Beloved Enemy
.
.
.
04
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
Flashback on
Baekhyun perlahan membuka mata kecilnya, lalu tak lama kemudian dia mulai bangun dari ranjang yang sudah dua hari ini menjadi tempat tidurnya.
Gadis kecil itu tampak sedang menyesuaikan dirinya dengan keadaan sekitar kamar. Dia terlihat menatap ke sekeliling ruangan yang cukup luas itu dengan tatapan bingung.
"Kau sudah bangun?" Chanyeol mendekat dengan suara lembutnya.
Mata kecil Baekhyun menatap pria tinggi itu, lalu tak berapa lama dahinya berkerut.
"Ahjussi siapa?" tanya Baekhyun dengan tatapan kebingungannya.
"Aku? Namaku Park Chanyeol..."
"Ini dimana?"
"Di mansion keluarga kita sayang."
Baekhyun terlihat semakin bingung. Matanya menatap ke sekeliling tempat itu, yang terasa begitu asing baginya.
"Wae?" Chanyeol duduk menjajari Baekhyun.
Bisa dikatakan dia cukup senang dengan bangunnya Baekhyun setelah dua hari tak sadarkan diri akibat usahanya untuk membuat gadis kecil itu tak lagi mengingat kejadian tempo hari dan juga kedua orang tua.
Pun demikian, rasa khawatir tetap ada di dalam hatinya bahkan jauh lebih besar dari rasa senang yang saat ini dia rasakan. Chanyeol khawatir, apa yang diusahakannya akan sia-sia. Bagaimana kalau yang sedang dia usahakan ternyata tak membuahkan hasil?
"Ahjussi! Aku lapar." Baekhyun menatap Chanyeol dengan puppy eyesnya.
Pria itu tersenyum tipis. Senyuman yang terasa begitu tulus, senyum pertama yang dia sunggingkan setelah sekitar enam belas tahun berlalu.
"Bagaimana kalau sebelum makan, Baekhyunie mandi dulu?"
Baekhyun menggeleng pelan. Dia semakin memamerkan wajah memelasnya, dengan tangannya yang memegang perutnya erat demi menegaskan bahwa dia kelaparan saat ini.
"Baiklah!" Chanyeol berdiri dari duduknya lalu menyelipkan kedua lengannya dibawah ketiak Baekhyun dan dalam waktu tak kurang dari satu menit, tubuh kecil Baekhyun sudah berpindah ke dalam gendongannya.
"Ahjussi! Eomma eodi?"
Jantung Chanyeol tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya. Eomma? Yang dimaksud Baekhyun apakah ibu kandungnya? Ataukah...
"Eomma? Ehm... bukankah Baekhyunie eomma sudah meninggal."
Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan sedihnya. Dia yang masih berusia sembilan tahun, merasakan hatinya tiba-tiba sakit tapi terasa kosong. Tak lama kemudian, gadis kecil itu menyembunyikan dirinya di bahu Chanyeol lalu tak lama kemudian terdengar isak lirihnya.
"Uljima sayang. Ada ahjussi disini."
"Ahjussi tidak akan pergi seperti eomma?"
Chanyeol mengusap lembut punggung Baekhyun.
"Ahjussi akan selalu ada untuk Baekhyunie. Selamanya."
"Yakso!"
Baekhyun mengangkat jari kelingkingnya di depan Chanyeol. Sekali lagi Chanyeol mengumbar senyumnya. Lalu jari kelingkingnya terangkat dan ditautkan di jari kelingking Baekhyun.
"Yakso."
Flashback off
.
.
.
"Aaaahhhh!" Baekhyun menjerit keras saat kakinya tiba-tiba ditarik dari bawah, hingga membuat tubuhnya oleng dan akhirnya tercebur ke dalam kolam.
Tak berhenti sampai disitu saja, Baekhyun merasakan tubuhnya semakin ditarik ke bawah hingga dia mengalami kesulitan bernafas.
Dia bisa berenang tapi kalau untuk menyelam tanpa alat bantu apapun, dia masih mengalami kesulitan meskipun hal itu hanya berlangsung beberapa detik saja.
Baekhyun menggerakkan kedua tangannya dengan harapan tubuhnya akan segera naik ke atas, tapi tarikan dari dalam air membuatnya kesulitan melakukan itu.
Suara air terdengar semakin berkecipak gaduh, Baekhyun mulai panik karena asupan oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya semakin menipis. Sekuat tenaga dia menendang tangan yang menggenggam kakinya, lalu tak lama kemudian tubuhnya perlahan terangkat ke atas.
"Haaahhh! Hahhh! Uhuks... uhuks..." Baekhyun terbatuk keras. Dia berusaha menepikan tubuhnya tapi...
"Aaaaahhhh!" Baekhyun kembali menjerit saat Chanyeol tiba-tiba muncul dari air dihadapannya.
Di mata Baekhyun, jelas sekali terpancar kekesalan. Gadis itu mengabaikan keberadaan Chanyeol, dia memilih pergi begitu saja dari hadapan pria tinggi yang sangat dicintainya itu.
"Hei!" Chanyeol mencekal pergelangan tangan Baekhyun, tapi gadis itu menepisnya kasar.
