Haloo minna! Maaf karena cmina update-nya lama banget.. masalahnya ceritanya belum ada, tapi sekarang udah ada, walaupun aneh dan abal. Jika ada salah mohon maaf.

ucapan terima kasih pada .12576, harukichi ajibana, Kyaaaaa next next next, TheBrownEyes'129, tsunayoshi yuzuru, Icha clalu bhgia, Mushi kara-chan, -chan, Iminthedark, Dobe siFujo, Cnara-chan namiuzukage, Me, Kirei-neko, Puja911, Himawari Wia, Kkhukhukhukhudattebayo, BlackRose783, JunJuni, LemonTea07, Hitomi kouun – jiyuu, Eucallysca Putly, Euishifujoshi, 0706, heiwajima Shizaya,Yunaucii, Kazeryuu-hime, hime koyuki 099, Hanzawa Kay, Your CHOICE, Nauchi Kirika-chan, Kun-cici naru, Atarashi Mizki, dan RepublikP yang udah mau ngereview cerita abal saya. Maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan nama, atau nama anda belum tercantum disini, saya sungguh tidak sengaja. Di cerita ini author sedikit menyindir Kiba, haha... maaf ya, kalau kemarin Ooc banget. Maklum author masih belum pro seperti senpai-senpai lain.

Happy reading, minna-san!

SEME OR UKE...?

BY: Cmina-chan namiuzukage

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Yaoi, Ooc, gaje, dll.

Genre: Romance, humor

Rated: T

Terinspirasi dari Life+b karya Ichikawa Show-sensei (komik captured by love). Tapi amat sangat beda jauh, kok! Bahkan yang itu bukan YAOI. Haha!

Chapter 4

Enjoy it!

.

.

.

.

"Naruto sekarang menarik, ya! Sekarang aku tertarik padamu."

.

.

.

.

—Namiuzukage3—

Hari Minggu yang cerah. Tidak ada setitik pun awan yang mendung. Burung-burung berkicau dengan merdunya, angin nampak dengan lembutnya menggoyang-goyangkan pohon-pohon, membuat mereka seolah menari-nari. Suasananya sangat hangat dan tentram, begitu meneduhkan. Namun...

CTARR! CTARR!

GLEDEK! GLEDEK!

Tidak dengan suasana hati gadis—pemuda—berambut coklat tua ini (rambut palsu). Aura suram terpancar darinya, jelas sekali gadis—pemuda—ini sedang resah. Setelah mengetahui dirinya terbebas dari ancaman ketahuan pakai baju maid oleh Sasuke, sekarang ia harus terjerat juga ke dalam kehidupan Sasuke yang merupakan seorang Gay. Entah apa yang membuatnya bernasib seperti ini. Sepertinya ia memang dikutuk.

Ditambah lagi dengan lomba yang akan di ikutinya 2 hari setelah festival. Seharusnya ia tidak menerima ajakan Guy-sensei saat itu, ia benar-benar menyesal.

Ya, ya, ya. Persetan dengan semua itu.

Tring! Bel lagi-lagi berbunyi. Gadis—ehm... pemuda itu segera merapikan rambut palsunya, kemudian tanpa bertele-tele, ia segera berdiri dengan tatapan malas—lagi. Pemuda Namikaze itu berjalan menuju pintu dan membukanya tanpa melirik siapa yang datang. Masih tetap dengan topeng manisnya, ia berucap.

"Selamat datang!"

"Kenapa wajahmu begitu?" tanya sebuah suara bariton dengan datarnya. Pemuda dengan rambut raven itu sedikit menyunggingkan senyum, berusaha menahan tawanya melihat wajah Naruto yang ia anggap konyol namun tetap manis itu. Naruto mengangkat wajahnya perlahan, mendengar suara yang sangat ia kenali ini membuatnya merinding seketika.

J-jangan-jangan...

