"M-Mamih... Jangan marah ama ni cewek ya... Kuroro bisa jelasin kok..." kata Kuroro sambil gemeteran.

"Jelasin apa lagi, Kuroro?! Sia-sia Mamih pesantrenin kamu 2 tahun!" Pakunoda berteriak tanpa meredamkan nada tingginya yang melengking. Lubang hidungnya sudah kembang-kempis layaknya balon tiup. Matanya sudah melotot serem.

Kini beberapa penghuni kos berlarian keluar kamar. Bukan karena ada gempa bumi, tsunami, gunung meletus, kedatangan AKB48 ke Indonesia, ataupun karena Colossal Titan menyerang(?) tapi...

.

.

Kos-Kosan Hunter x Hunter (KKHxH)

.

.

.

Hunter x Hunter © Yoshihiro Togashi, The original idea and plot © nshawol56

WARNING!

OOC, AU, kloningan author yang muncul sebagai salah satu tokoh, Bahasa Indonesia gaul dan alay (alias non-formal), Fem!Pika, kata-kata kasar, humor garing, typo, dll.

.

.

.

Menantu Pakunoda?

"Sudah disekolahin baik-baik, malah masuk ke kamar anak cewek!" teriak Pakunoda menggelegar kembali.

"Ampun dah, kamarnya si Kurapika berisik banget sih! Ada tawuran apa lagi hah?!" gerutu Nobunaga sembari keluar kamarnya. Nobunaga sebenarnya rada empet sama Kurapika. Yang bikin sohibnya, Uvogin, mati 'kan si Kurapika...

"Gak tauk nih... Gua juga bingung... Anak muda jaman sekarang berisik amat dah..." kata Bisuke yang telah sampai di depan kamarnya Kurapika sambil membetulkan roll rambutnya yang lepas. Padahal kamarnya di gedung dua, berarti teriakkannya Pakunoda kenceng banget ya.

"Buset dah, Bisuke. Ngapain tuh rambut digulung-gulung kayak lemper begitu?" tanya Nobunaga.

"Yeeee... ini namanya hair style tauk! Elunya aja yang nggak tau fashion! Lagian nih, mendingan elu sering-sering keramas deh. Soalnya rambut lu itu jauh banget dari kata bagus. Emang lu keramas berapa kali sehari sih?"

"Berapa kali sehari? Gue nggak pernah shampoo-an. Lu kira gua Illumi?"

'Hem... Pantes rambutnya kayak sarang burung walet...' pikir Bisuke sambil sweat-drop.

"KURORO! JAWAB MAMIH!" Suara Pakunoda yang menggelegar kembali terdengar.

"WOY! Gua mau tidur! Berisik banget sih!" Machi muncul hanya dengan menggunakan daster longgar berwarna putih. Dan sepertinya dia lupa kalau dia lagi maskeran.

"ASTAGHFIRULLAH! ADA SETAN! Bisuke, minggir!" Nobunaga menarik Bisuke agar jauh-jauh dari Machi.

"KURANG AJAR! Gua bukan setan!" protes Machi.

"Ya ampun... udah serem, nggak tau diri lagi! Gua bacain ayat kursi biar lo kebakar nih!" Weleh? Nobunaga hapal ayat kursi toh?

Terdengar beberapa langkah menghampiri mereka. Muncullah Hisoka, Shizuku, Illumi, dan Shalnark. Penghuni kos yang lain? Mereka sudah pada ngorok di kamar masing-masing.

"Kenapa ni kamar berisik banget sih? Padahal gua lagi main AyoDance!" kata Shalnark, diikuti oleh anggukan Illumi yang keep calm.

"Iya! Abdi mau ti—YA AMPUN! AYAK JURIG DI DIEU'?! (*Ada setan di sini?)" teriak Shizuku setelah melihat Machi.

"Gue bukan setaaaannn! Ini gue, Machiii—!" Machi ngelirik ke Hisoka yang ternyata lari ke gedung sebelah cuman pake kolor! Pada saat itu, Machi telah nosebleed dengan sukses.

"Oy, His. Lu kok jadi setiap muncul di fic ini selalu nggak pake baju? Jangan norak deh. Mau pamer tuh bulu dada yang kayak semak-semak?" sindir Nobunaga.

