Chapter 4
Hari-hari berlalu dengan cepat. Tanpa Lucy sadari, hari Sabtu sudah tiba. Lucy bangun lebih cepat dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ia mengenakan seragam olahraga dan mengikat rambutnya. Selesai sarapan, Lucy melangkah ke sekolah dengan cepat.
"Akhirnya hari ini datang juga."
Hari Sabtu selalu dimulai dengan kegiatan senam pagi atau jalan santai. Setelah itu, kegiatan belajar mengajar dimulai.
"Ada apa, Lucy?" tanya Levy seusai senam, "Kelihatannya hari ini kau ceria sekali?"
Lucy meneguk minumannya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Levy, "Hmm...hari ini aku akan bersenang-senang."
"Bersenang-senang? Apa maksudnya?" Sebelum Lucy menjawab, Levy sudah menerka-nerka sendiri jawabannya, "Oh, aku tahu. Jangan-jangan hari ini kau berniat mengunjungi toko buku yang baru buka di mall? Atau...Ah! Pasti kau bermaksud menghadiri acara meet & greet bersama Will Neville, penulis novel terkenal Key of the Starry Heavens?!"
Lucy tertawa mendengar penuturan Lucy. Yah, dia akui semua kegiatan yang disebutkan Levy itu menyenangkan. Tapi, hari ini dia akan melakukan sesuatu yang sudah ia impikan sejak dua tahun terakhir.
"Tebakanmu salah semua, Levy. Kalaupun iya, sudah pasti aku akan mengajakmu."
"Lalu apa?"
"Nanti saja kuceritakan, saat istirahat. Sebentar lagi pelajaran dimulai, kita harus bersiap-siap." Lucy mulai mengeluarkan kotak pensil dan buku-buku pelajarannya.
Pelajaran pertama adalah bahasa Jerman. Sesuai janji Bu Evergreen (anak-anak di kelas ini memanggilnya Frau Evergreen) minggu lalu, hari ini mereka akan memperkenalkan diri dalam bahasa Jerman di depan kelas. Frau Evergreen memanggil muridnya secara acak, tidak berdasarkan urutan absen. Siapa yang namanya disebut, itulah yang maju ke depan. Lucy menunggu giliran di bangkunya dengan gelisah. Berulang kali ia menggumamkan teks yang sudah dibuatnya di buku tulis, berusaha menghafalkannya. Lucy khawatir akan lupa apa yang harus ia katakan karena gugup.
Satu-persatu teman-temannya maju ke depan kelas dan memperkenalkan diri. Erza dan Levy sudah dipanggil di awal pelajaran.
"Lucy Heartfilia!"
Jantung Lucy terasa melompat keluar saat namanya disebut. Dengan langkah sedikit gemetar, ia melangkah ke depan kelas. Berpasang-pasang mata menatapnya. Lucy menarik nafas dan mengembuskannya, berusaha menghilangkan rasa gugup.
"Sudah siap?" tanya Frau Evergreen. Lucy mengangguk dan memulai perkenalan dengan sapaan, "Guten Morgen!"
"Morgen!" sahut murid-murid seisi kelas.
"Mein Name ist Lucy Heartfilia. Ich bin 15 Jahre alt. Ich komme aus Magnolia..."
Selanjutnya apa lagi, ya?
"...I-Ich wohne in Magnolia. Ich bin Schülerin. Danke!"
Syukurlah, Lucy bisa mengingatnya.
"Sehr gut. Silahkan duduk kembali."
Seisi kelas bertepuk tangan. Lucy kembali ke bangkunya dengan langkah ringan, seolah-olah beban berat telah hilang. Hingga jam pelajaran berakhir, ada sebagian kecil murid yang belum mendapat kesempatan maju ke depan kelas. Mereka akan memperkenalkan diri pada pertemuan berikutnya.
Waktu istirahat tiba, sesuai janjinya tadi pagi, Lucy menceritakan rencananya hari ini pada Levy.
"Benarkah itu?" tanya Levy, memastikan, "Itu artinya JC baru benar-benar dimulai hari ini?"
"Ya, benar sekali. Menyenangkan bukan, bisa melakukan kegiatan klub bersama teman-temanmu."
"Pantas saja belakangan ini kau terlihat akrab dengan Erza. Kalau begitu, apa mungkin ini ada hubungannya dengan desas-desus itu?"
"Hah? Desas-desus apa?"
"Kau belum tahu? Belakangan guru-guru melihat banyak orang tak dikenal berkeliaran di belakang sekolah. Tidak banyak murid yang tahu karena mereka datang di sore hari. Pernah, suatu sore ada seorang wanita muda yang ditanya keperluannya oleh salah satu guru, katanya ia mau menjemputmu. Nah, apakah kamu tahu siapa kira-kira orang itu?"