"Uwaaaahhhh!" Naruto terlonjak kaget, tubuhnya melompat ke belakang dan sukses membuatnya jatuh terduduk. "K-kau..." ucapnya dengan tatapan horror. Sasuke tersenyum—menyeringai. Naruto segera berdiri tegap, di tatapnya Sasuke dengan pandangan kesal sekaligus takut. Benar-benar merinding bila mengetahui orang yang berada didepannya ini adalah seorang Gay. Dan orang Gay di depannya ini telah menciumnya. Merebut first kiss-nya. Tak di ragukan lagi, atau pasti dengan sangat, pemuda Uchiha yang satu ini menyukainya.

"K-kenapa kau datang kemari, sih?!" Naruto menunjuk-nunjuk Sasuke. Meskipun telah berusaha untuk tidak bergetar, tapi pada kenyataannya, ia benar-benar merasa takut pada orang tak normal seperti Sasuke. Sasuke menatap tajam Naruto, mata Onyx-nya memandang Sapphire Naruto. Pemuda Uchiha itu bersusah payah menahan senyumnya. Rasanya senang sekali bertemu dengan pujaan hatinya.

"Bukankah kau sendiri yang menyuruhku datang lagi?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum meremehkan.

"Ha? Kapan aku bilang begitu?"

"3 hari lalu. Ingat?" Naruto memutar balik otaknya, kembali pada masa dimana ia bertemu dengan Sasuke pertama kali,

'Terima kasih. Datang lagi, ya!'

Eh?

...

Heh?

...

HAH?!

"APAAAA? Tidak mungkin!" Naruto berteriak histeris, walau sebenarnya ia lebih mirip orang stress saat ini. Namun, bagi Sasuke yang sudah menjadi makhluk gila nan Gay, Naruto tetap manis dalam keadaan apapun. Sasuke bahkan sudah tidak sabar melihat pemuda yang menarik perhatiannya mementaskan pertunjukan Cinderella.

"I-ITU 'KAN WAKTU ITU! SUDAH CEPAT PULANG SANA! HUSH! HUSH!" mendengar Naruto berteriak sekencang itu, Sasuke memutar kedua bola matanya—malas. 'Kenapa sih, kau tidak jujur aja? Bilang aja kau suka sama aku' batin Sasuke narsis dan ngaco!

"Begitu ya, caramu melayani tamu?" memang benar Uchiha sejati, apa yang di ucapkan beda jauh dengan apa yang di pikirkan. Naruto membatu, matanya balas menatap Sasuke. Namikaze tunggal itu menghela nafas.

Menatap Sasuke lagi.

Menghela nafas.

Kembali menatap Sasuke.

Kemudian menghela nafas.

Kembali menatap Sasuke.

Menghela nafas.

Kembali menatap Sasuke la—

"Cukup, dobe!' titah Sasuke. Sudah cukup dengan tatapan konyol Naruto, bisa-bisa ia berdiri di sana sepanjang hari. Naruto tersadar, ia menggeleng-gelengkan kepalanya terus-menerus. Setelah melakukan aktifitas itu selama 20 menit lebih, ia kembali menatap Onyx sasuke. "Mau pesan, ya?" tanyanya polos.

Gubrakk!

Sasuke merasa ingin turun ke jurang curam yang berisikan cewek-cewek menor, sekarang juga. Bertanya dengan polosnya seakan tak terjadi apa-apa, dasar Naruto! "Hn. Tentu saja!' balas Sasuke cuek. Naruto mengangguk, kemudian berjalan menuju tempat pemesanan. Sasuke melirik Naruto. Curi-curi pandang, selagi Naruto tidak menyadarinya. Yes, yes, sekarang ia bisa memonopoli Naruto, untung saja ia mengetahui rahasia Uke-nya ini. Hahaha.

"Nih. Kalau udah gak ada urusan, silahkan senpai pergi!" ucap Naruto sarkatik. Onyx Sasuke kembali menatap dalam Naruto. "Kenapa kau ketus, begitu?" tanyanya dengan topeng dinginnya.

"..." Naruto terdiam. Menatap cengo Sasuke. Pemuda Namikaze itu juga menaikkan alisnya. Melongo. Sasuke tersenyum dalam hati. baginya, ekspresi apapun yang Naruto tunjukkan, ia pasti akan menyukainya. Selalu dan selamanya.

