Declaimer Always Mashasi Kishimoto

But, this story and some weird words always be mine.

WARNING : OOC, AU, Fantasy, ETC.

Genre : Advanture, Fantasy, Romance, Friendship, Humor, etc etc.

Rate : T+

Pair : SasuSaku

Book One : Destiny We Choose.

By Selenavella

.

CHAPTER IV

.

Jika di bilang bersyukur, tentu saja Sakura bersyukur bisa berpasangan dengan Sasuke. Yah, walaupun ia tahu jika melihat wajah lelaki di sampingnya ini ia tahu bahwa suasana hati Sasuke berkebalikan dengan dirinya. Wajah lelaki itu terlihat seperti mengatakan ia lebih baik di makan oleh Cerberus peliharaan Tsunade di bandingkan berdiri di sini bersama Sakura.

Ketiga orang itu –Tsunade dan Sakura bersama Sasuke, tengah berada di ruang wanita berambut pirang itu. Sementara Sasuke dan Tsunade tengah menatap satu sama lain dengan pandangan membunuh, Sakura malah menatap langit di luar jendela dengan bosan.

'Jika pandangan bisa membunuh, mereka berdua pasti sudah terkapar tak berdaya dari tadi,' ujarnya dengan bosan.

Ia sudah berada di ruangan ini sejak 1 jam yang lalu, dan tak ada keputusan yang di hasilkan! Ia lalu menoleh memandangi Sasuke dan Tsunade yang saling melempar argumen dan tatapan mematikan satu sama lain. Hell, ia harus mencari jalan keluar agar pembicaraan ini cepat berakhir!

"Tidak."

Yap, pernyataan penolakan itu jelas menjengkelkan Ibu angkat dari Sakura itu.

"Dengan alasan?"

"Sudah kukatakan ratusan kali. Dia."

Dan dua pasang mata itu menatap Sasuke, sementara tatapan Tsunade lebih pantas di sebut tatapan membunuh, Sakura justru menatap Sasuke geli. Merasa di perhatikan kedua orang itu, Sasuke menatap mereka berdua bergantian.

"Hn."

"KAU MENOLAK GARA-GARA HAL SESEPELE ITU! KAU INGIN AKU BUNUH UCHIHA SASUKE?" suara Tsunade menggelegar terdengar hingga meja kerja Shizune –asistennya.

"Itu akan melanggar hukum," Sasuke menatap datar Tsunade.

"KAU BERANI-BERANINYAAAAAAAAAAAAA!"

Nyaris saja Tsunade mencekik leher Rhean jenius itu, namun langkahnya terhenti begitu mendengar suara kikikan dari anak angkatnya itu. Mengapa ia marah? Tentu saja karena si brengsek Uchiha ini telah menghina anak angkatnya! Memangnya apa salahnya dengan Sakura! Ia tahu jelas bahwa gadis ini nyaris di kejar-kejar oleh populasi laki-laki seisi Damasquile, dan lelaki ini menolaknya mentah-mentah? Dasar bocah tak tahu di untung!

"Ya ampun, kalian lucu sekali," Sakura tertawa terbahak-bahak kali ini. "Ibu itu sudah tua, masih saja melayani bocah macam Sasuke."

Mendengar dirinya di sebut bocah, Sasuke mengerutkan alisnya. Tidak pernah seumur-umur ia di panggil bocah. "Kau mengataiku bocah?"

"Kau tahu," Sakura menopang wajahnya dengan tangan kanannya di kursi tamu ruangan Tsunade, ia menoleh menghadap Sasuke. Ia menyeringai. "Kau menolak mengikuti tradisi hanya karena alasan pribadi bukankah kau sama dengan seorang bocah? Egois. Tidak profesional, mencampurkan urusan pribadi dengan urusan sekolah."

"…"

"Dan, kau menolak gara-gara aku? Gara-gara aku? Wah, suatu kehormatan!" Sakura tertawa kecil. Ia menatap Sasuke dengan datar. "Kau Uchiha paling buruk tahu, satu-satunya keluarga Uchiha yang tidak menjadi perwakilan Rhean."

"Jaga –"

"Ayahmu pasti nanti kecewa ya? Ah, bagaimana dengan pandangan orang-orang? Seseorang seperti Uchiha Sasuke yang katanya sempurna itu bahkan tidak pernah menjadi pembuka acara Zleats Ball! Aku –"

"Baiklah," pemuda itu memotongnya.

"Baiklah apa?" tanya Sakura dengan senyum jahilnya. "Bicara dengan jelas tuan muda."

