Tittle : Another |Chap 3| Bone Work

Author : NL

Cast : Exo

Genre : Mystery, Drama, Horror,School, Romance(?)

Lenght : 3 of ?

Disclamer

Film anime jepang yang diangkat dari cerita fiksi misteri horor karya Yukito Ayatsuji, dan sebuah manga yang ditulis oleh Hiro Kiyohara.

Author note : Cerita yang terinspirasi dari sebuah film anime jepang, Karakter dalam cerita akan diganti dengan karakter member EXO.

Bagi yang penasaran sama ceritanya, khususnya buat yang belum nonton animenya. Di chapter ini mungkin chingudeul bakal sedikit tau rahasia apa yang disembunyiin sama temen sekelasnya Luhan.

.

.

So, enjoy for reading ^^

.

.

.

***Another***

.

.

.

Seperti warna film kuno yang memudar

Aku ingin memastikan saat ini ataupun di lain waktu

Tentang cahaya dari tangis dan tawa yang kita rasakan secara singkat

Aku yakin masih ada ingatan yang terhubung disana

Dan kupercaya akan ada seseorang yang dapat menemukannya

Bahkan sampai saat ini

.

.

.

"Apakah harus kuperlihatkan padamu?" Tanya Yixing tiba-tiba. Luhan menatapnya bingung. Yixing membalikkan tubuhnya menghadap Luhan.

"Haruskah kuperlihatkan padamu, apa yang ada dibalik penutup mata ini, Xi Luhan-shi?." Tanyanya lagi.

.

GLEK

.

Luhan nampak susah menelan ludah saat tangan itu terangkat dan secara perlahan penutup mata itu terlepas. Luhan membelalakkan matanya. Butuh waktu baginya untuk kembali ke alam sadar, ketika dengan gamblang ia dapat melihat mata kiri milik Yixing.

"Aa..i..itu mata palsu?" Luhan tak percaya dengan yang ia lihat sekarang. Mata yang selama ini Yixing tutupi, ternyata hanya mata palsu. Bahkan bola mata keduanya berbeda warna, sudah jelas bahwa itu bukan bola mata yang asli, melainkan palsu.

"Mata kiriku adalah mata boneka. Mata ini dapat melihat sesuatu yang seharusnya tidak terlihat, jadi aku selalu menutupinya." Kata Yixing menjelaskan, "Apa kau merasa tak nyaman berada disini? Ini bukan tempat yang cocok untuk siapapun, jika belum terbiasa dengan suasana disini." Kemudian Yixing berjalan mendekati anak tangga.

"Boneka itu" Katanya berhenti sejenak dan ia kembali menutup mata kirinya, "Kau tahu, boneka itu hampa dan kosong baik tubuh dan jiwanya. Kehampaanlah yang menghubungkan mereka dengan kematian. Tapi, apapun yang hampa, pasti mencari sesuatu untuk mengisi kehampaan itu."

"Apakah kau menyadari akan sesuatu?" Tanya Yixing kemudian.

"Ya."

"Lebih baik kita ke atas, lebih nyaman disana dibandingkan di tempat seperti ini" Ajak Yixing lalu kembali berjalan diikuti Luhan dari belakang.

Keduanya menaiki tangga dengan diam. Meninggalkan aura seram di lantai bawah. Hingga mereka sudah ada dilantai atas. Yixing membawa Luhan ke tempat duduk yang disediakan oleh pemilik toko tersebut. Lalu Yixing dan Luhan duduk saling berhadapan yang dibatasi oleh meja. Tepat disamping mereka semacam etalase kaca terpajang. Didalamnya sebuah boneka tengah berbaring, boneka itu mengenakan gaun putih dan banyak kelopak mawar merah yang menaburi tubuh putih pucat itu.

"Apa kau tinggal di sekitar sini?" Tanya Luhan membuka percakapan. Yixing hanya menganggukkan kepalanya.

"Tentang Ginjang Saat Senja, apakah itu nama dari toko boneka ini?" Tanya Luhan kembali, sungguh rasa ingin tahunya begitu besar, "Dan studio Y itu apa?"

"Lebih tepatnya studio Kirika yang berada di lantai dua" Jawab Yixing.

"Kirika?"

"Kirika, dialah yang telah membuat semua boneka yang ada disini."

"Anu..mmm..tentang boneka itu, kenapa ia sangat mirip denganmu?" Luhan tampak penasaran dengan boneka yang ia temukan di lantai bawah tadi. Salah satu boneka yang menarik perhatiannya. Karena boneka itu memang benar-benar mirip dengan namja didepannya. Yixing menggelengkan kepala, ia tidak tahu kenapa boneka itu sangat mirip dengannya.

"Ah, apakah kau ingat saat pertama kali kita bertemu, kau memegang sebuah boneka. Aku dengar ada laki-laki seusiaku yang meninggal di rumah sakit pada hari itu. Apakah...apakah boneka yang kau bawa itu untuknya?"

.

Hening

.

Yixing sama sekali tak mencoba untuk menjawab pertanyaan Luhan. Yixing hanya terdian, mata itu berubah memancarkan kesuraman yang tertutup oleh sikap tak acuhnya.