"Berhentilah menatapku seperti itu, dobe!" seperti yang di tulis di atas, beda hati beda mulut. Itulah Uchiha Sasuke. Bersikap sok cool padahal sebenarnya kekanak-kanakan.

"Arghh!" Naruto menjambak rambutnya sendiri.

—Namiuzukage3—

Dengan ekspresi kosongnya, seorang pemuda berambut pirang jabrik duduk dipojokkan, meratapi nasibnya. Rambutnya yang biasanya terlihat rapi, kini amat-sangat-berantakan. Kantung matanya tebal, bibirnya pucat dan pecah-pecah. Ia tak minum selama 6 jam. Rasa hausnya kalah oleh keinginannya untuk meratapi nasib, walau ia tahu dengan pasti, sampai kapanpun ia duduk dipojokkan, ia tidak akan bisa mengubah nasibnya, tidak akan membuat Sasuke normal, tidak akan bisa membuatnya merubah peran konyolnya, tidak akan!

"Naru-chan..." panggil Kushina dari luar kamar Naruto. Naruto, pemuda yang tadi duduk dipojokkan itu merangkak menuju pintu dan merambat untuk membukanya.

Sret!

"ASTAGAAA!" Kushina terlonjak kaget, dan pingsan seketika. Minato yang tadinya sedang duduk santai diruang kerjanya, tiba-tiba berlari mendatangi Naruto dan Kushina yang pingsan. "Ada ap—" ucapannya terputus. Ia menghembuskan nafasnya , bersandar pada dinding sambil melipat kedua tangannya didepan dada dengan raut wajah yang seolah-olah mengatakan Kukira-ada-apa.

"Tou-san... Kaa-san kenapa?" tanya Naruto polos. Minato menghela nafas—lagi."Jangan buat Tou-san mengatakannya, Naruto. Lebih baik kau bercermin saja." Ucapnya. Kemudian, pria paruh baya yang tetap terlihat muda dan tampan itu, berjalan pergi menuruni tangga. Sesaat kemudian ia mendengar suara teriakan.

"AAAAAAKKKHHHHH! SIAPA INI TOU-SAN? SUNGGUH MENGERIKAN!" Minato menggeleng-gelengkan kepalanya, sungguh! Terkadang ia merasa putranya sangat bodoh.

.

.

.

.

.

.

Setelah selang beberapa menit, saat Naruto sudah membersihkan dirinya, dan Kushina sudah terbangun dari pingsannya...

"Sebenarnya ada apa denganmu, Naru-chan?" tanya Kushina dengan cemas. Naruto tersenyumatau lebih tepatnya nyengir. Gjara-gara dia, Kaa-san yang dia cintai pingsan, haha. "Haha... aku sedang banyak pikiran saja, kok! Kaa-san tidak perlu cemas."

Kushina menatap anak semata wayangnya maklum, di tatapnya mata Naruto yang terlihat sayu. "Ceritakan masalahmu." Ucap Kushina. Wanita cantik berambut merah panjang itu tersenyum lembut. Naruto tampak sungkan, bagaimana bisa ia menceritakan masalahnya yang menyangkut seorang Gay pada ibunya? Yang ada, Kushina malah mengejeknya, dan tertawa sampai menangis. "Ayolah... kau tak percaya pada Kaa-san, hm?" mendengar Kaa-sannya sudah berbicara seperti itu, ia menyerah. Sebelum Kaa-sannya yang 'lembut' ini marah. Kushina sama sekali tidak suka dengan apa yang namanya rahasia.

"Ada... seorang pemuda yang menciumku." Jawab Naruto singkat, ia menggigit bibir bawahnya dan memandang ibunya. "T-tapi, Kaa-san... aku tidak—"

"Waaaahhhh! Kau serius Naruto-chan?" pandangan Kushina berbinar-binar seketika. "Sebenarnya Kaa-san itu seorang Fujoshi, lho! Kyaaa! Kaa-san senang sekali! Sebenarnya, dulu Kaa-san ingin Minato jadian dengan sahabat baiknya dari kecil. Kalau tak salah, namanya Fugaku... tapi, karena Kaa-san terlanjur suka sama ayahmu, dan kemudian ayahmu menyatakan cinta pada Kaa-san, jadi... akhirnya Naru-chan muncul, deh! Bagaimana dengan pemuda yang menciummu? Tampan tidak? Manis tidak? Baik tidak? Pintar tidak?" ucap Kushina bertubi-tubi, Naruto bahkan tak sempat menghentikan ucapan ibunya.

