Love Me, That's Enough
Author : myflowerlady3
Cast : Yunho, Jaejoong, and others
Pairing : Main!YunJae
Genre : Romance (?) Drama (?) –
Rating : T
Disclaimer : This Story is purely MINE, jika ada kesamaan dalam beberapa scene itu hanya pure coincidence ^^
Warning! This is boyxboy story, so don't force yourself if you aren't into it ^^ AU! Typo(s)!
Chap 4
Tok Tok Tok
"Ya, sebentaar" suara melengking yang terkesan lucu itu terdengar dibalik pintu. Namja yang berada di depan pintu flat itu mencoba menahan tawanya, hah betapa ia merindukan sosok namja dengan suara melengking itu.
Tok Tok Tok
"Aish, iya- Yoochun hyung!"
"Annyeong, Junsuie my Junsu" sapa namja bernama Yoochun dengan senyum mautnya.
Senyum lebar terpancar di wajah Junsu, dia tidak bisa menahan rindunya lagi dan langsung memeluk namja tampan di hadapannya itu. Sebenarnya Junsu sudah tau Yoochun sudah pulang ke Korea, karena waktu hyung-nya memberikan Junsu permen kapas ia juga memberikan banyak camilan untuk Junsu, dan Yunho bilang itu semua dari Yoochun. Junsu ingin sekali bertemu Yoochun, tapi Yunho bilang ia ada meeting jadi tidak bisa menemui Junsu hari itu.
"Hyuung ~~ bogoshipeo~~~~" ucap Junsu sambil memeluk Yoochun erat, Yoochun 'pun membalas pelukan Junsu tak kalah erat.
"Nado baby, nado" balas Yoochun.
Yoochun sudah terbiasa memanggil Junsu dengan panggilan 'baby' atau 'Junsuie' dan 'my Junsu', Junsu tidak keberatan dengan hal itu, ia malah merasa sangat senang.
"Baby, di mana hyung-mu tercinta itu?" tanya Yoochun setelah melepaskan pelukannya pada Junsu.
"Dia ada di dalam hyung, sedang mandi. Kajja, ayo masuk!" ajak Junsu dengan senyum manisnya. Yoochun tertawa melihatnya, lalu mengacak rambut Junsu gemas.
.
.
"Yoochun! Kau tidak bilang akan berkunjung, aku kan bisa membeli makanan dulu jika kau bilang." namja bermata musang itu memeluk Yoochun dan tidak lupa memberi tepukan-tepukan kecil di punggung temannya itu.
"Makanan tidak penting. Aku kemari ingin bertemu kalian, bukan meminta camilan!" ucap Yoochun. "Ngomong – ngomong, kebiasaanmu tidak berubah Yunho-ah." Yunho mengernyitkan dahinya bingung.
"Kebiasaan apa?" Yoochun tertawa mendengar pertanyaan polos temannya itu.
"Kau, kalau mandi lama sekali. Aku menunggumu di sini sampai bosan"
Yunho hanya bisa tertawa mendengarnya, "Kau bisa ajak ngobrol Junsu kan? Kau bilang kau merindukannya."
"Iya, aku bisa. Tapi adikmu itu tidak mau, lihat saja dia sedang apa! Dia malah sibuk dengan makanan yang kuberikan." ujar Yoochun dengan bibir yang di pout-kan lalu mendudukkan dirinya di sofa yang sangat tidak empuk itu.
"Hah~ sudah lama kita tidak berbincang. Aku sangat merindukkan momen itu," Yunho tersenyum mendengar penuturan Yoochun sambil mendudukkan dirinya di hadapan Yoochun.
Yunho tiba – tiba ingat kalau dia belum menceritakan soal perjodohannya dengan Jaejoong, mungkin ini adalah momen yang tepat, lagipula Yoochun adalah sahabatnya.
"Yoochun-ah, aku ingin memberitahumu sesuatu" ucap Yunho ragu – ragu.
"Apa itu Yunho-ah? Ceritakan saja, tak usah sungkan"
"Begini..."
.
"Kim Jaejoong? Gosh, aku benar – benar tidak percaya." Setelah menceritakan segalanya pada Yoochun, Yunho hanya bisa menunduk malu karena Yoochun terus megucapkan kalimat yang sama daritadi.
"Aku tau aku memang tidak pantas dengannya, aku juga bingung dengan perjodohan ini."
"Ah- Yunho kau jangan salah paham, aku bukannya tidak percaya jika Jajoong-ssi dijodohkan dengan seorang-"
"Kuli bangunan," potong Yunho saat Yoochun tidak dapat meneruskan kalimatnya.