"Eng, maksudku..." Tiba-tiba saja ingatannya tentang nama yang disebutkan oleh Hyena noona tadi melintas dibenaknnya.

'

Kalau tidak salah namanya Yixing zzz...atau Yaxing..zzz...

.

"Apa kau memiliki saudara laki-laki?' Tanya Luhan pada akhirnya. Namun, ia kembali teringat perkataan Hyena noona.

.

Sepertinya dia merupakan anak tunggal

.

"Kenapa kau..." Ucap Luhan lirih saat ia melihat Yixing menggelengkan kepalanya.

"Kenapa?"

Entah apakah kini otaknya sedang bekerja cepat atau tidak, untuk ketiga kalinya Luhan kembali mengingat ucapan nenek tua yang ada di meja kasir sana.

.

Karena aku tidak memiliki pelanggan lain

.

GLEK

.

Nampaknya Luhan baru menyadari ucapan sang nenek penjaga meja kasir itu. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori tubuhnya. Tangannya terkepal. Sungguh, walaupun Luhan termasuk namja nekat dengan keingintahuan begitu besar, tapi tak lepas dari itu semua, ia juga memiliki rasa takut dalam dirinya.

Tubuhnya terasa tegang, saat semua perkataan baik Hyena noona dan nenek tua itu berputar-putar pada ingatannya. Benarkah? Benarkah bahwa namja didepannya itu...

"Sepertinya kau punya pertanyaan lain yang ingin kau tanyakan, Luhan-sshi?" Yixing membuka suaranya, membuyarkan semua pikiran yang tengah menghantui Luhan.

"I..itu..se..sebenarnya, aku merasa aneh akan beberapa hal." Jawab Luhan gugup.

Yixing menatap Luhan tajam, seakan namja itu menyalahkan semua yang ada pada diri Luhan, "Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mendekatiku. Tapi mungkin itu sudah terlambat."

"Terlamat? Maksudmu apa?" Tanya Luhan tidak mengerti, rasa tegang yang masih menjalar di tubuhnya, walaupun pada kenyataannya tidak setegang tadi.

"Sudah kuduga, kau memang tidak tahu apa-apa, Luhan-sshi." Kata Yixing dingin. Ia berdiri, mencondongkan sedikit tubuhnya mendekati Luhan, "Ada cerita lama yang beredar di kota ini...tentang kelas 12-3 26 tahun yang lalu. Kurasa tidak ada seorangpun yang ingin memberitahumu."

Kemudian Yixing kembali duduk ke tempat semula. Tanpa persetujuan Luhan, Yixing langsung memulai ceritanya. Yixing menceritakan tentang tragedi di masala lalu. Dimana 26 tahun yang lalu ada seorang siswa yang pandai dalam pelajaran dan olahraga. Siswa itu memiliki sikap baik terhadap semua orang, dan dia dicintai oleh guru dan teman-temannya. Tapi di awal tahun pelajaran kelas dua belas, siswa itu tiba-tiba saja meninggal.

Yixing mengatakan bahwa ia mendengar dari orang kalau siswa itu meninggal karena kecelakaan pesawat terbang bersama keluarganya. Tapi, ada beberapa orang yang beranggapan kalau siswa itu meninggal karena kecelakaan mobil. Ada juga yang mengatakan dia meninggal akibat rumahnya terbakar. Bagaimanapun juga, semua orang dikelasnya sangat terkejut. Mereka dipenuhi dengan kesedihan. Tapi tiba-tiba saja seseorang mengatakan...

"-Dia tidak meninggal- dia menatap kearah mejanya dan berkata, -Lihat, dia ada disana-"

Tunjuk Yixing kearah bangku disamping Luhan. Luhan yang nampak menyimak cerita Yixing melebarkan matanya terkejut saat tangan itu menunjuk sisi kanannya. Luhan pun secara reflek menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Yixing. Tepat sesaat Luhan menoleh, wajah sebuah boneka terpangpang didepannya.

"-Dia masih hidup dan baik-baik saja- Lalu siswa lain pun mulai mengatakan hal yang sama. –Benar, dia tidak meninggal-" Lanjut Yixing tanpa mempedulikan kekhawatiran Luhan akan dirinya sendiri, "Perlakuan seperti itu menyebar hingga ke semua kelas yang ada disekolah. Mereka yang tidak ingin mempercayai kebenaran. Mereka tidak ingin mengakui kenyataan yang pahit. Aku yakin orang baru sepertimu akan sulit memahami perasaan mereka"

"Pada akhirnya semua orang dikelas melanjutkan sikap itu, menganggap namja itu masih hidup. Bahkan wali kelasnya pun sependapat dan mengatakan, -Memang benar ia masih hidup, jadi kalian semua harus melanjutkan kebersamaan dan terus berjuang hingga hari kelulusan tiba- Bahkan kepala sekolah juga memasukkan kursinya ke dalam upacara kelulusan."

"Apakah semua yang kau ceritakan itu benar-benar terjadi?" Potong Luhan di tengah-tengah cerita.