"Aku akan mendampingimu," Sasuke berkata dengan dingin.

Di luarnya mungkin Sakura hanya tersenyum manis. Tapi, dalam dirinya Sakura tertawa terbahak-bahak. Ia tahu jelas bahwa kelemahan Sasuke adalah public humilitation. Dan harga dirinya itu nomer satu! Hanya dengan sedikit dorongan, ia bisa membuat Sasuke menjadi pasangannya secara resmi di acara Zleats Ball.

Target terkena perangkapnya!

"Baguslah."

Yep, ia menang bukan pada akhirnya.

.

.

"Kau menyetujui untuk bersama Sakura? Kau itu sudah jatuh cinta padanya?" bisik Naruto.

Kelas sejarah sihir tentulah sangat membosankan keduanya. Sasuke dan Naruto duduk di bangku paling belakang. Dengan kursi yang saling berdampingan mereka dengan mudah mengobrol satu sama lain. Dengan berbisik-bisik tentunya. Mereka membicarakan Gai, guru mereka pada pelajaran sebelumnya. Cih, Gai yang merupakan guru kesayangan Lee itu merupakan guru paling menyebalkan. Jika guru lain menyuruh memberi detensi di dalam ruangan, maka Gai akan memilih detensi di luar ruangan. Dan waktunya saat tengah hari dimana matahari benar-benar membakar kulit kalian.

Alasan?

"Karena dengan itu mereka bisa membakar gairah masa mudanya dengan matahari yang bersinar cerah sebagai latar belakang! Matahari akan semakin membakar semangat masa muda mereka! HA HA HA!"

Persetan dengan masa muda sialan itu. Yang ada mereka semua akan terbakar dan akan menjadi barbeque panggang –kecuali Lee yang akan dengan senang hati melaksanakan tugas itu.

"Berisik." Sasuke mencatat sambil mendengarkan celotehan Naruto. Ia sedang tidak berniat mencari-cari detensi.

"Tapikan kau pergi ke Zleats Ball dengan dia!" Naruto nyaris berteriak saking senangnya. Akhirnya, ia bisa melihat Sasuke bersama dengan wanita juga. Setelah lama berpikiran macam-macam bahwa Sasuke mungkin aja menyukainya, namun kali ini ia bahagia! Ini berarti Sasuke adalah orang normal! Yeay! "Kau pasti suka! Atau malah sudah pacaran ya!"

Cih, Naruto membuatnya teringat kembali kepada gadis itu.

Ia tidak mengerti apa yang merasukinya sehingga ia bersikap sebodoh itu! Harusnya ia menolaknya mentah-mentah. Pikiran macam apa yang membuatnya setuju sih?

Oh ya, ia lupa. Alasannya tentu karena gadis itu begitu mudah memperdayanya.

Dasar, iblis kecil sialan.

"Pergi bersama bukan berarti berpacaran baka," gerutu Sasuke.

"Tapi itu sama dengan berkencan."

"Tidak. Aku –"

"Uchiha… Uzumaki…"

Sasuke memukul dahinya pelan, ia menggeram pelan.

Sialan.

BRUUUUUUK! BRUUUUK!

Buku setebal 10 cm itu dengan sukses menghantam masing-masing kepala Sasuke dan Naruto. Sementara Naruto berteriak kesakitan, Sasuke hanya mampu mengelus kepalanya. Mau tidak mau ia harus mengakui bahwa pukulan telak Asuma pada kepalanya memang menyakitkan –bukan sekedar cukup menyakitkan, tapi jika ia mengaduh kencang seperti Naruto…

Harga dirinya tidak mengijinkan.

"Detensi, pulang sekolah. Ruangan Nona Tsunade."

Sudah kukatakan, bersama Naruto hanya membawa ketidak beruntungan pada Sasuke.

.

.

Sasuke berjalan sendirian di lorong menuju ruangan Nona Tsunade. Ia mendecih saat mengingat sejak pelajaran Gai, Naruto memulai aksi diamnya. Katanya ia marah karena Sasuke ia di hukum oleh Gai, jadi ia tidak akan berbicara pada Sasuke.

Hn, mana tahan ia mendiamkan Sasuke.

Si bodoh itu seingatnya, sewaktu terakhir kali Naruto mengancam begitu, tidak lama pemuda berambut kuning itu langsung memohon-mohon agar Sasuke berbicara dengannya lagi. Jadi siapa yang butuh siapa di sini sih? Menyebalkan.

Tok tok tok.

