimaju mundurkan jariku ke lubangnya.

"Ahh... Uhhhhh.. Seungri… "

Kumasukkan dua jariku yang lain menambah desahannya semakin kuat dan keras..

"Teruslah mendesah untukku, Jennie."

"A.. aku mau... Ahhh" Dia dengan kuat menjambak rambutku.

"Aaaahhhhh..." Cairan hangat keluar darinya. Segera ku arahkan wajahku melahap cairan itu dilubangnya.

Aku sudah tak tahan lagi dengan semakin sesaknya celanaku.

"Mianhe, Jennie-ya." Aku tampak sedikit ragu. Tiba-tiba saja dia menganggukkan kepalanya tanda menyetujui seolah-olah dia tahu apa yang ada difikiranku ini. Segera kulepas celanaku.

SKIP

Aku tidak percaya apa yang baru saja kulakukan bersama wanita ini. Kami terlelap setelah menikmati 'itu', kubuka mataku, kulihat tubuh kami yang hanya ditutupi selimut saling berpelukan satu sama lain. Dia tertidur sangat manis sekali. Pelan-pelan kucium keningnya. Tak kusangka 'saat itu' dia mengeluarkan darah keperawanannya, aku menjadi namja pertama yang menikmatinya, Oh my Got, kenapa namja yang bernama Jiyong itu tidak pernah melakukan padanya? Rasanya aku benar-benar keterlaluan sekali.

~Jennie pov~

Aku merasakan detakan jantungnya, begitu hangat. Ada apa dengan diriku? Kenapa begitu nyaman ada dipeluknya dan mengapa kuberikan mahkotaku untuknya? Bahkan ketika GD pertama kali memintaku seperti itu aku sangat marah dan mengancam untuk pergi darinya. Dia lelaki sejati, selama 3 tahun setelah itu dia benar-benar memegang janjinya untuk tidak melakukan apapun yang menyakitiku. Tapi bagaimana denganku? Benar-benar aku merasa menjadi wanita terhina dimuka bumi ini, dengan mudahnya kuhancurkan sesuatu yang dijaganya selama bertahun-tahun ini. Bahkan aku tak merasa menyesal. Benar-benar wanita macam apa aku ini?

Kulihat jarum jam dinding menunjuk pada angka 7. What ? sudah pagi?

"Seungri. Bangun…" kugoyang-goyangkan dadanya. Tiba-tiba dia menarikku sehingga aku jatuh dipelukannya lagi.

"Mwo? Kenapa kau melepas pelukanmu?" ucapnya tanpa membuka mata.

"Lihatlah sudah jam 7".

"Memangnya kenapa? Apa kau ada janji malam ini?" Ucapnya. Benar-benar seperti baby panda kalau baru bangun tidur. Lucu sekali.

Tunggu, malam? Aku melihat kearah jendela kaca yang menghadap langsung keluar, benar saja gelap, hanya berhiasan lampu-lampu kota yang tersusun rapi dan indah.

"Ahh.. aku kira ini sudah pagi. Hehe." Ucapku manja menggarukkan kepalaku yang sama sekali tidak gatal.

Ting tong.. ting tong…

Kudengar seseorang membunyikan bel pintu. Langsung ku arahkan pandanganku ke pintu keluar berbarengan dengan lelaki yang di hadapanku ini.

"Ommo.. Ottoke.. Ottokeyoo.." Aku panik. Tapi Seungri nampaknya tak kalah panik dariku. Bukannya menuju pintu malah dia mencari ponselnya. Raut wajahnya terlihat semakin panik ketika dilihat layar ponselnya tersebut. Aku hanya melihat sekilas dilayarnya sekitar ada 5 message dan 12 missed call.

"Krystal.. " Dia menyebut satu nama yang membuatku semakin ingin terjun dari ujung monas.

"Cepat pakai bajumu dan perbaiki rambutmu itu! aku yang akan membereskan semua ini." Aku segera menuruti ucapannya.

"Bersikaplah seperti biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ara?"

