Difference

Disclaimer :Naruto dan segala isinya hanya milik Masashi Kishimoto

Author: Difference punya Kyori Kyoya

Rating : M (No Lemon just Sami)

Genre : Romance, Family, mungkin crime,

WARNING: TYPO MENYEBAR,GAJE,OOC,BAHASA TIDAK BAKU, JIKA TIDAK SUKA TIDAK USAH DI BACA. TINGGAL KLICK BACK SAJA.

SASUSAKU

"Sasuke...Sasuke... aku mohon berhentilah,dan dengarkan penjasanku." Aku sama sekali tidak memperdulikan teriak Naruto di sepanjang koridor kampus. Aku terus saja berjalan di depannya dengan tergesa. Demi apapun juga aku tidak ingin bertemu dengannya setelah kemarin kami adu kepalan untuk menggeluarkan segala emosi kami. Mengingat kejadian kemarin, membuat langkah kakiku semakin cepat.

"Sasuke!" akhirnya dia merahih tanganku untuk membalikkan badanku mengarah padanya. Aku menyentakkan tangannya kasar dan aku terus saja diam mengamati apa yang akan terjadi setelah ini. Bekas pukulanku masih sangat kentara di sudut matanya nampak membiru,sedangkan di sdudut bibirnya masih nampak memarah. Apa mungkin separah itu pukulanku hingga membuat sudut bibirnya sobek? Aku sebenarnya tidak mau melakukan ini,karena tidak bisa mengendalikan emosiku yang memuncak pada akhirnya aku menghajarnya. Bagaimana aku tidak emosi jika melihat kekasihku jalan berdua dengan sahabat baikku dengan alasan menemaninya membeli kado untuk ibunya. Itu alasan yang tidak masuk akal, padahal ulang tahun ibu Naruto sudah lewat 2 bulan yang lalu. Apa Naruto pikir aku telah melupakan ulang tahun ibunya yang jelas-jelas dia mengundangku? Aku memang tidak membawa Hinata waktu itu, karena dia sedang pergi bersama ibunya.

Emosiku bertambah saat Hinata membela Naruto habis-habisan. Dari situ aku mulai menyimpulkan bahwa mereka memang memiliki suatu hubungan yang tak ku ketahui.

"Ok. Aku akui, aku memang bersalah. Kau tahu aku menyukai Hinata sebelum kau mengenalnya." Aku memang mengetahu fakta itu jadi aku tidak heran. Apakah perempuan yang menyandang sebagai kekasihku itu murahan? Aku rasa tidak. Lalu kenapa dia tidak menolak ajakan Naruto yang notabennya adalah Sahabatku? Aku semakin tidak mengerti dengan ini semua.

"Aku memang seorang pengecut Sasuke, karena aku tidak mengatakan perasaanyaku padanya sebelum kau menembaknya 3 bulan yang lalu." Aku masih berdiam diri membiarkan Sahabatku mengatakan unek-uneknya selagi aku belum beranjak dari situ juga.

"Aku mengatakannya setelah kau mengatakannya." Mataku membulat sempurna mendengar penjelasannya barusan. Dengan gerak cepat aku mencengram kemejanya. Napasku memburu menahan amarahku. Tanganku terkepal siap menghajarnya, namun sebelum aku sempat melakukannya seorang perempuan berambut indigo berhasil menahannya. Hinata menghalangiku melakukannya. Lagi. KEKASIHKU.

"Aku mohon jangan lakukan itu!" langsung saja aku melonggarkan cengkramanku dan berbalik. Aku sudah tidak sudi untuk melihatnya.

"Lagi-lagi kau membelanya. Sebenarnya kau itu kekasihku atau kekasih Naruto?" aku menolehkan kepalaku. Sorot mataku jelas tidak menyukai pemandangan ini. Hinata hanya menundukkan kepalanya, aku sama sekali tidak bisa melihat ekspresinya. Aku kembali menolehkan kepalaku kedapan dan siap berjalan menjauhi mereka.

"Aku adalah kekasihmu dan juga kekasih Naruto." kalimat itu berhasil membuatku berhenti berjalan. Apa maksud semua ini? Hinata benar-benar sudah gila?

