Here We Go :
2. I Love You Brother :
AkashiSeijuroxAkashi-ImoutoReader
Akashi Seijurou – POV
Aku punya adik dari ibu yang berbeda. Adik perempuan lebih tepatnya. Usia kami hanya berjarak 12 bulan, atau 52 minggu, atau 365 hari atau lebih tepatnya 1 tahun. Adikku itu manis, uhm, imut atau apapun itu.
Oh, ngomong-ngomong, namanya [Name]. Kami merupakan saudara yang sangat dekat. Aku berusaha keras untuk menjadi kakak yang baik baginya, walaupun itu hanya terpaksa. Aku menyingkirkan semua kebencianku padanya dengan susah payah. Dengan kalimat, dia kehilangan ibunya saat masih bayi, aku berusaha iba padanya dan terus menjadi malaikatnya.
Namun, aku mulai muak.
Akashi [Name] – POV
Aku punya kakak. Dia laki-laki, dan dia tampan! Kalau aku sudah besar, aku mau punya pasangan sepertinya. Dia sangaaat... baik! Super baik!
Selalu ada di sampingku, saat ayah sibuk dengan pekerjaannya, ia bisa menjadi ayah yang baik untukku. Lalu, saat aku rindu dengan mendiang ibu yang sama sekali tidak aku kenal, dia bisa menjadi ibu yang baik juga. Intinya, Akashi Seijurou adalah kakak yang hebat. Aish, tidak, dia kakak yang sempurna!
Beberapa tahun berlalu, kami semakin dekat. Aku semakin mengaguminya, namun beberapa saat kemudian, aku sadar. Aku tidak memandangnya dengan takjub seperti memandang ayah yang bisa memperbaiki sepedaku. Aku juga tidak memandangnya takjub seperti saat memandang sahabatku yang dapat menyelesaikan ujian dengan cepat.
Aku memandang Akashi Seijurou dengan berbeda. Saat itu aku langsung sadar, aku jatuh cinta padanya.
Namun, dia mulai berubah. Dia menghindariku dan mulai berkata kasar padaku. Aku tak tahu, tapi ku harap, itu bukan sosoknya yang asli.
NORMAL – POV
[Name] menggendong ranselnya dengan bersemangat. Gadis yang rambutnya dikuncir kuda itu sedang menunggu sang kakaknya yang belum keluar dari kamarnya. Mulut kecilnya menghembuskan udara pelan, kemudian pipinya menggembung. Ia memutuskan untuk mengetuk pintu bercat putih itu.
Tok. Tok. Tok.
"Onii–"
Brak.
Seijurou keluar dengan wajah datar. Sorot matanya memandang iris [e/c] sang saudari dengan dingin. Pria itu mendecih sebal saat melihat [Name] sedang kaget karena aksinya. Namun, kakinya terus melangkah dan tak mempedulikan [Name] sama sekali.
"Chotto matte!" [Name] berseru, dengan tergesa-gesa ia mulai menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Seijurou yang semakin cepat. Hingga sampailah mereka di depan pagar mansion Akashi. "Onii-san, kita naik–!"
Brug.
Seijurou mendorong bahunya, membuatnya menabrak pagar besi itu.
"Tsk," [Name] meringis pelan. Ia memegang bahunya. "Ittai ne." keluhnya pelan.
Manik pria itu berkilat tajam. Ia menyunggingkan seringai miring. "Kau akan mendapat lebih dari itu jika kau terus mendekatiku, paham?" ujarnya sinis.
Deg.
"T-Tapi..." [Name] memutuskan untuk tidak menjawab. Gadis itu bukan orang bodoh yang tidak mengerti akan perbuatan kakaknya. Seijurou membencinya, dan [Name] mencoba untuk mendekatinya. Itu benar-benar buruk sekali.
[Name] mengangguk pelan. Ia memegang tali tasnya dengan erat, kemudian menatap punggung tegap sang kakak yang sudah berlalu. Ne, Onii-san, aitakatta...
• • • •
Teng. Teng. Teng.
Bel pulang sekolah telah berdenting tiga kali. [Name] langsung melangkah keluar dari kelas. Matanya menangkap sosok Seijurou tengah berjalan dengan pria yang tingginya seperti titan, namun [Name] tak ambil pikir. Dengan hati-hati, ia menyelinap di antara kerumunan siswa-siswi, memastikan sang kakak tak menyadarinya dan keluar lewat gerbang belakang sekolah.
Sesampainya [Name] di gerbang belakang sekolah, gadis itu menghela nafas lega. Ia mengulas senyum tipis. "Yosh, selamat." bisiknya, kemudian ia menghampiri sebuah taksi yang menganggur dan menaikinya.
Tak lama waktu berlalu, [Name] sampai di sebuah gedung bernuansa putih. Seusai membayar taksinya, [Name] melangkah masuk, gadis itu pergi ke lobby dan menyebutkan sebuah nama.
Seorang perawat mengantarnya ke sebuah ruangan, gadis itu mengangguk–membungkuk berterima kasih. Setelah perawat itu pergi, [Name] mengetuk pintu berwarna putih tersebut.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk."
