[Chaptered]

Title : Haters

Chapter : 4 / ?

By : Gatsuaki Yuuji

Main Cast : Uzumaki Naruto & Uchiha Sasuke

Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu

Papiku.

Genre : Romance, Ngidol

BGM : AAA - Niji


Masih Naruto PoV


Kurang dari sebulan lagi, Blackheart akan mengadakan tour seJepang. Tour pertama dimulai di Tokyo, kota kami tercinta.

"Aku ingin kau datang ke konser kami", aku menyerahkan selembar tiket konser pada Sasu-chan.

"Hn! Terima kasih, Naruto-san!", Sasu-chan sangat senang menerima tiket itu, "Aku pasti akan datang!",

Rasanya ikut senang melihat Sasu-chan akan datang. Di konser nanti, kami akan membawakan lagu baru yang liriknya ditulis olehku. Saat membuat lirik itu, aku selalu membayangkan senyuman Sasu-chan yang begitu menawan.

Aku membelok? Tidak! Karena aku masih bisa tegang saat melihat wanita telanjang di situs porno.

Lalu? Mengapa aku terus memikirkan Sasu-chan? Entahlah. Aku sendiri belum menemukan jawaban untuk itu.


2 hari sebelum konser dimulai.

Karin mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke 33. Dia mengundang semua anggota Blackheart dan juga Sasu-chan. Sayangnya dari 4 anggota Blackheart, hanya aku yang bisa hadir. Yang lain tidak bisa hadir karena ada pekerjaan MC di acara yang berbeda dan hari yang sama. Ini keberuntungku karena aku bisa bertemu Sasu-chan tanpa diusik oleh Neji. Ahahaha... Saat Neji berkata bahwa dia tertarik pada Sasu-chan, saat itu pula Neji resmi menjadi sainganku.

"Naruto-san! Apa kabar?", Sasu-chan lebih dulu melihat dan menyapaku.

"Hai! Sasu-chan! Kabarku baik!", sahutku. Rasanya berbunga-bunga bisa melihatnya lagi.


Pesta ulang tahun Karin sungguh meriah dan juga dihadiri oleh pers. Sepertinya Karin sengaja mengundang pers untuk menyampaikan sesuatu.

Sambil menunggu, aku mengajak Sasu-chan untuk berselfie. Lalu mengupload foto tersebut ke akun sosial mediaku. Sekaligus, aku akan memamerkannya pada Neji.

Sedari tadi, aku terus mengikuti kemana Sasu-chan pergi. Jujur, aku kurang suka pergi ke pesta tanpa berpartner. Rasanya seperti anak hilang. Benar kan?

Sasu-chan juga tidak keberatan kuikuti, karena dia merasa canggung berbaur dengan artis lainnya.

"Kalian berpacaran kah?", tanya Tsunade-san, artis lawas yang masih eksis dan sexy.

"Ahahaha...", tawaku sambil sengaja merangkul pinggang ramping Sasu-chan, "Tidak",

Sasu-chan balas merangkul pundakku.

"Naruto-san adalah sahabat terbaikku", sambung Sasu-chan.

Ya. Aku adalah sahabat teeerrbaiknya!

"Berapa umurmu, Sasu-chan?", tanya Tsunade-san yang mulai kepo.

"20. 20 tahun. Umurku 20 tahun", jawab Sasu-chan.

Dia masih saja belum merubah gaya berbohongnya.

"Sungguh baby face", Tsunade-san mencubit pipi Sasu-chan dengan gemas.

Tsunade mulai membicarakan tentang keponakannya yang bernama Shion. Shion adalah salah satu anggota Cloud -idol group pendatang baru. Dari arah pembicaraan, Tsunade-san berniat mencomblangkan Shion dengan Sasu-chan. Sasu-chan yang masih tidak mengerti dengan kode yang diberikan Tsunade-san, hanya tersenyum menanggapi. Mungkin dia masih terlalu polos untuk menjurus ke hal berpacaran.

"Perhatian semuanya!", suara Karin yang terdengar dari speaker membuat kami mengalihkan perhatian ke atas mini panggung.

"Terima kasih atas kedatangan kalian semua! Love You!", Karin mengedip genit sambil memonyongkan bibir merahnya itu. Memberi ciuman jarak jauh kepada para hadirin.