"Bawa dia ke—"

"Kaa-san!" bentak Naruto. "... aku serius." Kushina terdiam, "...pemuda itu menciumku, dan berkata bahwa ia tertarik padaku."

"Ia tahu aku memakai baju maid tiap pulang sekolah, tapi ia tak membocorkannya... saat aku berterima kasih karenanya, ia malah menciumku dan berkata bahwa ia terarik padaku. Padahal ia adalah murid populer dengan banyak fansgirls, tapi... tapi... ternyata..." Naruto behenti melanjutkan. Tenggorokannya terasa tercekat. "...dia seorang Gay." lanjut Naruto. Hening.

Kedip.

Kedip.

Kedip.

Kedip.

Kedip.

"Kyaaaaaaa! Kaa-san juga serius, kok! Bawa dia kemari, ya! Sepertinya dia keren... kau Ukenya atau Semenya? Ibu mendukungmu!" Kushina menaik-naikkan alisnya—genit.

"KAAA-SAAAAAANNNNN!"

.

.

.

.

.

.

Namiuzukage3—

Krik. Krik. Krik.

Krik. Krik. Krik.

Kiba terdiam. Memandang langit yang bertaburan seribu bintang dibalkon rumahnya.

"Ha-ah.." helanya. Pemuda Inuzuka itu menatap Akamaru yang duduk dengan manis disebelahnya. Kembali memandang langit, dan menghela nafas, lalu menatap Akamaru lagi. Itulah yang ia lakukan sejak 240 menit yang lalu. Mencoba memutar otaknya yang hitam karena pernah meledak. Hanya satu yang ada di pikirannya saat ini. Kenapa dan kenapa? Shikamaru yang tadinya cuek bebek, bisa bersikap semanis itu padanya? Apa dia sedang berhalusinasi sekarang? Ha-ah... benar-bnar membingungkan. Sejak kapan ia emikirkan Shikamaru.

"Akamaru..." panggil Kiba. Akamaru menoleh dengan wajah penasaran. Kiba mendecih dan menggigit bibirnya—kesal. Lalu...

"Huwaaaaaa! Akamaruuuu! Tolong bangunkan aku kalau ini mimpi!" dengan manja, Kiba dengan sedikit melomat, memeluk Akamaru, dan menggesek-gesekkan pipinya ke wajah Akamaru yang ia anggap tampan. Merasa tidak ada respon, Kiba melepaskan pelukannya pada Akamaru dan melihatnya.

Krik. Krik. Krik.

Krik. Krik. Krik.

"APA YANG KAU LAKUKAN MALAM-MALAM BEGINI DILUAR, KIBAA?!" teriak Hana—kakak perempuan Kiba. "... dan kenapa pakai acara peluk-pelukkan segala?!" Hana menatap Kiba aneh, seolah-olah mengatakan 'kau-punya-hubungan-apa-dengan-Akamaru?'.

"Ti-tidak, Hana-nee! A-aku hanya curhat dengan Akamaru, kok!" saggah Kiba. Alis sang kakak saling bertaut"Kau tahu anjing tidak dapat bicara, Kiba! Jadi jujur saja... apa kau punya hubungan terlarang dengan Akamaru? Jawab dengan jujur!"

"Tidak, sungguh! Memangnya aku tak boleh curhat dengan Akamaru, apa?"

"Siapa yang bilang tidak boleh? Hanya saja... tak perlu pakai acara peluk-pelukan segala, kan? Mengaku saja!"

"Aaaaakhh! Sudah kubilang bukan begitu! Dasar perempuan pemarah, cepat tua baru tahu rasa!"

"Apaaa, kau bilang?" suara Hana berubah menjadi horror, membuat Kiba harus mengakui kalau ia sebenarnya takut pada sang kakak perkasa itu. "B-bukan apa-apa!"

Tatap. Tatap. Tatap.

