Pairing : Kray / FanXing dan Krisyeol.
Cast : Kris, Lay, Chanyeol, Luhan, BaekHyun, Tao, Sehun.
Genre : Hurt/Comfort, Family Drama.
Author Pov
Setibanya Chanyeol dikamar mandi, ia langsung berlutut didepan toilet. Mengarahkan wajahnya pada lubang besar berwarna putih tempat pembuangan itu. Perut Chanyeol seakan bergejolak. Menguras apa saja yang sudah dicerna dalam lambungnya.
Rasa mual dan pusing seolah menghantam Chanyeol bertubi-tubi. Belum lagi keringat dingin yang keluar dari dahi dan pelipisnya. Hal itu juga diperparah dengan muntah Chanyeol yang enggan untuk berhenti.
Sehingga membuat tubuh nya lemas kehilangan tenaga. Karena banyak sekali cairan yang ia keluarkan. Chanyeol bahkan tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Alhasil Chanyeol harus bertumpu pada Kris. Merangkul pinggang suaminya agar ia tidak terjatuh.
"Apakah kau sakit Chagi?" Tanya Kris, sambil memijit tengkuk Chanyeol.
"Hoooeks.. Gwanechanna Kris. Mungkin aku hanya masuk angin. Hooeks.. Suruh salah satu Maid untuk- Hooekss.." Kris menyeka mulut Chanyeol dengan tisu. Lalu kemudian istrinya melanjutkan kata-katanya kembali.
"Menghubungi dokter Park.. Hooekss.."
"Baik. Akan ku panggilkan. Bersabarlah chagi.." Jawab Kris sambil mengelap lembut keringat istrinya.
Kris melihat Lay baru saja kembali dari dapur. Ia membawa nampan berisi secangkir teh, yang uap panas nya masih mengebul.
"Chagi.. Bolehkah aku meminta tolong? Bisakah kau menyuruh salah satu maid, untuk menghubungi Dokter Park? Aku tak dapat memanggil mereka. Jarak mereka terlalu jauh. Lagipula aku tidak mungkin meninggalkan Yeol disini. Ia membutuhkanku.."
"Nee. Gwanechanna Kris.. Aku mengerti. Akan ku sampaikan. Oh ia, Channie. Minumlah teh herbal ini agar mual mu sedikit berkurang." Lay menaruh nampan berisi secangkir teh panas tersebut diatas meja westafel. Lalu ia beranjak pergi, menjalankan amanat suaminya-menemui salah satu maid di mansion mereka.
"Khamsahamnida Hyung.." lirih Chanyeol disela muntahnya.
"Nee." Lay beranjak meninggalkan KrisYeol dikamar mandi. Ia membawa nampan kosong serta senyum yang teramat dipaksakan.
-TRIANGLE IN ONE ROOF-
Lay Pov
Aku tengah duduk di sofa ruang keluarga, bersama Kris. Juga Luhan yang berada dipangkuan suamiku. Kami sedang menunggu kabar dari dokter Park, yang sejak tadi berada di lantai atas. Memeriksa kesehatan Chanyeol.
Terlihat Dokter Park baru saja keluar dari kamar Channie. Ia menuruni anak tangga dengan wajah yang sumringah. Senyum dari dokter paruh baya itu terisirat, seperti mengumumkan bahwa Channie baik-baik saja. Seolah-olah mual-mual hebat itu tidak pernah terjadi.
Dokter Park menghampiri kami yang sejak tadi menunggunya di lantai bawah.
"Chukkae~ Tuan Kris. Kau akan menjadi seorang ayah.." Dokter yang berusia setengah abad itu menepuk bahu suamiku.
Dapat kulihat dari ekspresinya, Kris terkesima tak percaya. Ia hanya bisa membuka mulutnya lebar, juga mata sipitnya yang terbelalak. Hingga membuat wajah Kris terlihat seperti orang bodoh. Mungkin ia terlalu kaget dengan ucapan dokter tersebut.
"Be- Benarkah itu Dokter?! Chagi.. Tolong pegang Baby Lu. Aku ingin berbicara banyak dengan dokter Park."
'Kris.. Memang nya kenapa Baby Lu harus diberikan padaku?-_-" Apakah ia mengganggu pembicaraanmu dengan dokter tua itu? Huft.. Ada-ada saja..'
'Mengapa feelingku mengatakan . . . Kami seperti akan disingkirkan . . . ?'
Tanganku mengambil Baby Lu dari pangkuan Kris. Entah mengapa perasaanku menjadi tidak enak sekarang.
"Nee Tuan Kris.. Istri anda sedang mengandung buah cinta kalian. Dan usia nya sudah satu bulan. Ini berita baik untuk keluarga Park dan keluarga Wu. Akhirnya sang pemimpin yang dinantikan sudah tiba."
Kris tersenyum lebar memperlihatkan gummy smilenya. Dan dokter tua itu juga tersenyum tak kalah cerah. Seperti gigi Kris yang terpampang sinar matahari(?)
'Pemimpin? Apa maksudnya ini? Aku tak mengerti? Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?'
"Nee Dokter Park. Aku mengerti. Dad dan Mom sudah lama menunggu kabar baik ini. Akhirnya cucu yang dinantikan akan lahir kedunia."
'Cucu yang dinantikan . . . ? Yaa.. aku tahu. Kehamilanku memang tidak pernah diharapkan oleh Tuan dan Nyonya Wu. Jadi tidak akan mungkin Baby Lu menjadi cucu yang dinantikan. Dianggap cucu saja aku sudah bersyukur . . .'
Mendengar perbincangan mereka, tiba-tiba saja airmataku mengalir. Bukannya aku tidak senang mendengar kehamilan Channie. Tetapi entah kenapa aku tak suka melihat ekspresi Kris. Ia terlihat sangat bahagia. Berbeda sekali ketika aku memberitahukan kehamilanku dahulu. Wajahnya tak sebahagia ini.