Sebelum ke pokok informasi, terlebih dahulu Karin memberikan beberapa patah kalimat sambutan. Setelah itu Karin meminta seorang pria yang bernama Hozuki Suigetsu untuk naik ke mini panggung.

"Perkenalkan! Dia Hozuki Suigetsu! Kami telah bertunangan!", Karin dan pria itu memamerkan tangan kiri mereka yang tersemat cincin perak di jari manis.

Kilatan cahaya kamera terus menyala memotret sepasang sejoli di atas panggung.

"Minggu depan kami akan melangsungkan pernikahan", info Karin yang membuat para hadirin tercengang.

Wow! Kupikir selama ini dia tidak laku-laku, karena tidak pernah terdengar gosip tentang asmaranya. Tiba-tiba saja minggu depan sudah melangsungkan pernikahan.

"Ne, Sasu-chan. Idolamu...", aku berhenti berbicara ketika melihat Sasu-chan membatu menatap Karin. Sasu-chan pasti terkejut karena idolanya akan menikah. Dia patah hati. Dan aku harus segera menghiburnya.

"Kau baik-baik saja, Sasu-chan?",

"Aku baik-baik saja. Ya, aku baik-baik saja", jawabnya sambil tersenyum, tetapi pandangannya masih terfokus pada Karin.

"Kau tidak baik-baik saja, Sasu-chan",

Sasu-chan menunduk, menatap sepatunya.

"A, aku mau pulang", Sasu-chan langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkanku, tidak sengaja kakinya tersandung kabel. Tubuhnya limbung dan menabrak waitress yang sedang membawa senampan gelas-gelas berisi anggur.

PRaaaaNG

Nampan yang dibawa sang waitress terjatuh mengenai Sasu-chan. Semua perhatian terarah ke sumber suara pecahan kaca yang ditimbulkan oleh Sasu-chan. Rambut dan pakaian Sasu-chan basah terkena tumpahan anggur.

Sasu-chan hanya mematung saat sorotan dan kilatan kamera mengarah kepadanya. Kilatan yang begitu silau membuatnya mengangkat tangan kirinya untuk menghalangi cahaya kamera yang mengganggu penglihatannya.

Aku langsung melepas jas yang kukenakan dan menutupi kepalanya.

"Maaf, Sasu-chan! Aku tidak sengaja menyenggolmu!", ucapku dengan lantang agar mereka mendengarnya. Aku tidak suka Sasu-chan dipandang jelek, lebih baik aku saja.

"Na, Naruto-san...", lirih Sasu-chan dengan suara serak dan bergetar. Aku tahu pasti Sasu-chan sangat takut menghadapi situasi seperti ini.

"Kuantar kau pulang", aku langsung menggendongnya ala bridal. Tidak peduli pada sorotan dan kilatan kamera yang terus mengambil foto kami.

Aku yakin, moment ini akan menjadi hot news besok.


Aku membawa Sasu-chan ke hotel terdekat. Sasu-chan harus membersihkan diri dan mengganti pakaiannya yang basah.

Selesai mandi dan berganti piyama, aku menawarkan diri untuk mengeringkan rambut Sasu-chan dengan hairdryer.

"Aku sudah mengacaukan pesta Karin-san", lirih Sasu-chan sambil membenamkan wajahnya ke bantal yang dipeluknya.

"Tidak usah dipikirkan. Aku juga pernah mengacaukan pesta Karin", hiburku sambil menceritakan kejadian tahun lalu.

Tahun lalu, Karin membuat pesta untuk ulang tahunnya juga. Semua anggota Blackheart hadir. Karena terbawa suasana, aku menari-nari hingga menabrak kue ulang tahun yang tingginya 1 meter. Kue itu jatuh ke lantai beserta diriku.

"Ah~ Itu benar-benar memalukan", aku menyembunyikan wajahku ke dalam piyama. Rasanya malu sekali, jika diingat kembali. Fotoku yang belepotan kue juga tersebar di media online.

Sasu-chan menarik piyamaku, hingga kami saling bertatapan.

"Apa Karin-san marah?",

"Tidak. Dia malah berterimakasih karena aku sudah membuat pestanya heboh. Dia tidak kapok untuk mengundangku lagi",

Ya. Karin bilang, dia butuh badut untuk pestanya. Dan badut itu adalah aku.