Chanyeol tak kehabisan akal, dia mendekati Baekhyun lalu dengan cepat di gendongnya tubuh mungil itu.
"Lepaskan!" pekik Baekhyun, tapi hal itu tak diindahkan oleh pemilik tinggi seratus delapan puluh enam sentimeter itu.
Baekhyun memukul dada Chanyeol pelan, tanpa melihat ke arah pria itu.
Chup
Chup
Chup
Chanyeol mengecup gemas pipi Baekhyun tiga kali, membuat gadis itu dengan terpaksa menatap pria yang dipanggilnya 'ahjussi' itu.
"Kau marah padaku?" tanya Chanyeol dengan memasang tatapan polosnya.
"Coba kau pikir saja sendiri. Kau baru saja berusaha membunuhku Tuan Park."
Chanyeol tergelak keras.
"Aku tidak sedang bercanda ahjussi!" Baekhyun memberi peringatan keras.
"Aku tahu kemampuanmu sayang. Makanya tadi hanya sebentar 'kan? Tak sampai lima menit."
"Menurutmu seperti itu, tapi bagiku rasanya sudah lebih dari setahun. Kau tahu kalau aku mati di tempat ini, aku akan menghantuimu seumur hidupmu."
Chanyeol menatap ke dalam manik hitam milik kekasihnya itu, menyelami diri Baekhyun dari sana. Hal yang paling membuatnya takut adalah kehilangan Baekhyun. Bagi Chanyeol, Baekhyun bukan hanya seseorang yang dititipkan oleh seorang wanita yang disebut ibu kepadanya. Baekhyun adalah cahaya hidupnya. Di tengah kegelapan hidupnya dibesarkan oleh pamannya, Baekhyun hadir membawa suasana baru. Gadis itu dengan senyum tulusnya selalu berhasil membuat dada Chanyeol berdesir pelan.
"Kalau kau mati, aku akan menyusulmu."
Baekhyun terhenyak, matanya menatap Chanyeol. Di mata orang yang paling disayanginya itu, dia melihat kesedihan mendalam. Baekhyun sering melihat hal itu, namun dia tak berusaha bertanya pada Chanyeol kenapa matanya menyiratkan kesedihan. Dia lebih memilih menghibur kekasihnya itu dengan senyumannya. Karena seperti yang sering dikatakan Kwon ahjumma, senyumnya bisa membuat Chanyeol ikut tersenyum.
Baekhyun menangkup kedua pipi Chanyeol, lalu senyumnya terkembang tipis.
"Bagaimana caranya aku bisa meninggalkanmu kalau jawaban dari pertanyaan itu kau akan ikut denganku?" Baekhyun menyatukan hidungnya dengan hidung Chanyeol.
"Saat kau tahu semuanya, mungkin kalimat itu tak lagi berarti untukmu sayang. Untuk saat ini, biarkan aku egois dengan hanya memilikimu. Untuk saat ini saja sampai dengan hari itu tiba." batin Chanyeol nelangsa.
Baekhyun tersenyum kecil sebelum mendaratkan bibirnya di atas bibir Chanyeol, lalu dengan gerakan lembut dia mulai melumat bibir tebal yang menjadi favoritnya itu.
"Aku mencintai ahjussi." Bisik Baekhyun setelah tautan bibir mereka terpisah.
"Aku juga sangat mencintaimu, seperti apapun dirimu dan dalam keadaan apapun kita."
Baekhyun memeluk erat tubuh Chanyeol.
Gadis itu tak pernah tahu, ada maksud tersembunyi dari kalimat yang baru dilontarkan Chanyeol itu. 'Seperti apapun dirimu dan dalam keadaan apapun kita', Chanyeol seolah ingin mengatakan bahwa bagaimanapun nanti sikap Baekhyun padanya setelah gadis itu menemukan potongan masalalunya yang sengaja dia buang, dia akan tetap mencintai gadis itu. Bahkan ketika keduanya mungkin akan terpisah, Chanyeol akan bertahan dengan perasaan yang sama.
Besarnya cinta Chanyeol pada Baekhyun, siapapun pasti bisa melihatnya. Segala hal yang dilakukan Chanyeol, yang pertama dia pikirkan adalah Baekhyun. Bahkan ketika dia memutuskan untuk mengasingkan Baekhyun ke Perancis dalam waktu yang lama, hampir tiap hari Chanyeol harus menekan perasaan sedihnya. Dia bukan sengaja ingin berpisah dengan Baekhyun, semua itu dia lakukan untuk keselamatan gadis itu sendiri.
Sekali lagi, Baekhyun bukan hanya sekedar sosok yang dititipkan padanya tapi Baekhyun adalah nyawa hidupnya.
"Kau tidak kuliah?"
"Kuliah, tapi nanti siang. Hari ini kami akan pergi ke Gyeongbok palace."
"Memangnya ada apa disana?"
"Ada istana."
Chanyeol tersenyum mendengar jawaban polos Baekhyun.
"Semua orang juga tahu kalau disana ada istana Baekhyunie. Apa yang akan kau teliti disana?"
"Menggali tentang sejarah. Bagaimanapun juga, disana ada peninggalan dinasty Joseon yang sangat terkenal itu. Ehm... ahjussi!"
