ONE MISTAKE COZ ONE NIGHT STAND

CHAPTER EMPAT

.

.

Masashi Kishimoto

Sasufemnaru, sasukarin, Kakafemnaru.

Drama, romance

M (buat aman)

Ooc, au, oc, typo, bahasa berulang, alur cepat, membingungkan, femnaru, no bashing chara, (/)tanda untuk flashback

Happy reading.

.

.

(o.o)

(/)

'' Dobe, hentikan tingkahmu!''

Gadis yang dipanggil Dobe itu mencebik acuh, lalu melanjutkan kegiatannya yang tertunda-menciumi buku-buku jari kanannya dengan mesra disertai suara kecupan yang riuh.

'' Dobe,'' desis Sasuke, tanpa sadar dia mendeadglare tajam, walaupun dia tau Naruto tak akan melihatnya mendelik sebab mereka duduk saling membelakangi dengan punggung yang menempel.

Dengan kasar Sasuke melepas earphone miliknya.

'' Apa sih, hah? Kau mengganggu, Teme!'' teriak Naruto, dengan gemas dirinya mendorong punggung Sasuke dengan punggungnya. ''Huh, rasakan ini, rasakan ini. Hahaha,'' tawa cempreng terdengar saat Naruto berhasil membuat Sasuke terbungkuk sedangkan dia setengah terlentang dipunggung Sasuke dengan tangan yang menari konyol.

'' Hn.''

'' Eh, eh, jangan dorong balik,'' pekikan panik terdengar. Saat Sasuke dengan kekuatan lelakinya membalas Naruto, membuat gadis itu semakin terdorong kedepan, kini dahi dan lutut Naruto menempel erat. '' Berat, Teme.''

'' Hn.''

'' Uh, sesak,'' keluh Naruto, dirinya mendorong kepala Sasuke menjauh tapi tak berarti banyak saat Sasuke semakin menekan punggungnya.

Tarik nafas...

'' Hiaaaa,'' dengan sekuat tenaga Naruto menekan balik Sasuke, tak tau jika Sasuke sengaja menghindar, membuat dirinya kehilangan keseimbangan dan jatuh terlentang dengan kepala terlebih dahulu.

Bunyi debaman terdengar nyaring, disusul pekikan kesakitan Naruto juga sumpah serapah untuk Sasuke.

'' Dobe,'' ejek Sasuke, bibir tipis itu menyeringai meremehkan disertai dengan dengusan keras, Sasuke- sekalipun tak berniat membantu Naruto untuk bangun.

'' Buhh, sakit tau Teme, itu keras sekali,'' air mata bersarang disudut Sappire itu, Naruto dengan pelan mengusap kepalanya yang terasa berdenyut nyeri. '' Dasar Teme jelek, jahat. Huh, awas saja nanti kalau otakku jadi amnesia. Aku akan menuntutmu. Huhh. Sakit tau~'' rengek Naruto, '' aku kasih tau Kaka-sensei biar nilaimu kosong. Huh, dasar Sasukecapteme jelek.''

'' Hn.''

'' Ahhhh,'' Naruto berdiri menunjuk-nunjuk Sasuke dengan kesal.

Tidak akan ada yang marah bahkan jika Naruto berteriak kencang disini, jam pelajaran sudah selesai satu jam yang lalu, hanya beberapa orang yang mungkin masih tinggal disekolah.

Lagipula hanya mereka -Naruto dan Sasuke- yang duduk disudut atap yang teduh, dimana mereka bisa melihat apa yang terjadi dari atas, tak ada murid yang suka berada disini. Mungkin karena harus melewati koridor panjang, anak tangga yang lumayan banyak dan juga ruangan tak terpakai membuat malas murid-murid.

Juga Sasuke tak perlu menjaga sikap Uchihanya, hanya ada Naruto disini- Naru-dobe- sejak pertemuan pertama mereka, tak sadar jika dirinya bersikap berbeda, lebih terlihat manusiawi. Tapi meskipun begitu Sasuke tetaplah Sasuke yang dingin dan tak tersentuh.

'' Sini!'' suara datar terdengar juga sebuah tangan putih yang meraih lengan Naruto agar duduk didepannya. Naruto menurut, dirinya duduk membelakangi Sasuke.

Sapuan angin sore terasa membelai kulit Sasuke juga surai blonde yang diikat twin tail memenuhi pandangannya. Perlahan jemari pianis itu mengusap kepala Naruto yang memerah hanya untuk mendapati kalau surai blonde tanpa perawatan terasa lembut diantara jari-jarinya.