"Lalu setelah kelulusan tiba, semua siswa berkumpul didalam kelas untuk berphoto. Semuanya, termasuk juga para guru. Tapi, ketika mereka melihat photonya, mereka menyadari sesuatu. Di sana, di dalam photo, tepat dibagian paling ujung mereka bisa melihat namja yang seharusnya sudah tidak ada." Kata Yixing kembali tak menghiraukan pertanyaan Luhan,

"Wajahnya pucat pasi, tapi dia tersenyum seperti yang lain. Namja itu... namja yang meninggal itu...bernama Yixing."

.

DEG!

'

Luhan menatap horror ke arah Yixing. Nafasnya sedikit tersengal. Keringat dingin kembali membanjiri tubuhnya dan untuk kesekian kalinya Luhan merasa susah saat menelan ludahnya sendiri. Pandangannya tak pernah lepas dari sosok namja didepannya.

"Ceritanya belum berakhir, masih ada banyak kelanjutan tentang cerita ini"

Luhan melebarkan matanya, lagi? Kisah yang diceritakan oleh Yixing belum berakhir. Luhan menatap nanar Yixing, rasa takutnya semakin besar ketika cerita 26 tahun belum berakhir. Suasa tegang terasa mendominasi tubuhnya. Hingga...

Drrtt..Ddrrt..Ddrrt..

Luhan tersentak kaget saat sebuah getaran terdengar dari saku celananya, "Ah, mianhae.." Ucap Luhan sebelum mengangkat Hanphonenya.

Segera Luhan menerima telepon yang ternyata dari sang nenek. Sedangkan Yixing hanya terdiam mengamati Luhan yang tengah berbicara dengan seseorang diujung sana.

"Iya nek, aku baik-baik saja"

"..."

"Aku hanya sedikit tersesat, dan aku akan pulang sekarang." Kata Luhan mengakhiri sambungannya. Luhan menghela nafas sebentar, lalu melirik ke arah jendela. Rupayanya hari sudah malam.

"Aku membenci alat itu, kau bisa ditemukan dan ditangkap dimanapun." Ujar Yixing dingin menatap tak suka pada benda di genggaman Luhan. Kemudian Yixing bangkit diikuti oleh Luhan

"Waktunya tutup." Sahut nenek penjaga kasir tiba-tiba, "Pulanglah kerumahmu sekarang."

Luhan menoleh ke arah si nenek yang masih duduk di meja kasirnya, kemudian Luhan kembali membalikkan badannya ke arah semula dan...kosong. Yixing tidak ada didepannya, kursi yang tadi diduduki oleh Yixing kini kosong tak ada siapa-siapa. Bahkan Luhan tak menemukan sosok Yixing sekitar toko boneka. Tanpa mau berlama-lama di tempat seperti ini, Luhan pun memutuskan untuk segera pulang.

.

.

.

Tepat tanggal 25 Mei nanti seluruh siswa Hannyoung High School akan menghadapi Ujian Tengah Semester. Bagi mereka yang memang memiliki kapasitas otak super jenius, dalam pelaksanaan ujian sekolah adalah hal biasa. Akan tetapi, beda halnya dengan murid berkemampuan biasa-biasa saja, bisa dipastikan mereka akan belajar lebih giat agar nilai yang mereka dapatkan lebih bagus ketimbang tahun lalu.

Hal serupa pun terjadi pada kelas 12-3. Jam istirahat makan siang mereka gunakan untuk membahas mengenai ujian nanti. Karena kini mereka berada di tingkat akhir sekolah, maka mereka harus lebih ekstra belajar daripada adik tingkatnya. Berbagai macam bimbel baik formal maunun non-formal mereka ikuti. Mereka mulai mempersiapkan hal itu untuk menghadapi Ujian Akhir Sekolah, karena pada saat itulah keputusan seorang siswa dinyatakan lulus atau tidak.

Selain membicarakan masalah serangkaian kegiatan menghadapi ujian sekolah, secara antusias seorang siswa bertanya tentang universitas mana yang akan mereka tuju. Satu persatu siswa di kelas 12-3 mengungkapkan keinginannya untuk kuliah dimana.

Diantara para siswa yang tengah sibuk bercerita, sang ketua kelas mendekati papan pengumuman di dinding belakang kelas untuk melihat jadwal Ujian Tengah Semester.

"Kau akan melanjutkan ke universitas mana, suho?" Tanya namja yang lebih tinggi darinya dari arah belakang.

"Yonsei University." Jawab Suho ketika Chanyeol berada disampingnya.

"Yonsei?" Tanya Chanyeol.

"Wah, suho ah kau hebat kalau kau bisa masuk kesana." Sahut namja lain.

"Apa hebatnya kalau masuk kesana, baekki." Ucap chanyeol sambil memandang remeh ke arah Baekhyun. Baekhyun segera mendekati Chanyeol dan...

PLETAK

"Aw...baekki appo." Sungut Chanyeol mengusap kepalanya yang dijadikan bahan jitakan Baekhyun.