Yang aku tahu. Kris sengaja menghamiliku agar kami diizinkan menikah. Jadi bukan karena Kris menginginkan keturunan dari ku. Aku menyeka bulir-bulir yang jatuh, dengan mengusapkan pipi basah-ku pada rambut halus Baby Lu. Merasa rambut nya disentuh, Baby Lu menengok kearahku.
"Mmaa?"
"Nee sayang^^ Mama disini^^"
'Ya Tuhan.. Mengapa bayi tidak berdosa seperti ini harus mendapat kebencian yang teramat dari neneknya sendiri . .'
Aku menahan tangisku agar tidak pecah. Lagi-lagi aku menyeka airmataku dengan rambut hitam Luhan.
Disela isak tangisku yang tertahan. Mulutku tak berhenti membisikkan kata-kata untuknya.
"Kau mempunyai Mama, sayang. Wu Luhan tidak sendirian. Mama akan selalu bersamamu. Wo Ai Ni.. My Baby Lu~" aku mengecup kedua pipi, mata, hidung dan bibir malaikat kecilku.
"Ma.. Ma?" Baby Lu memiringkan kepalanya dengan imut. Mata indahnya menatapku intense. Seolah ia sedang mencari jawaban atas apa yang terjadi, sampai membuat ibunya menangis.
"Gwanechanna my Baby Boy^^ Mama baik-baik saja sayang^^"
Tak tahan dengan tingkahnya yang menggemaskan, aku menjadi beringas menciumi setiap inci wajah cantik belahan jiwaku.
Baby Lu terkekeh geli, karena kecupan bibir serta tanganku yang menggelitikinya. Suara tawa Baby Lu menggema. Memecahkan setiap sudut ruang keluarga, dengan cekikikan khas bayi 1,5th.
Tetapi tiba-tiba saja . . .
"My dear, Rusa kecil Daddy.. Bisakah Baby mengecilkan suaramu sejenak?^^ Daddy sedang berbicara dengan Dokter Park mengenai Yeol Umma, sayang^^ Don't be noisy, nee?^^ Be a good boy, my son^^"
Kris mencubit lembut hidung mungil Baby Lu, hingga memerah.
Entah kenapa aku merasa sebal, melihat Kris yang seenaknya saja menghentikan keceriaan Baby Lu. Seharusnya sebagai orangtua, hati nya ikut bahagia mendengar tawa lepas sang anak. Bukan sebaliknya. Menyebalkan!
"Baby Lu masih Batita, Kris. Umurnya saja belum genap 2th. Aku bahkan tak yakin, apakah Baby Lu mengerti ucapanmu atau tidak. Jadi jangan memaksanya untuk menuruti permintaanmu!"
"Aku tak bermaksud seperti itu, Chagi.. Dengarkan aku dulu.."
Entah apa yang merasukiku. Tiba-tiba saja emosiku menjadi tak terkendali dan meledak-ledak. Untuk pertama kalinya aku berbicara dengan intonasi tinggi pada Kris. Tanpa sadar aku menaikan suaraku. Bahkan bisa dikatakan aku nyaris berteriak.
"Tidak! Kau yang harus mendengarkanku lebih dulu! Sebagai seorang ayah dan 'orang dewasa'. Seharusnya kau lebih mengerti, Kris! Jika kau merasa terganggu, pindah saja keruangan lain?! Bukankah dimansion ini banyak sekali ruang untuk sekedar berbincang?! Bahkan kau dapat berbicara di home theater room atau music studio yang kedap suara! Itupun jika kau merasa terganggu! Bukan nya menyuruh anakmu untuk diam!"
"Kau kenapa Lay? Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau-
"Jangan memotong pembicaraanku. Dan tolong dengarkan istrimu bicara, Yifan! Orangtua mana yang tak senang mendengar suara tawa anak nya? Seharusnya kau tidak menghentikan keceriaan Baby Lu, Kris . . . Hikss.. Hikss.. Meng- Hikss.. ngapa kau sangat- Hiksss.. egois, Krissss.. Hikssss.. Hiksss.. Hanya karena kau akan memiliki seorang aegya lagi. Tapi bukan berarti . . .? hikss.. hiksss.."
Yaa.. Aku tahu, ini hanya masalah sepele. Sebenarnya aku tak berniat membesar-besarkan masalah. Apalagi sampai menangis seperti ini. Semua ini diluar rencanaku. Diluar skenarioku. Terdengar cengeng memang.
Dengan wajah yang berlinangan air mata seperti ini. Aku bahkan merasa malu untuk mengangkat kepala, dan menatap Kris. Tetapi entah kenapa aku sangat ingin menumpahkan isi hatiku. Kekesalanku. Kesedihanku. Kekecewaanku. Jiwaku sudah terlalu lelah menjadi istri pertama yang selalu disisihkan.
"Yixing-ah mianhae . . . Aku benar-benar tak bermaksud seperti itu…" Kris berpindah tempat duduk disampingku. Ia merangkuh bahuku. Berusaha meredakan tangisku.
"Jangan sentuh!" Aku menghempaskan tangan Kris dengan kasar yang berada dibahuku. Aku berlari membawa Luhan menuju ke kamar.
"Lay . . ."
Kris hanya terdiam melihat kepergianku. Lalu ia menengok ke arah dokter Park sambil tertawa canggung. Mungkin Kris merasa tidak enak, dengan pertengkaran kecil kami yang terjadi dihadapan dokter tua itu.
Selang beberapa menit. Aku keluar dari kamar. Melangkahkan kaki menuju dapur. Berjalan melewati Kris dan dokter Park, yang sejak tadi duduk di ruang kelurga. Mereka masih membahas hal yang sama-Kehamilan Chanyeol.
Ketika aku melewati mereka, kulihat Kris melirik kearahku. Ia berbicara setengah berbisik, tetapi aku masih dapat mendengarnya.