"Silahkan tanya sama si author, Hana. 'Kan dia yang bikin fic ini. Lagian bilang saja kau iri dengan bodiku yang sekseh, Nobunaga~" Hisoka nari-nari nggak jelas sambil ngegoyangin pantatnya layaknya seorang belly dancer. TAREEEEKKK MAAAASS! (*abaikan saja*)

"Bang His, abdi yang ngeliatinnya aja tuh malu. Jangan malu-maluin lagi dong..." kata Shizuku.

"Ah! Kalian semua garing! Nggak bisa diajak bercanda! Loh, gueh, end!" Sumpah deh, Hisoka kesambet apa sih?

"Oh iya... Ngomong-ngomong, kamarnya Kurapika..." kata Shalnark sambil melirik kamar tersebut.

Karena kepo tingkat dewa, mereka semua menghampiri kamar Kurapika buat ngintip sekaligus nguping.

"T-Tante... saya sama Kuroro nggak ngapa-ngapain kok. Emang sih, otak anaknya Tante rada mesum... Tapi imannya masih kuat kok, Tante..." kata Kurapika sambil memberikan tanda peace ke Pakunoda.

"Itu dia masalahnya!" jawab Pakunoda.

Kuroro dan Kurapika mengkerutkan dahi mereka. Ni orang udah sarap kali ya? Anaknya udah kuat iman malah disalahin?

"Maksud Tante apaan?"

"M-maksud Mamih... Mamih malah pengen kita ngelakuin hal macem-macem?"

"He-eh!" jawab Pakunoda. "Lagian, Kuroro... Mamih bukannya marah sama kamu, tapi Mamih bangga sama kamu!" Pakunoda menaruh kedua tangannya di pundak Kuroro.

"Hah?" kata Kuroro, hanya bisa cengo'.

"T-tunggu! Maksud Tante apaan sih?!" tanya Kurapika. Anaknya aja udah dia anggap gila akut. Eeehh, emaknya autis tingkat dewa!

"Yeeee, si eneng! Gimana sih? Orang tua mana yang nggak seneng dapet calon menantu secantik kamu?" jawab Pakunoda.

"CALON MENANTU?!" teriak Kuroro, Kurapika, serta penghuni kos yang lagi ngintip. Diantara mereka, Nobunaga lah yang dapat gelar 'Teriakkan Kaget Terkencang'.

"Aduh, Kuroro! Mamih bangga deh sama kamu! Bisa dapetin cewek kayak begini nih, itu namanya anugerah!" Pakunoda tersenyum manis ke Kurapika. "Pokoknya ya, Mamih mau cucu yang cakep-cakep. Gak usah banyak-banyak. 12 aja udah cukup. Jadi kita bisa bikin ksebelasan! Yang satu lagi jadiin cadangan!" Waduh, lu kira Kurapika bertelor?

"Gileeeeee! Nggak nyangka si Kuroro pinter milih cewek!" bisik Bisuke ke penghuni kosan yang lain.

"Iya ih, Jeng Bisuke. Eike juga bingung gimanaaa gitchu!" tambah Hisoka dengan cara ngomong banci-style.

"Jeng Bisuke, Jeng Hisoka, itu mah normal kali! Tuh dua emang udah deket dari dulu! Jadi wajar kalau ada kejadian kayak begini, uhm!" susul Shalnark, nggak mau kalah dengan cara ngomong ibu-ibu arisan.

"Ya ampun... Danchou sih umur segitu emang udah harus nyari istri! Tapi Kurapika 'kan masih SMA!" kata Machi.

"Nggak apa-apah, Teh Machi. Abdi mah seneng-seneng aja!" jawab Shizuku.

Nobunaga cuma bisa mangap-mangap. Illumi mengedipkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya bosan dan kembali ke kamarnya. Tapi tentu saja setelah mengecek kamar Killua, takutnya dia tidur berdua sama Gon.

"Iiiiihh! Tuh dua ngalahin gua! Sialan!" gerutu Bisuke, kesal karena Kuroro dan Kurapika yang jauuuuhh umurnya di bawah dia udah berjodoh. Lah dia? Nggak dapet-dapet, padahal udah dandan sana-sini.