"Itu salahmu sendiri pabo! Masa kau tidak tahu, Yonsei University itu salah satu dari sepuluh universitas terbaik di seoul. Kau memang pabo chanie."

"Aaah..MWO?" Ucap Chanyeol terkejut, lalu menoleh ke arah Suho, "Kau akan kuliah disana?" Tanya Chanyeol tak percaya. Suho menganggukan kepalanya.

"Memang bisa." Ejek Chanyeol spontan.

PLETAK

"Ya! Baekki kau...aish kepalaku sakit." Geram Chanyeol kesal ke arah Baekhyun, pasalnya namja cantik itu menjitak kepalanya lagi.

Sedangkan Suho dan yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah dua anak manusia itu. Sudah biasa, teman sekelasnya sudah tau watak dari keduanya. Tapi, dengan adanya mereka di kelas 12-3 yang memang sedang diselimuti semacam teror menjadi sedikit terlupakan.

Luhan melihat keduanya masih bertengkar karena hal sepele, dimana Baekhyun terus mengoceh memarahi pemuda jangkung itu, sedangkan Chanyeol sendiri hanya pasrah saat telinganya semakin panas mendengar ocehan Baekhyun.

Secara perlahan Luhan mendekati Suho yang tengah asyik menyaksikan drama dadakan di depannya.

"Berarti kau akan kuliah di seoul, Suho ah?" Tanya Luhan ketika ia berdiri didekat Suho. Suho menoleh kearahnya.

"Ne, aku akan kuliah disana." Jawab Suho sambil tersenyum.

"Luhan ah, nanti kau akan kuliah dimana?" Teriak Xiumin dari depan kelas. Serentak teman sekelasnya yang lain langsung menatap ke arah Luhan.

"Seoul National University."

"Cih, seperti kau bisa masuk kesana saja." Desis seorang namja tan dari arah bangku yang tak jauh dari tempat Luhan berdiri. Kyungsoo yang memang duduk disebelah kai langsug menyikut namja tan itu.

Luhan yang mendengarnya hanya bisa mengangkat bahunya, toh ia tak terlalu memikirkan perkataan teman sekelasnya.

Tak terasa waktu jam istirahat pun habis, guru yang akan mengajar di kelas 12-3 sudah masuk dari satu menit yang lalu. Semua siswa tampak menyimak setiap pelajaran yang disampaikan oleh gurunya dari awal hingga akhir. Tepat di jam pelajaran terakhir hujan turun membasahi keringnya bumi Ginjang-gun. Hujan terus berlangsung sampai bunyi bel tanda pulang berbunyi.

Semua siswa yang memang membawa payung kesekolahnya langsung pulang meninggalkan gedung sekolah, tak jarang pula banyak siswa yang meminta untuk dijemput. Tapi, hal tersebut tidak terjadi pada Luhan. Ia masih betah tinggal dikelas. Menatap butiran-butiran hujan dari jendela kelas.

"Yo Luhan ah, mau pulang bersama?" Tawar Chen, siswa yang ternyata masih berada di dalam kelas selain Luhan.

"Mmm..apa itu tidak merepotkanmu?" Tanya Luhan.

"Aniya, kajja." Ajak Chen sambil menarik tangan Luhan, membawa namja itu keluar kelas.

Mereka berdua terus berjalan bersisian di koridor sekolah. Chen berjalan sambil menenteng payung di tangan kanannya. Hingga keduanya kini berada di lantai satu, mendekati loker yang memang dekat pintu utama.

"Mmm Chen, apakah kau tau Yixing itu orang yang seperti apa?" Tanya Luhan tiba-tiba seraya mengganti sepatunya. Sedangkan Chen yang berdiri tak jauh dari Luhan tampak terdiam lama, tak mau menjawab pertanyaan Luhan.

"Hari semakin gelap, kita harus cepat pulang." Kata Chen sambil menutup lokernya, ia melangkah menuju pintu utama tanpa mempedulikan pertanyaan Luhan.

"Chen, tolong jawab pertanyaanku." Ucap Luhan masih berdiri ditempat semula. Chen menghentikan langkahnya saat Luhan kembali bersuara, Lalu Chen membalikkan badan, ia dapat melihat rasa keingintahuan di mata Luhan.

"Kuperingatkan padamu, jangan pernah mengatakan nama itu di kelas 12-3" Ujar Chen tak suka.

"Kenapa kau berkata seperti itu? Tapi, kenapa..."

"Waahh..hujannya deras sekali." Pekik seorang namja jangkung yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Luhan.

"Eh chanyeol?! kukira siapa. Oh ya apakah kau tahu cerita 26 tahun lalu tentang kelas 12-3?"

'

Hening

.

Tap Tap Tap

Dalam keheningan sesaat hanya terdengar suara sepatu bergesakan dengan lantai. Perlahan Chanyeol berjalan mendekati Chen.

"Apa kau percaya dengan cerita itu?" Tanya Chanyeol tanpa melihat ke arah Luhan.