"Ehm."
"Adakah kemungkinan kalau aku ini masih keturunan raja Joseon?"
"Ah! Mungkin saja. Kau ingin dinobatkan menjadi ratu diistana itu?"
"Ya! Aku serius."
Chanyeol membawa tubuh Baekhyun ke tepi, lalu dia mendudukkan Baekhyun di pinggir kolam.
"Tidak ada. Kita hanya keturunan rakyat biasa, yang kemudian dengan kerja keras, kita memiliki semua ini."
Baekhyun sedikit kecewa dengan jawaban Chanyeol.
"Kau sepertinya kesal?"
"Ani." Baekhyun menggeleng pelan.
Chanyeol yang berdiri di depan Baekhyun, meraih tangan gadis itu kemudian menggenggamnya dengan begitu erat.
"Kita memiliki istana sendiri sayang, tanpa kau lahir dari rahim seorang ratu pun, saat ini kau sudah menjadi ratu disini, di istana kita ini. Yang suatu saat tempat ini akan diramaikan dengan kehadiran pangeran-pangeran yang tampan dan juga putri-putri yang cantik."
Baekhyun tersipu malu. Kepalanya tertunduk dengan kedua pipi berhiaskan warna merah jambu.
"Aigoo!" Chanyeol menjepit sayang hidung Baekhyun. "Oh ya, bagaimana dengan kuliahmu? Kau terlihat sangat menikmatinya. Ehm... berapa teman yang sudah kau kumpulkan?"
"Kuliahku? Ehm... menyenangkan. Beberapa orang menjaga jarak denganku karena kehadiran Joo Hyun dan Jackson."
"Mereka juga temanmu. Kau bisa berteman dengan mereka kalau kau mau."
"Dan kemudian mereka akan mengatakan semua yang ku lakukan padamu? Haish! Aku benci kenyataan bahwa aku sangat mencintaimu."
Chanyeol melangkah mundur, tak lama kemudian tubuhnya mulai terlihat turun naik di dalam air kolam.
"Ehm. Adakah yang menarik perhatianmu?" tanya Chanyeol dari ujung yang berlawanan dengan Baekhyun.
"Tak ada."
"Jackson mengatakan ada yang berusaha mendekatimu sejak kau ikut test di kampus itu dua bulan yang lalu."
Baekhyun menatap Chanyeol. "Namanya Oh Sehun. Dia satu tingkat di atasku, dia sangat tampan dan sepertinya begitu tertarik padaku. Dia..."
"Berkencanlah dengannya."
"Ya ahjussi!"
"Waeyo?"
Baekhyun kembali turun ke dalam air, lalu berenang mendekati Chanyeol.
"Kalau aku tak mencintaimu dan kalau perasaanku tak begitu dalam untukmu, mungkin saat ini aku tak ada disini, pulang ke mansion ini untuk bisa tinggal disini bersamamu. Banyak di luar sana pria yang lebih tampan darimu, mereka juga mencintaiku tapi tak ada yang membuatku merasakan getaran luar biasa, cemburu luar biasa seperti yang kurasakan padamu."
"Kau cukup frontal sayang."
"Aku tak ingin kau meragukan cintaku."
"Aku tak pernah ragu. Aku hanya memberimu kesempatan untuk merasakan cinta dari pria lain."
"Aku tak mau."
Chanyeol kembali mengangkat tubuh Baekhyun. Tak lama kemudian mereka saling berciuman dengan hangat.
"Ahjussi tidak kerja?" tanya Baekhyun setelah ciuman mereka terlepas.
"Kerja. Ada kunjungan keluar nanti."
"Mau kemana?"
"Masih di sekitar Seoul. Selain ke Gyeongbok, kau ada jadwal kuliah lain?"
"Ehm. Setelah ini aku akan mandi dan berangkat."
"Mau aku temani mandinya?" Chanyeol menaikturunkan alisnya dengan jahil.
Baekhyun menundukkan kepalanya, menempatkan bibirnya di depan daun telinga Chanyeol.
"Aku sangat ingin. Tapi..."
"Tapi."
Baekhyun turun dari gendongan Chanyeol, lalu berenang ke tepi dan kemudian melangkah naik melalui tangga.
"Aku tak mau." Baekhyun mengerling nakal sebelum meninggalkan kolam renang itu.
Chanyeol tersenyum tipis melihat hal itu. Dia tak langsung menyusul Baekhyun. Pria itu memilih melanjutkan renangnya.
.
.
.
Hankyung berdiri di balkon kamarnya, tatapannya menerawang jauh ke depan dengan ditemani secangkir kopi panas di tangannya.
"Tuan besar!" panggil Yesung.
"Ehm. Kau sudah melakukan apa yang ku suruh?"
"Sudah. Gadis itu sudah ada di kampus yang sama dengan dia."
"Bagus. Pastikan gadis itu akan mengikuti semua perintah kita."
Yesung mengangguk dan tersenyum licik kemudian.
"Dia pasti akan melakukan apapun yang kita perintahkan karena kita memiliki senjata untuk terus menekannya."
Hankyung tersenyum tipis.
"Kita lihat, sampai mana Chanyeol bisa melindungi gadis itu. Oh ya, saat kita melakukan penyerangan malam itu, kemana Chanyeol pergi?"