Mereka terdiam, hanya suara musik pop yang terdengar dari MP3 menemani mereka. Naruto tau, sebenarnya Sasuke itu baik-menurut versi Sasuke sendiri-, tapi sifat itu tertutupi dengan peraturan tak tertulis Uchiha. Dingin, datar, tanpa emosi, tak tersentuh, arogan dan entah apa lagi sifat tak tertulis Uchiha.

Seperti saat ini, Sasuke dengan telaten mengusap kepalanya. Ini adalah bentuk kasih sayang Sasuke yang tersamarkan juga permintaan maaf terselubung. Dan dirinya merasa bangga karena Sasuke dengan keinginannya sendiri menunjukan sisi lainnya kepada Naruto.

Bukankah itu sahabat terbaik. Selalu menerima kekurangan dan kelebihan yang mereka punya.

'' Kenapa? Masih tak suka aku pacaran dengan Kaka-sensei?''

Tak ada jawaban. Tapi usapan sedikit bertenaga membuat Naruto paham.

Menggangguk pelan. '' Dia lelaki yang bertanggung jawab kok, walaupun sedikit mesum, tapi dia baik lho. hihihi,'' Naruto terkikik mengingat memorinya. Wajahnya merona merah, perlahan jemari tan yang ramping terangkat keudara, bias kemilau berpendar dari jari manisnya, sebuah cincin putih melingkar tanpa dosa, cincin polos tanpa secuil permata, tapi terlihat begitu memukau dengan ukiran rumit yang menghiasinya.

'' Kalau tak serius tak mungkin Kaka-sensei memberiku ini kan?'' Naruto menoleh kebelakang hanya untuk mendapati wajah datar Sasuke. '' Kalau kau serius beri Karin sesuatu, walaupun aku juga tak terlalu setuju dengan Karin, mesti kau cintaaaaa setengaaaah matiiiii, tetap saja Sakura yang terbaik,'' tambah Naruto. Kepalanya mengangguk-angguk dengan mimik serius seolah menegaskan perkataannya.

PLAKK

'' Itaaaaiii, apa yang kau lakukan, hah?'' teriak Naruto, dirinya tanpa sadar melompat menjauh dari Sasuke yang menatapnya datar, walau ada setitik kemarahan disana.

'' Okey-okey,'' desah Naruto '' kau pasangan seraaasiii dengan Karin. Puas, '' jempol Naruto terangkat ogah-ogahan sambil tetap menggerutu saat kepalanya yang tadi terbentur kini berdenyut kembali.

'' Aku hanya membuat otakmu berada ditempatnya,'' jawab Sasuke datar, tanpa dosa Sasuke menurunkan tangannya yang tadi digunakan menampar kepala Naruto.

See

Siapa yang bilang Sasuke itu penuh kasih sayang hah? Rasanya Naruto ingin mengunci mulutnya agar tak berkata tentang kebaikan Sasuke. Segala julukan Uchiha Sasuke sebagai prodigi Uchiha hancur sudah setidaknya dimata Naruto. Sudah tak terhitung, Naruto tersakiti secara fisik-perlakuan kasar- dan mental -perkataan tajam- akibat berteman dengan Sasuke, walau anehnya Naruto tetap berteman dengan Sasuke.

Inikah yang dinamakan sehabat sejati?

Tatapan tajam itu membuat Naruto merengut. '' jangan berkata jelek tentang Karin.''

'' kau juga jangan berkata jelek tentang Kaka-sensei. Huh,'' Naruto membuang muka. Tapi begitu melihat seseorang yang berdiri dipintu atap,-bersender dengan pandangan terfokus pada buku ditangannya- Naruto serta merta berlari.

'' Kaka-sensei!'' pekik Naruto, dirinya dengan mudah masuk dalam dekapan guru bermasker itu. '' Sudah lama?''

Kelopak mata Kakashi terlihat melengkung. '' Belum,'' kini tangan Naruto dan Kakashi terjalin. '' Terimakasih sudah menemani Naruto Sasuke dan tadi aku melihat Karin sudah selesai dengan kegiatan klubnya.''

'' Hn,'' acuh Sasuke.

'' Tapi aku lama menunggu Kaka-sensei rapat,'' Rengut Naruto terlihat kesal.

'' Gomen,'' wajah Kakashi merunduk mendapati gadisnya itu tengah cemberut dan menahan tawa sekaligus, lucu sekali hingga sebuah kecupan singkat mendarat.

'' Uhh, bakaerokaka,'' sungutnya dengan rona merah dipipi. '' eh,mau kemana?'' tanya Naruto saat melihat Sasuke yang berjalan kearah pintu.

