Disclaimer : Terajima Yuuji
Warning : OOC, typo, EYD berantakan
Sawamura baru saja selesai mandi, ia berjalan santai ke arah kamarnya sendiri. Dalam kepalanya, ia mengingat kejadian tadi sore setelah pertandingan selesai. Ia merasa kalau Miyuki ingin mengatakan sesuatu padanya sebelum ia berteriak memanggil Chris.
Sampai di depan kamarnya, ia berhenti sebentar. 'Tumben tidak ada suara game dari dalam. Apa Kuramochi-senpai tidak bermain karena lelah?' pikirnya dalam hati.
Ia memutar knob pintunya, "Kuramo– GHE! MIYUKI KAZUYA!" teriaknya saat melihat siapa yang ada di dalam kamarnya.
"Kenapa kau ada di sini!? Mana Kuramochi-senpai!?" Sawamura masuk untuk menengok ke sekeliling ruang kamar.
"Aku tukar kamar dengan Kuramochi." jawab Miyuki santai.
Sawamura terdiam sebentar karena bingung, "Eh? Kenapa?"
Miyuki hanya mengangkat bahu. Bagaimana pun juga yang menyarankan tukar kamar ini kan memang Kuramochi, jadi tidak salah kan kalau Miyuki mengangkat bahu.
"Ah," seakan teringat sesuatu, Sawamura mendadak menjadi gugup. Ia berbalik ingin keluar, "K-Kalau begitu aku juga tuka–"
'BRAK!' suara pintu ditutup cukup keras. Sawamura tidak berani menoleh ke belakang atau bergerak sedikit pun karena tubuhnya terperangkap di antara tubuh Miyuki dan pintu di depannya yang tadi Miyuki tutup dengan cepat.
"M-Mi–"
"Aku ingin bicara." Miyuki menurunkan tangannya lalu duduk di kasur yang dulunya milik Masuko.
Berpikir sebentar, akhirnya Sawamura menyusul Miyuki untuk duduk di kasurnya sendiri–berseberangan dengan kasur yang Miyuki duduki.
"Ingin bicara apa?" tanya Sawamura sedikit gugup.
Miyuki mengangkat wajahnya agar mata mereka bertemu, tapi tiba-tiba Sawamura menghindari kontak matanya. "Kau..ada hubungan dengan Chris-senpai?"
"H-Hubungan apa maksudmu?"
Miyuki terdiam sebentar, "Seperti pacaran, misalnya,"
Mata Sawamura agak membelak, "Mana mungkin aku punya hubungan seperti itu dengan Chris-senpai!"
"Tapi kau sudah berciuman dengannya kan," –kalimat ini meluncur begitu saja dari mulut Miyuki.
Benar-benar kaget, Sawamura menoleh memandang Miyuki. "A-Apa maksudmu? Aku tidak pernah berciuman dengan siapa-siapa!"
Diam sebentar, Miyuki menghampiri tempat Sawamura. Sawamura yang takut hanya memundurkan tubuhnya saat ia merasa kalau Miyuki semakin mendekatinya. Sampai pada akhirnya, tubuhnya kembali diperangkap oleh tubuh Miyuki.
"Aku menyukaimu." –dua kata yang seakan membuat Sawamura melupakan cara untuk bernapas.
Menarik gugup ujung bibir, "J-Jangan bercanda Miyuki Kazuya. Ini tidak lucu sama sekali."
Miyuki menatap serius Sawamura, "Aku tidak bercanda. Aku benar-benar menyukaimu."
Sawamura yang ditatap seperti itu hanya diam tidak bisa membalas. Perlahan, kepala Sawamura mulai menunduk. Bahunya sedikit bergetar, "Kalau ingin bercanda tolong jangan berlebihan, Miyuki Kazuya."
"Sawamura," Miyuki mencoba mempertemukan mata mereka. Sawamura sendiri menggelengkan kepalanya agar tidak bertemu pandang dengan Miyuki. "Sawamura!" bentak Miyuki agak keras.
Sawamura kaget. Wajahnya sudah terangkat tapi mata mereka sama sekali belum bertemu. Mata Sawamura selalu melihat ke arah baju Miyuki seakan benda itu lebih menarik untuk diperhatikan.
Miyuki merendahkan kepalanya agar dapat melihat mata Sawamura, "Hei, aku tidak sedang bercanda,"
Sawamura melirik hal lain, tidak merespon perkataan Miyuki dengan kata-kata.