"Eh...mungkin...orang itu suruhan ayahku. Kau tahu, kan, kadang-kadang ayahku menyuruh bawahannya untuk menjemputku."
"Bisa jadi. Tapi waktu itu kan, kamu pulang seperti biasanya. Untuk apa ayahmu menyuruh orang asing menjemput putrinya yang sudah pulang? Kenapa tidak menyuruh Capricorn saja?"
"Errr...aku tidak tahu, mungkin ayahku lupa. Nanti biar kutanyakan padanya."
Tidak, semua yang dikatakan Lucy hanyalah karangan semata. Sebagian besar kata-katanya adalah kebohongan. Demi menyiapkan sebuah kejutan.
"Maafkan aku, Levy." Lucy merasa bersalah karena membohongi sahabatnya, "Aku janji akan segera menceritakan hal yang sebenarnya."
Pelajaran kedua sekaligus pelajaran terakhir hari ini dimulai. Prakarya. Pak Reedus, guru prakarya, menuliskan alat dan bahan serta langkah-langkah membuat bubur kertas. Mereka akan praktek membuat kerajinan dari bubur kertas yang dibentuk. Lucy tidak begitu memperhatikan penjelasan dari gurunya. Selain karena ia tidak menyukai pelajaran prakarya, Lucy lebih fokus memikirkan apa yang akan ia lakukan sepulang sekolah.
Akhirnya, bel tanda waktu pulang berbunyi. Lucy menarik nafas lega.
"Pelajaran kita akhiri sampai disini. Jangan lupa membawa bahan-bahan yang diperlukan minggu depan." pesan Pak Reedus sebelum meninggalkan kelas.
Setelah berpamitan dengan Levy, Lucy melangkah meninggalkan kelas dengan terburu-buru. Langkahnya terhenti karena Erza memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Lucy.
"Maukah kau pergi ke ruang klub bersamaku?"
"Maaf, untuk sekali ini aku harus duluan. Ada kejutan untuk kalian. Erza, bisakah kau mengajak Natsu dan Gray bersamamu? Hari ini Gray ada tugas piket, kan? Sebaiknya kalian pergi bersama-sama."
"Baiklah, aku akan pergi bersama mereka. Aku ingin tahu, kejutan apa yang kau siapkan." Erza pun berlalu.
Lagi-lagi Lucy berlari menuju ruang klub. Ia nyaris menabrak orang lain, tapi ia tetap tidak peduli.
Sesampainya di depan ruang klub, Lucy mengeluarkan sebuah kunci dari kantong roknya. Ia segera memasukkannya ke lubang kunci dan memutarnya. Pintu langsung terbuka.
Lucy tersenyum puas. Sekarang, ia tinggal menunggu teman-temannya.
.
.
.
"Maaf lama menunggu." Gray menghampiri Erza dan Natsu di kantin.
"Lama? Menurutku kau terlalu cepat. Kau yakin kau benar-benar piket?" tanya Erza ragu.
Gray menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Yah, sebenarnya mendengar Lucy menyiapkan kejutan untuk kita, aku berusaha menyelesaikan tugasku secepatnya."
"Ya sudah, ayo cepat. Lucy sudah menunggu kita." Natsu mengajak mereka meninggalkan kantin. Dari kantin, mereka hanya perlu melewati UKS, berjalan sebentar, lalu melewati perpustakaan. Setelah melewati pintu kaca, yang berarti pintu untuk ke luar sekolah dari belakang, mereka berlari melewati halaman belakang dan sampailah di ruang klub.
"Lucy!" Gray yang pertama masuk. Ia membukakan pintu untuk Natsu dan Erza. Ketiganya terperangah ketika melihat ruangan klub mereka. Ruangan itu benar-benar berbeda.
"Hei...kita tidak salah masuk, kan?" Natsu sontak keluar ruangan, memastikan mereka masuk ke ruangan yang benar.
"Tidak, aku yakin...ini memang...ruang klub kita." Meski berkata begitu, Gray terdengar ragu.
"Ini...bagus sekali." Erza terpukau.
Ruangan JC yang dulu nampak luas dan terkesan minim perabotan kini tampak lebih nyaman. Hampir seluruh lantai tertutupi karpet, ada beberapa bantal besar ditumpuk di sudut ruangan. Oh, jangan lupakan kulkas mini di sudut lainnya. Ketika Natsu, Gray, dan Erza masuk, mereka disambut dengan sofa biru yang nampak mahal. Di depan sofa itu ada meja yang ditutupi taplak meja hijau muda. Natsu menghitung ada tiga rak buku besar yang masih kosong di sekitar sofa dan meja itu. Dua di depan meja, dan satu di samping sofa.