'' Pulang.''

'' Ohh, Jaa ne, Teme.'' Jemari tan Naruto melambai riang sebelum beranjak ketempatnya semula, pojok atap yang teduh, Kakashi mengikuti dari belakang.

'' Hei,'' sapa Kakashi, tangannya melingkar dipinggang Naruto. '' jangan pikirkan apa kata orang, ne. Mereka-mereka, kita-kita.''

'' Heemm,'' guman Naruto, menyamankan diri dipelukan kekasihnya.

'' Sakit?'' pelan Kakashi mencium bagian belakang kepala Naruto lalu turun menyusuri tengkuk Naruto, membuat gadis itu terkikik geli. Tangan Naruto tanpa sadar berusaha menjauhkan bibir Senseinya yang entah sajak kapan terlepas dari maskernya.

'' Uh, Sensei!'' pekiknya saat dirasa bibir Kakashi menjelajahi sudut bibirnya.

Kakashi tak menjauhkan bibirnya saat berguman hingga gerak bibir itu membuat tubuh Naruto bergedik, nafas hangat kini berpindah pada rekahan cheery merah, terlihat menggoda bagi Kakashi.

'' Satu saja, okey?'' pintanya.

Dan apakah Kakashi perlu jawaban atau penolakan jika didetik berikutnya dia sudah memagutnya.

(/)

O()o

Sasuke kembali tak menyangka kalau dia akan bertemu lagi dengan Naruto, setelah kemarin pertemuan tak disengaja berakhir dengan umpatan darinya dan wajah kusut Naruto saat keluar dari ruang rapat. Kini dia melihat Naruto keluar dari minimarket memakai kameja biru muda dan rok lipat selutut membawa kantong putih dengan daun bawang yang terlihat dari luar.

Beberapa kali terlihat berbincang dengan orang-orang yang menyapanya. Naruto terlihat begitu mencolok dengan surai blonde yang bersinar dibawah langit sore Konoha, mungkin juga karena senyum yang dulu sering Sasuke lihat atau mungkin dengan bahasa tubuh yang dia lakukan, tersenyum, menggeleng pelan, dan enerjik juga polos.

Sebenarnya dia tak sengaja pulang lebih awal, berbeda dengan kantor pusat yang selesai jam 7 malam, di Konoha jam 7 malam kantor sudah lumayan sepi. Jadi Sasuke memilih pulang terlebih dahulu apalagi pekerjaannya sudah selesai.

Sama sekali tak menyangka akan bertemu dengan Naruto, membuatnya tanpa pikir panjang memarkir mobilnya ditepi jalan.

Dari apa yang diperolehnya setelah observasi singkatnya kemarin, ada beberapa hal yang dia tau. Naruto semakin dewasa dan masih memakai cincin pemberian Kakashi, jadi bisa dipastikan Naruto belum menikah, sebab kalau sudah menikah tak mungkin gadis itu tetap memakai cincin dari pacarnya dulu.

'' Cih,'' Sasuke menjadi kesal saat mengingat lelaki tua mesum itu tak memberitau dimana Naruto pergi.

Sasuke tersentak saat tersadar dari transnya, pandangannya langsung mencari keberadaan Naruto, saat melihat gadis itu menaiki sepedanya, Sasuke memutuskan mengikuti Naruto pelan, berusaha menjaga jarak agar tidak ketahuan, bagaimana gadis itu mengayuh sepedanya santai sebelum berbelok kesebuah toko bunga bernama Yamanaka's flowers.

Sasuke berfikir untuk apa Naruto membeli bunga, tapi tak menunggu lama pertanyaannya terjawab, Naruto kini keluar dari toko tersebut dengan seorang anak kecil, Sasuke tak sempat melihat rupa bocah itu apalagi dia berada dalam mobil dengan radius beberapa meter, bocah cilik yang kini berdiri disamping Naruto menggunakan celana pendek, jaket dengan hoodie yang menutupi rambutnya dan topi yang dipakai miring.

Mungkin dia laki-laki, batin Sasuke saat melihat bocah itu bergaya ala rapper, disampingnya Naruto tampak merenggut kesal sesekali terlihat menasehati anak itu dan hanya bisa memijat keningnya saat anak-entah laki-laki atau perempuan- mengacuhkannya.

'' Huh, dobe,'' ejek Sasuke tanpa sadar.

Sasuke kembali memacu mobilnya pelan saat melihat Naruto kembali menaiki sepedanya, sebelum sebuah getaran dikantong celana mengalihkan perhatiannya.