"Bagaimana kau bisa mengetahui cerita itu?" Kali ini Chen lah yang bertanya. Pertanyaan yang berangsur-angsur itu membuat Luhan mengernyit bingung. Kenapa temannya ini begitu enggan untuk diajak berbicara mengenai kejadian 26 tahun lalu.

"Aku hanya mendengar rumornya." Jawab Luhan

"Seberapa banyak kau mengetahuinya?" Chanyeol berbalik menghadap Luhan, pandangannya tak lepas dari namja China itu.

"Mmmm...siswa populer yang tiba-tiba meninggal dan ia muncul di photo kelas saat kelulusan. Ah, itu saja yang kuingat."

"Hanya tahun pertama saja, ya." Ujar Chen pelan manun cukup terdengar oleh Luhan.

"Kenapa wajah kalian bertiga terlihat begitu tegang?" Sontak sebuah suara mengejutkan mereka bertiga. Dapat dilihat oleh ketinganya, Han songsaengnim tengah berjalan kearah mereka. Tapi, belum sempat mendekati muridnya, baik Chen dan Chanyeol terlebih dahulu mendekati Han songsaengnim.

"Luhan sudah mengetahui kejadian di tahun pertama, songsam." Adu Chen sepelan mungkin, agar Luhan yang berdiri dengan jarak 3 meter darinya tak dapat mendengar apapun yang ia ucapkan.

"Heem, itu memang masalah rumit. Jadi, mulai sekarang kita harus tetap menutupinya."

.

.

.

Malam harinya, Luhan duduk ditemani oleh secangkir teh hangat sambil sanunggu Liyin pulang. Ia ingin menanyakan sesuatu pada bibinya, karena Luhan tau dulu Liyin sekolah di tempat yang sama dengan dirinya.

Tak lama kemudian pintu depan rumahnya terbuka, menampakkan yeoja yang Luhan ketahui sebagai bibinya. Liyin berjalan menuju ruang tengah dimana Luhan sedang duduk menunggunya.

Liyin mendudukan dirinya di kursi berhadapan dengan Luhan. Terlihat jelas gurat lelah diwajahnya. Luhan nampaknya ragu untuk bertanya, tapi karena keingintahuannya begitu besar, jadi ia pun menanyakan apa yang ingin ia tanyakan pada bibinya.

"Mmm, Liyin noona apa kau ingat dimana kelas ibuku saat kelas dua belas?"

Liyin yang tengah menyenderkan diri di sofa sambil memejamkan matanya tiba-tiba saja terbuka saat Luhan melontarkan pertanyaan. Tampaknya yeoja muda ini juga enggan untuk menjawab pertanyaan keponakannya. Pada akhirnya yeoja itu menggelengkan kepalanya.

"Lalu, apa kau mengetahui cerita tentang kelas 12-3 saat 26 tahun yang lalu?" Tanya Luhan lagi.

.

Hening

.

Entah kenapa yeoja itu hanya bisa diam saja. Kini ia malah terlihat sedang memikirkan suatu beban berat. Matanya menerawang jauh kedalam sebuah jurang kelam.

"Liyin noona" Sahut Luhan cepat saat bibinya itu malah diam saja.

"Eh.."

Seakan tersadar dari lamunannya Liyin menatap heran ke arah Luhan. Seakan yeoja itu tak menyimak apa yang dikatakan oleh Luhan.

Luhan menghela nafasnya, lalu berkata, "Aku sedang membicarakan kelas 12-3 saat 26 tahun yang lalu."

"Huft...rupanya cerita itu telah beredar di setiap angkatan." Keluh Liyin, "Kau belum mengetahui semuanya, kan?" Lanjutnya

"Ah, kau tahu ceritanya ya, noona."

"Yeah, seperti kau tahu terkadang cerita seperti itu selalu dibumbui oleh hal-hal yang berlebihan." Jelas Liyin, "Aku pikir, kau tidak usah menganggap cerita itu dengan serius. Ada saat yang tepat bagi kita mengetahui semuanya."

Kemudian yeoja itu bangkit dari duduknya, perlahan ia berjalan meninggalkan Luhan menuju kamarnya, tapi sebelumnya ia mengatakan bahwa, "Ibumu juga berada di kelas 12-3."

-Kenapa Lie?, kenapa?-

.

.

.

Siang itu, di jam istirahat Luhan dan Suho tengah berjalan berdua disisi lapangan, sepertinya mereka sedang pergi menuju gedung olahraga. Tapi di tengah perjalanan tiba-tiba saja Luhan berhenti saat matanya menemukan sosok misterius di atap sekolah, tempat dimana Luhan pertama kali menanyakan perihal yang ia lakukan di rumah sakit.

"Sebentar, kau duluan saja." Ujar Luhan lalu berlari meninggalkan Suho. Suho menoleh cepat ke arah perginya Luhan. Tampaknya Suho sedang bertanya pada dirinya, kemana Luhan akan pergi. Tapi, matanya tak sengaja melihat sesuatu di atap gedung sana.

"Ugh!" Geramnya.

.

.