"Mianhae Lay . . ."
Aku hanya diam seribu bahasa. Aku tetap melangkahkan kakiku menuju dapur. Berpura-pura tak mendengar apa yang ia ucapkan. Sebenarnya aku enggan untuk keluar dari kamar. Jikalau Baby Lu tidak merengek meminta susu. Mungkin aku akan tetap berada didalam kamar seharian. Jadi tidak perlu melihat wajah blasterannya yang sangat menyebalkan itu.
Kris beralih pada Dokter Park kembali. "Mianhae Dokter Park, hehe.. Tidak seharusnya anda melihat kejadian ini. Aku jadi merasa tidak enak, hehehe.."
"Ahhhh.. Jangan dipikirkan, Tuan Wu. Pertengkaran yang terjadi antara suami-istri yang berusia muda, adalah hal yang wajar. Terlebih lagi kau memiliki dua istri. Hahaha.."
"Ahhhh.. Jangan dipikirkan, Tuan Wu. Pertengkaran yang terjadi antara suami-istri yang berusia muda adalah hal yang wajar. Terlebih lagi kau memiliki dua istri. Hahaha.."
"Hehehe.. Nee~ kau benar sekali dokter Park.." Kris tertawa canggung, sambil menggaruk surai blonde nya.
"Oh ia Tuan Wu, Boleh kah aku memberitahukan kabar baik ini kepada keluarga Wu dan keluarga Park? Aku tak sabar melihat ekspresi mereka. Pasti kaget bercampur bahagia menjadi satu."
"Jangan Dokter. Biar aku sendiri yang menghubungi keluarga kami. Oh ia, Dokter.. Lalu bagaimana dengan keadaan Istriku sekarang?"
Terdengar sayup-sayup percakapan mereka dari dapur. Sebenarnya aku tak bermaksud menguping. Salahkan saja mereka! Mengapa berbicara dengan volume suara sebesar itu. Jadi terpaksa aku dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Baiklah Tuan Kris.. Nyonya Wu sekarang tertidur. Rupanya ia kehabisan tenaga, akibat muntahnya yang tak kunjung berhenti. Tetapi saya sudah memberikan obat penawar, untuk menghilangkan mualnya."
"Hmmm.. Baiklah kalau begitu. Ummm begini, Dokter Park. Bisakah kau siapkan beberapa para medis dan ambulance untuk berjaga dimansion ku, sampai Yeol melahirkan? Aku hanya tidak ingin hal buruk atau apapun terjadi pada istriku dan calon Bayi kami. Kau mengerti maksudku kan?"
'Aku pikir hanya Channie yang berlebihan. Ternyata kau juga berlebihan, Kris. Sifat orang kaya sama saja. Mereka semua sama. Mungkin aku yang berfikir terlalu jauh. Dalam kenyataan, kami memang dipisahkan oleh jurang yang dalam. Semua ini menyadarkanku. Bahwa aku tidak mungkin setara dengan Kris dan Channie...'
'Yaa.. Inilah realitas hidup Zhang Yixing. Kau harus menerimanya..'
Sambil mengaduk susu, Aku tertawa getir menyadari kenyataan pahit ini. Aku hanya bisa tersenyum kecut, mengasihani diri sendiri. Tanpa ku sadari, bulir-bulir asin itu mengalir lagi. Aku menyeka airmataku dengan kasar, dan berlalu pergi meninggalkan dapur.
Aku membawa botol susu hangat untuk Baby Lu. Dan sekali lagi aku melewati mereka-Kris dan Dokter Park. Kris berbicara setengah berbisik (lagi), ketika aku melewatinya.
"Uljimma Chagiya.. Kau kenapa?" Mungkin ia melihat mataku sembab, tetapi aku tak menanggapi pertanyaannya. Aku tetap berjalan lurus kekamar, seolah tak mendengar suara menyebalkan itu.
Satu minggu kemudian . . .
*Still Lay's Pov
Hari senin pagi, setelah Kris berangkat ke kantor. Aku berada di ruang televisi bersama dengan Channie dan Baby Lu. Tiba-tiba saja terdengar suara telepon berdering. Mengagetkan kami yang sejak tadi sedang tertawa, karena tingkah polah lucu Bayi kami.
"Biar aku saja yang mengangkat^^ kau disini saja bersama Lulu^^"
"Nee Lay Hyung^^"
Via Telephone
"Yeobseyo~"
"Yeobseyo.. Aku ingin berbicara dengan menantuku."
'Tunggu. Bukankah ini suara nyonya Wu? Benar. Ini memang suara nya! Setelah sekian lama. Tepatnya semenjak kejadian itu, akhirnya aku dapat mendengar suaranya kembali'
Spontan terbayang skelebat peristiwa dua setengah tahun lalu. Waktu itu kami berniat mengabarkan kehamilanku sepulang sekolah. Masih mengenakan seragam sekolah lengkap, kami berkunjung ke kediaman keluarga Wu. Yang mungkin lebih pantas disebut istana dalam negeri dongeng. Kedatangan kami adalah untuk mengabarkan kehamilanku. Ya. Perbuatan dosa itu sengaja kami lakukan, sebelum ikrar janji suci. Semua ini adalah rencana Kris. Agar kami diizinkan menikah.
Untuk pertama kalinya aku melihat orangtua Kris. Pria setengah abad berwajah oriental. Dengan mata sipit dan bibir yang tak simetris. Mirip bibir Kris. Seperti paruh angry bird.
Ia didampingi oleh wanita cantik berkulit putih kemerahan. Serta bintik-bintik coklat menghiasi tulang pipinya. Ya Memang. Wajah indo yang ia miliki sama sekali bukan khas orang timur. Wanita 40th itu, juga berperawakan semampai. Sama seperti putra tunggalnya. Jika dilihat dari perawakannya, ia bukan wanita Asia. Apalagi Africa-_-".