"Araso." Jawabku pelan.

Aku memposisikan duduk di sofa depan televisi yang menyala. Seungri berjalan ke arah pintu sambil menata rambutnya.

"Ya! Sedang apa kau ini hah? Berkali-kali ku telpon tak ada jawaban. Pesanpun tak kau bales. Membuat khawatir saja!" Ku dengar teriakan yeoja yang berdiri didepan pintu yang terbuka.

"Cagiyaa... Bogoshipoo.. " Yang ini terdengar senang teriakan namja. Haiss lelaki ini benar-benar licik. Dia memeluknya dihadapanku.

"Mianheyo Baby.. Aku sangat merindukanmu sampai aku tak bisa menjawab telfonmu bahkan untuk membalas pesanmu pun aku tak sanggup." Benar-benar pernyataan yang konyol.

Dibalik tubuh Seungri yang dipeluknya, yoeja itu menghadap pandangannya ke arahku.

"Jennie unnie." Panggilannya padaku. Dia tampak kaget dengan keberadaanku. Dilepaskannya pelukan terhadap kekasihnya itu dan berjalan ke arahku diikuti Seungri dibelakangnya.

"Anyeong Krystal." Aku berdiri dan membungkukkan badanku. Gugup.

"Unnie.. kenapa unnie ada disini? Apa yang kalian lakukan?" Tanya Kristal tatapannya bergantian ke arahku dan Seungri. Aku merasa benar-benar di interogasi kali ini.

"Emmm..." Kugigit pelan bibir bawahku. 'Apa yang harus kukatakan?' Batinku.

"Dia memintaku memberi ide dalam menyusun skripsinya. Makanya dari tadi aku sama sekali tidak menyentuh ponselku. Dia benar-benar menyita waktuku hari ini." Ucap Seungri. Walaupun aku tahu ini hanya sebuah alasan yang dibuat-buat tapi kalimat terakhirnya membuatku ingin menjitak kepalanya. 'Apa aku ini hanya seorang pengganggu?' Batinku menatap tajam mata Seungri.

"Nde. Dan sepertinya aku harus segera pulang. Karena aku tidak mau mengganggu acara kangen-kangenan kalian."

"Jongmal? Apa dia benar-benar sudah pantas jadi konsultan? Sungguh tidak bisa dipercaya." Katanya memandang kekasihnya dengan tatapan tak percaya. Seungri hanya memperlihatkan deretan giginya lagi.

"Ahhh... cutee.. kenapa pacarku ini begitu sangat cutee.." Katanya lagi sambil senyum menyipitkan kedua matanya. Kedua tangannya mencubit pipi Seungri. Si panda yang sedikit kesakitan hanya senyum-senyum sumringah. Tak dipercaya kekasihnya ini telah melupakan kemarahannya.

"Ehm.." Aku berdehem tak tahan melihat dua orang ini. Tentu saja aku cemburu.

"Ah mianhe unnie.. Ohya kalian pasti belum makan kan? Bagaimana kalau dinner bertiga disini. Kebetulan aku membawa banyak makanan dari Busan". Ucapnya sambil memperlihatkan kantong yang di letakkan di meja didepan sofa.

"Kau seharian di Busan hanya membawa ini? Kenapa kau tidak membawa gadis cantik saja? Haha." Candaan Seungri inilah yang justru membuat wanita manapun merasa nyaman bersamanya.

"Ya! Apa aku ini tidak cukup cantik bagimu?" Satu jitakan keras dari Kristal mendarat di kepalanya. Entah kenapa aku juga ingin sekali menjitak kepalanya dengan candaan itu. Tapi barusan sudah diwakilkan.

"Kau bukan cantik, Baby. Tapi mempesona." Ucapnya. Ku lihat ekor matanya menuju ke arahku. Entahlah aku tak mengerti cara komunikasinya itu. Tiba-tiba pikiranku beralih ke GD. 'Ommo.. aku harus pulang'. Batinku.

Setelah berbagai alasan aku berhasil keluar dari apartemen tersebut.

TBC