Miyuki mendekatkan tubuh mereka. Mencoba membawa Sawamura dalam pelukannya, "Aku benar-benar mencintaimu, bodoh." ia mencium atas kepala Sawamura agak lama.
Sawamura yang kaget karena dipeluk, ditambah kagetkan dengan ciuman Miyuki. Ia menggigit bibir bawahnya, "K-Kau yang bodoh, bodoh."
Miyuki tersenyum kecil. Pelukannya semakin dieratkan, "Hei hei, aku tidak sebodoh kau, kau tahu?"
"Kau bodoh. Apa maksudmu aku berciuman dengan Chris-senpai. Bodoh. Kau sungguh bodoh." ia menggenggam keras baju depan Miyuki–untuk melampiaskan kekesalannya, sampai kusut. Wajahnya menekuk kesal.
"Saat di lapangan outdoor tiga hari lalu, dari sudut pandangku wajah kalian sangat dekat. Jadi tak salah kan kalau aku mengira kalian ciuman?"
Dengan cepat Sawamura melihat Miyuki kaget, sampai membuat pelukan Miyuki terlepas. "K-KAU MELIHAT KAMI!?"
Miyuki tertegun beberapa detik. Jadi maksudnya?...
"Kau–"
"KAU TIDAK MENDENGAR PEMBICARAAN KAMI KAN!?" tanya Sawamura histeris.
Miyuki menggeleng kecil, membuat Sawamura menghela nafas lega.
"Memang apa yang kalian bicarakan?" tanya Miyuki curiga, membuat Sawamura seketika gugup.
"HA!? B-Bukan apa-apa kok! Ahaha," Sawamura mengalihkan matanya.
"Hei. Kalau kau tidak cerita terus terang, aku akan selalu beranggapan kalau kau sudah berciuman dengan Chris-senpai loh."
"Oh dan juga masalah tiga hari lalu yang kau memanggilku pagi-pagi. Ceritakan sekarang juga." sambung Miyuki meminta penjelasan.
Mulut Sawamura membuka, membisikkan sesuatu. "Hah? Kau bilang apa?" tanya Miyuki yang belum mendengar suara Sawamura. Ia kembali mendekatkan tubuhnya pada tubuh Sawamura.
"–dak.." bisik Sawamura lagi, membuat Miyuki semakin mendekat.
"TIDAK AKAN!" tiba-tiba Sawamura berteriak kencang. Beruntung Miyuki tidak mendekatkan telinganya ke mulut Sawamura. "AKU TIDAK AKAN MENCERITAKAN APAPUN PADAMU!" Sawamura mengambil bantalnya untuk menutup wajahnya yang memerah.
Mencoba menarik bantal Sawamura, "Oi, katakan padaku apa yang terjadi!"
"–DAK –KAN!" suara teriakan Sawamura terhalang bantal.
"Oi oi, aku kekasihmu, kau tahu," Miyuki masih mencoba menarik paksa bantal itu.
Sawamura menarik bantalnya balik, "TIDAK!"
"Kalau begitu besok akan aku tanyakan langsung pada Chris-senpai."
Terdiam sebentar, "TERSERAH! POKOKNYA AKU TIDAK AKAN CERITA APA-APA PADAMU!" Sawamura mendorong bantal itu sampai ke wajah Miyuki.
"Kh!– Apa-apaan ini!" Miyuki mendorong balik bantal itu.
Dan terjadilah dorong-dorongan bantal hingga–entah bagaimana ceritanya, akhirnya bantal itu ada diantara wajah mereka yang berdekatan.
"Kau harus siap kalau aku sampai mendengar hal aneh dari Chris-senpai," alis Miyuki bertaut kesal, bibirnya membentuk sebuah seringai.
Wajah Sawamura yang masih memerah semakin memerah, "BERISIK!" ia menutup matanya rapat.
Miyuki tersenyum kecil. Tidak pernah terpikir olehnya akan mengalami kejadian seperti ini. Mungkin sehabis ini ia akan mentraktir Kuramochi karena telah memberikan kesempatan padanya? ...Mungkin.
Seakan teringat sesuatu lagi, Sawamura membuka suara. "N-Ne, Miyuki," matanya bergerak gelisah.
"Hm?"