Luhan terus berlari menuju atap gedung sekolah, ia menaiki anak tangga satu persatu dengan cepat. Ia ingin segera tiba di atap sekolah. Nafasnya sedikit tersengal ketika ia sudah berada di depan pintu yang menghubungkan dengan atap sekolah.

.

Krieet

.

WUSSSHHH

.

Angin kencang langsung saja menerpa tubuhnya saat Luhan membuka pintu. Ia melihat namja itu sedang berdiri di tempat yang sama seperti waktu itu. Saat kakinya akan melangkah, tiba-tiba saja handphonenya bergetar.

.

WUSSHHH

.

Luhan langsung merogoh sakunya untuk mengambil handphone, lalu menekan dial answer, tepat secara bersamaan angin-angin itu masih saja berhembus kencang. Beriak-riak menerpa tubuhnya.

"Apa kau baik-baik saja?!" Tanya diujung sana cepat, nadanya terdengar khawatir

"Ada apa, kenapa kau mengatakan itu tiba-tiba?" Tanya Luhan tak mengerti.

"Aku meneleponmu karena kupikir kau sedang dalam masalah!" Teriaknya, karena ia tahu Luhan pasti susah untuk menangkap ucapannya, "Kau tidak tahu, zzz..Kris aka..n. zzz...marah besar nanti."

Suara diujung san terputus-putus karena memang posisi Luhan kini tidak baik, angin kencang masih saja berseliweran

"Memangnya kepana ka..."

"Luhan, tolong..zzz...dengarkan aku...zzzzz...baik-baik. Jangan sekali-kali...zzzz... kau berurusan dengan sesuatu yang tidak ada kebenarannya!" Potong diujung sana yang ternyata Chanyeol

"Apa yang kau bicarakan?" Pekik Luhan tak mengerti, bahwasannya kini ia sangat bingung dengan situasi ini. Apalagi angin itu seakan tak mau berhenti. Apa maksudnya yang dikatakan oleh Chanyeol barusan, apa?!

"Itu sangat..zzz...berbahaya! dan tentang masalah..zzz...yang kau tanyakan kemarin, aku akan...zzzzzzzzzz...memberitahu semuanya padamu...zzzzzz...bulan depan. Jadi untuk saat ini, kau hanya...TUT TUT TUT"

Tiba-tiba saja sambungannya teputus dengan Chanyeol, Luhan menatap handphonenya bingung. Begitu banyak pertanyaan di benaknya. Dengan cepat ia beralih untuk menemui namja misterius itu. Tapi, matanya membelalak kaget saat ia tak mendapati namja itu disana. Kemana perginya?

.

.

.

Tanggal 22 Mei 2013

Pukul 09.08

"Ini tentang namja yang meninggal di rumah sakit."

"Apa noona menemukan sesuatu?"

"Nama laki-laki itu Yixing. Aku salah mengatakannya kemarin, namanya Yixing bukan Yaxing dan nama depannya itu Ziang."

"Ziang Yixing?"

"Oh ya, Luhan sshi kenapa kau ingin mengetahui tentang namja itu?"

"Eng, itu..."

"Kau tidak perlu mengatakannya sekarang. Tapi, suatu saat kau harus mengatakannya padaku, okay!"

"Pasti noona."

"Ah, tiga hari lagi kau akan ujian, kan?"

"Ne."

"Kau tahu, adikku juga belajar dengan rajin, jadi good luck untuk ujiannya."

Luhan pun mematikan sambungan handphonenya setelah Hyena noona mengatakan bahwa ia harus pulang sekarang juga.

.

.

.

Selasa, 26 Mei 2013.

Kelas 12-3

Hari kedua Ujian Tengah Semester terlihat tenang. Para siswa tengah berkonsentrasi untuk menjawab pertanyaan yang ada di lembaran kertas yang tadi diberikan oleh guru penjaga. Luhan sedikit menoleh ke arah bangku Yixing dipojok sana. Kosong, kecuali ada sebuah kertas di atasnya. Lagi? Namja itu menyelasaikan ujiannya sebelum waktu habis.

Tanpa pikir panjang, Luhan langsung mengerjakan soalnya dengan cepat, ia ingin sekali menemui namja itu. Ia ingin menyakan kembali perihal masalah di kelasnya. Tak butuh memakan waktu lama Luhan pun beranjak dari duduknya. Ia berjalan keluar kelas.

Saat Luhan sudah diluar, ia melihat Yixing bediri didekat jendela gedung sekolah. Perlahan Luhan mendekati sosoknya yang kini tengah menatap ke arah luar.

"Kau selalu keluar duluan saat ujian." Ucap Luhan, "Kemarin juga, kau selesai sebelum waktu ujiannya habis. Apa semuanya baik-baik saja?"

"Ne, aku baik-baik saja." Jawab Yixing tanpa mengalihkan perhatiannya dari pemandangan diluar sana.

"Nama namja itu, namja yang meninggal saat itu adalah Ziang Yixing." Kata Luhan seraya mengikuti kegiatan Yixing, melihat pemandangan di luar gedung sekolahnya

"Yixing...Yixing adalah sepupuku. Dulu, kami selalu bersama sepanjang waktu. Hubungan kami sangatlah erat" Cerita Yixing pelan

"Mmm..tentang kelas 12-3 saat 26 tahun yang lalu." Ucap Luhan membalikkan badannnya menghadap Yixing, "Bagaimana cerita selanjutnya?"