'' Hn, Karin?'' sapa Sasuke, perhatiannya tercuri oleh pacarnya yang sedang menelponnya, saat tersadar oniknya berusaha mencari sosok Naruto. Tapi sayangnya tak ada Naruto dalam jarak pandangnya. Naruto menghilang.

'' Aku sibuk, Karin.''

Panggilan terputus.

Sasuke segera keluar dari mobilnya, pandangannya berpencar mencari sosok yang beberapa saat yang lalu ada dihadapannya.

Tanpa sadar Sasuke memukul body mobilnya sendiri.

'' Cih, sial.''

/)/)

'' Bagaimana?'' tanya Naruto saat Tenten dan Sara memasuki mobil kantor mereka.

Sebenarnya hari ini hari yang dijanjikan apakah proyek ini akan dilanjutkan atau tidak, tapi entah karena apa sekertaris Amaterasu-nama cabang - menelfon agar datang kekantor mereka.

Dan inilah yang dilakukan Naruto setelah pulang kemarin, memarahi Kakashi-yang juga tak tau kalau kepala Amaterasu diganti Sasuke- dan menangis dipelukannya. Ketakutan apabila Sasuke menemukan Kushina.

Kini dengan rasa tak sabar Naruto menunggu Tenten dan Saara- Naruto meminta menggantikannya- ditempat parkir Amaterasu, berharap-harap cemas menanti kedatangan mereka, sekaligus takut-takut kalau misalnya Sasuke menemukannya bersembunyi didalam mobil kantor.

Dan saat melihat dua orang yang ditunggunya berjalan keluar dengan tampang senang membuat sebagian hatinya bersorak gembira, dia tau proyek berjalan lancar, tapi sebagian hatinya yang lain bercampur antara takut, cemas dan penasaran.

'' Tenang saja, deal kok,'' jawab Tenten sesaat setelah memasang seatbeltnya, walaupun terlihat penasaran dengan kehidupan temannya tapi dia masih memiliki batas untuk mengorek masalah pribadi seseorang. Walau sangat sulit untuk menjaga bibirnya agar tak bertanya '' Ada hubungan apa kau dengan Uchiha-san dan Hatake-sama'' sumpah kehidupan Naruto sangat misterius apalagi dengan adanya Kushina-chan.

Naruto membola mendengarnya, wajahnya sumringah. '' Benarkah Sasu-ah maksudku Uchiha-san menyetujui kerjasama kita?'' ralat Naruto buru-buru saat merasa salah ucap, dilihatnya iris mata Tenten menyipit penasaran.

'' Benar, ahh... Uchiha memang tampan-tampan, lihat Shisui juga sangat tampan lalu aku dengar putra sulung Uchiha juga tak kalah awesome. Uhh, Uchiha Sasuke terlihat cool, badboy dan alpha male, perpaduan tiga karakter sempurna. Kyyaaa, gen Uchiha memang terbaik,'' tangan Sara menekan dadanya sendiri sedang pandangannya menerawang dengan wajah bersemu merah, persis seperti tingkah Fansgirl. '' tapi aku masih penasaran kenapa kau menyuruhku menggantikanmu. Asal kau tau saja, tadi Uchiha itu hampir melempar apapun yang ada disekitarnya dengan pandangan mata, hihhh serem,'' Sara tanpa sadar memeluk dirinya sendiri, tubuhnya bergetar saat mengingat kejadian diruang rapat.

Tenten menyalakan mobilnya, lalu keluar dari tempat parkir milik kantor cabang Uchiha, Amaterasu. '' Sepertinya dia menunggu seseorang,'' liriknya kearah Naruto, yang kini duduk tak nyaman dikursi penumpang.

'' Ha-ha-ha,'' tawa garing Naruto menggema.

'' Serius, tadi Uchiha-san menanyakanmu tidak secara langsung sih, tapi dia beberapa kali melirik pintu rapat, seperti menunggu seseorang tiba-tiba datang, '' kepala Saara melongok kedepan-dia duduk sendiri dibelakang- '' sebenarnya apa hubunganmu dengan cowok-cowok tampan itu sih, '' geram Sara, dirinya sedikit iri dengan Naruto, walau tanpa berusaha Naruto selalu menjadi magnet yang menyedot perhatian para lelaki tampan dengan kantong setebal pantat gajah. Apalagi dulu incarannya juga sempat pedekate dengan Naruto, siapa lagi kalau bukan Temujin.

Naruto tersentak kaget, tak mungkin dia menceritakan hal ini pada teman-temannya, karena ini adalah rahasia terbesar yang tak ingin dia ceritakan.