Wanita Canada itu, berdiri dengan anggun disamping suaminya. Kala itu ia mengecat rambut panjang nya dengan warna hitam. Mungkin ia ingin menyesuaikan diri. Agar wajah indonya tidak terlalu mencolok, dengan suaminya yang putih pucat dan bermata segaris.
Hingga detik ini. Terkadang kata-kata penghinaan dan cacian, yang keluar dari gincu merah nya masih terngiang dikepalaku. Apalagi saat ini, aku berbicara dengannya. Mendengar suaranya kembali. . .
#Flashback 2,5th lalu...
Author Pov
Sore itu terlihat sebuah mobil sport merah-Lamborghini Veneno Roadster. Terparkir disebuah pelataran halaman mansion.
"Hati-hati melangkah Chagi. Ingat! Kau sedang mengandung sekarang.." Namja tampan pemilik mobil super mewah itu, membukakan pintu untuk kekasihnya.
"Jangan berlebihan Kris.. Usia kandunganku saja bahkan belum genap 1bulan^^" Namja manis berlesung pipi itu, hanya tertawa ringan. Menanggapi sang kekasih yang berubah menjadi overprotective, setelah mengetahui dirinya tengah berbadan dua.
"Chagi~ apapun yang terjadi didalam sana, jangan khawatir nee? Dan apapun yang Mom katakan, jangan dimasukan kedalam hati. Aku akan melindungimu Yixing-ah. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti dirimu. Meskipun itu hanya sebuah ucapan. Aku tidak akan membiarkannya terjadi.. Percayalah padaku Zhang Yixing.." Setelah menenangkan Lay yang terlihat tegang. Kris mengecup pipi Lay. Sebelum kedua kakinya melangkah masuk. Menjejaki kediaman orangtuanya.
"Aku mempercayaimu Wu Yifan.." Jawab Lay kaku, sembari mengusap keringat dingin di pelipisnya.
At Wu Family Mansion
"Darl~ Putera kita dan namja miskin itu sudah datang! Cepatlah bergegas turun!" Teriak yeoja cantik yang sejak tadi mengintip Kray, dari balik tirai.
"Ya sayang. Aku segera turun." Sahut seorang namja, yang notabene adalah suami dari Yeoja cantik tadi.
"Hi Honey Bunny Sweetie, Wu Yifan my beloved son . . .^^ How are you today, dear?" Rossaline menyambut girang kedatangan putera tunggalnya. Ia bahkan tak segan-segan mencium lembut pipi chubby Kris, hingga membuat kesayangannya itu blush-ing. Karena malu image 'baby Hui' nya diketahui sang pacar.
"Mom hentikan! Aku bukan anak kecil lagi! Jangan seperti itu! Lagipula aku baik-baik saja.." Jawab Kris sedikit menggertak. Ia tak ingin pamor 'Cold Prince' nya turun, dihadapan sang kekasih.
Lay hanya terkekeh geli, melihat perlakuan si calon mertua kepada pacarnya tersebut.
"Okay my lil son. Mom mengerti. Lalu apakah putera Mom yang paling tampan sedunia ini sudah makan?" Tanya Rossaline sambil memegang bahu kebanggaannya.
Wanita bule itu bahkan bertingkah, seolah tidak ada siapapun dirumah itu. Kecuali Kris. Suami nya. Juga para maid. Seolah namja yang sejak tadi berdiri disamping Kris, dan menggenggam erat jemari puteranya itu tidak pernah ada.
Jengah dengan tingkah laku sang istri, yang seolah mengulur waktu. Wu Hangeng akhirnya angkat bicara.
"Sudahlah Ross.. Jangan mengulur waktu. Lebih baik, kita bicarakan masalah ini secepatnya. Ayo Kris. Ajak kekasihmu menuju ruang keluarga.."
"Ayo Lay. Kita ikuti Daddy.."
Lay tersenyum simpul menanggapi Kris. Ia mengikuti sang pacar menuju ruang keluarga, beserta calon mertuanya.
Sementara itu Rossaline hanya memutar bola mata malas. Ketika melihat sang suami menggandeng tangan anaknya menuju ruang keluarga. Diikuti Lay dibelakangnya.
At Living Room
"Perkenalkan nak, kami adalah orangtua Yifan. Saya Wu Hangeng ayahnya Kris. Dan ini Rossaline ibunya Kris.." Hangeng memperkenalkan dirinya dan sang istri dihadapan calon menantunya. Ia memasang wajah seramah mungkin. Hangeng tidak ingin berprilaku dingin seperti istrinya. Karena ia tahu, cepat atau lambat. Mau tidak mau. Namja berlesung pipi itu akan menjadi menantunya.
Lagipula tidak ada gunanya memperlakukan Lay dengan buruk. Seharusnya keluarga Wu berterima kasih kepada Lay. Jika bukan karena namja manis itu, kesayangannya-Yifan tidak akan mau menikah dengan Chanyeol. Maka dari itu, Lay adalah kunci dari permasalahan ini. Kris bersedia menikah dengan Chanyeol, karena ia diizinkan menikah dengan Lay. Sesuai perjanjian yang Hangeng dan Kris buat semalam.
"Aku mencintai Lay Appa!"
"Tidak bisa Kris! kau harus menikah dengan Chanyeol"
"Jika kau masih menginginkan aku menjadi penerusmu, restui kami!"
"Aku akan merestuimu, jika kau meikah dengan Chanyeol juga.."
"KAU SAKIT APPA! Tetapi baiklah.. Demi Lay, aku akan menerimanya.."
"Nn- Nee~ Annyeong Tuan Wu dan Nyonya Wu.." Lay tersenyum kaku serta membungkukkan badan kearah Hangeng dan Rossaline.
Hangeng tersenyum hangat membalas sapaan Lay, sembari kepalanya sedikit mengangguk.