Cepat, disingkirkan bantal diantara mereka dan dikecupnya singkat sebelah pipi Miyuki. "Home run tadi.." bisiknya kecil sebelum menenggelamkan wajahnya lagi di bantalnya.
Miyuki kaget, sedikit semburat merah terlihat di wajahnya. Membuka mulut ragu, ia menutupnya lagi. "Sawamura," akhirnya sebuah panggilan keluar.
Sawamura menurunkan bantalnya sedikit, sampai hanya matanya saja yang terlihat. "Apa?" tanyanya gugup.
Miyuki mendekatkan wajahnya. Sebelah tangannya menyingkirkan bantal itu, membuat bibir mereka bertemu.
Awalnya Sawamura kaget, tapi hembusan nafas kecil Miyuki dan pegangan tangan Miyuki pada tangannya membuatnya luluh. Apalagi setelah Miyuki semakin mendekatkan tubuh mereka, membuat Sawamura bisa merasakan detak jantung Miyuki yang cukup keras seperti miliknya.
Perlahan, Sawamura memejamkan matanya. Dan saat lidah Miyuki meminta akses masuk, Sawamura juga membuka kedua bibirnya, membiarkan lidah mereka bertemu.
Cukup lama, karena keterbutuhan mereka terhadap oksigen, pangutan itu pun lepas. Diakhiri kecupan kecil di bibir dari Miyuki, "Aku mencintaimu." katanya dengan seulas senyum kecil.
Malu, Sawamura menjawab dengan wajah yang memerah, "A-Aku mencintaimu juga."
...
Kuramochi baru saja membuka pintu kamarnya dan apa ini? Pemandangan macam apa ini? Sungguh, ia ingin menendang Miyuki keluar sekarang juga. Lihat, apa-apaan itu maksudnya mereka tidur satu kasur? Miyuki sampai memeluk Sawamura lagi! Walau Kuramochi ingin membantu, tapi bukan ini maksudnya! Hei! His precious kouhai–untuk sekarang, tidak boleh disentuh siapa-siapa!
"Mi–yu–ki–" aura hitam keluar saat Kuramochi mulai memasuki kamar.
Merasa terpanggil, Miyuki memijat kepalanya dengan sebelah tangan.
"Bangun kau, Miyuki–"
Miyuki membenarkan letak kacamatanya. Ah, ternyata ia ketiduran sampai lupa membuka kacamatanya.
"BANGUN KAU SIALAN! JANGAN ENAK-ENAKAN TIDUR!" Kuramochi melepaskan amarahnya.
Miyuki yang sudah bangun hanya tertawa tanpa dosa, "Ahaha, pagi-pagi seperti ini kau sudah semangat saja ya,"
"'AHAHA' JYANAI YO! APA-APAAN INI MAKSUDNYA HAH!? KENAPA KAU TIDUR SAMBIL MEMELUK SAWAMURA HAH!? JELASKAN!" teriak Kuramochi kencang, membuat beberapa orang yang masih dalam kamarnya menggerang terganggu.
"Ahaha.. Dijelaskan bagaimana? Sudah jelas bukan? Haha," Miyuki tertawa seperti biasa, membuat Kuramochi semakin kesal dan semakin ingin melemparkan sumpah serapah pada temannya itu.
Sedangkan Sawamura hanya mengerutkan dahinya sebentar lalu mencoba tidur kembali karena mendengar suara yang berisik.
FIN
...
...Iya, ini sudah selesai.
...oke, maafkan saya. Saya tahu ini aneh, TAPI SAYA SUDAH PASRAH! /stop/ Saya tidak tau endingnya harus dibuat bagaimana T-T Maaf, saya tidak berpengalaman mengakhiri sebuah cerita multichapter _(:' 」 /)_ Sekali lagi, maafkan saya.
Untuk balasan review,,
Au: Makasih bebb~ /nak/ Gak sepenuhnya ikhlas sih, cuma...yhaa sama seperti yang kutulis di atas aja, ku juga bingung gimana harus deskripsiinnya TvT
Iyah, doain aja,, Tapi kalau sama Ryou-san ku lebih suka kalau dia semenya, jadi dia papa yang baik bukan mama xD /maaf beb balesanmu beda sendiri, soalnya tiap ku save, nanti pas diliat lagi, namamu ilang TvT/
Airis Hanamori
Sawa memang imut kalau lagi merah-merah(?) gituu~
Ahaha, ini adegan kissunya~ Maaf lama TvT
Saya lebih suka KuraRyou sih yaa, saya suka buat Kura jadi bingung sama kelakuan Ryou-san yang kayak 'Kuramochi emang semenya, tapi Ryou-san yang lebih suka ngegodain Kuramochi' gituu /apa ini/ Omong-omong, ini Kuramochi sudah rujuk(?) sama Ryou-san~
Panda Dayo
Makasihh~
Koro-kun
Hoo, kerasakah? Makasih~
Ini chap empatnya~
pumpkins minnie
Konnichiwa.