Tanpa sadar jari telunjuk Naruto membuat bulatan kecil dipaha. '' A-aku juga tak tau,'' Naruto mengutuk bicaranya yang terbata, dari dua orang ini mungkin Tenten yang paling menakutkan, soal daya tangkapnya, pasti dia sadar kalau Naruto menyembunyikan sesuatu.

Gadis Blonde itu melirik Tenten, melihat Tenten yang fokus menyetir membuatnya menghela nafas lega-pelan- dia tau Tenten menghormati privasinya.

.

Hari berganti hari, tak terasa sudah satu minggu sejak pertemuannya dengan sasuke, dirinya sama sekali belum dan siap bila harus bertemu dengan Sasuke, dia tau kalau ini tidak bertanggung jawab, tapi Kakashi menyetujuinya-mungkin dia juga merasa was-was- pengalihan tanggung jawab kepada Sara, jadi untuk sementara Naruto menjabat sebagai sekertaris utama dan Sara melakukan proyek sampai selesai.

Kakashi dan Shina juga semakin dekat, beberapa kali mereka terlihat bercanda, mungkin karena Shina adalah bocah supel dan riang, juga Kakashi yang terlihat menyayanginya, membelikan beberapa jepit rambut lucu, mainan dan baju baru-Naruto sempat protes-. Beberapa kali juga Kakashi menginap diapartemen sempit Naruto lalu berangkat bersama layaknya keluarga kecil, lengkap dengan ayah, ibu dan anak.

Tapi dia tau Shina tak mudah untuk memberikan kepercayaannya pada Kakashi sepenuhnya, tipikal Uchiha. Shina menerima tapi belum mempercayai. Dia tau karena saat Shina berfikir dia semakin terlihat seperti mini Sasuke, kerutan diwajahnya, ekspresi matanya mirip sekali dengan Sasuke. Jadi mungkin ini perpaduan antara sifatnya dan Sasuke. Supel dan pengamat yang baik.

Tapi ada juga saat dimana Naruto bingung untuk menjawab pertanyaan Shina, otak Uchiha sama sekali tak bisa dianggap remeh.

Kadang Naruto berfikir apakah tak apa membiarkan Kakashi memasuki hatinya lagi, memasuki kehidupannya dengan Shina, tak dipungkiri Naruto merasa bahagia dengan adanya Kakashi disampingnya, memeluknya, menciumnya sepanjang malam, ciuman penuh hasrat dan terbangun dalam dekapannya.

Sumpah Naruto membutuhkan itu semua, tapi bagaimana jika pada akhirnya Kakashi meninggalkannya seperti dia meninggalkannya dulu.

Bagaimana dengan 'lelaki' yang sejak dulu menentang hubungan mereka. Apalagi sekarang dengan keberadaan Shina mungkin semakin bertambah saja alasan 'lelaki itu' memisahkannya. Naruto merasa semakin tak pantas untuk Kakashi. Tentu saja, Kakashi bisa mendapatkan wanita yang lebih baik darinya, bukan seorang Naruto yang bahkan tak memiliki status, jandakah? Gadiskah?

Dia takut saat dia dan Shina terlalu bergantung pada Kakashi, lelaki itu meninggalkannya.

Dia masih mencintai Kakashi, terlihat jelas.

Dan, tak ada yang lebih membahagiakan lagi saat melihat cincin itu juga tetap dipakai oleh Kakashi.

'' Mama, mama!''

'' Eh, ya. Shina-chan''

Shina merengut. '' Kenapa mengacuhkannku, kita sudah sampai.''

Pandangan Naruto berkeliling. Mendapati jika dirinya sudah berada didepan kedai makan yang terlihat sedikit ramai, Kakashi disampingnya menatap dengan pandangan tak terbaca.

'' Ya ampun. Maafkan mama sayang, ayo keluar.''

'' Sip,'' gadis itu berlonjak senang, membuka pintu mobil Kakashi dengan riang sebelum pandangannya tercuri pada mobil yang dia kenal. '' Lho?''

'' Ayo Shina-chan!'' teriak Naruto saat melihat Shina berdiri termenung disamping mobil mewah.

'' Ah iyaa,'' Shina tersenyum lebar '' Kita makan apa nanti?'' meraih jemari Naruto lalu mengayunkannya seirama langkah kaki.

'' Hmm, Shabu-shabu mau atau yakiniku?'' tanya Kakashi, dirinya saat ini tak membawa buku bacaan favoritnya bukan lupa tapi memang tak bisa membacanya jika berada disekitar Shina kalau tidak mau Naruto mengamuk seharian dan membuang buku porno tersebut.