"Bukankah Chanyeol pamit ingin ke sauna?"
"Kau yakin?"
"Jongdae dan dia serta beberapa anak buahnya ada di salah satu sauna di sekitar Seoul. Dia tak keluar sampai keesokan harinya."
Hankyung terlihat berpikir. Matanya menyipit tak lama kemudian.
"Bawa aku tempat itu sekarang Yesung-ah."
"Eh."
"Kenapa?" Hankyung berbalik menatap Yesung.
"Tempat itu sekarang sudah tak ada. Pemiliknya bangkrut dan bangunannya dibiarkan begitu saja."
"Aku tak bertanya tempat itu masih ada atau tidak. Aku hanya memintamu membawaku kesana."
"Apa yang ingin anda cari disana?"
"Kebenaran."
"Kebenaran?"
"Chanyeol! Aku curiga dia melakukan hal lain malam itu. Kau ingat, salah satu anak buahmu melapor ke kita, saat penyerangan itu terjadi, dia melihat Chanyeol di hutan utara kediaman Heechul."
"Tuan besar."
"Baekhyun... mungkinkah dia anak Heechul?"
Yesung terlihat terkejut dengan pernyataan Hankyung. Benarkah?
"Kalau memang benar, permainan ini akan semakin menarik." Hankyung melirik Yesung dan memamerkan senyum miringnya. "Kim Heechul cukup licik juga ternyata."
Yesung hanya diam, tak menanggapi apa yang dikatakan Hankyung. Ikut Hankyung lebih dari dua puluh tahun, membuatnya mengerti bagaimana keras kepalanya pria itu. Masalah yang timbul antara Hankyung dan Heechul bukanlah masalah besar sebenarnya, tapi karena hati sudah terlanjur kecewa dan berbalut luka, Hankyung seakan buta untuk melihat yang lain selain dendam itu.
Setiap orang pernah merasakan kecewa, pernah pula terluka, tapi mungkin cara mereka tak sama menyikapi masalah itu. Seperti Hankyung saat ini, dia seakan tak pernah puas sebelum melihat orang-orang yang melukainya tertimbun dengan tanah termasuk didalamnya bahkan mungkin seorang anak yang tak pernah tahu kesalahan apa yang dilakukan orangtuanya dulu.
Tak hanya Chanyeol, dirinya sudah sering mengingatkan Hankyung untuk meredam amarahnya, melupakan dendamnya, tapi pria yang kini mulai beruban itu tak pernah mengindahkannya. Hankyung tetap berkubang dengan lukanya dan terus mengibarkan bendera perang.
Yang Yesung khawatirkan, kalau memang Baekhyun ada hubungannya dengan Heechul, bukan hanya gadis itu yang terancam keselamatannya, tapi Chanyeol juga. Dan kalau kalian belum tahu, Hankyung tak pernah pandang bulu dalam melampiaskan amarahnya, siapapun, entah itu saudara, orang kepercayaannya ataupun temannya, kalau dia mencium pengkhianatan, maka semua akan dihancurkan oleh Hankyung hingga ke akarnya.
Jadi...
"Chanyeol akan membayar mahal untuk semua ini kalau aku sampai menemukan bukti bahwa Baekhyun adalah anak yang ditinggalkan Heechul." Suara Hankyung terdengar rendah dan penuh penekanan.
.
.
.
Mohon perhatian!
Untuk semua mahasiswa baru dan mahasiswa tingkat dua, dari semua jurusan, diharapkan segera berkumpul di aula.
Sekali lagi untuk semua mahasiswa baru dan mahasiswa tingkat dua, dari semua jurusan, diharapkan segera berkumpul di aula.
Tap
Tap
Tap
Bruukk!
"Aahhh!" Baekhyun jatuh tersungkur setelah tubuhnya terasa menabrak seseorang.
"Kau tak punya mata ya!" seru Jackson pada sosok gadis yang lebih pendek darinya, yang berdiri dengan kepala tertunduk karena ketakutan sepertinya.
"Anda tak apa-apa agashi?" Joo Hyun membantu Baekhyun berdiri.
"Jeo-jeosonghamnida." Gadis itu membungkuk sembilan puluh derajat. Dia terlihat sangat menyesal.
Baekhyun mendekati gadis itu. "Aku tak apa-apa. Bagaimana denganmu?"
Gadis itu memberanikan dirinya menatap Baekhyun. Beberapa detik dia terdiam, lalu setelah itu dia baru menjawab dengan suaranya yang lirih. "Aku tak apa-apa. Sekali lagi, aku minta maaf. Karena kecerobohanku, kau..."
Baekhyun merentangkan kedua tangannya, memamerkan pada gadis itu kalau dia tak mengalami masalah apapun kecuali bokongnya yang sedikit berkedut sakit akibat menghantam lantai baru saja tadi.
"Ehm... apa kau mahasiswa baru?"
Gadis yang memiliki tinggi badan tak lebih dari Baekhyun itu mengangguk kecil.
"Ah! Pantas saja aku tak merasa pernah melihatmu. Kenalkan, namaku Park Baekhyun." Baekhyun mengulurkan tangannya pada gadis itu.