Dan dimana meja dan kursi yang selama ini mereka gunakan? Tidak ada. Sebagai gantinya, ada empat buah meja kayu dengan bentuk dan ukiran rumit pada kaki-kakinya. Keempat meja itu digabung hingga terlihat seperti satu meja besar. Di sekelilingnya, ada enam kursi dengan bantalan dan sandaran berwarna biru.
"Tunggu dulu, rasanya aku pernah lihat ruangan yang mirip seperti ini?" ucapan Erza langsung membuat Natsu dan Gray menoleh, menghentikan kekaguman mereka.
"Ah, apa kau mengalami yang namanya di...dija vu?" tanya Natsu.
"Yang benar deja vu!" ralat Gray sambil memukul kepala Natsu gemas.
"Hai, semuanya! Selamat datang di Japanese Club yang baru! Youkoso!" Tiba-tiba Lucy muncul dari belakang dan mengejutkan semuanya. Ia menenteng tas kertas berisi kue brownies keju.
"LUCY!" Ketiga temannya menyebut namanya serempak.
"Hei, apa-apaan ini?"
"Sejak kapan ruang klub menjadi seperti ini? Tapi, aku lebih suka yang begini, sih."
"Bagaimana kau bisa menyiapkan semua ini?"
"Maa, maa, tenanglah." Lucy kewalahan menghadapi hujan pertanyaan dari teman-temannya, "Lebih baik sekarang kita duduk dulu. Akan kujelaskan semuanya."
Mereka berempat duduk mengitari meja kayu mengkilap yang jelas-jelas terlihat baru. Lucy memotong kue yang dibawanya menjadi empat bagian sama besar. Empat cangkir berisi teh buatannya turut menemani mereka.
"Bahkan ada tea set juga." gumam Gray, nyaris tidak terdengar.
"Ini mengingatkanku pada adegan minum teh di anime K-ON. Para tokohnya juga melakukan ini di ruang klub mereka." ujar Erza.
"Erza pernah menontonnya? Kebetulan sekali, sebenarnya aku memang meniru desain ruangan klub mereka, dengan sedikit tambahan."
"Eh, Lucy, apa kau...seorang otaku?" tanya Natsu ragu-ragu, "Kupikir kau hanya tertarik pada bahasa Jepang saja."
"Ya, aku tidak terlihat seperti itu, ya? Memang sih, tidak banyak yang tahu. Kalian adalah sedikit dari beberapa orang yang tahu. Sebenarnya sudah lama aku ingin membuat ruangan seperti ini. Tapi aku tidak bisa melakukannya di rumah. Setelah melihat ruangan klub kita, aku berdiskusi dengan salah satu kenalan ayahku, dia seorang desainer interior yang masih muda, tapi kemampuannya sudah diakui. Aku biasa memanggilnya nona Hisui. Aku merasa sudah menemukan tempat yang cocok. Dua tahun yang lalu, aku hanya iseng menunjukkan sketsa desain ruangan yang kuimpikan padanya, berharap aku bisa mewujudkannya suatu hari nanti. Saat itu, nona Hisui berjanji akan membantuku. Akhirnya, aku menagih janji itu seminggu yang lalu. Meski awalnya nona Hisui ragu-ragu karena aku memilih tempat di sekolah, tapi akhirnya ia mau membantuku. Aku harap dengan begini kita juga bisa menarik minat anggota baru klub tahun depan."
"Kalau begitu, orang-orang tak dikenal yang terlihat datang di sore hari, dan berada di belakang sekolah itu...bagian dari proyekmu ini, ya? Kudengar ada beberapa guru yang sudah melaporkannya pada kepala sekolah." ujar Gray.
"Begitulah, aku memang sengaja memilih waktu malam hari untuk menjalankan rencanaku. Supaya tidak mengganggu kegiatan di sekolah dan untuk merahasiakannya dari kalian. Tapi itu malah membuat desas-desus aneh di kalangan guru." Lucy menarik nafas panjang dan menyesap tehnya sejenak, lalu meletakkan cangkirnya kembali, sementara ketiga temannya menyapukan pandangan mereka ke seluruh ruang klub, untuk mengamati setiap inchi perubahan yang ada.
"Luar biasa...bahkan dia menambahkan AC!" batin Gray. Di baru menyadari adanya pendingin ruangan itu.
"Apa-apaan dengan dispenser itu? Aku bisa membuat mi cup instan disini!" Natsu mulai berpikir untuk benar-benar membawa mi instan.
"Aku bisa mengisi kulkas mini di sana dengan kue stroberi." Inilah yang ada di dalam pikiran Erza.