'' Mau-mau, aku mau semuanya,'' kata Shina dengan pandangan penuh kesukacitaan.

'' Hei, anak muda kau bisa gendut kalau makan sebanyak itu,'' Naruto merapatkan jaketnya, udara malam di Konoha memang dingin.

Kedatangan tiga orang itu mencuri perhatian, mobil dan paras wajah yang cantik juga aneh-Kakashi-. Sedangkan perempuan disekitar kedai saling berbisik saat melihat Naruto, wajar saja di Konoha dinding seolah berbicara, apalagi kalau tentang seorang wanita tanpa suami tapi punya anak yang sangat cantik dan cerdas - walau dengan terpaksa mereka mengakui Naruto tak kalah cantik- kini berjalan dengan seorang laki-laki dengan tumpangan mewah. Tentu saja ini menjadi gosip yang sangat hot. Mereka tak akan berdiam diri.

Terutama lelaki muda itu bukan berasal dari sini.

Naruto mendengus pelan saat mendengar bisik-bisik yang serasa melubangi telinganya. '' Cih, perempuan tak punya pekerjaan.''

'' Biarkan saja,'' lengan Kakashi meraih kepala Naruto sebelum mengecup surai blonde itu, pekik histeris tertahan dibibir para penggosip yang seolah mendapatkan jackpot tanpa undian.

'' Ihsss,'' desis Naruto berbahaya menatap tajam pelaku kejahatan disampingnya sedangkan Kakashi hanya terkekeh pelan. Entah apa yang ada didalam pikirannya.

Menarik sekali menggoda Naruto.

Shina tersenyum penasaran saat memasuki kedai yakiniku. Iris Onixnya mengamati hal-hal yang ada disekitarnya, memandang takjub pada interior kedai, walau terlihat kecil tapi kalau masuk akan terlihat sangat besar, dengan warna paste koral yang terlihat menawan, bangku-bangku ditata rapi. Perpaduan antara seni modern dan jepang kuno, begitu terlihat artistik.

'' Hei, Shina kemari,'' tangan Naruto menarik jemari mungil Shina, jika dibiarkan kemungkinan besar gadis cilik itu memilih menjelajahi semua tempat dikedai ini ketimbang makan malam.

Mereka memilih duduk disudut kedai dengan pandangan mengarah lurus kejalanan.

Untuk pertama kalinya Kakashi mengajak Naruto makan malam, jika malam-malam sebelumnya Kakashi dengan senang hati memakan masakan Naruto tapi untuk malam ini Kakashi mengajak Naruto dan Shina makan malam diluar.

Sebuah kedai yakiniku yang terkenal di Konoha adalah pilihannya, Akimichi'yakiniku.

'' Mama, toilet.''

'' Eh, ayo. Mama antar.''

Shina menggeleng pelan. '' Aku sendiri saja.''

Gadis itu turun dari kursi menuju seorang pelayan laki-laki, bertanya sesuatu setelah membungkuk singkat Shina berjalan menjauh hingga menghilang dibalik dinding.

'' Mandiri,'' guman Kakashi saat mengamati tingkah Shina.

Naruto yang mendengarnya mendengus senang, rasa bangga menyelimuti hatinya. '' Tentu saja, dia anakku.''

'' Benarkah? seperti yang kuingat dari dulu kau sangat manja, Naru,'' Kakashi tersenyum menggoda dibalik maskernya.

Wajah Naruto memerah mendengarnya, dia merasa tersinggung. '' Hei, kapan aku bertingkah manja, seingatku malah kau yang suka memanjakanku dulu.''

'' Iya-iya.''

Sebuah kecupan singkat diberikan Kakashi pada Naruto yang kini membeku, tak menyangka gurunya akan mencium dirinya ditempat umum seperti ini.

'' Hentai,'' bisik Naruto, dirinya menunduk menyembunyikan rona merah diwajahnya.

Kakashi menepuk kepala Naruto pelan, pandangannya mengamati tempat dimana Shina terakhir kali terlihat.

Kenapa bocah itu lama sekali? Batin Kakashi.

Tapi begitu Shina muncul, Kakashi tak bisa menahan rasa terkejutnya,

'' Shina-chan? Siapa yang kau ajak?''

Hingga kalimat Kakashi membuat Naruto mengernyit.