"Do Kyungsoo." Sambut Kyungsoo dengan cara membalas uluran tangan Baekhyun.
Baekhyun tersenyum lebar, terlihat dengan jelas bahwa dia sangat bahagia karena pertemuannya dengan Kyungsoo.
"Mereka berdua juga temanku. Yang ini Jackson Wang, yang ini Bae Joo Hyun." Baekhyun menunjuk Jackson dan Joo Hyun bergantian. Kedua pengawal pribadi Baekhyun itu tersenyum tipis, terkesan kaku.
"Kyungie-ya! Ehm bolehkah aku memanggilmu begitu?"
"Ya. Tentu saja. Kita teman sekarang."
"Nde. Kajja!" ajak Baekhyun dengan penuh semangat. Dia melangkah menuju aula dengan diikuti Kyungsoo disisinya, lalu Jackson dan Joo Hyun di belakang mereka.
Sesampainya di Aula, Baekhyun dan Kyungsoo mengambil tempat duduk di deretan tengah yang masih sedikit longgar. Sedangkan Jackson dan Joo Hyun duduk di bangku belakang keduanya.
Suasana aula itu cukup riuh. Tempat itu terlihat penuh beberapa saat kemudian.
"Hai!"
Baekhyun memalingkan kepalanya, menatap pria tinggi yang baru saja menyapanya. Sosok yang sudah tak asing untuk Baekhyun tentunya karena mulai dari dia ikut test di Universitas ini sampai dengan sekarang, sosok itu pantang menyerah untuk mengejarnya.
"Sunbae kenapa tak duduk disana?" tunjuk Baekhyun pada bangku lain, yang cukup jauh darinya.
"Aku ingin selalu dekat denganmu." Jawab Sehun dengan disertai kerlingan nakalnya.
"Aku tak ingin di dekat Sunbae."
"Ck! Kau selalu menolakku dengan begitu jelas."
"Ehm. Karena aku tak ingin membuat sunbae berharap lebih. Sekali lagi aku tegaskan, aku sudah memiliki calon suami yang jauh lebih tampan dari sunbae."
"Aku tak percaya ada orang lain yang lebih tampan dariku." Sehun memamerkan senyum meremehkan.
"Mulai sekarang sunbae harus percaya."
"Tidak sebelum aku melihat buktinya."
Baekhyun melirik Sehun kesal. Oh... bukan kali ini saja Baekhyun menolak Sehun, sering dia melakukannya dan dia jujur mengatakan sudah memiliki calon suami, tapi Sehun tak percaya hal itu sebelum dia melihatnya sendiri.
"Mohon perhatian sebentar!"
Suasana aula yang semula ramai seperti pasar, tiba-tiba hening. Semua perhatian tertuju pada podium, dimana salah satu tenaga pengajar di univertas itu tengah berdiri.
"Hari ini kita kedatangan seorang tamu, dia pemilik saham terbesar di universitas ini dan tujuannya datang kesini adalah untuk memberikan bea siswa bagi mahasiswa dan mahasiswi di universitas kita ini. Kenapa..."
"Baekhyun-ah! Setelah selesai kuliah nanti, bagaimana kalau kita pergi minum?"
Konsentrasi Baekhyun pecah akibat bisikan Sehun. Gadis itu kembali melirik Sehun dengan kesal.
"Shirreo!" jawab Baekhyu jelas penuh dengan penekanan.
"Sekali saja."
"No! Aku sudah mengatakan pada sunbae, aku tidak minum dengan orang yang tak begitu ku kenal."
"Hei kau mengenalku Baekhyun-ah."
"Ck!" Baekhyun berdecak kesal.
"Silahkah Chanyeol-ssi!"
Baekhyun mengalihkan tatapannya pada podium. Chanyeol berdiri disana dengan setelah jas hitam yang membuatnya terlihat semakin tampan.
Hah!
Kenapa tadi Chanyeol tak bilang kalau dia mau ke universitas ini? Dan tunggu...
Baekhyun menatap Jackson dan Joo Hyun kemudian.
"Kalian tahu kalau universitas ini miliknya?" tanya Baekhyun.
Jackson dan Joo Hyun mengangguk. Tak lama kemudian terdengar dengusan kesal dari bibir Baekhyun.
"Baekhyunie bagaimana?"
Baekhyun kembali menatap Sehun dengan tatapan kesalnya.
Kekesalannya semakin memuncak setelah melihat pria itu.
"Sunbae tahu, yang berdiri di podium saat ini."
"Ehm. Dia pemilik universitas ini, kenapa?"
"Dia calon suamiku."
Sehun menatap Baekhyun, tak lama kemudian dia terlihat menahan tawa geli.
"Bukan hanya kau yang sering mengaku sebagai calon istrinya. Kau lihat, gadis-gadis yang duduk di deretan paling depan itu, sering menyatakan diri mereka sebagai calon istri dari Park Chanyeol-ssi." Sehun kembali mengumbar senyum meremehkan, membuat Baekhyun semakin meliriknya dengan raut wajah kesalnya.
Dengan wajah dongkol, Baekhyun kembali menatap ke depan. Tanpa menghiraukan Sehun yang masih berusaha menahan tawanya.