...maaf, ini gak sampai satu bulan ke depan TvT Nanti saya usahain deh buat sesuatu lagi(?)
Sawa emang punya aura(?) yang bisa narik para seme mendekat sii
Iyaa, ini sudah post lagi, jadinya jamuran gak? /oi/
Yosh! Terima kasih untuk yang sudah fav, follow, review dan silent reader kalau ada. Dan karena di atas singkat banget, di bawah ada beberapa omake! Selamat menikmati~
Omake 1
Bel istirahat berbunyi, Chris keluar kelas untuk pergi ke kantin, sebelum–
"Chris-senpai," –seseorang memanggil namanya.
Chris menoleh, "Miyuki? Ada apa?"
"Ada waktu untuk bicara? Aku ingin bertanya sesuatu."
Memandang Miyuki sebentar, Chris rasa ini masalah yang itu. Akhirnya Chris mengangguk, "Tentu ada."
.
.
.
Mereka duduk dalam diam cukup lama, "Kau ingin bertanya apa, Miyuki?" –sampai akhirnya Chris yang membuka suara duluan.
"Tiga hari lalu.." Miyuki memberi jeda, "Sawamura bercerita apa?"
"Kalian sudah berbaikan?" Chris balik bertanya.
Miyuki menatap Chris dengan raut bingung dan sedikit kaget, "..Sebenarnya dari awal kita memang tidak sedang marahan,"
Bibir Chris tertarik sedikit ke atas, membuat senyum geli. "Dia tidak mau cerita padamu langsung?"
Miyuki hanya menjawab dengan anggukan. "Baiklah, akan kuceritakan." kata Chris.
.
.
.
"–Dia hanya berbicara seperti itu." Chris mengakhiri ceritanya.
Miyuki terdiam, sama sekali tidak memberikan respon dengan kata-kata. Di satu sisi dia cukup kaget dengan hal yang Chris ceritakan, sisanya pikirnya berdebat tentang apakah dia akan menanyakan masalah berciuman itu atau tidak.
"Se–"
"Kau melihat kami saat aku mulai mendekatkan wajahku dengan wajah Sawamura kan?" Chris berkata lagi, seperti sudah tahu Miyuki akan berbicara apa.
"A– Mh." Miyuki mengangguk.
"Aku tidak menciumnya." kata Chris.
Miyuki menarik nafas, ingin menghela nafas lega–
"–Bisa dibilang kalau tidak jadi menciumnya."
"Eh?" –sebelum Chris melanjutkan kalimatnya dan membuat Miyuki membuang tarikan nafas itu begitu saja.
Chris tersenyum kecil, "Kurasa kau sudah tahu kalau aku mempunyai perasaan lebih pada Sawamura, ne?"
"M-Maa.. Bisa dibilang seperti itu,"
"Kupikir tadinya mengambil kesempatan pada kejadian seperti itu bisa menguntungkan. Tapi setelah kupikir kembali, aku tidak ingin membuat Sawamura semakin menderita."
Miyuki terdiam sebentar, "Jadi, apa yang senpai lakukan pada Sawamura?"
Memasang senyum geli, "Aku hanya bilang kalau aku punya ide bagus dan menanyakan padanya apakah ingin mencoba membuatmu cemburu atau tidak,"
"Aku sudah tahu kau di sana, jadi secara tidak langsung pun, ide itu sudah terlaksana." sambungnya.
Ah, untung saja Miyuki tidak melakukan tindakan yang sempat ia pikirkan waktu itu. "..Saat senpai berkata seperti itu, Sawamura menjawab apa?" tanyanya.
"Ia menolaknya. Ia tidak pernah berpikir kalau kau menyukainya, jadi ia tidak ingin melakukan hal yang menurutnya akan mengganggumu."