"Masuk!"

Sasuke membuka pintu ruangan Tsunade itu. Ia merenyitkan alisnya ketika mandapati dua pasang mata yang menatapnya. Wanita yang memiliki 1001 cara untuk memberi detensi pada muridnya itu terlihat tidak begitu senang. Ia menyuruh Sasuke masuk dengan menggerakan jari-jarinya kearah itu.

"Ada apa kau di sini?"

"Guru Gai menyuruhku untuk datang kemari, detensi," Sasuke lalu melirik ke sekeliling ruangan itu. "Naruto mana?"

"Dia sudah kuberikan detensi duluan, oh ya Uchiha…," tiba-tiba saja bibir berwarna merah itu melengkung ke atas membentuk seringai.

Dan, entah mengapa ia tidak menyukai seringai itu. Tipe seringai, dimana kau akan menyuruh orang lain melakukan sebuah ide jahat yang kejam yang ingin kau kerjakan. Nona Tsunade memang memiliki senyuman licik paling menyeramkan.

"Kebetulan," Tsunade lalu mencari-cari sesuatu di lacinya. Sebuah kertas kusut ia sodorkan pada Sasuke. Sasuke merasa ragu sesaat sebelum mengambil kertas itu dari Tsunade.

"Apa ini?"

"Itu detensi untukmu."

"Hn?" Sasuke menatap Tsunade meminta penjelasan.

"Pergilah ke desa, temani Sakura mencoba kue-kue untuk Zleats Balll," Tsunade melemparkan senyum manis –senyum mengerikan yang mengandung sejuta arti. "Dan antar kembali pulang kemari dengan selamat."

"…"

"Itu hukuman khusus untukmu Uchiha tampan," sebuah senyuman menyebalkan seolah-olah terbentuk secara permanen di bibirnya.

"…"

"Selamat bersenang-senang!"

.

.

.

"Benar-benar tidak apa-apa?"

"Hn."

"Benaaaaaaaaaaaaaar?"

"Sekali lagi kau berbicara, kuturunkan kau di sini."

Sakura tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman Sasuke. Mobil Slovoriesky hitam Sasuke yang atapnya sengaja di bukakan itu membuat rambut Sakura berantakan, ia merapikan rambutnya –walaupun tahu itu tidak ada gunanya.

"Sudahlah, jangan cemberut begitu. Hari ini cuacanya cerah, tersenyumlah! Nanti kau akan makin tampan."

"…"

"Ya ampun, baiklah Tuan Muda!" Sakura menyisir rambutnya dengan jari. Ia lalu berdiri di atas jok sehingga setengah tubuhnya tertiup angin karena tidak tertutupi kaca. "Wuuuu, udaranya segar sekali sih!"

Perjalanan dari Damasquile menuju Desa memang cukup jauh, memakan waktu 45 menit biasanya. Namun, jika Sasuke ia bisa mempersingkatnya menjadi 20 menit saja. Salahkan kemampuannya untuk memacu mobil dalam kecepatan tinggi. Jalanan yang di penuhi pohon pinus membuat udara makin terasa sejuk, padahal matahari tengah bersinar terang.

Udara yang masih terasa bersih memenuhi rongga paru-paru Sakura. Gadis itu tersenyum puas. Ia memang paling menyukai bau hutan yang segar. Dan, hutan pinus ini masih memiliki kandungan udara yang cukup bersih.

"Waaa, rasanya sudah lama aku tidak ke desa."

"…"

"Dan, aku kangen dengan orang-orang di sana!"

"…"

"Padahal minggu lalu mereka sedang mengadakan festival panen. Harusnya aku datang saja! Huh, tahu begitukan aku bisa ikutan!"

"…"

"Kudengar Nenek Chiyo sakit. Padahal, terakhir kali aku mengunjunginya rasanya dia baik-baik saja."

Sasuke mungkin diam saja dari tadi, Sakura tahu walaupun Sasuke tidak memandanginya atau menyahutinya, ia tahu Sasuke mendengarkannya. Sasuke jelas memiliki 2 kuping, dan dia tidak tuli. Jadi, Sasuke jelas masih mendengarkannya.

Setidaknya, Sasuke masih memiliki hati untuk tidak menyuruh gadis ini diam.

Sakura lalu mendudukan dirinya kembali di kursi. Ia mengambil jas Damasquile dan kembali memakai jas itu dengan cepat. Mata hijaunya lalu melirik ke arah Sasuke.

"Hey Sasuke."

"Hn."

"Boleh tidak aku bertanya?"