"Tidak ada yang memberitahumu?" Tanya Yixing tanpa mencoba untuk menjawab pertanyaan Luhan.

"Sepertinya mereka benar-benar tidak ingin memberitahumu." Lanjutnya sambil menatap Luhan.

"Ada sesuatu yang sudah lama ingin ku tanyakan. Sesuatu yang sangat ingin kuketahui, sejak aku pindah kesini." Kata Luhan, "Kenapa semua orang dikelas kita, bahkan para guru bersikap seolah_"

"Karena aku tidak ada." Potong Yixing cepat.

.

DEG

.

Luhan, tolong dengarkan aku baik-baik. Jangan sekali-kali kau berurusan dengan sesuatu yang tidak ada kebenarannya!

Tiba-tiba Luhan teringat percakapannya dengan Chanyeol tadi. Nafasnya memburu cepat, tak percaya akan sebuah kenyataan. Butir keringat membasahi telapak tangannya

"I..itu."

Itu berbahaya!

.

DEG!

.

Kembali Luhan mengingat ucapan Chanyeol yang terdengar khawatir.

"Ta..tapi bagaimana bisa?" Tanya Luhan tak percaya. Tubuhnya bergetar tak tenang.

"Tidak ada yang bisa melihatku." Kata Yixing pelan, memandang kelamnya kesuraman di mata kanan miliknya "Bagaimana kalau hanya dirimu saja yang bisa melihatku" Lanjutnya

Tiba-tiba saja ditengah aura ketegangan, seorang guru berlari melewatinya. Baik Luhan maupun Yixing langsung mengamati kelakuan guru piket yang sedang terburu-buru itu.

Dapat dilihat oleh keduanya guru itu memasuki kelas 12-3. Tak lama kemudian guru tersebut keluar kelas dan diikuti oleh seorang siswa. Siswa yang Luhan ketahui bernama Chen itu pergi menuju rak yang dekat dengan jendela kelasnya, ia mengambil payungnya cepat. Tampaknya ia sedang terburu-buru.

Chen berlari menuju tangga di sebelah kanan, tapi langkahnya terhenti tiba-tiba. Matanya melebar saat ia melihat Luhan yang berdiri bersama...tanpa pikir panjang Chen membalikkan badannya, ia mengambil jalan tangga yang ada di sebelah kiri.

Namja itu terus berlari, rasa takutnya selama ini telah menggerogoti dirinya. Ia tak menghiraukan panggilan guru piket , yang ia inginkan segera pergi dari tempat ini. Diujung sana Chen langsung berbelok, ia menuruni anak tangga tidak sabaran. Terdengar jelas deru nafasnya yang tak teratur.

Tapi, kecerobohan telah dilakukan oleh namja itu. Ketika Chen akan menuruni anak tangga yang ke lima, tiba-tiba saja pijakan kakinya di tangga tak semulus yang dipikirkan. Chen terpeleset, payung yang dipegannya terlepas, jatuh kebawah.

'

Tek

'

Payung itu terhempas ke bawah tangga, payung itu berhenti, ia menyender di anak tangga yang ujungnya berada di atas tepat menghadap Chen. Chen yang tak bisa mengimbangi tubuhnya pun ikut terjatuh. Tubuhnya terhempas, matanya melebar saat ia menyadari akan sesuatu dan

'

JLEB

.

"Akkhhh!"

.

Crash.

.

Tangannya terus bergerak, ia menggelepar jatuh di bawah. Suaranya mendecit sakit luar biasa. Tubuhnya kaku. Hanya terdengar sebuah erangan minta tolong. Tapi itu percuma, tubuh itu tak bisa melakukan apa-apa, kecuali bersimbuh di bawah merasakan kesakitan

.

Crash

.

Darah segar terus bercucuran dari lehernya, membajiri anak tangga. Tubuh itu berhenti bergerak, menandakan bahwa ia tak lagi bernyawa, meninggalkan kepedihan di hatinya begitupula kesakitan yang tak terbendung pada tubuhnya. Tepat ketika nafasnya terhembus untuk terakhir kali terdengar dari atas seseorang yang tengah berlari.

Baik sang guru piket dan Luhan sangat terkejut saat melihat tubuh bersimbah darah dibawahnya tergeletak tak bernyawa dengan keadaan yang menggenaskan. Ujung payung itu tertancap tepat di tenggorokannya.

.

GLEK

.

Luhan langsung memegang lehernya. Luhan merasa susah untuk menelan apapun, ia seakan merasakan rasa sakit yang dialami namja itu. Tangannya satunya ia gunakan untuk memegang dadanya yang terasa sesak. Tepat dibelakangnya Yixing berdiri memandang tubuh yang tergeletak di bawah sana datar, ia tak berekspresi sama sekali. Berbeda dengan Luhan, Yixing tampak tenang melihatnya.