"T-Tunggu deh, Tante! Kayaknya Tante salah pa—Hmmmmft!" Kuroro langsung membekap mulut Kurapika dan membawanya ke pojok ruangan.

"Pik, bilang aja kita pacaran ya..." bisik Kuroro.

"APA?! GILA LO!" protes Kurapika.

"Pssssstt! Gue juga sebenernya nggak mau. Tapi ya, gua kasih tauk nih; nyokap gue punya serangan jantung! Jadi kalau dia tau kalau ternyata kita nggak pacaran terus syok? Bisa ilang nyawa nyokap gua! Biar dia suka bikin gue bete dan kesel, beliau tetep ibu gua!"

Pakunoda cuman cengar-cengir melihat betapa dekatnya Kuroro dan Kurapika. Bahkan ia sudah mau nentuin tanggal pernikahan. Sesekali ia ngelirik ke arah penghuni kosan lain buat tebar senyum dan minta dibantuin milih tanggal bagus buat nikahnya KuroKura.

Kurapika berdecak pelan. "Ih, lo nyusahin gua aja deh. Tapi yah... daripada gua bikin nyokap lu mati terus gue jadi dosa, gue bantuin deh!"

"Beneran? ASIIIIKK! Makasih Kurapika!" teriak Kuroro dengan girang. Tanpa sadar ia memeluk Kurapika, membuat Shinigami mencabut nyawa Kurapika untuk beberapa saat.

"Ehem," dehem Pakunoda. "Jadi apa bener kalian pacaran?"

"I-iya, Tante," jawab Kurapika setelah jiwanya telah kembali.

"Bagus! Sekarang... proses cucu gih!" perintah Pakunoda.

"APA?!"

"Mamih! Apaan sih?! Jangan bikin malu Kuroro dong! Itu perbuatan kotor!" protes Kuroro

"Lah? Bukannya bagus itu?" jawab Pakunoda.

"Kok bagus sih, Tante?" tanya Kurapika. Dia pengeeeenn banget jedotin kepalanya Pakunoda ke tembok atau ke empang yang dipinggirannya banyak bekas orang buang hajat.

"Berani kotor itu baik!" Pakunoda mengeluarkan cengirannya.

Kuroro dan Kurapika melirik satu sama lain sebelum menepuk jidat mereka masing-masing.

"Kuroro... Ternyata emak lu lebih bego dari elo..."

"Iyaaaaa, gue tahu. Dia bukan bego, tapi idiot..." Hush! Kuroro, nggak boleh durhaka sama ibu sendiri!


Semenjak KuroKura bohong ke Pakunoda kalau mereka pacaran, Pakunoda jadi sering banget ngunjungin KKHxH. Kalo dateng cuma nengok keadaan doang sih kagak kenapa-napa. Lah ini? Selalu nanyain tentang cucunya! Terus kadang dia suka bawain baju bekas dia hamil Kuroro. Dan kadang dibawain barang dan perlengkapan bayi yang beragam. Parahnya, pernah satu hari Pakunoda bawa dokter buat meriksa Kurapika, soalnya dia kira Kurapika mandul!

Alhasil, karena mereka takut gila dan stress, mereka kabur ke MOI (Mall of Indonesia) deh! (Emang di Yorkshin ada ntu mall?)

"Aaaaahh... Gue nggak tau masih bisa ngebohongin nyokap lu atau enggak, Kuroro. Liat nih! Baru seminggu kita pura-pura jadian, nyokap lu udah ngebuat gua hampir gila! Kayaknya nyokap lu yang ngebuat gua kena serangan jantung dah!" protes Kurapika.

"Yaelah, Pik. 'Kan masih hampir gila, belom gilanya. Tahan bentar lagi ya?" kata Kuroro sembari menyisir rambut hitamnya kebelakang dengan jarinya. Si Kuroro jadi berasa kayak bintang iklan sampo, mirip-mirip Illumi gitu deh (kasihan banget nasibmu Illu, jadi korban ni author sarap mulu). Setiap ada kaca, pasti dia ngaca dulu sambil ngibas-ngibas rambut, bikin cewek-cewek yang lewat jadi gigit jari. Tapi tentu saja hal tersebut membuat Kurapika sangat empet!