Sementara sang istri hanya berdecak kecil sambil membuang muka, menanggapi Lay.
"Cih.."
"Oh ia, siapa namamu nak? Dan kapan kalian akan menikah, Kris?"
"Nama saya-
Sontak pertanyaan Wu Hangeng membuat Rossaline kaget bukan kepalang. Pasalnya ia sama sekali tak tahu menahu tentang rencana pernikahan puteranya dengan namja yang sangat ia benci itu.
Rossaline mengira, bahwa kedatangan Kris adalah untuk mengumumkan bahwa mereka akan mengakhiri hubungan yang mereka bina sejak JHS.
"APA?! MENIKAH?! APA-APAAN INI?! MENGAPA KAU MENGIZINKAN MEREKA MENIKAH DARL?!"
Kris langsung angkat bicara. Ia sudah menduga reaksi sang ibu, pasti sama seperti ekspektasinya. Emosi tak terkendali. Dan meledak-ledak. Ayolah, siapapun pasti mengetahui karakter ibu kalian, bukan?
"Mom! Kumohon jangan menghalangi kami. Dad sudah membuat perjanjian denganku semalam. Jika kalian ingin aku meneruskan perusahaan dan menikahi Chanyeol, maka kalian harus mengizinkanku menikah dengan Lay juga.."
Kris menjelaskan semuanya secara gamblang kepada Rossaline. Tanpa ada intonasi yang tinggi, maupun volume suara yang besar. Meski saat ini emosinya mulai memuncak, tetapi masih dapat dikendalikan.
Lalu pandangan Kris, beralih pada Wu Hangeng-Ayahnya.
"Dia kekasihku Dad. Namanya Zhang Yixing. Tetapi panggil saja ia Lay. Kami sudah berpacaran sejak aku masih duduk di JHS. Tadi Lay ingin menjawab pertanyaanmu, namun terpotong oleh Mom."
Kris tak melirik ibu nya sedikitpun. Entah terlalu kesal atau tak ingin menjadi anak durhaka. Ia hanya memandang sang Ayah, sebagai lawan bicaranya.
"AKU TIDAK AKAN MENGIZINKAN! SAMPAI MATIPUN AKU TIDAK AKAN MENGIZINKAN MEREKA MENIKAH, HAN! JANGAN HARAP KAU MENDAPAT RESTU DARI MOM, KRIS?!"
"Baiklah jika memang begitu mom. Mudah saja untukku kabur dari rumah ini. Karena dengan atau tanpa restu kalian, aku akan tetap menikah dengan Lay. Karena Lay tengah mengandung cucu kalian sekarang. Lagipula aku tidak perlu berepot-repot menjadi PresDir. Atau menikah dengan namja yang kalian jodohkan, hanya untuk pernikahan politik bodoh ini. Jadi semua keputusan ada ditangan kalian sendiri. Pilih tak mengizinkanku menikahi Lay? Dengan resiko Galaxy Corporation yang kalian banggakan akan semakin hancur, karena Viva Polo tidak jadi menanamkan saham kepada kita? Atau pilih-
"KAAUUUUUU! CUKUP KRIS!" Rossaline beranjak dari tempat duduknya. Ia berniat ingin menampar anak kesayangannya itu. Namun sebelum tangan panasnya mendarat dipipi chubby Kris, sang suami sudah menahannya. Menarik tangan Rossaline untuk duduk kembali.
Aku belum selesai bicara, mom. Jangan memotong perkataan puteramu.." Jawab Kris ringan, bagaikan balon gas yang terbang dibawa angin.
Pemandangan ini berbeda sekali dengan namja yang berada disampingnya. Lay sangat tegang. Keringat dingin keluar dari dahi dan pelipisnya. Lay tidak dapat menyeimbangi atmosfer dingin dan tak bersahabat yang menguar antara ibu dan anak itu. Ia bahkan mencengkram lengan sofa, sampai buku-kuku nya memutih. Lay merasa bahwa dirinya-lah penyebab dari pertengkaran Kris dengan Nyonya Wu.
Lay berfikir. Seharusnya dari awal, ia tidak boleh menjalin hubungan dengan Kris. Perbedaan strata sosial, antara Kris dengannya menjadi menyebab dari semua masalah ini. Dan tidak mungkin dapat dihapus oleh apapun.
Lay tahu. Suatu saat nanti perbedaan itu pasti akan menjadi hantu yang selalu mengikutinya. Atau akan menjadi bongkahan batu besar, yang selalu membuatnya tersandung menjalani kisah cinta dengan Kris.
Atau mungkin juga akan menjadi jurang tiada dasar. Yang membuatnya tidak mungkin, dapat memijakkan kaki ditanah yang sama dengan Kris.
Kris menoleh kesebelah kirinya. Tepatnya kearah Lay. Kris sadar sang kekasih sedang menangis sekarang. Terlihat jelas bulir-buliran air asin itu jatuh dari wajah manis Lay yang menunduk.
Kris mengunci jemari lentik Lay dengan jarinya. Mengisi kekosongan, pada sela jari yang buku-buku nya memutih itu. Kris seolah memberi tanda. Bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa mereka pasti akan menikah, walau apapun yang terjadi.
Kris menyapu lembut pipi basah Lay. Ia membisikan sesuatu pada kekasihnya tersebut.
"Like what I said, Everything is gonna be alright dear. Trust me. Nae, neo kkoya Lay. Uljimma Chagiya~ ^^"
Lay hanya mengangguk lemah. Setelah itu Kris melanjutkan kata-katanya kembali.
"Atau pilih, aku menikah dengan Lay. Tanpa harus mengabil resiko apapun. Lagipula Chanyeol sudah mengetahui hal ini. Dan Yeol setuju dimadu oleh Lay. Lalu hal apa lagi yang membuat Mom menentang kami?"