"O, begitu. Kuharap Karin-san tidak membenciku", Sasu-chan tersenyum penuh harap.

"Karin tidak mungkin membencimu...", kutarik dagunya dan kudekatkan wajahku, "...karena kau begitu manis",

Bibir cherrynya yang basah dan menggodaku untuk mencicipinya.

"Naruto-san?",

Aku nyaris menciumnya, jika saja Sasu-chan tidak memanggilku.

"Ka, kau ingin makan atau minum sesuatu?", tanyaku sambil mengalihkan tatapanku ke sembarang arah. Aku malu bertatapan dengan Sasu-chan.

Apa yang aku lakukan tadi? Apa aku bermaksud untuk menciumnya? Tidak! Tidak! Aku hanya ingin melihatnya lebih dekat.

"Aku ingin sake",

"Sa, sake?",

"Hn",

"Kau masih di bawah umur",

"Kata orang, sake bisa membuatmu mabuk dan melupakan semua masalah",

"Itu hanya kata orang",

"Aku ingin membuktikannya", Sasu-chan menarik piyamaku, tatapannya membuatku tidak tega untuk menolaknya.

Sasu-chan sedang patah hati. Aku harus menghiburnya. Mungkin minum sake sambil curhat adalah cara terbaik. Lupakan bahwa Sasu-chan masih berumur belasan tahun.


Walaupun rasa dan bau sake yang tidak enak bagi Sasu-chan, dia tetap menghabiskannya. Itu karena dia selalu kalah saat bermain domino denganku. Aku tidak boleh kalah karena aku tidak mau terlalu banyak minum sake. Aku bukan tipe peminum seperti Kiba dan Neji. Baru 2 botol saja, aku sudah mabuk.

"Lanjut...ehehehe...", Sasu-chan baru saja selesai meneguk botol sakenya yang kelima. Aku tidak menyangka Sasu-chan kuat minum.

"Lanjut...lanjut...", wajah Sasu-chan telah memerah dan gerakan matanya menyayu, kepalanya naik-turun. Dia mulai mabuk, tapi dia masih belum mau menyudahinya.

Dengan pandangan minim, Sasu-chan memaksakan diri untuk membagikan beberapa lembar kartu.

"Ne, Naruto-san",

"Ya?",

"Mengapa aku selalu kalah?", tanyanya sambil memijit keningnya.

"Kau terlalu muda untuk mengalahkanku",

"Terlalu muda? Ehehehe...", cengirnya.

Tubuhnya terhempas jatuh ke ranjang. Lengan kirinya menutupi mata agar tidak silau, tangannya masih memegang kartu domino.

"Aku memang masih 16 tahun... Tapi mengapa aku masih 16 tahun?", dia mulai berbicara rancu.

"Karena umurmu memang segitu", jawabku yang ikut berbaring di sampingnya.

Sasu-chan tiba-tiba melempar bebas kartu domino yang dipegangnya itu.

"Aku bukan bocah. Umurku akan teeeeeruusss bertambah!",

Sasu-chan memang sudah mabuk. Aku hanya bisa diam mendengar ocehannya dan mengamati tingkahnya.

"Mengapa...kau menikah dengannya?", Sasu-chan tiba-tiba menangis. Kepalanya menoleh padaku, seolah-olah akulah lawan bicaranya. Aku tidak menyangka dia sesedih ini karena idolanya menikah. Karin adalah sosok idola yang paling disukainya atau bahkan dicintainya. Karin sungguh beruntung dicintai oleh Sasu-chan.

"Karena umurku sudah tua", jawabku yang beracting sebagai Karin. Aku geli sendiri mendengar jawabanku ini.

"Tidak bisakah kau...menungguku?", Sasu-chan mulai merayap dan menyandarkan kepalanya di dadaku. Menangis terisak sambil mencengkram piyamaku.

"Aku...tulus mencintaimu... Hiks...hiks...",

Lupakan saja dia, Sasu-chan. Kau masih bisa mencintaiku.

Sasu-chan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Airmatanya menetes mengenai pipiku.

"Tolong jangan menikah... Tunggu aku dewasa... Dan menikahlah denganku", pintanya penuh harap.

Aku tidak bisa lagi menahan diri. Kutekan kepalanya agar bibirnya menempel ke bibirku. Kucium bibir cherrynya yang manis dan memabukkan. Sasu-chan membalas ciumanku, membuka mulutnya, membiarkan lidahku masuk. Aku bisa mengecapi rasa sake di mulutnya.