"Hm... ya sudah, jangan tidur malam-malam!" ucap Hana seraya pergi meninggalkan Kiba. Kiba berani bersumpah, ia melihat seringaian jahil di wajah kakaknya itu. Apa lagi yang akan Hana lakukan kali ini?

'Mati aku.'

.

.

.

.

.

.

.

"Hoammm!" Naruto menguap. Semalam ia benar-benar marah pada Kushina, masa' anaknya sedang dilanda rasa kebingungan, sang ibu malah tambah memuatnya semakin pusing. Kalimat 'Ibu mendukungmu!' membuatnya merasa harga dirinya terinjak-injak sebagai laki-laki.

Tidak akan. Namikaze Naruto tidak akan jatuh cinta pada seorang cowok. Apalagi Uchiha Sasuke. Tidak akan.

Tok. Tok. Tok. Kushina mengetuk pintu kamar Naruto yang terbuka, sebagai tanda kehadirannya.

"Apaa?!" jawab Naruto kesal. Kushina nyengir. "Lho, masih marah, Naru-chan? Temanmu ada yang menelpon, tuh! Sepertinya penting, dia sampai berteriak." Setelah mendengar ucapan Kushina, Naruto berjalan menuju bawah, dengan tatapan 'masih kesal'.

"Halooo?" ucapnya di telepon dengan malas.

"Na-Naruto! Ini aku, Kiba!" balas Kiba dari seberang telepon. Mata Naruto membulat sempurna. "K-Kiba-senpai?" beonya. Kiba mengangguk-angguk, tentu saja Naruto tidak dapat melihatnya.

"Iya, iya... Aku butuh bantuanmu! Sekarang juga!"

"Bantuan apa, senpai?"

"Begini... dengan 'tidak sengaja' Hana-nee membolongi semua celanaku, bahkan celana yang sedang kupakai saat ini. Kumohon Naruto, datanglah kerumahku sekarang, pinjami aku celanamu."

"Baik, baik... aku akan kesana, tapi aku mau mandi dulu."

"Iya, iya, sudah sana cepat! Nanti kita terlambat." Ujar Kiba dengan tak tahu diri-nya. Masih untung mau ditolong oleh Naruto, dasar maniak anjing!

Namiuzukage3—

"Hmph.." Naruto berusaha menahan tawanya. "Jangan tertawa, Naruto! Itu tidak lucu!" Kiba mendengus kesal, sambil mati-matian menahan malunya. Tadi, saat Naruto datang untuk meminjamkan celananya, ia melihat celana dalam Kiba yang bergambar Hello Kitty berwarna pink, yang terlihat jelas karena celana Kiba yang bolong. Tentu saja, Kiba lupa kalau ia memakai celana dalam yang itu.

"Hmph... huahahaha! Maaf senpai, Habisnya itu lucu sekali... hahaha!" tawa Naruto lepas. Wajah Kiba merah seperti kepiting rebus."Ck... dasar! Kau menyebalkan Naruto!" Kiba berjalan mendahului Naruto, dan berkomat-kamit tidak jelas. Naruto kemudian berlari kecil untuk mengejar Kiba, tawa masih menghiasi wajah tampannya. "Maaf, senpai. Jangan mara—" Naruto menghentikan langkahnya, begitu melihat Kiba berhenti. Matanya melirik ke arah yang Kiba lihat. Shikamaru berjalan menuju mereka bersama... Sasuke?

"Hoiii, Inuzuka! Hari ini jangan pulang dulu, ada latihan untuk drama nanti." Ucap Sasuke ketus. Naruto berdecak kesal, melihat Sasuke datang. Sedangkan Sasuke? Ia tersenyum.

"Kau dengar, Namikaze? "sindir Sasuke. Naruto memutar kedua bola matanya, dan berjalan meniggalkan Sasuke-Shikamaru-Kiba begitu saja. Namun, ucapan Sasuke membuatnya berhenti.

"Bagaimana dengan toko bungamu, Namikaze?"

"Toko bunga?" Kiba membeo. "Kau punya toko bunga, Naruto?" lanjut Kiba.