Mata Miyuki sedikit membelak. Selang beberapa detik, ia berdiri, "Kalau begitu terima kasih senpai. Aku akan kembali ke kelas, sebentar lagi juga akan masuk."
Chris mengangguk singkat. "Jya, aku permisi." Miyuki melangkahkan kakinya.
"Miyuki," panggil Chris membuat langkah Miyuki terhenti. Ia menoleh, pandangannya seperti bertanya kenapa Chris memanggilnya. "Jaga Sawamura dengan baik." sudut bibirnya terangkat, membuat senyum tulus walau kecil.
Tertegun sebentar, Miyuki mengangguk dengan pasti, "Tentu."
Omake 2
Kuramochi menghentakkan kakinya kuat. Ia masih kesal dengan apa yang tadi pagi ia lihat.
"Yo," sebuah suara mengintrupsinya.
Kuramochi menoleh, "Ryou-san!?"
"Hm? Kenapa kau terlihat kaget?"
"E-eh?.. Iie.." Kuramochi mengangkat sudut bibir gugup.
Raut Ryousuke masih terlihat seperti biasa, "Kau sedang kesal kenapa?"
Teringat kembali, tangan Kuramochi mengepal. "H-Hanya kesal dengan Miyuki–"
Belum juga ucapannya selesai, matanya sudah kembali melihat pemandangan yang sungguh–dalam mimpi pun, tidak ingin dia lihat. Miyuki dengan santainya merangkul pinggang Sawamura di tengah jam latihan.
Kepalan tangannya menguat, "Miyuki teme.." desisnya kesal. Ia tahu mereka sudah jadian, tapi tidak usah ditunjukkan saat sedang latihan juga kan? Ah, dan Kuramochi juga tidak ingin Sawamura diapa-apakan. Ia masih tidak rela kalau Sawamura–yang sudah dianggap adiknya sendiri itu, dipegang-pegang oleh catcher mesum mereka.
Mengerti, Ryousuke membuka suara, "Hee, jadi mereka sudah jadian ya.."
Senyum terkembang, "Kalau yang lain tahu, akan lebih seru tidak ya?" sambungnya.
Menoleh cepat, Kuramochi membuat raut kaget. "Tidak apa kan? Semakin banyak yang tahu, mungkin akan semakin seru." kata Ryousuke.
Raut Kuramochi tidak bisa diartikan. Sebenarnya boleh-boleh saja yang lain tahu akan hubungan Miyuki dan Sawamura, tapi sebagian hatinya tidak rela kalau yang lain menerima hubungan Miyuki dan Sawamura. Bukan cemburu, hanya saja ia...bagaimana menjelaskannya ya? Ia memang tidak ingin Miyuki dan Sawamura bertengkar atau memiliki masalah, tapi ia juga tidak ingin kalau mereka sangat dekat... Argh! Kuramochi jadi mengerti betapa tidak relanya seorang kakak yang adiknya diambil oleh temannya sendiri.
"Kau cemburu?" tanya Ryousuke.
Kuramochi memegang tengkuknya, "B-Bukan cemburu.. Aku hanya kesal kalau Miyuki dekat-dekat dengan Sawamura,"
"Hm? Bukannya kalau sudah pacaran, berdekatan itu hal yang wajar ya?"
"Ugh.."
"Jadi? Kau iri?" tanya Ryousuke lagi.
Kuramochi menatap Ryousuke, "Huh? Iri? Kenapa?"
Ryousuke mengangkat bahu sedikit, "Entah. Mungkin kau juga ingin merasakan apa yang mereka rasakan?"
Keadaan hening sebentar. Kuramochi tenggelam dalam pikirannya. Jadi maksudnya selain tidak ingin Sawamura diapa-apakan Miyuki, ia juga ingin mengapa-apakan atau diapa-apakan orang lain, seperti itu? ...Eh, tunggu! Ia tidak ingin diapa-apakan! Ia ingin mengapa-apakan! ..Eh! Bukan itu maksudnya! Lagipula ia juga tidak ada pasangan...
"Ingin coba?" tanya Ryousuke tiba-tiba.
Kuramochi yang kaget, memundurkan wajahnya sedikit. Karena tanpa ia sadari, wajahnya dan wajah Ryousuke sudah bisa dibilang dekat. "M-Maksudnya?"
"Seperti Miyuki dan Sawamura. Ingin coba?"
"..Siapa?"
"Kau.." Ryousuke menggantung kata-katanya.