"APA! JADI CHANYEOL SUDAH MENGETAHUINYA?! DAN DIA MENYETUJUI KAU MENIKAH DENGAN NAMJA MISKIN INI?! AKU TAK TAHU APAKAH CHANYEOL YANG BODOH? ATAU KAU YANG GILA, KRIS? BAGAIMANA MUNGKIN KAU MENGATAKAN, KAU AKAN MENIKAH DENGAN NAMJA LAIN PADA TUNANGANMU SEDIRI, HUH?! DAN BODOHNYA MENGAPA CHANYEOL MENGIZINKAN?!"
"MOM JAGA UCAPANMU! SUNGGUH! AKU TIDAK INGIN MENJADI ANAK YANG DURHAKA, KARENA MELAWANMU! JANGAN MEMBUATKU EMOSI, MOM. Kita harus selesaikan masalah ini dengan kepala dingin.."
"Kris! Seharusnya kau sadar, bahwa anak itu hanya menginginkan harta kita. Ia hanya pemperalatmu, Kris! Kau harus menikah dengan namja yang setara denganmu! Dan namja itu adalah Chanyeol! Bukan dengan gelandangan seperti dia!"
Habislah pemilik wajah manis bernama Zhang Yixing itu, di tunjuk-tunjuk oleh calon ibu mertua sendirinya. Lay semakin merundukkan kepala. Menyesali kesalahan yang bahkan sama sekali tidak diperbuat olehnya.
*flashback somewhere only Kray know
'Yifan.. Kamu pernah menonton film 'man in black'?' 'Huh?' 'Dalam film itu ada alat. Kalau melihatnya ingatannya terhapus..' 'Lalu?' 'Aku harap. Aku punya alat penghapus ingatan. Pertama menghapus ingatan orang2 tentang kita. Kemudian menghapus ingatanmu. Dan menghapus ingatanku. Lalu kembali ke masa tidak jatuh cinta. Ke masa tidak tersisa apa-apa . . .' ' . . . . ' 'Kalau ingatan terhapus. Perasaan terhapus. Dan kesedihan, keserakahan, kenangan juga semuanya akan lenyap..' 'Maksud mu . . . Kau ingin kita pu- tus? Begitu Yixing?' 'Hehehe.. Tidak Yifan. Sampai matipun aku tidak akan melepaskanmu. Jika aku memutuskanmu. Itu sama saja dengan aku bunuh diri. . tetapi lain ceritanya jika kamu memutuskanku. Dengan ikhlas aku pasti akan merelakanmu. Karena aku tidak mungkin dapat bertahan, dengan orang yang tidak menginginkanku…' 'Aku juga tidak akan memutuskan atau melepasmu Lay.. Lebih baik aku kehilangan semua boneka-boneka-ku, daripada aku harus kehilangan dirimu Lay..'
'Termasuk Ace . . .?'
'Ya.. tentu saja termasuk Ace^^'
'Hahaha.. Kau^o^'
Tesss.. Tessss.. Tesss..
'Haruskah?! Haruskah aku bunuh diri sekarang? Haruskah aku melepaskannya . . .? Tuhan.. Hanya Kau yang tahu betapa ku mencintai Umat-mu itu. Tolonglah aku, Tuhan. Kumohon jangan biarkan siapapun memisahkan kami..' Bathin Lay.
Disela pertengkaran Kris dan ibunya. Lay mengenang masa-masa indah itu sendirian. Seolah seperti kaset yang tombol 'pause' nya rusak. Memory tentang Kris dan dirinya terus berputar dikepala Lay.
Sementara itu . . .
"Mom! Apakah Mom lupa, bahwa kita meminta sokongan dana dari keluarga Park sampai saham Galaxy Corporation benar-benar pulih dan stabil? Bukankah itu berarti, kita sama saja dengan gelandangan atau pengemis diluar sana? Bahkan menurutku, keluarga Yixing lebih mulia dibandingkan dengan keluarga kita, yang hanya mengharapkan bantuan dana dari Viva Polo Corporation?! Meskipun keluarga Yixing tidak memiliki banyak harta, tetapi mereka tidak bertumpu pada orang lain untuk membiayai beban hidup mereka sendiri. Apalagi hingga menjual anaknya sendiri demi kepentingan bis-
PLAK!
"CUKUP! KAU SUDAH BICARA TERLALU BANYAK, YIFAN! BERANINYA KAU MENENTANG IBU-MU SENDIRI! MOM YANG MEMPERTARUHKAN NYAWA-MU AGAR KAU DAPAT MELIHAT DUNIA, KRIS! BUKAN DIA! AKU YANG MELAHIRKANMU! AKU YANG MEMBESARKANMU! TETAPI APA BALASAN MU KEPADAKU? KAU MELAWAN ORANGTUAMU SENDIRI, DEMI NAMJA YANG BARU BEBERAPA TAHUN KAU KENAL?! KEDATANGAN DIA BENAR-BENAR MENJADI PETAKA DALAM KELUARGA INI!" Tunjuk Rossaline kearah Lay.
" . . . . "
"JIKA KAU BERFIKIR KAMI MENJUALMU, KAU SALAH BESAR KRIS! KAMI MENJODOHKANMU, BUKAN UNTUK KEPENTINGAN GALAXY SEMATA! Kami lakukan semua ini, untuk kebaikanmu, Kris. Demi masa depanmu. Semua orangtua pasti akan melakukan yang terbaik untuk anaknya. Begitupun dengan kami.. Lalu apa sekarang? Kau menuduh kami menjualmu?!"
" . . . . "
"SADARLAH ANAKKU.. OTAKMU SUDAH DICUCI OLEH NAMJA MISKIN INI! TAK KUSANGKA, DIBALIK WAJAHNYA YANG POLOS DAN LUGU, PASTI DIA SUDAH MERENCANAKAN SEMUA INI! MEMBUAT KAU MELAWAN ORANGTUA MU SENDIRI, AGAR IA DENGAN LELUASA MENGUASAI HARTA KAMI! Ia sedang berusaha untuk memecah kita nak? Membuat kau bertengkar dengan ibumu sendiri. Ibu yang membawamu kedunia ini.. Sadarlah Kris.."