"Hn. Ia bahkan punya kostum khusus ya—" Dengan secepat kilat, Naruto berbalik, membekap mulut Sasuke—."Bukan apa-apa, senpai? aduh, sepertinya sasuke-senpai sakit... biar kubawa ke UKS!"— dan membawanya pergi setelah mengucapkan hal itu. Tentu saja Shikamaru yang jenius, tahu itu bohong—sangat jelas. Sedangkan Kiba bertanya-tanya. Sejak kapan Naruto dekat dengan Sasuke? Otaknya memang otak udang.

"Eum.. ada yang ingin kubicarakan, Inuzuka." Ucap Shikamaru. Deg! Kiba merasa dirinya akan jantungan saat itu juga.

Tidaaaaaaaaaakkkkk

Batin Kiba lebay.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ditempat Sasuke dan Naruto

"Apa maksudmu bicara begitu?" bentak Naruto to the point, Sasuke menatap Naruto malas. Cantik-cantik galak, pikirnya. "Tidak ada, itu balasan karena kau tidak mendengarku tadi." Ucap Sasuke dengan nada meremehkan.

"Bisakah, senpai minta maaf saja,dan anggap tak terjadi apa-apa?" Sasuke menggeleng. "Aku punya sifat, tidak akan meminta maaf untuk hal yang tidak kusesali." Ucapnya datar.

Krik. Krik. Krik. Krik.

"YANG BENAR SAJAA!" teriak Naruto. Membuat sasuke sedikit kaget. Sasuke memutar kedua bola matanya, kemudian mencondongkan tubuhnya ke Naruto. "Dari pada marah-marah begitu, lebih baik kau tersenyum, Namikaze. Kau tampak lebih manis saat tersenyum." Ucapa Sasuke dengan lembutnya. Dalam hatinya ia dag dig dug, akhirnya ia bisa mengucapkan itu juga. Naruto menatap Sasuke datar. Kemudian...

"Yang benar saja! Aku buka seorang Gay, pergi sana! Jangan dekat-dekat! Hush, hush.." Naruto mengibas-ngibaskan tangannya, seolah-olah ia sedang mengusir kucing . Sasuke mendorong Naruto ke arah tembok, dan menguncinya dengan kedua tangannya. "Kalau begitu... jadilah seorang Gay." bisik sasuke. Naruto merinding. Yang benar saja, permainan macam apa ini?! Apa yang sedang Sasuke lakukan? Apa yang harus ia lakukan? Naruto berpikir, otak encer yang ia dapatkan dari sang ayah, berputar mencari jawaban.

Baiklah. Kalau itu mau Sasuke, ia ikuti saja permainannya.

Naruto mendorong Sasuke kedinding yang lainnya dan mengunci Sasuke seperti yang Sasuke lakukan. Ia tersenyum. "Baiklah, tuan Uchiha... akan kubuat kau menjadi Uke termanis sepanjang masa." Bisiknya. Sasuke tersenyum penuh kemenangan, dan membalikkan keadaan seperti semula, kini pemuda Uchiha itu yang mengunci Namikaze—lagi.

"Tidak, Uke-ku. Akulah yang akan menjadi Seme. Bagaimana pun, kau tidak pantas menjadi Seme." Naruto menaikkan alisnya, berani benar Sasuke menantangnya, ia tidak pernah kalah oleh siapa pun selain Kushina. Tidak pernah. "Tidak, kau tidak pantas menjadi Seme. Kau itu terlalu cantik, Sasuke." Sasuke tersenyum mendengar namanya disebut oleh Uke-nya—menurutnya—."Buktikan, kalau begitu!" balasnya. Naruto menyeringai. "Baiklah. Kita buktikan, nanti kau harus datang ke toko bungaku. Kita buktikan siapa yang pantas menjadi Seme." Tantang Naruto. Sasuke tersenyum, ia sangat suka dengan tantangan. Apalagi tantangan yang unik seperti ini.