"Aku tidak bisa menahan perasaanku padanya Sasuke, aku juga tidak bisa mengabaikan perasaanmu. Terlebih lagi kau terlihat senang saat aku mau menjadi kekasihmu ." Aku mengambil napas dalam-dalam kemudian aku tidak lagi memperdulikan teriakan Hinata yang disertai dengan isakan-isakan kecil. Aku benar-benar muak dengan tingkah mereka.

Aku butuh udara segar.

Difference

Aku membuka mataku saat aku merasakan sentuhan lembut di kepalaku. Pertama yang kulihat adalah mata hijaunya kemudian senyumnya. Entah sejak kapan kepaku sudah berada di pangkuannya. Ia tersenyu. Senyumnya menenangkanku, sejenak aku bisa melupakan apa yang terjadi padaku.

"Jadi kau benar-benar di bohongi mereka? Mereka menghianatimu?" aku memejamkan mata kembali mendengar suara lembutnya. Aku bisa merasakan bahwa dia menundukkan kepalanya guna menempelkan bibirnya diatas bibirku. Aku membuka mataku,dia tersenyum lagi. Sepertinya dia suka tersenyum akhir-akhir ini.

"Apa kau memiliki suatu kelebihan? Kau tahu semuanya." Ia melumat bibir atasku pelan detik berikutnya dan dia menegakkan kembali tubuhnya.

"Kelebihanku hanya satu. Yaitu menyembuhkan luka hatimu." Aku menerawang langit mendengar ucapannya barusan. Aku tidak akan keberatan jika memang itu kelebihannya. Aku duduk bersila menghadapnya. Tempat ini sepi,dan bagaimana bisa dia menemukanku disini? atap kampus adalah tempat kedua setelah kamarku untuk menenangkan diri. Mata bulatnya menatapku dengan pandangan yang aku sendiri tidak tahu.

"Aku masih ada kelas jam 3 ini. Apa kau sudah selesai?" aku hanya menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaannya.

"Kau mau mengantarku membeli buku? Sepertinya akau akan memerlukan buku tentang organ dalam pada hewan. Aku sudah mencarinya di perpustakaan tapi aku tidak menemukannya." Ia nampak tidak menyukai ini. Aku tersenyum.

"Kau tidak perlu membelinya. Kau hanya perlu meminjam punyaku." Ujarku mengelus kepala pinknya sayang.

"Benarkah? Baguslah jadi aku bisa menabung untuk menyewa apartemen." Aku mengangkat alisku sebelah. Dia akan menyewa apartemen?

"Untuk apa?"

"Aku tidak mau membuat ibu Hinata dan paman Hiashi bertengkar terus-terusan karena aku. Kau tahu Ibu Hinata selalu menginap di hotel jika aku berada di rumahnya? Aku tidak tega membuatnya bangkrut." aku merasa kasihan mendengar penjelasannya. Sangat jelas jika Ibu Hinata tidak menginginkannya.

"Kau bisa tinggal di rumahku bersama keluargaku." Sepetinya aku mengatakan sesuatu yang tidak perlu ku katakan.

"Apa kau baru saja memintaku unutk tinggal satu atap denganmu?" ia tersenyum miring saat melihat ekspresi kagetku." Tapi maaf saja aku tidak ingin merepotkan orang lain." Lanjutnya. Aku bisa bernapas lega.

Aku hanya mengangguk, diam-diam menganguminya. Benar dugaanku dia perempuan yang luar biasa. Mungkin aku akan mencarikan sebuah apartemen setelah ini. Besok atau lusa.

"Aku akan menunggumu di parkiran kalau begitu." Ucapku mendapat sebuah tawa darinya.

"Apa kau tidak bosan? Kau akan menungguku 2 jam penuh tuan Uchiha." Dua jam tanpanya memang serasa membosankan. Tapi membayangkan dia bersamaku di rumahku,di kamarku, apa artinya menunggunya selama 2 jam?!

"Aku akan menunggumu 2 jam tapi kau harus membayar lebih dari 2 jam, nona Haruno." Ucapku ditelinganya yang membuatnya terkikik karena geli. Ia mendorongku sedikit menjauh dan berdiri.