Shina berjalan dengan tangan yang menggandeng laki-laki dewasa dengan surai raven aneh. Lelaki itu berjalan angkuh dengan dagu terangkat juga menatap tajam beberapa wanita disekelilingnya, wajah datar miliknya tak memperlihatkan emosi, jika sekarang dirinya tengah menahan kesal karena bertemu lagi dengan pengacau cilik saat dia keluar dari toilet pria apalagi melihat bocah Blonde dengan iris onix-komposisi yang aneh menurutnya- terlihat bahagia, seolah telah menemukan sesuatu yang hebat hingga harus diberi penghargaan nobel. Antusiasme besar begitu terpancar, tangannya melambai riang membuat Naruto seolah membeku.

Kini tiga orang dewasa disana tak bisa menutupi rasa terkejutnya, terutama Naruto yang merasa dunia hitam mulai menyambangi penglihatannya.

Tenggorokannya terasa kering dan keringat dingin terasa menembus pori-porinya.

'' Mama ini paman Sasuke, paman Sasuke ini mamaku Uzumaki Naruto dan itu Kakashi-sensei pamanku juga.''

Mengabaikan seorang gadis mungil yang berbicara polos memperkenalkan anggota keluarganya.

Oh, mungkin lebih tepat, memperkenalkan mamanya dengan papa kandungnya. Tanpa mengetahui apa yang terjadi lebih rumit dari yang terlihat. '' Boleh paman Sasuke makan bersama kita?''

.

.

.

.

.

O.o

Para pembeli datang silih berganti, menyesaki kedai yakiniku yang terkenal murah dan enak di Konoha, apalagi Konoha saat malam hampir selalu dingin membuat beberapa orang memilih untuk bersantai lebih lama, jam makan malam memang sudah berlalu tapi tak sedikit karyawan menyesakinya, mungkin makan bersama teman-teman untuk mempererat rasa persaudaraan.

Keramaian kedai berbanding terbalik dengan meja yang terletak disudut kedai, sedikit terhindar dari pandangan orang-orang.

Terduduk kaku tanpa sepatah katapun yang terucap.

Tiga orang dewasa seakan hidup didunianya sendiri. Hanya satu bocah yang bahkan tak merasakan aura aneh yang menyelimuti mejanya, dia dengan semangat memakan yakiniku.

Naruto meringis dalam hati, ketakutannya menyebar hingga membuatnya berkeringat dingin, walaupun sudah berusaha menyembunyikannya tapi dia tau Kakashi melihatnya juga tatapan tajam yang dilayangkan manusia didepannya terasa membakar ubun-ubunnya.

Bisakah dia lari dari kenyataan, dirinya tak akan pernah siap bila harus bertemu dengan massa lalunya, Uchiha Sasuke.

Segala rahasianya, kepergiannya, shina dan Kakashi disampingnya pasti akan membuat lelaki itu murka, mengingat apa yang dikatakannya saat bertemu pertama kali ' aku muak melihatmu' membuatnya ingin menangis.

Tak salah jika Sasuke begitu membencinya, lelaki itu membenci kebohongan.

Tuhan, tolong aku.

.

.

Kakashi berusaha terlihat tenang, poker face yang terlihat mengantuk menutupi kegelisahan hatinya. Dirinya menyesal mengajak Naruto keluar untuk makan malam, jika tau akan begini akhirnya , dia lebih memilih makan sup gingseng dan telur orak-arik dibanding harus bertemu mantan muridnya.

Tangan Kakashi terkepal geram, marah dan keinginan untuk membuat bocah Uchiha itu babak belur. Bahkan bocah itu melupakan kesalahan terbesarnya.

Ayah kandung Shina.

Ingin sekali Kakashi merubah fakta itu.

.

.

Sasuke menahan matanya agar tak menyorot tajam MANTAN sahabatnya, bukan karena ada Kakashi disini, tapi karena ada anak kecil, polos, pembuat onar dan sok tau yang kini duduk disampingnya, tetap berkicau layaknya kenari, menceritakan kepada 'mama' dan paman angkatnya tentang pertemuan pertamanya dengan Sasuke.

Mama, menggelikan sekali. Dengus Sasuke.

Walau begitu Sasuke mengamati bagaimana bahu Naruto yang tengang. Bagus. Apa kau merasa takut, Dobe? Ejek Sasuke dalam hati.

Kurasa ketakutanmu tak akan bisa membayar waktuku yang terbuang sia-sia saat mencarimu.

Sasuke tau dia payah dalam mengucapkan kata hatinya, jadi apa yang terlontar dari bibirnya kadang berbanding terbalik dengan perasaannya.