"Yunho-ah-"
"Santai saja Yoochun-ah, aku mengerti. Oh iya, kau ingin kopi? Aku akan buatkan ya." Yunho pergi meninggalkan Yoochun ke dapur setelahnya. Yoochun merasa sangat bersalah atas itu.
.
.
.
Junsu belum juga sukses memasang dasi hyung-nya tercinta ini. Ya, Yunho meminta bantuan Junsu untuk memasangkan dasi karena dia belum pernah menggunakan dasi sebelumnya, tapi sepertinya Yunho salah menyuruh orang.
"Aish hyuuuung~ aku menyerah." Junsu melipatkan tangannya di dada dengan bibir yang dikerucutkan.
Yunho tertawa melihatnya, "Hah, baiklah. Seperti ini juga tidak apa – apa. Hyung menghargai kerja kerasmu Junsuie ~~~~" Junsu terkekeh mendengar Yunho memanggil namanya dengan suara khas anak kecil.
Malam ini Yunho akan makan malam di kediaman Kim, sebelumnya Jaejoong telah memberikan alamat rumahnya pada Yunho. Entah kenapa butuh waktu lama untuk Yunho menanyakan alamat rumah Jaejoong lewat pesan singkat, hatinya berdebar bukan main.
Sebenarnya Yunho ragu untuk pergi, setelah menceritakan rencananya malam ini pada Yoochun, ia menyuruh Yunho untuk datang saja. Fyi, setelan jas yang Yunho kenakan juga milik Yoochun. Kebetulan sekali Yoochun menyimpan jasnya di dalam mobil.
"Hyung, kau tampan" Junsu tersenyum lalu mengecup pipi Yunho setelahnya.
"Kau mau permen kapas kan?" tanya Yunho menggoda.
"Aniooo~~~ aku berkata jujur."
"Hahaha, ara~ aku tau." Yunho mengusap rambut Junsu penuh kasih sayang.
"Sudah sana hyung berangkat! Tapi ingat, jangan pulang terlalu lama, aku takut~" Junsu memeluk hyungnya manja, Yunho menghela napas berat dan mencium kening adiknya.
"Iya, hyung berjanji. Kalau ada apa – apa cepat hubungi hyung, arra!"
"Eum," Junsu mengangguk patuh. Ia harus berterimakasih lagi pada Yoochun karena telah memberikan adiknya tersayang ini sebuah handphone.
.
.
.
.
Jaejoong menunggu Yunho di depan rumahnya, Yunho bilang tadi dia sudah berangkat memakai taxi dan Mr. Kim menyuruh Jaejoong menunggu Yunho di depan.
"Huft, lama sekali" namja cantik itu melirik jam tangan mahalnya untuk kesekian kalinya.
Tidak berapa lama, sebuah taxi berhenti di depan kediaman Kim. Jaejoong tau itu pasti Yunho.
"Maaf membuatmu lama menunggu," Yunho membungkukkan badannya.
Jaejoong tertawa melihat Yunho, dan itu membuat Yunho bingung.
"Wae?" tanya Yunho bingung.
"Dasimu," jawab Jaejoong sambil tertawa kecil, bentuk dasi Yunho benar – benar aneh dan itu membuat Jaejoong geli melihatnya. "Aish, sini aku pakaikan. Begini caranya.." Jaejoong memberitahu cara – cara memasangkannya, tapi Yunho malah sibuk melihat wajah Jaejoong yang sangat dekat dengannya.
Setelah selesai Jaejoong sadar Yunho tengah memperhatikannya. Yunho 'pun tersadar atas apa yang ia lakukan.
"Eum, mian. Err, gomawo" ujar Yunho kikuk.
"Gwaenchana, ayo masuk, appa dan umma sudah menunggu" ajak Jaejoong tanpa panjang lebar.
"N-ne," Yunho mengikuti Jaejoong masuk ke dalam kediaman Kim yang megah itu.
.
"Oh, Yunho-ah kau sudah datang" sambut Mr. Kim yang sudah menunggu di meja makan bersama istrinya.
"Annyeonghaseyo Presdir Kim," balas Yunho tak kalah ramah.
"Ayo duduk – duduk,"
Yunho berhenti saat melihat sesosok yeoja cantik yang sudah tidak muda lagi sedang duduk sambil memainkan handphonenya. "Annyeonghaseyo- emm..."
"Panggil saja dia Mrs. Kim, ayo duduk Yunho." Mr. Kim tersenyum mungkin Yunho bingung harus memanggil istrinya dengan sebutan apa.
"Terimakasih,"
Keadaan sangat canggung, Mr. Kim terus menanyakan soal pekerjaan atau hal lain pada Yunho sedangkan Yunho hanya menjawabnya pendek. Bukannya ia tidak sopan, ia hanya merasa keadaan ini sangat canggung dan membuat ia tidak nyaman.