"Sebaiknya aku masuk sekarang. Aku tidak mau mati di mangsa ular-ular sensei kesayanganmu itu." Ia menunduk lalu mencium singkat bibirku dan berlalu meninggalkanku dengan perasaan yang lebih baik. Sekarang aku baru sadar hanya dia yang mampu membuat moodku membaik.

Difference

Tepat pukul 5 sore orang yang ku tunggu-tunggu menampakkan batang hidungnya. Lagi-lagi ia tersenyum. Oh Sakura kau akan membuat para lelaki melirikmu, dan aku tidak mau hal itu terjadi. Ia masuk ke dalam mobil dengan raut wajah yang aneh?

"Sepertinya aku harus selalu membawa obat sakit perut atau mual setiap kali datang di kelas Orochimaru-sensei." Aku tidak tahu apa yang di lakukannya di kelas Orochimaru-sensei, tapi aku bertaruh dia pasti tersiksa. Sudah jelas di wajahnya.

"Kita mampir ke apotik." Ujarku dan segera menginjak pedal gas.

Kami tiba dirumahku setengah jam setelahnya,Sakura selalu berada di belakangku. Tapi kini aku menyeret tangannya agar berjalan di sampingku. Kami bertemu Ibu dan Kakak laki-lakiku di depan pintu. Aku sangat yakin ini akan sangat merepotkan. Aku memutar mata bosan saat mendengar siiulan dari kakakku.

"Lihat Ibu siapa yang membawa kekasihnya kemari." Itachi nampak merangkul ibu dengan wajah yang menjijikan menurutku. Sedangkan ibu hanya terdiam mengamati Sakura.

"Dia Sakura, dia hanya akan meminjam buku." Sepertinya pembelaanku tidak ada artinya bagi kedua orang yang sedang memandang kami curiga.

"Hallo Sakura?! Apa kau teman Sasuke?" tanya ibuku dengan segenap perhatiannya namun nada curiga tidak lepas di dalamnya.

"Hai,bibi. Aku juniornya Sasuke- ah maksud saya Uchiha-senpai." Aku meliriknya dari sudut mataku. Dia terlihat canggung atau risih?

"Jangan terlalu formal padaku. Anggap saja rumah sendiri." Ibu tersenyum yang membuat Sakura bernapas lega. "Sasuke,kau belum mengenalkan Hinata pada ibu,tapi kau malah mengenalkan Juniormu pada ibu dan kakakmu." Lanjut ibu yang membuat mood ku down seketika itu juga.

"Lupakan soal Hinata. Aku tidak mau mendengar ibu atau juga kakak menyebut namanya." Aku segera menyeret Sakura menuju lantai atas dimana kamarku berada.

"Kenapa dengan anak itu? Apa mungkin mereka putus?" ucapan Itachi masih terdengar di telingaku. Mungkin aku akan memikirkannya. Sepertinya kau memberiku sebuah ide yang tidak begitu buruk kak.

Setelahnya aku sama sekali tidak bisa mendengarkan suara kakak maupun ibu karena aku sudah berada di kamarku. Sakura sudah duduk manis di atas ranjangku. Tasnya di letakkan di bawah lantai. Dia nampak meneliti kamarku dengan seksama, sepertinya tidak mau ketinggalan sedikit celahpun.

"Kau cari saja bukunya di rak itu." Jari telunjukku mengarah pada sebuah rak buku yang lumayan besar di sudut ruangan. Aku membuka kaos hitam yang ku pakai lalu memasukkan pada keranjang cucuian. Tanpa Sakura sadari ia tengah menatapku tanpa berkedip. Aku menyeringai mendekatinya.

"Kau terpesona?" ia menyentuh tubuhku, aliran darahku seketika itu juga berada di ubun-ubun. Membuatku menahan napas sekuat yang ku bisa. Sentuhannya di dadaku semakin naik menuju leher jenjangku. Ia menghitup aroma tubuhku dengan mata terpejam.

"Aku suka baumu." Ujarnya dengan mata sayunya. "Tapi sebaiknya kau mandi." Mendorongku pelan. Dan beralih menuju rak, tapi sebelum itu matanya mengamati gitar coklat yang terletak di kursi. "Boleh aku meminjamnya." Aku mengangguk dan barlalu menuju kamar mandi.