"Kuroro! Lo nggak usah tebar pesona ke cewek lain gitu deh! Inget posisi lo! Sekarang lo cowok gue!" omel Kurapika.

"Oh iya ya. Gue 'kan cowo—Eh? Apa tadi lo bilang? Ulangin doooong!" goda Kuroro sambil senyum-senyum iseng.

Kurapika yang baru sadar akan omongannya tadi langsung mati kutu. "H-hah? Ngulangin apa? Rasanya gua nggak ngomong apa-apa deh! Kuping lo yang banyak congeknya kali!"

"Mulai deh ni cewek. Bisa nggak sih satu hari aja nggak ngajak berantem—"

"TUOLOOOOOOOOOOONG!" Teriakkan tersebut menarik perhatian Kuroro dan Kurapika. Seorang gadis berambut biru kehijauan berlari dengan panik ke arah mereka. "Mbak, Mas, tolong aku! Piye iki... temenku...!" kata gadis tersebut dengan panik.

"Mbak, tenang dulu. Temen Mbak kenapa?" tanya Kuroro.

"Mendingan Mas sama Mbak ikut aku deh!" jawabnya, lalu ia menarik Kuroro dan Kurapika sampai di depan pintu lift.

"Nah Mbak, sekarang temen Mbak kenapa?" kata Kurapika.

"Dua temen aku... dimakan pintu!" jawabnya.

"Hah?! Dimakan pintu?!" teriak Kuroro dan Kurapika bersamaan.

"Iye... Tadi, aku sama dua temenku lagi lihat-lihat ni mall gede. Tiba-tiba ni pintu terbuka sendiri! Temen-temenku masuk ke dalem, abis ntu mereka nggak keluar lagi!"

"Mbak—"

"—Ponzu, nama kulon Ponzu," Ponzu mengerlingkan matanya. "Mas ganteng banget sih! Hihi."

"Yeeee, kok genit sih mbak?! Mau dibantuin nggak?!" sahut Kurapika, kesal karena Ponzu ngegodain Kuroro.

"Iye, iye... Maap, Mbak cantik." Duuuhh, Kurapika jadi malu dibilang 'Mbak cantik' sama Ponzu. "Terus, piye aku balikin temenku nih?"

"Kalo temen lo masuk situ, entar paling balik lagi," jawab Kuroro.

"Eh? Kok bisa, Mas? 'Kan mereka dimakan pintu!"

"Mbak dari kampung ya?"

"Ngge', Mas. Kenapa?"

Kuroro dan Kurapika sweat-drop. Pantes ni orang udik banget. Sampe bilang ada pintu makan orang pula.

"Hah... Mereka bukan dimakan pintu, Mbak Ponzu. Paling mereka cuma tersesat, abis keluar dari pintu itu nggak tau jalan."

"Oh... Terus kapan temenku balik—"

"Ponzu!" panggil dua orang pemuda.

"Pokkle! Hanzo! Kalian selamat! Makasih, Gusti Agung!" kata Ponzu.

"Di kota kok serem ya? Banyak makhluk gaibnya. Ampe pintu bisa kebuka sendiri!" kata Pokkle, masih ketakutan sama pintu lift yang bisa kebuka sendiri.

"Bener tuh. Kita kudu ati-ati nih!" susul Hanzo sambil mengelus-elus kepalanya yang botak-kinclong.

"Mbak Ponzu," panggil Kurapika, membuat dirinya menjadi perhatian ketiga wong jowo tersebut.

"Wuih! Cuantiknya! Mbak orang bule ya?" kata Hanzo genit.

"Mbak 'kan temennya udah ketemu, kita tinggal ya," kata Kurapika tanpa menggubris perkataan Hanzo. Lalu ia menggandeng tangan Kuroro, membuat jantung pemuda tersebut hampir loncat, tapi kemudian ia tersenyum. "Gua masih mau jalan-jalan lagi nih."

"Oalah, si Mbak cantik udah punya pacar toh," Hanzo menatapnya kecewa. Muka Kurapika memerah. Ia ingin menyangkalnya tapi Kuroro bicara duluan, "Haha, tau aja nih si Mas botak."

"Panggil aja saya Hanzo, Mas, Mbak."