Kudorong tubuhnya hingga posisinya di bawahku. Sambil terus berciuman, tanganku menyusup ke dalam piyamanya. Meraba-raba bagian sensitifnya.

"Uhuk..uhuk..", Sasu-chan tersedak membuatku menyudahi ciuman kami.

Sasu-chan terbatuk-batuk, lalu memuntahkan sake dari hidung dan mulutnya. Aku melepaskan piyama yang dikenakannya karena kotor. Lalu membaringkannya, menyiris rambutnya yang menutupi wajah, kemudian membungkus tubuhnya yang setengah bugil agar tidak kedinginan.

Aku ke kamar mandi untuk membasuh wajahku.

"Apa yang aku lakukan?", tanyaku pada bayanganku yang terpantul di cermin.

Jika Sasu-chan tidak muntah, mungkin saja aku sudah...

"Tidak! Tidak! Ini pasti pengaruh sake!", aku kembali membasuh wajahku lagi.


Aku terbangun karena ada yang menendangku jatuh dari ranjang. Ternyata pelakunya adalah Sasu-chan. Sasu-chan masih asyik tidur. Posisi tidurnya menguasai ranjang, sehingga aku tertendang jatuh.

"Hoam~", Aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 siang. Perasaan, aku baru saja tidur.

"Mmm~", terdengar suara gumanan tidak jelas dari mulut Sasu-chan.

Aku menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. Matanya saat tertidur tidak pernah terpejam rapat. Bibir itu bergerak seperti sedang mengunyah sesuatu.

"Uhuk...uhuk...", dia tiba-tiba tersedak dan terbangun.

Aku segera mengambil segelas air untuknya.

"Minumlah, Sasu-chan",

Sasu-chan langsung meneguk habis air yang kuberi. Pandangannya mulai melirik ke sekitarnya.

"Dimana ini?",

"Kita di hotel",

"Hotel?", Sasu-chan menunduk dan melihat tubuh bagian atasnya tidak berpakaian, "A, apa yang terjadi?",

"Piayamu kotor terkena muntahanmu saat mabuk",

"Mabuk?", Sasu-chan memijit keningnya, "Ah! Aku kalah taruhan dan menghabiskan beberapa botol sake...ehehehe...",

Sasu-chan kembali berbaring di ranjang, menatap langit-langit sambil memikirkan sesuatu.

"Apa aku melakukan hal yang aneh-aneh?",

"A...itu...", aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku mencium dan meraba-rabanya?

"Kau menyanyikan lagu Sailor Moon sambil bergaya seperti mereka", bohongku.

"Benarkah? Aku semabuk itu?", Sasu-chan menutup wajahnya dengan bantal, dia tampak malu membayangkannya.

"Lain kali, jangan minum sake lagi ya!",

"Hn. Aku kapok",


Setelah berpisah dengan Sasu-chan, aku kembali ke dorm untuk ganti pakaian. Setelah itu, langsung tancap gas ke gedung tempat kami konser besok.

"Kau kemana saja? Ponselmu tidak bisa dihubungi", tanya Shika.

"Ada sedikit urusan",

"Kau sudah baca berita hari ini?",

"Belum",

Shika mengeluar ponselnya dan menunjukkan halaman website utama.

"Kehebohan di pesta ulang tahun Karin", Shika membacakan judul besar berita.

Sudah kuduga, berita ini akan heboh. Pernikahan Karin yang tiba-tiba ditambah dengan kekacauan yang aku buat.

"Kau membuat kekacauan lagi", ucap Shika menunjukkan foto diriku yang sedang menggendong Sasu-chan.

"Tapi, aku keren kan?", memang narsis, tapi aku sungguh keren lho di foto itu!

Shika memberiku saran agar jangan terlalu dekat dengan Sasu-chan, karena fans fanatikku sangat membenci Sasu-chan. Meskipun mereka tahu bahwa Sasu-chan itu laki-laki, mereka tetap tidak suka. Mereka mengatakan bahwa Sasu-chan itu aji mumpung, parasit yang menempeliku untuk meraih ketenaran. Rasanya sedih memiliki fans berpikiran sempit seperti itu.