Baekhyun berusaha meredamkan emosinya dengan mengabaikan Sehun. Tapi, kikikan Sehun semakin lama semakin terdengar jelas dan hal itu membuat kupingnya memerah.
Ok!
Tak ada satu orang pun disini yang tahu bagaimana hubungannya dengan Chanyeol. Mungkin reaksi Sehun yang terlihat menyepelekan itu biasa saja, tapi bagi Baekhyun, hal itu seperti ejekan untuknya. Terlebih sebelumnya Sehun sudah sangat membuatnya kesal.
"YA SUNBAE!"
Semua pandangan kini beralih pada Baekhyun yang baru saja memekik keras dengan nada kesalnya. Gadis mungil itu berdiri dari duduknya, matanya menatap tajam Sehun yang langsung tak berkutik.
"Haish!" desisnya kasar. Baekhyun melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya masih tertuju pada Sehun.
"Baekhyun-ah! Duduklah!" pinta Jongin yang sejak tadi ikut menikmati ejekan Sehun pada Baekhyun.
"Jangan menyuruhku! Aku peringatkan sekali lagi pada sunbae! Aku sudah memiliki calon suami, kalau sunbae berani mengangguku lagi, aku pastikan dia akan menggantungmu di Namsan!"
Baekhyun menarik kasar tasnya, lalu tak lupa menendang tulang kering Sehun hingga pria itu mengaduh kesakitan dan juga dia sempat memukul kepala Jongin dengan tasnya. Setelah itu dengan langkah di hentak kesal, dia meninggalkan tempat itu.
Bukan keluar, tapi mendekati podium.
Begitu dia berdiri di hadapan Chanyeol, matanya lurus menatap pria itu.
"Maaf atas ketidaknyamanan ini Sajangnim." Baekhyun membungkuk sembilan puluh derajat. Setelah itu, gadis itu berjalan keluar.
Langkah Baekhyun di susul Jackson dan Joo Hyun dari arah yang berbeda.
Suasana di aula sedikit gaduh sepeninggal Baekhyun, bisikan-bisikan dari antar mahasiswa dapat terdengar dengan jelas. Rata-rata tentu saja menggunjing sikap kurang ajar Baekhyun.
Chanyeol mendesah pelan dan memijat keningnya kemudian. Dia turun dari podium dan melangkah menuju kursi yang disediakan untuknya.
"Sajangnim!" salah satu dari tim pengajar mendekati Chanyeol.
"Umumkan saja penerima beasiswa itu di mading. Saya harus segera pergi." Ujar Chanyeol sembaru berdiri dari duduknya.
"Maaf atas ketidaknyamanan ini. Saya akan menegur mereka nanti."
Chanyeol mengangguk. Dia kemudian meninggalkan tempat itu dengan diikuti Jongdae di belakangnya.
Sementara itu...
Di taman samping aula, Baekhyun duduk di salah satu bangku sambil meneguk sebotol air mineral hingga nyaris tandas. Jackson berdiri tak jauh darinya, sedangkan Joo Hyun duduk menjajarinya.
"Maafkan kami tak bisa memberi kenyamanan untuk anda agashi." Joo Hyun berujar dengan nada sedikit takut.
Baekhyun menatap Joo Hyun, setelah itu dia membuang nafasnya perlahan.
"Aku yang salah. Tak seharusnya aku menanggapinya dengan emosi." Baekhyun menatap botol air mineral dalam genggamannya.
"Tuan muda..."
"Hah! Dia pasti malu dengan kejadian ini." lirih Baekhyun.
"Sajangnim!"
Baekhyun mengalihkan tatapannya pada Chanyeol yang berada tak jauh darinya. Salah satu pengajar di universitas ini, yang Baekhyun ketahui bernama Han Seo Woon berdiri di depan pria itu.
Baekhyun tak bisa mendengar dengan jelas pembicaraan itu, tapi melihat hal itu entah mengapa dia merasa kalau salah satu dosennya itu tengah berusaha menggoda Chanyeol. Gestur tubuh wanita itu terlihat menggoda.
"Cih!" Baekhyun berdecih pelan. Dia lalu berdiri dari duduknya.
Pada saat yang bersamaan, Sehun keluar dari aula.
"Sunbae!" pekik Baekhyun yang tentu saja menarik perhatian Chanyeol.
Sehun, entah terbuat dari apa pemuda itu. Setelah ditolak berulang kali dan tadi sempat dibuat kesakitan oleh Baekhyun, mendengar panggilan gadis itu, Sehun tersenyum bahagia. Dia melambaikan tangannya dan mendekati Baekhyun.
"Kenapa?"
"Bukankah sunbae tadi mengajakku pergi minum? Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?"
"Jinjja!? Kau menerima ajakanku Baekhyunie?"
"Ehm. Kajja sunbae!" Baekhyun tak main-main dengan ucapannya. Dia menggandeng lengan Sehun dan menyeret pria tinggi itu pergi dari tempat itu.
"Agashi!" pekik Joo Hyun dan Jackson bersamaan setelah melihat tindakan Baekhyun lalu mereka melihat reaksi Chanyeol yang terlalu tenang.
.
.
.