.

.

.

TBC

Chap 3 akhirnya selese juga =.= bahagia saya. Sebenernya rada ga tega Chen mati disini, dan nikky juga ga terlalu bisa menggambarkan kejadian tentang kematian menggenaskan dimana seseorang terjatuh dan lehernya itu tepat mengenai ujung payung. Yah bisa kalian bayangkan sendiri betapa sakitnya itu.

Thanks to :

akita02

Untuk akhirnya sama atau engga, liat aja nanyi ^^ rahasia, kan ga seru kalo dikasih tau

RaeMii

Untuk masalah serem emang ga kerasa, soalnya baik novel, anime, atau ver komiknya sendiri Another itu tipikal cerita yang condong ke misteri dibanding horror

Lee MingKyu

Ne, Another itu emang misterinya kentel banget ketimbang horror. Kalau untuk movie sih, emang baru dirilis taun ini. Dan katanya bakal ada anime Another season 2 lho.

Cuteboycouple

Ne, disini Yixing ngeliatin mata kirinya ke Luhan ^^

Apa nanti ada korban? Chingu langsung tau jawabannya setelah baca chap 3.

Oh Hannie

Kyungsoo udah nongol chingu di chap 2. Jadi ada 3 uke disini.

cuteunji

Fanfic ini masih jauh dari kata serem, lebih serem langsung nonton, soalnya kan dibantu sama backsound yang buat merinding gimana gitu. Iya, onew tua disini wkwkw baru nyadar =.=

chuapExo31

Awalnya nikky itu ga mandang mau official atau carck pair. Cuma nikky itu suka banget sama kedekatan LayHan. Beastfriendnya kentara banget. Jadinya terciptalah pemerannya siapa jadi siapa.

askasufa

Oke oke chingu, nikky lanjutkan

0312luLuEXOticS

Sama nikky juga, pertama kali nonton animenya, demi apapun nikky ga mudeng ga ngerti apa-apa. Tapi, step by step akhrinya ngerti juga. Bukan namanya sih, cuman lebih tepatnya kedatangan Luhan di sekolah itu.

Kopi Luwak

Bener tuh chingu, nikky juga rada aneh kalo perannya Chen di anime aslinya cewek =.= Tapi, Chen disini ga bakal dibikin kaya cewek di animenya. Dan gomawo atas koreksinya ^^, nikky baca lagi, eh iya ada yang salah *padahal udah diedit berapa kali =.=

ByunnaPark

Jawabannya ada di chap 3 ^^ . Kalo untuk masalah toko boneka, lebih serem liat animenya, soalnya liat langsung bentuknya secara detail. Pertama kali liat juga, nikky nontonnya disela-sela jari *hehe ketauan penakut.

AbigailWoo

Yes sir, nikky juga rada ga ngerti sama endingnya. Tapi setelah sama nikky diputer beberapa kali dari chap 1 sampe chap akhir. Ternyata banyak hal sepele yang sebenernya itu tuh penting banget dilewatin, kaya angin lewat aja.

UnknownBanget

Ne chingu gomawo atas informasinya ^^, walaupun aslinya nikky juga tau kalau masalah tata letak organ tubuh manusia. Kalau nikky ga tau, keterlaluan banget, itu kan pelajaran SMA. Hehe sekali lagi kamsahamnida.

Park Ri Yeon

Nikky kira ngeremake jadi fanfic sedikit mudah, kan soalnya udah ada jalur ceritanya. Ternyata...-_- bikin nikky kleyeng-kleyeng. Hohoho untuk ending masih dirahasiakan ^^ Yup, chanyeol disini perannya emang pas banget.

Minprayudi

Kalau berasa serem sih iya, tapi kalo judes tergantung persepsi tiap individu, kalau buat nikky Yixing ga judes. Judul animenya ANOTHER.

HunHan's Real

Yang ditengah hujan itu emang nikky sengaja ga diceritain. Terus yang buat Yixing itu bisa diliat sama siapa aja, emang bener jawabannya ada di chap berikutnya ^^

lena99

Jahat ya ga? Liat aja nanti, jawabannya ada di chap selanjutnya. Kan ga seru kalo dikasih tau. Pairing ya? sebenernya sih awal nikky buat fic ini ga kepikiran buat bikin pairing. Cuman mungkin bisa dikatakan pairingnya Layhan-Lulay , tapi nikky itu ngambil peran mereka soalnya mereka itu beastfriend couple fav nikky ^^

Myunnie

Bukan sotoy tapi semua jawaban and benar =.= ^^ Iya, yang paling atas itu soundtracknya Another ^^

Kim Sung Jan

Kalo novel emang lebih lengkap. Novel yang bahasa jepangnya nikky kurang tau berapa buku, tapi kalo yang Bahasa Inggris ada 2 buku.

Hklyeon

Zhang Yixing itu makhluk yang...jawabannya di chap selanjutnya dan selanjutnya ^^ jadi di tunggu aja next chapnya ya.

Hye

Ne kalau di animenya emang tahun 1998, tapi nikky sengaja ganti tahunnya jadi 2013.