Sebuah respon dari dalam membuat [Name] berani memutar kenop pintu. Dengan senyuman [Name] melangkah ke dalam.
"[Name], kau datang." Pria itu dengan papan nama Imayoshi menyambutnya.
[Name] mengangguk pelan. "Ya, aku ingin mengambil hasil tes-ku yang kemarin."
Sontak raut wajah Imayoshi berubah, senyum setipis apapun tak tampak di wajah tampannya.
"Imayoshi-san, kau baik-baik saja?" tanya gadis manis itu khawatir.
Imayoshi menggeleng. "Duduklah." Kala [Name] mendudukan dirinya di kursi tepat di depan meja kerjanya, ia mengambil sebuah dokumen. "Bacalah." ujarnya dengan senyum sendu.
[Name] mengangguk pelan, walau ia heran kenapa Imayoshi begitu mellow, gadis itu mencoba tak peduli dan membaca dokumen yang ada di meja itu.
[Full Name]
Positif terkena leukimia [stadium 4].
[Name] terdiam, air mata menetes dari kedua bola matanya. "Pantas saja akhir-akhir ini aku sering mendapat lebam-lebam, mimisan dan pingsan." ujarnya dengan tatapan kosong.
Imayoshi menggertakkan giginya, ia menarik lengan [Name] dan mendekap gadis itu di dalam pelukannya. "Aku akan membantumu, kita akan melakukan ke–"
"Tidak." [Name] memotongnya.
Imayoshi terdiam. Matanya menatap pucuk kepala [Name] dengan heran. "Apa yang kau katakan!?" serunya marah.
"Aku tak pernah bertanya pada Tuhan kenapa kebahagiaan selama ini datang padaku, kenapa ayahku mau banting tulang untukku, kenapa kakakku mau bersandiwara untuk membahagiakanku..." [Name] tersenyum pedih. Ia menenggelamkan kepalanya ke dalam dada bidang pria itu. "Oleh karena itu, aku tak akan menolak penyakit ini, roda kehidupan berputar dan aku tahu Tuhan itu sangat adil." ujarnya lembut.
"Tapi ikut kemoterapi bukan berarti menolak! Tuhan tak suka bila umatnya menyerah!" bentaknya keras.
Tangisan gadis itu semakin keras. "Aku tak menyerah, aku hanya lelah, aku tak mau membuat ayahku bekerja lebih keras, membuat kakakku... kakakku–" [Name] terdiam kala mengingat Seijurou sudah tak mempedulikannya lagi.
"Seijurou tak peduli padamu, setidaknya berjuanglah untuk ayahmu." bisiknya, "atau demi aku." lanjut Imayoshi.
Manik [e/c] milik gadis itu membulat kaget. Ia terkekeh pelan. "Aku takkan berjuang lagi, keputusanku sudah bulat." ujarnya.
• • • •
Seijurou menatap ayahnya dengan datar. Pria itu baru saja menamparnya karena meninggalkan [Name] dan lebih memilih pulang duluan. Tapi, Seijurou tak peduli, toh [Name] sudah besar, gadis itu ingat jalan pulang ke rumah.
"Kau benar-benar..." Ayah dua anak itu menutup mulutnya, tak sanggup mengungkapkan kata-kata pedas untuk anak tertuanya. Ia mengusap wajahnya gusar. "Lainkali, kau harus memperhatikan [Name]." –karena perasaan ayahmu ini akan [Name] sedang buruk.
"Hm." Seijurou mengangguk patuh, namun hati dan pikirannya berkomplot memaki [Name].
"Sudahlah, ayah harus pergi lagi. Matta ashita!" Pria paruh baya itu melangkah keluar, meninggalkan Seijurou dan kebenciannya akan [Name].
Brumm.
Mobil sang ayah meninggalkan rumah. Seijurou menghela nafas kesal. "Sial." makinya.
Cklek.
[Name] membuka pintu rumah, gadis itu datang dengan senyum manisnya. "Tadaima, Onii-san!" ujarnya memberi salam.
Seijurou memandang [Name] dengan datar. Gadis itu menghampirinya dengan sebuah tas plastik di tangannya. Perempuan ini, sumber masalahku! batin Seijurou geram.
"Ne, aku membelikan Onii-san cheese burger, lho. Mumpung masih hangat, makan–"
Brak.
[Name] terjatuh, kepalanya menghantam ubin lantai. Burger yang ada di dalam plastik pun terjatuh, berhamburan. Gadis itu mengerjapkan matanya dengan lemah. Bayangan pria itu sudah memburam.
"O-Onii-san..."
Seijurou melenggang keluar, masih dengan seragam sekolahnya. [Name] terbelalak, ia berusaha bangkit, dengan tertatih-tatih, ia mengejar sang kakak.
Kakaknya berjalan begitu cepat, wajar saja pria itu merupakan atlet basket. Apalagi kakinya yang lebih panjang dari [Name], benar-benar wajar.
Seijurou berjalan memasuki gang-gang kecil yang gelap. Kemudian, berhenti di halte.
Brak.