"Oooo... Gyeongbok sudah pindah ke Itaewon ternyata. Aku baru tahu."
Baekhyun menunduk dalam. Satu jam yang lalu dia baru kembali, satu jam lebih lambat dari biasanya dan juga setengah jam lebih lambat dari kedatangan Chanyeol.
"Kau sudah pandai minum dengan pria lain juga ternyata."
"Ini tak seperti yang ahjussi pikirkan. Aku tidak mabuk, aku hanya mi..."
"Memangnya kau tahu yang sedang kupikirkan?"
Baekhyun memberanikan dirinya mendongak, menatap Chanyeol yang duduk diatas meja kerjanya. Yang menatapnya dengan tatapan dingin.
"Ahjussi!" lirihnya.
Chanyeol membuang nafasnya perlahan, dia kemudian berdiri dari sana dan duduk kembali di kursi kerjanya.
"Pergilah ke kamar, mandi kemudian makan. Setelah itu istirahat."
Baekhyun mempoutkan bibirnya. Chanyeol benar-benar marah padanya. Pria itu memang tak gampang marah padanya, pria itu selalu berusaha mengerti dia tapi kalau sudah benar-benar marah, seperti yang terlihat sekarang. Bicara dengannya seperlunya dan menatapnya dengan tatapan dingin.
Baekhyun mendekati Chanyeol, lalu tanpa ragu dipeluknya pria itu.
"Saranghae ahjussi."
"Ehm." Sahut Chanyeol singkat.
Baekhyun melepaskan pelukannya, lalu menegakkan tubuhnya. Mata sipitnya menatap Chanyeol yang sudah bersiap memeriksa dokumen-dokumen yang sudah menunggu diatas meja kerjanya.
"Ahjussi marah padaku?"
"Ani."
"Ahjussi terlihat marah."
"Aku tidak marah. Kka!"
Baekhyun memainkan ujung bajunya, kepalanya tertunduk dalam dengan bibir terpout sempurna.
"Mian. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Ehm."
"Ahjussi!" rengek Baekhyun manja.
Chanyeol memejamkan matanya untuk sesaat. Kemudian dia mendongak menatap Baekhyun.
Gadis itu masih tertunduk, sangat jelas kalau dia kesal. Dia juga ingin marah tapi dia tak kuasa melakukannya karena disini dia merasa yang paling bersalah.
Dengan kepala masih tertunduk, Baekhyun kembali mendekati Chanyeol dan kemudian duduk dipangkuan pria tampan itu. Pemilik tubuh mungil itu meringkuk manja dipangkuan pria yang sangat dicintainya itu.
"Aku selalu marah setiap kali melihat ahjussi bersama wanita yang jauh lebih dewasa daripada aku. Entahlah, aku selalu berpikir bahwa pria dewasa jauh lebih menyukai wanita dewasa."
"Apa aku terlihat seperti itu?"
"Mungkin tidak, tapi bisa saja hal itu terjadi. Han Seo Woon-ssi, bukankah dia terliat sangat menggoda dengan pakaian minimnya dan dada dibusungkan yang sudah tentu belahan dadanya terlihat?"
"Kau jauh lebih menggoda." Bisik Chanyeol.
"Kkojimal."
Baekhyun menyamankan dirinya diatas pangkuan Chanyeol.
"Satu hari nanti, dengan sikapku yang kekanakan, kau mungkin akan bosan."
"Tak ada kata bosan bagiku, selama itu dirimu."
Baekhyun membuang nafasnya perlahan.
"Ahjussi tahu? Hal yang paling aku takutkan di dunia ini adalah kehilangan dirimu."
Chanyeol mengangkat tangannya, kemudian meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya dengan erat. Mulutnya sudah terbuka hendak berbicara, tapi Baekhyun sudah lebih dulu menyelanya.
"Saat masih tinggal di Perancis, setiap bangun tidur aku selalu meyakinkan diriku bahwa ahjussi hanya milikku. Aku selalu ketakutan setiap kali membayangkan ahjussi disini di temani wanita lain. Karena itulah kadang aku memiih berbuat onar, agar ahjussi datang untuk memperhatikanku. Ahjussi lebih banyak menghabiskan waktu ahjussi dengan mereka daripada dengan aku yang katanya perempuan yang paling ahjussi cintai." Baekhyun menyurukkan kepalanya di bahu Chanyeol.
Mendengar hal itu, Chanyeol merasakan hatinya tercubit. Dua belas tahun berlalu dengan begitu cepat, waktunya memang lebih banyak dia habiskan di Korea, mengurus pekerjaannya yang semakin hari semakin banyak dan mencekik lehernya.
Dia merasa bersalah atas waktu yang terlewat. Dalam satu tahun, hanya dua kali dia mengunjungi Baekhyun, itu pun tidak dalam waktu yang lama. Paling lama satu minggu. Dan kalau harus berulangkali dia ke Perancis, seperti yang dikatakan Baekhyun tadi, semua karena gadis itu berbuat onar yang membuat Celline sakit kepala.