"–Dan aku." sambungnya dengan senyum seperti biasa, sedangkan Kuramochi hanya terdiam kaget dengan beberapa semburat merah di pipinya–karena mengerti apa maksud Ryousuke.
Omake 3
Miyuki dan Sawamura berjalan beriringan ke kantin asrama. Membuka pintu kantin, pandangan anggota yang di dalam langsung tertuju ke arah mereka.
"Wah wah, ini dia pasangan baru kita," Jun–yang ternyata ada di kantin dengan beberapa senpai lainnya, membuka suara.
"Are? Jun-san to senpai tachi, sedang apa di sini?" Miyuki membalas, ujung bibirnya ia tarik membentuk senyuman seperti biasa.
Sawamura cepat mengambil bagiannya lalu duduk di salah satu meja, diikuti Miyuki yang tadi membalas perkataan Jun.
Jun berdiri dari tempatnya lalu menghampiri Miyuki dan merangkulnya, "Jangan mengalihkan pembicaraan kau!" nadanya naik sedikit.
Beralih ke Sawamura, Jun bertanya padanya, "Hei, kenapa kau mau saja jadian dengannya?" ia menunjuk Miyuki.
Terlihat sedikit semburat merah di pipi Sawamura. Ia menyendok makanannya cepat, "E-Entahlah," ia melihat objek lain.
"Che, tidak seru." Jun berdiri lalu berjalan kembali ke mejanya.
"Jun-san dan Tetsu-san sudah berapa lama?" –sebelum pertanyaan Miyuki menghentikan langkahnya di tengah jalan.
"Satu tahun sebelas bulan." jawab Tetsu dari tempatnya.
Jun membalik badan cepat lalu menunjuk Miyuki, "JANGAN BICARA YANG ANEH-ANEH KAU MIYUKI!" wajahnya memerah.
"Kenapa kau tidak bilang dua tahun kurang satu bulan saja?" Ryousuke membuka suara.
"Oh," Tetsu seperti baru tersadar.
"JANGAN DILANJUTKAN LAGI!" teriak Jun kembali, yang sekarang sudah berada di tempat duduknya–tepat di sebelah Tetsu.
"Ahahaha," Miyuki tertawa di tempatnya.
Kuramochi yang sedari tadi melihat hanya menghela nafas lelah, karena tahu sifat Miyuki memang seperti itu.
"Tidak ingin bergabung?" tanya Ryousuke yang mengambil tempat di sebelah kirinya.
Kuramochi menoleh, "Uh? Tidak. Aku sudah lelah,"
"Hmm.." Ryousuke hanya membalas dengan gumaman.
"–?" merasa ada sesuatu yang memegang jari kelingking kanannya, Ryousuke melirik sedikit. Senyum terkembang di bibirnya, membuat orang yang tadi menyentuh jarinya meletakkan tangannya di atas tangan Ryousuke.
"Seperti ini tidak apa kan?" Kuramochi membuka suara.
"Hm. Bukan masalah."
Sementara di tempat lain, Sawamura masih makan dengan cepat untuk menyembunyikan rasa malunya. Ia malu karena anggota lain sudah tahu akan hubungannya dengan Miyuki.
Tiba-tiba, seseorang duduk di sebelah kanannya. "–! FURUYA!" teriaknya masih dengan sisa makanan di mulut dan tentu itu membuatnya tersedak.
"UHUK–! –HUK!" ia menerima uluran segelas air dari Furuya.
"Oi oi, kau kenapa?" tanya Miyuki di sebelah kirinya. "Are? Furuya?" matanya beralih melihat Furuya.
"Kau jadian dengan Miyuki-senpai?" tanya Furuya tiba-tiba.
Baru meredakan tersedaknya, Sawamura dikagetkan oleh pertanyaan Furuya. Wajahnya memerah, "K-Kenapa kau bertanya seperti itu?" ia mengeser tempat lebih dekat dengan Miyuki–meminta bantuan, tapi sayangnya Miyuki tidak menghiraukannya–atau memang sengaja menghiraukan permintaan tolongnya, untuk sekarang.
Anggota lain melihat kejadian itu dengan seksama. Mungkin saja setelah ini akan terjadi perang?
"Kapan kau akan putus dengan Miyuki-senpai?"
'Uoohhh––– PERNYATAAN PERANG!' batin anggota lain.