Sayup-sayup aku mendengar alunan gitar, aku tidak tahu dia memaninkan lagu apa tapi petikan gitarnya membuatku ingin cepat-cepat keluar dari kamar mandi dan memeluknya.

Setelah 15 menit berlalu aku keluar dengan sebuah handuk yang melingkari pingangku. Sakura sudah meletakkan gitarnya kembali ke tempat semula. Dan lihat dia sudah duduk manis dengan sebuah buku tebal di hadapannya. Dia semakin cantik saat sedang serius. Aku banyak mengetahui ekspresinya sekarang. Dan itu membuatnya begitu berbeda dengan orang pada umumnya. Dia apa adanya.

Lama memandanginya akhirnya ku putuskan untuk mendekatinya dan memeluknya dari belakang,aku bersandar pada punggung kecilnya.

" Kau sudah menemukan bukunya?" tanya ku pelan.

"Kau bisa melihatnya." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya pada buku. Sepertinya akau akan mengganggunya. Sebaiknya aku segera memakai pakaianku.

Dia masih bergulat dengan buku setelah aku berpakaian di belakangnya. Sekarng aku merasa seperti di abaikan. Bukan seperti, tapi memang aku sedang di abaikan. Haruno Sakura. Bagus sekali cantik. Dengan kesal aku merebut buku tebal itu dari tangannya.

"Mau sampai kapan kau mengabaikanku? Dasar kutu buku." ujar ku sewot.

"Barusan kau menyebutku apa?" ia bertanya dengan sorot mata tidak suka. Dia berdiri dari duduknya dan mendekatiku.

"Kutu Buku." Aku sengaja menekan kalimatu,agar dia semakin kesal padaku, dan...

"Kau akan mendapat sebuah hukuman yang berat tuan." Ia menerjang tubuhku hingga aku terjatuh di ranjangku. Dengan gerak cepat ia meraup bibirku dengan rakus,menghisap,menjilat,menghisap lagi. Aku tak mau di dominasi,aku membalikan tubuhnya segera di bawah kukunganku, tanpa melepaskan ciuman panasku, aku menyibakkan kaos putih miliknya ke atas. Perlahan tanganku membelai kulit perutnya. Terasa lembut. Tangaku semakin keatas dan aku menemukan sebuah benda kenyal. Aku meremasnya dengan kencang. Membuatnya mendesah tertahan di mulutku. Aku mengumpulkan ludahku di ujung lidahku dan segera ku salurkan pada mulut Sakura, dia menerimanya dengan semangat. Mungkin orang akan berpikir ini sangat menjijikan, tapi maaf saja dalam situasi seperti ini, kata jijik tidak ada gunannya lagi.

Aku menatapnya setelah bibir kami terlepas. Mata hijaunya sayu, bibirnya membangkak, napasnya tidak teratur. Sakura aku ingtin memakamu saat ini juga.

Aku tidak tahan melihatnya, segera aku menciumi leher jenjangnya tanpa membuatku berhenti meremas dadanya yang membuatnya mengangkat kepalanya membuat lehernya semakin terekspos. Jangan tanyakan bagaimana keadaanku,oh bukan aku tapi 'junior'ku. Dia sudah meraung-raung dengan melihat wajah Sakura yang terangsang seperti itu. Ciumanku semakin turun, hingga berada di puncuk putingnya yang menegang. Tanpa membuang waktu aku menyedotnya dengan sekuat tenaga,tangan kananku menuju selangkangannya-

"Sasuke makan malam sudah- maaf sepertinya aku mengganggu kalian." Itachi kembali menutup pintu kamarku.

KAKAK. Teriakku dalam hati. Kau berhasil menghancurkan segalanya. Kau akan menerima akibatnya Itachi. Sakura kembali membetulkan kaosnya dan mengeserku ke samping.

"Sebaiknya kita turun!" ia mengambil tas dan buku yang ku rebut tadi. Dan sejak kapan buku itu sudah berpindah tangan? Oh ya ampun.

Aku keluar dari kamar bersama Sakura yang berada di sampingku. Aku menuntunnya menuju ruang makan, sepertinya ibu masak banyak malam ini.