"Sungguh aku lelah dengan semua ini, Mom. Lagipula menurutku aku tidak perlu mengulang perkataan yang sama. Untuk yang ketiga kali nya. Lay. Namja yang mom hina ini. Suka tidak suka. Senang tidak senang. Ia akan tetap menjadi menantu mom. Dengan atau tanpa restu kalian. Aku. Wu Yifan. Akan tetap menikahi Zhang Yixing. Walau apapun yang terjadi. Ayo Lay, kita pergi dari neraka ini.." Sambil menahan airmata, Kris menarik tangan Lay erat. Melangkahkan kakinya menuju pintu utama mansion Wu Family. Langkah kaki kedua sejoli itu diikuti oleh Wu Hangeng. Yang tak lain adalah ayah Kris.
"Kau merasa hebat karena memilikinya? Lakukan sesukamu, Yifan! Mommy don't even care anymore!"
At Parking Area Wu Fam's Mansion
Setelah tiba di pelataran parkir Wu Family. Kris menumpahkan airmata, rasa kesal, dan kekecewaannya kepada sang Appa. Yang sejak tadi tertahan karena rasa gengsinya, untuk menjatuhkan airmata didepan ibunya.
"Da~d.. Hikss.. Hiksss.. Sung-sungguh dad. Ak- aku tak bermaksud melawan Mom. Hiksss.. Sebenarnya aku sangat sedih bersikap buruk pada mom. Hikss.. Hiksss.. Te- tetapi disaat yang bersamaan aku juga merasa marah, Lay dihina oleh mom. Hikss.. Hikss.." Kris menangis sesegukkan didepan Wu Hangeng. Kris bahkan tak perduli dengan lendir yang keluar dari hidungnya, dan terus mengalir hingga melewati philtrum.
"Aigoo.. Kemana wajah tampan anak daddy sekarang? Lihat.. Ingusmu sampai melewati philtrum kkkkkkk.. Uljimma my Baby Hui. Kau terlihat sangat jelek ketika menangis..^^" Hangeng menyeka lendir hidung Kris dengan sapu tangannya. Tak lupa ia juga mengelap airmata Kris dengan ibu jarinya.
"Daddy~ hehehehehe hikss.." Mau tak mau Kris tertawa mendengar perkataan ayahnya. Ternyata hingga sampai saat ini, Daddynya masih menganggap Kris anak kecil berumur 5th.
"Sudahlah nak. Jangan menangis lagi.. Lagipula kau tidak salah. Baby Kris nya daddy tidak pernah salah.." Wu Hangeng mengacak-acak lembut rambut Kris, yang terasa kaku karena gel.
"Lalu bagaimana sekarang? Kapan Lay dan Yifan akan menikah?^^" Tanya Hangeng penuh perhatian.
"Rencananya kami akan menikah bulan depan Dad.. benar begitukan Lay?"
"Nee~ Tuan Wu.." Jawab Lay malu-malu kucing(?)
"Aigooo~ jangan memanggilku Tuan. Panggil aku Daddy. Lagipula kau akan menjadi anakku nanti. Sama seperti Chanyeol. Ia juga memanggilku Daddy.." Hangeng tersenyum hangat kepada Lay.
Dilihat dari behave dan attitude nya, Hangeng yakin Lay bukan namja yang matrealistis. Berbeda jauh dengan yang dikatakan istrinya selama ini. Hangeng tahu calon menantunya ini, adalah namja dari keluarga baik-baik.
"Nee~ Daddy.." Lay menjawab canggung pernyataan Hangeng. Bahkan menyebutkan kata 'Daddy' membuat lidahnya terasa kelu. Karena biasanya, ia memanggil ayahnya 'Baba'. Yang berarti Ayah dalam bahasa China.
"Dad.. lalu setelah ini, aku akan tinggal dimana? Tak mungkin aku pulang kerumah? Karena pasti Mom tak mengizinkan. Ia pasti akan mengusirku, Dad.." Tanya Kris sambil mempoutkan bibirnya dengan imut.
"Mom tidak akan mengusirmu, Yifan. Tetapi jika kau tidak ingin tinggal dirumah. Daddy sudah menyiapkan mansion di daerah Apgeujeong untukmu dan Lay, juga Chanyeol. Kau bisa menggunakannnya sebelum kau menikah. Disana juga sudah disiapkan beberapa maid yang siap membantumu. Ini kunci mansionnya, nak.." Hangeng merogoh kantong didalam jas nya. Ia mengeluarkan beberapa kunci yang digantung menjadi satu ring.
"Gomawo Dad^^" Kris memeluk Appanya sebentar.
"Yesss my son^^" Hangeng membalas pelukan tersayangnya.
"Tapi . . . Bisakah Daddy membawa Ace dan 'adik-adiknya' ke mansionku? Mereka masih didalam kamarku. Aku tidak mungkin masuk dan membawa mereka sekarang. Kau tahu alasannya . . ."
"Daddy akan mengantarkan Ace beserta teman-temannya besok. Jadi lebih baik, kau antarkan Lay pulang. Kasihan jika ia harus lama berdiri. Lay butuh istirahat. Ia sedang mengandung cucu Daddy. Bagaimana my son?^^"
"Andwaeeee~ aku ingin tidur dengan Ace malam ini Dad Daddy phwleaaase~"
"Nak.. boneka-bonekamu sangat banyak. Tidak akan cukup jika Baby FanFan membawa semuanya? Lihat Lambhorgini-mu? Apakah cukup jika membawa mereka masuk didalamnya?"
Kris hanya terdiam memperhatikan mobil sportnya. Yang hanya cukup untuk dua orang itu.