Merasa bahaya, Miyuki merangkul Sawamura dari belakang–karena Sawamura melihat ke arah Furuya, "Oi oi, apa maksudmu?"
"Miyuki, lepas!" Sawamura mencoba melepas rangkulan Miyuki karena malu.
Furuya melihat Miyuki sebentar, "Aku hanya bertanya."
Keadaan hening, membuat udara sekitar semakin terasa berat. Bahkan Kuramochi maupun Jun sampai tidak tahu membuka suara merupakan keputusan yang benar atau tidak.
Satu sudut bibir terangkat, "Aku tidak akan putus dengan Sawamura. Sebaiknya kau cari yang lain."
Pandangan Furuya beralih ke Sawamura. Ia tatap rivalnya yang beberapa hari ini mulai menghantui pikirannya. Sedikit lama, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Sawamura. Tidak memperdulikan tatapan kesal Miyuki, ia mengusap pipi kanan Sawamura. Tangan satunya ia gunakan untuk menggenggam tangan kanan Sawamura, "Aku belum ingin menyerah." tanpa disadari, Furuya mengecup punggung tangan kanan Sawamura, membuat beberapa mata yang melihat membelak kaget–termasuk yang dikecup.
Alis Miyuki bertaut kesal, senyumnya menunjukkan amarah. "Teme," desisnya.
Omake 4
Sawamura tidur di kasurnya, tangannya memegang manga yang tadi Jun pinjamkan. Merasa ada yang naik ke kasurnya, ia membalik tubuh, menyisakan tempat di sebelahnya. Orang itu–Miyuki, menidurkan kepalanya di punggung Sawamura, "Hei, kau sudah mencuci tanganmu?" tanyanya.
"Sudah kok," jawab Sawamura santai–ia sedang fokus dengan manga di tangannya.
Miyuki yang merasa kalah dengan sebuah manga, memeluk tubuh Sawamura.
Tidak merasa terganggu, Sawamura meneruskan acara bacanya.
Kesal, Miyuki menarik manga itu, "Oi Miyu–" Sawamura memutar tubuhnya.
'Chu–' Miyuki menempelkan bibir mereka. Ia jatuhkan manga tadi dan semakin menekankan bibirnya dengan bibir Sawamura.
Sawamura menutup matanya saat dirasa lidah Miyuki mulai menjilati bibirnya, tangannya meremas depan baju Miyuki.
Puas, "Jangan abaikan aku, Eijun." Miyuki mengecup satu kelopak mata Sawamura yang masih tertutup.
"A-Aku tidak mengabaikanmu kok," bisik Sawamura kecil.
Miyuki mencubit pipi Sawamura, "Jelas-jelas kau lebih memilih manga itu daripada aku," ia tersenyum kesal.
"Mm– Sakit. Lepas, Miyu–" belum menyelesaikan kalimatnya, Miyuki memandang Sawamura cukup serius.
"Le-lepas K-Kazuya.." wajah Sawamura memerah.
Senyum senang mengembang, Miyuki melepas cubitannya. "Omong-omong, tadi siang aku sudah bertanya pada Chris-senpai loh."
Kaget, Sawamura mengalihkan pandangannya. "Hehe, tak kusangka ternyata hari itu kau ingin menembakku." Miyuki tertawa mengesalkan.
Sawamura menoleh cepat ke arah Miyuki, "Siapa yang bilang aku ingin menembakmu! Aku hanya ingin membicarakan pera–"
Belum selesai protes, Sawamura melihat senyum mengesalkan Miyuki, membuatnya semakin malu. "Tidak usah malu-malu Eijun. Aku mengerti kok,"
Raut Sawamura sangat kesal, "AKU MEMBENCIMU KAZUYA!" teriaknya dengan wajah yang sepenuhnya memerah.
"Ahaha, aku juga mencintaimu." Miyuki memeluk Sawamura.
Keadaan hening sebentar.
"Hei," Miyuki mengantung kata-katanya.
"Aku mencintaimu." nada Miyuki serius.
Sedikit kaget, "Aku juga mencintaimu," balas Sawamura.
Miyuki menarik wajah Sawamura hingga mata mereka bertemu, "Aku tidak akan memberikanmu pada orang lain." seulas senyum tulus terpatri.
Tertegun, Sawamura membuat sebuah senyum manis, "Aku tahu."
–Dan wajah mereka kembali berdekatan.