"Kalo kulon Pokkle! Salam kenal ya!" Pokkle menyambar tangan Kurapika.

"Udah dong! Jabat tangannya lama amat!" protes Kuroro lalu menepis tangan Pokkle dari Kurapika.

Begitu mereka kenalan, tuh tiga orang asing jadi ngintilin Kuroro dan Kurapika mulu. Bikin malu pula! Nih ya, pas mereka mau turun pake eskalator, Ponzu, Pokkle, dan Hanzo pada ngelepas sandal mereka lalu ditinggal di eskalator arah naik! Bilangnya sih takut penunggu 'tangga jalan'-nya marah gara-gara bikin kotor tempatnya. Alhasil Kuroro kudu naik-turun eskalator cuma buat ngambil sendal mereka. 'Gua berasa jadi maling lagi nih...' pikirnya.

"Kalian ini... sebenernya ngapain sih di sini?" tanya Kurapika.

"Mau jalan-jalan, Mbak Kurapika. Mau liat-liat kota," jawab Pokkle.

"Yaudah, sekarang kalian ngitarin kota sana. Kenapa malah ngebuntutin kita?"

"Ogah ah! Kapan lagi kita bisa ketemu orang kota yang baik-baik kayak Mas Kuroro sama Mbak Kurapika?"

"Jadi kalian mau ngintilin kita sampe mana?"

"Sampe ke rumah kalian."

"APE LO BILANG?!"


"Oh... Jadi mereka ini seperti grup pelancong..." kata Netero sambil ngelus-ngelus jenggotnya.

"Bukan pelancong, Opah. Tapi tiga orang yang tersesat di kota!" kata Kuroro, membenarkan perkataan Netero. Kini Pokkle, Ponzu, dan Hanzo tengah menghadap pemilik KKHxH. Mereka ingin tinggal untuk sementara sampai puas jalan-jalan di Yorkshin.

"Iye, Mbah. Apa ada kamar kosong buat kita? Satu kamar bertiga juga ndak papa!" kata Ponzu.

"Hmmmm..." Netero terlihat berpikir.

"Pssstt, kamarnya Kortopi 'kan gede. Dia cuma sendiri pula!" bisik Kuroro kepada Netero dan Kurapika. "Suruh pindah ke kamarnya Franklin aja!"

"Gila lu! Si Kortopi nanti mejret!" bisik Kurapika. "Kalo mau suruh pindah ke kamarnya si Bonolenov!"

"Ya, boleh juga. Kuroro, tolong suruh Kortopi untuk pindah ke kamar Bonolenov," suruh Netero. Kuroro mengangguk dan beranjak ke gedung dua.

Netero tersenyum kepada ketiga wong jowo tersebut. "Oke, masih ada kamar kosong kok di gedung dua!"

"Beneran Mbah?! Di gedung dua ya? Mbak Kurapika juga di gedung dua?" tanya Hanzo dengan mata berbinar.

"Kagak, gua di gedung satu. Yang di gedung dua mah Kuroro," jawab Kurapika.

"Oh, ada Mas Kuroro. Ndak apa toh, 'kan Mas Kuroro ganteng! Hihi," kata Ponzu sambil cekikikan. Kurapika memutar bola matanya


Malamnya, Pokkle, Ponzu, dan Hanzo menempati salah satu kamar di gedung dua. Dan kamar tersebut memang cukup besar untuk mereka bertiga. Sebelum mereka masuk, Opah Netero nanya ke Kuroro apa Kortopi sudah pindah atau belum. "Seingatku sih udah," jawab Kuroro.

Hohohohoo! Berarti kamar tersabut sudah aman dari ntu kuntilanak cebol! Uhm... apa benar ya...?

Ponzu menaruh barang-barang bawaannya di salah satu sudut ruangan, lalu ia merebahkan badannya di tempat tidur.

"Capek..." gumamnya. Tiba-tiba ia merasakan kasurnya bergoyang sendiri. Spontan ia langsung bangkit dari posisinya.

"Ora opo toh, Ponzu?" tanya Hanzo.

"K-kasurnya... bergerak sendiri..." jawab Ponzu sambil gemeteran.

"Hah? Jangan aneh-aneh deh. Ntar kita dibilang udik," kata Pokkle sembari mengeluarkan barang-barangnya.