"Hm... baiklah. Deal." Seringaian Naruto melebar, tentu saja ia akan membuat Uke-nya—menurutnya— bertekuk lutut padanya. "Hm.. sepertinya menarik, jangan menolak kalau kau kalah, sayang!" huek! Naruto hampir muntah mendengarnya. Sayang, sayang, pantatmu! Aku masih waras, tahu! Aku bukan seorang Gay, pikir Namikaze tunggal itu. Layaknya Sasuke, ia hanya tersenyum walau pun hatinya berkata demikian. Sasuke tersenyum, kemudian mencium Naruto. Naruto terkejut, ia benarbenar tidak siaga. Sial.

Tidak, ia tak boleh kalah sekarang, ia harus menjadi Seme.

Dengan kekuatan penuh, ia mendorong Sasuke hingga menyebabkan bunyi benturan yang cukup keras. Pemuda bermata Sapphire itu membalas ciuman Sasuke, dan membuat dirinya yang mendominasi sekarang. Sasuke tidak bisa apa-apa, tubuhnya solah-olah lumpuh dalam sekejap, Naruto benar-benar membuatnya tak berdaya. Tidak berniat lama-lama melakukan hal menjijikan seperti ini, Namikaze tunggal itu melepaskan ciumannya, dan menatap Sasuke yang tampak tak berdaya. Dalam hati ia tersenyum sinis. Ekspresinya saat ini mengatakan 'aku-menang-uke-ku', dan berjalan pergi begitu saja.

"Cih... aku terlalu terpesona padanya." Umpat Sasuke sambil menyeka salivanya. Pemuda bermata Onyx itu tersenyum, ia tahu Naruto hanya berpura-pura saja, tapi ia cukup senang mendapatkan ciuman tak tulus Naruto.

Akan kubuat kau bertekuk lutut, sayang.

Batinnya , dengan nada yang menjijikan.

.

.

.

.

.

.

.

Sedangkan di tempat Kiba dan Shikamaru.

"M-mau bicara apa?" tanya Kiba begitu, ia dan Shikamaru sampai di taman belakang sekolah. Shikamaru menghela nafas. "Baiklah. Langsung saja..." ucapnya. Kiba menelan ludah, ia hampir tidak dapat menyembunyikan rona wajahnya. "...anggap kemarin tidak terjadi apa-apa." Ucap Shikamaru singkat, padat, dan jelas. Kiba tak jadi tersipu, ia melongo. "Ha?" kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut kembali menghela nafas. "Anggap kita tak pernah bertemu, dan kau tak melihat apapun saat itu." Ujr Shikamaru lagi. Kiba terdiam. Yang benar saja! Melupakan kenangan manis itu? Tunggu apa tadi barusan? Kenangan manis? Sepertinya dia...

"Heiii, kau dengar tidak?" Shikamaru mendengus—mulai kesal . "Hoooiiii!"

"Tidak mau..." ucap Kiba seperti anak kecil yang tidak terima dengan pernyataan Shikamaru barusan. "Ha?" ulang Shikamaru. "Aku bilang... TIDAK MAU!" ujar Kiba. Ia lalu berlari layaknya aktor pada film Bollywood India. Intinya dia berlari dengan lebaynya. Shikamaru sedikit cengo melihatnya, tapi kemudian ia tersenyum. Sekarang sudah jelas...

Inuzuka Kiba menyukainya, pikirnya.

.

.

.

.

Tbc

Sekian dulu, ya! Maaf karena Chapter sebelumnya pendek.

Bagaimana ceritanya? Abal? Gaje? Aneh? Tolong sarannya. Asalkan sopan dan membangun, saya terima dengan senang hati, kok!

Chapter yang ini tidak saya pikirkan terlebih dahulu, jadi mohon maaf bila jelek... saya hanya membiarkan sang ilham mengalir begitu saja.

Makasih, buat readers yang setia membaca fic gaje saya, review kalian memberi saya kekuatan untuk melanjutkan cerita ini. (dari tadi lebay banget).

Mohon Review-nya, ya! Kalau mau nge-fav dan nge-follow boleh banget,,,,, saya akan sangat-sangat berterima kasih

terima kasih sebesar-besarnya... (nunduk-nunduk)

kalau ada yang tidak di mengerti, anda bisa pm saya.

Dadahhh! (cium-cium#digampar readers)...

.

.

Salam, Cmina-chan namiuzukage.