"Kalau aku bilang tidakpun kau akan tetap bertanya bukan," ujar Sasuke seraya memutar iris hitam matanya.

"Iya sih," Sakura tertawa pelan. "Tapi kau jangan marah ya!"

"Aa."

"Hmmh, pinky promise?" Sakura mengulurkan kelingkingnya kearah Sasuke. "Hm?"

"Aku sedang menyetir bodoh."

"Jangan mengataiku bodoh Uchiha!" Sakura mendengus. Tapi, toh ia tetap melanjutkan pertanyaannya. "Janji jari manis dulu Sasuke!"

"Ya," Sasuke bergumam 'kekanakan' dengan pelan, ia mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Sakura, dengan cepat ia menarik jarinya kembali, lalu pemuda itu kembali memasang wajah datarnya lagi.

"Hmmh, aku yakin sekali kau akan marah jika aku menanyakan hal ini."

"Kalau begitu jangan di tanyakan."

"Tapi aku penasaran!"

"…"

"Hmmh, apa kau itu…" Sakura menghela nafasnya, lalu ia menelan ludahnya. "Gay? –ADUUUUUUUH!"

BRUUUUUUUK!

Mobil yang tiba-tiba saja mengerem mendadak itu membuat kepala Sakura terbentur dashboard mobil Sasuke. Ia mengusap kepalanya cepat-cepat, kepalanya terbentur cukup keras dan itu membuat dirinya khawatir jidatnya akan di hiasi benjolan berwarna.

"Jangan macam-macam kau!" suara Sasuke yang menggelegar terdengar mengancam. "Apa aku terlihat seperti gay?"

Mobil milik Uchiha Sasuke kembali melaju, namun kali ini dengan kecepatan lebih pelan.

"Sedikit?" Sakura buru-buru meralat perkataannya saat melihat delikan Sasuke, "–maksudku tidak! Tapi iya sih…, duh bagaimana ya menjelaskannya… Ummh, kau sedikitttttttt terlihat gay. Sedikittt serius!"

"…"

"Habisnyakan kau itu tidak pernah pacaran, dan kau itu selalu bersama Naruto! Orang mana coba yang tidak heran hah? Dan, kau tidak terlihat seperti memiliki ketertarian pada cewek! Dan, aku yakin kau pasti punya bulu dada!"

"Kau mau melihat dadaku?"

"Bu-bukan itu maksudku!" pekik Sakura panik dengan wajah yang memerah. "Ma-maksudku –"

"Wajahmu memerah."

"Tidak memerah kok!" Sakura nyaris berteriak. Ia mendengus lalu menaruh kedua tangannya di depan dadanya. "Kau merusak moodku Uchiha!"

"Harusnya akukan yang marah," Sasuke menyeringai menyebalkan.

"Berisik!"

Slovoriesky milik Sasuke lalu kembali berjalan, namun keadaan lebih hening dibandingkan tadi –tentu saja karena Sakura mendadak mogok bicara. Mereka melewati gerbang bertuliskan village, setelah beberapa pemeriksaan mereka masuk juga ke dalam desa itu.

"Hn, kita sampai."

Mata Sakura melebar, dia lalu tersenyum lebar seolah-olah lupa akan rajukannya pada Sasuke. Kalau di perhatikan ada kilauan di mata Sakura. "Yeaaay! Keiv Village! I'm commingggggggggggg!

'Kekanakan sekali,' batin Sasuke.

.

.

Author Note's :

Hohoho halooo! Selamat 3 tahunan di ffn selenavella! #tebarbunga #confeti #tiuplilindikue #APASIH! =))

Akhirnya yaaa, saya bisa sampai di angka 3 ini! Semoga saya masih bisa berkarya seterusnya ya amin-amin-amin! HIDUP SASUSAKU! #Ditabok.

Wakakakaka, intinya sudah deh! Mohon review ini dan btw saya baru ngeluarin 2 O.S yang baru loh, cek story list ya! #promosi

SPECIAL THANK'S :

YashiUchiHatake ; eL-yuMiichan ; sami haruchi 2 ; Yoo-chan ; gin Kazaha ; Feraz ; skyesphantom ; Ruru ; Bunga Sakura ; nadialovely ; akasuna no ei-chan ; UzuKyu Huri-chan ; Baka Iya SS ; salsalala ; ; Amabella Caltha ; gita zahra ; ; richan ; alisya-chan ; anggraini

Akhir kata… Salam cinta dan tolong review! ^.^

.

.

.

Selena.