Konser tour di Tokyo baru saja selesai.

Selama konser berlangsung, aku terus mencari sosok Sasu-chan di tengah kerumunan fans. Tapi aku tidak menemukan sosok manis berambut hitam panjang itu. Padahal aku ingin menyanyikan lagu baru kami di hadapan Sasu-chan. Dalam menciptakan lagu ini, sosok yang ada di otakku hanyalah Sasu-chan bukan gadis lain.

Sasu-chan tidak datang hari ini. Ponselnya juga tidak aktiv dari kemarin. Sehari tidak mendengar kabarnya, membuatku uring-uringan. Apa dia membaca komentar para haters, sehingga dia menjadi down lagi?

Segera kuambil ponselku untuk menghubungi Sasu-chan lagi.

Tuut TuuuT TuuuT

"Hallo?", akhirnya diangkat juga.

"Sasu-chan, kau baik-baik saja?",

"Hn. Aku baik-baik saja",

"Kau dimana sekarang?",

"Aku di belakangmu",

Segera aku membalik badanku. Tampak sesosok laki-laki berambut pendek dengan model pantat ayam yang sedang memeluk 1 pot bunga matahari.

"Naruto-san!", sapa laki-laki itu sambil memasukkan ponsel ke saku celananya. Aku mengenali suara itu.

"Sa, Sasu-chan?",

"Hn! Ini aku", dia tersenyum semanis Sasu-chan.

"Heh?! Kau benar-benar Sasu-chan?",

"Hn! Aku memotong rambutku. Apa aku terlihat aneh?", dia memalingkan kepalanya, menunjukkan sisi belakang rambutnya yang dipangkas pendek.

"Ti, tidak. Kau terlihat lebih...laki-laki...",

"Aku memang laki-laki", dia memberikan 1 pot bunga matahari yang dibawanya padaku, "Aku menikmati semua lagu-lagu kalian tadi. Sangat senang bisa menghadiri konser ini. Terima kasih telah mengundangku",

Sasu-chan datang, tapi aku tidak melihatnya. Mungkin karena dia mengubah penampilannya. Sayang sekali~

"Terima kasih sudah datang", aku memberinya pelukan sebagai rasa terima kasihku atas kehadirannya dan juga 1 pot bunga matahari ini.

Untuk mengabadikan moment ini, aku mengajak Sasu-chan untuk berfoto dan mengupload foto kami ke sosial media.

Semoga saja, haters sadar bahwa laki-laki semanis Sasu-chan tidak layak dibenci.


Hari pernikahan Karinpun tiba. Resepsi pernikahan yang sangat meriah dan mewah. Banyak sekali selebritis yang hadir di sini. Saking ramainya, aku bahkan tidak menemukan keberadaan Sasu-chan.

"Mungkin dia belum datang. Atau dia tidak datang?" pikirku.

"Kau mencari Sasu-chan?" Tiba-tiba saja Karin sudah ada di sampingku.

"Tidak," jawabku singkat.

"Sasu-chan sedang bersama Sui di ruang mempelai pria. Mungkin mereka sedang membicarakan bisnis."

Karin bilang, dulu Sasu-chan pernah di kontrak oleh perusahaan suaminya. Aku baru tahu itu.

"Jika kau mau ke sana, katakan pada Sui untuk segera turun ya!" Karin pergi menyapa teman-teman lainnya.

Aku melangkah pergi ke ruangan tempat Sasu-chan berada.


Saat aku tiba di sana, aku berpapasan dengan Sasu-chan dan Suigetsu yang baru saja keluar ruangan.

"Sasu-chan! Kau di sini ternyata!"

"Naruto-san!" Sasu-chan membungkuk hormat padaku. Sikapnya terlalu formal.

Suigetsu membisikkan sesuatu pada Sasu-chan, kemudian dia berpamitan pada kami. Raut wajah Sasu-chan tampak sedih menatap punggung Suigetsu.

"Apa yang dia katakan?" tanyaku penasaran.

"Sui-san bilang, Naruto-san lebih baik daripada dirinya," jawab Sasu-chan yang membuat air matanya tiba-tiba keluar. "Aku...harus bisa melupakannya..."

Perkataan Sasu-chan menyadarkanku bahwa, Sasu-chan itu gay.


Terputus


Pendek ya ternyata.

Review please. (+﹏+)