Sreeett... Sreeeett...

Kasur tersebut kembali bergoyang, membuat kayu yang menahannya berdecit.

"P-Pokkle! Ponzu ndak bo'ong! Kulon juga liat; tuh kasur goyang sendiri!" kata Hanzo.

"Kalian ini! Jangan bikin ma—" Sesuatu keluar dari kolong tempat tidur. Kepala... yang berambut putih panjang?!

"Te... teman... baru..." kata makhluk tersebut.

"K-KUNTILANAAAAAAAKK!" teriak ketiga orang baru bersamaan. Mereka berlari keluar kamar dan membuat gaduh satu kos. "TOLOOOOOONG! ADA KUNTILANAK!"

Kuroro, Neon, Machi, Bisuke, dan Hisoka yang satu gedung sama mereka keluar dari kamar. "Astaghfirullah! Minggu lalu si Kurapika yang bikin ribut, sekarang nih tiga orang baru! Ada apaan sih?" tanya Bisuke dengan kesal.

"Mbak... ada kuntilanak, Mbak!" kata Ponzu dengan panik.

"Hah? Kuntilanak? Mana ada kuntilanak di sini? Serius deh, ini udah malem, besok gua mau cari nafkah," kata Machi.

"Kalian... Kenapa lari...?" tanya makhluk yang dikira kuntilanak tersebut.

"Ya ampun... Gua udah nebak elu yang bikin orang baru ketakutan," kata Neon sambil menghampiri makhluk cebol tersebut.

"Mbak! Mbak rambut pink! Ati-ati!" sahut Pokkle.

"Kortopi, bukannya lu udah disuruh pindah?" tanya Neon.

"Iya, gua udah pindah kok," jawab Kortopi.

"Terus? Kok masih di sini?"

"Gua pindah dari atas tempat tidur ke kolong tempat tidur." Ya elah, pindah posisi itu namanya! "Ini tiga penghuni baru yang sementara numpang di kamar gua ya? Salam kenal!" Kortopi mengulurkan tangannya.

Bukannya menjabat tangannya, mereka malah diam terpaku sebelum... "HIYAAAAAA!" Dan mereka pingsan.

"Kebiasaan deh, lu bikin penghuni baru pingsan," sindir Kuroro.

"Gua nggak bermaksud gitu..."

"Iya, Kortopi-chan(?), kita ngerti kok~" kata Hisoka. "Dan ini saatnya kita mengucapkan kata-kata biasa diucapkan ketika penghuni baru datang~"

Mereka semua tersenyum lebar (senyumnya Kortopi nggak keliatan sih) dan menghadap tiga orang yang terkapar di lantai.

"Selamat datang di Kos-Kosan Hunter x Hunter!"

~To be continued~


A/N: Pasti banyak yang nanya kenapa Hanzo malah bisa ikut sama Pokkle dan Ponzu. Jawabannya... Author juga nggak tau, tiba-tiba pengen aja. *plak*

Maaf bagi fans-fansnya Ponzu atau Pokkle atau Hanzo! Sebenernya Hana nggak niat bashing chara kok!

Btw, ada kemungkinan besar Hana bakal update minggu ini! Soalnya UAS udah selesai! Yeay! *tebar confetti* Tapi belom bagi rapot... *nangis di pojokkan*

Oh ya! Hana juga rencananya mau bikin fic Chain Pair lagi, tapi kali ini serius dan bakal ada tragedinya... Khuhuhuhu... Kemungkinan chap 1-nya selesai Senin depan!

Balasan review Guest~:

Kuroneko - Hahaha, belom log in juga nggak apa-apa kok! Yang penting Kuroneko-san udah review! ;)

yuiko - Tambah gokil ya? Makasih! Yosh! Bakal kulanjutin terus! Ganbarimasu!

Airul Ricky Koizumi - Wah? Berarti fic-nya Hana bandar penyakit dong! Hehe, makasih udah review!

Next chapter: Tante Pakunoda! Kuroro Diculik!

Review ya~! Yang nggak review nanti didatengin Kortopi kuntilanak mode! Yang review nanti kukirimin Killua ke rumah masing-masing~ *disebelah Hana udah ada Killua yang diiket pake pita dan dibungkem*