Saat itulah, Lucy kembali bicara, "Ah, maaf, sepertinya aku terlalu egois, ya? Aku bermaksud memberi kejutan untuk kalian, makanya aku tidak membicarakan hal ini. Tapi tetap saja, rasanya agak...kelewatan."
"Apa maksudmu? Sudah terlambat untuk meminta maaf." tukas Erza.
"Sekarang tempat ini sama sekali tidak terlihat seperti ruang klub."sahut Gray.
"Omong-omong untuk apa proyektor LCD itu?" Natsu menunjuk benda yang dimaksud, "Apa kau punya materi dalam laptop atau apa?"
"Ya, itu salah satunya. Selain itu, kita bisa sesekali menonton anime bersama."
"Kereeeeeen! Kalau begitu, sih, aku akan betah berada di sini terus!" Natsu berdiri dan mulai mengitari ruangan "baru" mereka.
"Hei, Lucy, bisakah aku membawa koleksi manga-ku kesini? Aku punya banyak sekali koleksi di rumah. Kupikir aku bisa meletakkan sebagian di sini, jadi kalian bisa membacanya juga. Bagaimana?" Gray menawarkan.
"Ide bagus. Setidaknya kita bisa mengisi rak buku. Aku juga akan mengisinya dengan buku-buku materi klub dan koleksi manga shoujo-ku nanti. Memangnya kau punya manga apa saja?"
"Banyak. Misalnya Code Breaker, Katekyo Hitman Reborn!, One Piece, Detective Conan dan masih banyak lagi."
"Kalau begitu, bawakan manga Detective Conan dan One Piece. Sudah lama aku ingin membacanya. Aku juga mengoleksi manga, tapi lebih banyak membeli manga shoujo."
Pada akhirnya, hari ini pun mereka tidak berlatih sama sekali. Walaupun mereka berada lebih lama di ruang klub. Natsu bergabung dengan percakapan Lucy dan Gray, pembicaraan mereka hanya seputar anime atau manga favorit, awal mula mereka menyukai anime, teman-teman otaku mereka(jika ada) dan anime musiman terbaru.
Erza adalah satu-satunya yang masih awam tentang dunia anime, karena ia satu-satunya non-otaku di kalangan mereka. Meski begitu, ia sudah menonton setidaknya lima judul anime karena direkomendasikan oleh temannya yang seorang otaku semasa SMP. Ia tidak memahami istilah-istilah seperti moe, bishoujo, loli, dan lain-lain. Oleh karena itu dia lebih banyak menyimak daripada ikut mengobrol.
Sebagai senior yang baik, lebih berpengalaman, dan memiliki pengetahuan yang luas tentang hal-hal yang berbau anime, Lucy, Gray, dan Natsu bersedia membantu Erza dalam mengenal dunia otaku dengan lebih baik. Mereka juga merekomendasikan beberapa judul anime dari beragam genre. Natsu dan Lucy berjanji akan memberikan beberapa anime koleksi mereka pada Erza di pertemuan minggu depan.
Mungkin sekarang Erza masih sebatas anime lover, tapi melihat dengan siapa ia berteman sekarang, semua orang bisa menebak bagaimana jadinya ia nanti. Terus masuk ke dalam dunia baru.
Mereka terus mengobrol ditemani kudapan ringan hingga pukul tiga lebih. Penjaga sekolah datang dan bermaksud mengunci pintu ruangan. Lucy dan kawan-kawan terpaksa mengakhiri percakapan mereka dan bersiap pulang. Lucy memastikan kunci duplikat ruang klub miliknya sudah dibawa.
"Lho, memangnya di sekolah ini ada ruangan seperti ini, ya? Ya, sudahlah. Yang penting semua pintu sudah terkunci." Meski heran, penjaga sekolah tetap melakukan tugasnya.
"Ngomong-ngomong, Lucy..." Erza seperti teringat sesuatu saat menuju gerbang sekolah, "...apa Pak Makarov tahu soal perubahan ruang klub kita?"
"Eh...soal itu..."
.
.
.
.
.
Pukul empat sore, Makarov yang sudah menerima laporan tentang beberapa orang mencurigakan di lingkungan sekolah pergi ke ruang Japanese Club bersama penjaga sekolah untuk memeriksa. Ia mencurigai Lucy melakukan sesuatu tanpa seizinnya. Dan benar saja, ia terperangah melihat segala fasilitas tambahan di ruangan itu.
"Jude...putrimu itu benar-benar..." Makarov hanya bisa memijit pelipisnya demi mengurangi rasa pening.
To be continue
Balasan review :
Anonim : Ya. Selamat, tebakanmu benar.