[Name] terbelalak kaget, walaupun pandangannya masih remang-remang ia dapat melihat Seijurou yang tergeletak di jalan saat seorang pengendara motor menabraknya. Pelakunya hilang meninggalkan deru dan asap motor yang tak sehat, dan juga meninggalkan Seijurou yang tergeletak di sana.
"Onii-san!"
[Name] membopong pria itu, berlari sekuat tenaganya. Untunglah di dekat halte terdapat sebuah rumah sakit.
Gadis itu menjerit. "Tolong! Seseorang!" Petugas rumah sakit menyambutnya, mengambil Seijurou dari gendongannya. "Tolong kakak saya, tolong!" Walaupun hati [Name] tak ikhlas dalam menyebut kata 'kakak', gadis itu tak peduli lagi.
Semuanya boleh terjadi, tapi jangan sakiti, Seijurou-nya.
"Nona, anda juga harus diobati!" seru seorang perawat.
[Name] menggeleng cepat. "Tidak, aku akan menunggu kakak saya du–"
Seorang dokter keluar dari ruangan yang dimasuki Seijurou. "Kami membutuhkan darah untuk saudara an–"
[Name] tahu jika kehilangan darah merah akan sangat berbahaya untuk penderita leukimia sepertinya, tapi [Name] tak peduli. "Darahku! Golongan darah kami sama!"
Saat itu juga ia dibawa masuk ke ruangan Seijurou, dibaringkan di ranjang yang ada di sebelah pria itu. "Onii-san," bisik [Name] lirih. Ia tersenyum lembut. "aku mencintaimu."
Dokter itu melakukan prosesnya, [Name] bisa merasakan sakit saat jarum itu menyentuh tangannya. Namun, setelah beberapa saat, [Name] tak bisa merasakan apapun lagi. Saat itu ia sadar, Tuhan sudah memanggilnya.
Maka di akhir tarikan nafasnya. "Katakan pada kakakku, bahwa aku selalu mencintainya...hh!"
Dokter itu terbelalak, namun tak bisa berkata apa-apa lagi.
• • • •
Ayah dari [Name] dan Seijurou memasuki ruangan tempat anak tertuanya dirawat. "Seijurou, astaga, kau baik-baik saja?" ujarnya cemas.
"Ya, aku baik-baik saja." Seijurou menjawab sambil meringis, tangannya meletakkan air mineral di meja nakas.
Dokter yang menangani Seijurou memasuki ruangan. Ia mengulas senyum tipis. "Aku Miyaji, perkenalkan." ujarnya.
Pria paruh baya itu mengangguk pelan. "Aku Akashi Masaomi." ujarnya memperkenalkan diri, ia mengusap bahu Seijurou pelan. "Ini anakku Seijurou." ujarnya lagi.
Miyaji mengangguk pelan. "Seijurou mengalami kecelakaan, pendarahan di kepalanya sangat hebat, selain itu tak ada luka lagi, namun ia membutuhkan banyak darah." ujarnya. "Dia datang bersama saudara perempuannya, di seragamnya, namanya [Name], gadis itu menyumbangkan darahnya."
Masaomi dan Seijurou terbelalak.
"Dimana dia, [Name] dimana?" teriak Masaomi
Miyaji menggeleng pelan. "[Name] tak bisa diselamatkan." lirihnya.
Masaomi hampir terjatuh, ia memegang kursi yang di sediakan dan mendudukinya. "[Name]-ku..."
Seijurou menatap Miyaji tak percaya. "Kenapa? Ini hanya donor darah, dia tak mungkin..." Seijurou menutup mulutnya, tak mampu untuk bicara lebih banyak lagi.
"Ini memang donor darah biasa, tapi lain halnya jika yang mendonor merupakan penderita leukimia..." jeda, Miyaji menatap Seijurou lemah. "stadium akhir."
Deg.
"Jangan bercanda! [Name] tidak mungkin!"
Masaomi menggeleng pelan, ia menepuk bahu putranya. "Itu mungkin, karena ibunya pergi dalam kasus yang sama." Pria itu menatap langit-langit ruangan itu dengan sendu. "Firasatku benar, astaga, jika saja aku tak memarahimu saat itu, dan memilih untuk mencari [Name]. Anakku... pasti masih hidup." isaknya pelan.
Seijurou terbelalak. Kata-kata dari sang ayah membuatnya teringat dengan kejadian di rumah. "TIDAK! INI SALAHKU!" Ia menjerit keras. "Aku memarahinya, melukainya, lalu pergi... [Name] mengejarku, lalu aku ditabrak d-dan dia menyelamatkanku! [Name] bodoh! Bodohh!" jeritnya.
Plak.
Masaomi menampar putranya. "Jangan seperti ini, biarkan [Name] beristirahat. Dia pasti lelah." bisik pria itu.
Seijurou terdiam. Ia menatap ke bawah dengan kosong. Air matanya terus menetes, membasahi selimut. [Name], harusnya, harusnya aku...
"[Name] bilang, ia selalu mencintai kakaknya."
Saat itu juga, Seijurou menjerit, memaki setiap titik kebodohannya.
Chapter 4 : Complete