"Sakura, makan malam bersama kami. Aku bosan di kelilingi para lelaki ini terus menerus." Ujar ibu mempersilahkan Sakura duduk di dekatnya." Kau juga Sasuke, ibu sengaja memasak banyak malam ini." Ibu sudah duduk di tempatnya dengan senyum.

"Sepertinya Sasuke tidak akan makan ibu, dia sudah makan tadi." Ucapan Itachi barusan membuatku menarik kencang kursi di depan Sakura.

"Tentu saja aku akan makan, Ibu tenang saja." Ujarku sengit.

"Bagus." Ibu segera mengambil nasi untuk Sakura. Dan Sakura hanya tersenyum menanggapinya." Jangan tersenyum seperti itu, kau hanya akan membuatku jatuh hati padamu Sakura." Aku melotot mendengarnya.

Setelah makan malam selesai kami sedikit berbincang-bincang mengenai study kami yang begitu membosankan. Satu hal lagi, aku tidak mengambil jurusan yang berkaitan denan bisnis. Karena aku sama sekali tidak tertarik dengan hal itu. Aku lebih tertarik dengan hewan-hewan dan "dalamnya". Ayah dan ibu sama sekali tidak melarangku. Namun khusus untuk kakakku dia di haruskan meneruskan bisnis ayah. Aku bisa tertawa jahat sekarang? Tapi sepertinya itu tidak baik untuk di lakukan.

"Antarkan Sakura dengan selamat, Sasuke!" perintah ayah mutlak.

"Aku memang akan mengantarkannya ayah." Aku mengajak Sakura keluar dari rumah. Aku sengaja tidak memberi tahu ayah dan ibu atas status Sakura yang merupakan anak haram Hiashi. Ini akan membuat keadaan semakin sulit.

Sakura berpamitan pada ayah dan ibu serta kakakku, dengan senyum di wajahnya. Entah kenapa wajahnya begitu cerah.

"Keluargamu menyenangkan!" ujarnya. Senyum tak luntur dari wajahnya.

"Apa besok kau ada acara?" tanyaku sambil membuka pintu mobil, dia nampak menggelengkan kepalanya pelan." Bagus. Besok akan kucarikan sebuah apartemen untukmu." Ia menatapku dengan mata berbinar.

"Benarkah? Terima kasih." Aku senang hari ini Sakuraku mekar dengan indahnya. Sakura-KU? Tidak buruk juga.

TBC

Balas Review :

Dewazz : Hinata memang selingkuh dengan Naruto :D

Kuroyami: Terima kasih untuk dukungannya ini sudah update hehe

Takimoto: Terima kasih untuk dukungannya, iya saya juga sudah tidak memikirkannya lagi kok Takimoto-san

Ayuyu : Sakura yang nyembuhin sakit hati Sasuke kok hehe Terima kasih.

Guest: Saya memang harus minta maaf. Saya kan salah Guest-san Terima kasih

Yuki : Terima kasih yuki-san saya pasti lanjut sampai akhir hehe

ToruPeri: Ini di lanjut toru-san arigato hehe

Hima-chan: Maaf sepertinya saya gak akan bisa sampai lemon deh, soalnya gak bisa asam hehe gomenne

Younghe Lee : Terima kasih

: Terimakasih atas dukungannya saya terbantu hehe saya juga sudah tidak memperdulikan mereka kok

Misakiken: sudah hehe

Luca Marvell : memang dia sedang galau hahah

Byakugan no Hime : haha problem ssl dan shl gak akan mudah terselesaikan kalau kedua belah pihak saling ,meyalahkan dan tidak mau mendengarkan para reader dan para author senior. Terima kasih banyak.

Lightflower22: iya sikat gih sikat hahaha terima kasih.

Yoktf : iya ini sasusaku kok terima kasih.

Mantika mochi : terima kasih sarannya hehe

Hyemi761: iya tidak apa-apa, terima kasih sebelumnya.

Kyori benar-benar berterima kasih pada para reader atas dukungannya. Kyori harap chapter ini lebih menghibur lagi. Arigato gozaimatsu, terima kasih, matur nuhun.