Celline adalah perempuan dengan usia yang sama dengan Chanyeol. Celline lahir dan besar di Perancis meski dia juga berdarah Korea. Celline yang merawat Baekhyun dari gadis itu berusia sepuluh tahun hingga beberapa waktu lalu sebelum Baekhyun kembali ke Korea. Celline juga orang yang di percaya Chanyeol untuk mengendalikan bagian IT di seluruh perusahaan yang dikelolanya, dengan di bantu Jongdae tentu saja.
Rasanya tak adil bagi Baekhyun, dia selalu menyatakan dirinya mencinta gadis itu tapi kehadirannya disisi gadis itu bisa di hitung dengan jari.
Seharusnya dia lebih mengerti Baekhyun, lebih memahami gadis itu. Melakukan tindakan nyata untuk membuktikan apa yang sudah diucapkannya. Selama ini yang bisa dia lakukan hanya mengekang dan menyembunyikan Baekhyun dengan dalih semua demi keselamatan dan kebahagiaan gadis itu sendiri.
Hah!
Kemudian yang membuat dia salut, meski kerap melayangkan protes atas aturan yang buat Chanyeol untuknya, Baekhyun tak pernah tidak menuruti apa yang menjadi peraturan untuknya. Meski ketika menjalankan semua itu, wajahnya sering dihiasi dengan raut suram.
"Aku sangat mencintaimu. Mendengarmu mengatakan hal itu, membuatku merasa seperti penjahat. Perasaan ini dan semua aturan itu, rasanya aku terlalu egois karena keinginan besarku untuk tetap memilikimu. Maafkan aku yang tak bisa selalu ada untukmu. Kau benar, aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri, sampai aku lupa ada gadis kecil yang selalu menungguku pulang, memintaku menemaninya bermain dan kemudian memeluknya hingga dia terlelap. Aku berpikir kau sudah cukup dewasa untuk mengerti semuanya tapi kenyataannya, kau tetap Baekhyun yang dulu, yang masih suka bermanja dipangkuanku, merengek di depanku dan tentu saja cengeng."
Baekhyun menegakkan punggungnya. Dia menatap Chanyeol dengan tatapan teduh. Tatapan yang paling bisa membuat Chanyeol merasakan kelegaan."
"Aku selalu berusaha memahami situasi ini ahjussi. Aku percaya kau melakukan semua ini untuk kehidupan kita yang jauh lebih baik lagi nanti ke depannya. Tapi aku tak bisa menahan cemburuku setiap kali membayangkan atau melihatmu berhadapan dengan wanita lain."
Chanyeol tersenyum kecil. Tak berapa lama kemudian dia mencium lembut bibir Baekhyun.
"Betapa beruntungnya aku memilikimu. Meski usiamu masih muda, tapi kau bisa mengerti aku."
"Ehm. Nanti, rambut ahjussi akan memutih. Saat hal itu terjadi, aku akan tetap mencintai ahjussi."
Chanyeol menatap Baekhyun sejenak, sebelum kemudian merangkul pinggang gadis itu dengan sangat erat.
"Kau mengatakan takut kehilanganku, tapi aku jauh lebih takut Baekhyunie. Aku takut saat kau mengetahui kebenaran hidupmu, hanya tatapan kebencian yang akan ku terima. Maafkan aku sayang. Maaf." Batin Chanyeol.
Cukup lama mereka berada di posisi itu. Sampai kemudian Chanyeol menjauhkan kepalanya dari dada Baekhyun setelah mendengar bunyi perut Baekhyun.
Baekhyun memamerkan gigi putihnya.
"Kau lapar?" Baekhyun mengangguk penuh semangat mendengar pertanyaan Chanyeol.
"Hish! Sunbaemu itu tak membelikanmu makan tadi?"
Baekhyun menggeleng pelan. "Kami hanya membeli minuman dan camilan."
Chanyeol mendengus pelan. Baekhyun tersenyum tipis, lalu tak lama kemudian dirangkulnya leher Chanyeol.
"Itulah sebabnya aku lebih suka berkencan dengan ahjussi. Karena ahjussi kaya, ahjussi juga memberiku black card yang tak memiliki batasan pemakaiannya."
"Sssshhhh! Dasar perempuan." Chanyeol kembali berdesis, setelah itu dia menatap Baekhyun.
"Kau ingin makan apa?"
"Apa saja, asal dengan ahjussi."
"Bangunlah! Kita cari makan di luar."
Baekhyun menegakkan tubuhnya lagi, dia menatap Chanyeol dengan mata berbinar bahagia.
"Ahjussi yakin?"
"Ehm."
Baekhyun berdiri dari pangkuan Chanyeol. "Gomapta ahjussi. Neomu joahe. Aku ganti baju dulu!" Baekhyun mencium pipi Baekhyun, lalu berlari riang keluar dari ruang kerja Chanyeol.
Sepeninggal Baekhyun, Chanyeol mengembangkan senyum tipisnya. Matanya beralih menatap pigura kecil diatas mejanya, dimana disana terpampang foto Baekhyun ketika berada di bawah menara eifel.
"Bahagia menurutmu, apakah sesederhana itu sayang. Bahkan aku hanya mengajakmu makan di luar. Tapi kau sudah sebahagia ini. Maaf kalau selama ini aku tak memiliki banyak waktu untukmu."
.
.
.
TBC
Note : Terimakasih untuk cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini.
Big Love For You Guys 3
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