"Yunho, mengapa kau tidak mengajak Junsu?" tanya Jaejoong yang berhasil memecah kecanggungan.
"Aku tidak mungkin mengajaknya ke sini, aku saja mungkin sudah merepotkan" jawab Yunho.
"Ani, kau tidak merepotkan. Appa pasti suka pada Junsu jika bertemu dengannya, appa sangat suka anak yang periang seperti Junsu." Mr. Kim memandang Jaejoong bingung.
"Junsu? Nugu?"
"Dia adiknya Yunho, appa."
Disitulah mulai terjadi perbincangan diantara mereka bertiga, kecuali Mrs. Kim yang nampak bosan. Setelah mereka menyantap hidangan pembuka Jaejoong menceritakan perihal penyakit Junsu, awalnya Yunho terlihat kaget karena tidak seharusnya Jaejoong menceritakannya. Tapi mau bagaimana lagi.
Awalnya Mr. Kim mengajukkan pengobatan untuk Junsu pada Yunho dan ia yang akan membiayainya, tapi Yunho langsung menolak dan memberikan alasannya.
"Kau itu aneh, orang miskin tetapi tidak mau dibantu" ujar Mrs. Kim tiba – tiba.
"Umma!" panggi Jaejoong dengan nada yang sedikit mengancam agar ummanya itu tidak melanjutkan ucapannya. Yunho hanya diam menanggapinya.
"Aku benar bukan. Kalau sikapmu terus – terusan seperti ini, adikmu akan mati karena kesombonganmu itu" lanjut Mrs. Kim. Jaejoong dan Mr. Kim tidak percaya dengan apa yang diucapkan yeoja paruh baya itu.
"Kalau menunggu hingga kau kaya, entah kapan itu akan terjadi, mungkin adikmu akan segera ma-"
"Umma hajima!" bentak Jaejoong keras. "Apa yang umma bicarakan huh?"
"Umma hanya membicarakan fakta, Chagi" jawab Mrs. Kim santai.
"Sepertinya saya harus pamit pulang, Junsu pasti kesepian di rumah" Yunho berdiri dari duduknya dan Jaejoong 'pun mengikuti.
"Yunho-ah, tapi kau baru sebentar lagipula kita di sini akan membahas soal perjodohan itu kan" ujar Jaejoong sedikit malu dengan pertanyaannya itu.
"Mungkin lain kali Jaejoong-ah,"
"Yunho-ah, maafkan istri saya seharusnya-"
"Anio, apa yang dikatakan Mrs. Kim benar. Kita bicarakan ini lain kali Presdir Kim. Terimakasih atas jamuannya."
Yunho berjalan pergi meninggalkan ruang makan setelah berpamitan pada Mr. Kim dan istrinya.
"Bersikaplah lebih tegas pada istrimu, Presdir Kim." Setelah itu Jaejoong langsung pergi menyusul Yunho.
"Yunho-ah!" panggil Jaejoong saat melihat Yunho sudah hampir keluar dari gerbang kediaman Kim.
"Ne Jaejoong, ada apa? Cepat masuk! Di sini sangat dingin," kata Yunho dengan lembut.
"Aku minta maaf, umma-"
"Gwaenchana," potong Yunho.
"Aku merasa tidak enak,"
Yunho mengacak rambut Jaejoong, "Gwaenchana Kim Jaejoong yang terhormat" Yunho tertawa setelahnya.
Jaejoong 'pun jadi ikut tertawa mendengarnya, wajahnya memanas tanpa dikomandoi.
"Sebagai gantinya, maukan nanti hari minggu kita pergi, errr makan mungkin?" tanya Jaejoong ragu.
"Baiklah, tapi nanti aku yang traktir."
Jaejoong sempat ingin membantah tapi Yunho memotongnya dengan ucapan selamat tinggal.
Jaejoong tesenyum setelah kepergian Yunho, ada apa dengannya, pikirnya. Tidak, ini bukan suka, Jaejoong hanya merasa kasihan pada Yunho.
Jaejoong pergi meninggalkan gerbang dan menuju ke dalam rumahnya. Setelah ini, Jaejoong harus berbicara empat mata dengan ummanya.
TBC
A/N : Annyeong ~~~ sorry for the very late update T_T selain sibuk aku juga bingung mau ngelanjutin chap 4 kaya gimana hahahaha /slaps/ semoga masih ada yang mau baca /sobs/. Sorry, pasti chapter ini garing banget dan pendek. Tapi aku udah berusaha buat bikin chap baru biar gak merasa bersalah masih punya utang. Soooooo~~~~~ RnR? ^^