Satu sisi dirinya bersyukur melihat temannya baik-baik saja dan disisi lain dirinya begitu marah... Dan kecewa.

.

.

'' Mama, mama mengabaikanku lagi?'' rajukan terdengar menyambangi pendengaran Naruto, membuat wanita muda itu tersadar dari lamunannya.

'' Ah, sayang. Maaf. Hei, kalau makan yang rapi dong, lihat sausnya menempel dipipimu.'' dengan telaten Naruto membersihkan pipi penuh saus dengn tissu yang dibawanya.

Hal sekecil itu tak luput dari pandangan Sasuke dan Kakashi, terlebih Kakashi yang tersenyum dibalik maskernya.

Ya, inilah wanita yang dicintainya.

'' Jelaskan apa yang terjadi, kalian menikah, hah?'' desis berbahaya meluncur dari bibir Sasuke, mata onix tajamnya menyorot Sappire Naruto.

Hening begitu menyesakkan dada.

'' Belum, tapi kupastikan kami akan menikah.''

Naruto menoleh secepat yang dia bisa hingga lehernya seperti terkilir, roman terkejutnya tak dia sembunyikan,

'' Apa maksudmu Kakashi?'' tanya Naruto.

'' Ya, kita akan menikah.''

Sasuke memandang geram Kakashi. '' lalu bisa jelaskan kenapa anak ini bisa memanggilmu paman, hah?''

Naruto panik, dirinya tak tau akan berbicara apa. Jari telunjuknya membuat pola lingkaran tanpa sadar. '' Aku-''

'' Oh itu,'' tawa renyah terdengar, onix hitam Kakashi menyipit. '' Hmm, ini agak rumit, sebenarnya Shina anakku,'' lirihnya

'' Kakashi,'' potong Naruto, apa yang ada dalam pikiran Senseinya itu sih.

Onix Sasuke membola, terkejut akan pernyataan barusan, benarkah Shina anak dari pria didepannya, Sasuke menatap meminta jawaban Naruto, sayang gadis itu menunduk seolah menghindarinya.

'' Aku-'' lanjut Kakashi. '' -aku dulu melakukan kesalahan hingga membuat Naruto pergi meninggalkanku. Jadi aku mencarinya dan ingin menikahinya,'' kebohongan terucap lancar dari bibir Kakashi, '' Dan Shina benar anak kandung Naruto dan anakku.''

Naruto menunduk, mencengkram blousenya erat, kebohongan ini membuatnya ingin mati.

Sesak.

Bersalah.

'' Kau-melakukan-kesalahan-'' geram Sasuke, dirinya paham, sangat.

Dirinya bukan anak kecil yang polos dan bodoh, dia tau kesalahan apa yang dilakukan Kakashi, melalui clue yang ada, terlihat jelas. perasaan marah itu muncul menyelimuti hatinya.

Sahabatnya ternodai.

Keinginan untuk memukul pria didepannya semakin besar.

'' Ya, dan aku ingin memperbaikinya.''

Semua terdiam.

'' Karna itu kau pergi, Naruto?'' sasuke nyaris berbisik.

Naruto tak menjawab, dirinya mengalihkan perhatiannya pada jalannan diluar. Wajahnya pucat pasi.

Shina memandang Kakashi dan Mamanya. '' Mama akan menikah?'' gumannya pelan, begitu lirih hingga tak ada yang mendengar suaranya, tanpa sadar romannya berubah dingin.

TBC

Pendek? Maaf.

Lagi mancet idenya. Semoga puas yah walaupun pendek.

Aku akhir-akhir ini sering kesel, kenapa fanfiction sering error sih, kadang muncul server not found/ apa gitu, apa kalian juga githu, apa cuma dihpq.

Ini jawaban atas pertanyaan kalian.

Kenapa sasuke marah?

Biasa Uchiha punya sifat unik, sasuke juga gitu. Dihatinya ingin bilang aku rindu malah bilang aku benci. Nah begitulah.

Kenapa kakashi bukan yang chara lainnya?

Aku suka kakashi, dan tokoh kayak gaara sudah banyak, inikan crita gaje, jadi pemainnya juga gaje dong.

Apa nanti sasukarin pisah?

Mungkin, tapi itu masihh chaaappter selannjuutnya.

Naru pilih kaka ato sasu?

Masih difikirkan*author cari wangsit.

Ntar rebutan?

Kayaknya iya.

Dan mungkin akan muncul chara lain.

Trima kasih buat yang read, review, fav, follow, trimakasih banget yaa.

Btw, rate M apa ketinggian yaa?

Klu ganti T+ gimana?

Ageha haruna.