"Daddy akan membawakan Ace. Hanya Ace. Yang lain, Daddy akan mengirimkannya besok. Melalui mobil pengantar barang. Bagaimana?"
"baiklah . . . ." jawab Kris lesu.
"Tunggu sebentar. Daddy akan kembali.." Wu Hangeng berlari kedalam rumah. Ia berniat menjemput 'Adik Kris' yang sedang terbaring ditempat tidur puteranya.
"Kau tidak apa-apa jika harus menunggu sebentar kan, Chagi?"
"Gwanechanna Kris.."
"Aceeeyyyyyy~" Pekik Kris girang melihat boneka alpaca bertopi pelaut itu.
"Nahh sekarang Ace sudah kau dapatkan. Sekarang kajja antarkan calon istrimu pulang.." Hangeng memberikan fluffy putih itu pada anaknya.
"Dad.. terima kasih . . . terima kasih untuk segalanya. I Love You Daddy.." Kris memeluk ayahnya sekali lagi.
"Naddo.. I Love You too my beloved son. Dad akan mentransfer uang untukmu, satu minggu sebelum pernikahan kalian nee.."
"Khamsahamnida Daddy.. Aku tidak tahu bagaimana aku jadinya, jika tanpa Daddy.. Hikss.. hikksss.."
Tiba-tiba saja suasana menjadi haru biru. Wu Hangeng sebentar lagi akan melepas anak bujangnya, menuju pelaminan. Tetapi pernikahan pertama Kris, tak mungkin ia hadiri. Rossaline pasti tak akan mengizinkan. Tetapi sebelum hal itu terjadi. Ia akan memberitahukan kepada anak tunggalnya.
"Daddy tidak akan menghadiri pernikahan kalian. Kau tidak perlu menanyakan mengapa, karena kau tahu apa alasannya Baby FanFan. Daddy harap Yifan dan Yixing mengerti. Jika ada kekurangan dana atau hal apapun untuk pernikahan kalian. Hubungi daddy, nee? "
"Gomawo Dad.."
"terima kasih telah berkorban untuk Galaxy dan keluarga Kris. Daddy sangat bangga padamu.."
*Back to the Phone Lay with his mother in law
"Mma.. Ma?" Aku kepalang kaget bercampur senang juga sedih. Suara dengan oktav tinggi itu. Mertuaku. Ibu dari suamiku. Nyonya Wu . . .
To Be Continue
Akankah Rossaline mengenali suara Lay? Dan apakah Rossaline sudah berubah dan mau menerima Lay sebagai menantunya?
Akhirnya selesai juga Maaf banget buat temen-temen readers ff ini harus terlambat 2bulan aku gak bermaksud buat temen-temen nunggu atau apapun sungguh. Kerjaan aku 2bulan ini lagi numpuk banget belum lagi masalah2 di exo yang buat mood aku berkurang buat nulis. (u guys know what) *ehh jadi curhat heheheh. Tapi aku janji, next chapter aku bakal lebih cepet update
.7 : yaa kamu benar yeol umma hamil kkkkkkk. Hayoo coba tebak anaknya siapa? Wkwkwkk kai akan keluar setelah sehun keluar
Vanessa stacia juno : disini kray moment nya udah banyak=D Maap yaa Lay umma disiksa lagi aku suka lay kok beneran
NyekNyek : anaknya Lay itu Chinese line. Dan anaknya Yeol anggota exo-k:D Gimana? Bisa tebak:p thanks for review *hug
fanbaby90 : aku udah tunjukin childish nya fanfan disini. Kalo masih kurang greget, bilang yaa:p
Lulu Auren : Luluuuu maaf yaa update nya lama ia yeol mommy hamil. Kris daddy saying kedua nya kok. Yaa Cuma suka gitu, kris kadang suka lebay sama sebelah pihak. Dan kadang dia gak nyadar dengan sikapnya huff bad boy Kris : yang biking w bad boy, siapa thor? Author : bukan bad boy. Tapi bad teeth. *kabur heheheh
Askasufa : telinga lebar? Caplang yaa? Heheheh ia yeol rempong nya melebihi ibu2 pejabat:P apalagi kalau dia sudah hamil besar. Gak tau deh itu mansion jadi nya bakal kayak apa, baru sebulan aja udah ada rumah sakit berjalan didalamnya heheheh. Para medis maksudnya:P
XOXOKimCloud : emak hamil kok tenang aja^^ maaf yaaa untuk chapter ini aku publish nya lama banget. Jadi gak enak sungguh deh aku harap kamu gak lupa sama cerita selanjutnya. Untuk chap ini moment krisyeol nya dikit gak papa yaa? Bulan depan aku janji bakal banyakin momentnya krisyeol dan kray biar seimbang
Taotaoie : disini moment kraynya cukup banyak, bahkan yeol Cuma muncul diawal cerita hehehhehe. Mungkin bagi kamu pasti lay disiksa banget yaa disini huhuuuu mian yaaa. Tapi next chapter aku buat kedua main cast ini lay dan yeol sama2 happy. Jadi adil hehhee
Blendmelpoze : terima kasih pujiannya^^ ia si tonggos punya dua istri. Hahhaha boleh mel boleh:D tapi Tanya dedek cadel dulu yaaa, boleh apa enggak wkwkwkw. Maaf publish nya kelamaan:I semoga gak digolok sama Mel hehehehe
Ling-ling pandabear : ini lanjut^^
Nichan : makasih pujiannya^^ readers baru yaa salam kenal. Ia semoga next chapter aku usahain gak sampe dua bulan
Terimakasih untuk teman-teman readers. Tanpa review kalian Triangel in One Roof gak akan sampai sejauh ini temoga teman-teman suka dengan cerita yang saya buat *BOW 60DEGRESS
PS : aku pingin berteman lebih dekat dengan kalian semua kalau teman-teman mau, bisa mention aku di siwon504 thks
